The Brown Envelope

 

The Brown Envelope

Written By:  Felicia Swan

( Also posted on anotherworldofdhira.wordpress.com )

 ***

 

Gangnam, Seoul, 27 Mei 2020

Akhir pekan ini seharusnya ku habiskan untuk bersantai ria. Kalau saja Yoo Chae tidak menyuruhku untuk membersihkan gudang, pasti aku masih terlelap di atas kasur.

Terakhir kali aku memasuki gudang ini sekitar 7 tahun yang lalu. Hari di mana aku dan Yoo Chae pindah ke rumah baru kami. Sebetulnya, aku sendiri pun benci untuk hanya sekedar memasuki ruangan ini. Gudang kami selalu tampak gelap dengan banyak jaring laba-laba pada langit-langitnya. Hal terburuknya, debu bertaburan di lantai bagaikan butiran-butiran gula halus pada kue ulangtahun. Satu-satunya penerangan yang bisa ku dapatkan hanya melalui lampu. Tapi aku selalu lupa untuk mengganti bohlam yang sudah redup itu. Jadi, aku menggenggam erat senter sebagai alat bantu penerangan dan mulai mengelap debu pada barang-barang yang aku yakin sudah mulai berkarat.

Semua barang-barang di gudang ini sebenarnya milik Yoo Chae. Dia bersikeras untuk tetap menyimpan beberapa barang peninggalan orangtua-nya. Pasti suatu saat akan berguna, begitu katanya.

Aku terus mengelap di temani suara para tikus yang mencicit. Aigooo, betapa tidak terawat-nya gudang ini. Pasti beberapa benda sudah mulai rusak karena di gigiti makhluk pengerat itu.

Ketika mengangkat sebuah kotak kayu yang cukup besar, seekor tikus mengagetkanku dan membuatku menjatuhkan kotak itu. Aku jatuh terduduk di antara kertas-kertas usang yang berhamburan di sekitar lantai. Aigoooo, binatang hitam sialan itu menambah pekerjaanku saja. Sambil menata kembali isi kotak, aku mengamati kertas-kertas tersebut. Ada beberapa surat cinta yang dulu sering ku berikan pada Yoo Chae rupanya. Aissh, kenapa yeoja itu menyimpan-nya di tempat seperti ini? Sesekali aku membaca kalimat-kalimat konyol namun romantis yang ku tulis sewaktu kami masih berpacaran dulu. Aku meniup debu yang menempel pada kertas tersebut, melipat-nya dan mengikat surat-surat itu menjadi satu. Kemudian aku meletakkan-nya kembali di dalam kotak sambil tersenyum.

‘ Sepertinya jika surat-surat ini di buka beberapa tahun lagi ini akan menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan ‘ batinku sambil berharap kertas-kertas itu tidak akan hancur di telan waktu sebelum aku membukanya kembali.

Lalu sebuah amplop berwarna cokelat tua menarik perhatianku. Aku membuka isinya dan menemukan sebuah surat yang di tulis sekitar tahun di mana album Mr. Simple baru di luncurkan. Hey, ini tulisan appaku! Dan surat ini juga di tujukan kepada ku.Tapi, kenapa amplop ini bisa berada di sini? Entahlah…

Kemudian aku duduk di ujung ruangan dan mulai membaca lembaran-lembaran putih itu.

Seoul, 23 Maret 2011

Untuk

Cho Kyuhyun

Di tempat

Bagaimana kabarmu? Ketika kau membaca surat ini aku harap kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang hebat dan bisa menjaga keluargamu sebaik mungkin.

Ingatkah kau dengan seorang anak laki-laki kecil yang selalu merengek minta di gendong appa-nya ketika malam hari? Tentu saja tidak. Saat itu usiamu masih terlalu dini untuk dapat mengingat segala-nya. Setiap malam, sepulang bekerja hal pertama yang selalu appa tanyakan kepada Eomma-mu adalah bagaimana kabarmu dan Ahra? Apa saja yang kalian lakukan seharian? Semua itu appa lakukan karena ingin terus memantau pertumbuhan dan perkembangan kalian berdua. Oleh sebab itu, appa juga menyuruh eomma-mu untuk tetap menjadi Ibu rumah tangga agar semua kebutuhan dan kasih sayang untuk kalian berdua bisa selalu terpenuhi.

Anak laki-laki kecil itu dulunya seorang yang manja. Setiap malam dia akan menunjukkan sebuah brosur berisikan penjualan game ter-baru. Meskipun eomma-nya berniat untuk membelikan namun appa akan berkata dengan tegas, ” Tidak sekarang! “.Meskipun appa ikut sedih melihat anak itu menangis tetapi semua itu appa lakukan untuk mendidikmu agar kau tidak menjadi anak yang manja karena semua keinginanmu selalu terpenuhi.

Anak laki-laki kecil itu adalah jagoan hebat yang bisa melindungi keluarga-nya.Setiap kali bel rumah berbunyi, Ia akan segera berlari menuju pintu dengan tongkat bisbol favorit-nya dan memeriksa siapa yang datang. Setelah memastikan orang yang datang bukanlah penjahat, dia akan membukakan pintu dan memanggil kedua orang tua-nya. Aku rasa itulah mengapa di rumah kami tidak pernah terjadi pencurian atau kejahatan macam apa pun.

Ketika anak laki-laki kecil itu sakit, eomma-mu akan merawat-nya dengan penuh cinta dan memberikan perhatian ekstra kepada-nya. Tapi appa justru membentak, ” Sudah di bilang jangan minum es dan main hujan-hujanan! “. Padahal saat itu appa sangat mengkhawatirkan-nya. Terlebih ketika kecelakaan 19 april 2007 yang hampir merenggut nyawa anak itu.Mendengar vonis dokter yang memperkirakan harapan hidupmu yang hanya 20% membuat appa sangat sedih dan tertekan. Seandainya nyawa bisa di tukar, appa rela menukar nyawa appa dengan-nya. Kemudian seorang dokter memutuskan untuk mengoperasi-mu melalui leher yang nanti-nya akan merusak pita suaramu. Tentu saja appa menentang-nya. Ini adalah impianmu sejak lama dan kau sedang memulai karirmu sebagai penyanyi. Bagaimana bisa dokter itu menghancurkan semuanya dengan sebuah operasi? Akhirnya seorang dokter lain muncul dan memberikan solusi-nya.Beberapa bulan kemudian kondisimu berangsur-angsur membaik. Saat itu Appa hanya memercayai bahwa kau adalah anak yang sopan. Kau tidak akan meninggal sebelum appa dan eomma-mu, kan? Kau adalah anak yang kuat, Cho Kyuhyun.

Ketika anak laki-laki kecil itu, kau, mulai beranjak remaja, Ia mulai sibuk dengan dunia-nya sendiri. Di akhir pekan, Ia akan menuntut untuk mendapatkan izin keluar malam dan appa akan selalu melarang-nya. Kyuhyun kami adalah anak yang penurut. Ia tidak membantah dan langsung pergi tidur setelahnya.Tahukah kau bahwa semua itu appa lakukan demi menjauhkanmu dari pergaulan luar yang sudah terkontaminasi dunia hitam?

Ketika memasuki tingkat terakhir di SMA, appa menyarankanmu untuk menjadi pengacara. Tetapi kau tetap bersikeras untuk menjadi penyanyi. Apalagi seongsaenim favoritmu sangat mendukung-mu.Saat itu appa memikirkan banyak hal. Bagaimana kehidupanmu nanti-nya? Apa kau akan hidup berkecukupan? Apa kau bisa makan dengan baik setelah ini? Apa kau bisa menafkahi keluargamu dengan baik nantinya? Akhirnya appa mengajukan sebuah syarat. Yaitu, kau harus masuk ke salah satu universitas ternama di Korea. Kau menyangupi-nya dengan berkuliah di Kyunghee university.Pada akhirnya appa hanya tersenyum dan mendukung keinginanmu meskipun tidak sesuai dengan keinginan appa.

Kemudian kau mulai meniti karirmu hingga menjadi seorang penyanyi yang luar biasa seperti sekarang. Appa akan selalu berada di setiap konsermu di Seoul dan bertepuk tangan paling keras ketika kau selesai perform bersama teman-temanmu. Selalu berkata ” Jaga dirimu baik-baik, ya ” ketika kau pamit untuk pergi show ke luar negeri. Padahal appa ingin sekali menangis seperti eomma-mu dan memelukmu erat-erat.

Appa selalu bangga padamu, Cho Kyuhyun. Appa yakin kau bisa melakukan segalanya sendiri tanpa ku suruh sekalipun. Terimakasih sudah menjadi putera terhebat yang pernah ku miliki di dunia ini. Karena tidak pernah ada kesempatan untuk memberikan penghargaan kepadamu, appa hanya akan memberikanmu cinta seorang ayah kepada anak-nya. Appa hanya ingin kau tahu bahwa appa sangat menyayangimu.

Dengan penuh cinta,

Appa

Aku menyeka air mataku selesai membaca lembaran terakhir surat tersebut. Ternyata, inilah alasan di balik sikap keras yang selalu di tunjukkan appa kepadaku selama ini. Aku tak pernah mengira bahwa appa akan menulis hal-hal seperti ini di dalam surat-nya.

Ketika senja tiba, semua pekerjaanku di gudang sudah selesai. Setelah itu aku berlari-lari kecil menuju ruang keluarga diiringi tatapan bingung dari Yoo Chae yang sedang menyesap cappucino hangat favorit-nya. Pandangan-nya seolah berkata ‘ Kenapa kau menangis? ‘.Tanpa memedulikan-nya, aku langsung meraih telepon genggamku di meja dan mengetikkan nomor appa.

Yeoboseyo? ” tanya suara di seberang sana.

” Appa? Ini aku, Cho Kyuhyun. Bagaimana kabar Appa? ”

” Tumben sekali kau menelepon. Appa baik-baik saja. Ada apa, Kyu? “. Harus ku akui, selama ini aku jarang menelepon atau bahkan hanya mengirim pesan singkat padanya karena jadwalku yang super padat.

Appa, saranghae… neomu saranghae… ”

” Yaaa… kau sedang sakit, ya? ” Appa sedikit terkikik mendengar ucapanku tadi. Tidak biasanya aku mengatakan hal semacam itu kepadanya.

Aniyo, aku baru saja membaca surat darimu appa ”

” Yang amplop-nya berwarna cokelat tua itu? Appa pikir kau akan membukanya 10 tahun lagi.. ”

” Tadi aku pergi membersihkan gudang dan menemukan amplop itu di dalam kotak kayu milik Yooo Chae. Setelah selesai membaca-nya, Aku merasa sangat bersyukur memiliki appa terbaik di dunia. Appa yang selalu bersikap keras namun sebenarnya sangat lembut dan perhatian kepadaku. Gomawoyo, jeongmal gomawo, Appa… ”

” …… ” Appa tidak menjawab. Aku tahu, saat ini Ia pasti sedang berusaha keras menahan air matanya untuk tidak keluar. Mana mau appa menunjukkan sosok lemahnya padaku.

” Menangislah, appa… ”

” Rasanya saat ini aku ingin memelukmu dan mengatakan betapa bangga-nya aku memiliki putera sepertimu, Cho Kyuhyun. ”

Ne, Arasseo.. ” jawabku. ” Bagaimana jika kita pergi memancing minggu depan, Appa? Pasti akan menyenangkan sekali.” lanjutku.

” Geurae… Sampai bertemu minggu depan. ” Tanpa pikir panjang Appa langsung menjawab tawaranku.

Kemudian telepon pun di tutup. Semenjak hari itu, Appa dan aku selalu menghabiskan akhir pekan bersama. Terkadang kami juga mengajak Eomma, Ahra noona, Yoo Chae dan anak-anakku untuk pergi bersama. Aku ingin menghabiskan waktuku untu berbakti kepada Appa hingga akhir hayat-nya. Aku ingin membalas seluruh cinta-nya untukku, putera-nya.

 -THE END-

Terisnpirasi dari sebuah kisah nyata. Tulisan ini Saya buat untuk memperingati 7 tahun debutnya Cho Kyuhyun dan perayaan hari Ayah yang jatuh pada minggu kedua di bulan Juni.

 

P.s : Kritik dan saran di perlukan

1 Comment (+add yours?)

  1. kylajenny
    Jul 03, 2017 @ 17:45:28

    Ikut nangis bacanya 😭

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: