My Happiness is With You

Tittle: My Happiness is With You

Author: Heo Minjae (Tri Handayani)

Genre: Tragedy

Rating: PG

Age: 15+

Length: One Shot

Main Cast: Kim Yoora (OC), Lee Donghae Super Junior

 

***

 

“I will never leave you. My happiness is with you. Although you forced me to leave you, I won’t leave you even for a second. I really love you. I truly love you endlessly.” — Kim Yoora.

***

 

Di sebuah cafe dengan style ala Yunani Kuno itu, duduklah sepasang kekasih yang sedang  terduduk dan menikmati minuman mereka dengan tenangnya. Namun tiba-tiba sang wanita mengajak prianya berbicara, “Museun marieyo, oppa? Kenapa kau tiba-tiba mengajakku menikah?”

“Aku ingin hubungan kita lebih jelas,  Yoora-yah.”

“Yaa.. tapi.. Aku kan.. Aku belum siap, oppa.” Ucap gadis yang dipanggil Yoora itu.

“Aku sangat mencintaimu, Yoora-yah. Aku ingin hubungan kita segera diperjelas. Aku tidak ingin ada pengganggu lagi di antara hubungan kita. Kau juga mencintaiku, kan?”

“Tentu saja aku sangat mencintaimu, oppa. Tapi masalahnya… ibumu..” Terbesit nada kekhawatiran di dalam diri Yoora.

 

Mendengar itu, Sang Pria pun meraih tangan gadisnya perlahan dan menggenggamnya erat-erat. “Kalau itu kau tidak usah khawatir, Jagi. Aku akan mengurusnya. Pokoknya kau hanya harus bersiap-siap menerima lamaran dariku. Hmm?”. Gadisnya pun mengangguk lemah padanya.

 

“Ah, geundae. Kapan oppa akan melamarku?”

 

Senyum di wajah Pria itupun meluntur. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan gadisnya dan menatap gadisnya dengan lembut. “Secepatnya, Jagi.” Senyum pria itupun merekah kembali.

 

***

 

@ Lee Donghae’s House

 

Pria itu perlahan melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah mewahnya. Dibukanya pintu rumahnya dan mendapati ibunya yang tengah membaca majalah di ruang santainya. Ia menghampiri ibunya tersebut dan duduk disampingnya.

 

“Eomma.”

“Hmm. Wae?”

“Ah.. geuge..”

“Ada apa? Kau ingin bicara apa? Katakanlah.”

“Aku.. ingin… menikahi.. Yoora.. eomma.”

 

Sontak ibunya menanggalkan majalahnya di atas meja dan beralih menatap putranya. “Kau bilang apa?”

“Aku ingin menikahinya, eomma. Aku ingin segera menikahinya.”

 

Ibunya pun terdiam sejenak, terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu. Namun tak lama ia pun segera angkat bicara. “Kau tidak menuruti ucapanku rupanya.” ucapnya dengan aksen yang sangat tenang.

“Eomma, aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku ingin memilikinya sepenuhnya, yaitu dengan menikahinya.”

“Donghae-yah, kau tidak mengerti. Dia tidak cocok untukmu. Dia bukan orang yang pantas untukmu. Dia bukan golongan kita.” ucap ibunya tegas.

“Apa maksud eomma? Dia tidak seperti yang eomma pikir. Eomma belum tahu dia yang sebenarnya. Pokoknya aku akan tetap menikahinya!”

“JANGAN MEMBANTAHKU, LEE DONGHAE!”

“EOMMA JUGA SEHARUSNYA MENGERTI AKU!!” Kentara sekali pria itu sangat marah besar terhadap ibunya. Ia bernapas terengah-engah dan akhirnya ia berhembus kasar. Lalu ia melanjutkan kata-katanya. “Eomma. Eomma bilang kau ingin aku bahagia, bukan? Inilah kebahagiaanku, eomma. Kebahagiaanku bersamanya, eomma. Aku sangat mencintainya. Aku ingin menikahinya. Dan aku tetap pada keputusanku ini. Aku tidak akan merubah keputusanku. Aku akan segera menikahinya.”

“TIDAK, LEE DONGHAE. Kau tidak boleh menikahinya! Aku sudah menjodohkanmu dengan Yoona. Kau tidak boleh membantah!”

“OMEONI!!! Sudah kubilang aku tidak mau dijodohkan.”

 

Gerah dengan perdebatan antara dirinya dan ibunya, ia pun segera menuju kamarnya dengan menghentakan kakinya kasar. Namun tiba-tiba ia kembali berbalik menghadap ibunya tanpa beranjak dari tempatnya sedikitpun.

 

“Aku tetap akan menikahinya meskipun eomma tidak menyetujuinya.” Ia pun segera masuk ke kamarnya. Ia pun menutup pintu dengan sangat kasar dan menguncinya rapat-rapat.

 

 

***

 

 

Keesokan harinya…

03:00 PM @ Kim Yoora’s Apartment

 

“Bagaimana? Apa ibumu mau menerimaku?”

 

Pria itu bukannya menjawab pertanyaan gadisnya itu, ia malah terdiam dan menundukan kepalanya.

 

“Oppa.” sahut gadis itu, tapi tak ada respon apapun dari pria itu. “Oppa!” sahut gadis itu sekali lagi.

“Hmm?” kali ini dijawab oleh pria itu.

“Aish, oppa. Wae geuraeyo, eoh? Apa..  ibumu tidak mau menerimaku?” Terlihat gadis itu murung setelah mengucapkan kalimatnya.

Melihat gadisnya murung seperti itu, pria itu pun segera merengkuh tangan gadisnya. “Sudah. Kau tidak usah berpikiran seperti itu. Kita tetap akan menikah.”

“Tapi kapan, oppa?”

 

Pria itu malah menarik dagu gadisnya ke arah wajahnya dan semakin mendekatkan wajahnya. Pria itu perlahan mengecup bibir gadisnya dengan singkat. Namun bagi gadis itu, ciuman itu terasa sangat berharga untuknya meskipun hanya singkat. Segala yang ada pada kekasihnya sangat berharga baginya. Karena ia sangat mencintai pria itu.

 

“Bersabar, ya. Aku akan segera melamarmu. Lusa aku akan mendatangi rumah ibumu.”

 

***

 

2 days later….

 

Saat mereka berdua sampai di daerah dimana ibu Yoora tinggal, mereka dihadapi dengan sekerumunan orang yang lalu lalang di depan mereka yang tergesa-gesa dan berlari-larian kesana kemari. Donghae pun akhirnya memutuskan untuk turun dari mobilnya dan menghampiri seorang warga yang kebetulan tengah berdiri di depannya.

 

“Jeogi.. Ini ada apa, ya? Kenapa orang-orang berlari-larian? Memangnya apa yang sedang terjadi?”

“Ah, ige.. Ada kebakaran di ujung sana.”

 

Yoora pun memutuskan untuk turut turun dari mobil dan berjalan menghampiri kekasihnya. “Ada apa, oppa?”

Pria paruh baya yang tadinya tengah berhadapan dengan Donghae sontak mengalihkan pandanganya pada Yoora. “Oh, Yoora-ssi? Kaukah itu?” tanya pria paruh baya itu.

“Ah, ne. Ahjussi, apa yang sedang terjadi sebenarnya?”

“Ige.. rumahmu.. rumahmu kebakaran, Yoora-ssi. Kau harus segera kesana.”

Sontak Yoora sangat terkejut mendengar apa yang baru saja paruh baya itu katakan. Yoora pun segera menarik tangan Donghae. “Oppa, bballi kaja. Jebal.” Mereka pun segera menghampiri tempat kebakaran rumah tersebut yang tidak lain adalah rumah Yoora sendiri.

 

Terlihat dari jarak sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri, terlihat kobaran api besar yang menjalari seluruh penjuru rumah Yoora. Yoora yang melihat itu berteriak histeris. Tak henti-hentinya ia meneriaki nama ayah dan ibunya karena dia pikir ayah dan ibunya masih ada di dalam sana.

 

Dan tanpa pikir panjang lagi, Donghae pun berlari dan menerobos masuk ke dalam rumah Yoora bermaksud ingin menyelamatkan kedua korban yang kemungkinan masih ada di dalam sana. Ia tak peduli dengan teriakan orang-orang maupun Yoora sendiri yang melarangnya untuk masuk ke dalam rumah tersebut karena kobaran api itu semakin besar.

 

Donghae mencari kesana kemari di dalam rumah itu. Ia bertaruh melawan api demi menyelamatkan dua nyawa yang sedang terjebak di sana. Entah sudah berapa kali tubuhnya hampir mengenai api dari potongan kayu yang jatuh. Entah sudah berapa lama pula ia di dalam sana karena ia belum juga bertemu dengan kedua calon mertuanya.

 

Namun tiba-tiba sebuah potongan kayu besar nan panjang yang dikelilingi api di sekitarnya jatuh dari ketinggian sana dan menimpah badan pria itu. Ia tidak bisa menghindarinya. Ia tak bisa bernapas, seluruh tubuhnya terbakar. Ia terjebak di antara hidup dan mati. Namun tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi dingin. Seperti ada yang menyemburnya dan itu terasa sangat dingin. Tapi ia tidak bisa merasakan itu lebih lama, karena ia segera tak sadarkan diri.

 

***

 

15 minutes before……

 

Terlihat Yoora sangat khawatir dengan ketiga orang paling disayanginya yang kini tengah terjebak di dalam rumah ibunya yang terbakar. Sudah satu jam berlalu tapi tak ada salah satupun dari ketiga orang itu yang keluar dari rumahnya. Ia bahkan berteriak histeris memanggil nama ketiga orang itu. Ayahnya, ibunya, dan kekasihnya, Lee Donghae, belum juga keluar.

 

“Apakah petugas pemadam kebakarannya sudah dipanggil? Kumohon tolong eomma, appa, dan Donghae oppa di dalam. Butakdeurimnida.” ucap Yoora seraya berteriak dan memohon pada warga di sana.

“Ne, Yoora-ssi. Kami sudah menelpon mereka. Tapi mereka belum juga datang. “Bersabarlah ya, nak.” ucap wanita paruh baya yang berada di sampingnya.

“Tapi, ahjumma. Mereka ada di dalam sana. Mereka terancam mati. Kumohon tolonglah mereka, Tuhan.” air matanya pun tak bisa dibendung lagi.

 

10 minutes later….

 

“PEMADAM KEBAKARAN SUDAH DATANG!!” teriak seorang pria.

 

Yoora yang mendengar itu segera menoleh dan mencari keberadaan mobil pemadam kebakaran tersebut. “Syukurlah. Kumohon cepat tolong mereka.”

 

Pemadam kebakaran pun akhirnya datang. Tak usah butuh waktu lagi, mereka pun bergegas masuk dan menyemprotkan selang air mereka ke arah rumah tersebut. Beberapa petugas ada yang masuk ke dalam rumah memastikan apakah ada korban di dalam sana. Dan ternyata benar saja. Mereka menemukan dua korban yang di temukan tidak sadarkan diri di sebuah kamar.  Mereka pun segera membawa kedua korban tersebut keluar rumah.

 

Saat Yoora melihat beberapa petugas pemadam kebakaran yang keluar membawa dua korban bersama mereka, Yoora pun segera nenghampiri kedua korban tersebut. Ia terkejut, “Eomma? Appa?”

 

Namun ia sedikit bingung. Kenapa hanya dua korban? Padahal ada tiga orang yang ada di dalam sana. Ke mana kekasihnya? bukankah ia juga ada di dalam sana? Pikiran gadis itu dihantui berbagai macam pertanyaan yang membuatnya frustasi.

 

“Kenapa hanya ada dua? Mana satu lagi?” Yoora tetap tak bisa menahan tangisnya.

“Sabar, nona. Masih ada beberapa petugas yang masih di dalam.” Tangisan Yoora pun semakin pecah.

“Donghae oppa..” Ia berlirih.

 

 

Tak lama keluarlah beberapa petugas yang menggotong seorang lagi korban. Tanpa pikir-pikir lagi Yoora sudah tahu pasti siapa korban itu. Ia pun segera menghampiri korban itu. Ia semakin histeris tatkala ia melihat sekujur tubuh kekasihnya itu penuh dengan luka bakar. Ia amat tertekan dengan kejadian yang dialaminya hari ini.

 

***

 

 

04:00 PM @ Hospital

 

Di sebuah kamar yang bernuansa putih sepenuhnya itu, berbaringlah seorang pria muda yang seluruh wajahnya di tutupi dengan perban. Di sampingnya berdirilah seorang gadis yang tak lain adalah Yoora, gadisnya, yang sejak tadi tak dapat juga menahan air matanya untuk keluar. Di sisi lain terdapat seorang dokter dan seorang susternya yang tengah memeriksa keadaan pria itu.

 

“Kami terpaksa melakukan operasi plastik pada wajahnya. Wajahnya terkena luka bakar yang cukup parah. Maka dari itu kami melakukannya. Dan kami juga melakukan operasi di sekujur tubuhnya. Tubuhnya penuh dengan luka bakar.” ucap dokter kepada Yoora.

“Gwaenchasseumnida, uisa seonsaengnim. Yang penting dia selamat.”

“Apakah sebaiknya kita buka saja perbannya?” tanya dokter meminta pendapat Yoora.

“Silahkan, buka saja.”

 

Perlahan perban itu pun dilepas. Wajah pria itu pun sedikit demi sedikit mulai terlihat seiring dengan dibukanya perban itu. Perban itu sepenuhnya telah terlepas dan menampakkan sepenuhnya wajah kekasihnya. Namun Yoora bingung. Kenapa masih terdapat perban yang menutupi mata pria itu?

 

“Jeogiyo, uisa seonsaengnim. Kenapa matanya diperban?”

 

Dokter pun terdiam sejenak. Sempat ia mendesah sebelum ia menjawab pertanyaan Yoora. “Api itu telah mengenai matanya. Menyebabkannya mengalami kebutaan permanen.”

 

Shock. Gadis itu sangat shock mendengar pernyataan dokter. Rahangnya mengeras, air matanya tiba-tiba terhenti, matanya melebar dan tak berkedip, tatapannya kosong, sekujur tubuhnya kaku. Ia lemas mendengar semua itu. Buta permanen. Kekasihnya tak akan bisa melihat lagi seumur hidupnya.

 

***

 

Keesokan harinya…..

08:00 AM

 

Sebuah tangan yang kini digenggam Yoora tiba-tiba bergerak. Meskipun gerakan itu lemah, tapi ia bisa merasakannya. Ia pun segera mendongakkan kepalanya dan mengangkat tubuhnya menghadap kekasihnya. Yoora segera duduk tegap dengan meraih tangan kiri kekasihnya dan menggenggamnya erat-erat. “Oppa, kau sudah sadar?” ucapnya lemah.

“Kenapa gelap sekali?” tangan pria itu pun bergerak dan menyentuh sesuatu yang menutupi matanya. “Igeo mwoya?  Kenapa mataku diperban?”

Melihat tingkah prianya seperti itu, Yoora pun hampir tak bisa menahan air matanya. Ia tak kuasa menerima semua ini. “Jamkkanman. Aku akan memanggil dokter dulu. Aku tidak akan lama.”

 

Several minutes later..

 

Dokter pun akhirnya datang dan ia pun segera masuk ke ruangan disusul dengan Yoora di belakangnya.

 

“Yoora-yah.. Jagiya, kaukah itu?” ucap Donghae.

“Ne, oppa. Aku sudah membawa dokter untukmu.”

“Baiklah, Tuan Lee. Aku harus membuka perban yang ada di matamu sekarang.” kata dokter.

“Baiklah kalau begitu, dok. Cepatlah buka. Perban ini membuatku sesak.”

 

 

Perban yang menutupi matanya pun perlahan terlepas. Satu persatu dimulai dari perban dan kapas yang menutupi matanya mulai terlepas. Meninggalkan matanya yang kini masih terpejam.

 

“Baiklah. Coba buka matamu.” perintah sang dokter.

 

Mata itu perlahan terbuka. Mata pria itu yang bagaikan manik-manik permata yang mengkilau mulai tampak. Matanya telah terbuka sepenuhnya. Namun…

 

“Dokter, kenapa gelap sekali? Apa sedang terjadi pemadaman listrik di sini? Gelap sekali.”

 

Dokter pun memutar bola matanya ke arah Yoora. Yoora semakin tak bisa menahan luapan tangisnya. Tangisannya pun akhirnya pecah. Tangisan itu pun semakin lama semakin keras dan semakin deras.

 

“Jagiya, kenapa kau menangis? Ada apa?” tangan pria itu berusaha mencari tangan gadisnya untuk digenggam. Dengan penglihatannya yang seperti ini membuatnya sangat kesulitan. Namun Yoora lebih dulu mengenggam tangan Donghae yang merangkak-rangkak tak jelas.

“Aish, kenapa gelap sekali?!! Ini menyusahkanku!!”

“Ah, Tuan Lee. Begini… mata anda..  Akibat dari kebakaran itu mengakibatkan mata anda mengalami luka bakar yang cukup parah dan menyebabkan mata anda anda mengalami kebutaan permanen.” ucap dokter.

“Apa? Dokter jangan bercanda. Aku tidak percaya. Jagiya, dia berbohong kan?”

Tangisan Yoora semakin menjadi-menjadi mendengar perkataan kekasihnya itu. Membuat pria itu terbujur kaku. Tubuhnya menegang. Ia tidak percaya ini.

 

***

 

“Tidak. TIDAK!!! ANDWAE!!”

 

Tangisan pria itupun pecah. Ia frustasi. Ia mengacak-acak tempat tidurnya sendiri, melempar bantalnya, melempar selimutnya. Ia tidak terima jika ia harus buta permanen.

 

“Oppa..” Yoora berusaha menenangkannya walaupun pada kenyataannya ia masih belum bisa menenangkan dirinya sendiri. “Oppa, hentikan. Geumanhae (Hentikan).”

“Lepaskan aku, Yoora-yah!! Aku  ini orang yang sangat memalukan. Aku bukan orang berguna lagi. TIDAK BERGUNA!! Sebaiknya kau tinggalkan aku, Yoora. Aku sudah tak pantas lagi untuk menjadi calon suamimu. Aku tak pantas menjadi suamimu. Tinggalkan aku, Yoora!”

“Oppa! Kau bicara apa? Aku sangat mencintaimu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu disaat keadaanmu yang seperti ini. Lagipula aku tidak peduli dengan keadaanmu sekarang. Kau tetap kekasihku. Calon suamiku. Aku sangat mencintaimu.” Yoora langsung menyambar bibir kekasihnya itu tanpa berpikir-pikir lagi. Ia benar-benar mencintai kekasihnya. Namun Donghae melepas ciuman itu secara tiba-tiba.

“Bahkan ciuman ini sudah tak pantas lagi kau dapatkan dariku, Yoora. Tinggalkan aku, Yoora. Tinggalkan aku jika kau ingin bahagia. Kau tidak akan bisa bahagia jika denganku.” Kedua air mata mereka semakin deras.

 

Yoora menggenggam bahu pria itu dengan erat. Namun tangisannya tetap tak dapat ia hentikan.

 

“Oppa, dengar aku! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kebahagiaanku bersamamu. Aku akan bahagia jika itu bersamamu. Meskipun kau memaksaku untuk meninggalkanmu, aku tetap tak akan meniggalkanmu sedetikpun. Aku sungguh mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu.” ucapnya sambil terisak.

 

Yoora pun memeluk tubuh kekasihnya itu dengan sangat erat. Tangis keduanya pun mulai mereda. Mereka berdua pun dibuai dalam pelukan yang begitu hangat. Mereka merupakan pasangan yang benar-benar saling mencintai.

 

 

THE END

 

hahahahahahaaa… endingnya gaje plus aneh ya? Mau aku bikin sequelnya gak? Comment ya…. Okay? 🙂

 

My Blog:

http://mykpopidolworld.wordpress.com

http://etarikpopfanfiction.wordpress.com

Visit ya 🙂 Ok?

 

1 Comment (+add yours?)

  1. diyackhcsw
    Jun 19, 2017 @ 17:22:54

    Singkat tragedi😀😣 msh pnsrn gmn reaksi ibunya dongek klo anakny buta n oplas gr” nylametin ortu yoora. 😕 butuh sequel nichhhhhhh… tp knp pmbc page ini sepi bingid eapssss aq jd galau kdg komen kdg kagak hehhehe curcol

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: