Autumn’s Confusion

—Autumn’s Confusion—

Author : Gojjluck (@UZakiahH)

Cast : Choi Siwon, Shim Jae Sik (OC)

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Oneshot (7.605 words)

-ooo-

—Choi Siwon’s POV

“Dia bangun, Eomma!”

Suara berisik itu mendorongku untuk membuka mata lebih lebar. Namun semakin aku berusaha untuk membuka mataku, kepalaku juga semakin terasa pusing. Rasanya semua benda di sekitarku berputar-putar tanpa arah dan melayang-layang bebas di udara tanpa gravitasi.

“Dia bangun, Eomma…”

“Dia bangun, Eo…”

“Dia bangu…”

Suara itu terdengar makin lemah dan semuanya menjadi sunyi saat aku kembali menutup kedua mataku.

-ooo-

                “Kau sudah bangun?”

Aku menggeliat pelan. Suara lembut itu membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Kubuka kedua mataku dan kurasakan keadaanku lebih baik. Aku tidak merasa pusing seperti yang sebelumnya kurasakan.

“Apa kau merasa baikan?”

Kuarahkan mataku ke sumber suara. Di samping ranjangku terdapat seorang yeoja berambut cokelat kehitaman tengah duduk dan memandangku dengan penuh khawatir. Di sudut kiri keningnya terdapat bekas luka memar.

“Kau sudah sebulan tidak bangun karena koma. Kau tahu? Aku sangat khawatir.” Ucapnya lalu mengelus pelan pipiku. Aku hanya diam seraya berpikir keras. Sepertinya kami begitu dekat sampai-sampai dia mengelus pipiku seperti ini, tapi…siapa dia? Aku tidak mengenalnya.

Suara pintu yang terbuka membuatku segera mengalihkan pandanganku ke arah suara. Masuk sepasang suami istri dan kemudian mereka dengan semangat mendekatiku. Aku mengenal kedua orangtua ini. mereka Appa dan Eomma-ku.

“Siwon-ah, syukurlah kau sudah bangun.” Ucap Eomma-ku sambil memegang erat tanganku.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Appa-ku dengan suara beratnya yang khas.

“Aku…baik.” jawabku disertai senyuman.

“Oppa!”

Suara berisik itu segera mendominasi seluruh ruangan. Seorang gadis berlari dengan semangat ke arahku dan langsung memelukku. Dari suaranya, aku yakin kalau suara berisik yang kudengar sebelum aku kembali pingsan adalah gadis ini, adikku, Choi Jiwon.

“Kau ingat aku, kan? Kau mengenalku, kan?” tanyanya terdengar antara khawatir dan panik.

“Iya. Kau adikku yang sangat berisik, Choi Jiwon.”

Jiwon tersenyum senang. Yeoja yang ada di sampingnya juga ikut tersenyum. Ah…aku masih tidak tahu siapa dia itu. Jiwon lalu menggelayutkan tangannya di lengan yeoja itu seraya mengajaknya berbicara.

“Kau sudah menjaganya siang malam tanpa henti, kau pasti senang karena Siwon Oppa sudah bangun, kan, Eonni?”

Jiwon memanggilnya Eonni? Apa aku lupa kalau aku mempunyai kakak atau adik perempuan? Ah, mana mungkin! Lihat wajahnya! Kami terlihat tidak mirip. Alisku dan alis Jiwon sama. Kalau memang kami bersaudara, kami pasti memiliki alis yang sama.

Yeoja itu mengangguk pada Jiwon. Ia lalu menoleh dan memandangku dengan tatapannya yang lembut. “Aku merindukanmu.”

-ooo-

Semuanya sudah keluar dari ruangan. Di dalam ruang rawatku hanya ada aku dan yeoja yang bahkan namanya tidak aku ketahui. Kenapa semuanya pergi meninggalkanku dengan orang yang tidak aku kenali ini?

“Apa kau ingin makan sesuatu? Kau sangat menyukai apel. Mau kukupaskan untukmu?” tawarnya seraya mengambil sebuah apel berwarna merah dan juga pisau untuk mengupas kulitnya. Dia lalu mengupas kulit apel itu tanpa menunggu jawaban apa aku ingin apel atau tidak.

Siapa sebenarnya dia?

“Aaaa.” Dia menyodorkan potongan apel ke mulutku. Kulirik tangannya yang terjulur padaku. Ada beberapa bekas luka goresan yang sudah mengering di punggung tangannya. Aku sedikit menjauh dan tidak ingin membuka mulutku. Aku sedang tidak ingin makan apapun, apalagi makan dari suapan orang yang tidak aku kenal.

“Kau…siapa?” aku akhirnya membuka mulut untuk bertanya. Pertanyaanku lantas membuat wajahnya terlihat shock. Tangannya yang memegang potongan apel berangsur-angsur menjauh dari mulutku.

“Kau tidak mengenalku?”

“Kau siapa?” tanyaku ulang.

“Aku istrimu, Shim Jae Sik. Kau tidak mengenalku?”

Aku menggeleng. Aku bahkan tidak ingat kalau aku telah mempunyai istri. Apa jangan-jangan, setelah ini dia juga akan berkata kalau kami sudah punya anak? Sejak kapan aku mempunyai istri?

“Apa kau yakin tidak mengenalku? Kau…mengenal semua orang, tapi…kenapa kau tidak mengenalku?” tanyanya memecah pikiranku mengenai siapa dia.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tidak mengenalmu.”

Yeoja bernama Jae Sik itu menaruh potongan apel dan pisau di atas sebuah piring yang terletak di meja kecil di samping ranjangku. Dia lalu menatapku kembali. “Jangan bercanda, Siwon-ah. Kau benar-benar tidak mengingatku?”

“Aku memang tidak mengenalmu.” Sewotku. “Aku bahkan tidak menyangka kalau kau ini adalah istriku. Aku tidak ingat apapun tentang kau. Justru aku yang ingin bertanya, apa kau bercanda? Kenapa kau tiba-tiba mengaku kalau kau ini istriku?”

Jae Sik terdiam sambil menatapku lekat. Tatapannya persis seperti anak kucing yang meminta makanan pada majikannya. Tapi, perlahan mata miliknya memerah. Dia mulai menangis dan aku bingung harus melakukan apa.

“Yak, uljima.

“A..a..apa karena perdebatan kita sebelum kecelakaan yang membuatmu seperti ini?” tanyanya. “Saat itu kita sedang berdebat soal hubunganmu dengan personal assistant-mu. Kau yang tersulut amarah dan emosi lalu kehilangan konsentrasi menyetir. Mobil yang kita kendarai tertabrak truk dan menyebabkanmu koma selama sebulan. Mi..Mianhae…”

“Tunggu, aku…?”

Clek.

Aku dan Jae Sik melihat ke arah pintu yang sedang terbuka. Tak lama kemudian, masuk seorang gadis bertubuh tinggi ke dalam ruang rawatku. Dia terlihat cantik dengan kemeja katun putih sebagai setelan atasnya yang dipadukan dengan rok hitam metalik. Rambutnya yang bergelombang terurai hingga punggung membuatnya semakin cantik. Dia membawa sekeranjang buah segar di tangannya.

Dia personal assistant-ku, Ha Jinri. Aku mengingatnya. Bahkan dengan sangat baik. Aku tahu parfum apa yang dipakainya setiap hari. Aku tahu makanan dan minuman kesukaannya. Aku tahu selera pakaiannya. Aku lebih suka kalau dia yang mengaku sebagai istriku daripada yeoja di sampingku ini. Yang benar saja! Aku tidak tahu apapun tentangnya. Satu pun tidak ada dan dia tiba-tiba berkata kalau dia itu adalah Shim Jae Sik, dia adalah istriku. Ini aneh! Apa aku terlambat mengenal Ha Jinri? Kalau aku lebih dulu mengenal Ha Jinri daripada dia, tentu saja yang akan aku nikahi adalah Ha Jinri.

Annyeong, Sir.” Sapanya seraya membungkukkan badannya. “Apa Anda sudah baikan, Sir?

“Aku sudah baikan, Jinri-ya.” Jawabku dengan memanggil namanya dengan panggilan informal. Dia terlihat sedikit terkejut saat aku memanggilnya seperti itu. Tapi, segera ia ganti wajah terkejutnya dengan senyuman ke arah Jae Sik.

Annyeonghaseyo, Mrs. Choi.”

Jae Sik hanya tersenyum terpaksa membalas senyuman dan sapaan personal assistant-ku itu.

“Lama tidak bertemu, Jinri-ya. Aku membuatmu menganggur selama sebulan. Apa kau senang? Aku tidak pernah memberikanmu libur sepanjang itu.”

Jinri melangkah mendekat. Dia menaruh keranjang buah yang dibawanya di sebuah meja dekat sofa kecil. “Ini karena Anda sakit, Sir. Saya tidak pernah menganggap hari saat Anda sakit adalah liburan.”

Aku mendecakkan lidah. “Kau tidak perlu memakai bahasa informal padaku, Jinri-ya.”

“Tapi, Sir…” Jinri melihat ke arah Jae Sik yang tengah melihat kami berdua dengan wajah tidak suka. “Saya merasa tidak enak menggunakan bahasa informal di depan istri Anda—“

“Istriku? Aku bahkan tidak mengingat namanya.” Potongku seraya melirik Jae Sik.

Sir—

“Aku akan bekerja lusa depan. Pastikan kau mulai mengatur jadwalku dengan baik, ne?” aku kembali memotong perkataan Jinri. Jinri melihatku dan melihat Jae Sik secara bergantian. Ada ekspresi takut dan tidak enak yang terpampang di wajah ovalnya yang cantik.

Sementara itu, Jae Sik terlihat seperti menahan amarahnya. Tangannya mencengkram kuat ujung ranjang. Matanya memerah dan kembali mengeluarkan setetes demi setetes airmata yang kemudian meluncur di kedua pipinya.

“Nikmati waktumu dengannya.” Ucapnya kemudian lalu beranjak dari duduknya. Dia keluar dari ruang rawatku dengan kaki yang sedikit disentakkan di setiap langkahnya. Dia bahkan sedikit membanting pintu ruang rawatku, membuat Jinri terkejut dan secara refleks mengangkat kedua bahunya ke atas.

Sir, aku merasa tidak enak dengan Mrs. Choi—“

“Sudah, kau tidak perlu merasa tidak enak padanya. Bagaimana kabarmu, jagiya?”

-ooo-

—Shim Jae Sik’s POV

Aku merasa sangat senang saat dia kembali membuka matanya, bangun dari tidur panjangnya dan aku menjadi orang pertama yang ia lihat saat membuka matanya. Tapi, kenapa dia tidak mengingatku? Kenapa hanya aku yang tidak diingatnya? Apa dia sebegitu benci dan marah padaku sampai-sampai dia hanya melupakan semuanya tentangku? Atau…aku benar-benar tidak pernah ada di pikirannya selama ini?

“Jae Sik-ah. Kau baik-baik saja?”

Segera kulap airmataku yang membasahi kedua pipiku. Kudongakkan kepalaku dan melihat pria berpakaian putih sedang berdiri di hadapanku. Dia Zhoumi, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Dia pernah merawatku selama seminggu karena kecelakaan itu. Dan sebulan ini kami menjadi dekat karena aku sering datang ke rumah sakit menjenguk Siwon.

“Ah, Zhoumi-ya,” lirihku. “Aku baik-baik saja.”

“Kau menangis?” tanyanya lalu mengambil posisi duduk di sampingku. Aku menggeleng pelan seraya menyembunyikan wajah sedihku darinya. Aku tersenyum lebar padanya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa denganku.

“Lihat? Aku baik-baik saja. Siapa bilang aku menangis? Mataku habis kemasukan pasir, makanya merah dan berair seperti ini.” alasanku.

Zhoumi menggeleng. Ia menatapku dalam. “Aku tahu ada yang salah denganmu. Ada apa? Harusnya kau senang karena kudengar suamimu sudah bangun dari komanya. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

Tangisku kembali pecah. Aku memang tidak pintar berakting sok kuat dan tegar. Buktinya, pertahananku hanya bertahan beberapa detik saja. Pertahananku roboh dan hancur seketika saat mengingat kenyataan yang harus aku terima.

Siwon tidak mengingat aku siapa!

“Hei…kau kenapa?” tanya Zhoumi.

“Siwon…Siwon…”

“Siwon? Choi Siwon suamimu? Kenapa?”

“Dia…tidak mengingat aku siapa. Dia mengingat semua orang, tapi kenapa hanya aku yang tidak diiingatnya? Kenapa hanya aku yang tidak dia kenal? Dia bahkan tidak menganggap aku istrinya. Dia tidak mengakuiku kalau aku ini istrinya. Dia bahkan memamerkan kemesraannya dengan Jinri di depanku. Waeyo?!”

Zhoumi memegang kedua pundakku, menepuknya pelan agar aku merasa baikan. Sementara aku tertunduk seraya menutup wajahku yang menangis memalukan dengan kedua tanganku.

“Dia hanya tidak mengingatmu?”

“Ne. Itu terdengar seperti dia memang sengaja untuk melupakanku. Mungkin dia sudah ingin berpisah denganku, jadi dia memperlakukanku seperti ini.”

“Kadang memang terjadi kejadian seperti itu. Sepertinya ada peristiwa sebelum kecelakaan yang membuat dia sangat muak denganmu lalu kecelakaan itu terjadi. Karena rasa muak yang berlebihan padamu, secara tidak sengaja otaknya menghapus seluruh ingatannya yang menyangkut tentangmu. Apa…aku benar?”

Aku mengangguk. “Kami berdebat hebat sebelum kecelakaan itu terjadi.”

Zhoumi kembali menepuk pelan kedua pundakku. “Sabarlah. Biasanya ini terjadi hanya beberapa hari saja. Selama ia belum mengingatmu, cobalah untuk membangkitkan ingatannya tentangmu dengan cara menceritakan masa-masa kalian dulu, membawanya ke tempat yang pernah atau biasa kalian kunjungi. Mungkin cara itu akan berhasil.” Jelas Zhoumi.

Mendengar sarannya membuatku sedikit merasa lebih baik. Hanya saja, cerita apa yang bisa membuat Siwon mengingatku? Tempat apa yang bisa memunculkan aku di pikiran Siwon? Aku tidak punya sesuatupun untuk diceritakan agar Siwon dapat mengingatku. Selama dua tahun pernikahan kami, dia hanya bersikap dingin padaku. Kami tidak pernah pergi berdua, bahkan aku bisa menghitung dengan jari berapa kali kami makan malam bersama. Apa yang harus kuceritakan padanya?

Gomawo, Zhoumi-ya.” Ucapku. Mungkin karena sifat Zhoumi yang sangat mengerti tentangku membuatku gampang terbawa olehnya, gampang akrab dengannya walaupun usia pertemanan kami baru memakan waktu sebulan.

“Ne, kau harus tegar dengan semuanya.”

-ooo-

Aku masuk dengan penuh ragu ke dalam ruang rawat Siwon. Saat aku masuk ke dalam, yang kulihat hanyalah Siwon yang tengah berdiri di dekat jendela kamarnya. Tampaknya Jinri sudah pulang.

Siwon menoleh dan kami saling menatap sebentar. Aku tersenyum padanya, sekedar untuk mencairkan suasana tegang di antara kami.

“Bisakah kau ceritakan bagaimana bisa kita menjadi sepasang suami istri seperti ini?”

Aku duduk di sofa sementara Siwon tetap berdiri di dekat jendela kamar, menantiku untuk membuka mulut dan menceritakan semuanya padanya. Pikiranku kembali ke masa lalu di mana kami bertemu untuk pertama kalinya.

“Kita bertemu di Pulau Nami, musim gugur tiga tahun yang lalu. Oh, tidak. Lebih tepatnya hanya aku yang melihatmu, sedangkan kau tidak pernah tahu bahwa setiap langkahmu diawasi oleh mataku. Saat pertama kali melihatmu berjalan di antara gugurnya dedaunan barisan pohon kastanye dan poplar, aku hanya merasa…aku telah menemukan orang yang tepat untuk hidupku, dan itu adalah kau. Saat aku tengah mencoba menanyakan pada diriku perasaan apa yang sedang kurasakan padamu, aku melihat siapa yang tengah berdiri di sampingmu. Itu membuat nyaliku ciut dan membuatku tidak ingin bermimpi terlalu tinggi. Kau tahu siapa yang tengah berjalan di sampingmu saat itu? Dia Ha Jinri, personal assistant-mu.”

“Aku melihat kalian berdua yang begitu bahagia menyambut musim gugur. Senyum tidak pernah hilang dari wajah kalian berdua. Kau menggenggam erat tangan Jinri seakan takut kehilangan dia. Jinri memiringkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di bahumu dengan nyaman. Walaupun baru sekali melihatmu, aku yakin, aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Hanya saja, cintaku bertepuk sebelah tangan pada saat itu juga.”

“Rasanya konyol. Seminggu kemudian, kita bertemu lagi. Kali itu kita memang benar-benar bertemu. Aku sampai terus bertanya-tanya dalam diriku apakah aku sedang mimpi atau tidak. Bukan hanya kita yang saling bertemu, tapi orangtua kita. Orangtua kita membahas soal perjodohan antara kau dan aku. Aku awalnya terkejut tapi sangat senang dengan semua itu. Tapi, melihat reaksi tidak suka dan menolak darimu, aku sadar bahwa keputusan perjodohan itu sangat tidak adil bagimu. Aku tahu kau masih berhubungan dengan gadis itu. Aku, walaupun sangat ingin perjodohan itu terjadi, tapi aku tidak boleh hanya memikirkan perasaanku. Aku menolak perjodohan itu.”

Siwon memicingkan matanya padaku. “Kalau kau menolak, kenapa pada akhirnya kita menjadi suami istri seperti ini?”

“Karena kau yang menyuruhku! Kau berkata kalau perjodohan itu tidak terjadi, perusahaan tidak akan jatuh ke tanganmu. Itu sebabnya kita menikah.”

Aku menangis lagi. Dasar Jae Sik cengeng! Kau semakin terlihat lemah di matanya.

“Kau tahu? Aku memang istrimu, tapi hatimu bukan milikku. Sekalipun aku bersikap baik padamu, kau tidak pernah peduli padaku. Kau masih berhubungan dengan Jinri, aku memaklumi hal itu. Tapi, sebelum kecelakaan itu…pada saat itu aku merasa tidak tahan dengan semuanya. Aku mengatakan ingin berpisah denganmu, tapi kau malah menolak. Mendengarmu takut kehilanganku membuatku sakit. Sakit karena kau takut kehilanganku yang berarti sama dengan kau takut kehilangan perusahaan.”

“Yang aku tahu, aku hanya mencintaimu. Itu saja yang bisa meyakinkanku untuk tetap berdiri di sampingmu. Itu saja yang terus mendorongku lebih kuat menghadapimu walaupun kau sama sekali tidak menganggapku ada. Aku menunggumu tiap pulang kerja, tidak peduli kau mau pulang jam berapa, walaupun aku tahu kau sama sekali mengabaikanku. Aku berusaha untuk mencairkan sikap dinginmu padaku, tapi aku tidak pernah berhasil. Walaupun aku merasa sakit, walaupun sangat menyedihkan, tapi karenamu, aku…baik-baik saja. Aku mencoba untuk menekan semua rasa sakitku hingga ke dasar hatiku, tersenyum padamu seakan aku tidak apa-apa. Aku tahu itu akan sia-sia, karena semanis apapun aku tersenyum, kau tidak akan pernah berbalik menatapku. Aku lelah menjadi Jae Sik yang berpura-pura tegar!”

Bodoh, Jae Sik! Bodoh! Kau menceritakan kelemahanmu di depannya! Tindakan yang sangat bodoh! Tapi…hanya cerita ini yang bisa kuceritakan padanya. Aku tidak punya cerita lain agar dia bisa mengingatku.

“Bisakah kau memberikanku satu harimu yang paling berharga? Bisakah kau meluangkan satu harimu hanya untukku? Aku hanya meminta satu hari sebelum aku benar-benar pergi dari kehidupanmu. Aku akan menjelaskan pada kedua orangtuamu agar perpisahan kita tidak menyebabkan perusahaan terlepas dari tanganmu. Bisakah kau menuruti permintaan pertama dan terakhirku ini?”

Aku memang tidak pernah meminta atau menuntut apapun darinya sejak dari awal kami bertemu. Jadi, meminta dia untuk meluangkan waktunya untukku seharian penuh sebelum aku pergi adalah permintaan yang seharusnya tidak ia tolak. Setidaknya kalau dia masih punya hati. Aku hanya ingin merasakan sedikit rasa bahagia karenanya. Itu saja.

Aku memberanikan melihat Siwon. Ia sudah kembali memandang ke arah luar jendela. Dia masih berdiri diam di sana. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Mungkin dia akan mengataiku bodoh, idiot, gila, terserah! Aku memang bodoh, idiot, gila…buktinya aku mencintai orang yang sama sekali tidak pernah menganggapku itu ada. Jae Sik bodoh!

“Baiklah.” Ucapnya kemudian tanpa sekalipun menoleh padaku. “Lusa depan aku akan meluangkan satu hari penuh untukmu.”

-ooo-

—Choi Siwon’s POV

                Jinri datang. Dia datang sangat pagi bahkan sebelum aku membuka mataku. Dia sudah duduk di samping ranjangku dengan senyumnya yang merekah. Saat aku terbangun, dia sedang sibuk mengupas sepotong apel yang aku rasa akan diberikannya untukku.

“Kenapa kau datang sangat pagi?” tanyaku seraya bangkit dari tidurku dan menyandarkan punggungku di sandaran pada ranjangku.

“Huh? Ini sudah jam 12 siang, jagiya.” Jawabnya. Ia menyuapiku sepotong apel yang kulitnya sudah ia kupaskan untukku. “Keluargamu datang pagi tadi. Mereka berkata padaku akan mengurus kepulanganmu dari rumah sakit sore ini.”

“Kenapa tidak sekarang saja? Aku sudah merasa sangat sehat sekarang.” Sahutku seraya tersenyum kecil. Jinri kembali memasukkan sepotong apel ke dalam mulutku. Melihat dia melakukan hal ini, aku jadi teringat dengan Jae Sik.

“Apa Jae Sik ke sini?” tanyaku pada Jinri.

“Ne, Jae Sik ke sini. Dia mengatakan padaku untuk menjagamu hingga sore. Dia akan datang sore ini untuk mengemas barang-barangmu sekaligus membawamu pulang ke rumah.”

Aku meng-oh lalu kembali mengunyah apel yang ada di dalam mulutku. Jae Sik menyuruh Jinri menjagaku hingga sore? Apa dia memberikanku kesempatan untuk berduaan dengan Jinri? Ah, dia sama sekali sulit ditebak. Aku sudah memaksa otakku untuk mengingatnya, tapi aku benar-benar tidak menemukan kepingan peristiwa di dalam otakku yang menyangkut tentang dia.

“Bagaimana kalau kita membahas soal rancangan ulang jadwal kerjamu untuk besok?”

Aku melihat Jinri yang tengah mengambil buku agenda dari dalam tas sampirnya. Oh, aku mengatakan padanya kalau aku akan mulai kerja besok, ya? Tapi, aku juga berjanji untuk meluangkan satu hari penuhku untuk Jae Sik.

“Mengenai meeting dengan pemilik perusahaan komunikasi Samsung yang ditunda saat kau mengalami koma selama sebulan akan aku pindahkan ke hari esok. Aku akan menelepon sekretaris mereka untuk mengatur jadwal mereka bertemu denganmu esok pagi di kantor…”

Jae Sik. Mengingat cerita yang ia ceritakan padaku kemarin membuatku merasa sangat jahat. Apa benar aku sebegitu menyiksa dirinya? Apa aku sebegitu egoisnya padanya? Aku tidak pernah menganggap ia ada dan hanya mementingkan urusanku saja, kesenanganku saja. Aku tidak peduli dengannya. Aku hanya berpikir untuk mempertahankannya terus berada di sisiku agar aku tidak kehilangan perusahaan.

Aku…sepicik itu?

Aku tidak pernah mementingkan perasaannya. Aku tidak tahu bahwa dia sangat menderita batin karenaku. Apa yang kau lakukan, Choi Siwon? Aku tidak pernah tahu bahwa selama ini, selama aku berhubungan dengan Jinri, ada seseorang yang begitu sakit. Ada seseorang yang berusaha menampilkan senyum terbaiknya padaku walaupun dia tahu aku tidak pernah berbalik untuk membalas senyumnya.

Ah, Jae Sik. Apa selama dua tahun pernikahan kita kau lalui dengan penuh penderitaan? Apa selama dua tahun itu kau selalu menungguku pulang kerja dan aku selalu mengabaikanmu? Kenapa aku bisa sejahat itu? Aku rasanya ingin marah dengan diriku yang dulu! Kenapa aku tidak menghargai apapun yang kau lakukan untukku?

“…Dan jadwal terakhir kita besok adalah menghadiri ulangtahun perusahaan F yang akan diadakan di Grand InterConential Seoul Hotel pukul 8 malam. Aku sengaja hanya meletakkan kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu berat untukmu di hari pertama kau kembali bekerja. Dan juga, aku hanya meletakkan 4 jadwal dengan selang waktu yang cukup banyak, sehingga kau masih bisa istrirahat.”

Aku kembali fokus ke arah Jinri yang sudah menjelaskan jadwalku dengan sangat panjang dan terperinci. Semuanya terasa sia-sia karena aku tidak mendengarkan semuanya dengan baik. “Oh, aku sangat berterima kasih karena kau sudah mengatur jadwalku untuk besok. Tapi, aku rasa aku belum siap bekerja besok, Jinri-ya.”

Jinri lalu mentapku dalam. “Waeyo? Apa kepalamu sakit? Eodiga apayo?”

“A..ah, bukan. Aku hanya ingin beristirahat selama seminggu sebelum aku benar-benar siap bekerja.”

Jinri merengut kecewa. “Padahal aku sudah merasa sangat senang saat kau ingin masuk bekerja lagi. Kau tahu, kan? Waktu kita bersama semakin sedikit saat kau harus menikah dengan Jae Sik. Dulu, saat kau belum menikah, hampir semua keperluanmu diurus olehku dan aku sangat senang menghabiskan waktuku untuk mengurus semua keperluanmu. Sekarang, aku tidak seluasa dulu. Semua keperluan di rumahmu diurus oleh Jae Sik. Aku hanya sekedar mengurus jadwal-jadwal pekerjaanmu saja.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa selain hanya diam sambil memakan apel.

“Dulu aku yang membawa semua pakaianmu ke binatu, memasakkanmu makanan yang enak dan kita makan bersama, mengisi kulkasmu dengan buah-buahan dan banyak vitamin agar kau selalu sehat, dan masih banyak lagi. Aku menjadi sedih saat aku harus menyerahkan semua tugasku itu pada Jae Sik.

Aku masih terdiam. Otakku seperti tersengat sesuatu. Tiba-tiba saja sebuah kejadian melintas di pikiranku. Ada aku dan Jae Sik di sana. Jae Sik duduk berhadapan dengan meja makan. Di atas meja makan tersedia banyak makanan lezat yang dihias cantik olehnya. Jae Sik mengatakan kalau dia telah sangat lama menungguku pulang kerja dan menginginkanku untuk duduk menemaninya makan malam. Tapi yang kulakukan justru mengabaikannya dan masuk ke dalam kamar tanpa berbicara sepatah katapun padanya.

“Argh!” erangku seraya memegang kepalaku dengan kedua tanganku. Sengatan itu semakin terasa dan membuat kepalaku sakit. Jinri terus bertanya keadaanku. Aku sendiri hanya terus mengerang kesakitan. Satu persatu kejadian yang bersangkutan dengan Jae Sik mulai terlihat olehku. Keping-keping peristiwa yang hilang di otakku kembali muncul.

—Flashback

Aku keluar dari ruangan kerjaku setelah mendapat pesan singkat dari Jae Sik bahwa dia sedang menunggu di lobi kantor. Malam sudah sangat larut dan menunjukkan pukul 12. Aku memang memutuskan untuk lembur selama dua malam di kantor sekaligus menghabiskan waktu berdua dengan Jinri. Kantor memang sudah tutup, tapi para security di depan pasti mengizinkan Jae Sik masuk ke kantor karena mereka tahu bahwa Jae Sik adalah istriku.

Aku menyuruh Jinri untuk menunggu di ruang kerjaku sementara aku bertemu dengan Jae Sik. Seperti biasa, Jae Sik pasti akan tersenyum padaku saat kami berdua bertemu.

“Siwon-ah!” serunya dengan sikap gembira sedangkan aku hanya membalasnya dengan tatapan dinginku.

“Buat apa kau ke kantor malam-malam seperti ini?”

Jae Sik menyentuh dan memperbaiki sedikit tatanan rambutku yang berantakan, masih dengan bibir yang tersenyum padaku. “Kau sudah tidak pulang dua hari. Aku mengkhawatirkanmu. Karena aku tahu kau akan sangat sibuk dari pagi hingga malam, makanya aku datang tengah malam seperti ini.”

“Kau menyetir sendiri ke sini?” tanyaku.

Dia mengangguk mengiyakan yang membuatku sangat ingin memarahinya. Letak kantorku di Suwon sedangkan rumah kami terletak di Seoul. Dia mengendarai mobil ke Suwon sendiri dan larut malam seperti ini? Apalagi dia seorang yeoja, tentunya itu sangat berbahaya.

“Apa kau makan dengan baik?”

“Yak! Kenapa kau menyetir, huh?!” tanyaku dengan volume suara yang besar.

“A..aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa itu salah?”

“Itu salah! Kau tidak perlu mengkhawatirkanku sampai-sampai kau harus menyetir dari Seoul ke sini. Kau bisa meneleponku saja.”

Jae Sik menunduk takut. “Aku sudah meneleponmu berkali-kali. Tapi, ponselmu tidak aktif. Aku selalu menelepon Jinri dan memintanya untuk mengizinkanku berbicara denganmu. Tapi, Jinri mengatakan kalau kau sedang sibuk rapat dan meeting dengan klien. Aku khawatir dengan kondisimu. Kau selalu saja sibuk dan aku takut kau tidak memerhatikan kesehatanmu. Makanya aku—“

“Berikan aku kunci mobilmu!” pintaku. Dia memberikanku dengan tangan yang sedikit gemetaran. “Sekarang aku akan mengantarmu pulang!” lanjutku sepihak lalu menarik tangannya. Kami segera keluar dari lobi kantor menuju mobilnya yang terparkir di depan pintu masuk kantor.

“Apa kau sengaja mengambil lembur selama 2 hari demi bersama Jinri?” tanyanya di tengah-tengah perjalanan.

Aku hanya diam.

“Yak! Jawab aku!” teriaknya. Baru sekali ini aku mendengar ia berteriak marah padaku. Aku meliriknya sekilas dan mendapatinya tengah menangis. “Yak! Aku bilang jawab aku!” teriaknya kembali, memekikkan telinga.

“Kalau iya memangnya kenapa?!” aku menjawabnya dengan teriakan juga. “Memangnya kenapa, huh?!”

“Aku mengkhawatirkanmu, Choi Siwon! Apa kau tidak mengerti sedikitpun perasaanku? Apa di otakmu cuma hanya ada Jinri saja? Apa kau tidak tahu aku mengkhawatirkanmu setiap waktu?!” ucapnya sambil terus menangis.

Aku berusaha untuk tetap fokus menyetir. Jae Sik tetap menangis dan yang kulakukan hanyalah membiarkan dia terus menangis hingga puas.

“Aku terus berusaha agar kau juga melihatku. Tapi, apapun yang aku lakukan selalu saja tidak dihargai olehmu. Aku tidak butuh apapun di dunia ini selain kau, Siwon-ah.” perkataannya berubah sedikit melunak. “Aku mencintaimu. Tapi, tak peduli sekeras apapun aku berteriak memanggil namamu, kau tidak pernah berbalik melihatku. Apa kau tahu? Rasanya sangat sakit. Bagaimana kalau kita berpisah saja? Mungkin itu lebih baik.”

“Pisah? Andwae! Aku tidak akan melakukan hal itu!” tolakku dengan lantang. “Perusahaan akan berpindah tangan jika aku dan kau berpisah. Aku tidak akan melakukannya!”

Aku melotot ke arah Jae Sik. Jae Sik menundukkan kepalanya. Sesuatu yang sangat terang membuatku sadar bahwa aku harus konsentrasi menyetir. Aku kembali menoleh ke dapan, tapi yang sesuatu yang sangat terang itu menyakitkan mataku hingga akhirnya mobil tidak dapat kukuasai. Aku membanting setir ke kanan dan kurasakan mobil bergeser beberapa meter jauhnya karena tabrakan mobil truk yang sangat keras.

Yang kudengar hanyalah tangisan Jae Sik. Sementara itu, tangan kami saling berpegangan kuat. Mobil terus bergeser hingga akhirnya jatuh terbalik. Kepalaku terbentur kaca mobil dengan sangat kuat sementara tubuhku ditindih oleh tubuh Jae Sik. Kepala Jae Sik sendiri terbentur setir kemudi.

“Jae Sik-ah…” lirihku memanggilnya.

“Eugh…Si..Siwon-ah…”

G…gwaencha..na?”

“A..apa in..i sudah saatnya..ak..u per..gi?” tanyanya yang membuat aku terkejut.

“Ja..jang.an meng..at..takan hal seper..ti it..tu.” ucapku. Semakin kueratkan tanganku yang menggenggam tangan Jae Sik. “Ki..kita ak..an bb..baik-ba…ik saj..ja.”

“Bbah..kan jika ak..u ha..rus pe..rgi, ka..u b..belum juga me..lihat ke a..rahku.” ucap Jae Sik lemah lalu menutup kedua matanya. Aku mencoba membangunkannya. Dia belum boleh pergi. Aku tidak ingin dia pergi.

“Ja..e Sik!”

Flashback end.

-ooo-

“Siwon-ah…”

Aku membuka kedua mataku pelan. Beberapa kali aku harus mengerjap, menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam mataku. Aku barusan bermimpi soal kecelakaan sebulan yang lalu. Aku mengingat semuanya. Semua kejadian yang berhubungan dengan Jae Sik, juga soal kecelakaan itu.

“Siwon-ah…”

Aku melirik ke sumber suara. Ternyata itu Jinri. Dia terlihat cemas.

“Kau..baik-baik saja?”

“Memangnya aku kenapa?”

“Saat kau merasakan sakit yang luar biasa pada kepalamu, kau tiba-tiba pingsan. Apa kau tidak apa-apa? Kau merasa sakit? Aku akan memanggil dokter untukmu.” Jinri beranjak dari duduknya, namun segera kucegat tangannya agar ia tidak pergi. Aku tidak apa-apa. Aku mungkin…hanya perlu waktu untuk mengingat semua perlakuan jahatku pada Jae Sik.

Gwaenchana. Kau tidak perlu memanggil dokter.”

Jinri kembali duduk lalu tersenyum. “Jeongmal? Syukurlah kalau kau baik-baik saja.”

“Sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku. Jinri melihat jamnya sebentar lalu mengatakan padaku kalau sudah tiga jam aku tertidur. “Kau sudah menungguku cukup lama, Jinri-ya. Kau pulang saja.”

“Aku akan pulang kalau Jae Sik sudah datang untuk mengemas barang-barangmu.”

Aku menatap tajam Jinri. “Ini perintah seorang atasan untuk bawahannya.”

“Ta..tapi,” Jinri kembali mengatupkan mulutnya, membatalkan niatnya untuk membantah perkataanku. Dia lalu meraih tas sampirnya. Wajahnya terlihat kaget karena perkataanku yang sedikit keras padanya. Dia membungkukkan badannya padaku, layaknya sikap hormat bawahan kepada atasannya lalu keluar dari ruang rawatku.

Aku menghela napas kasar. Aku hanya butuh waktu sendiri untuk menyadari semua kesalahanku pada Jae Sik. Semua rasa sakit yang kutorehkan padanya dan semua perilaku burukku yang membuat Jae Sik sangat terluka. Aku sangat ingin mengatakan hal ini padanya. “Mianhae, Jae Sik.”

Oke, sekarang pikiranku terlalu berat dan kacau. Sepertinya mandi bisa menyegarkan dan membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.

-ooo-

                Jae Sik masuk ke dalam ruang rawatku. Dia tersenyum padaku—selalu seperti ini ketika dia bertemu denganku. Dia mendekati ranjangku. Wajahnya terlihat tenang seakan-akan tidak mempunyai masalah denganku. Apa dia selalu seperti ini? Dia selalu menampilkan wajah baik-baik saja sedangkan dia sedang TIDAK baik-baik saja.

“Tebak! Siapa yang merindukan rumah? Kau akan pulang!” ucapnya. Dia lalu tertawa padaku. Saat Jae Sik tertawa, matanya terlihat ikut tertawa. Apa dia sedang berakting bahagia di depanku? “Kenapa raut wajahmu seperti itu? Kau gugup pulang ke rumahmu sendiri?”

A..a..aniyo.” jawabku. Jae Sik belum tahu kalau sebenarnya aku telah mengingat semuanya. Aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. Dan aku juga sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya. Namja pengecut yang selalu saja menyakiti Jae Sik, itu aku.

“Aku akan membereskan barang-barangmu. Sekarang kau mandi dan ganti baju rawatmu dengan pakaian yang kubawakan untukmu, ne?” dia lalu menyodorkan aku sebuah kantong kertas yang bisa kutebak isinya adalah pakaian yang harus kukenakan.

“Hm.” Responku pendek. Dia membantuku turun dari atas ranjang, padahal aku sama sekali bisa melakukannya sendiri. Dia bahkan menggiringku masuk ke dalam kamar mandi seperti anjing penjaga yang menggiring domba-domba peliharaan majikannya untuk masuk ke dalam kandang.

Pintu tertutup. Kupandangi diriku di sebuah cermin di atas westafel. Aku semakin kurus saja. Pipiku terlihat tirus. Kunyalakan kran air dan membasuh wajahku. Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi membuatku mengganti baju secepat yang aku bisa. Aku baru sadar bahwa bukan hanya pakaian dan underwear yang dibawakan Jae Sik untukku. Ada sebotol parfum dan sebuah kotak kaca berisikan gel rambut. Kedua benda itu adalah milikku. Aku menaruhnya di balik cermin yang ada di dalam kamar mandi kamar kami. Sepertinya dia tahu kalau dibalik cermin itu terdapat rak kecil tempatku menaruh semua alat mandiku dan juga kedua benda ini.

Aku hanya tersenyum menyadari kelincahan Jae Sik seraya menyemprotkan parfum milikku di bagian tubuh. Tidak lupa juga menata rambut mohawk-ku dengan gel rambut yang Jae Sik bawa.

Aku keluar dengan pakaian yang sudah terganti. Kaos stripe biru putih dibalut cardigan abu-abu terang untuk melindungiku dari dinginnya angin musim gugur. Serta celana jeans hitam yang tidak terlalu ketat.

Dia menatapku sebentar. Dan aku kira dia terdiam sambil menatapku karena merasa terpesona. “Hey, kau tidak mandi?”

“Aku sudah mandi sebelum kau datang.” Alasanku. “Eung…aku menemukan parfum dan gel rambutku di sini. Dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku yang jelas-jelas sudah tahu jawabannya.

“Oh, aku mengambilnya dari rak kecil yang kutemukan di belakang cermin kamar mandi di rumah. Mianhae karena aku lancang mengambilnya tanpa seizinmu.”

Aku mengangguk lalu duduk di sofa. Kuperhatikan dirinya yang sibuk memasukkan pakaian-pakaian kotorku ke dalam tas yang dipegangnya. Lihatlah. Tubuhnya kurus dan sangat rapuh. Di bawah kedua matanya terdapat kantong mata yang menandakan dia kurang tidur. Mungkin dia kurang tidur karena menjagaku. Jiwon kemarin berkata kalau dia menjagaku siang dan malam tanpa henti. Sepertinya aku perku mengucapkan terima kasih untuknya.

“Eung…gomawo karena sudah repot-repot merawatku.”

“Hm.” Respon Jae Sik pendek tanpa menoleh ke arahku. “Tidak perlu meminta maaf. Tugas seorang istri memang merawat dan memperhatikan suaminya.” Lanjutnya. Kali ini dia menoleh padaku dan lagi-lagi memberikanku senyuman.

“Jae Sik, soal kemarin—“

“Tidak apa-apa.” Potongnya cepat. “Aku hanya berharap kau bisa menepati janjimu besok.”

“Aku akan menepatinya. Tentu saja. Janji adalah janji.”

“Baguslah.” Sahutnya pendek.

“Kenapa hanya kau yang menjemputku? Ke mana orangtuaku dan adikku?”

“Mereka sedang sibuk. Appa-mu menghadiri rapat yang ditemani dengan Eomma-mu di Busan. Jiwon sendiri belum pulang dari sekolah, sepertinya dia ada les tambahan.”

-ooo-

“Sudah siap?” tanyaku sambil menatap pantulan sosok Jae Sik di depan cermin. Rambut cokelat kehitamannya itu dijepit setengahnya dengan pita hitam ukuran medium, yang lainnya dibiarkan terurai bebas. Kemeja hitam yang mempunyai kerah bermotif bunga dipadukannya dengan cardigan berwarna tan kalem. Bagian bawah kemeja hitamnya dimasukkanya ke dalam rok abu-abu terang yang dikenakannya bersama black stocking. Sepatu balet hitam bertumit rendah terlihat cocok di kakinya.

“Aku sudah siap.” Jawabnya dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. Dia meraih tas kecil bertali panjang lalu menyampirkannya di bahu. “Bagaimana penampilanku?” tanyanya dengan suara riang.

Good enough.” Jawabku padanya. Kau cantik, Jae Sik, gumamku dalam hati. “Kita mau ke mana pagi ini?”

Hari ini, aku meluangkan satu hari penuh khusus untuknya. Setelah hari ini berakhir, dia akan mundur dari hidupku. Harus kuakui, aku sedikit senang dengan keputusan yang dia ambil itu, tapi, rasanya ada yang lain. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk mengatakan padanya kalau dia tidak boleh pergi dari hidupku. Yeah, just feeling. Forget it!

Jae Sik menjentikkan jarinya tepat di hadapanku. “Kita ke Pulau Nami, kajja!”

Karena hari ini adalah harinya, aku akan menyenangkannya sebisaku. Kami sengaja tidak memakai mobil pribadi menuju dermaga Pulau Nami dan memilih untuk naik subway Gyeongchun Line yang menuju Gapyeong Station. Selanjutnya kami hanya perlu naik bus menuju dermaga Pulau Nami.

-ooo-

—Shim Jae Sik’s POV

Siwon menggenggam tanganku dan ini untuk pertama kalinya kami saling bergenggaman tangan. Tangannya benar-benar hangat dan rasanya ku tidak ingin melepaskan genggaman tangan ini barang sedetikpun.

Sepanjang perjalanan menuju Pulau Nami, dia benar-benar terlihat seperti Siwon yang tidak aku kenal. Dia lebih banyak tertawa dan tersenyum padaku. Ini tentu saja membuatku senang. Aku telah lama menunggu hal seperti ini terjadi di antara kami berdua. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar terlihat senang atau hanya berakting di depanku. Ini hariku, bukan? Dia mungkin berpikir untuk menyenangkanku. Tapi, aku tidak peduli. Dia mau akting atau tidak, aku tetap bersyukur bahwa aku dan Siwon pernah bersama seperti ini sebelum kami benar-benar berpisah.

Sesampainya di Pulau Nami, kami berdua berjalan-jalan di bawah barisan pohon kastanye dan poplar yang berjejer rapi. Daun-daun pohon yang sudah berubah warna menjadi kuning keemasan atau merah gugur satu persatu di atas kepala kami, seakan-akan mereka menyapa kami berdua yang datang berkunjung.

Kakiku menendang-nendang ringan daun-daun yang berguguran dan berserakan di atas tanah. Kugelayutkan tanganku di lengan kokoh Siwon dan menyandarkan kepalaku di lengannya. Aku tidak setinggi Jinri yang bisa menempatkan kepalanya dengan nyaman di bahu Siwon. Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di lengannya. Aku tersenyum saat merasakan hangatnya Siwon mengalir ke tubuhku. Ya Tuhan, aku benar-benar akan sulit melupakan betapa nyamannya lengan milik suamiku ini untukku bersandar.

“Aku telah lama merindukan saat-saat seperti ini. Aku kira ini hanya akan terjadi di anganku saja.” Sahutku seraya menengadahkan kepalaku ke atas, melihat ke arah dahan-dahan pohon yang dipenuhi daun-daun berwarna kuning dan merah yang cantik.

“Musim gugur adalah musim di mana pohon-pohon menggugurkan daunnya. Walaupun terkesan menyedihkan, tapi aku selalu menyukai musim gugur. Apa kau berpikir itu terdengar…seperti kita?”

Siwon masih diam.

“Kau adalah musim gugurnya dan aku adalah pohon yang harus menggugurkan daun-daunnya saat kau datang. Si pohon bodoh selalu menyukai musim gugur dan menunggu ia datang walaupun si pohon tahu dia harus menggugurkan daun-daunnya saat musim gugur tiba.”

Siwon tertawa kecil. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Aku menyukaimu dan selalu menunggumu datang meskipun aku tahu, di saat kau datang aku hanya bisa bersedih dan menangis karena tahu kau tidak membalas perasaanku sama sekali.” Jelasku singkat.

Kulihat sebuah bangku yang menjadi tempat di mana aku duduk dan pertama kali melihat Siwon. Aku masih bisa melihat bayang diriku yang sedang duduk di sana dengan mata yang tidak dapat berkedip sedikitpun saat melihat Siwon berjalan dengan kerennya.

Pulau ini mengingatkanku dengan pertemuan sepihak tiga tahun yang lalu. Aku melihat seorang pria berjaket abu-abu tebal sedang berjalan menyusuri jalanan setapak ini. Sosoknya sangat tinggi hingga aku berpikir bahwa aku perlu menengadahkan kepalaku saat harus berbicara dengannya.

Aku menengadahkan kepalaku, melihat wajah Siwon dari samping.

Itu kau, Siwon-ah.

Ponsel Siwon berdering. Siwon melihat caller ID yang terpampang di ponsel layar sentuhnya. Aku bisa melihat bahwa yang menelepon adalah Jinri. Siwon menolak panggilan Jinri dan mematikan ponselnya.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya?” tanyaku penasaran.

“Hari ini adalah satu hari khusus untukmu. Aku tidak boleh membiarkan orang lain masuk dan merusak hari ini.” jawabnya yang membuat senyumku terkembang.

-ooo-

                “Saking senangnya, aku sampai lupa kalau kita belum sarapan!” kataku seraya tertawa.

Setelah berjalan-jalan puas di Pulau Nami, aku dan Siwon memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang terletak di dekat Gyeongbokgung Palace, Tosokchon Restaurant. Restoran ini menyediakan makanan yang paling aku sukai sedunia, samgyetang! Memakan samgyetang di musim gugur seperti ini sangatlah pas. Masakan olahan ayam ini bisa menghangatkan tubuh di saat dinginnya musim gugur.

“Apa kau sering lupa makan pagi seperti ini? Kau itu harus mengatur pola makanmu. Jangan makan terlambat karena itu bisa membuatmu sakit maag.”

Aigoo,” ucapku. “Gamsahamnida atas sarannya, Dokter Choi Siwon.” Lanjutku dengan badan yang sedikit membungkuk, tanda hormat padanya.

“Habiskan saja makananmu. Aku tidak ingin melihat ada yang tersisa. Arasseo?” respon Siwon seraya mengacak pelan rambutku.

Aku diam dan kurasakan wajahku mulai memerah karena perlakuan Siwon barusan. Siwon tidak pernah melakukan hal seperti ini padaku! Semua skin ship yang terjadi di antara kami berdua adalah hal yang pertama! Dengan semua skin ship yang pertama kali ia lakukan padaku, jangan bertanya apakah aku pernah ditidurinya atau belum. Dia tidak pernah melakukannya! Dia benar-benar menganggapku seperti pajangan di rumah.

“Sehabis ini kita ke mana?”

Pertanyaan Siwon memecahkan lamunanku yang sedikit tidak penting. Aku juga bingung harus ke mana bersamanya. Yang aku pikir saat ini adalah aku bisa berduaan dengannya. Aku tidak peduli kami akan pergi ke mana, yang penting aku dan dia selalu bersama seperti ini.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Kau punya tempat yang bagus?”

“Yak! Harusnya kau memikirkan tempat-tempat yang kita kunjungi hari ini sebelumnya. Kenapa kau malah bertanya balik padaku? Kau yang menginginkan ini, makanya kau yang harus mengaturnya.”

Aku menutup telingaku agar tidak mendengar dia yang sedang kalap.

“Yak! Singkirkan kedua tanganmu dari telingamu agar kau mendengarkanku!”

Shireo!” tolakku.

“Aku bilang singkirkan!” seru Siwon.

“Aku bilang tidak mau!”

Siwon lalu men-ttak-bam keningku dengan keras. Aku meringis kecil sambil melotot ke arahnya. “Yak! Appo!”

“Siapa suruh kau tidak mau mendengarku.”

Aku meringis kesal sedangkan Siwon kembali melanjutkan makannya.

“Bagaimana kalau kita ke Insadong?”

-ooo-

Siwon mengajakku ke Insadong. Insadong adalah daerah yang dipenuhi jejeran toko-toko antik, galeri, toko kerajinan tradisional, kafe dan restoran. Sesampainya di sana, dia menarikku masuk ke dalam sebuah toko kecil yang dipenuhi gambaran-gambaran karikatur dari pensil yang lucu.

Ahjussi!” sapa Siwon pada seorang ahjussi yang memakai topi anyaman cokelat bergaya koboi. Ahjussi itu membalikkan badannya dan menyengir lebar pada Siwon.

Aigoo, Siwon-ssi. Sudah lama kau tidak main ke sini!” ucapnya lalu melirikku yang berdiri tepat di samping Siwon. “Siapa dia? Yeoja yang terakhir kali kau bawa ke sini tampaknya bukan dia.”

Ya, aku bisa menebak siapa yeoja yang dibawa Siwon terakhir kali ke sini. Siapa lagi kalau bukan Jinri? Eww.

“Haha, tentu saja bukan. Kalau yang terakhir kali aku mengajak Eomma dan adik perempuanku ke sini, kali ini aku membawa istriku.” Kata Siwon dan merangkulku hangat.

“Kau sudah mempunyai istri? Aku saja tidak pernah mendengar kau pacaran dan sekarang kau sudah berisitri? Ckck, kehidupan sangat cepat berubah.”

Kami lalu tertawa bersama-sama. Tunggu dulu! Kalau yeoja yang terakhir kali Siwon bawa ke sini adalah Eomma dan Jiwon, serta ahjussi ini tidak pernah mendengar Siwon pacaran, itu artinya Siwon tidak pernah mengajak Jinri ke sini?

“Sekarang kau bisa menggambar kami, ahjussi?”

“Oh, tentu saja. Kalian berdua duduk di kursi itu.” perintahnya sambil menunjuk dua kursi plastik untuk kami duduki.

“Apa kau pernah mengajak Jinri ke sini?” tanyaku yang sangat penasaran.

Siwon menggeleng. “Tidak pernah. Jinri tidak menyukai hal seperti ini.”

Aku tersenyum senang. “Kali ini aku menang dari Jinri. Iya, kan?”

Siwon mengerutkan keningnya. “Apa kau sesenang itu?”

“Tentu saja.” Ucapku. Kugelayutkan tanganku di lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. “Aku selalu berharap bisa mengalahkan Jinri di hatimu.” Ucapku lirih tapi aku yakin Siwon mendengarnya.

Kulihat ahjussi itu mulai melihat ke arah kami dan menggerakkan tangannya dengan lincah, menggambar diri kami di atas sebuah kertas putih yang diletakkan di atas penahan.

“Apa ini akan lama, ahjussi?” tanyaku.

“Ah, ini gampang! Dalam waktu satu jam kalian sudah bisa membawanya pulang ke rumah.”

-ooo-

—Choi Siwon’s POV

Malam menyapa Seoul. Waktu berduaku dengan Jae Sik semakin sedikit. Setelah makan malam di restoran di daerah Insadong dan jajan dak-kko-chi yang dijual di pinggir jalan yang kami lewati, kami menghabiskan malam di Banpo Park yang terletak di tepi Sungai Han.

Jae Sik berjalan riang sambil meniup balon-balon air yang ia beli sewaktu kami berjalan-jalan di Insadong. Sementara aku membawa kantong-kantong belanjaan miliknya yang kebanyakan berisi kerajinan tradisional serta barang-barang antik yang menarik perhatiannya. Tidak lupa juga dengan kantong besar berisi gambar diri kami yang dibingkainya dengan bingkai yang besar.

Kami memutuskan untuk duduk di tepi Sungai Han. Jam masih menunjukkan pukul 21.10 malam, masih ada sepuluh menit lagi sebelum Banpo Bridge mempertunjukkan aksi air mancurnya yang berwarna-warni.

“Kau tidak capek?” tanyaku pada Jae Sik yang masih belum memperlihatkan wajah lelahnya.

Jae Sik berhenti meniupkan nafasnya pada sebuah stik berbentuk lingkaran yang jika dicelupkan pada air sabun dan ditiup akan menghasilkan gelembung-gelembung balon. “Aku tidak capek. Apa kau sudah capek?”

“Kau membuatku membawa semua barang belanjamu. Tentu saja aku capek.” Gerutuku pelan. Jae Sik hanya tertawa lalu kembali meniup. Ah…Jae Sik ini. Dia sangat terlihat kekanak-kanakan memainkan benda itu.

“Apa yang akan kau lakukan pertama kali saat aku sudah pergi dari kehidupanmu, Siwon-ah?” tanya Jae Sik tiba-tiba.

“Hm…aku,” aku berpikir sebentar. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan pertama kali saat Jae Sik pergi. “Yah…seperti biasa. Pergi bekerja dan sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Bagaimana denganmu?”

“Aku berpikir untuk pindah dan menetap di Jeju. Mengurus penginapan dan peternakan milik Halmeoni bersama Appa dan Eomma-ku.”

“Apa kau akan mencari penggantiku?” tanyaku. Jujur, aku tidak ingin mendengar dia menjawabnya bahwa dia benar akan mencari penggantiku.

Dia tersenyum. “Aku tidak tahu. Aku benar-benar sangat jatuh cinta denganmu, jadi kupikir tidak mudah untuk mengganti posisimu di dalam sini.” Jae Sik menyentuh dadanya. “Kau pasti akan menikahi Jinri setelah aku tidak ada.”

“Belum tentu. Aku tidak pernah terbayang untuk menikahi Jinri.” Jawabku.

Kami lalu terdiam cukup lama. Jae Sik kembali bermain-main dengan gelembung balon miliknya. “Kau lihat gelembung-gelembung balon ini, Siwon-ah?”

Aku melihat gelembung-gelembung hasil tiupan Jae Sik. Mereka terbang ke sana ke mari, mengikuti gerakan angin yang menerpanya lalu kemudian meletus tidak bersisa. Apa yang spesial dari gelembung-gelembung ini?

“Lihat, aku datang ke kehidupanmu,” dia meniup dan menghasilkan gelembung-gelembung berbagai macam ukuran. “Dan aku akan menghilang seperti ini. Hilang tak berbekas.” Dia menyentuh gelembung-gelembung balon itu yang kemudian meletus dan hilang.

“Setelah semua kenangan bahagia yang kau berikan padaku hari ini, aku sangat berterima kasih padamu, Siwon-ah. Walaupun kau tertawa, tersenyum, menggenggam tanganku, merangkulku hanya untuk membuatku merasa kebahagiaan sesaat dan bukan karena keinginan hatimu, aterima kasih karena telah membuatku merasakan indahnya berdua denganmu. Jeongmal gomawoyo. Setelah hari ini berakhir, aku berjanji, aku akan menghilang, sama seperti gelembung-gelembung balon yang meletus tadi.”

Dia menghilang seperti itu? Tidak! Dia tidak boleh menghilang seperti ini. Aku bahkan ingin hari seperti hari ini terus terulang di kehidupan kami. Aku tidak ingin mengakhiri hari ini dengan perpisahan. Aku masih ingin menggenggam tangannya, mengacak pelan rambutnya, tertawa bersamanya, dan masih banyak hal lagi yang ingin kulakukan bersama dengannya. Awalnya aku memang terpikir untuk hanya sekedar menyenangkannya, berakting agar dia senang, tapi pada akhirnya aku merasa nyaman dan melakukan semuanya itu dari hati.

Aku tidak tahu kenapa aku sangat ingin mengatakan hal ini, yang jelas…

Aku tidak ingin dia pergi.

Aku tidak ingin dia menghilang dari kehidupanku.

Air mancur lalu muncul di kedua sisi jembatan Banpo. Air mancur yang diperindah dengan pancaran warna-warni cahaya LED. Aku melihat wajah ceria Jae Sik saat melihat pertunjukan air mancur itu. Dia terlihat sangat takjub dengan air mancur itu seperti baru pertama kali melihatnya saja.

Gajima.” Ucapku kemudian.

Jae Sik menoleh padaku. “Kau berkata apa?”

“Jangan menghilang seperti balon itu.” Lanjutku dan dengan cepat kutarik tengkuknya dan menempelkan bibirku di bibirnya cukup lama. Kali ini kau benar-benar menang, Jae Sik. Kau membuatku jatuh cinta dalam waktu sehari saja. Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau pergi dari kehidupanku.

Aku melepas ciumanku. Kulihat ekspresi kaget Jae Sik.

“Apa ini termasuk dalam satu hari khusus untukku? Ini bukan nyata, kan? Kau tidak benar-benar menciumku, kan? Ini hanya untuk membuatku senang, kan?” dia lalu mengajukan banyak pertanyaan yang hanya perlu kujawab dengan simpel.

“Aniyo. Saranghaeyo, Jae Sik-ah.”

Aku kembali mencium bibirnya. Kurasakan pipiku yang terasa basah karena Jae Sik, si Yeoja cengeng ini kembali menangis. Kutarik tengkuknya yang membuat ciuman kami berdua semakin dalam dan aku yakin…aku tidak akan melupakan semua ini.

Our second kiss.

-ooo-

                Kurasakan sebuah tangan tengah memegang wajahku, menghapus airmata yang jatuh dari sudut mataku. Perlahan demi perlahan, kudengar suara seseorang yang sangat berisik.

“Dia kembali bangun, Eomma!”

Aku membuka mataku. Kulihat Jiwon tengah berdiri di sampingku. Tangannya memegang wajahku. Tak lama kemudian, aku melihat Appa dan Eomma-ku turut mendekati ranjangku. Wajah mereka terlihat sangat khawatir. Aku mengernyitkan keningku. Kenapa aku kembali terbangun dengan keadaan seperti ini? Aku kembali terbaring di ranjang rumah sakit, lengkap dengan baju rawat rumah sakit yang berwarna biru dan putih ini.

Aku memutar kedua bola mataku, mencari sosok yang harusnya juga ikut berdiri di antara mereka bertiga. Tapi tidak ada. Jae Sik tidak ada di antara mereka. Di mana dia? Di mana?

“Siwon-ah, akhirnya kau bangun juga, sayang.” Ucap Eomma.

“Kenapa denganku?” tanyaku bingung.

“Kau sudah sebulan tidak bangun dari komamu, Siwon-ah.” jawab Appa-ku.

“Oppa~” suara itu datang dari Jiwon. Ia memelukku dengan erat.

“Jiwon-ah, di mana Jae Sik?”

Jiwon melepas pelukannya. “Jae Sik Eonni masih belum sadar, Oppa.”

-ooo-

Aku berjalan masuk menuju sebuah ruang rawat. Di dalamnya terbaring Jae Sik yang Jiwon katakan belum sadar. Bagaimana bisa dia belum sadar? Bukankah kami melewatkan satu hari yang menyenangkan bersama-sama? Kenapa bisa dia yang terbaring di sini pergi bersamaku ke Pulau Nami?

“Jae Sik…” kudekati ranjang tampat ia berbaring dan duduk di sampingnya.

Tidak ada jawaban. Hanya sunyi dan sangat sepi.

“Yak! Kalau kau tidak bangun, aku akan menyentil dahimu lagi!” ancamku agar dia bangun. Tapi, dia tidak bangun. Apa yang kau lakukan di sini, Jae Sik? Harusnya kau bangun dan mengupaskan apel untukku!

Kugenggam tangannya dengan erat, seerat kami bergandengan tangan di sepanjang perjalanan kami ke Pulau Nami. “Jae Sik-ah, Mianhae. Selama ini aku tidak pernah membahagiakanmu dan justru selalu membuat hatimu sakit. Mianhae karena telah mengabaikan keberadaanmu selama ini yang selalu ada di sampingku. Bangunlah! Aku akan mengubah semuanya. Kita akan memulainya dari awal. Kita  akan pergi ke Pulau Nami, berjalan-jalan di Insadong dan melihat air mancur di Banpo Bridge. Bangunlah! Aku tidak akan melakukan semua itu jika bukan bersamamu.”

Aku beranjak dari dudukku. Kusingkirkan poninya yang menutupi kening cantiknya. Kukecup dengan penuh rasa sedih. Aku menangis. Lihat, Jae Sik! Kali ini kau harus bertanggung jawab karena kau membuatku menangis. Bukankah cuma kau yang selalu menangis? Kenapa aku juga ikut cengeng seperti ini?

“Eugh…”

Aku terkejut mendengar desahan kecil Jae Sik. Kurasakan tangannya yang berada di genggamanku bergerak. Jae Sik terbangun! Tuhan, Jae Sik bangun! Terima kasih!

Jae Sik membuka kedua matanya. Ia terlihat sangat bingung. Beberapa kali ia memutar bola matanya hingga akhirnya tatapannya berakhir padaku. “Kenapa denganku?”

“Kau sudah sebulan tidak bangun dari komamu, Jae Sik-ah.” jawabku, menuruti perkataan Appa-ku.

“Koma? Aku koma? Tapi…rasanya aku tadi sedang duduk bersamamu di bawah Banpo Bridge, menikmati air mancur warna-warni denganmu, kita tidak pernah sedekat itu dan kemudian kita saling…”

Aku terkesiap dengan perkataan Jae Sik. Apa kami memiliki mimpi yang sama? Rasanya…sangat tidak mungkin. “Kau bermimpi seperti itu juga?” tanyaku penasaran. “Kau bermimpi bahwa aku menciummu di bawah Banpo Bridge?

Jae Sik mengangguk. “Maksudmu, kau juga bermimpi seperti itu? Mimpi kita berdua sama?” tanyanya tidak percaya. “Hey, apa ini benar?” tanyanya ulang.

Aku tersenyum pada Jae Sik, sedangkan Jae Sik masih terlihat bingung.

“Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku?”

-ooo-

Ya…mimpi kita berdua sama. Setiap orang punya cerita jatuh cinta yang berbeda-beda. Sepertinya Tuhan membuatku jatuh cinta padamu dengan cara yang berbeda. Aku jatuh cinta padamu di dalam mimpi panjangku. Mimpi yang kita lalui adalah mimpi yang sama.

Mungkin kau akan kebingungan. Tapi, aku benar-benar sangat jatuh cinta padamu, Jae Sik. Bukan hanya di mimpi, tapi hingga aku terbangun dari tidurku dan menyapa setiap hariku bersamamu. Aku tidak akan mengabaikan keberadaanmu lagi, aku akan menggenggam erat tanganmu seakan-akan tidak ingin kau pergi, merangkulmu hangat, tertawa dan tersenyum bersamamu…ya, aku akan melewati hariku bersamamu.

Hanya bersamamu.

Aku ulang.

Bersamamu. Selamanya.

—Autumn’s Confusion—

-ooo-

A/N : Annyeong! ^^ Udah lama gak ngirim FF ke SJFF ini. J Kali ini Author pake makhluk Tuhan paling sekseeeh dan alim sebagai cast-nya 😀

Guys, all characters in this story are fictitious —Siwon is not mine and belong to her parents and SMEnt, but Shim Jae Sik is mine :p—  Any resemblance to any events or any person living or dead is purely coincidental, okay?

Happy Reading^^~

1 Comment (+add yours?)

  1. ShellaISJ
    Jun 24, 2017 @ 04:14:58

    Ini cerita yg paling aku suka dari seri Autumn di blog kakaak hihi, ga pernah bosen bacanya dan sekarang di publish disini juga, ceritanya manis banget, ending nya manis cuma menurut aku kecepetan sih hiks, ga terima jaesik nya langsung sadar dan nerima gitu wkwk, tapi emang ide ceritanya kan siwon jatuh cinta pas dalam keadaan koma, dan itu so…sweet

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: