Baby Maybe

Baby Maybe

Author: Tyas (@puspa_tyas)

 


***

Han Sunji’s POV

“Cho Kyuhyun?” aku mengerutkan keningku saat melihat Pin-Up majalah langgananku. Seorang pria dengan senyum mesum dan wajah yang sepertinya hanya bisa di sentuh eommanya. Menyebalkan.

“Pin-Up? Oh, sepertinya dia artis trans gender lagi! Hahaha…” aku menyikut rusuk Seojin.

“Ini angkutan umum, babo! Kalau ada fansnya, kita bisa dibunuh karena menghina idolanya, bagaimana?”

“Setidaknya aku tidak perlu membayar biaya pemakamanmu, Sunji-ah!”

“Ya!” aku hampir saja memukul kepalanya jika bus yang kutumpangi ini tidak berhenti mendadak. “Ya, pak supir! Kalau tak bisa menyetir, biar kuputar otakmu agar bisa menyaingi trenggiling! KALAU MAU NGEREM, BILANG DULU!!” aku langsung berjalan menuju pintu bus. Semua penumpang menatapku dengan tatapan yang bermacam-macam. Ada yang takut, meremehkan, bahkan abstrak.

Pintu gerbang sekolahku sudah terlihat dari jauh. Seperti biasa hanya anak-anak biasa yang keluar-masuk dari sana. Ya, sekolahku bukan sekolah orang-orang ber-uang. Tapi, setidaknya sekolahku menduduki kluster pertama meski di barisan ke-7.

Yeonghee Secondary School. Sekolahku yang paling kucinta. Sekolah yang menjadi favorit di kalangan orang-orang sepertiku yang agak susah mencari uang. Tapi, berkualitas di bidang ilmu pengetahuannya.

“Sunji-ah!!” aku melirik kearah pertigaan jalan dekat gerbang sekolah. Orang itu selalu saja berteriak dari jauh. “Sunji-ah, aku punya sesuatu untukmu.”

“Ya, Kang Jeongru! Bisakah kau tidak menemuiku sehari saja?!” ujarku. Ia menaikkan kacamatanya yang melorot itu.

“Wae? Aku kan ingin selalu melihatmu!” ucapnya.

“Kalau begitu sih, aku yang jijik!”

“Ya, Kang Jeongru! Sunji sudah berkata berpuluh-puluh kali bahwa ia tidak menyukaimu! Tak bisakah kau mencari yeoja lain yang bisa kau ganggu?” bentak Seojin.

“Aku hanya ingin memberimu ini,” Jeongru mengeluarkan sebuah kotak besar dari tasnya. Lagi-lagi…

“Sekaya itukah kau?”

“Hah?” Sepertinya Jeongsu tidak mengerti ucapan mahluk bumi.

“Neo!” tunjukku padanya. “Hampir setiap hari memberiku hadiah dan semua warnanya sama – merah!”

“Memangnya kenapa?! Merah kan warna pemberani…”

“KAU MEMBERIKU BARANG BERWARNA MERAH MUDA!!” aku melempar hadiahnya lalu pergi menuju kelasku.

“Dia sangat mencurigakan,” bisik Seojin.

“Benar.”

Sampai di kelas, beberapa temanku sedang berkumpul. Sepertinya menonton berita. Seperti biasa.

… Kepindahannya ini disebabkan orang tuanya yang pindah ke Seoul.

“Pindah ke Seoul? Memangnya kenapa?” celetukku. Anak-anak itu langsung menatapku aneh.

“Oh, Sunji-ku sayang… Makanya kalau menonton berita itu jangan setengah-setengah, babo!” ujar Yoobi – teman sekelasku.

“Memangnya ada apa?” aku menatap Yoobi dengan tatapan Tanya.

“Cho Kyuhyun. Tadinya dia sekolah di Ulsan. Namun, orang tuanya baru saja pindah dari Gunma – Jepang – kemari. Makanya, Kyuhyun pindah sekolah.” Jelasnya.

“Sekolah mana?”

“CHO KYUHYUN!!!” aku membalikkan tubuhku. Semua anak perempuan berlari menuju gerbang sekolah dengan terburu-buru.

“Cho Kyuhyun di sini?” Yoobi dan yang lain ikut melirik. Sepertinya mereka sama tidak tertariknya sepertiku.

Semua anak di dalam kelasku keluar. Hingga hanya aku, Yoobi, dan Seojin yang sedari tadi diam di sebelahku.

“Kyuhyun?” Robert atau nama jelasnya Robert Cloister – entah kenapa namanya seperti itu, mungkin saat ia lahir, eommanya melahirkannya di beranda rumah. Ia datang seperti biasa – dengan tas ransel yang ia sampirkan di bahu kirinya dan menyelipkan tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Jas yang ia kenakan – sepertinya tidak pernah tersentuh tangan manusia. Hih,

Robert lahir di Washington DC dan pindah ke Seoul karena sebuah ‘pekerjaan’ yang ayahku tawarkan. Dia orang yang ramah dan cerdas.

“Dia seorang penyanyi. Dia lahir di Seoul. Hanya saja karena orang tuanya pindah ke Gunma, Kyuhyun dirawat oleh neneknya di Ulsan. Menyedihkan,” Yoobi beranjak dari bangkunya dan mendekatiku dan Robert. “Sepertinya dia akan melakukan sesuatu pada anak baru itu.”

“Siapa?” aku mengerutkan keningku.

“Siapa lagi kalau bukan dia, babo!” Seojin menoyorku dengan agak kasar. Jelas, orang bodoh tidak perlu kelembutan. Tunggu, aku tidak bodoh!

“Dia datang,” Robert menatap pintu masuk. Ya, sang leader kelas 12-A.

“Victoria!” seru Seojin. “Kau pasti sudah tahu.”

“Tentu. Anak menyebalkan itu membuatku harus berdesakkan melewati gerbang.” Ia berjalan menuju bangkunya dan menaruh tas itu. Melemparnya.

Truth or Dare – kutunggu di tempat biasa!” kami semua mengangguk. Victoria sepertinya punya permainan maut untuk kami – yang tidak beruntung.

^-.-^

Kami semua sudah berkumpul di dorm. Ah, ini kamar kos yang sengaja kami sewa untuk acara berkumpul kami.

“Vic, kau dulu yang memutar.” Robert bertitah. Song Qia – atau orang bernama sandi ‘Victoria’ – itu hanya memasang wajah menyebalkan sambil memutar botolnya.

Botol itu memang tahu siapa yang paling banyak menyimpan rahasia. Vic tersenyum licik saat botol itu menunjuk Seojin.

“Drew, sepertinya botol ini bertuah.”

“Jangan buang-buang waktu, Vic.”

“Baiklah.” Vic menghembuskan nafasnya. “Kasus pembunuhan dua bulan yang lalu – apa kau masih takut dengan wajah korban yang hancur?”

“Kau yang terbaik, Vic!” Robert hampir terjungkal tertawa. Yoobi makin-makin parah. Aku hanya terkekeh melihat wajah Seojin – yang bernama sandi ‘Audrew’ – yang sudah gosong kepanasan.

“Kau pemimpin yang bijak, Vic. Memperhatikan anak buahnya dengan baik – hanya saja, lain kali aku tidak mau menerima pertanyaanmu.”

“Jangan banyak bicara! Jawab atau terima tantangan?” Vic mulai malas.

“Karena kasus itu, aku tidak berani mematikan lampu kamar saat tidur. Bahkan, terkadang aku masih ngompol jika mengingat wajah hancur korban itu. Hih.”

“Berikutnya, aku!” Robert memutar botol itu dan tepat menunjuk Yoobi.

“Jika kalian mau aku menjawab siapa yang bercumbu denganku kemarin, kalian tidak akan mendapat jawabannya!” tegas Yoobi.

“Memang kami bodoh? – pria mana yang mau bercumbu dengan juara 1 lomba karate se-Korea Selatan?” Vic menengahi.

“Carissa, apa kau masih dibayangi wajah kakakmu saat menatap wajah Drew?” Yoobi – sandi = Carissa – menatap Seojin sebentar, lalu ia menggeleng.

“Tidak akan pernah terlupakan – tiap kali menatap Audrew, air mataku selalu ingin keluar.”

Kakak Yoobi mati terbunuh oleh organisasi bernama ‘Disaster’. Nama yang sangat jelek untuk sebuah organisasi paling mematikan di Korea.

Bicara tentang organisasi, ayahku adalah seorang mata-mata dari Washington DC. Vic dipilih ayah menjadi leader dalam kelompokku. Ya, kami membantu ayah menemukan orang-orang dari organisasi itu. Organisasi itu sangat mematikan. Mereka memeras korbannya dan membunuhnya tanpa ragu dan tidak berbekas.

Ayahku mengenal Vic saat mengawasi sekolahku dan melihat Vic yang berjalan keluar gerbang dengan gagahnya. Ayahku memang tidak salah pilih.

Masalah organisasi itu pun belum ada yang tahu. Semua orang – termasuk kepolisian Korea. Organisasi ini berasal dari Washington DC yang awalnya hanya sebuah organisasi yang mencuri semua harta korbannya. Namun, lama-kelamaan mereka menjadi orang-orang berhati hitam yang bahkan berani mencabik daging korbannya jika berpotensi membocorkan rahasia mereka.

Kembali ke benang merah…

“Jangan dipikirkan.” Vic berbicara. “Kau makin kelihatan lemah, Car.”

“Aku yang akan memutar.” Aku mengambil botol itu dan memutarnya. Tepat di depan Robert botol itu berhenti.

“Kurasa aku akan mengambil tantangan darimu, Esmeralda.” Jawab Robert. “Aku yakin kau akan bertanya padaku tentang apa yang dikatakan appamu.”

“Aku tahu apa yang appaku katakan padamu. Ia menyuruhmu memiliki sandi, kan?”

“Begitulah.” Ia menatapku tajam. “Apa tantangannya? Aku tahu sejak awal kau tidak berniat menanyakan sesuatu padaku.”

“Kubur dirimu hidup-hidup!” yang lain hanya tertawa. Robert menatapku jengkel.

“Hanya orang bodoh yang akan menyuruhku melakukan itu!”

“Dan butuh otak yang bodoh pula untuk mengartikan ucapanku!”

“Aku serius!”

“Baik, baik.” Aku menghela nafas. “Ketahui – apa yang dilakukan Seo seonsaengnim si guru matematika itu kemarin malam.”

“Memangnya ada apa?” Audrew menatapku.

“Kemarin Esmeralda melihat Seo seonsaengnim menelepon seseorang di belakang sekolah tepat jam 7 malam.” Jelas Vic.

“Kemarin saat aku pulang dari kumpul club tinju, aku melihatnya bercakap-cakap dan berkata ‘Dengan senang hati, Jupiter.’.” aku menunduk.

“Jupiter?” semua berteriak – terkecuali aku dan Vic.

“Dia – kalau tidak salah anggota baru di organisasi itu? Hanya saja wajahnya belum diketahui.” Carissa sepertinya benar-benar up-to-date tentang masalah organisasi itu.

“Dia orang yang sangat penting di organisasi itu. Kalau kita bisa menangkapnya dan membocorkan semua rahasia, kurasa akan sangat mudah untuk mencari titik terang organisasi itu.” Robert berkata.

“Jangan sembarang, Robert! Jupiter bukan tandingan kita! Ia sangat jago menembak melebihi dirimu! Aku memintamu untuk menyelidikinya saja. Mengetahui wajah dan cara mereka berkomunikasi!” Vic naik darah.

“Bukannya Esmeralda yang memberiku tantangan?” Robert mengangguk mengerti. “Kalian bersekongkol.”

“Jangan bahas!” Vic beralih padaku. “Aku punya tugas untukmu.”

“Apa itu?”

“Selidiki orang-orang baru yang masuk ke sekolah ini. Totalnya ada 3 orang.”

“Aku tahu, aku tahu… Jeongru, anak baru yang terus menerus mengejarku, Kyuhyun, murid pindahan itu, dan Seo seonsaengnim.”

^-.-^

“Seo seonsaegnim, biar aku yang tangani.” Seojin menyikut rusuk Robert. Aku menatapnya jengkel.

Kami sedang berada di kelas. Guru pelajaran jam keempat memang jarang ada. Ini menjadi kesempatan untuk kami mengobrol. Hanya saja Vic sedang ke ruang guru.

“Biarkan Vic yang menentukan!” ujarku. Yoobi malah tertawa.

“Vic tidak di sini! Dia –“

“GYAAAAA!!!”

Kami semua menatap gedung olahraga di samping kelas ini. Sebuah teriakan terdengar dari dalam sana. Bukan firasat baik.

Aku mengambil start duluan. Aku berlari menghampiri sumber suara. Semua orang yang mendengar jeritan itu ikut masuk dan melihat apa yang terjadi.

Dan sebuah kejadian terjadi…

“Jeongru tewas!!” ternyata yang berteriak adalah anak kelas 12-C yang sekelas dengan Jeongru.

“Belum tentu,” Robert mencoba memperhatikan tubuh Jeongru yang tenggelam di kolam renang tersebut. Mengambang.

Trap, Trap…

“Apa yang terjadi?” Victoria berdiri di depan pintu. Nafasnya terengah-engah.

“Kau telat, Qia!” Robert mendekati tempat menguras air.

“Di-dia… Dia dibunuh!!” Seorang gadis dari kelas 11-B menatap Jeongru dengan badan yang gemetaran. Tangannya sudah tidak bisa diam. Ia langsung berlari keluar gedung olahraga.

Vic langsung menengahi. “Maaf, sepertinya kalian tidak boleh berlama-lama di sini. Maaf, bisakah kalian keluar?”

“Siapa kau?” seseorang dari kerombolan itu berbicara. Dengan tegas, Vic menekankan kata-katanya.

“Kami adalah utusan kepala sekolah! Kami mempunyai izin untuk berdiam di sini!”

“Jangan ganggu dia! Dia Song Qia dari kelas 12-A bersama teman-temannya.” Seseorang di sebelah orang tadi berbisik. Semua orang keluar dari gedung olahraga.

“Beruntung kelapa sekolah adalah anak buah Black Apple!” Vic menghela nafas. Black Apple adalah sebutan untuk ayahku. Berbahaya jika mata-mata tidak memiliki nama sandi. Jangan Tanya Robert! – dia selalu berkata nama sandi membuat nama aslinya yang ‘menurutnya’ bagus itu terdengar biasa.

“Ada apa?” seseorang datang ke dalam gedung olahraga. Badan tinggi, tegak, dan gagah itu masuk dengan seenaknya kemari.

“Diam di sana, Tuan Cho!” Robert memperingatkan. “Di sini bukan tempat –“

“Orang-orang awam? Oh, seahli itukah kalian?” Kyuhyun maju mendekati kolam. Air kolam sudah terkuras dan menyisakan jasad Jeongru yang sudah tak berdaya itu.

“Perkiraan kematiannya sekitar 20-30 menit yang lalu. Mungkin tepatnya saat bel jam keempat berbunyi.” Kyuhyun memperhatikan tubuh Jeongru. Tatapan serius. Oh,

“Bisakah kau menyingkir?” Kyuhyun membalikan tubuhnya dan menatapku.

“Nuna!” Jengkel! Setidaknya aku tidak setua itu untuk di sebut ‘nuna’!

“Kau lebih tua daripadaku, Kyu.” Robert menyelidiki Kyuhyun. Menatap tubuh itu seperti mencari cacat.

“Tapi aku kelas 11. 11-A.” ujar Kyuhyun.

“Kami tidak peduli.” Yoobi mendekati mayat Jeongru. Memotretnya. “Bisakah kau keluar? Tubuhmu bau minyak bayi! Aku muak dan ingin muntah.”

“Perlu hidung orang yang berbau bangkai untuk mengendus bau bayi ini!” Kyuhyun berjalan keluar. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, ia kembali ke dalam dan duduk di bangku dekat pintu. “Aku tetap di sini!”

“Ya!” Seojin hampir naik darah. Beruntung, Vic bisa menanganinya.

“Biarkan!”

“Tapi, Vic, bagaimana kalau dia mengetahui sandi –“

“Jangan panggil Black Apple.” Bisikku di telinga Seojin. Ia pun menenang.

“Aku akan panggil orang-orang yang pada jam pelajaran keempat tidak ada di kelas.” Ujarku. Aku lalu menunjuk Robert.

“Kau selidiki hal aneh di tubuh korban. Vic, kau hubungi polisi dan ambulance. Seojin dan Yoobi, cari barang bukti di sekitar sekolah. Aku yakin pelakunya masih di dalam sekolah dan tak sempat melenyapkan barang bukti.”

“Baik!”

^-.-^

Author’s POV

Sunji berlari menuju kelas. bel pelajaran kelima sudah berbunyi. Sementara teman-temannya yang lain menjalankan tugasnya seperti titah Sunji.

“Dia ketua gang kalian?” tak ada yang menghiraukan Kyuhyun. Keempat orang yang ada di gedung olahraga itu menganggap suara Kyuhyun bagaikan angin pagi yang hawa dinginnya hanya cukup untuk membuat mulut orang berkata ‘Brrr’.

“Bukan dia,” Victoria menyimpan kembali ponselnya. “Hanya saja kalau soal menyusun rencana, dialah yang paling bisa diandalkan.

“Kenapa masih di sini?” Yoobi menatap jengkel Kyuhyun. Kyuhyun hanya mengangkat bahunya.

“Hanya malas belajar.”

“Aku tidak percaya kau seorang penyanyi.” Seojin masih mencari sesuatu di sudut gedung olahraga itu. Ia terus-menerus mengumpat Kyuhyun yang ada di sini.

Drrt,

Vic menatap ponselnya. Sebuah ketukan kaki ia bunyikan. Yang lain langsung menyibukan bertanya pada Kyuhyun. Segalanya.

Vic menjauh dan mengangkat panggilan dari ponselnya.

Jeongru tewas?

“Ne. Sepertinya dia tidak termasuk anggota organisasi itu.”

Tidak! Selama kita tdak tahu siapa itu Jupiter, kita tidak bisa mengambil keputusan secepat itu, Vic. Selidiki dua orang itu.

“Ne, algesimnida, Mr. Black Apple.”

Vic mematikan sambungannya dan berjalan mendekati yang lain. ia menatap Robert yang masih melihat-lihat mayat itu.

Seseorang tersenyum licik. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan.

Dapat satu kelinci, kotak surut dalam air.

^-.-^

“Dari seluruh kelas, aku mendapatkan tiga orang ini.” Sunji menggiring tiga orang murid. Dua orang siswi dan satu orang siswa.

“Dia bernama Jang Minseok. Kelas 12-C. dialah yang menemukan mayat Jeongru pertama kali.” Sunji menunjuk gadis yang sedari tadi gemetaran itu.

“Dia adalah Lee Yeyoo dari 10-A.” Sunji menatap sebal kearah gadis itu. “Dia yang tadi bertanya ‘Siapa kau?’ padamu, Qia.”

“Oh,” Vic hanya mengangguk.

“Eh,” Kyuhyun menunjuk Yeyoo. “Bukahkan kau yang selalu bertengkar dengan namja-namja di sekolah ini, ya?”

“Begitulah.” Yeyoo berdalih. “Mereka mengangguku dan berkata kasar padaku. Mereka tidak suka anak kelas 10 yang angkuh sepertiku.”

“Lalu –“ aku hendak menunjuk siswa yang berdiri di depanku itu, namun ia langsung memotong.

“Aku Kim Seonim. Aku anak kelas 12-D. Bisakah aku kembali ke kelas?” ujar siswa tadi.

Polisi menatap mereka bertiga. Mereka curiga melihat gelagat tegang yang Minseok terus tunjukkan.

“Baiklah. Pertama kau. Saat jam pelajaran keempat, kemana dan mengapa kau keluar dari kelas?” Tanya seorang polisi. Minseok masih tegang.

“Bu-bukan aku pelakunya!”

“Makanya, kau harus memberikan kesaksian.”

“A-aku bermaksud ke toilet di sebelah gedung ini pada jam pelajaran keempat. Di toilet, aku menatap jam dan sekitar dua menit sebelum bel kelima berbunyi. Aku pun buru-buru keluar. Saat aku keluar dari toilet, aku melihat air kolam yang tidak tenang. Makanya aku masuk dan ternyata itu mayat seseorang.” Jelas Minseok.

“Dia tidak bohong.” Ujar Sunji. “Saat kemari, bawah sepatunya basah dan tangannya belum kering betul. Ia benar-benar ke toilet. Aku pun sudah menyuruh Seojin dan Yoobi untuk menggeledah barang di tas masing-masing dari mereka. Tinggal tunggu laporan dari kedua rekanku saja.”

“Hmmm,” Polisi itu hanya mengangguk. Ia lalu menatap Yeyoo. “Kalau kau?”

“Aku siswi baru di sini. Aku baru saja pindah lima hari yang lalu. Tadinya aku ingin ke ruang guru untuk meminta tugas karena guru di jam pelajaran keempat tidak ada. Tapi, saat akan menuju ruang guru, aku tersesat dan malah ke ruang multimedia. Seseorang di sana memberitahuku jalan menuju ruang guru. Makanya aku agak telat kembali ke kelas.”

“Baiklah. Selanjutnya kau.” Polisi itu menunjuk Seonim.

“Aku keluar dari kelas karena disuruh mengambil alat peraga di Lab Biologi. Setelah itu, aku kembali ke kelas sambil membawa beberapa alat peraga.”

Robert menatap Kyuhyun yang sejak tadi terus menatap Yeyoo. Ada apa dengannya? Pikir Robert.

“Aku menemukan sesuatu.” Yoobi menunjuk lemari P3K di dekat loker di pojok gedung ini. “Di sini tidak ada tali yang biasanya dipakai untuk kegiatan renang.”

Vic mendapat pesan dari Mr. Black Apple. Ia lalu berjalan menuju pojok ruangan dan membaca isi pesan itu. Sunji yang melihatnya pun menghampiri Vic dan ikut membaca pesan itu.

Seseorang di dekat kalian adalah orang berbahaya. Salah satu diantara mereka mengirimkan sebuah pesan ‘Dapat satu kelinci, kotak suruh dalam air.’. perhatikan gerak-gerik orang-orang itu.

Siapa yang dimaksud ‘orang itu’? Apa maksud dari ‘Dapat satu kelinci, kotak surut dalam air’? Dan, siapa pengirim pesan itu? Apakah Kyuhyun? Atau… ketiga ‘orang’ tersebut?

^-.-^

Han Sunji’s POV

“Mereka sengaja.” Ujar Vic sambil menatap pesan itu. “Mereka sengaja menunjukkan pesan ini pada kita.”

“Dia mengirimkan pesan tanpa menyembunyikan maksud mereka?” Tanya Yoobi. Aku hanya mengangguk.

“Mereka membuat operator dapat melihat pesan yang mereka kirim. Hanya saja, lagi-lagi kita tidak bisa melacak ponsel mereka.” jelasku.

“Yang harus kita lakukan adalah mengetahui arti dari tulisan ini.” Seojin mencoba berfikir.

“Tidak! Yang harus kita lakukan adalah mengetahui siapa pembunuh Jeongru.” Vic menatap ketiga orang yang sedang diinterogasi itu.

Tiba-tiba Kyuhyun bangkit dan mendekat pada ketiga orang itu.

Yang pertama kali ia hampiri adalah Seonim. “Sunbae, sebentar lagi ada pelajaran biologi di kelasku. Kau tahu dimana alat peraga itu di simpan di lab?” tanyanya.

“Kalau tidak salah, mannequin itu di simpan di atas lemari dekat lemari tabung reaksi. Kau harus berhati-hati jika mengambilnya – gelas-gelas itu mudah pecah jika jatuh.” Jawab Seonim

“Oh, gamsahamnida, sunbae.” Kyuhyun lalu berjalan mendekati mayat Jeongru. “Minseok-ah, saat kau lihat korban, apa ada benda yang bergeser tidak seperti biasanya?”

“Tidak. Semua tetap seperti semula.” Jawab Minseok.

“Sepertinya korban diikat saat di tenggelamkan.” Robert memperhatikan mayat Jeongru. Kami pun ikut menatap mayat itu. Di pergelangan tangannya terdapat bekas ikatan dan di pergelangan kakinya juga terdapat bekas yang sama.

“Kita hanya harus mencari tali itu.” Tegas Vic. Tapi, salah satu polisi itu menghampiri kami.

“Kami menemukan ini di tong sampah di toilet.” Aku menatap tali yang lembab itu. Ya, tali itulah yang mengikat tangan dan kaki korban saat di tenggelamkan.

“Tapi, bukan aku pelakunya!! Sungguh!!” Minseok langsung mundur dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ah, aku harus ke lab computer.” Kyuhyun menatap jamnya. Ia lalu menghampiri Yeyoo. “Aku tidak pernah ke lab computer.”

“Lurus dan belok kiri. Di pertigaan belok kanan dan kau akan menemukan ruang bertuliskan ‘Lab Computer’.” Ujar Yeyoo.

“Gamsahamnida. Soalnya aku suka tertukar belok kanan atau belok kiri.” Kyuhyun pun pergi dari gedung ini.

Tunggu, Lab Computer?

“Ada apa, Sunji-ah?” Tanya Seojin. Aku tersenyum licik.

“Pelakunya bukan orang baru.”

“Eoh?” Semua menatap kearah tiga orang itu. Aku berjalan mendekati ketiga tersangka itu. Dua orang nampak tenang, sedangkan yang satu terus gemetaran.

“Kalian bertiga sama-sama tidak memiliki alibi yang sempurna. Lagi pula, pembunuhan sederhana yang keji ini tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk melakukannya.” Ujarku.

“Apa maksudmu?” Seonim menatapku tajam.

“Kau mengira salah satu dari kami adalah pelakunya?” teriak Yeyoo.

“Bukan mengira, tapi memang pelakunya diantara kalian.” Aku menatap Yeyoo tajam. “Iya kan, Nona Lee?”

“Mwo?” semua menatapku. Tatapan tidak percaya pun dilontarkan Yeyoo. “Mworago?”

“Kau bilang kau adalah siswi pindahan lima hari yang lalu. Tapi, kau tahu dimana ruang multimedia dan Lab Computer. Dulu, saat aku kelas 10 – baru masuk sekolah ini, aku bahkan butuh waktu tiga minggu untuk membedakan mana Lab Computer dan Multimedia.”

“Oh ya, Lab dan Multimedia memang ada di blok yang berbeda, hanya saja sekilas kedua ruangan itu nampak sama bahkan persis sama. Terlalu sulit menghapal ruangan itu dalam waktu lima hari.” Timpal Yoobi.

“Lagi pula, kalau kau tidak tahu ruang guru, kenapa kau bisa tahu bahwa ruang yang kau datangi adalah multimedia?” aku menatap Yeyoo yang terkekeh.

“Hanya karena itu? Konyol!” ujarnya.

“Tidak, tidak.” Vic menggeleng. “Kau tadi tidak bilang bahwa kau ke toilet.”

“Aku memang tidak ke toilet.” Yeyoo tersenyum meremehkan.

“Tapi sepatumu basah,” tunjuk Seojin.

“Lihat tanganmu! Kau sepertinya baru memegang benda yang kasar.” Robert ikut menunjuk tangan Yeyoo.

“Seragammu juga basah,” Aku menunjuk seragamnya yang memang agak lembab itu.

“Mungkin jika kita periksa sidik jari di tali itu, kita bisa tahu siapa pelakunya.” Robert berpangku tangan di dadanya.

Yeyoo ambruk. “Kalian bangsat!”

“Dan butuh hati seorang bangsat untuk mengetahui bahwa kami ini bangsat!” ucapku. “Kau membunuh Jeongru dengan cara membuatnya kelelahan, kan?”

“Kau mengikat tangan dan kaki Jeongru lalu menceburkannya dengan posisi berdiri. kedalam kolam ini setinggi badan Jeongru. Kalau Jeongru mendongak ke atas di dalam air, maka hidungnya bisa meraih udara. Tapi, kau membuatnya kelelahan hingga ia menyerah. Keji sekali!” papar Vic.

“Tinggal alasanmu melakukan itu. Mungkin karena kau sering dihina –“ ucapanku terpotong.

“Aku lebih dari sekedar dihina olehnya. Aku bahkan hampir kehilangan keperawananku saat di Lower Secondary School dulu. Aku terus memata-matainya dan mengetahui ia sekolah di sini. Tapi, apa mau dikata, dia sudah pergi.” Yeyoo pun bangkit dan langsung di borgol oleh polisi.

^-.-^

Author’s POV

Yeyoo berjalan keluar dari gedung olahraga itu dengan kawalan polisi disetiap sisi tubuhnya. Saat ia keluar, ia menatap Kyuhyun yang masih bersender di samping pintu.

“Kau berhasil, Grevil!” bisik Yeyoo lalu kembali berjalan.

Kyuhyun tersenyum licik. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Besok aku ada acara menyanyi? Hmmm, sepertinya ada yang lebih menarik ketimbang bakatku.”

Di dalam gedung olahraga, Qia, Seojin, Sunji, Yoobi, dan Robert berkumpul dan kembali menata pesan dari Mr. Black Apple.

“Dapat satu kelinci, kotak surut dalam air?” Robert mengerutkan keningnya.

“Kurasa yang dimaksud kotak di sini adalah ‘harta’. Sesuatu yang berharga akan surut saat mereka mendapat satu kelinci.” Ujar Sunji.

“Kelinci? Mungkin kelinci itu adalah pencari harta?” tebak Seojin.

“Salah satu dari kita adalah kelinci untuk organisasi itu.” Balas Sunji.

“Tapi, siapa?” Robert menatap kami.

^-.-^

Song Qia’s POV

Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Sambil terus mengeratkan cardigan yang kukenakan.

Aku melihat Kyuhyun berdiri di depan gerbang. Sepertinya sedang menjawab sebuah panggilan. Aku berjalan mendekatinya. Saat itu juga, ia mematikan sambungannya dan menatapku.

“Nuna, kau mau pulang?” tanyanya.

“Jelas, bukan?” balasku. “Oh ya, terima kasih atas petunjuknya.”

“Cheon –“

“Pembohong!” ujarku penuh penekanan.

“Ne?”

“Kau baru saja pindah kemarin. Bagaimana kau tahu bahwa Yeyoo sering dihina? Lalu, kau menanyakan tempat diletakannya mannequin peraga namun kau menanyakan lab computer. Pandai sekali. Aku jadi penasaran – siapa kau?”

“Aku Cho Kyuhyun – dan seorang penyanyi yang pandai.”

“Baiklah.” Aku mengangkat tanganku dan melambaikannya pelan.

“Kau pemimpin,” aku terdiam saat ia bersuara. Ia mengantungkan ucapannya. Aku berbalik dan menatapnya. “Tapi bukan kau yang menonjol.”

“Bagaimanapun juga, putri itu lebih dari segalanya.”

^-.-^

Hari ini kumpul di rumahku. Banyak hal yang harus kita cari tahu.

Aku menatap pesan dari Esmeralda. Aku baru saja bangun dari tidurku. Hari ini hari minggu. Harusnya aku bisa istirahat.

Aku berjalan memasuki gerbang rumah Esmeralda. Rumahnya sederhana. Tentu – ia sebetulnya mampu membeli rumah sebesar dua kali gedung bioskop, hanya saja itu akan membuatnya mencolok.

Di samping rumah gubuk itu terdapat menara yang cukup tinggi. Kira-kira terdapat 8 lantai di dalamnya. Dan yang membuatku lebih tercengang adalah isi dari menara itu.

Aku membuka pintu usang itu. Dan, sebuah surga bagi para pecinta buku terpampang di depanku. Di dalam menara itu sangat sejuk, berbeda dengan keadaan di luar. Buku-buku tersusun di pinggir tembok menara ini. Semua lantai di menara ini adalah lemari buku. Kalian bisa membayangkannya?

Aku berjalan menuju lantai teratas gedung ini. 1,680 anak tangga harus kulewati untuk sampai di lantai tempat Esmeralda berada.

Sebetulnya di sini ada lift yang akan langsung mengantarkanku ke lantai paling atas. Tapi, entah kenapa aku sedang ingin menatap buku-buku ini.

“Lama sekali, Vic?” tanyanya saat aku sudah sampai di lantai paling atas. Berbeda dengan lantai-lantai di bawah, di sini dindingnya adalah jendela sehingga lebih terang dan nyaman.

Esmeralda terus menatap deretan kata-kata di bukunya. Aku bingung dengannya. Sejak kecil, ia selalu membaca buku. Aku pernah mendengar cerita Mr. Black Apple tentang Esmeralda di masa kecil.

Esmeralda terlahir dari keluarga mata-mata yang membuatnya harus menutup segala keinginannya. Meskipun Ralda mengaku bahwa cita-citanya tidak jauh dari mata-mata. Eommanya mati di tangan orang-orang dari organisasi Disaster itu. Eommanya meninggal saat Esmeralda berusia 5 tahun.

Menutup. Itulah kata yang sangat tepat menggambarkan seorang Han Sunji. Tidak bisa berteman dengan leluasa, membuka diri dengan orang, bahkan setiap masalah yang dimilikinya harus ia pendam sendiri. Dilarang menangis, ramah, bahkan menahan jerit di depan orang. Ia harus selalu terlihat perfect tanpa cacat. Bahkan, diumurnya yang sudah menginjak 18 tahun, ia belum pernah tahu apa itu ‘cinta’.

Ia pun membiayai hidupnya dengan uangnya sendiri. Entah itu menjadi pelayan café atau berjualan majalah di perempatan jalan. Itulah Esmeralda yang kukenal.

“Aku sudah membaca dua buku bahasa tadi malam. Kalau kusimpulkan, dapat satu kelinci, kotak surut dalam air maksudnya seseorang dari kita adalah kelinci yang bisa membuka gerbang harta bagi organisasi itu. Melihat waktu dikirimnya pesan itu, kemungkinan orang dari organisasi itu melihat kita yang sedang menangani kasus Jeongru.” Ujarnya.

“Jangan memaksakan dirimu berfikir, Ralda. Istirahatlah.” Aku duduk di sampingnya sambil mengusap lengan atasnya. “Sekarang bebanmu berkurang. Jeongru bukan anggota – “

“Kemungkinan besar Jeongru anggota mereka adalah 99,9%. Sepertinya ia menyimpan rahasia besar hingga berpotensi menjajah organisasi itu. Appaku bilang, anggota baru mereka lebih berbahaya dari Diamond – ketua organisasi itu. Ia pernah membunuh dua puluh tiga warga Washington DC dalam waktu 15 menit tanpa meninggalkan jejak.”

^-.-^

Cho Kyuhyun’s POV

Aku turun dari panggung menuju backstage. Semua berjalan dengan baik hari ini. Hingga aku bisa langsung pulang ke apartment-ku.

Aku sedang mengendarai mobilku saat ponselku bergetar.

Drrt,

Aku menatap layar ponselku dan langsung mengangkatnya. “Tuan?”

Ya, ini aku. Kau sudah mendapatkannya?

“Aku baru melihatnya. Sepertinya butuh waktu.”

Berapa lama?

“Mungkin beberapa minggu. Dia kelinci yang pas untuk makan malam.”

Secerdas itukah dia?

“Bahkan guru-guru dan semua murid tunduk padanya.”

Bawakan aku kelinci itu, Grevil.

“Dengan senang hati, Diamond.”

^-.-^

Hari ini adalah hari yang melelahkan. Teman-temanku sudah pulang dan hanya ada beberapa siswa yang ada di sekolah.

Aku berjalan di pinggir trotoar. Kulihat seorang gadis berjalan dengan sempoyongan. Sepertinya ia sangat pusing hingga tidak bisa berjalan dengan lurus. Dan, sebuah batu membuatnya terjatuh.

“Kau tidak apa-apa, Nuna?” aku mendekati orang itu. Ternyata, dia adalah Sunji. Ia menatapku jengkel. Entah kenapa, dia sepertinya terlalu benci padaku. Sangat!

“Menyingkir!” ia mendorongku dan berangsur berdiri. Berjalan perlahan ke depan. Dorongannya sangat kuat melebihi gadis-gadis lain.

“Nuna, kakimu robek!” ia tidak menggubrisnya. Sepertinya perasaan terlalu bencinya padaku membuat dirinya malas menatapku.

“Kau tidak merasakan sakit?” aku menyelidiki wajahku.

“Kau mengganggu.” ia terus berjalan. Namun, aku terus menatapnya.

“Benar tidak sakit?”

“Sakit! Sakit sekali! Lalu kau mau apa?!” bentaknya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendongnya di belakang tubuhku.

“Kalau begitu, kita ke apartment-ku saja! Di sana ada beberapa antiseptic yang bisa kau gunakan. Tapi, apartment-ku agak jauh. Kau tidak masalah menunggu?” dia hanya diam. “Kuanggap itu sebagai jawaban ‘Ya’!”

Aku terus menggendongnya kearah apartment-ku. Hampir satu jam perjalanan aku menggendongnya. “Nuna tidak pegal? Apa lukanya perih?”

Tiba-tiba tubuhnya terhentak. Sepertinya ia kaget. Entah kenapa ia merapatkan tangannya di leherku.

aku meraih sebuah permen dari sakuku.. “Cobalah makan ini. Mungkin kau akan sedikit tenang.”

“Aku tidak suka makanan yang manis-manis.” Ujarnya dingin.

“Kau seorang gadis! Mana mungkin –“

“Jangan samakan aku dengan gadis lainnya! Aku hanya gadis lemah yang tidak sengaja mendapat keleluasaan membaca buku sepuasnya di perpustakaan.”

“Ne…”

^-.-^

Aku membawanya masuk ke dalam apartment-ku. Aku langsung mendudukannya di sofa dan mengambil peralatan kesehatanku.

Robek. Kakinya benar-benar robek. Kulit yang terkelupas itu tidak beraturan.

“Kedalaman lukanya kurang dari 2 cm dan lebar luka hanya sekitar 1,5 cm. Ini bukan pendarahan. Hanya luka kecil.” Ujarnya. Pandai sekali dia.

“Setidaknya ini tidak bisa disebut luka kecil – “

“Bisalak aku pulang?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Biar kuobati dulu lukamu.” Aku membalut luka itu sambil menatap wajahnya. Menyeramkan. Seorang gadis berusia 18 tahun yang dingin ini bahkan tidak berekspresi saat kutekan lukanya. Lagi pula, ini bukan luka yang ringan.

“Kau tidak kesakitan? Jangan di tahan…” aku sengaja menekan lukanya. Namun, hanya raut jengkel yang ia tunjukan.

“Baiklah, biar aku ambil dulu air minum untukmu.” Aku berjalan menuju dapur. Bukan untuk mengambilkannya minum, namun sebuah pistol.

“Tak kukira semudah ini,” aku menatap wajahnya yang terus melirik keadaan apartment-ku.

“Kena kau!” aku mengarahkan pistol padanya. Namun, sebuah senyum licik terpampang di wajahnya.

DOR

Jantungku hampir copot saat sebuah peluru menyentuh rambutku. Yeoja itu benar-benar…

“Aku datang bukan tanpa tujuan…” ujarnya. Ia sudah berancang-ancang menekan pelatuk dan kali ini ia mengincar paru-paruku. “Katakan padaku – siapa kau?!!”

TO BE CONTINUED or THE END?

 

KRITIK DAN SARAN sangat diperlukan Author 🙂 Maklum, namanya anak-anak kalo bikin ff suka semaunya. Jadinya… bisa dilihat di atas 😀

Gamsahamnidaa^^~ anak labil pamit! Salam Super! *bow 😀

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: