Evil Sajangnim

Evil Sajangnim

Written By: (@Justnenoo)

***

Dengan langkah tergesa-gesa, gadis itu mencoba melangkah lebih cepat menuruni tangga gedung fakultasnya di Kyunghee University. Dia baru ingat bahwa hari ini akan ada Direktur baru Lotte Department Store tempatnya bekerja. Direktur baru itu baru saja pindah dari cabang di China.

Ya, Department Store ini memang berpusat di Korea dan memiliki cabang di beberapa Negara di kawasan Asia seperti China(termasuk di Hongkong), Jepang, Thailand dan Singapura. Dan sialnya, gadis itu justru asyik mengobrol dengan teman-teman kampusnya setelah kelasnya berakhir pada pukul dua tadi dan baru ingat bahwa ia tidak boleh terlambat datang seperti kebiasaannya selama ini jika bekerja karena sang Direktur baru terkenal sangat dingin dan cukup disiplin. Ia tidak akan segan-segan memecat karyawan yang tidak disiplin. Salah satu tipikal orang yang mungkin akan menjadi musuh gadis ini.

Setelah melewati gerbang kampusnya yang terletak di Kyungheedae-ro, Dongdaemun-gu, Seoul, gadis itu segera berlari-lari kecil menuju halte bus untuk menuju tempat kerjanya yang berada di kawasan Sogong-dong, Jung-gu, Seoul. Ia harus segera bergegas jika tidak ingin dipecat di hari pertama Direktur baru itu bekerja. Sesampainya di halte, ia masih harus bersabar untuk menunggu jadwal bus berikutnya yang baru akan datang sekitar sepuluh menit lagi. Jika saja dia pulang ke rumahnya dan meminta supir Park kesayangannya untuk mengantarnya ke tempatnya bekerja.

Han Hyena-nama gadis itu- memang bukanlah gadis yang penuh dengan kekurangan apapun hingga ia harus naik bis setiap hari. Ia juga bukan mahasiswa dengan beasiswa tinggi hingga bisa masuk Kyunghee University yang merupakan salah satu Universitas swasta favorit di Korea Selatan. Jelas, ia dari kalangan berada. Appanya adalah pemilik Perusahaan Ekspor-Impor paling sukses di Korea, sedangkan Eommanya adalah pemilik Butik yang juga terkenal dan sudah tersebar hampir di seluruh Department Store besar di Korea. Jadi, Hyena sangat jauh dari kata tidak mampu. Lalu, yang dilakukannya saat ini adalah kebiasaannya sejak dulu. Ia lebih suka ehm, merakyat mungkin. Sejak berada di Junior High School hingga kuliah, ia memang tidak pernah suka jika diantar ke sekolah. Ia lebih suka naik bis untuk pulang dan perginya. Uang saku pun ia hanya akan mengambil seperempat bagian saja dari yang diberikan oleh Eommanya. Sisanya, ia akan bekerja sambilan untuk mendapatkan dua hal sekaligus. Tambahan uang saku dan kepuasan batin. Ia hanya sama sekali tidak ingin dicap sebagai anak orang kaya yang manja dan selalu bergantung pada orang tuanya. Dan ia juga tidak mau membuat citra sebagai nona-nona kaya dan manja yang bisanya hanya pergi ke salon. Karena itulah kepribadiannya sedikit berbeda dari gadis-gadis kaya biasanya. Ia jarang-mungkin hampir tidak pernah- memakai rok kecuali ketika sekolah dulu. Ia lebih suka memakai celana jeans, dalaman kaos bergambar kartun, hem yang tidak dipasang kancingnya, dan juga sepatu kets. Ia juga tidak pernah mengenam apa itu make up. Yang ia pakai sehari-hari hanya sekedar lotion dan parfum. Ah, bedak yang hanya dipakai sekali-kali saja. Hyena terobsesi untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, sejak sekolah dulu hingga sekarang ia selalu mengambil kelas Taekwondo-seni bela diri khas Korea- untuk berjaga-jaga apabila ada ancaman datang padanya. Karena ia memang tidak suka untuk dijaga oleh bodyguard atau diikuti supir seperti saran Appa dan Eommanya.

Meskipun gayanya yang terkesan cuek dan sedikit berandal, Hyena beruntung karena memiliki wajah yang luar biasa mengagumkan yang ia dapatkan dari Appa dan Eommanya. Hyena memiliki kulit putih bersih, mata besar yang cantik, hidung mancung, dan bibir yang kecil sempurna. Poni di dahinya membuat dia terlihat lebih segar dan cantik. Karena wajah cantiknya itu Hyena bahkan beberapa kali mendapat tawaran untuk menjadi bintang iklan atau model yang akan dia tolak mentah-mentah saat itu juga. Bahkan tidak sedikit pria yang tertarik pada gadis ini sejak dulu. Tapi ia sama sekali tidak pernah menghiraukan siapapun yang mencoba mendekatinya. Pernah satu kali ada yang memaksanya untuk dijadikan pacar, dan jangan salahkan Hyena jika pria itu pulang dengan hasil bogeman mentah dari gadis itu.

Ketika bis warna hijau yang ditunggunya sudah terlihat dari ujung jalan, Hyena langsung bangkit dari kursi panjang Halte, meloncat masuk ke dalam bis dan duduk setelah mencari posisi yang nyaman di dekat jendela. Sembari melihat-lihat pemandangan kota Seoul dari dalam bis, ia mengira-ngira apakah akan terlambat atau tidak. Dan ah, bagaimana ya rupa Direktur baru itu? Dalam bayangannya mungkin Direktur itu tipikal Direktur pada umumnya. Tubuh yang tambun, kepala botak, dan sudah berumur. Ditambah lagi dingin dan galak. Membayangkannya saja sudah membuat Hyena sedikit tidak semangat untuk bekerja di hari-hari selanjutnya.

***

Setelah sampai di depan gedung tempatnya bekerja, Hyena segera bergegas masuk menuju lantai tiga dengan lift. Ia menekan tombol lift dengan tergesa-gesa karena saat ini dia memang  sudah terlambat dari waktu yang ditentukan untuk semua karyawan harus berkumpul. Setelah sampai, ia berlari-lari kecil menuju lokernya, mengambil seragam dan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian menjadi seragam kerjanya. Setelah melakukannya dalam dua menit, Hyena langsung berlari kembali ke lokernya, meletakkan bajunya yang tadi dan menggulung rambutnya secara cepat sehingga hanya menyisakan poni di wajahnya. Dengan dandanan sesederhana itu saja membuatnya tetap terlihat menawan. Sepertinya teman-temannya sudah bergeas pergi ke ruangan Direktur baru dan meninggalkannya begitu saja.

“Aish, mereka tega sekali meninggalkanku. Bahkan Eunji pun juga tidak menungguku. Awas saja dia nanti.” Gerutunya. Park Eunji merupakan sahabatnya sejak Senior High School. Hyena mendapatkan pekerjaan di sini karena bantuan Eunji yang juga sudah cukup lama bekerja di sini. Berkebalikan dengan Hyena, Eunji adalah gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Ia tinggal sendirian di Seoul, sedangkan orang tuan beserta satu adik laki-lakinya tinggal di Busan. Itulah yang membuat Hyena kagum dengan Eunji karena sebenarnya Hyena juga menginginkan untuk hidup secara mandiri seperti itu.

Hyena sudah tidak punya waktu banyak lagi sehingga memutuskan untuk berlari-lari kecil tanpa menggunakan alas kaki berupa Stiletto hitam yang ia pegang agar tidak mengganggu kenyamanannya dalam berlari menuju ruang Direktur yang untungnya berada di lantai yang sama dengan lokernya berada dan tempatnya bertugas. Setelah sampai di depan pintu ruangan Direktur, ia segera menggunakan sepatunya dan merapikan sedikit rambutnya sebelum kemudian mengetok pintu dan melangkah masuk tanpa menunggu respon dari orang-orang di dalam setelah ia mengetok pintu.

Melihat teman-temannya telah berbaris rapi, Hyena segera memposisikan dirinya tepat di samping Eunji yang berada pada ujung barisan tersebut tanpa sadar bahwa sejak ia masuk tadi semua pasang mata tertuju padanya. Bahkan ada sepasang mata yang menatap penuh amarah ke arahnya. Sepasang mata yang tak lain dan tak bukan adalah milik sang Direktur yang baru saja sampai di gedung tersebut lima belas menit yang lalu.

***

CHO KYUHYUN’S POV

Aku mengalihkan pandangan dari barisan karyawan di depanku ketika melihat pintu bergerak bahkan sebelum aku mempersilahkan orang itu masuk setelah mengetok pintu ruangan ini.  Apa orang ini benar-benar tidak tahu sopan santun? Awas saja jika dia hanya seorang karyawan.

Dan benar. Dia memang seorang karyawan wanita. dan aku membulatkan mataku dan menggemeretakkan gigi seketika ketika melihatnya langsung masuk barisan karyawan di depanku tanpa menghiraukan aku yang memang sedang menginterogasi mereka karena telat 2 menit dari perjanjian. Dan dengan santainya gadis ini melenggang masuk dalam barisan, sepertinya ia memang tidak sadar bahwa sudah melakukan kesalahan fatal sekaligus berlipat-lipat siang ini. Pertama, dan yang paling aku tidak suka dengan orang yang tidak disiplin, dia itu bukan sekedar terlambat lima menit. Dia bahkan sudah terlambat 19 menit dari perjanjian. Kedua, dia tidak sopan. Apa gunanya mengetok pintu kalau toh pada akhirnya ia tidak perlu menunggu jawaban dari orang di dalamnya. Ketiga, masih tidak sopan. Tanpa melihat kanan kiri dan meminta ma’af padaku karena terlambat ia langsung masuk barisan. Apa ia juga tidak sadar bahwa dia sedang diperhatikan oleh seluruh orang di dalam ruangan ini karena sikapnya. Dan yang terakhir…

Aku melangkah maju mendekatinya. Wajahnya dari tadi memang tidak jelas karena ia sedikit menunduk. Aku berhenti melangkah sekitar satu meter dari dirinya. Menyadari ada orang di depannya, gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk mendongak. Dan oh, astaga. Dadaku seakan sesak karena melihat wajahnya. Jangan bilang aku terpesona. Terpesona pada wajah gadis kurang ajar ini. Tapi, semua orang yang melihat wajahnya pasti akan sama sepertiku. Dia.. seperti malaikat. Wajahnya adalah salah satu wajah paling indah yang pernah kulihat. Dan aku sangat tertarik dengan mata bening dan cantik yang berisi bola mata hitam. Cukup Cho Kyuhyun. Walaupun wajahnya semenarik itu, dia tetap saja gadis yang sedang membuatmu geram karena ulahnya. Lupakan fakta bahwa wajahya memang seperti malaikat.

“Kau.. Siapa namamu?”

“Aku?” Tanyanya sambil menunjuk dirinya dengan telunjuknya.

Bodoh. Selain kurang ajar, gadis ini juga bodoh. Aish, apa sisi baik dari dirinya hanya wajahnya yang bisa membuat orang mati karena terpesona itu?

“Kau bodoh? Jelas-jelas aku tepat berada di depanmu. Tidak mungkin aku bertanya pada orang di ujung lain barisan ini.” Gadis ini membulatkan matanya ketika aku menyebutya bodoh. Sepertinya dia sedikit tidak terima. Tiba-tiba ia mengalihkan pandangan pada Name Tag milikku yang kupasang pada sisi atas sebelah kanan jas hitamku.

“Ehm.. Cho.. Kyuhyun-ssi. Kau ini juga bodoh ya? Apa gunanya aku memakai Name Tag jika tidak untuk dibaca.”

Aku menganga lebar mendengar pernyataannya. Apa dia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa? Berani-beraninya dia mempermalukanku dengan mengatakan aku bodoh di depan semua karyawan dan para manager Department Store ini. Samar-samar kudengar para karyawan berbisik-bisik menyesali kata-kata yang keluar dari mulut gadis ini. Tapi sepertinya gadis ini tidak menyesal sama sekali dengan ucapannya dan menatapku berani dengan tatapan tajamnya. Benar-benar siap dipecat rupanya.

“Ah, begitu? Menurutmu aku bodoh?”

“Ehm.” Dia mengangguk.

“Kalau begitu, apa kau memang punya Name Tag transparan yang hanya bisa dilihat oleh dirimu saja sehingga orang lain akan sangat kesulitan untuk membaca namamu?”

“Apa maksudmu hah?” Dia masih tidak sadar juga rupanya. Baiklah, aku tidak ingin memperpanjang waktu untuk berdebat dengannya.

“Apa yang akan dibaca orang jika kau saja tidak memiliki Name Tag untuk dibaca. Dasar bodoh!” Ucapku ketus. Dia segera menunduk untuk melihat Name Tag-nya di tempat seharusnya benda itu berada. Dan dia langsung membuat cengiran lebar menampakkan deretan gigi-giginya ketika menyadari benda itu memang tidak ada.

“Aku tidak menyadarinya. Ah tapi, kau ini siapa Cho Kyuhyun-ssi? Mengapa para karyawan lantai ini dibiarkan lama berada di sini? Mana Direktur barunya? Apa dia juga terlambat sepertiku? Ah, bagaimana bisa ia begitu. Seharusnya ia bisa lebih awal tiba daripada karyawannya.”

Aish, gadis ini benar-benar tidak tahu diri.

***

HAN HYENA’S POV

Hari ini sepertinya aku terlalu ceroboh dan sial. Aish, bagaimana bisa aku melupakan Name Tag-ku dan dengan bodohnya mengatai Direktur baru disini. Baiklah, sepertinya memang bukan sepenuhnya salahku. Karena dia memang tidak memperkenalkan diri khan? Cih, jangan harap aku akan minta ma’af padanya. Meskipun saat ini dia sedang menatapku tajam dari tadi, aku tidak akan gentar sedikitpun. Sekarang kami hanya berdua di sini. Karena Direktur baru ini menyuruh semuanya keluar dan menyuruhku untuk tetap tinggal di sini. Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kesalahan-kesalahan yang baru saja aku lakukan. Hah, menyebalkan. Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini dan tidak lagi melihat wajah soknya itu. Baiklah, sosok Direktur ini jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan di bis tadi. Dia tidak gendut ataupun tambun, melainkan tinggi menjulang. Setidaknya jika dibandingkan dengan diriku yang hanya memiliki tinggi sekitar 163 cm. Dia juga tidak botak. Sama sekali tidak. Rambutnya hitam, lebat, dan terlihat sangat lembut. Dia juga tidak berumur. Itu sudah pasti. Karena tampaknya Cho Kyuhyun ini masih berada pada intermezzo dua puluh tahunan. Mungkin 25. Tapi, ada satu sifat yang tepat seperti yang aku bayangkan. Dingin dan lidahnya cukup tajam ternyata. Aish, menyebalkan. Eunji pasti akan mengolokku setelah ini karena aku mendapat lawan yang cukup sepadan jika diajak perang mulut.

“Baiklah Nona…”

“Han Hyena. Itu namaku.”

“Ah, baiklah Han Hyena-ssi. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Ne, lekas tanyakan saja Sajangnim. Karena kau sudah membuang sia-sia waktu kerjaku hari ini.”

“Cih, kau itu berlagak sekali. Aku ini Direktur di sini. Jadi aku bebas melakukan apa saja terhadap karyawanku asal itu tidak melanggar Hak Asasi Manusia. Lagipula, yang ingin aku tanyakan ini menyangkut masa depan Department Store ini. Bagaimana bisa kau diterima di sini dengan catatan keterlambatan yang hampir 30% dari absen harianmu? Ini memuakkan. Bagaimana jika sebagian karyawanku ternyata satu spesies denganmu. Bisa-bisa kita akan menerima demo karena layanan yang diberikan tidak memuaskan.”

Astaga, dia mengatakannya dengan cepat dan keras yang mungkin berpotensi membuat telingaku sedikit tuli jika terus-terusan berada di sini.

“Woah Sajangnim! Darimana kau tahu semua itu? Apa kau ini stalkerku? Asal kau tahu, aku ini masih kuliah. Dan aku tadi terlambat karena mata kuliahku baru selesai dan langsung berangkat kesini dengan tergesa-gesa. Bukankah aku sudah profesional?”

“Kau masih kuliah? Aish, untuk apa menerima karyawan seorang mahasiswi yang masih belum bisa mengatur waktunya sendiri.”

“Yak! Tidak usah mengungkit-ungkit mengapa aku diterima. Yang penting aku selalu bekerja dengan baik dan benar. Bukankah itu yang dibutuhkan pelanggan dan perusahaan?”

“Tetap saja. Kedisiplinan itu salah satu pilar utama kemajuan Department Store ini. Memangnya dimana kau berkuliah?”

“Kyunghee.”

“Kyunghee?” Dia bertanya sambil mengerutkan keningnya. Terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Kau jangan berbohong. Aku juga mantan mahasiswa di sana. Dan seingatku kelas siang dimulai dari pukul setengah satu sampai jam dua. Dan kelas sore dimulai pukul stengah empat. Jika pada jam dua kelasmu berakhir, kau masih punya cukup banyak waktu untuk tidak datang terlambat kesini. Pasti kau melakukan sesuatu setelah kelasmu berakhir. Kau tak bisa membohongiku Nona Han!”

Mataku membulat mendengat penuturannya yang begitu jelas dan semua isinya memang sangat tepat. Bagaimana bisa dia memikirkan sampai sedetail itu.

“MWO?? Yak! A.. aku tidak berbohong Sajangnim. Sungguh.” Jawabku gugup. Sial, kenapa malah gugup begini. Dia akan semakin yakin kalau aku memang berbohong. Dan benarkan, dia menampakkan senyum meremehkan.

“Terserah dirimu sajalah. Kau pikir aku ini bisa dibodohi dengan gadis sepertimu.”

“Aish, baiklah-baiklah aku mengaku. Aku tadi lupa kalau Direktur baru akan datang karena terlalu asyik ngobrol dengan teman-temanku. Itu wajar khan?”

“Ya, itu alasan manusia yang sangat wajar. Lupa. Dan aku bisa melihat di jidatmu yang tertulis bahwa sepertinya kau tipe orang pelupa, ceroboh, dan kurang ajar.”

“Sajangnim, telingaku sudah panas mendengar kau mengataiku sejak tadi. Cepat katakana apa yang harus aku lakukan untu menebus kesalahanku kali ini.”

“Baiklah. Dengan berat hati aku harus mengatakan statusmu akan kuturunkan dari karyawan tetap menjadi On The Job Training selama tiga bulan ke depan. Jadi kau harus menganggap dirimu masih karyawan percobaan yang bisa kutendang keluar dari sini dengan mudah. Dengan begitu mungkin kau akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjamu sebagai karyawan di sini. Itupun aku masih tidak begitu yakin.”

Aku refleks menganga lebar mendengar ucapannya kali ini. Benar-benar keterlaluan.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH? BAGAIMANA BISA KAU MEMBERIKU HUKUMAN SEPERTI INI? YAK, KAU BENAR-BENAR SEPERTI IBLIS.”

“APA KAU BILANG? AKU INI ATASANMU BODOH. KAU ITU HANYA KARYAWAN. BERSYUKURLAH SEDIKIT KARENA AKU TIDAK MEMECATMU SEKARANG JUGA!”

“Aish, kau ini!”

“Han Hyena-ssi, aku tidak menerima penolakan. Dan juga, kau harus lapor padaku setiap baru datang dan akan pulang karena aku akan memastikan kau mengikuti jadwal dengan baik. Dan kau harus mematuhi semua yang aku katakan karena jika tidak aku bisa memecatmu saat itu juga. Sekarang kau boleh keluar.”

Setelah menghentakkan kaki tanda kekesalanku aku bergegas pergi dari ruangan ini diiringi dengan smirk liciknya yang benar-benar menjadikannya seperti iblis.

***

Sudah hampir dua bulan aku menjalani hari-hariku sebagai karyawan percobaan. Aniya, sepertinya aku lebih cocok dibilang kelinci percobaan. Ya, kelinci percobaan Cho Kyuhyun. Dia memanfaatkan keadaanku yang seperti ini. Karena dia tidak hanya menyuruhku melapor pada saat aku baru datang dan akan pulang, tetapi dia juga sering menyuruhku untuk melakukan pekerjaan yang sama sekali di luar kewajibanku sebagai karyawan. Dan itu sangat-sangat menyebalkan. Aku selalu menahan diri untuk tidak meneriakinya tepat di depan wajahnya atau mencekiknya saat itu juga. Yang paling sering dilakukannya adalah menyuruhku untuk keluar sebentar membeli makan malam yang sedang dia inginkan. Dan itu sangat-sangat memangkas waktu bekerjaku sebagai kasir karena akhir-akhir ini dia sering memintaku menemaninya makan sampai makanannya itu habis.

Aku juga sudah mulai terbiasa dengan segala teriakan dan ejekan yang ditujukan kepadaku dari mulut iblisnya itu. Sudah tak terhitung berapa kali dia mengataiku bodoh, ceroboh, atau segala hal yang membuat telingaku benar-benar panas. Dan aku memang tidak bisa mengejeknya balik seperti pada pertemuan pertamaku dengannya. Karena dia memang pria yang nyaris tidak memiliki kekurangan apapun, yah kecuali sifatnya yang dingin dan kejam itu. Dia pintar, sangat. Tidak mungkin bisa menjadi Direktur dengan umur yang masih semuda itu. Dia juga sangat kaya, itu pasti. Dan dia juga ehm.. kuakui cukup mempesona. Ah tidak, sangat mempesona. Wajahnya benar-benar tampan. Aku baru-baru ini menyadarinya. Karena selama ini aku hanya mencibir ketika teman-teman karyawanku terang-terangan memuji sosoknya di depanku. Terutama Park Eunji. Haish, sudah hampir bosan aku mendengarkan keluhannya yang mengatakan bahwa dia sangat iri denganku yang bisa sering-sering bertemu Cho Kyuhyun. Dan dia juga mengatakan rela untuk menggantikan tugasku yang sering disuruh-auruh oleh Direktur iblis itu. Lihat? Apa pesonanya semematikan itu hum?

Sebenarnya Cho Kyuhyun adalah orang yang cukup baik, dia pernah sekali mengantarku pulang karena pada saat itu sudah pukul setengah sebelas malam. Dan itu akibat ulahnya yang menyuruhku untuk menemaninya membeli hadiah ulang tahun untuk Eommanya. Tentu saja dia tidak mengantarku ke rumah. Aku minta diturunkan di halte bis yang menuju arah rumahku. Bisa ketahuan kalau aku ini anak orang kaya. Karena aku sudah terlanjur mengatakan aku ini orang yang cukup kekurangan karena harus tinggal sendirian di kota sebesar ini. Yah, aku sedikit memasukkan kehidupan Eunji untuk berbohong padanya. Karena dia juga tidak perlu tahu banyak-banyak tentang hidupku. Dia hanya orang baru yang mencoba merusak hidupku dengan tingkah iblisnya.

Aish, sudah berapa lama aku memikirkannya. Omona, apakah aku tadi sempat memujinya? Cih, aku pasti sudah gila memikirkannya seperti ini. Kulihat jam yang tergantung di dinding kamarku. Hum? Sudah jam Sembilan pagi rupanya. Dan aku masih kebagian shift sore untuk bekerja hari ini. Jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran Jung Ilyoon yang kemarin mengajakku pergi jalan-jalan ke pertokoan di daerah Dongdaemun. Jung Ilyoon adalah teman pria di kampusku. Selain Eunji yang juga berkuliah di Kyunghee-meskipun berbeda jurusan denganku- aku juga memiliki sahabat pria yang juga merupakan teman sekelasku. Orangnya sangat ramah dan bersahabat. Itulah yang membuatku betah di dekatnya. Namun, dia sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri. Selain karena wajahnya yang imut seperti Kang Minhyuk, drummer CNBLUE, dia juga sering bertingkah kekanakan dan sesekali manja kepadaku. Dan karena sejak dulu aku ingin memiliki seorang adik, aku sangat bersyukur bisa bersahabat dengannya sekaligus menyalurkan hasratku untuk menjadi kakak yang baik untuknya.

Setelah bersiap-siap sekitar lima belas menit, Hyena bergegas turun dari lantai atas rumahnya dan dirinya mendapati Ilyoon yang sudah duduk manis di sofa mewah berwarna merah di ruang tamunya.

“Ah, Yoonie kau sudah datang rupanya. Ma’af jika aku membuatmu menunggu.”

“Tak apa Noona. Lagipula aku baru datang sekitar sepuluh menit yang lalu. Kajja kita berangkat! Aku membawa Vespa antikku kali ini.” Ahaha, aku memang memintanya untuk memanggilku Noona karena umurnya memang di bawahku Sembilan bulan. Dan aku juga merasa sangat senang mendapat panggilan seperti itu.

“WHOA? Kau membawanya? Baguslah! Aku sudah lama ingin naik motor karena setiap hari aku selalu naik bis.”

“Kau itu aneh sekali Noona. Kenapa kau tidak membawa mobil Range Rover-mu itu ke kampus? Kau akan terlihat keren memakainya. Jangan sering-sering menggunakan bis. Karena kau itu sering telat jika masih harus menunggu bis.”

“Tidak, tidak. Aku menikmatinya meskipun itu terkadang juga membuatku sebal. Haha. Baiklah. Ayo kita berangkat.”

***

AUTHOR’S POV

Dongdaemun-gu, Seoul

Sudah hampir tiga jam aku keluar masuk gedung-gedung Mall yang berjejer di kawasan Dongdaemun. Ilyoon memintaku untuk menemaninya membeli gitar. Dan dia baru menemukan gitar yang sesuai harapannya di salah satu outlet alat music di Mall ketiga yang kami masuki. Saat ini kami sedang makan di salah satu foodcourt di dalam Mall tempat kami membeli gitar. Aku yang sudah kelaparan setengah mati memutuskan untuk memesan Bibimbap dua porsi. Sedangkan Ilyoon yang tampaknya begitu antusias karena gitar yang baru saja dibelinya hanya memutuskan untuk memesan seporsi kecil Ddukbokkie. Ia tak sabar untuk segera mencoba-coba gitarnya. Hah, benar-benar dongsaeng yang manis.

Sewaktu pesanan kami datang, aku langsung menyambar semangkuk Bibimbap yang tampak sangat menggoda. Setelah kuaduk dan kucampurkan semua isinya, segera kuhabiskan isi mangkuk itu dengan cepat, membuat Ilyoon hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihatku. Tepat disaat aku akan menyentuh mangkuk keduaku, sebuah lagu yang merupakan nada dering ponselku terdengar menandakan ada seseorang yang meneleponku. Aish, mengganggu saja,

“Yoeboseyo..” sahutku tanpa melihat siapa yang sedang meneleponku.

“….”

“Aku sedang makan di daerah Dongdaemun.”

“…”

“MWO?? Yak!! Shireoyo. Aku ini sedang makan, dan lagipula ini bukan jam kerjaku khan. Jadi jangan coba-coba mengintimidasiku Cho Kyuhyun.”

“…”

“Mwo? Yak, yak..!”

“Aish, orang ini. Seenaknya dia mengataiku kurang ajar, sendirinya bahkan lebih parah. Untung saja dia atasanku. Kalau tidak, sudah kubunuh dia dari dulu.”

“Noona, siapa yang menelepon? Cho Kyuhyun? Nugu? Sepertinya kau kesal sekali dengannya.”

“Ne, aku sudah kesal dengannya sejak pertemuan pertamaku. Dia itu Direktur di tempatku bekerja. Kau tahu? Hampir semua karyawan memuja ketampanannya. Tapi sifatnya benar-benar membuatku muak. Dia seperti iblis, berlidah tajam.”

“Oh, berarti dia manusia yang sejenis denganmu Noona. Apa kau juga tidak sadar mulutmu itu suka berbicara sembarangan? Hahaha.”

“Aish, kau juga menyebalkan! Yoonie, Aku pergi dulu, ne? kau hati-hati di jalan ketika pulang.”

“Mwo? Kau mau kemana Noona? Dan kau sendiri mau naik apa?”

“Aku harus pergi menemui Direktur sialan itu. Tenang saja, aku akan naik bis. Oke, annyeong dongsaengi!”

Aku segera bergegas pergi setelah beberapa saat meratapi mangkuk kedua Bibimbapku yang belum terjamah sama sekali. Dan ini semua gara-gara Cho Kyuhyun.

***

CHO KYUHYUN’S POV

Aku sudah pernah mengatakan bukan? Aku memang terpesona dengan wajah gadis bodoh itu. dan aku menyadari, aku membiarkan diriku jatuh lebih dalam lagi dalam pesona gadis itu setelah beberapa bulan ini dia selalu berada dalam pandanganku. Aku merasa sudah cukup banyak waktu yang aku lewati bersama gadis itu sehingga aku juga merasa bahwa aku sudah cukup memahami karakternya yang memang berbeda dari gadis pada umunya. Aku sama sekali tidak pernah memergokinya menatapku dengan tatapan memuja seperti yang para karyawan tunjukkan saat aku berada di depan mata mereka. Gadis itu malah selalu terlihat menyebalkan dengan tatapan sinis atau kesalnya yang entah mengapa membuat wajahnya terlihat semakin menarik di mataku. Tentang sifatnya, sepertinya dia memang terlahir unik seperti itu. Tipikal gadis galak, ceroboh, suka berteriak, keras kepala dan ah.. terlalu banyak sifatnya yang tidak baik sampai-sampai aku malas untuk menyebutkannya. Dan dengan bodohnya, aku malah menyukai teriakan cemprengnya itu daripada gadis-gadis yang memujiku secara berlebihan.

Dia juga memiliki hobi yang sama sepertiku, bermain game. Bahkan beberapa kali aku dibuat takjub olehnya karena dia sering berhasil mengalahkanku ketika kami bertanding game. Dan dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia sudah berhasil menamatkan game yang baru saja keluar dua minggu yang lalu pada saat aku masih berada di level-level awal game tersebut minggu lalu. Dan inilah yang membuatku berpikiran janggal tentang kehidupannya. Selama ini dia mengatakan bahwa hidupnya pas-pasan dan dia juga tinggal sendiri di Seoul. Tapi setelah aku memperhatikan lebih detail tentang gaya hidupnya, apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Gadget yang digunakannya merupakan gadget-gadget mahal yang tidak mungkin bisa dibelinya dengan hanya bekerja sebagai karyawan di sini. Dimulai dari kaset game, keluaran-keluaran terbaru kaset game saat ini memiliki garga yang cukup fantastis. Tidak cukup dengan 2000 atau 3000 won. Ah, dia juga memiliki IPhone5 keluaran terbaru, bayangkan saja. Handphoneku saja tidak secanggih dengan apa yang dia miliki, hanya IPhone keluaran sebelumnya, dan satu lagi.. dia memiliki PSP. Dan dia juga kuliah di Kyunghee, kampusku dulu. Aku tahu pasti bahwa biaya di sana tidak murah karena Kyunghee adalah salah satu Universitas terbaik di Korea Selatan. Kecuali jika dia bersekolah atas beasiswa. Tapi rasanya tidak mungkin. Mengingat otaknya yang bodoh, juga sifat ceroboh dan pelupanya itu. Aish, aku tahu dia pasti menyembunyikan sesuatu dan aku akan mencari tahu itu.

Kemana si bodoh itu? mengapa belum datang juga. Padahal aku menyuruhnya untuk cepat-cepat kesini. Tepat pada saat aku akan meneleponnya lagi, terdengar suara pintu ruanganku terbuka dan benar saja, ketika aku mendongak aku mendapatinya sedang berjalan menuju mejaku dengan sedikit ngos-ngosan sambil menenteng sebuah bungkusan.

“Yak! Kau itu benar-benar kejam. Aku itu sedang makan, dan sudah akan menyentuh mangkuk kedua Bibimbapku lalu kau seenaknya menyuruhku kesini hanya untuk mengantarkan Jajangmyeon. Haishh, mengapa aku bisa bertemu dengan orang sepertimu.” Protesnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

“Astaga, kau akan menghabiskan dua mangkuk besar Bibimbap? Kau itu seorang gadis atau seekor beruang hah? Lagipula ini khan sudah kewajibanmu sebagai hukuman yang harus kau jalani.”

“Aish kau ini. Aku juga bisa muak bodoh. Bagaimana mungkin kau menyuruhku melakukan sesuatu yang bukan wewenangku. Kau Direktur iblis.”

“Terserah kau saja mau memanggilku dengan sebutan apa Na~ya.”

“Dimana PSPmu? Aku ingin memainkannya selagi kau makan. Aku lupa membawa milikku tadi ketika akan pergi ke Dongdaemun.” Aku segera menyerahkan PSP milikku kepadanya sembari mengernyitkan kening.

“Untuk apa kau pergi kesana? Berbelanja? Cih, aku tidak menyangka gadis abnormal sepertimu juga punya hobi seperti itu.”

“Ani, aku hanya menemani temanku yang ingin mencari gitar.” Jawabnya sambil terus memfokuskan seluruh perhatiannya pada PSP di tangannya.

“Nugu? Eunji?”

“Aniya, aku pergi bersama Ilyoon. Dia teman namja yang cukup dekat denganku. Tapi aku menganggapnya sebagai dongsaengku karena wajahnya yang terlalu imut untuk kujadikan pacar. Yak, kau ini terlalu banyak bertanya. Sudahlah, kau makan saja. Aku ingin bermain dengan damai tanpa interupsimu. Arasseo?”

Cih, lihat saja kelakuaannya. Benar-benar tidak sopam. Tapi entah mengapa aku suka-suka saja dia berlaku seenaknya seperti itu. tapi tunggu dulu.. Dia pergi dengan namja? Jadi gadis ini juga memiliki teman dekat seorang namja. Kukira hanya Eunji saja yang akan betah berkawan lama dengan gadis bodoh ini. Entah mengapa, aku sedikit merasa tidak suka menerima kenyataan bahwa bukan aku saja namja yang ‘dekat’ dengannya. Meskipun kedekatanku dengannya hanya sebatas dia menjalani hukumannya saja, tapi aku benar-benar menikmati setiap waktu yang kunikmati bersama dirinya. Hah, gadis gila yang membuatku benar-benar menjadi gila.

***

Hari ini sudah hampir tiga bulan ia menjalani hukumannya. Dan sejauh ini Hyena berhasil melakukannya dengan cukup baik. Dia hanya telat satu kali karena saat itu dia sedang ada kelas tambahan. Selebihnya cukup baik, apalagi karena aku berhasil memanfaatkannya menjadi pembantu pribadiku. Dan hari ini aku akan mengajaknya main ke rumahku. Aku terlanjur bercerita pada Eomma dan Noonaku bahwa aku menemukan gadis unik dan aneh di tempatku bekerja. Dan aku terperanjat kaget saat mereka dengan antusias menyuruhku untuk membawa Hyena kesini dengan alasan untuk bisa mengenal lebih dekat sosok gadis yang kumaksud. Ini pertama kalinya mereka menyuruhku seperti ini. Mungkin karena aku memang tidak pernah menceritakan gadis manapun pada mereka.

Untungnya Hyena mau-mau saja untuk ikut karena aku membujuknya dengan mengatakan bahwa aku akan mengajaknya bertanding game di rumahku. Tentu saja itu tawaran menarik baginya. Dan saat ini aku dan gadis bodoh itu sedang berada di dalam mobilku menuju rumahku. Dia mendapat shift pagi yang berakhir pukul tiga sore, sehingga aku tidak akan mengganggu jadwal kerjanya.

“Kyu, apa di rumahmu ada keluargamu? Aku malu jika harus bertemu mereka dan mengatakan alasanku kesana hanya untuk bermain game.” Dia memang jarang memanggilku Sajangnim karena menurutnya panggilan itu terlalu terhormat untukku.

“Cih, kau punya rasa malu juga? Di rumah ada Eomma dan Noonaku. Kami baru saja pindah dari China. Sedangkan Appaku masih berada di China untuk mengurus cabang yang di sana.” Dia hanya mengangguk paham kemudian lebih memilih melihat keluar jendela.

Beberapa saat kemudian, mobilku sudah memasuki gerbang utama kediamanku dan berhenti tepat di depan pintu utama. Aku mengajaknya turun dan astaga.. Eomma dan Noonaku bahkan sudah menunggu di depan pintu. Dan aku mengernyit heran melihat wajah Noona dan Eommaku yang menganga lebar ketika melihat sosok Hyena. Apa Eomma juga terpesona dengan wajahnya?

“Hyena~ya?”

“Cho Ahjumma? Onnie?” Sedetik kemudian gantian aku yang menganga lebar melihat mereka berpelukan sambil berputar dengan girang layaknya Teletubbies.

“Kalian saling mengenal?” Tanyaku penasaran.

“Tentu saja Kyu. Hyena ini anak sahabat Eomma, Han Ahjumma. Kau tidak mengingatnya khan? Sudah lama Eomma tidak bertemu dengan Han Ahjumma dan juga Hyena sejak kita pindah ke China beberapa tahun lalu. Dulu, Ahra sering ikut kalau Eomma pergi ke rumah Han Ahjumma. Karena itu dia juga dekat dengan Hyena. Aigoo, Hyena~ya! Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik sekarang. Apa kau belum punya pacar? Jika belum, jadilah pacar Kyuhyun. Dia juga tidak punya pacar saat ini. Aku pasti akan sangat bahagia jika kau yang menjadi menantuku kelak.”

Dan sekali lagi aku menganga lebar mendengar pernyataan Eomma.

***

Sepertinya ini di luar dugaanku. Kukira Hyena akan tetap memilih bermain game bersamaku. Tapi lihatlah, sejak dua jam yang lalu ia lebih senang bercengkrama dengan Eomma dan Noonaku di ruang santai rumahku. Bahkan tanpa menghiraukan kehadiranku yang masih berada di sekitar mereka, tiga wanita ini masih saja asyik dengan dunia kecil yang baru mereka ciptakan. Aku memutuskan untuk beristirahat di kamar dan akan tutun ketika makan malam.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Eomma dan Ahra Noona saat turun dari kamarku untuk makan malam. Mereka memperlakukan Hyena layaknya putri. Meletakkan hampir semua lauk di meja ke atas mangkuk nasi milik Hyena. Dan tentu saja gadis itu akan menerima dengan senang hati apapun yang disuguhkan padanya. Gadis ini khan memang memiliki nafsu makan yang luar biasa.

“Aish, Eomma dan Noona berlebihan sekali. Hyena bisa mengambilnya sendiri. Kalian saja tidak pernah memperlakukanku seperti itu.”

“Kyu, ini khan pertemuan pertama kami dengan Hyena setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Lagipula apa salahnya memperlakukan calon adik ipar seperti ini, hum?” Aku membulatkan mata mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ahra Noona. Dan bisa kulihat, Hyena yang sedang makan langsung tersedak mendengar kata-kata Noonaku. Dan dia tiba-tiba salah tingkah ketika tiga buah gelas terangsur di depannya. Baiklah, ini aneh sekali. Aku, Eomma, dan Noonaku sama-sama sedang berusaha memberinya minum setelah ia tersedak tadi. Dan secara kompak Eomma dan Noonaku menurunkan tangan mereka masing-masing.

“Ah Hyena~ya, minumlah air yang diulurkan Kyuhyun. Aigoo, kalian manis sekali.” Dan bisa dipastikan seberapa merahnya wajahku saat ini.

***

“Jadi, apa kau akan menjelaskan sesuatu padaku? Kau berbohong padaku Na~ya.”

Saat ini aku sedang mengantarnya pulang. Benar-benar pulang ke rumahnya, bukan mengantarnya ke halte seperti beberapa waktu yang lalu. Aku sempat tersentak kaget saat Hyena menyebutkan alamat rumahnya tadi. Sepertinya dia benar-benar anak orang kaya. Karena dia tinggal di kawasan elit Gangnam.

“Aish. Baiklah, aku mengaku berbohong. Aku memang masih tinggal dengan orang tuaku dan tidak pernah kekurangan sekalipun. Puas?”

“Hmm, aku sudah menduga kau menyembunyikan sesuatu padaku.”

“Aku hanya merasa kau hanya atasanku yang tidak perlu tahu banyak tentang kehidupanku.”

“Begitu menurutmu? Kalau begitu mulai sekrarang jangan sembunyikan apapun dariku Na~ya. Bukankah kau… Calon istriku?” ujarku sembari menunjukkan seringai yang sering kutunjukkan padanya.

“MWO?? Kau benar-benar menganggap perkataan Eomma dan Noonamu? Aish, mereka hanya berusaha untuk menggoda kita saja Kyu.”

“Bagaimana jika aku menginginkan hal itu benar-benar terjadi?”

“Itu tidak mungkin. Kau tidak mungkin mau menikah dengan gadis bodoh dan ceroboh sepertiku khan? Sepertinya aku jauh dari tipemu. Dan aku juga tidak mau menikah dengan pria iblis sepertimu. Aku menginginkan suami yang punya tampang dan hati bak malaikat. Ah kalau bisa, aku juga akan lebih memilih menikah dengan Ilyoon. Meskipun dia lebih muda dariku, aku tetap bersedia menjadi istrinya.” Telingaku tiba-tiba saja terasa panas mendengar kata-kata terakhirnya barusan.

“Apa kau tahu seperti apa tipeku huh? Dan bermimpilah menikah dengan bocah itu. Dia juga tidak akan mau dengan Noona-noona tua sepertimu.”

“IGE MWOYA? Noona-noona tua? Kau buta hah? Aku masih sangat muda dan cantik bodoh!”

“Bisakah kau berhenti berteriak seperti itu? Kau membuatku nyaris tuli.”

***

HAN HYENA’S POV

Aku berlari-lari di tengah koridor rumah sakit dengan rambut awut-awutan dan mata sembab sehabis menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku hanya merasakan panik luar biasa saat mendengar kabar bahwa Cho Kyuhyun baru saja mengalami kecelakaan dari Ahra Onnie setengah jam yang lalu. Cho Kyuhyun menyebalkan! Bisakah dia tidak membuatku khawatir seperti ini. Seharusnya aku sudah terlelap dengan damai di kamarku karena waktu sduah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kata Ahra Onnie, Kyuhyun baru saja pulang dari lembur di ruangannya di Department Store tempatku bekerja saat dia memutuskan untuk pulang dengan keadaan setengah mengantuk. Aish, apa dia itu bodoh? Kenapa tidak tidur di kantor saja atau lembur di rumahnya daripada harus mengalami kecelakaan konyol dengan menabrak pohon seperti ini.

Kulihat Cho Ahjumma dan Ahra Onnie di ujung koridor yang sedang kulewati. Aku mempercepat langkahku untuk menemui mereka.

“Ahjumma, Onnie~ya. Bagaimana keadaan iblis itu? Ani, maksutku Cho Kyuhyun.”

“Dokter bilang tangan kanannya patah dan dia juga mendapatkan luka kecil di keningnya. Selebihnya tak apa. Sekarang suster sedang membalut keningnya. Aigoo, Hyena~ya. Aku sangat terharu kau mau menjenguk anakku tengah malam begini. Apa kau begitu mengkhawatirkannya, hum?”

Astaga, benar-benar keluarga ajaib. Cho Ahjumma dan Ahra Onnie memiliki sifat yang berbeda dengan Cho Kyuhyun yang terkesan dingin dan beraura iblis. Mereka ini sangat suka menggodaku bahkan dalam keadaan genting seperti ini. Tidakkan ini menggelikan?

“Aniyo Ahjumma. Cho Kyuhyun adalah atasanku, jadi aku harus tetap menghormatinya.”

Baru saja Cho Ahjumma akan membuka mulutnya ketika melihat suster keluar dari dalam ruangan dan berkata bahwa kami sudah bisa melihat keadaannya.

Aku menahan tawaku ketika melihat penampilannya. Menggunakan seragam pasien, gips di tangan kanannya, serta perban yang melilit keningnya bagaimana bisa di mataku dia tampak lucu dan… menggemaskan? Haha, yang pasti aku suka melihat wajah cemberutnya seperti itu. Seperti anak bayi saja. Aigoo, apa yang baru aku pikirkan.

“Kalau ingin tertawa, tertawa saja Na~ya. Tidak usah ditahan-tahan seperti itu. Kau ini sungguh keterlaluan. Aku ini sedang sakit tahu.”

Ah, apa aku sudah pernah bilang bahwa aku sangat suka caranya memanggilku. Berbeda dengan orang lain yang akan kebanyakan memanggilku Hyena atau Hyena~ya, dia akan memanggilku secara istimewa. Na~ya. Terdengar sangat merdu di telingaku.

“Haha, ani Kyu. Hanya saja kau tampak lucu dengan perban dan mukamu yang cemberut.”

“Aish. Eomma dan Noona pulang saja. Aku tak apa. Biar gadis bodoh ini saja yang menjagaku.”

Aku membulatkan mataku mendengar perkataannya dan bersiap-siap untuk melakukan protes.

“Aigoo, kau bahkan mengusir kami hanya untuk berduaan dengan Hyena? Baiklah, kami akan pulang. Bersikap baiklah pada Hyena, Kyu. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Lihat saja matanya yang sembab karena baru menangisimu.”

Baiklah, aku ingin menghilang dari kamar ini sekarang juga. Pria ini pasti sedang tersenyum penuh kemenangan saat ini. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu yang ditutup. Astaga, apakah sekarang aku hanya berdua saja dengan Cho Kyuhyun?

“Mwo? Kau benar-benar ingin aku menunggumu semalamam? Shireo, aku juga akan pulang malam ini, aku sudah lelah dan mengantuk Kyu.”

“Tidak kuijinkan. Kau itu bawahanku, dan aku atasanmu. Aku berhak memerintahmu kapan saja. Sekarang kemarilah.” Dia menggerakkan tangan kirinya yang tidak terluka sedikitpun mengisyaratkan agar aku duduk di sisi ranjang sebelah kirinya. Dengan langkah perlahan, aku menuju sisi ranjangnya dan duduk di atasnya. Jantungku berpacu sangat cepat saat tiba-tiba dia menggerakkan tangannya dan menggapai wajahku untuk menghapus sisa-sisa air mata dan merapikan poniki yang sedikit berantakan.

“Kau tahu, aku sangat bahagia mendengar bahwa kau mengkhawatirkanku. Sepertinya aku rela terus-terusan sakit asal kau tetap mengkhawatirkanku, Na~ya.”

***

Sudah tiga hari ia pulang dari rumah sakit, dan selama itu pula aku menghabiskan waktu selain kuliah dan bekerja untuk mengurusnya. Dia itu sangat manja dan juga menyebalkan. Kapan memang dia tidak pernah menyebalkan? Aku serasa menjadi budaknya. Dia menyuruhku mengambil ini itu, membantunya makan dan minum dengan alasan tangan kanannya yang tidak bisa digerakkan. Padahal dia masih  memiliki satu tangan lagi dan kakinya juga masih bisa berjalan. Seperti saat ini, aku baru saja menyuapinya makan siang. Cho Ahjumma baru saja memasakkan Bulgogi sesuai permintaan Cho Kyuhyun. Kyuhyun sedang duduk dengan bersandar pada bagian belakang ranjangnya sambil memainkan Handphone dengan tangan kirinya.. Entah sedang melakukan apa.

“Makananmu sudah habis Kyu. Sekarang kau tidur agar lekas sehat dan berhenti menyuruhku melakukan semuanya untukmu. Kau senang sekali menyiksaku. Aku mau pulang, aku masih ada janji dengan Ilyoon.”

“Shireo. Kau tidak boleh pergi apalagi bertemu dengan bocah itu. Aku lebih penting daripada dia saat ini, besok, dan seterusnya. Jadi, jangan harap kau bisa pulang seenaknya.”

“Yak! Tapi kau ini sudah sehat, hanya tinggal menunggu tanganmu sembuh dan luka di keningmu kering. Aku sudah terlanjur berjanji untuk menemani Ilyoon mencari senar gitar yang baru. Janji itu harus ditepati Kyu. Kau ini seperti anak kecil saja.”

“Ck.” Tiba-tiba saja dia menarik tanganku hingga aku jatuh tepat di pangkuannya. Aku bertambah kaget ketika dia menarik tengkukku dan menempelkan bibirnya di atas permukaan bibirku. Setelah melumatnya beberapa saat dia melepaskan tangan kirinya dari tanganku dan menampakan seringai andalannya.

“Baiklah, kali ini kuijinkan kau pergi. Tapi kau juga harus berjanji padaku untuk bersedia menjadi tawananku seumur hidupmu. Dan kau harus menepatinya. Kalau perlu kita menikah besok.”

            End

 

 

8 Comments (+add yours?)

  1. diyackhcsw
    Jun 26, 2017 @ 23:27:29

    Kyu sll pemaksa

    Reply

  2. sucinurulfitroh
    Jun 26, 2017 @ 23:49:26

    Aku.suka ff.nya.bikin greget … 😘😘

    Reply

  3. vika
    Jun 27, 2017 @ 00:45:00

    kyu gak ada so sweetnya jadi cowok, masak ngelamar cok tampa cicin dan dengan penuh pemaksaan. dasar kyu ppa ditaktor

    Reply

  4. aryanahchoi
    Jun 29, 2017 @ 01:06:12

    njirrrrr nih kyuna absurd bgt ya lucu juga wkwk seq dong eon

    Reply

  5. Ifah
    Jul 02, 2017 @ 13:55:17

    Pemaksaan banget kyuhyun,tp seru

    Reply

  6. kylajenny
    Jul 03, 2017 @ 08:10:18

    Suka ceritanyaaa. Ada sequelnya kah???

    Reply

  7. Monika sbr
    Jul 16, 2017 @ 22:31:13

    Manis banget

    Reply

  8. amel chomb
    Aug 06, 2017 @ 20:17:10

    Bikin squel ny , ini ceritnya bagus biar nggak nggantung gt

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: