I Always Love You, All Ways

I Always Love You, All Ways

Written By: Fufu Arija (@fufuarija)

Choi Si Won, Yoon Eun Si (OC) | Established Romance, General | OneShot

 

***

Love can build a new life. It’s magic.

Hanya denganmu. Aku bisa merasakan bagaimana dicintai. Hanya denganmu. Aku bisa membuktikan bagaimana mencintai. Ketika kau jauh dari jangkauan pandangku, aku merasa setengah jiwaku telah terenggut dari ragaku. Kau, jangan sekali pun berpikir untuk pergi dariku. Kau tidak bisa melakukan itu. Karena kau tawananku. Selamanya kau harus berada di sisiku. Cukup bersamaku. Dan itu lebih baik. Yoon Eun Si, marry me?

Pria itu. Apa begini cara melamar seorang gadis? Hahaha. Kalau aku membacakan surat darinya dengan lantang, kedengarannya bukan sebuah lamaran, melainkan lebih pada pemaksaan. Dan apa yang dia tulis? Aku adalah tawanannya? Cssh… Seenak jidatnya saja dia mengklaimku sebagai tawanannya.

Tanpa bisa ku kendalikan, sebuah senyum simpul terbit di bibirku. Pria itu benar-benar telah mencuri hatiku. Wajah tampan, tubuh tinggi proporsional, taat pada agama, pintar, kaya, apa lagi ya? Bahkan aku tidak bisa menjabarkan segala hal yang ada pada dirinya. Mungkin ini yang sering disebut-sebut orang sebagai ‘kesempurnaan’. Tapi bukan hal-hal itu yang semata-mata ku pandang darinya. Bukan manusia namanya kalau tanpa cela. Entah sihir apa yang ditebarkannya padaku. Yang jelas, aku begitu terpesona padanya.

Ku ambil ponselku di dalam tas dan mulai mengetik pesan singkat untuknya.

Hei, simba! Caramu tidak romantis sama sekali. Harusnya kau melamarku secara langsung di hadapanku, bukan dengan sebuket bunga mawar dan sepucuk surat pemaksaan seperti ini…

 

Message Sent.

Tidak sampai dua menit, ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk. Pesan balasan darinya.

Bisakah kau berhenti memanggilku simba? Setidaknya panggil aku oppa! Bagaimanapun, aku setahun lebih tua darimu! Mm, bagaimana bunganya? Kau suka? Ah, dan itu… Bacalah sekali lagi suratku, kata-kata di dalamnya sudah termasuk kategori romantis, asal kau tahu… Hahaha

Apa-apaan dia? Romantis? Begitu yang disebut romantis? Kalau membaca kalimatnya di awal-awal memang benar. Tapi… Hah, ya sudahlah. Aku juga tidak peduli dan tidak akan mempermasalahkan hal bodoh seperti itu lebih lanjut. Hatiku sedang berbunga-bunga sekarang. Rasanya aku sangat bahagia. Seseorang yang mencintaiku dan sangat ku cintai baru saja melamarku. Yah… Meskipun dengan cara yang kurang elit menurutku.

Choi Si Won. Itu hanya sebuah nama. Tapi mampu memberikan pengaruh yang amat besar pada kehidupanku. Aku, Yoon Eun Si, dulu adalah seorang gadis manja yang gemar menghabiskan waktu di dalam mall untuk berburu berbagai macam baju, sepatu, dan hal-hal lainnya yang berbau wanita. Tentu saja aku tidak sekedar menghabiskan waktuku di sana, tapi juga menghabiskan uang di rekeningku yang sejatinya diberikan appaku untuk membayar biaya kuliah. Sudah pasti aku sering kena marah eomma karena kebiasaanku yang satu itu. Tapi berbelanja dan menghambur-hamburkan uang mampu membuat suasana  hatiku bahagia.

Percaya atau tidak, selama tiga tahun terakhir aku tidak lagi seperti itu. Aku hanya akan membeli suatu barang kalau aku benar-benar membutuhkannya. Walaupun sesekali aku masih suka mengincar baju atau sepatu merek favoritku dan kembali lagi ke toko yang menjualnya keesokan hari. Kini aku juga berubah menjadi sosok gadis yang lebih dewasa yang sudah cukup mengerti tentang makna kehidupan. Aku sudah tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak berguna seperti kebiasaanku dulu.

Semua perubahan itu ku alami karena seseorang. Si Won! Ya, dialah orang yang turut andil mengarahkan hidupku menjadi lebih positif. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membuatku menurut pada setiap perkataannya—meski aku dalam keadaan kesal sekalipun. Bahkan eomma dan appaku sampai heran karena aku tidak pernah bersikap begitu pada mereka. Dulu aku sangat keras kepala, mereka bilang. Aigoo…

Seperti yang kau tahu, cinta merupakan satu perkara ajaib dalam kehidupan. Dia mampu mengubah segala yang ada dalam jiwa seorang insan. Dan aku mengalaminya.

Si Won pernah bilang padaku, “Kau tahu, uang memang bukan segalanya, tapi segala sesuatu memerlukan adanya uang. Yang harus kau ingat, uang hanyalah alat, bukan tujuan.”

Dan sejak saat itu, dalam sekejap aku merasa telah benar-benar jatuh cinta padanya. Kenapa? Yah… Kau tidak bisa bertanya ‘kenapa’ kalau itu tentang cinta.

Love is like the wind. I can’t see it, but I can feel it.

“Sudah menunggu lama, Yoon Eun Si?”

Akhirnya dia muncul juga. Aku lega tapi di lain sisi aku kesal setengah mati. Bagaimana tidak kesal, kalau seseorang yang membuat janji denganmu nyatanya datang terlambat dalam waktu yang tidak sebentar?

“Kau marah padaku?” Tanyanya yang melihatku hanya bergeming.

“Kau masih bisa bertanya apa aku sudah menunggu lama, apa aku marah padamu, padahal kau tahu ini sudah jam berapa? Aku yakin kau tidak bodoh untuk bisa menghitung berapa lama keterlambatanmu.” Ucapku datar padanya.

“Baiklah, aku bersalah. Aku terlambat empat puluh lima menit. Dan aku minta maaf untuk itu.” Sesalnya.

“Ralat. Empat puluh tujuh menit.”

“Baik, empat puluh tujuh menit. Dan ku mohon maafkan aku,”

Aku masih kukuh dengan aksi cemberutku. Walaupun tak bisa dipungkiri, dalam hati aku merasa sangat lega karena ternyata tidak terjadi apa-apa dengan pria di hadapanku ini.

“Eun Si-ya, maafkan aku…” Kali ini dia menggenggam tanganku dengan hangat.

Aku selalu merutuki diriku sendiri yang tidak pernah sanggup untuk marah pada pria ini barang sebentar saja. Dan aku tidak bisa menolak untuk memaafkannya.

“Kau membuatku khawatir. Ponselmu sudah puluhan kali ku hubungi, tapi tidak aktif. Aku takut terjadi sesuatu padamu.” Kataku akhirnya.

Dengan segera, dia membimbingku ke dalam pelukannya. Pelukannya terasa sangat hangat dan nyaman. Aku suka dipeluk oleh pria ini.

“Maaf…”

“Berhentilah meminta maaf dan kemukakan alasanmu, Choi Si Won!” Ketusku, masih dalam pelukannya.

Dia semakin mempererat pelukannya. “Tadi ada seorang penyeberang jalan yang tertabrak mobil. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan ironisnya tidak ada orang yang mau berhenti untuk menolong korban itu. Bahkan si penabraknya kabur setelah kejadian berlangsung. Aku tidak bisa membiarkan orang itu mati di jalan, bukan? Karena itulah aku terlambat menemuimu, aku membawa korban tabrak lari itu ke rumah sakit terlebih dahulu. Dan aku tidak bisa memberitahumu karena sialnya baterai ponselku habis.”

Kini aku membalas pelukannya. Bahkan aku memeluknya sangat erat. Begitu eratnya sampai hanya aroma tubuhnya yang mengisi seluruh organ pernapasanku.

“Lain kali, kau harus tetap menghubungiku, bagaimanapun caranya. Jangan membuatku tampak seperti orang idiot yang menunggu tanpa kepastian.” Ucapku.

Si Won terkekeh. Dia mengusap kepala dan punggungku secara bergantian.

“Ne, aku akan mengingat itu.”

Satu lagi yang membuatku menyukai sosoknya. Si Won bukan tipikal orang yang dengan mudahnya mengobral janji. Dia tidak akan bilang ‘Aku janji’, tapi dia selalu bilang ‘Aku akan mengingat itu’. Aku tahu maksudnya. Dengan mengatakan hal itu artinya dia tidak hanya berjanji, tapi juga dengan sungguh-sungguh berusaha untuk bisa menepatinya. Aku menyebutnya sebagai ‘komitmen’.

“Si Won-aa, aku lapar…”

Si Won melepas pelukan kami. Lalu kami saling pandang dan tertawa bersama setelahnya. Dia mengacak pelan rambut kepalaku.

“Kajja…” Dia menggandeng tangan kananku dan kami berjalan beriringan menyusuri jalanan Myeongdong yang dingin pada malam hari.

Aku tidak bisa melihat cinta, dia memang tak terlihat. Tapi aku bisa merasakannya, karena dia nyata. Dia berada tepat di sampingku.

Love has its own way.

Hari ini adalah hari penting. Aku akan fitting gaun pernikahanku! Mungkin ini terdengar absurd karena setiap wanita pasti hanya menganggap fitting gaun pernikahan bukan sesuatu yang menghebohkan. Hari yang lebih penting adalah hari pernikahan itu sendiri. Tapi hari ini juga merupakan salah satu hari yang sangat ku tunggu-tunggu selama hidupku. Aku mencoba beberapa gaun pengantin, dan calon suamiku akan memberikan pendapatnya tentang penampilanku. Itu pasti menyenangkan!

Aku merapikan meja kerjaku dan bersiap untuk pulang. Saking senangnya, aku baru menyadari kalau dari tadi aku terus bersenandung tak jelas. Setelah beres, aku berpamitan pada beberapa teman satu divisiku yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka.

Baru saja aku keluar dari lift, ketika Si Won meneleponku.

“Yeoboseyo?”

“Kau di mana? Aku sudah di depan gedung kantormu…”

“Ne. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai.”

Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju mobil Si Won yang sudah terlihat oleh pandanganku. Bahkan aku setengah berlari walaupun mobilnya semakin dekat denganku.

Si Won bersandar di samping mobilnya sambil melipat dua tangannya ke depan dada. Dia memakai kaca mata hitam yang terlihat sangat pas bertengger di hidung mancungnya.

“Aigoo… Kau ingin terlihat keren di hadapanku ya?” Aku terkikik geli melihat penampilannya.

“Sudah dari dulu aku keren, asal kau tahu,” Si Won sedikit menurunkan bingkai kaca matanya, kemudian mengedip singkat padaku. Aku terbahak dibuatnya.

“Sudah siap?” Tanyanya.

“Mm,”

“Kajja…” Dia membukakan pintu mobil untukku. Choi Si Won hari ini bersikap sangat manis padaku.

Sesampainya di butik, aku langsung mencoba beberapa gaun pengantin yang sudah dipilihkan eommaku minggu lalu. Gaunnya terlihat cantik-cantik, aku bahkan ingin mengenakan semuanya untuk pernikahanku! Hahaha…

Ku patut refleksi tubuhku sekali lagi di depan cermin. Gaun yang sedang aku coba ini lebih menarik perhatianku daripada yang sebelumnya. Aku langsung menyukainya. Dalam hati aku bertanya-tanya, Si Won juga akan menyukainya atau tidak ya?

“Yeppeo…” Tiba-tiba Si Won muncul di belakangku. Aku sampai kaget karenanya.

“Kau! Mengagetkanku saja!”

Aku melihat Si Won mengenakan celana bahan satin dan tuxedo hitamnya. Setelan itu membuat kadar ketampanannya meningkat beberapa level.

“Si Won-aa, kau tampan.” Ucapku seketika.

Dia tersenyum. Hal itu membuat dimple di kedua sisi pipinya terlihat. Ah… Manisnya!

“Jadi, ini yang kau pilih?” Tanyanya sembari memperhatikan gaunku dari bawah sampai atas.

“Mm. Bagaimana?” Sekarang ganti aku menanyakan pendapatnya.

Si Won terus memperhatikanku. Tatapannya menilai. “Ini cantik. Dan ternyata gaun ini lebih tampak cantik setelah kau kenakan,”

“Kau menggombal, Choi Si Won!” Seruku dan aku memalingkan wajahku.

“You’re… Blushing? Hahaha! Cute.”

Aku menghujani pundak Si Won dengan pukulan. Pria ini, benar-benar…

Sudah ku putuskan untuk memakai gaun terakhir yang ku coba tadi untuk pernikahanku. Aku menyukainya dan Si Won juga. Sebelum pulang tadi kami sempat mengambil beberapa foto saat mengenakan baju pernikahan kami. Aku sudah membayangkan bagaimana kami di atas altar nantinya. Si Won terlihat gagah dengan tuxedonya dan aku terlihat anggun dengan gaunku. Kami pasangan yang serasi. Ah, rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba!

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah kafe terlebih dahulu untuk mengisi perut. Sembari menunggu pesanan kami datang, aku dengan iseng bertanya pada Si Won.

“Si Won-aa, seberapa besar cintamu padaku?”

“Aku?” Si Won tersenyum singkat. Dia melanjutkan, “Kenapa kau bertanya seperti itu? Yang jelas aku mencintaimu.”

Aku mencibir mendengar jawabannya. “Kalau kau menanyakan hal itu padaku, maka akan ku jawab, cintaku padamu lebih luas dari angkasa raya, lebih dalam dibanding samudera, lebih kuat melebihi kuatnya Titanium. Yah… Sebanyak itu. Bahkan masih jauh melebihi itu.”

“Gomawo, Eun Si-ya…” Si Won tersenyum lagi. Ya Tuhan, senyumannya benar-benar membuatku gila!

“Bagaimana denganmu?” Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya dan menatapnya penuh selidik.

“Aku mencintaimu dengan porsi yang cukup.”

Aku  hanya melongo atas jawabannya barusan. Sedikit ada rasa kecewa di hatiku ketika mendengar hal itu.

“Begitu ya…” Aku tertawa hambar. “Tidak ada analoginya?” Kali ini aku menghempaskan punggungku pada sandaran kursi.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Kau curang. Jadi, hanya aku yang mencintaimu sangat banyak? Sedangkan kau, hanya cukup mencintaiku. Ah, aku bukan meminta balasan, kau sudah mencintaiku saja aku bahagia. Tapi…”

“Sesuatu yang berlebihan adalah kebalikannya.” Si Won memotong ucapanku.

“Terlalu manis? Pahit. Terlalu sering? Membosankan. Terlalu keras tertawa? Kita bisa menangis. Tidak menutup kemungkinan, jika terlalu cinta pada akhirnya akan berubah menjadi benci. Dan aku tidak mau kalau aku sampai membencimu, Eun Si-ya. Bahkan tidak terpikir sama sekali dalam otakku untuk berniat membencimu. Kau tahu maksudku?”

Aku diam menahan napas. Choi Si Won, kapan pria itu tidak pernah membuatku terkesima olehnya?

“Dengarkan aku,” Si Won menggenggam erat kedua tanganku. “Cintaku tidak memerlukan analogi, karena dia tidak bisa disamakan dengan yang lain—apapun. Aku mencintaimu tiada tanding. Dan akan ku jamin, cintaku cukup untuk bisa bertahan selamanya untukmu. Walaupun sebenarnya aku tahu tidak ada yang bisa bertahan selamanya di alam semesta ini.”

Aku hanya mematung memandangi wajahnya. Terutama mata hitamnya, seolah memenjarakan mataku.

“A… Aku mengerti Si Won-aa… Aku mengerti…” Ucapku sedikit tergagap. Hah… Aku sungguh terharu mendengar pernyataannya. Dan aku tidak bisa membendung air mataku yang dengan tidak tahu malunya lolos begitu saja melintasi pipiku.

“Saranghae, Yoon Eun Si…” Si Won mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

“Mm. Na ddo.” Balasku sambil tersenyum padanya.

Aku tidak tahu seperti apa cinta yang dirasakan Juliet pada Romeo, atau cinta untuk berkorban bagi orang-orang terkasih. Tapi aku ingin percaya, kalau aku adalah untuk merasakannya, aku akan punya keberanian mempertahankannya.

True love never dies. It just gets stronger by the time.

Aku terserang Pre-wedding Syndrome. Seorang teman mengatakan padaku, beberapa orang yang hendak menikah memang mengalami sindrom seperti yang aku alami ini. Aku menjadi sangat sensitif kalau membahas tentang pernikahan. Tidak tahu kenapa, aku merasa khawatir dan takut. Tapi kekhawatiran dan ketakutanku itu tidak beralasan—dan terlalu berlebihan. Jadi aku sendiri sulit menjelaskannya.

Tepat sehari sebelum hari pernikahanku tiba. Bukannya mereda, rasa khawatir itu malah kian menjadi. Berkali-kali eommaku meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berjalan lancar. Tetap saja aku bingung. Perasaan seperti ini… Benar-benar menyiksa.

Malam ini aku sulit tidur. Bahkan aku sudah menghitung domba hingga hitungan ke-100 dan itu pun sudah ku ulangi empat kali. Lima kali kalau ditambah satu kali yang sedang ku lakoni. Aku benar-benar seperti anak kecil bodoh yang percaya dengan cara meditasi semacam itu. Padahal nyatanya itu tidak menghasilkan efek sama sekali bagiku. Aku masih tetap terjaga!

Ini hampir pukul satu pagi. Ku tatapi layar ponselku yang menampilkan nomor ponsel Si Won.  Aku berada diantara rasa ingin meneleponnya atau tidak. Aku ingin meneleponnya, sangat ingin. Tapi aku juga takut kalau aku mengganggunya.

Akhirnya, rasa ‘ingin’ itu mengalahkan kebimbanganku. Aku menelepon Si Won.

“Yeoboseyo…” Kata suara di seberang ponselku.

“Si Won-aa…” Cssh… Sejak kapan aku memiliki nada manja ketika berbicara dengan Si Won?

“Ada apa Eun Si-ya? Kenapa belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur. Kau juga?”

“Mm. Aku masih sulit percaya kalau besok aku akan menikah. Aku sudah tidak lagi menjadi pria lajang,”

“Kau menyesal memutuskan untuk menikah denganku?” Kesalku. Aku tidak mengerti kenapa aku menanggapinya terlalu serius, padahal aku tahu ucapan Si Won tidak seperti yang aku pikirkan. Sudah ku katakan bukan, aku lebih sensitif akhir-akhir ini.

“Bukan itu maksudku, Eun Si-ya…”

“Kau khawatir kalau setelah menikah hidupmu tidak akan sebebas ketika kau lajang? Kau belum siap untuk itu?” Tanyaku skeptis.

“Tidak, tidak. Bukan begitu. Untuk apa aku merencanakan ini semua dengan matang kalau aku belum siap? Aku sudah sangat siap. Tapi, hah… Bagaimana menjelaskannya ya? Aku pun tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku hanya… Mm… Yah, kau benar, sedikit khawatir mungkin. Tapi ini bukan tentang kebebasan ataupun penyesalan…”

Aku tergemap. Rupanya bukan hanya aku yang merasa khawatir tak beralasan. Sepertinya Si Won juga mengalami sindrom sialan itu.

“Si Won-aa…”

“Mm?”

“Apa kau akan tetap mencintaiku ketika kulitku sudah menua dan keriput?”

“Apa kau akan tetap mencintaiku jika aku memiliki jerawat? Jika aku mengompol di kasur? Jika aku takut dengan apa yang ada di kolong tempat tidur?” Si Won bukannya menjawab pertanyaanku, malah memberondongku dengan berbagai pertanyaan anehnya.

“A… Apa yang kau pikirkan?”

“Aku hanya berpikir betapa tidak ada yang sanggup bertahan lama dan betapa memalukannya hal itu.”

“Ada satu yang bisa bertahan lama.”

“What’s that?”

“Cinta sejati.”

“Jadi, kau akan tetap mencintaiku bagaimanapun keadaanku?”

“Ya. Dan sebenarnya, pertanyaan itu juga ingin aku ajukan padamu…”

“Tentu saja! Tentu saja aku akan tetap mencintaimu. Aku mencintaimu bukan hanya untuk kelebihanmu, tapi juga kekuranganmu. Aku hanya sedikit khawatir, apa kau juga akan seperti itu padaku?”

“Bodoh. Sudah pasti aku akan tetap mencintaimu, apapun yang terjadi.”

Kami tertawa lepas. Ku rasa, kami sama-sama bodoh karena terlalu berlebihan mengkhawatirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan. Aku paham sekarang, dan aku tidak ragu lagi. Tidak ada alasan untuk merasa khawatir ataupun takut sekarang. Choi Si Won adalah cinta sejatiku.

“Eun Si-ya, kau percaya cinta sejati itu nyata?” Tanya Si Won tiba-tiba.

“Mm. Aku percaya.”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau itu nyata?”

“Buktinya, aku sedang berbicara dengannya.”

Aku yakin, walaupun aku tidak melihatnya, Si Won sedang tersenyum manis di seberang sana.

“Baiklah, sekarang kau tidurlah. Aku tidak mau mempelai wanitaku terlihat memiliki kantung mata yang besar besok pagi.”

“Ne. Kau juga ya. Selamat malam…”

“Selamat malam, Yoon Eun Si…”

      Dan percakapan kami malam ini berakhir. Aku pasti akan tidur nyenyak setelah ini.

Sejujurnya aku memang belum benar-benar membuktikan kekuatan cinta sejati. Apakah dia akan bertahan abadi, atau akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi setidaknya aku percaya cinta sejati itu sungguhan ada. Dan aku yakin dia tidak pernah mati. Choi Si Won, adalah sebentuk manifestasi cinta sejatiku. Selebihnya, aku bisa merasakannya tumbuh di dalam hati dan jiwaku. Cukup waktu saja yang akan membuktikan persistensinya.

Choi Si Won, I always love you, all ways…’

 

 

~FIN~

 

 

Credits :

Beberapa film yang memengaruhi gaya penulisan saya: A Walk to Remember, The Curious Case of Benjamin Button, Letters to Juliet, Anna Karenina.

 

The last, type your review in the comment box below, please… Kalau ada sesuatu yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksinya ya. Danke ^^

2 Comments (+add yours?)

  1. diyackhcsw
    Jun 26, 2017 @ 22:20:43

    Siwon ah…. l always love you too❤❤❤❤
    Km tampan kaya baik konyol…. hahahaa😁😀 visual of suju🙍🙌🙋🙏🙎🙍🙌🙋🙏🙎🙍🙌🙋🙏🙎

    Reply

  2. aryanahchoi
    Jun 29, 2017 @ 01:11:23

    emg oppa sempurna bgt smga gx ada hal buruk y menghampiri kadang klo terlalu sempurna takut ttg sesuatu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: