Banshee

Title : Banshee
Author : KimRae
Genre : Angst, Romance
Main Cast : Cho Kyuhyun/ Kim Raena

* * * 

Nyanyian lembut kali ini terdengar lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih pedih daripada nyanyian yang kemarin-kemarin aku dengar. Harusnya aku takut ketika mendengar nyanyian itu, tapi… entah kenapa, aku sangat menyukai suaranya ketika bernyanyi, lagu kematian.

Bekerja sebagai seorang dokter memang cita-citaku, dan itu terwujud dengan bekerjanya aku di rumah sakit nasional di Seoul. Menyelamatkan nyawa orang-orang yang mengharapkan kesembuhan adalah rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pekerjaan yang mulia, kan?

Aku, dokter spesialis bedah, Cho Kyuhyun imnida.

***

“Dokter Cho, selamat atas operasi hari ini, kau memang dokter bedah terbaik!” Taecyeon –dokter bedah lain- menepuk punggungku kuat sambil tertawa. Aku hanya mengangguk dan menyimak ceritanya yang tadi pagi bertemu lagi dengan pasien tumornya yang sudah berangsur sembuh. Raut senang tidak bisa dia sembunyikan karena kebetulan pasiennya masih muda, cantik, dan tertarik padanya. Aku rasa kisah cinta dokter dan pasien tidak hanya ada dalam drama saja.
“Many things he would try, for he knew soon he’d die.”

Aku menoleh ke belakang. Angin bertiup pelan di sekitar leherku saat nyanyiannya terdengar lagi. Kali ini… siapa?
“Taecyeon-ah, aku ke kamarnya sebentar!” aku melepaskan kacamataku dan menaruhnya di saku. Sedikit ingin berlarian menuju kamarnya kalau saja Taecyeon tidak menahanku. Ayolah! Aku ingin tahu keadaannya sekarang!

“Kau mau kemana? Kamar gadis itu lagi?” Tanya Taecyeon dengan tatapan aneh. Aku hanya mengangguk cepat, berharap Taecyeon tidak mencoba menghalangiku untuk pergi ke kamarnya. Gadis itu, dia bernyanyi lagi kali ini!
“Many things he would try, for he knew soon he’d die.”
Sial! Semakin terdengar!
“Taec! Aku harus menemuinya! Hubungi dokter lain untuk kembali memeriksa semua pasien mereka!” dan aku berlari menuju kamarnya.
Kamarnya, Kim Raena, pasien gagal ginjal, dan dianggap gila.
***
“Oh, kau datang lagi, dokter?” dia sedang duduk manis di ranjangnya saat aku cepat-cepat membuka pintu kamar rawatnya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Untuk apa? Tidak ada yang menjaganya di sini, dia dibuang keluarganya, dan entah siapa yang mengirimkannya ke sini. Saat diperiksa, dia sedang mengidap gagal ginjal, tapi dengan keras menolak di operasi. Sialnya lagi, dia adalah tanggunganku.

“Untuk siapa?” Raena hanya tersenyum saat aku tidak lagi suka berbasa-basi dengannya. Terlalu lama berbicara dengannya menyebabkan dua hal bagiku. Pertama, aku tidak akan cepat tahu pasien mana yang dia maksud dalam nyanyiannya, dan yang kedua…aku tidak akan bisa lepas dari pesona mata coklat terang miliknya. Bahkan senyum tipis itu bisa membuatku gila karena terlalu indah.

“Dia terlalu banyak menghabiskan uang, untungnya semua itu dia lakukan dengan ikhlas,” Raena mengatakannya sembari menyisiri rambut hitamnya dengan sisir warna perak. Aku mendekatinya, duduk di samping ranjangnya dan menatap wajahnya dalam, walaupun tatapan matanya tidak balas menatapku, hanya menerawang, kosong.

“Raena-ya, katakan, siapa?” dia berhenti menyisiri rambutnya. Airmatanya mengalir begitu saja saat nyanyian lembut lain keluar dari bibir tipisnya. Lirik lagu yang penuh dengan kasih sayang dan kebaikan.

“Kenapa orang baik selalu cepat pergi?”
“Raena-ya, sebutkan sekarang!”

“Lee Taemin. Lee Taemin. Lee Taemin.”
Seperti biasa, tidak melalui suaranya. Hanya seperti bisikan yang sama sekali tidak membuat mulutnya bergerak.
Aku segera menghubungi Yonghwa, kalau tidak salah kemarin dia sempat menyebutkan salah satu pasiennya yang hampir mendekati sembuh bernama Lee Taemin. Semoga hanya ada satu Lee Taemin di rumah sakit ini.

“Istirahatlah, kau pasti sangat sedih.” Aku mengusap rambutnya sebelum keluar dari kamar, menoleh sebentar untuk memastikan bahwa dia menjalankan perintahku dengan baik.
Aku berlarian menuju ujung ruangan lainnya, tempat Yonghwa biasa bercengkrama dengan para pasien, tapi aku malah disambut oleh beberapa orang suster dan wajah Yonghwa yang pucat sambil berlarian menuju sebuah kamar VIP, dekat dengan kamar Raena tadi.

“Yong!” aku tidak sempat untuk menanyai Yonghwa tentang apa yang terjadi karena Yonghwa dan tim-nya sudah masuk ke kamar itu. Di luar sini aku bisa melihat seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya yang masih balita, menangis.
“Yeobooooooo!!” ibu muda itu meraung sambil tetap memeluk anaknya. Balita itu juga menangis, entah karena sedih atau karena sang ibu memeluk terlalu kuat. Ada wanita lain lagi yang juga menangis, tapi dia terlihat lebih bisa menguasai emosi.

Tidak lama dari mereka masuk, Yonghwa keluar. Tubuhnya sedikit bergetar, mungkin karena setelah berlarian dari ujung koridor ke ujung yang lainnya. Yonghwa sedikit menatapku, lalu beralih menatap ibu muda yang sedang menggendong bayi itu dan menghampiri mereka.

“Nyonya Lee Sungra, benar?”
“Ne! Ne! Dokter, apa yang terjadi dengan suamiku?! Apa?!” wanita yang satunya lagi mengambil alih untuk menggendong si balita saat dirasa si ibu sudah tidak bisa menguasai kesedihannya lagi. Yonghwa sedikit menunduk, tidak sanggup untuk mengucapkan apa yang terjadi pada Tuan Lee di dalam sana. Yonghwa hanya memerintahkan seluruh tim-nya untuk keluar dari kamar dan menuntun si ibu untuk masuk.

Dari luar sini, aku bisa mendengar teriakan Nyonya Lee, sangat menyayat hati. Wanita yang tinggal di luar sini juga menangis walaupun tidak sehisteris Nyonya Lee. Aku sudah tahu apa yang terjadi, tidak perlu diperjelas lagi. Tuan Lee Taemin, meninggal.
***
“Aku baru kali ini menghadapi kegagalan. Sial!” Yonghwa meremas rambutnya kuat saat jenazah Tuan Lee telah diurus oleh keluarganya. Yonghwa kembali ke ruangannya begitu saja, masih tidak terima dengan kegagalannya kali ini.
“Terakhir kali aku periksa, keadaannya sudah hampir 100 persen sehat! Bagaimana bisa…akh!”

“Sudah takdirnya.” Yonghwa hanya menghela nafas, meminum air putih yang tadi aku sodorkan untuknya agar lebih tenang. Dia hanya mengangguk dan meminta waktu untuk sendiri. Aku menepuk punggungnya sebelum keluar, setidaknya aku berusaha untuk menguatkannya.

“Apa yang terjadi?” Taecyeon menyambutku saat aku baru saja keluar dari ruangan Yonghwa. Terlihat sekali wajah penasarannya kali ini. Dimana dia tadi sampai tidak tahu apa yang terjadi?!
“Ada pasien yang meninggal.” Taecyeon hanya membulatkan mulutnya, tanda mengerti.
“Apa gadis itu lagi yang mengatakannya padamu?”

“Kalau aku bilang iya, kau akan mengejeknya penyihir lagi kan?” aku menatapnya sinis. Mengingat dia sangat senang mengejek Raena, bahkan mengatakan bahwa Raena adalah penyihir yang menyamar jadi manusia dan tidak perlu dirawat.
Dia pikir hanya dia yang bisa jatuh cinta dengan pasiennya?
***
“Satu suapan lagi, tolong~” aku menyodorkan sendok berisi bubur itu ke hadapannya walaupun sudah dia tolak berulang kali dengan alasan sudah kenyang. Kenyang apanya?! Baru dua suapan!
“Untuk apa kau mengurusiku? Lagipula tidak ada gunanya makanan itu masuk ke tubuhku.” Raena membenarkan letak selimutnya, menatap mataku dengan mata coklatnya yang lebih terlihat sehat. Sehat? Maksudku, ketika dia sedang menyanyikan dan menyebutkan nama orang yang akan meninggal, mata coklatnya terlihat lebih kelam dan kosong. Sangat berbeda jika dia sedang dalam keadaan normal seperti ini.

“Setidaknya kau menuruti perintahku yang satu ini. Kau sudah tidak mau dioperasi, jangan membantah lainnya lagi. Tolonglah.”
“Aku ini tidak normal, kau dicemooh oleh dokter berbadan kekar itu karena tetap mau mengurusiku, kan? Kenapa kau tidak membuangku ke rumah sakit jiwa saja?”
Gila saja, menempatkanmu di sana? Bukan kau yang gila, tapi aku yang akan jadi gila! Mengurusimu adalah nafasku sekarang. Ck, kalau saja aku dapat mengatakan hal ini padanya.

Aku mengusap rambutnya perlahan. Membiarkan pemilik rambut indah ini sedirian adalah mimpi terburukku. Pernah sekali salah seorang suster tidak sengaja menemukannya sedang membenamkan wajahnya di wastafel yang dia penuhi dengan air. Dia menangis kuat saat itu, padahal aku sama sekali tidak mendengar bisikan ataupun nyanyiannya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, dokter?” aku segera melepaskan tanganku dari puncak kepalanya. Tatapan tidak sukanya kembali dia tunjukkan padaku. Aku sudah berulangkali mendengar alasannya tidak suka aku perlakukan seperti ini. Klasik, dia mengira aku kasihan padanya.

“Dua hari yang lalu, orang yang kau nyanyikan lagu—“
“YA! Bisa kau tidak membahas itu?!” aku panik saat dia menangis kuat lagi dan menutupi kedua telinganya. Buru-buru aku letakkan mangkuk bubur tadi dan memeluknya erat, perlahan mengusap punggungnya agar lebih tenang.
“Maaf. Maaf, aku tidak akan membahas itu lagi. Aku janji. Tenanglah, aku mohon.” Raena berhenti menangis, lebih tepatnya lagi, dia berhenti bergerak. Tubuhku menjadi panas begitu saja sesaat setelah tubuh Raena berhenti bergerak dan itu membuatku melepaskan pelukanku.

“Raena-ya? Ada apa?” wajahnya kembali menegang. Posisinya kembali duduk tegak, mata coklatnya terlihat berkilat penuh kebencian, kedua tangannya meremas seprai kasurnya dengan kuat sampai hampir lepas.
“Raena-ya?! Ya! Sadarlah!” aku mengguncang badannya walaupun tanganku harus menahan panas. Sangat panas. Kenapa begini?!
“Say you’ll be alright come tomorrow, but tomorrow might not be here for you. Angel of darkness upon you. The smell of death surrounds you.”

Aku menutup telingaku rapat. Kenapa suara nyanyiannya mengerikan dan melengking seperti ini?! Bukannya tangisan yang keluar dari matanya kali ini, hanya senyum seringai yang terlihat sangat jahat dan kejam. Tatapan kosongnya mengisyaratkan banyak kebencian.
“Orang kejam. Mati saja. Mati saja. Mati saja.”
Aku segera keluar dari kamarnya. Berlarian lagi menelusuri koridor rumah sakit yang kalau saja menjadi tempat pasien meninggal selanjutnya.

“Choi Seunghyun! Choi Seunghyun! Choi Seunghyun!” Lengkingan Raena terdengar lagi di telingaku. Membuatku harus menahan sakit karena telingaku sampai berdenging mendengarnya. Beberapa pasien menatapku heran, mungkin mereka belum pernah melihat seorang dokter tampan yang berlarian sendiri tanpa beberapa suster atau tim yang mendampinginya. Hei, aku hanya penasaran dengan orang yang sedang Raena nyanyikan ini!
“Angel of darkness upon you. The smell of death surrounds you.”

“Raena-ya~ berhenti bernyanyi!” aku tahu dia tidak akan mendengar teriakanku ini, aku hanya tidak suka mendengarnya bernyanyi dengan nada penuh dendam dan benci seperti itu.
“Suster! Apa ada pasien yang bernama Choi… Choi Seunghyun?!”
“Choi Seunghyun? Tidak, tidak ada. Ada apa, Dokter Cho?” tidak ada? Lalu? Kenapa Raena menyebutkan namanya? Apa pasien baru?
Aku melihat sekeliling rumah sakit lantai empat ini, sedikit melongok ke lantai bawah melalui pagar pembatas dan suasana rumah sakit tenang-tenang saja. Tidak ada yang aneh dengan keadaan rumah sakit hari ini aku rasa.
“Kyaaaaaahahahahaha! Hahahahahaha!”

“Akh!” lengkingan Raena kali ini sangat menyakitkan. Suara tawa paling menyeramkan yang pernah aku dengar seumur hidupku, bahkan walaupun aku sudah menekan-nekankan tanganku di telinga tetap saja lengkingannya terdengar jelas.
“Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah!” aku menoleh ke belakang saat suara Taecyeon berhasil masuk ke telingaku dan sedikit menghilangkan suara lengkingan Raena tadi.
“Ada apa?”

“Gawat! Ada pembunuhan di kamar pasien!”
“Mwoya?!” aku mengikuti Taecyeon yang berlari menuju lantai tiga. Seingatku, ini adalah ruang rawat inap anak-anak dan ibu hamil. Siapa membunuh siapa?
Aku dan Taecyeon berhenti agak jauh dari kamar yang aku kira merupakan tempat kejadian. Sudah terlalu banyak orang yang berkumpul di sana sampai beberapa keamanan dan dokter menghalau para pasien yang penasaran untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.

“Aku tidak tahu pasti, tapi katanya seorang ibu hamil yang melakukannya.” Aku menoleh kea rah Taecyeon penasaran dan ditambah rasa tidak percaya. Bagaimana bisa seorang ibu hamil membunuh?
“Ada yang melihat seorang laki-laki penuh tato masuk kamarnya, pasien lain mengira itu suami si pemilik kamar. Tapi setelah itu mereka mendengar jeritan wanita, lalu di susul dengan jeritan laki-laki tadi. Tentang apa yang terjadi, aku kurang tahu,” cerita Taecyeon panjang. Tunggu, apa laki-laki itu yang bernama Choi Seunghyun? Orang yang dimaksud Raena?

Keadaan sudah kembali normal, semua pasien sudah kembai ke tempatnya walaupun masih asyik bercerita tentang kejadian di kamar itu. Aku dan Taecyeon memanfaatkan keadaan tersebut untuk masuk ke kamar rawat itu, yang untung tidak ditahan oleh petugas.

“Astaga.” Taecyeon terbelalak saat melihat mayat seorang laki-laki yang tengkurap dengan bekas tusukan pisau sangat banyak. Di pojok kamar ini aku dapat melihat seorang ibu hamil yang menangis sesegukan, dikelilingi para petugas yang mungkin sedang mencoba menenangkannya dan mencoba untuk mengambil pisau yang masih berada di genggamannya.

Aku mendekati mayat laki-laki yang sedang diperiksa oleh petugas. Satu, dua, tiga… sepuluh luka tusukan. Aku tidak yakin sama sekali ibu hamil itu yang melakukannya.

Taecyeon menepuk pundakku dan ikut memerhatikan mayat laki-laki ini. Sedikit menghela nafas dan matanya tidak lepas dari ibu hamil yang akhirnya mau menyerahkan pisau kepada petugas.
“Masalah suami istri. Si suami terlalu banyak hutang, dan meminta istrinya untuk menggugurkan kandungan saja agar tidak harus dirawat lagi. Entah setan apa yang membuat laki-laki ini mengeluarkan pisaunya dan hampir menusuk perut istrinya sendiri…”

“… berdasarkan keterangan istrinya tadi, pisau itu seperti terlepas sendiri dari tangan suaminya. Saat itu juga seperti ada yang mendorongnya untuk mengambil pisau itu dan menusuk suaminya sendiri sebanyak itu. Kasihan, dia sedang hamil.” Taecyeon mengusap tengkuknya sendiri lalu berdiri meninggalkan kamar rawat ini. Aku mengikutinya berdiri dan menangkap tatapan si ibu hamil yang masih ketakutan karena banyak petugas di sini.

Raena, apa kau yang menggerakkan ini semua?
***
Aku menatap langit-langit kamarku. Memikirkan apa saja yang telah terjadi beberapa hari ini. Aku sudah sering mendengar ‘bisikan’ Raena tentang siapa saja yang akan meninggal, serta dengan nyanyian-nyanyiannya yang bermacam-macam.
Dua orang yang meninggal di rumah sakit kali ini memang agak berbeda. Pertama, Tuan Lee, Raena tidak pernah menyanyikan lagu sedih sekaligus indah untuk orang yang akan meninggal, bahkan untuk Perdana Menteri Korea Selatan yang pernah di rawat di rumah sakit kami dan meninggal. Padahal perdana menteri adalah orang yang baik.
Kedua, Choi Seunghyun. Aku bahkan masih bisa merasakan telingaku berdenging karena lengkingan Raena yang terlalu menyakitkan telinga. Lagu menyeramkan, suara tawanya, menyeramkan.
Sekarang, sepertinya Raena sudah tenang. Tiga hari yang lalu, dia sudah mau makan bubur yang aku suapkan dengan lancar, tidak ada protes. Wajahnya juga kembali cerah, senyumnya kembali menjadi candu, dan suaranya ketika aku ajak bernyanyi kembali menjadi penambah nyawa bagiku. Apa yang dilakukannya sekarang?
“When I wake up in the morning all I want to see is you.”
Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber suara yang tadi terdengar. Aku sedang tidak menyalakan radio ataupun televisi. Suara perempuan ini… aku kenal.
“Always there when I was going through all kinds of changes.”
Aku tersenyum, menikmati suaranya yang hanya bisa didengar oleh telingaku. Aku terima semua yang dia bisikkan untukku, apapun. Lalu kali ini, lagu cinta untukku, Kim Raena?
“You would give me anything and you do the best you can.”
“Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untukmu. Hei, kau dengar? Aku mencintaimu.”
***
Empat hari sudah berlalu semenjak kejadian pembunuhan waktu itu. Tidak ada bisikan lagi dari Raena, dan itu cukup membuatku lega. Setidaknya dia tidak terlihat seperti gadis yang sangat menderita karena harus menyanyikan lagu kematian setiap kali dia tahu akan ada yang meninggal di rumah sakit ini.

Aku berjalan santai di koridor rumah sakit, sempat memeriksa pasien yang dua hari lalu aku tangani dan beruntung semuanya berjalan dengan lancar. Pandanganku terhenti pada satu sosok ibu yang sekitar enam hari lalu aku lihat. Wajah balita yang dia gendong itu juga aku masih mengenalinya. Bukankah itu Nyonya Lee dan wanita yang waktu itu? Lalu kenapa di belakangnya Yonghwa mengikuti?

“Kau, kau Dokter Cho, kan? Waktu itu juga ada di depan ruangan suamiku, kan?” aku belum siap ditanyai tiba-tiba seperti ini, tanpa salam sama sekali. Aku hanya mengangguk canggung dan menatap Yonghwa sesekali, sama sekali tidak ada jawaban. Yonghwa juga hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang Nyonya Lee inginkan.
“Kenapa kau ada di sana waktu itu?”

“Eh?”
“Kenapa kau di sana waktu itu?!” aku kembali gugup, ditambah lagi balita digendongannya mulai menangis pelan dan itu membuatku tidak tega. Sebentar, kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?
“Sepupuku mengatakan bahwa kau dituntun oleh bisikan banshee saat itu. Kau tahu suamiku akan meninggal saat itu!”
“Nyonya Lee, tenanglah. Bayimu—“

“—apa?! Bayiku kehilangan ayahnya gara-gara banshee itu!” Nyonya Lee membentak Yonghwa yang mencoba menenangkannya. Sebuah tangan kecil menyentuh lenganku dengan kuat, tangan wanita yang tadi bersama Nyonya Lee.
“Kau diberitahu banshee, kan? Di mana dia? Aku bisa merasakannya! Dia ada di sini!” seperti orang gila, wanita itu celingkukan entah mencari apa. Apa wanita ini bisa merasakan hal gaib? Kalau iya, gawat! Dia bisa menyangka Raena yang bukan-bukan!
“Aku merasakannya! Di sana!”

“Yong! Tahan dia!” wanita itu berlarian menuju ruangan Raena yang berada agak ujung koridor. Nyonya Lee juga ikut berlari sambil tetap menggendong bayinya yang masih saja menangis. Apa yang dipikirannya?! Orang meninggal memang sudah jadi takdirnya!
Yonghwa dan aku tidak berhasil menyusul wanita itu, bahkan untuk melarangnya membuka pintu kamar Raena saja kami terlambat.
Raena tampak biasa saja menanggapi kedatangan tidak terduga kami. Dia sedang menyelesaikan origami burung bangau miliknya dengan tenang, saat melihat kami dia hanya tersenyum dan menyingkirkan kumpulan burung bangau kertasnya ke meja tempat obat-obatnya berkumpul.

Nyonya Lee langsung menghampiri Raena dengan cepat, secepat tangannya melayang ke udara dan menampar wajah Raena dengan kuat. Raena, yang aku yakin tidak siap menerima kekerasan fisik apapun langsung terbelalak kaget. Wanita yang mendampingin Nyonya Lee tadi langsung mengambil bayi yang masih digendongan tadi, menenangkan?
“Neo! Apa yang kau lakukan pada suamiku?! Kau mantrai apa dia?! Jawab aku! Iblis! Jawab aku!”
“Ib…lis?”

“Apa salah suamiku padamu?! Kau tidak lihat bayiku, hah?! Kau senang sudah membunuh ayahnya?! Banshee sialan!” tangan Nyonya Lee sudah siap untuk menampar Raena kedua kalinya, dan tentunya itu tidak akan terjadi karena aku sudah menahannya duluan.
“Menyalahkan orang lain atas takdir yang sudah ditentukan Tuhan, itu sama sekali tidak baik, Nyonya Lee.” Aku menatap Nyonya Lee tajam, terserah setelah ini dia akan melaporkanku ke manapun dia mau, asalkan Raena tidak menangis. Aku sudah merasakannya sekarang, terlalu sakit untuk menggambarkan perasaan Raena.
“Kau membela iblis ini?! Kau dokter! Harusnya kau—“

“Tuan Lee sudah meninggal! Penyebabnya jelas! Kau tidak bisa menyalahkan orang lain!” pertama kalinya dalam hidupku di dunia kedokteran, aku membentak istri mantan pasien kami. Maaf, dia sudah keterlaluan.
“Nyonya Lee, tenangkan dirimu. Relakan suamimu, kasihan anakmu. Dia menangis, karena dia merasakan kesedihanmu.” Yonghwa berhasil membuat nafas Nyonya Lee kembali teratur. Tidak seperti tadi, terlalu banyak amarah.
“Aku… aku yakin dia yang memantrai—“

“Tidak ada mantra apapun, Nyonya. Penyebab kematian Tuan Lee jelas, tubuhnya tidak bisa menerima jantung baru. Kami minta maaf jika hal ini membuat Nyonya Lee bersedih.” Yonghwa menatapku sekilas, menyuruhku ikut meminta maaf karena sudah bertindak kasar tadi.
Aku hanya menunduk sebagai rasa –sedikit- penyesalanku. Aku tidak terlalu suka meminta maaf dengan orang yang suka menyalahkan orang lain tanpa sebab seperti dia.
“Mari, saya antar keluar.” Aku masih bertahan di dekat kasur Raena. Wanita yang bersama Nyonya Lee itu masih tetap menatap Raena dengan tatapan benci, jijik, atau apapun itu yang tidak aku sukai sama sekali. Aku berbalik, memeriksa kondisi Raena yang terus menunduk setelah ditampar keras tadi. Selimut yang menutupi kakinya terlihat basah. Dia menangis?
“Raena-ya. Lihat aku, lihat aku,” aku memaksakan wajahnya agar menatapku, dan yang aku dapatkan adalah kepedihan yang amat besar tergambar jelas. Airmatanya tidak berhenti mengalir, isakan kecil juga terdengar oleh telingaku.
“Aku… iblis? Haha, iblis? Dokter, katakan, aku iblis? Setan? Membunuh orang? Katakan, Dokter…” tangannya mencengkram jas putih kebanggaanku dengan kuat. Sedikit mengguncang tubuhku saat dia mengatakan serentetan julukan yang sama sekali tidak benar itu.
“Bukan. Bukan. Kau Raena, bukan yang lain. Mengerti? Dengarkan aku saja…” aku memeluknya erat. Jas putih kebanggaanku tidak ada artinya lagi demi menjadi penopang gadis ini untuk tetap bersamaku, tanpa berpikiran yang macam-macam.
“Dia bilang… aku… iblis…”
“Sstt, bukan. Dia bohong. Kau Raena-ku. Aku tidak mungkin mencintai iblis, kan?”
“Eh?” Raena mendongak, menatapku dengan mata coklatnya yang masih mengeluarkan airmata. Bisakah aku bertahan sehari saja tanpa menatap mata ini? Jawabannya tidak. Aku sangat mencintainya.
Mungkin sebagai jawaban dari raut kebingungannya, aku hanya bisa tersenyum dan mendekatkan wajahku dengannya, merasakan benda yang bergerak setiap kali dia bernyanyi bersamaku itu secara perlahan.
“Kajima, saranghaeyo.”
Aku mengangguk saat suara bisikannya terdengar lagi. Tidak akan pernah meninggalkanmu, karena aku akan selalu melindungimu, Kim Raena.
***
Tepat dua hari yang lalu, aku berhasil mendapatkan keyakinan Raena untuk selalu bersamaku. Dia juga mengubah pikirannya untuk mau menjalani operasi, asalkan aku yang melakukannya. Dua hari saja, sudah bisa membuatku mengetahui sifat aslinya. Manja, cengeng, dan sangat suka melakukan skinship saat bersamaku. Aku senang? Tentu saja! Aku akan membicarakan hal ini dengan eomma dan appa, saat dia sudah sembuh nanti mereka harus bertemu!
“Yo! Kyuhyun-ah!”
“Taec?” senyum sumringah tampak jelas dari wajahnya. Baru saja aku akan bertanya apa yang terjadi, dia sudah menjelaskan duluan bahwa pasien yang dia sukai ternyata juga menyukainya. Hei, kita senasib!
“Jinjayo? Haha, aku lebih dulu darimu! Raena sudah menjadi calon istriku dari dua hari yang lalu!” kataku bangga. Taecyeon menatapku tidak percaya, kenapa? Ada yang aneh?
“Raena? Gadis penyi—“
“Kau sebut dia macam-macam, aku cekik kau, Ok Taecyeon.”
“Okay, okay, calm down. Tapi… kau yakin? Calon istrimu? Orang tuamu sudah mengenalnya?” aku menggeleng, hanya menunjukkan senyumku seperti biasa karena mengatakan Raena adalah calon istriku saja sanggup membuat jantungku berdetak lebih bahagia.
“Aku yakin, sangat yakin. Dia sudah mau dioperasi, setelah itu dia akan aku kenalkan dengan orangtuaku.” Taecyeon hanya menggeleng dan menggaruk tengkuknya lagi. Sesekali menatap ruangan Raena yang jauh ada di belakang kami karena kami terus berjalan.
“Hei, aku ke kantin dulu, mau ikut? Raena ingin makan sandwich tuna, hehehe.”
“Mwoya? Ckckck, ada-ada saja. Tidak, aku tidak ikut. Aku harus memeriksa beberapa pasienku lagi hari ini. Oh, iya, hati-hati, di dekat kantin sedang ada perbaikan bangunan. Kenapa tidak beli di luar saja?” aku menggeleng, Raena bilang dia lebih suka yang buatan kantin. Lagipula jika harus membeli di luar akan memakan waktu lebih lama dan aku tidak mau membuat Raena menunggu.
“Kemarin-kemarin aku juga membelikannya di kantin, dan itu juga masih masa pembangunan. Aku pikir tidak apa-apa. Aku duluan.” Aku melambaikan tangan ke arah Taecyeon yang hanya dia tanggapi sekilas, setelah itu aku kembali bergegas menuju kantin.
“No matter how he struggle and strive. He’ll never get out of this world alive. Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Aku berhenti berjalan. Nyanyian Raena lagi? Untuk?
Aku berdiam diri di tempat untuk menunggu nyanyian Raena yang berikutnya, atau mungkin dia akan menyebutkan nama orang yang akan meninggal itu sebanyak tiga kali setelah ini, tapi tidak ada. Tidak ada lanjutan sama sekali setelah aku menunggu cukup lama.
“Apa hanya perasaanku saja?” sedikit aku tekan-tekan telingaku, kalau saja aku hanya salah dengar dan bukan Raena yang bernyanyi, mungkin ada pasien yang sedang bernyanyi di kamarnya?
Aku lanjut berjalan menuju kantin dan sedikit berhati-hati karena masih banyak para pekerja bangunan yang sedang memasang-masang entah apa itu namanya. Tempat ini memang harusnya tidak boleh dilewati, tapi karena ini jalan terdekat menuju kantin jadi aku lebih memilih lewat sini. Toh, kemarin juga aku lewat sini dan sangat aman.

“Ke kantin lagi, dokter?” teriak salah satu pekerja, mereka mungkin sudah hafal kebiasaanku lewat sini hanya untuk membeli sesuatu di kantin. Aku mengangguk dan tersenyum ke arah mereka yang masih sibuk bekerja, mengangkuti barang-barang berat.
“Hati-hati, dokter!”

“Ne!” aku kembali berjalan menuju kantin. Suasana di sini tenang sekali, tidak bising sama sekali. Aku jadi ingat waktu aku membelikan Raena sandwich tuna waktu itu, wajahnya senang sekali, bahkan pipinya bersemu. Hal itu yang membuatku tidak keberatan sama sekali direpotkan olehnya, imbalan yang aku dapat lebih dari cukup.

Ngiiiiiiiiing
Telingaku kembali berdenging, hanya sebentar tapi… ada apa?
“Sandwich tuna, dua.” Saat sampai di kantin aku langsung cepat-cepat mengambil sandwich tuna instan yang untungnya tersedia di samping kasir, jadi aku tidak perlu lama-lama menunggu.
“Kamsahamnida.” Aku segera cepat pergi dari kantin setelah selesai membayar. Aneh, kantin hari ini lengang sekali, tidak seperti biasanya.

Ngiiiiiing
“Ais, telingaku sepertinya bermasalah. Mungkin aku harus menghubungi Changmin setelah ini.” Aku kembali menekan-nekan telingaku, dengingan ini cukup membuatku terganggu. Aku menenteng kantong kecil berisi dua sandwich tuna tadi. Kembali berjalan melewati tempat pembangunan tadi dengan santai.

“Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Kali ini aku yakin yang aku dengar adalah suara Raena. Nyanyiannya… sedih sekali, dan kenapa aku seperti ingin menangis? Lagu untuk siapa ini?

“Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Aku berhenti sejenak untuk mendengarkan nyanyiannya lagi—eh, tunggu! Kenapa aku malah berhenti? Harusnya aku menghampirinya dan—
“Dokter! AWAS!”

DUAK!
“Cho… Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Cho Kyu…hyun.”

Berat sekali… tiang ini… berat sekali. Kepalaku… kenapa panas?
Raena… nyanyian tadi… bukan untukku, kan?

* * * * * * *
Kurang senang apalagi aku hari ini? Pasien yang aku incar juga menyukaiku! Ais, akhirnya masa lajangku berakhir! Hahahaha.
Aku melihat Kyuhyun keluar dari kamar gadis penyihir itu. Kenapa aku menamainya penyihir? Karena gadis itu menyeramkan! Kyuhyun pernah mengatakan bahwa gadis itu tahu pasien mana yang akan meninggal dunia. Aku punya dua dugaan, gadis itu bisa jadi seorang peramal atau malah dia yang membunuh para pasien yang rata-rata sudah hampir sembuh dengan mantra-mantranya.

“Yo! Kyuhyun-ah!”
“Taec?” tanpa basa-basi lagi aku bercerita padanya tentang apa yang aku alami hari ini. Dia hanya tersenyum lebar dan menepuk pundakku kuat. Hei! Itu kebiasaanku!
“Jinjayo? Haha, aku lebih dulu darimu! Raena sudah menjadi calon istriku dari dua hari yang lalu!” aku menatapnya tidak percaya. Kyuhyun gila! Menjadikan gadis penyihir itu sebagai kekasihnya?! Apa sudah tidak ada gadis yang mau dengannya?! Hei, dia bahkan lebih tampan dariku!
“Raena? Gadis penyi—“
“Kau sebut dia macam-macam, aku cekik kau, Ok Taecyeon.” Ck, gadis itu dibela. Cinta sekali ya?
“Okay, okay, calm down. Tapi… kau yakin? Calon istrimu? Orang tuamu sudah mengenalnya?” dia hanya menggeleng dan tersenyum. Dari matanya tergambar jelas kalau dia sedang bahagia sekarang. Aku jadi penasaran, gadis macam apa Raena itu?
“Aku yakin, sangat yakin. Dia sudah mau dioperasi, setelah itu dia akan aku kenalkan dengan orangtuaku.”

Aku hanya menggeleng mendengarnya. Walaupun dia mau dioperasi, belum tentu gadis itu selamat, kan? Penyakit itu sudah dia pendam selama satu tahun lebih di sini. Walaupun aku yakin Kyuhyun akan melakukan apapun untuk gadis itu, tapi…
“Hei, aku ke kantin dulu, mau ikut? Raena ingin makan sandwich tuna, hehehe.” Kantin? Aku menoleh ke arah kamar Raena yang agak jauh di belakang kami, entah kenapa, reflek saja. Beberapa hari ini Kyuhyun jadi lebih sering ke kantin, memang tidak masalah, tapi aku merasa ada yang tidak beres saja.

“Mwoya? Ckckck, ada-ada saja. Tidak, aku tidak ikut. Aku harus memeriksa beberapa pasienku lagi hari ini. Oh, iya, hati-hati, di dekat kantin sedang ada perbaikan bangunan. Kenapa tidak beli di luar saja?”
“Kemarin-kemarin aku juga membelikannya di kantin, dan itu juga masih masa pembangunan. Aku pikir tidak apa-apa. Aku duluan.” Dia melambaikan tangan ke arahku. Setelah agak jauh, aku kembali menatap ruangan gadis penyihir yang ada di ujung sana. Ada rasa penasaran sendiri.
Aku berjalan agak cepat menuju ruangannya. Tidak ada yang aneh ketika aku sampai, ketika aku masuk pun dia menyambutku dengan ramah. Ck, pantas saja Kyuhyun tergila-gila padanya, cantik.
“Bagaimana keadaanmu, Nona Kim?”

“Sudah lumayan membaik, dokter.” Dia tersenyum, lalu menawarkanku beberapa buah-buahan yang baru saja dia kupas yang aku tolak secara halus. Jujur saja, imaginasiku bermain terlalu liar tentangnya, aku takut dia sudah memantrai buah-buahan itu lalu membuatku mati.
“Kenapa tiba-tiba ingin dioperasi? Karena Dokter Cho?” sedikit main-main aku bertanya, wajahnya langsung terlihat bersemu dan mengangguk pelan. Aigo, manis.
“Dokter Cho bilang, dia ingin menikahiku. Makanya aku—“
Ngiiiiiiiiiiing

Aku menutupi telingaku rapat. Denging dari mana ini? Aku memerhatikan sekelilingku dan berakhir dengan mendapati Raena sedang duduk tegak dan tidak bergeming sama sekali. Wajahnya yang bersemu tadi sudah terlihat pucat, mata coklatnya yang tadi terlihat hangat berubah menjadi penuh airmata. Hei, ada apa dengan gadis ini?!

“No matter how he struggle and strive. He’ll never get out of this world alive. Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Lagi, aku menutupi telingaku dengan kuat. Nyanyian siapa ini?! Raena tidak sedang bernyanyi! Tapi kenapa ada suara nyanyian yang…sangat menyedihkan? Penuh penderitaan? Lirih sekali suaranya.

Aku mundur sedikit dari tempat tidur Raena. Gadis itu ganti menatapku dengan tatapan memohon. Airmatanya tidak berhenti mengalir.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!” tiba-tiba Raena berteriak. Dia mengacak rambutnya seakan-akan rambut itu tidak ada harganya. Aku berusaha menenangkannya tapi percuma. Raungan yang bercampur dengan teriakan menyedihkan itu membuatku takut setengah mati.

“Keluar kau! Keluar dari tubuhku!” Raena berdiri dari kasurnya. Membenturkan kepalanya sendiri ke dinding dengan sangat kuat. Gila! Gadis ini gila!
“Ya! Kim Raena! Berhenti!”
“KELUAAAARR!!” entah siapa yang dia maksud untuk keluar, tapi kalaupun itu aku, aku tidak akan keluar. Tanggung jawab sebagai dokter, itu yang aku pertahankan!

“Never.”
Aku mendengar suara lain. Tidak keluar dari mulut Raena, hanya seperti bisikan.
“Aku mohon keluarlaaaah!! Aku tidak butuh kau! Aku tidak butuh kau!”
Duk!

Raena terus membenturkan kepalanya di dinding. Aku terpaksa sedikit keras untuk menghalanginya melakukan hal bodoh itu lagi. Bagaimana aku harus menjelaskannya dengan Kyuhyun nanti?
“I can’t. I can’t.”

Raena berusaha melepaskan diri dariku, berlari menuju kamar mandi dan anehnya dia seperti terhenti sendiri. Tubuhnya kembali mematung dan berbalik menatapku dengan tatapan paling menyedihkan yang pernah aku lihat.
“Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Gila! Aku harus berapa kali mengatakan gila! Ini suara nyanyiannya! Tapi bagaimana bisa dia bernyanyi tanpa menggerakkan bibirnya satu mili-pun?!

Tidak sampai lima menit, wajahnya mengalami perubahan ekspresi lagi. Dia memegangi kepalanya sampai tertunduk di hadapanku. Menangis kuat.
“Biarkan aku matiiiiiii! Keluarlah dan biarkan aku matiiiiiiii!!”

Aku tidak bisa membiarkan dan mengatasi kondisi ini lebih lama lagi. Aku segera mencari tombol untuk memanggil suster ke sini agar bisa membantuku mengatasi pasien gila satu ini.
“Kecelakaan kerja!” aku menoleh keluar, mendapati beberapa suster berlarian menuju tangga. Ramai sekali!
“Doctor! Hurry! He’s struggling, and striving! Oh no…”
Aku menoleh ke arah Raena yang masih menangis. Wajahnya antara pucat dan tidak, matanya kembali hangat walaupun kekosongan terpampang jelas di sana.
“Shout his name. Cho—“
“Jangan! Tidak! Aku tidak mau! Keluar! Keluar dari tubuhku!”
“You’ll die, if I go away from you..”
“Aku tidak peduli! Keluar! Keluar!”

Oke, aku bingung sekarang. Menenangkan gadis ini atau melihat kondisi di luar. Dari apa yang aku dengar tadi –ya memang bukan suara langsung- ada suara yang menyuruh Raena untuk menyebutkan nama seseorang. Cho… ck! Jangan-jangan—
“Akh!” gerakanku yang hendak meraih ganggang pintu terhenti saat mendengar Raena merintih kesakitan. Dia memegangi perutnya, seakan meremas perutnya dan ingin mengeluarkan seluruh isi perut yang dia miliki.

“Raena-ssi? Kau tidak apa-apa?!” dia tidak menjawab sama sekali. Hanya semakin menangis dan menangis. Tubuhnya bergetar seiring dengan terdengarnya sebuah nama yang diucapkan sebanyak tiga kali. Suara terlirih, penuh kesakitan, kesedihan, dan kehilangan.

“Cho… Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Cho Kyu…hyun.”
“Raena? Raena?! Ya! Bangun!” aku mengguncang tubuhnya yang tiba-tiba saja ambruk menimpaku. Tubuhnya langsung terasa sangat dingin, ketika aku mengecek pergelangan tangannya, lehernya, detak jantungnya… tidak ada lagi.
“M-mwoya?”

“Silence, you lost me, no chance for one more day… I stand here alone. Falling away from you, no chance to get back home…”
Bisikan sialan! Aku hampir menangis mendengarnya! Aku langsung membaringkan tubuh Raena di atas kasur dan berlarian keluar kamarnya. Cho Kyuhyun! Di mana kau?!

Aku sengaja melewati bagian gawat darurat karena tadi banyak teriakan tentang kecelakaan kerja. Memang ramai sekali di depan ruangan itu. Yonghwa sudah sampai duluan dan aku menahannya agar kami masuk ruangan itu bersama.
“Yong, apa yang terjadi?” Yonghwa mengatur nafasnya, sama sepertiku.

“Aku tiba-tiba mendengar bisikan, nama Kyuhyun. Entah kenapa aku…” aku terdiam. Dia mengalami hal yang sama denganku. Hanya saja, dia tidak harus berhadapan dengan si pemilik bisikan sepertiku.

“Maaf, permisi.” Aku menahan salah satu orang yang berpakaian pekerja bangunan. Ingin meminta keterangan apa yang terjadi di dalam sana, dan apa benar Cho Kyuhyun yang dimaksud bisikan itu adalah Cho Kyuhyun temanku.
“Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?” Yonghwa mendahuluiku bertanya. Si pekerja itu menundukkan kepalanya dalam, seperti menyesal.

“Dokter Cho tertimpa tiang bangunan. Maafkan kami, maafkan kami, ini semua salah kami karena kurang berhati-hati.” Si pekerja itu membungkuk dalam berkali-kali. Aku memegangi kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit. Yonghwa menyuruh pekerja itu untuk kembali lagi ke tempatnya dan mengajakku untuk masuk ke dalam.

Hanya ada satu ranjang putih, menutupi seluruh tubuh orang yang berbaring di atasnya dengan kain putih yang sedikit bernoda merah di bagian kepala.
“Yong, aku tidak mau melihatnya. Kau saja.”
Aku memalingkan wajahku dari sosok Kyuhyun yang terpampang jelas saat Yonghwa membuka kain bagian kepalanya. Tuhan, aku menghadapi dua orang meninggal hari ini. Orang yang berbaring itu, sahabatku…

“So I never want to leave you and the memories of us to see. I beg don’t leave me. I beg don’t leave me.”
Bisikan itu lagi. Sangat menyedihkan. Aku menoleh ke arah Yonghwa, mata laki-laki dingin itu bahkan memerah, tanda dia sendang menahan tangisannya. Aku mengusap cepat kedua mataku, tidak boleh menangis.

Dua bungkus sandwich tuna tergeletak begitu saja di meja dekat kasur Kyuhyun. Mengingatkanku akan wajah berseri keduanya sebelum mereka berdua pergi secara bersamaan.
Harusnya kalian sedang makan roti ini berdua, kan?

THE END

2 Comments (+add yours?)

  1. lalalalala
    Jun 10, 2017 @ 12:41:00

    Author, demi apa ini bagus 😢 aku spechless bacanya 😢😢 kereeen
    Tapi diakhir blm ketauan ya sebenernya si raena-nya siapa, tapi tetep bagus kok thor (?) 😍 semangat nulis trs yaaa

    Reply

  2. cho taehyung
    Sep 01, 2017 @ 14:56:04

    Tangan gak berenti ngescroll saking penasarannya astaga.. Raena keren bangett. Akhirnya gak mengecewakan kok tapi wkkwkw suka sukaa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: