Forgotten Past [2-END]

1

Forgotten Past (2/2)

Written By: Silviana Viorenza
Tag : Cho Kyu Hyun, Choi Jin Hee, Byeol, Nami Park, Cho Jun Ki, Lee Hyuk Jae, Cho Woo Hyun
Genre : Romance, Fantasy | Rating : PG-15 | Length : Two-Shot

***

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

Jadi selama 4 hari, aku tertidur dan bermimpi tentang seorang wanita berasama seorang anak laki-laki?

 

Aku mencoba mengingat percakapan demi percakapan yang kumimpikan. Kalau tidak salah, nama anak laki-laki itu Jun-ee dan wanita berambut coklat keemasan itu adalah ibu dari Jun-ee. Juga ada seorang lelaki yang berbaring tak sadarkan diri di dalam ruangan itu.

 

Wajahnya, wajahnya aku benar-benar tak ingat.

 

Yang aku ingat, mereka memanggilnya ‘Appa’.

 

“Kyu, gwaenchanha?” tanyanya.

 

Aku mengangguk pelan.

 

Pria itu, aku seperti mengenalnya.

 

Namanya,

 

“Kyuhyun.” ia menghadiahkanku sebuah tatapan aneh setelah kuucapkan sebuah nama yang tidak lain adalah namaku sendiri.

 

Kini aku mengerti. Semuanya telah jelas sekarang.

 

Aku dan Jin Hee tidak ditakdirkan untuk bersama.

 

Dua hari kemudian

 

Selama dua hari ini, aku terus berpikir. Apakah aku dapat menjalani hidupku dengan baik tanpa Jin Hee? Dapatkah aku melihatnya lagi?

 

Bagaimana aku bisa hidup tanpa Jin Hee?

 

“Kyu, dua hari ini kau tidak sama seperti Cho Kyu Hyun yang kukenal.” ia meletakkan secangkir teh hangat dan sepiring penuh buah strawberry diantara kami.

 

Bahkan strawberry dan teh hangat pun ingin memisahkan kami.

 

“Jin Hee ya.” ucapku

 

Ia menatapku dengan ditemani secangkir teh hangat yang tengah digenggamnya. Kuletakkan teh hangat tersebut diatas permukaan lantai. Tak lupa, kusingkirkan semua benda yang berada diantara kami. Hingga kini, tak ada lagi yang dapat memisahkan kami.

 

Kuraih kedua pundak mungilnya. Dan untuk yang terakhir kalinya menikmati aroma buah-buahan segar dari tubuhnya.

 

“Neomu Yeoppo, Jin Hee ya.” ucapku.

 

Kutaukan bibirku dengan bibirnya, kecupan selamat tinggal untuk wanita yang sangat kucintai.

 

Jika memang ini hanyalah sebuah mimpi.

 

Jika memang ada yang menungguku untuk kembali di dunia nyata.

 

Aku bersedia untuk kembali.

 

Choi Jin Hee’spoint of view

 

Permukaan bibir kami saling bersentuhan. Ia menautkan bibir tebalnya dengan bibirku.

 

Dan di detik berikutnya, ia menghilang.

 

“Kyu?” ucapku.

 

Ia menghilang. Secepat angin berhembus, ia menghilang.

 

“Kyu, aku tau kau sedang bersembunyi.” seketika aku panik.

 

Aku berlari tak beraturan. Dengan kaki telanjang, aku berlari tanpa arah.

 

Ini pasti salah satu dari sekian banyak leluconnya. Ia tidak mungkin meninggalkanku sendirian disini.

 

“Kyu! Cho Kyu!” teriakku.

 

Takut. Aku benar-benar takut.

 

Aku terlalu mencintainya. Aku rela diabaikan, selama ia tetap disisiku, selama aku dapat melihatnya saat aku terbangun dari tidur lelapku, selama aku dapat mendengar cerita-cerita singkatnya.

 

Tetapi sekarang, ia menghilang.

 

“Anniya, ini pasti mimpi.”

 

“Kau sedang bersembunyi bukan, Kyu?”

 

“Ini mimpi bukan, Kyu?”

 

“Jawab aku!”

 

“Kyu!”

 

“Cho Kyu Hyun!”

 

“Kajima! Jebal kajima!”

 

Air mata membasahi kedua pipiku. Ini terlalu menyakitkan untukku. Aku tak sanggup jika harus kehilangan dirinya.

 

“Kyu, jika kau tidak keluar sekarang aku akan.” aku berpikir sejenak.

 

Kuarahkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan, mencari alat yang dapat mendukung aksi yang akan kulakukan. Hingga akhirnya kutemukan sebilah pisau kecil dengan ujung yang sangat runcing.

 

“Aku akan mengakhiri hidupku.”

 

“Aku serius Kyu!”

 

“Aku hitung sampai tiga dan jika kau tidak muncul, aku akan benar-benar melakukannya!”

 

“Satu.”

 

“Dua.”

 

“Kyu, aku serius dengan semua yang kuucapkan!”

 

“Baiklah jika ini yang kau mau, Kyu.”

 

Selamat tinggal Cho Kyu Hyun.

 

08 Juni 2014

 

Rumah Sakit Baek Hak

 

No one’s point of view

 

Setelah selama 14 hari Cho Kyu Hyun tak sadarkan diri, akhirnya ia kembali membuka matanya. Cho Jun Ki yang merupakan anak laki-laki satu-satunya sangat bahagia, begitu juga dengan istrinya-Nami Park.

 

“Appa!” Teriak Cho Jun Ki gembira.

 

Disisi lain, seorang wanita bernama Choi Jin Hee yang juga telah tak sadarkan diri selama 14 hari, terbangun dari tidur lelapnya. Seorang pria yang menyandang status sebagai tunangannya, memeluk dirinya sesaat setelah ia terbangun.

 

“Gomawo Jin Hee ya. Terima kasih sudah bangun.” ucap pria bermarga Lee tersebut, Lee Hyuk Jae.

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

“Appa! Jun-ee dapat nilai 80 di ujian matematika.”

 

“Jun-ee juga minta maaf dua hari yang lalu Jun-ee tidak datang.”

 

“Jun-ee janji jadi anak yang baik.”

 

“Jun-ee sayang appa!”

 

Jun-ee berlari memelukku, mengutarakan semua isi hatinya. Aku begitu merindukannya.

 

“Appa-ddo. Appa sangat sayang sama Jun-ee.” ucapkku.

 

Aku membalas pelukkan hangat malaikat kecilku sembari mengingat kejadian terakhir sebelum aku berakhir di rumah sakit.

 

26 Mei 2014

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

“Hari ini Woo Hyun hyung akan bermalam disini, apa kau tidak keberatan?” tanyaku.

 

Ia menggelengkan kepalanya, menandakan ia baik-baik saja jika Woo Hyun hyung bermalam disini. Di detik berikutnya, terdengar suara bel berbunyi. Dengan langkah santai, aku dan Nami berjalan menuju pintu. Dan ternyata, itu Woo Hyun hyung.

 

“Lama tak bertemu, dongsaeng-ah!” sapanya.

 

“Bagaimana kabarmu, Nami Park?” ia menatap wanita yang kini telah resmi menjadi istriku.

 

Nami tak berniat untuk membalas sapaan Woo Hyun hyung. Ia memalingkan wajahnya kearahku, menatapku dengan tatapan meminta tolong.

 

“Masuklah dulu hyung.” ucapku.

 

“Tidak perlu. Aku tidak jadi bermalam disini. Aku hanya datang untuk menyapa kalian. Lagipula kehadiranku tidak diinginkan disini. Annyeong!” dengan senyum kemenangan diwajahnya, ia berjalan pergi meninggalkan kami berdua beserta pintu yang terbuka.

 

“Kyu Hyun-ssi, mianhae!”

 

“Mianhae. Karena aku, kau harus menjalani sisa hidupmu bersama wanita yang tidak kau cintai.”

 

“Kau tidak seharusnya menanggung kesalahan hyungmu!”

 

“Yang merenggut keperawananku adalah hyungmu. Kau tidak bersalah.”

 

“Mianhae. semuanya karena aku. Jeongmal mianhae.”

 

Perasaan yang selama ini dipendamnya, akhirnya dikeluarkannya. Air matanya menerobos pertahanan yang telah dibangunnya selama ini. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk menyimpan semua kepedihannya.

 

“Gwaenchanha. Aku akan menjemput Jun-ee disekolah, tenangkanlah pikiranmu dirumah.” ucapku.

 

Aku pun melajukan mobil sport hitamku menuju sekolah Jun-ee.

 

Lampu merah di perempatan jalan Gangnam telah berubah menjadi hijau. Dengan kecepatan maksimum, aku pun melajukan mobil kesayanganku melewati mobil-mobil lainnya.

 

Selama sekitar 10 menit, aku melaju tanpa dihentikan oleh lampu lalu lintas. Hingga di pertigaan jalan cheondamdong tampak sebuah lampu lalu lintas yang menunjukkan warna kuning, kunaikkan kecepatan laju mobilku dan sebuah kecelakaan terjadi.

 

Seorang wanita yang tengah mengejar goden retriever, berlari ke tengah jalan saat lampu lalu lintas masih menunjukkan warna kuningnya. Refleks, kuputar arah haluan mobilku ke arah lain sehingga menabrak sebuah toko buku yang berada di pinggir jalan. Dan wanita beserta anjingnya tertabrak oleh mobil lain yang berada di belakangku.

 

08 Juni 2014

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

“Dimana wanita itu?” tanyaku.

 

Nami mengerutkan dahinya. Sepertinya ia tidak mengerti maksud dari pertanyaanku.

 

“Jaga Jun-ee. Aku akan keluar sebentar.” ucapku.

 

Kubawa kedua kakiku keluar dari ruangan yang tidak lebih besar dari ruang sauna umum. Kutelusuri lorong demi lorong di dalam rumah sakit ini. Satu per satu kamar telah kudatangi, hanya untuk mencari wanita itu.

 

Sebenarnya, aku sama sekali tidak berasalah dalam kasus kecelakaan ini bahkan aku-lah korbannya. Tetapi entah mengapa, aku merasa bersalah terhadap wanita itu. Setidaknya, aku harus memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.

 

“Tuan, siapa yang anda cari?” Tanya salah seorang suster yang berjaga di rumah sakit ini.

 

“14 hari yang lalu, ada seorang wanita yang mengalami kecelakaan lalu lintas di pertigaan jalan cheondamdong. Apa dia dirawat dirumah sakit ini?”

 

“Ne. Nona itu dirawat di ruangan 30. Jika anda berjalan lurus dan berbelok ke arah kanan setelah lorong kedua dari sini, maka anda akan menemukan ruangan itu.”

 

“Gamsahamnida.”

 

Aku berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh sang suster.

 

Entah mengapa, ada sedikit kegugupan di dalam hatiku. Haruskah aku menjenguknya?

 

Come on Cho Kyu Hyun, hanya menjenguk wanita yang tidak kau kenal saja harus gugup?

 

Choi Jin Hee’s point of view

 

Seorang pria berkulit putih pucat memasuki ruangan yang kutempati saat ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia mengenakan baju pasien sama sepertiku.

 

“Nuguseyo?” tanyaku.

 

Di ruangan ini hanya tinggal kami berdua-aku dan seorang pria yang tidak kukenal, karena kebetulan Hyuk Jae oppa pergi membeli buah.

 

“Cho Kyu Hyun imnida. Kita terlibat kecelakaan yang sama.” ucapnya.

 

Ia duduk disamping ranjangku. Kedua manik matanya tampak bersinar seperti bintang di malam hari. Mata yang indah.

 

“Siapa namamu?”

 

“Choi Jin Hee.”

 

“Apakah kau baik-baik saja?”

 

“Ne.”

 

“Bekas luka dikepalamu, apa itu karena kecelakaan?”

 

“Anni. Sewaktu kecil, aku mengalami kecelakaan. Akibatnya, aku tak dapat mengingat masa kecilku dan bekas luka ini.”

 

“Begitukah? Aku juga sama. yeogi, dikepalaku juga ada bekas luka.” ia menunjukkan bekas luka yang tertutupi oleh poninya.

 

“karena kecelakaan?”

 

“Ne, sewaktu aku kecil. Akibatnya, aku tidak dapat mengingat masa kecilku dan bekas luka ini.”

 

Ia mengakhiri kalimatnya dengan sesimpul senyuman. Dan didetik berikutnya, suara tawa memenuhi ruangan ini.

 

Untuk pertama kalinya sejak terbangun dari tidur panjangku, aku tertawa.

 

“Golden retriever yang kau kejar itu, milikmu?”

 

“Bisa dibilang begitu. Sewaktu aku mengalami kecelakaan di saat aku kecil, orang tuaku menemukannya tergeletak disampingku dan sejak saat itu, dia menjadi milikku.”

 

“Namanya?”

 

“Byeol seperti yang terukirkan di tag namanya.”

 

“Byeol-ee baik-baik saja?”

 

“Dia telah pergi.”

 

“Ah, jeosonghamnida.”

 

“Tidak apa-apa.”

 

“Kalau begitu, lebih baik aku kembali ke kamarku mengingat kondisimu yang belum begitu baik. Senang berkenalan denganmu Jin Hee-ssi.”

 

Ia melangkah pergi hingga akhirnya menghilang dibalik pintu. Kini, hanya tersisa diriku seorang diri di dalam ruangan yang cukup luas ini.

 

Cho Kyu Hyun.

 

Terasa tidak asing di telingaku. Apa mungkin sewaktu kecil dulu aku mempunyai teman yang bernama sama?

 

Senang bertemu dengannya.

 

Bertemu dengannya, seperti bertemu dengan teman masa kecil yang tidak dapat kuingat.

 

“Jin Hee-ya, siapa laki-laki yang barusan keluar dari sini?” tanya Hyuk Jae oppa yang baru pulang dari membeli buah.

 

“Ah, Kyu Hyun-ssi? Dia terlibat kecelakaan yang sama denganku.” jawabku.

 

“Oh.” dileletakkannya sekantung penuh buah-buahan kesukaanku.

 

“Oppa, terima kasih sudah menjagaku selama aku tak sadarkan diri. Kau tahu, aku sangat bersyukur memilikimu. Kau seperti bulan bagiku.” ucapku.

 

“Bulan?”

 

“Iya, bulan dan aku matahari-nya. Konon, matahari dan bulan adalah sepasang kekasih. Matahari rela mati di malam hari agar bulan dapat hidup. Sebesar itulah aku mencintaimu.” jawabaku.

 

Aku tidak tahu darimana aku mendengar perumpamaan itu, hanya saja, bibirku dengan refleks mengucapkannya, bahkan otakku-pun tak yakin memiliki memori tentang perumpaan itu.

 

“Kenapa kau harus mati? Aku tidak suka perumpamaan itu. Memikirkan dirimu meninggalkanku saja aku tak sanggup.”

 

“Arraseo. Itu kan hanya perumpamaan. Saranghae oppa.”

 

“Saranghae Choi Jin Hee.”

 

Sudah kuduga Hyuk Jae oppa pasti akan berkata seperti itu. Jika aku bukan mendengarnya dari Hyuk Jae oppa, lalu dari siapa? Apa mungkin aku membacanya di facebook? Atau di twitter? Ah, mungkin dari korean drama yang kutonton sebelum aku mengalami kecelakaan. Tapi kenapa aku merasa kalau aku mendengarnya dari seseorang ya? Hmm, sepertinya ada yang salah dengan otakku.

 

Entahlah, aku suka perumpamaannya. Matahari dan Bulan.

Choi Jin Hee adalah matahari.

Dan Lee Hyuk Jae adalah bulan.

 

Matahari yang rela mati demi sang bulan,

Sebesar itulah Choi Jin Hee mencintai Lee Hyuk Jae.

 

Cho Kyu Hyun’s point of view

 

Aku mengingatnya, semua tentang dirinya.

 

Masa kecil yang terlupakan, 14 hari yang kuhabiskan bersamanya, aku mengingatnya.

 

Choi Jin Hee.

 

Apa aku sanggup melupakan nama itu?

 

Jin Hee ya, aku sudah berjanji padamu akan menjadi matahari di dunia nyatamu.

 

Maka biarlah hanya aku yang mengingat dirimu.

 

Cho Kyu Hyun.

 

Nama itu, biarlah hanya menjadi mimpi buruk di dunia nyatamu.

 

Aku berjanji akan meninggalkanmu.

 

Selamanya.

 

 

03 April 2001

 

No one’s point of view

 

Dua orang anak kecil yang telah berteman cukup lama-sekitar 5 tahun lamanya, mengunjungi sebuah rumah kecil di tepi sungai yang terletak tak jauh dari rumah dimana mereka tinggal. Rumah kecil itu terbuat dari kardus-kardus yang disusun sedemikian rapinya.

 

Pada salah satu kardus yang merupakan bahan dasar penyusun rumah kecil itu, tertulis sebuah kalimat ‘ChoKyuHyun ChoiJinHee ByeolEe’s house’.

 

Byeol merupakan nama dari seekor anjing berjenis golden retriever yang mereka temukan 1 tahun yang lalu. Sejak saat itu, mereka menamainya Byeol dan pertemanan pun tercipta diantara ketiga mahluk hidup yang berbeda spesies itu.

 

Tak ada seorang pun yang tahu tentang pertemanan mereka dan rumah kecil itu, termasuk kedua orang tua mereka. Hingga saat ini, mereka tetap merahasiakan tentang Byeol-ee dan pertemanan mereka.

 

“Kyu, ayo bermain diluar!”

 

“Ne. Byeol-ee juga pasti ingin bermain.”

 

Mereka bermain disekitar sungai yang jarang dikunjungi penduduk. Mereka terus bermain tanpa mempedulikan langit yang semakin gelap.

 

Tawa kebahagian terdengar disepanjang sungai, mengiringi ikan-ikan kecil yang tengah bermigrasi. Mereka sangat bahagia.

 

Hingga akhirnya tawa mereka berubah menjadi tangisan ketika Jin Hee terpeleset terbawa arus sungai dan Byeol-ee ikut menyusul Jin Hee.

 

Kini, hanya tinggal Kyu Hyun seorang diri. Ia panik. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

 

Hanya satu hal yang terlintas di dalam benak bocah berumur 13 tahun itu, yaitu mengikuti jejak teman-temannya.

 

Untungnya, penduduk yang tinggal tak jauh dari tepi seungai berhasil menyelamatkan nyawa mereka dan memulangkan mereka kepada orang tua mereka masing-masing.

 

Semenjak kejadian itu, mereka kehilangan masa kecil mereka.

 

Terbangun dengan selang infus di tubuh mereka menjadi hal pertama yang mereka ingat.

 

Dan kini, rumah kecil itu kehilangan kehangatannya.

 

 

Konon, ketika seseorang mengalami koma, arwah mereka tidak berada di dalam tubuhnya. Melainkan, arwah mereka akan memasuki sebuah dunia diantara dunia nyata dan dunia mimpi.

-END-

 

1 Comment (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Jun 18, 2017 @ 19:48:46

    owww,,, jadi mereka berteman sejak kecil,,,,,
    kalo ada sequelnya,, oke nih… hehehe

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: