Forgotten Past [1/2]

1

Forgotten Past (1/2)

Written By: Silviana Viorenza
Tag : Cho Kyu Hyun, Choi Jin Hee, Byeol, Nami Park, Cho Jun Ki, Lee Hyuk Jae, Cho Woo Hyun
Genre : Romance, Fantasy | Rating : PG-15 | Length : Two-Shot

***

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

Seberkas cahaya terang kudapati, sesaat setelah kedua kelopak mataku terbuka dengan sempurnanya. Kuarahkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan ini. Ruangan kecil berbahan dasar kayu-lah yang tengah kutempati saat ini.

 

Aku tengah berbaring di atas tumpukkan jerami dengan ditemani seekor golden retriever. Kalung yang melilit di lehernya berukirkan sebuah nama, Byeol.

 

“Byeol-ee?” ucapku.

 

Byeol terbangun, tepat setelah namanya secara tidak sengaja terucap olehku. Di detik berikutnya, ia menjilat seluruh permukaan kulit wajahku. Dan tanpa kusadari, bibirku menarik kedua ujungnya, membentuk sebuah senyuman.

 

Dapat kusimpulkan, aku benar benar menyukai Byeol-ee.

 

“Kau sudah bangun?” suara tinggi nan lembut tertangkap oleh gendang telingaku.

 

Aku menoleh, mencoba untuk mencari sumber dari suara tersebut. Dan ternyata, seorang wanita bermata bulat dengan manik mata menyerupai kacang almond-lah yang merupakan sumber dari suara tersebut. Dengan sebuah keranjang yang berisikan buah-buah berwarna cerah, ia berjalan kearahku.

 

“Choi Jin Hee imnida. Bangapseumnida.” ia menjulurkan tangannya sembari memperlihatkan kedua lesung pipitnya.

 

Ia tersenyum kearahku. Dan bersamaan dengan itu, waktu berhenti. Angin musim semi berhembus di dalam hati seorang Cho Kyu Hyun saat kedua bibir merah itu menampakkan keramahannya.

 

Ia terlalu sempurna.

 

Kedua manik mata hitamnya tertuju kepadaku. Tangan kanannya tengah menanti sambutan pertemanan dari tangan kananku. Tetapi apa daya, aku telah tersihir oleh kesempurnaannya, hingga aku lupa caranya untuk menggerakkan tanganku.

 

“Kyu Hyun. Cho Kyu Hyun.” ucapku gugup.

 

Tanpa menyambut permintaan pertemanan yang diajukan oleh tangan kanannya, aku membalas salam perkenalannya. Diletakkannya keranjang rotan berisi buah-buah segar tepat disampingku. Dan di detik berikutnya, ia memposisikan dirinya disamping keranjang buah yang baru saja mendarat di atas permukaan lantai kayu.

 

“Apa kau mengingat sesuatu tentang dirimu selain namamu, Kyu Hyun-ssi?” suaranya kembali memecah kesunyian diantara kami.

 

Namaku Cho Kyu Hyun.

 

Berapa usiaku. Dimana aku tinggal. Dimana aku bekerja. Kapan aku lahir. Siapa nama kedua orangtuaku. Apa aku sudah menikah. Hari ini tanggal berapa. Tahun ini tahun berapa. Aku tak dapat mengingatnya.

 

Jika ini amnesia, bukankah aku seharusnya tak dapat mengingat namaku?

 

“Aku telah mengelilingi lingkungan disekitar rumah kayu ini dan hasilnya, tidak ada orang.” sambungnya.

 

Kembali kebingungan menghampiriku. Ini semua sungguh membingungkan, ditambah lagi menghilangnya semua ingatanku. Bahkan alasan mengapa aku bisa berada di tempat ini, bersama seorang wanita yang entah siapa pun aku tidak tahu.

 

“Dapat kusimpulkan, kita terdampar di suatu tempat yang tidak berpenghuni tanpa ada satupun ingatan yang tertinggal di otak kita.” dan bersamaan dengan ucapannya, sebuah pertanyaan muncul.

Apakah kami sudah mati?

Choi Jin Hee’s point of view

Aku terbangun dengan seorang lelaki berwajah malaikat disampingku. Aku tak dapat mengingat hal lain selain nama dan umurku, tidak ada orang lain selain kami-aku, Kyu Hyun-ssi, dan Byeol-ee di tempat ini, lalu, apakah mungkin kami sudah mati dan ini adalah surga? Jika iya, mengapa hanya ada kami bertiga?

 

“Neverland.” ucapnya ragu.

 

Dahinya yang membentuk kerutan-kerutan halus menunjukkan bahwa otaknya tengah bekerja. Raut wajahnya menggambarkan keseriusan. Ia terlihat seperti seorang kakek tua yang mengkhawatirkan kehidupan anak-anaknya.

 

“Ada sebuah film yang kuingat, judulnya Peterpan. Mereka berada di Neverland dan tidak pernah tumbuh dewasa. Apa mungkin ini Neverland?” sambungnya.

 

Setelah sedari tadi mengunci rapat -rapat kedua bibirnya, akhirnya ia pun memperdengarkan suara bass-nya. Ia mengeluarkan pendapatnya.

 

“Walaupun kita sama sekali tidak memiliki memori tentang usia kita, kurasa dengan tubuh seperti ini, tidak pantas untuk menyebut diri kita sebagai anak kecil. Dengan kata lain, tempat ini bukanlah Neverland.” rasa tidak setuju atas pendapatnya kutunjukkan dalam sebuah kalimat singkat, tanpa memikirkan perasaannya yang sedari tadi telah berpikir keras untuk mengutarakannya.

 

Ia mengangguk membenarkan ucapanku. Dan di detik berikutnya, ia menghela nafas. Direntangkannya kedua kaki jenjang yang sedari tadi ditekuknya. Ia menyerah, menyerah untuk memecahkan misteri dibalik semua ini.

 

“Jin Hee-ssi, sepertinya kita harus hidup bersama dalam jangka waktu yang panjang.” ucapnya.

 

Aku tertegun. Hidup bersama dengan seorang lelaki, bukankah sama saja dengan hidup sebagai sepasang suami-istri?

 

Satu minggu kemudian

Cho Kyu Hyun’s point of view

Enam ratus empat ribu delapan ratus detik telah berlalu, dan selama itu juga kami selalu bersama. Memetik buah bersama, bermain bersama dengan Byeol-ee, melihat bintang di malam hari bersama, bahkan mengakhiri hari bersama di atas tumpukkan jerami.

 

“Ya, Cho Kyu! Cepat keluar!” terdengar teriakkan kecilnya yang tengah memanggilku.

 

Kuhentikan semua aktivitas yang tengah kulakukan saat ini dan berlari menghampirinya. Ia menatapku dengan penuh takjub, sesaat setelah aku berdiri disampingnya. Sepasang mata indahnya tak mampu untuk berkedip. Salju pertama di tahun ini telah berhasil memukau wanita berpikiran sederhana yang saat ini tengah menjulurkan tangannya, menikmati lembutnya butiran salju yang menjamah permukaan kulitnya.

 

“Kau tahu Kyu, terkadang di malam hari saat kau terlelap, aku tetap terjaga dan berpikir. Siapa diriku? Apa pekerjaanku? Apakah aku sudah berkeluarga? Jika sudah, berapa anakku? Tetapi kemudian, pikiran lain muncul di dalam benakku. Bagaimana jika di dalam masa lalu yang tidak kuketahui, tidak ada dirimu? Apakah aku akan sebahagia ini?” gumamnya.

 

Aku tertegun. Apakah maksud dari ucapannya adalah tidak bisa hidup tanpa diriku?

 

“Saranghae Cho Kyu.” ucapnya.

 

Untuk kesekian kalinya, aku kembali tertegun. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa. Haruskah aku memeluknya dan membalas perasaannya? Atau menolaknya dan berjalan pergi?

 

Bukan aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tetapi dunia tempat kami berada saat ini, apakah nyata? Benarkah ini bukan mimpi?

 

“Sudahlah, lupakan saja. Aku akan mencari beberapa buah untuk makan malam.” ia berjalan pergi meninggalkanku.

 

Dua hari yang lalu, aku bermimpi hal aneh.

 

Di dalam mimpi itu, seorang wanita berambut coklat keemasan menggandeng tangan mungil seorang anak laki-laki, berjalan memasuki sebuah ruangan bernuansa putih, dimana aku melihat diriku sendiri tengah berbaring tak sadarkan diri.

 

“Appa, bogoshipeo!”

“Appa, cepat bangun. Jun-ee punya banyak mainan baru buat dimainkan bersama.”

“Kyu Hyun-ssi, kami menunggumu. Cepatlah kembali.”

“Jun-ee sayang appa.”

 

Percakapan itu terus menghantui benakku.

 

Jun-ee, siapa anak laki-laki itu? Apakah dia anakku? Apakah mimpi itu adalah dunia nyata yang tengah menantiku untuk kembali?

Choi Jin Hee’s point of view

Ia terdiam. Ia tidak membalas perasaanku. Mungkin memang aku-lah yang bodoh, aku-lah yang terlalu percaya diri. Pria sesempurna dirinya mana mungkin menyerahkan hatinya untukku.

 

Sudahlah, lagipula cinta ini hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan. Yang dapat kulakukan saat ini hanya-lah memendamnya, menguburnya jauh di dalam sana hingga suatu hari nanti, cinta yang baru tumbuh.

 

Hingga saat itu tiba.

Malam hari

Sang mentari telah meninggalkan singgasananya. Dengan angkuhnya, sang rembulan menampakkan wujudnya. Hembusan angin musim dingin menambah keangkuhan malam yang diciptakan sang rembulan. Beruntung, api unggun buatan satu-satunya lelaki di tempat ini cukup hangat.

 

“Jin Hee-ya, untuk yang tadi…” “Gwaenchanha. Lupakan saja.” potongku.

 

Suasana canggung seperti ini benar-benar membuatku risih. Jika saja aku dapat membungkam bibirku, maka akan kulakukan sebelum bibir ini mengucapkan kata cinta.

 

“Konon.” ucapnya.

 

Suara bass-nya meramaikan kesunyiaan yang tercipta diantara kami-aku, Kyu Hyun, dan Byeol-ee. Ia terdiam tanpa melanjutkan perkataannya selama beberapa detik, hingga akhirnya suara nya terdengar kembali.

 

“Bulan dan matahari adalah sepasang kekasih.”

 

Ia kembali mengunci bibirnya, takut persediaan oksigen di dalam paru-paru nya tidak cukup hingga esok hari. Di detik berikutnya, ia menatap langit. Tatapan matanya tertuju kepada sang rembulan. Seorang Cho Kyu Hyun telah terpikat oleh pesona sang rembulan.

 

“Matahari begitu mencintai bulan bahkan ia rela mati di malam hari hanya untuk membiarkan bulan hidup.” ia pun mengakhiri cerita singkatnya.

 

Untuk kesekian kalinya, aku terpesona. Leluconnya, cerita-cerita singkat yang sering diceritakannya, hingga dongeng tentang peri-peri bersayap-nya selalu membuatku terpesona. Dan jika suatu hari nanti aku harus berpisah dengannya ataupun suatu hari nanti aku harus melupakannya, semua kenangan ini takkan terlupakan. Aku akan selalu mengingatnya, selalu.

 

“Sebesar itulah aku mencintaimu.” ucapnya.

 

DEG!

 

Aku tertegun. Kutatap kedua manik matanya, berusaha mencari kebohongan yang mungkin saja bersembunyi dibalik kedua bulatan hitam pekat itu.

 

“Aku bercanda babo! Jangan terlalu serius.” tawa khasnya mengiringi kepergiannya.

 

Choi Jin Hee, kau benar-benar bodoh! Ini hanyalah salah satu dari lelucon-leluconnya, ia memang tidak pernah serius bukan?

 

“Percaya padaku Kyu, ini lelucon terindah yang pernah kau berikan untukku.” gumamku.

 

Rasa sakit ini, biarlah aku yang merasakannya. Biarlah aku yang menjadi matahari dibalik senyumanmu, Kyu. Karna kaulah bulan dibalik senyumanku.

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

“Aku rela tersakiti hanya untuk membuatmu bahagia. Dunia ini bukanlah dunia yang selama ini kita pikirkan.” cairan bening membasahhi pipiku seiring dengan terucapnya kata demi kata.

 

Ini bukanlah dunia dimana manusia tinggal. Aku tidak tau dunia apa ini, tetapi ini bukanlah dunia nyata. Jika aku membalas perasaanmu, maka ketika kau terbangun nanti hanya rasa sakit yang akan kaurasakan.

 

Cukup hanya aku.

Biarlah aku yang tersakiti.

Biarlah aku menjadi bulan di mimpimu agar aku dapat menjadi matahari di nyatamu.

 

Hari selanjutnya

 

“Appa lihat, Jun-ee dapat 80 di ujian matematika!”

 

“Semalam Jun-ee belajar keras untuk ujian matematika-nya, Kyu Hyun-ssi.”

 

“Appa, Jun-ee sudah dapat nilai bagus. Appa masih belum mau bangun?”

 

“Jun-ee ya, uljima. Appa sangat lelah karena bekerja terus-menerus, biarkan appa tidur lebih lama, eo?”

 

“Tapi Jun-ee mau main sama appa!”

 

“Sebentar lagi, biarkan appa tidur sebentar lagi dan setelah itu, appa pasti akan bangun untuk bermain bersama Jun-ee.”

 

“Arraseo emma.”

 

Hari selanjutnya

 

“Kyu ,apakah terdengar aneh bagimu saat aku memanggilmu ‘Kyu’ ?”

 

“Aku tahu selama ini kau tidak pernah mencintaiku, walaupun kau tidak pernah menunjukkannya. Pernikahan ini terjadi karena rasa bersalahmu, karena rasa kasihanmu.”

 

“Jika karena kau tidak ingin menghabiskan sisa hidupmu bersamaku kau menutup matamu, maka aku berjanji, jika kau membuka matamu kembali aku akan pergi dari hidupmu.”

 

“Untuk selamanya Kyu.”

 

“Bukalah matamu, kumohon!”

 

“Sungguh, aku tak bisa hidup tanpamu.”

 

“Aku benar-benar merindukanmu Kyu, sangat merindukanmu.”

 

“Kau ingat sewaktu kau meminta maaf atas kesalahan hyung-mu? Bukankah saat itu kau berjanji akan bertanggung jawab untuk menjagaku? Bagaimana kau bisa menjagaku jika matamu tertutup, Kyu?”

 

“Besok aku akan datang lagi, begitu juga dengan minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Aku akan tetap menemanimu disini.”

 

“Cepatlah bangun, Kyu.”

 

“Aku mohon.”

 

Hari selanjutnya

 

“Jun-ee, jangan lari-lari! Nanti jatuh!”

 

“Appa! Appa!”

 

“Appa lihat, besok Jun-ee nyanyi sama teman-teman disekolah.”

 

“Appa harus datang yah! Ada 2 tempat, satu buat eomma, satu buat appa.”

 

“Jun-ee tunggu appa besok! Appa harus dengar Jun-ee nyanyi!”

 

“Coba Jun-ee nyanyikan untuk appa.”

 

“Anniya eomma. Jun-ee malu, besok appa juga akan dengar.”

 

“Sedikit saja, eo? Eomma mau dengar.”

 

“Arraseo eomma. Sedikit saja ya?”

 

“Ne, Jun-ee.”

 

“Twinkle twinkle little star.

How I wonder what you are.”

 

“Hanya itu saja?”

 

“Ne. Biar besok waktu appa datang, appa tidak bosan dengarnya.”

 

“Kalau begitu, hari ini Jun-ee nyanyi sama eomma. Eotte?”

 

“Setelah nyanyi, appa bisa bangun?”

 

“Keuromnyo. Appa pasti bangun.”

 

“Jinjja? Ayo nyanyi eomma!”

 

“Ne. Satu, dua, tiga.”

 

“Twinkle twinkle little star,

How I wonder what you are,

Up above the world so high,

Like a diamond in the sky,

Twinkle twinkle little star,

How I wonder what you are.”

 

Hari selanjutnya

 

“Hari ini Jun-ee tidak datang”

 

“Appa jahat, tidak menepati janji. Itu katanya.”

 

“Jun-ee sangat berharap kau akan datang untuk melihatnya bernyanyi.”

 

“Suaranya sangat indah, mirip denganmu.”

 

“Kau tahu Kyu Hyun-ssi? Jun-ee begitu merindukanmu.”

 

“Appa yang selalu dibanggakannya, kini tak lagi dapat menemaninya.”

 

“Ia sangat terpukul.”

 

“Dimana-pun kau berada saat ini. Entah sedang berbahagia di dunia lain ataupun sedang menikmati hari-hari tanpa diriku, kembalilah. Kumohon.”

 

“Kembalilah.”

 

“Demi Jun-ee.”

 

Hari selanjutnya

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

Seberkas cahaya putih menyinari kedua kelopak mataku yang masih tertutup sempurna. Dengan kesadaran yang sangat minim, kubuka kedua mataku, perlahan. Kudapati seorang wanita berambut hitam pekat tengah tertidur sembari menggenggam tangan kananku. Di detik berikutnya, otakku memutar beberapa adegan percakapan. Ada seorang wanita dan seorang anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun-an. Percakapan itu sangat nyata untuk dikatakan sebagai mimpi. Aku bahkan masih mengingat setiap kata yang terucap dari bibir mereka.

 

“Kyu, kau sudah bangun?” ucapnya sesaat setelah ia terbangun dan mendapati diriku yang telah terlebih dahulu bangun.

 

“Bangun? Bukankah setelah tidur memang harus bangun?” tanyaku.

 

“Kau tertidur selama 4 hari, Cho Kyu. Semenjak malam itu, kau tertidur seperti sleeping beauty.”

 

Aku tertegun.

 

Jadi selama 4 hari, aku tertidur dan bermimpi tentang seorang wanita berasama seorang anak laki-laki?

 

Aku mencoba mengingat percakapan demi percakapan yang kumimpikan. Kalau tidak salah, nama anak laki-laki itu Jun-ee dan wanita berambut coklat keemasan itu adalah ibu dari Jun-ee. Juga ada seorang lelaki yang berbaring tak sadarkan diri di dalam ruangan itu.

 

Wajahnya, wajahnya aku benar-benar tak ingat. Yang aku ingat, mereka memanggilnya ‘Appa’.

 

“Kyu, gwaenchanha?” tanyanya.

 

Aku mengangguk pelan.

 

Pria itu, aku seperti mengenalnya. Namanya,

 

“Kyuhyun.”

 

To be continued..

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Silviana Viorenza
    Jun 15, 2017 @ 17:40:14

    Hi reader-nim, author cuman mau jelasin kalau Choi Jin Hee dan Cho Kyu Hyun cuma ingat nama mereka, jadi part dimana Choi Jin Hee bilang dia ingat nama dan umurnya itu typo yaa.

    Mianhaeyo.

    Reply

  2. Mesi Wisero
    Jun 15, 2017 @ 19:34:40

    Oh… Belum nangkep alurnya 😁

    Reply

  3. lieyabunda
    Jun 18, 2017 @ 03:44:17

    masih bingung,,, lanjut baca..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: