Soulmate

Soulmate
Lee Donghae and Hyunna.
***

Suasana malam yang dingin semakin memperburuk atmosfir disini. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing, tidak menghiraukan satu sama lain. Padahal biasanya, jika mereka berdua bertemu, lidah mereka terus bersilat mengeluarkan argumen-argumen, rahang mereka terasa sakit karena terlalu banyak tertawa, dan suasana pasti terasa hangat sekalipun ditengah badai salju, tidak seperti malam ini.

Kejadian kemarin sore adalah alasan kenapa atmosfir antara mereka berdua berubah. Pemuda dengan kemeja kotak-kotak biru tua bercampur biru muda itu, kemarin sore, dengan sengaja, melempar handphonenya dari atas dormnya yang berada di lantai dua belas. IDIOT! Itulah kata pertama yang keluar dari mulut teman-temannya kala mengatahui hal tersebut.

Jujur, pemuda yang mempunyai julukan fishy ini sendiri tidak tahu mengapa dia bisa dengan sadar melakukan hal bodoh itu hanya kerena bertengkar dengan gadis berambut pendek hitam pekat yang berjarak dua meter darinya sekarang, Kang Hyunna.

Hyunna sendiri tidak tahu bahwa dialah sebenarnya penyebab rusaknya handphone Donghae. Dia juga tidak mengetahui kalau Donghae marah padanya. Tapi dia sadar kalau kemarin telah membentak Donghae. Teman-teman Donghae juga tidak tahu dan tidak akan pernah tahu karena selama Donghae masih bernafas, dia tidak akan pernah menceritakan hal ini. Dia sudah tahu dengan jelas resikonya jika dia tetap nekat menceritakannya.

Resiko pertama, dia akan disuruh meminta maaf kepada Hyunna. Padahal jelas-jelas kemarin, Hyunna yang membentaknya duluan, menyulut emosinya. Dia tidak akan meminta maaf jika itu bukan salahnya, itulah prinsip hidupnya. Egois? Memang. Dimatanya, yang benar harus benar dan yang salah harus salah.

Kedua, dia akan malu. Pasti teman-temannya menganggapnya aneh. Tidak wajar melakukan hal bodoh tersebut hanya karena bertengkar dengan seorang perempuan yang tidak punya jabatan penting dalam hidupnya.

Yeah, Kang Hyunna dan dirinya tidak mempunyai ikatan apapun sejauh ini. Mereka memang dekat. Sangat amat dekat, malah. Dan tidak jarang ada suatu perasaan aneh yang menusuk masuk kedalam dada mereka. Aneh karena perasaan itu selalu berubah-ubah. Kadang senang, kadang sedih, kadang marah, kadang rindu, kadang kecewa, atau kadang semuanya bercampur menjadi satu. Apa mungkin ini yang dinamakan…Cinta?

Hyunna melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. 9.10 PM. Hampir dua jam lebih mereka berdua disini, di rumah pohon kecil di taman Myosan, hanya diam. Dia mendesah pelan lalu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju tangga.

“Kau mau kemana?”

“Pulang.” jawab Hyunna tanpa memutar tubuhnya dan tetap berjalan. Sebisa mungkin dia mempercepat langkahnya. Dia bisa mati bosan jika terus berada disini. Memang seharusnya dia turun sejak tadi. Sejak Donghae datang. Ya, mereka berdua tidak sengaja bertemu disini.

“Hati-hati dijalan ya!”

JDER! Hyunna langsung limbung saat mendengar kalimat Donghae barusan. Kalimat itu bagai petir siang bolong untuknya. Ini diluar perkiraannya. Dia kira Donghae akan melakukan sesuatu untuk mencegahnya pulang. Tapi kenyataannya…berbalik 180 derajat.

Donghae malah tertawa senang. “Hahahaha~ Pasti kau berfikir aku akan mencegahmu ‘kan?”

Hyunna mendengus. Sial. Dari mana dia tahu? Apa dia bisa membaca fikiran Hyunna?

“Iya ‘kan? Hahaha~” tawa Donghae semakin membahana.

“Cih.” Hyunna memutar badannya dan berjalan cepat kearah Donghae. “Kau pasti mengatakan itu karena terlalu malu untuk mencegahku secara langsung ‘kan? Caramu sangat kuno.” kata Hyunna dengan smirk khasnya.

Mata Donghae membulat. Tingkat ke-naris-an gadis didepannya ini sangat tinggi. Sebisa mungkin dia menahan sudut bibirnya agak tidak tertarik dan membuat senyuman. Bongkahan es besar diantara mereka perlahan mulai mencair. Atmosfir yang dulu telah kembali.

“Kalau begitu, aku tidak jadi pulang!” Hyunna langsung duduk diatas bangku kayu. Dia menolehkan kepalanya kearah kiri dan tesenyum pada Donghae. Senyum penuh kemenangan yang seolah mengatakan kalau Lee Donghae tidak akan pernah sekalipun menang dari Kang Hyunna.

Donghae tertawa keras. Terakhir dia melihat senyum seperti itu ketika dia duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar. Senyum yang sering ditunjukan anak-anak.

Biasanya gadis yang sudah berumur delapan belas tahun akan menunjukan sisi dewasanya. Tapi Hyunna berbeda. Dia tetap menampikan sifat kekanak-kanakannya. Dia menampilkan dirinya apa adanya. Tidak perduli kalau dia adalah seorang idol juga, salah satu member dari girlsband yang tengah naik daun, Little Angels.

Menurut Donghae, Hyunna adalah gadis yang unik. Dia berbeda dari gadis-gadis yang pernah dijumpai Donghae. Mereka biasanya melakukan apa saja yang bisa membuat mereka terlihat perfect dimatanya. Sedangkan Hyunna tidak. Dia apa adanya. Kalau bisa dia bilang bisa, kalau tidak dia bilang tidak.

Dan justru karena itulah Donghae menyukai Hyunna. Entahlah menyukai dalam arti sahabat atau dalam arti lebih. Hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu soal itu.

KRUCUK…

Cacing-cacing yang bermukim diperut Donghae mulai menabuhkan gendang, meminta diisi makanan. “Lapar~” gumamnya sambil memegangi perutnya. Kalau berbicara tentang makanan pasti yang terbanyang pertama kali diotak Donghae adalah Hyunna.

Pernah suatu ketika, Hyunna menjadi guest star di acara Star King. Kang Hodong melemparkan pertanyaan tentang barang apa yang paling berarti dalam hidupnya. Hyunna menjawab dengan penuh semangat kalau barang itu adalah makanan. Ajaibnya, belum genap dua puluh empat jam setelah acara itu ditayangkan, dorm Little Angels sudah kebanjiran makanan. Meski makanan itu sudah dibagikan ke puluhan panti asuhan, tetap saja sisanya masih banyak. Entah ide siapa, sisa makanan itu dibagikan ke dorm idol lain. Tentu saja Super Junior mendapatkan bagian. Dan disanalah untuk pertama kalinya Donghae dan Hyunna berkenalan.

KRUCUK…

Cacing-cacing itu semakin keras menabuh gendang. Dia menolehkan kepalanya kearah kanan. Matanya membulat karena tidak menemukan sosok Hyunna disana. Dimana gadis itu?

Donghae bangun dari duduknya. Dia berjalan cepat keluar menuju teras. Tubuhnya agak dicondongkannya kedepan, mengamati pemandangan dibawahnya. Beberapa detik kemudian dia mendengus dan memutar tubuhnya lalu bersandar pada pagar kayu. “Apa dia sudah pulang?” gumamnya sambil mengadahkan kepalanya keatas.

“Eh? Kau bicara apa tadi?”

Donghae tersentak dan refleks menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Seorang gadis dengan hoodie coklat tua dan masker hitam yang menutupi setengah wajahnya lebih, tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.

“Kau…”

Gadis itu membuka maskernya dan memasukan masker itu kedalam kantong depan hoodienya. “YA, Bocah pantai! Kenapa kau memandangku seperti itu?” Di dunia ini, hanya ada satu orang memanggil Donghae dengan nama ‘bocah pantai’, siapa lagi kalau bukan Kang Hyunna.

“Tidak apa-apa, pupa.”  jawab Donghae dengan tawa renyahnya. Pupa adalah nama panggilan Hyunna dari teman-teman segrupnya, Little Angels, karena dia dulu pernah memelihara seekor ulat dan saat ulat itu berubah menjadi pupa––kepompong, dia malah membuang hewan tersebut dengan alasan bentuk ulat lebih menggemaskan daripada kupu-kupu.

“Ini.” Hyunna menjurkan tangannya, menyerahkan kantong plastik berwarna putih susu ke Donghae.

“Apa ini?”

Kimbab. Kau pasti lapar ‘kan?”

Gomawo.” Donghae mengambil kantong plastik itu dan tersenyum senang.

Hyunna hanya bergumam. Dia berjalan cepat menuju bangku kayu yang dia duduki tadi dengan wajah tertunduk. Menyembunyikan semburat merah dipipi tembamnya. Jantungnya hampir melompat keluar karena berdetak puluhan kali lebih cepat. Dia selalu seperti ini setiap melihat senyum Donghae terkembang. Makanya setiap Donghae tersenyum, dia langsung pergi atau marah-marah pada Donghae, agar Donghae tidak tahu kalau sebenarnya dia hampir mati jika berdekatan dengannya.

“Yasanya enyak!” kata Donghae tidak jelas karena mulut penuh kimbab.

Hyunna menolehkan kepalanya. Suara Donghae terdengar seperti balita yang sedang latihan bicara. “Pardon?

Donghae menelan kimbab dimulutnya. “Kimbab ini rasanya enak. Kau mau?”

“Tidak, terima kasih.” Hyunna mengeleng. “Cepat habiskan! Bunyi perutmu terdengar sampai kebawah tadi. Hahahaha~”

Potongan kimbab yang sedang dipengang Donghae kini terhenti diudara dalam perjalanan menuju mulutnya karena kata-kata Hyunna barusan. Dia kaget. Kalau Hyunna mendengar bunyi perutnya berarti Hyunna juga…mendengar atau bahkan menyaksikan kegiatannya tadi.

“Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Hyunna bingung. “Tadi sewaktu aku pergi, kau tengah menatap langit sambil tersenyum. Sewaktu aku pulang, kau masih menatap langit, tapi kali ini dengan wajah sedih. Dan sekarang kau malah melamun. Kau…tidak kesuru––”

“YA, Pupa!! Ini sudah malam!” potong Donghae dengan nada kesal. Dia menaruh potongan kimbab yang dipegangnya ketempat semula, mendadak tidak berselera. Dia memang agak parno dengan hal-hal yang menyangkut dengan dunia lain setelah filming Mistery Six.

Sorry…Sorry.” kata Hyunna tersenyum sambil menirukan tarian Sorry, Sorry pada bagian chorus.

Donghae terkekeh pelan. Dia tidak bisa kesal terlalu lama pada Hyunna, entah kenapa.

“Cepat habiskan kimbabnya. Kalau perutmu kosong, maka––”

“Otakmu tidak akan bisa berputar.” Donghae memotong omongan Hyunna. Dan sebaris senyum langsung nampak diwajah Hyunna. Dia tidak meyangka kalau Donghae masih mengingat kata-katanya beberapa waktu yang lalu saat Kang Hodong memintanya menjelaskan alasan kenapa dia memilih makanan sebagai barang yang paling berarti dalam hidupnya. Dan seingatnya, dia belum kenal dengan Donghae saat itu. Kenapa Donghae bisa mengingatnya?

“Tapi emosimu yang bekerja dan semuanya akan hancur.” lanjut mereka berdua bersamaan. Dan detik berikutnya tawa mereka berdua pecah.

Kata-kata yang Donghae ucapkan dengan Hyunna tadi, mungkin terdengar sederhana dikuping orang lain, tapi tidak dengan Donghae. Menurutnya kalimat-kalimat itu justru sangat keren. Jarang sekali seseorang berfikir seperti itu. Makanya sampai detik ini dia masih ingat, bahkan hapal kata-kata itu. Dia malah masih ingat bagaimana mimik wajah Hyunna saat mengatakan kata-kata itu.

Naega jaba julge anajulge salmyeoshi..

Dengan cepat Hyunna merogoh kantong depan tas selempang hitamnya dan mengambil handphonenya. Dilayar handphonenya nampak deretan nomor-nomor yang dia tidak tahu siapa pemiliknya. “Yoboseyo?” Dia menjawab telpon itu dengan nada ragu.

Tawa Donghae juga langsung terhenti begitu mendengar alunan lagu No Other itu. Dan yang membuatnya tersentak adalah darimana asal suara itu dan line siapa itu.

“Aishh!!” Dia mendesah sebal. Sambungan telpon itu tiba-tiba terputus saat dia menayakan siapa orang diseberang sana. Sebenarnya dia bukan hanya sebal pada penelpon itu. Dia juga sebal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa mengganti ringtone handphonenya. Dan sialnya, Donghae mencium sesuatu yang tidak beres karena linenya di No Other dijadikan ringtone oleh Hyunna.

“Dari siapa?”

“Tidak tahu.” jawab Hyunna sambil mengangkat bahunya. “Telponnya tiba-tiba terputus.” Hyunna mengambil tas selempangnya.

Donghae hanya bergumam, “O.” Dia kembali mengambil potongan kimbab itu. Selera makannya perlahan mulai naik lagi.

Hyunna membuka resleting tengah tasnya. Dia tersenyum lesu ketika melihat sebuah kotak hitam nampak. Kotak itu berisi handphone yang ingin dia berikan kepada…Donghae. Hanya saja, dia terlalu malu untuk memberikan benda itu. Apalagi harga benda itu tidak ada apa-apanya dibandingkan harga pemberian ELF.

Sebenarnya, dia ingin memberikan kotak itu sejak tadi pagi. Sebagai permintaan maaf karena kemarin membentak Donghae. Tapi dia tidak yakin karena dia tidak mendengar sendiri dari mulut Donghae. Dan sore harinya dia baru percaya setelah tweets Donghae nampak di timelinenya. Dan karena rasa malunya itu dimembating stir kesini, bukan ke dorm Super Junior.

Dia memejamkan matanya kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Kang Hyunna, hwaiting!!” semangatnya pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya keudara. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju Donghae dengan kedua tangannya dibelakang memegang kotak itu.

“Donghae-ya…”

Donghae menolehkan kepalanya. “Ne?” tanyanya bingung karena biasanya Hyunna selalu menanggilnya dengan ‘bocah pantai’ atau panggilan yang lainnya, jarang malah sangat jarang memanggilnya dengan namanya.

Hyunna menundukkan wajahnya. Dia menarik nafas panjang dan mengulurkan kedua tangannya kedepan. “Happy Late White Day!” katanya pelan hampir berbisik namun Donghae dapat mendengarnya.

“Eh?” Kedua mata Donghae membulat, kaget. “Kau…” Dia terlihat kehabisan kata-kata. Dia mengulurkan tangan kanannya hendak mengambil kotak hitam yang ada ditangan Hyunna. Tapi, sedetik kemudian dia kembali menarik tangannya. Entahlah dia tidak yakin kalau Hyunna sedang serius. Apalagi dia sudah tahu isi otak Hyunna yang dipenuhi oleh ribuan ide-ide jahil. Sekarang tanggal 23 Maret, yang berarti sudah lewat 9 hari semenjak White day.

Hyunna mendesah pelan, kecewa. “Kau tidak suka?” Padahal Hyunna berharap Donghae akan senang menerima hadiahnya.

“Eh? Kau serius?” Melihat wajah Hyunna yang kecewa seperti itu, entah kenapa dia agak merasa kasihan pada Hyunna. Dan apa mungkin Hyunna sudah tahu kalau dialah penyebab rusaknya handphone Donghae?

“Menurutmu?” jawab Hyunna sekaligus bertanya dengan nada dingin.

Donghae tersenyum dan mengambil kotak hitam itu dari tangan Hyunna. “Kamsahamnida, Hyunna-ya.” kata Donghae sambil membungkuk, sopan. “Bukankah seharusnya kalau white day yang memberi hadiah si pria bukan si wanitanya?” tanya Donghae bingung.

“Ya anggap sajalah.” jawab Hyunna terkekeh pelan.

Donghae ikut terkekeh. Dia menguncang-guncangkan kotak hitam itu, penasaran apa yang ada didalam kotak itu.

“Jangan diguncang-guncang begitu!!”

“Kenapa?” Donghae menaruh kotak itu disamping gabus putih berisi kimbab. Rasa penasarannya semakin tinggi setelah Hyunna melarangnya.

“Jangan! Pokoknya jangan!” kata Hyunna sambil menggaruk kepalanya, bingung. “Dan jangan buka disini!” lanjutnya ketika Donghae mulai membuka bungkus kotak itu.

Donghae tidak mengindahkan larangan Hyunna. Dia malah langsung menyobek bungkus kotak itu. “Aishh!” dengusnya sebal karena tangannya kotor. Jika permukaan kertas itu terkena air, maka warna hitamnya akan menelpen ditangan. Dan sialnya tangan Donghae tengah berkeringat sekarang. Dia juga heran kenapa kotak itu bungkusnya hitam. Dan jujur saja dia berharap bungkus kotak itu berwarna pink meskipun dia sangat benci dengan warna pink. Karena warna pink melambangkan kasih sayang.

“Makanya sabar. Hahahaha~” tawa Hyunna sambil menyerahkan beberapa lembar tissue pada Donghae. Dari raut wajah Donghae sudah terlihat kalau dia tengah kebingungan. Bingung kenapa kertas pembungkus kotak itu berwarna hitam.

Hyunna sengaja memilih warna itu karena sesuai dengan arti warna tersebut. Hitam berarti kegelapan. Dan kegelapan identik dengan sesuatu yang salah dan rahasia.

Salah. Sangat salah. Sangat amat teramat salah. Kesalahan terbesar yang pernah dibuat Hyunna, selain membiarkan kedua orang tuanya menangis, adalah membiarkan Donghae masuk kehidupannya. Karena semenjak Donghae masuk, hari-hari Hyunna sering dilalui dengan kegalauan, kecemburuan, kegembiraan, dan hal-hal lainnya yang berlebihan. Dan semua itu kadang menyiksa dirinya. Terlalu menyiksa, bahkan. Kadang dia ingin hilang ingatan agar lupa pada Donghae dan dia dapat melalui hari-harinya seperti dahulu. Tapi sayangnya, dia sudah lupa bagaimana dia dulu dapat melalui hari demi hari tanpa Donghae.

Rahasia. Ya, dia ingin merahasiakan semua tentang dirinya pada Donghae. Soal jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, pipinya yang bersemu merah, rasa nyaman dan…semuanya. Semuanya yang dirasakan. Tentang hobinya, makanan favoritnya, kisah masa kecilnya, dan…semuanya. Semuanya tentang kehidupannya. Dia ingin Donghae mencari tahu sendiri. Seperti yang Donghae pernah bilang padanya kalau dia adalah gadis yang susah ditebak––misterius.

Blackberry?” tanya Donghae dengan nada kaget karena membaca kata ‘berry’ pada bagian kotak yang bungkusnya telah terbuka. Dia kembali menyobek bungkus kotak itu, tidak perduli dengan tangannya yang kotor. Setelah semua bungkus hitam itu terbuka dapat dibaca jelas tulisan pada kotak itu. Blackberry Bold 9900.

Hyunna hanya nyengir sambil menggaruk pipinya. “Tidak sebanding memang dengan I-phonemu yang hilang. Tapi semoga kau suk––”

“Suka. Sangat suka. Kamsahamnida, Hyunna-ya.” sela Donghae dengan eye-smilenya. Cepat-cepat, Hyunna memutar tubuhnya kebelakang sebagai antisipasi kalau semburat merah dipipinya muncul lagi. “Sudah malam.” Hyunna melirik kearah jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. 10:54 PM. “Aku harus kembali ke dorm. Jinsung-eonni sendirian di dorm.” lanjutnya sambil melangkahkan kaki.

“Jangan berbohong, pupa.

Langkah Hyunna terhenti dan dahinya berkerut. Darimana Donghae tahu kalau dia tengah berbohong? Ck, pemuda yang suka pantai ini memang mempunyai banyak cara untuk mencegah Hyunna pulang.

“Jinsung-noona sedang filming Strong Heart ‘kan?” tanya Donghae yang membuat Hyunna mendengus kesal. “Makanya Jungsoo-hyung sangat bersemangat hari ini.”

“Tadi saat aku berangkat, dia belum pergi. Jadi mana aku tahu kalau sekarang dia sedang filming.” jawab Hyunna sesantai mungkin sambil memutar tubuhnya.

“Jadi…” Donghae tesenyum. “Kita bisa pergi kerestoran steak diujung jalan sana ‘kan?”

Hyunna menggeleng pelan. Dia ingin pulang sekarang. Karena terus berada disini, sama saja membunuh diri dengan cara menyenangkan.

“Aku yang teraktir. Itung-itung sebagai hadiah White Day dariku.”

“Tidak usah dibalas tidak apa-apa kok. Kita ‘kan…” Kalimat Hyunna terhenti. Dia bingung harus menyebut apa hubungan mereka. Dibilang teman, mereka lebih dari teman. Dibilang sahabat, mereka lebih sahabat. Dibilang pacaran, mereka belum mengatakan janji apapun. Dan dibilang HTS––hubungan tanpa status––juga tidak. Mereka memiliki status, hanya saja Hyunna tidak tahu bagaimana menyebutnya.

“Kita ‘kan soulmate.” kata Donghae tersenyum. Entahlah kata yang berarti belahan jiwa dalam bahasa itu tiba-tiba melintas dalam otaknya.

Dan kalau dipikir-pikir kata soulmate memang cocok untuk mereka berdua.

Menurut kebanyakan orang, soulmate merupakan orang yang cocok dengan kita. Soulmate memang erat kaitannya dengan sesuatu yang sifatnya everlasting, seperti cinta sehidup semati atau suami dan istri.

Soulmate tidak harus terdiri dari seorang pria dan seorang wanita. Soulmate juga bisa antar anak dan orang tua, wanita dan wanita, pria dan pria, dan lain-lain. Setiap orang bisa menjadi soulmate kita asal semua pihak––diri kita sendiri dan orang itu––mempunyai niat baik untuk terus memperbaiki hubungan antar satu sama lain.

Soulmate adalah hubungan yang paling spesial dibandingkan hubungan yang lainnya. Suami istri bisa bercerai sehingga ada yang disebut ex-husband atau ex-wife. Teman juga bisa bertengkar sehingga disebut mantan teman. Sahabat juga bisa bertengkar. Meskipun tidak ada yang namanya mantan sahabat tapi bisa saja mereka tidak saling kontak lagi dan melupakan satu sama lain. Soulmate juga begitu. Tidak menutup kemungkinan kalau soulmate juga bisa bertengkar. Tapi dengan adanya niat baik untuk terus memperbaiki hubungan antar satu sama lain, soulmate akan terus berhubungan selama mereka masih bernafas dan tidak ada namanya mantan soulmate. Maka dari itu soulmate selalu berkaitan dengan sesuatu yang everlasting.

Bibir Hyunna tertarik keatas, membuat sebuah senyuman mendengar kata-kata Donghae barusan. Jujur dia tidak menyangka Donghae mengatakan kata itu. Dia sangat setuju kalau dia dan Donghae adalah soulmate. Karena definisi soulmate menurutnya adalah dua orang atau lebih yang sama-sama berjuang, berkembang, saling mendukung, saling menghargai, saling membantu, saling mengingat satu sama lain dan yang terpenting bisa menjadi tangan atau mata untuk kita, begitu juga sebaliknya. Karena jika tangan sakit, mata menangis dan jika mata menangis, tangan akan menghapus air matanya.

“Bintang jatuh!” teriak dari arah samping mereka. Refleks mereka berdua menolehkan kepala mereka kesamping. Dirumah pohon samping mereka, diterasnya, terlihat seorang anak kecil yang sedang melompat-lompat kegirangan. Kedua tangan kecilnya digandeng oleh seorang perempuan dan laki-laki, yang sudah pasti adalah orang tua anak itu.

Donghae menyikut Hyunna, “Cepat tutup matamu dan buat permintaan.” Hyunna hanya mengangguk dan menutup matanya, membuat permintaan.

Donghae tersenyum dan ikut memejamkan matanya juga. Tapi sedetik kemudian, dia membuka matanya lagi. “YA, Pupa!! Sampai kapan kau terus menutup matamu?”

Perlahan Hyunna membuka matanya. Dia langsung bisa melihat kedua bola mata Donghae tengah menatapnya tajam dengan senyum manis yang tersungging dibibirnya. Tatapan itu membuat Hyunna memalingkan wajahnya. “Memangnya kau tidak membuat permintaan?”

Donghae terkekeh. “Sudah diwakilkan olehmu.”

“Hah? Maksudmu?”

“Sudahlah tidak penting.” jawab Donghae enteng sambil memakai topi baseball dan kacama hitamnya. “Ayo pergi, sekarang. Perutku sudah keroncongan.”

Hyunna hanya mengangguk dan memakai maskernya. Sedetik kemudian dia sudah berteriak-teriak kesal. “YA, bocah pantai!! Jangan rangkul aku! Tanganmu kotor!!”

Hyunna menutup matanya, membuat permintaan. “Aku ingin melihat matahari terbit setiap harinya agar bisa membagi hangatnya matahari ke orang-orang yang aku sayangi.” harapnya dalam hati.

 

Donghae tersenyum dan ikut memejamkan matanya juga. “Tuhan, tolong kabulkanlah permintaan gadis disampingku ini.” ucapnya dalam hati.

-FIN-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: