My Three Destination

My Three Destination

***

 

 

3 tujuan dalam hidupku:

  1. Memenangkan Olimpiade Matematika
  2. Memacari Cho Kyu-hyun Super Junior
  3. Membuat bahagia sahabat-sahabatku

Gila? Menurutku tidak. Yang pertama nyaris saja tercapai, dan yang ke 2 dan ke 3? Dengarkan cerita kami ya!

Park Kyu-ri POV

Malam mulai menjelang, matahari berganti dengan bulan. Namun, aku masih berada di sekolah. Olimpiade MTK yang kuikuti menuntutku menjadi penjaga sekolah. Pemantapan intensif belajar sudah dilakukan sejak 2 bulan lalu. Semakin dekat hari H itu, semakin gugup juga perasaanku. Bisakah aku memenangkan sekolahku?

“Selamat malam semuanya!” Suara Yoon Saem membuyarkan lamunanku. Aku segera membereskan alat tulis dan kertas soal yang berhamburan di atas meja. Kedua temanku yang juga mewakili Chungdam High School tidak dapat dianggap remeh. Jung-ri misalnya, malah lebih pintar daripada aku. Aduuh! Kenapa pikiranku jadi begini?

“Kami duluan ya Kyu-ri?” pamit Jung-ri dan Se-hyun. Aku ditinggalkan sendiri. Astaga, mana gelap lagi! Aku memang bukan tipe penakut, tetapi, tetap saja ada rasa ngeri.Perutku mulai keroncongan. Aku berharap di rumah Rim-ah masih ada makanan. Untuk hari ini aku terpaksa menginap di rumahnya, karena kedua orang tuanya sedang pulang kampung ke Busan. Dia juga mengajak Kwang-hee, teman kami yang merupakan anak akselerasi.

Kususuri jalan mengarah ke rumah Rim-ah, melewati jalan pintas yang sempit dan gelap. Kulayangkan pandangan ke arah kiri. Dorm Super Junior. Tempat dimana seorang Cho Kyu-hyun tinggal. Idolaku!

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Rim-ah menelepon. “Kamu, kemana aja sih? Aku udah tepar nungguin kamu! Jadi gak nginap di sini?” Rentetan kalimat menyambar telingaku dengan cepat. Ini nomor Rim-ah, yang ngomong Kwang-hee.”Iya, aku lagi dijalan.” sahutku malas.

Malam semakin dingin. Aku merapatkan jaketku. Kwang-hee melembutkan nada suaranya, “Onnie dimana? Biar aku jemput?”

“Gak usah…” sahutku lagi. Tepat disaat yang bersamaan tubuhku menabrak tubuh tinggi dan kurus seseorang. Buku-bukuku yang jatuh dan berceceran segera kupungut. Untuk saat ini, biarkanlah kesopanan menjadi nomor 2. Pria itu juga ikut memungut beberapa dari buku itu, sambil mengucapkan beberapa patah kata makian,yang kusadari bahwa dia pria dari kadar keberatan suaranya.

“Ini, lain kali jalan pake mata! Jangan teleponan terus!” amuknya padaku sembari menyodorkan buku-buku itu. Aku mendongak dan mendapati ekspresi jengkel, juga seorang rekannya berdiri di sebelahnya, kerepotan membawa kantung-kantung kertas. Diterangi cahaya lampu, butuh waktu tak sampai seperempat detik bagiku untuk menyadari bahwa yang berdiri di depanku sekarang adalah Cho Kyu-hyun dan Kim Ryeo-wook, member Super Junior!

“Kyu-hyun?” desisku pelan. Hanya Kyu-hyun, tidak pake embel-embel apapun. Aduh Park Kyu-ri memang bodoh!

“…” ia hanya diam.

“Jwaseonghamnida oppa!” ujarku sembari membungkukkan badan. Ryeo-wook yang menjawab,”Nggak apa-apa. Salah dia gak mau bantuin aku ngebawa ini belanjaan.” Ia mengeluarkan aura keiblisan yang mampu membuat Ryeo-wook menciut dan menutup mulut.

“Asal jangan kamu ulangi lagi aja! Dan jangan pamer!” ujarnya dingin.”Oppa, tunggu sebentar!”
kataku. Aku ingin memberinya sebuah hadiah. Seingatku, kemarin aku baru saja membeli sebuah soft cover PSP berwarna biru. Masih belum terbuka dan sepertinya belum ku keluarkan dari tas ranselku ini. Kurogoh dalam-dalam tasku dan menemukan sebuah kotak persegi berbungkus keras dan kuambil. Detik berikutnya handphoneku kembali bergetar. Kwang-hee.

Sejenak, aku melupakan hubungan teleponku dengan Kwang-hee tadi. Rupanya ia mematikan telepon dan meneleponku kembali lewat handphonenya. Kudengar teriakan paniknya memanggilku. Astaga, anak ini sepertinya terkena “friends complex syndrome“! Kuisyaratkan tunggu kepada keduanya, baru kujawab telepon itu.

“KENAPA GAK DIJAWAB?” teriakan powerfulnya semestinya terdengar, walau 20 meter jauh jaraknya. Kyu-hyun nyengir mendengarnya.

“Ah,sorry Kwang-hee-ya, tadi ada urusan sebentar, tunggu kira-kira 2 menit lagi aku akan tiba disitu.”

“Ne, cepetan!”

“Arra!”

Kututup telepon dan kuberikan barang itu kepada Kyu-hyun. “Semoga oppa suka!” kataku. Lalu, aku berlalu dari hadapan mereka berdua.

Cho Kyu-hyun POV

Buku tulis MTK? Hei, nona aku sudah lulus sekolah! Kubalik-balik buku itu. Berbagai rumus berseliweran dibenakku, ya, rumus saat aku SMA dulu. Masa kejayaanku sebagai Master of Mathematics di sekolah. Sampai di halaman terakhir kutemukan satu halaman penuh bertuliskan namaku. Ternyata seorang sparKYU rupanya? Juga ku temukan beberapa link download game. Gamers juga.

Ryeo-wook berjinjit di belakangku, mencoba mengintip isi buku itu. “Buku tulis?” tanyanya. Tangannya masih kerepotan membawa kantung kertas berisi kebutuhan kami selama seminggu dan belanja titipan para member. “Buku tulis matematika?” ulangnya dengan wajah penuh kebingungan. Inilah yang membuatku jengah menganggapnya sebagai seorang yang lebih tua. Selain tampangnya yang memang seperti anak-anak, kelakuannya pun kadang menyebalkan. Seperti inilah contohnya.”Iya, Kim Ryeo-wook ini buku tulis penuh rumus matematika!” ketusku. “Yee, santai dong Kyu. Aku kan cuman nanya!” jawabnya.

Sepertinya eternal magnae ini agak tersinggung dengan kata-kataku tadi. Biarlah. Lagipula mana berani ia menantang sang Master Evil Super Junior? Kumasukkan buku itu ke salah satu kantung kertas yang dipegangnya dan kuambil dari tangannya. “Nanti kau tambah pendek!” kataku beralasan. Dia tersenyum saat kuambil kantung itu, namun, saat mendengar alasanku, mulutnya kembali mengerucut. Aku tertawa, senang sekali rasanya mengerjai makhluk ini.Kami menyusuri sepanjang jalan menuju dorm sambil mengobrol. Tidak, bukan mengobrol, tetapi aku yang mendengarkan dia berkicau mengenai seorang trainee yang baru akan memulai debutnya di pertengahan bulan ini. Trainee itu bernama Audrey Lee, dan girlgroupnya yang bernama Season juga merupakan anggota dari SMent Family, wajar kalau kami mengetahui perkembangan mereka. Namun, yang membuatku bingung Ryeo-wook tidak pernah menyinggung mengenai Season di Twitternya. Pujiannya ditwitter selalu disampaikan kepada Park Sun-young, member f(x). Padahal kalau menurutku, Season Audrey Lee lebih berbakat. Memang dasar makhluk plin-plan!

Sesampainya di dorm, Ryeo-wook mulai sibuk dengan berbagai bahan makanan di dapur. Aku kembali meneliti buku tulis tadi. Pemiliknya bernama Park Kyu-ri, bersekolah di Chungdam High School, kelas XI. Chungdam adalah sekolah Lee Taemin sekaligus sekolah Audrey Lee. Dan dia kelas XI, berarti lebih mudah mengembalikan buku ini melalui Audrey karena Audrey ini juga kelas XI. Makhluk bernama Park Kyu-ri ini pasti menganggap buku ini penting.

Buku tulis ini agak lebih tinggi tingkatan pelajarannya dibanding pelajaran kelas XI pada umumnya. Lebih mirip ke bimbingan belajar untuk Olimpiade Matematika. Hingga pernyataan tadi terbukti dari sebuah soal yang berasal dari soal Olimpiade yang berasal dari tahunku. Soal menyebalkan yang ternyata kata guruku harus dijawab menggunakan teori. Soal yang jawabannya tanpa perlu dipikir, yang akan ku ingat seumurhidupku karena membuatku berkutat dengan berlembar-lembar kertas coretan saat mencari jawabannya! Soal yang membuatku penasaran setengah mati! Soal yang ternyata jawabannya adalah 0!

Dibawah soal itu tertera langkah-langkah panjang yang dikerjakan oleh pemilik buku itu. Dan hasilnya sudah bisa ditebak! Tidak ada! Lalu ada beberapa soal yang diberi jarak beberapa baris karena si empunya buku tak mengetahui cara mengerjakannya. Aku tertarik untuk mengerjakannya. Kuambil pensil dan mulai mengerjakan soal-soal itu. Untuk sejenak mampu kulupakan game yang biasanya menyita waktuku.

Park Kyu-ri POV

Tidak ada! Buku catatan soal-soal Olimpiade dan penyelesaiannya hilang! Ya tuhan, ada beberapa soal yang masih harus kupelajari karena langkahnya masih belum kumengerti. Bagaimana ini?”Udah dibongkar tasmu onn?” tanya Kwang-hee. Aku mengeleng. Itu usul yang bagus. Kubongkar dan yang kudapati adalah kotak soft cover itu. Sepertinya tertukar dengan buku itu. Jadi, yang kuberikan kepada Kyu-hyun oppa tadi bukuku? Ah kenapa aku jadi linglung begini?

“Haah!” helaku keras.

“Gimana? Ketemu gak?” tanya Rim-ah. Sekali lagi aku menggeleng. “Bukunya aku kasih ke Kyu-hyun” bisikku pelan. “MWO? Kau beri ke Kyu-hyun katamu?” teriaknya kaget. Wajar, Lee Sung-min adalah biasnya, dan Kyu-hyun terkenal dekat dengan Sung-min, yang biasa dikenal dengan Kyu-Min couple.

Sementar Kwang-hee hanya menoleh sebentar dan melanjutkan acara makannya, Rim-ah mencecarku dengan banyak pertanyaan. Dengan penuh penyesalan kuceritakan pengalaman tadi kepada Rim-ah, padahal aku berjanji untuk tidak pamer tadi. Saat Kwang-hee mendengar nama biasnya Ryeo-wook disebut ia tampak tak semangat. Tumben karena biasanya ia sangat amat hiperaktif kalau kami membicarakan biasnya. Giliran Rim-ah yang kecewa, karena aku tak bertemu dengan Sung-min, sekadar untuk meminta tandatangannya. Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk meminta tandatangan Kyu-hyun, apalagi terpikir meminta tandatangan Sung-min? Ini semua karena Kwang-hee yang memburu-buruku!

“Jadi, bagaimana bukumu?” tanya Rim-ah kembali ke topik pembicaraan. Setelah kami tadi sempat menumpahkan kemarahan kami pada Kwang-hee dengan melemparkan bantal-bantal padanya. “Tanyakan saja via UFO?” tawar Kwang-hee. Sepertinya ia cukup merasa bersalah. Ide bagus!

Kuhampiri laptop Rim-ah yang terbuka, dan kusambungkan ke internet, lalu kubuka akun UFOku. Kebetulan ada member Super Junior yang sedang online. Kim Ryeo-wook. Aku langsung menanyakan nasib bukuku kepadanya. Beruntung, bukuku tidak dibuangnya. Aku menarik nafas lega. Setelah itu kuberi tahu Kwang-hee kalau biasnya sedang online. Namun, tanggapannya dingin. Aneh, aku dan Rim-ah saling berpandang. Biasanya Kwang-hee akan semangat. Tetapi, saat ini tidak. Rim-ah meminta penjelasan dengan memandangku. Aku hanya mampu mengangkat bahu. Sungguh aku tidak
mengerti. Sepertinya ia sedang ada masalah, namun belummau menceritakannya pada kami. Sudahlah, toh Kwang-hee bukan tipe yang mampu berlama-lama menyimpan perasaan. Tak lama ia pasti akan menceritakan masalahnya.

Kwang-hee, yang sedang dibicarakan, malah sudah tepar di atas sofa, setelah suara handphonenya berdering, ia pindah ke tempat tidur. Akhirnya aku dan Rim-ah memilih menjadi kelelawar dengan online malam-malam dan mengunduh berbagai video.

Cho Kyu-hyun POV

Ryeo-wook memanggilku. Ia datang dengan cengiran lebar. Katanya makhluk yang memiliki buku ini mencarinya. Yah, baguslah! Kucari nama Audrey di contact list handphoneku, agar besok ia dapat mengembalikan buku ini. Lagipula sepertinya makhluk ini unik, sama sepertiku. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.

“Yeobosaeyo?” sapaku.

“Ah, kenapa?” jawabnya penuh ketidaksopanan.

“Kau mengenal Park Kyu-ri tidak?” tanyaku langsung.

“Yap, aku temannya. Waeyo?” jawabnya.

“Bantu aku, ya? Tolong kembalikan buku matematikanya. Buku itu ada samaku.”

“Shiro! Kembalikan saja sendiri.”

Ya tuhan, berikan aku kekuatan guna menghadapi magnae SMent yang satu ini!

“Nanti aku beri foto-foto ekslusif Ryeo-wook deh?”

“Enggak! Apalagi dikasih begituan! Suruh Taemin aja!”

“Tumben, kenapa gak mau sih?”

“Soalnya…”

Alasan klise! Gak mau ngembalikan buku hanya karena itu? Dan gengsi. Padahal, Audrey dan Ryeo-wook sama-sama mengagumi, tapi tak mau mengakui. Karena Audrey tidak mau membantuku mengembalikan buku ini, maka aku menelepon Taemin SHINee. Tiba-tiba, terbersit sedikit ide untuk mengerjai Audrey. Setelah bercerita pada Taemin, Taemin pun setuju membantu! Hahaha! Audrey, tunggu saja besok!

Park Kyu-ri POV

Kami bertiga sedang duduk di bangku yang memang disediakan oleh sekolah di depan kelas. Kwang-hee yang adalah putri tidur, menutup wajahnya yang terlihat kecapaian. Sementara aku dan Rim-ah masih berdiskusi mengenai soal ulangan Kimia. Aku sudah ulangan sedangkan Rim-ah belum. Asal tahu, kami tidak sekelas. Aku kelas 11-1, Kwang-hee 11-2 dan Rim-ah di kelas 11-3. Terdengar teriakan sadis dari arah lorong kelas 12. Wajar, Taemin SHINee sedang berjalan menuju ke arah kami. Ia berhenti tepat di depan Kwang-hee dan bertanya siapa yang bernama Park Kyu-ri padanya. Tanpa mengangkat wajah, menunjukku. Taemin menyodorkan sebuah buku tulis kepadaku. Buku latihan soal Matematikaku! Aku mengucapkan terima kasih bertubi-tubi kepada Taemin, yang masih memasang senyum manis. Sedangkan Rim-ah, hanya terbengong melihat pemandangan tak lazim. Meski 1 sekolah, kami tidak pernah bertemu secara langsung dengan Taemin.

“Audrey, kamu memang tetep putri tidur dimanapun kamu berada.” Kata-kata berikutnya dari Taeminlah yang sukses membuatku cengo. Taemin menyapa Kwang-hee dengan sebutan Audrey dan putri tidur?

“Taemin-sshi mungkin anda salah orang” kataku, “namanya Lee Kwang-hee, bukan Audrey.”

“Aku tahu kok. Audrey ini nama baratnya Kwang-hee” jawab Taemin.

Kwang-hee bangun dan melotot heboh pada Taemin. Taemin, masih berdiri di depannya hanya mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda “damai”. Sontak Kwang-hee menghentakkan kaki dan pergi dari tempat itu, menuju ke WC. Kuisyaratkan pada Rim-ah untuk menyusulnya. Dan memang itulah yang segera dilakukan Rim-ah.

Setelah Kwang-hee dan Rim-ah pergi, Taemin duduk di sebelahku. Bisa kubayangkan esok para Taemints akan mengeroyokku. Namun, rasa takutku kalah oleh rasa ingin tahu mengenai orang yang sudah kukenal selama 2 tahun belakangan ini. Tanpa diminta, keterangan mengenai Kwang-hee meluncur lancar melalui mulut Taemin. Keterangan yang selama ini disembunyikan oleh Kwang-hee, terungkap. Namun, aku entah mengapa tidak merasa dibohongi. Setelah itu, kususul kedua temanku ke WC.

Rim-ah masih mengelus punggung Kwang-hee pelan. Sementara Kwang-hee menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya sendiri sepertinya menangis.Aku berlutut di depan Kwang-hee, sambil berkata, “Nggak enak nangis di WC, di ruang teater aja yok?”Kepala Kwang-hee menegak, “Aku nggak nangis kok!” ujarnya. Padahal, bendungannya nyaris bobol.Kuacungkan kunci ruang teater di depan wajahnya. “Mau cerita disana?” tawarku. Giliran Rim-ah yang nggak ngerti apa-apa. Ia mengacak rambutnya dan mengatakan, “Kok aku gak tahu sih, kalian ngomong apa?”

Kwang-hee menatapku ragu. Aku tahu pikirannya. “Udahlah, guru sastra Korea gak masuk, guru Bahasa Inggris gak masuk, guru Matematika juga gak masuk, terus hari ini juga kayaknya pulang cepat.” jelasku panjang lebar. Kwang-hee mengangguk, menggamit tangan Rim-ah yang masih bertanya-tanya. “Ayo, aku akan cerita.”

Sesampainya di ruangan itu aku langsung menanyakan alasannya menyembunyikan fakta-fakta itu.”Jadi kenapa kamu gak jujur kalau kamu trainee di SMent sejak tahun 2009?”

“Antis. Onniedeul, sungguh. aku tak bermaksud menyembunyikan idola kalian, aku punya akses ke sana, tapi aku tak suka jika kalian tahu lalu membanggakan hal tersebut. Antisku, bahkan
sebelum aku jadi artis saja banyak sekali!” jawabnya panjang lebar.

“Jadi, kamu trainee SM?” tanya Rim-ah dengan mata lebar.

“Ne…” Kwang-hee mengangguk.

“Kamu takut antis?” tanyaku. Aku tak habis pikir, seorang Kwang-hee takut antis?

“Kamu bukan Kwang-hee yang aku kenal! Aku dan Rim-ah tidak marah karena kamu menyembunyikan identitasmu. Tapi alasanmu betul-betul tidak logis!” lanjutku lagi.

“Jadi, kamu traineenya SMent?” ulang Rim-ah.”Keep strong! Masa kamu kalah sebelum berperang?” Pertanyaan retorik, ia tak perlu menjawabnya. Kwang-hee tersenyum. Bahagia melihat dia tersenyum lagi. Ia memang memiliki banyak antis di sekolah, karena kadang tingkahnya yang masih childish.

Rim-ah tiba-tiba melotot memandang Kwang-hee. “Kalau kamu ingin kumaafkan, pertemukan kami dulu dengan idola kami!” katanya kepada Kwang-hee.

“Rim, kan masih sekolah?” aku meragukan ide gilanya.Namun, Kwang-hee malah mengangguk.

“Ne, sebagai permintaan maafku, aku akan mengabulkannya!” Kwang-hee malah menyetujui ide gila itu.

“Sekarang?” tanyaku.

“Ne, tunggu apalagi?”

“Tapi… Izinnya?”

“Gampang, aku yang tanggung jawab.” jamin Kwang-hee.

Dan setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja, aku sudah ikut terwawa-tawa bersama mereka di luar lingkungan sekolah.Sekarang kami sudah berada di depan gedung ini. Asrama Super Junior dan juga anggota SM family lainnya, termasuk Seasons nama grup dimana Kwang-hee terdaftar sebagai anggotanya.

Di dalam lift, Rim-ah menggosok-gosok tangannya, grogi akan bertemu dengan Sung-min. Aku merogoh tasku, memastikan tidak salah memberikan hadiah. Sementara Kwang-hee sibuk dengan handphonenya.

“Yeobosaeyo? Ada siapa aja di situ? Aku OTW nih? Kamu sama Sung-min siapin jumpa fans aja!”

“Temenku, yang bukunya kemarin ada di kamu.” Pasti menelepon Kyu-hyun. Tapi, tidak sopan sekali, tanpa sapaan sama sekali?

“Marah? Enggak kok, makasih ya? Eh, bukain pintu dong! Kering nih di depan!”

Kami sudah sampai di depan pintu dorm mereka. Entah mengapa aku menjadi sangat amat gugup. Sempat terpikir membatalkan pertemuan ini dan kabur. Akan tetapi, kami sudah terlanjur berdiri di sini. Ryeo-wook yang membuka pintu dengan wajah baru bangun tidur. Sedangkan Kyu-hyun dan Sung-min menatap kami berdua.

“Oppa, choneun Lee Rim-ah imnida, Aku membawakan ini untuk oppa.” Rim-ah menyodorkan sehelai syal berwarna pink ke hadapan Sung-min. Ia lalu tersenyum sumringah dan mengajak Rim-ah duduk di sebelahnya Ternyata rumor bahwa Sung-min judes kepada para penggemarnya, tak terbukti.

“Oppa, apa aku perlu mengenalkan diri?”

“Kau Park Kyu-ri? Peserta Olimpiade Matematika? Kemari!” ia menarik tanganku dan mendudukkan ku pada sudut lain ruangan itu. Sedangkan ia sendiri pergi mengambil kacamata.”Kemarikan soal-soalmu.” perintahnya.Ya tuhan, aku tak menyangka akan membahas soal Olimpiade bersama Masternya yang sekaligus idolaku! Rasa senang mulai menjalari hatiku. Ah, rasanya tak mau pulang!

Cho Kyu-hyun POV

“Cho Kyu-hyun, dimana coklat sachet?” teriakan Kwang-hee memecahkan konsentrasiku.

“Molla! Tanya sama orang dapur!” isengku mulai muncul.

“Kyu aku pegang gunting nih!” ancamnya.

“Di atas kulkas, Dey!” ganti Sung-min yang menjawab.

“Makasih oppa!”Aku cekikikan. Sementara Kyu-ri menatapku aneh. Ah, biarlah!

“Kenapa Kwang-hee ngomong sama oppa pake banmal?” tanyanya heran.

“Ah, itu? Sengaja, biar beda aja. Lagian juga cuman dia yang kayak gitu, aku juga gak keberatan kok!”

“Kalian dekat ya?” tanyanya pelan.

“Yap! Dibanding sama idolanya sendiri, dia malah lebih dekat sama aku!” Terlihat sorot kecewa dimatanya. Sejujurnya, perasaanku jadi aneh. Entah mengapa aku jadi tidak ingin melukainya?

“Maksudku, bukan dalam arti pacaran begitu. Dekatnya itu lebih ke hubungan oppa-dongsaeng! Tapi, kita gak terlihat seperti itu, banyak yang bilang kami berdua pasangan magnaevil!” Penjelasanku sepertinya makin menyakitkan hatinya.Kwang-hee menaruh 2 gelas coklat hangat di depan kami.

“Aku pulang ya?” pamitnya.Isengku muncul lagi,

“Gak pamit ama yang di kamar?”

“Enggak makasih!” ia menjawab sambil menutup pintu. Aku kembali terkekeh.

Park Kyu-ri POV

“Terus kenapa Kwang-hee nggak dekat sama Wookie oppa?” Kuganti topik pembicaraan. Sesak rasanya mendengar pengakuan bahwa ia dekat dengan sahabatku sendiri.

“Gengsi!” jawabnya singkat.

Tak terasa hari sudah malam. Aku sudah membolos pelajaran dan membolos pelajaran MTK tambahan.

“Udah malam, kamu mau pulang?” tanyanya ramah.

“Iya, Rim-ah pulang yok?” ajakku pada Rim-ah. Namun, si empunya nama tidak terlihat.

“Kamu nggak denger dia pamit? Kan tadi pergi sama Sung-min mau hunting aksesoris?” jawab suara dari dapur.

“Ini coklat siapa Kyu?” tanya suara itu lagi.

“Minum aja! Ayo aku antar pulang.” ajak Kyu padaku.

Tanpa meminta persetujuanku, ia langsung menarik tanganku.Di mobil, ia terkekeh lagi. “Wookie paling suka coklat buatan Audrey! Tapi, gak pernah mau ngakuin!” Aku hanya mengangguk.

“Jadi diantar ke mana nih?”

“Ke rumah Rim-ah. Aku lagi nginep di situ!”

“Dimana itu?”

“2 blok lagi belok kiri, rumah warna krem.”

“Boleh minta nomor hapemu gak?”Jedeer! Mimpi apa aku diminta nomor hape sama Cho Kyu-hyun?

“Supaya, kalau ada yang kamu gak ngerti, bisa tanya aku.” Aku langsung menyodorkan handphoneku dengan semangat.

“Oh iya, id gamemu apa? Ntar kita battle ya?”

“Lho, kok oppa tahu, aku doyan ngegame?”

“Di belakang bukumu tuh!” Aku menepuk keningku!

“Cho_kyuri_88_93.”

“Kalo aku, gaem_gyu, ntar ol bareng ya? Eh, udah nyampe!” Tidak ingin rasanya berpisah dari dirinya. Setelah aku masuk ke rumah Rim-ah, aku memandangi layar handphoneku yang terisi fotonya, hingga terlelap. Ah, bahagianya!

Cho Kyu-hyun POV
3 minggu berlalu. 2 minggu yang lalu, Kyu-ri memenangkan Olimpiade Matematikanya. 1 minggu lalu Kwang-hee a.k.a Audrey memulai debut pertamanya bersama Seasons. Dan 3 hari lalu Sung-min dan Rim-ah baru saja berpacaran. Geez! Sepertinya aku harus mengikuti jejak mereka!
Senang rasanya saat tahu kau memiliki teman dengan passionate yang sama. Game dan Matematika! Aku dan Kyu-ri memiliki bakat dalam kedua bidang tersebut.dan sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya…

Sekarang kami sedang battle game di kamarku. Ditemani coklat hangat buatan Kwang-hee. Bagaimanapun caranya kami membuat coklat hangat, tak ada yang bisa menyamai kenikmatan coklat hangat yang dibuatnya. Ah, menyenangkan.

Terbersit sebuah ide di kepalaku. Kalau kami sama-sama memiliki passion yang sama, mengapa kami tidak bersatu saja?

“Kyu-ri, mau nggak kamu jadi pacarku?”

Park Kyu-ri POV

Ini kedua kalinya aku tersambar petir karena omongan Kyu-hyun oppa. Aku ingin sekali, sangat ingin! Namun, aku tak tahu resiko macam apa yang akan ku hadapi.

“Kalau gak mau juga nggak apa-apa kok” katanya.

“Bukan begitu oppa, aku mau kok. Tapi…”

“Diterima tuh Kyu! Traktiran menunggu!” sahut suara cempreng nan mengesalkan milik Kwang-hee yang sedang menonton TV.

“Kalo resiko sih, liat aja pasangan Rim-Min, gak kena bashing juga kan?” jelas Kwang-hee lagi.

“Jadi, kamu nerima?” Kyu-hyun meminta konfirmasi.

Aku mengangguk. Perasaanku campur aduk, antara senang, bahagia, dan sedikit khawatir.

“Makasih” hanya itu yang keluar dari mulut Kyu-hyun oppa ditambah dengan sedikit pelukan hangat.

“Traktiraaan…. Double nih, dari Kyu-hyun ama Kyu-ri!” jerit Kwang-hee nggak jelas.

3 tujuan dalam hidupku:

  1. Memenangkan Olimpiade Matematika
  2. Memacari Cho Kyu-hyun Super Junior
  3. Membuat bahagia sahabat-sahabatku

Semua sudah terlaksana. Done! Congratulations for me!

-the end-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: