Choi, Cho and Park

Choi, Cho and Park

Author : Neni

Title : Choi, Cho and Park
Genre : Romance
Main Cast : Choi Hyunjoon, Cho Kyuhyun, Park Hyunshik

 

***

 

-choi hyun joon-

Ruangan dengan nuansa kelabu itu sunyi. Senyap. Tidak ada suara apapun kecuali desah nafas perlahan. Kesunyian yang mencekam. Bukan kesunyian karena rasa gugup, bukan kesunyian karena kebahagiaan yang terlalu membuncah hingga seolah akan meruntuhkan dunia, bukan pula kesunyian karena penantian atas jawaban pernyataan cinta yang telah menunggu selama ratusan dekade. Bukan. Hanya kesunyian yang menyiratkan perasaan tertekan karena menunggu hakim memukulkan palu keadilannya di atas meja hijau. Menjatuhkan sebuah vonis yang menentukan hidup mati seseorang. Ya, itu gambaran yang tepat.

“Aku menerima perjodohan ini”, ucap sang pria yang kini tengah menunduk setelah kebisuan yang panjang. Menolak menatap gadis yang kini tengah duduk di hadapannya. Tidak ada perasaan berdesir atau bahagia saat melihat gadis ini. Hampa.

“Tapi kau tidak mencintaiku”, sanggah sang gadis mencoba memberikan waktu berpikir untuk memaksa sang pria meninjau ulang keputusan yang ia buat. Ini bukan masalah sepele.

“Aku tahu”, jawab sang pria dengan nada yang sama datarnya.

“Karirmu bisa diambang kehancuran kalau khalayak umum sampai mencium rencana pernikahan ini”, gadis itu kembali mencoba mengubah keputusan sang pria.

Mendengar sanggahan kedua yang sangat kentara berusaha untuk mematahkan keputusannya, sang pria mendongak perlahan dan menetap sang gadis tepat di manik mata. Mencoba mengintimidasi agar berhenti merecokinya dengan pernyataan bodoh dan niatan mengguncang keputusannya. “Aku sudah tahu semua resiko yang aku ambil”, tandasnya keras.

Sang gadis terdiam, berusaha mencari apa yang sebenernya ada di dalam kepala pria di hadapannya. Depresi ? “Kau tahu sebuah pernikahan bukan suatu permainan ? Kalau kau sudah terikat janji suci denganku di hadapan Tuhan dan pendeta, kau harus mempertanggungjawabkannya seumur hidupmu. Kau tahu itu ?” bibir sang gadis mulai bergetar menahan tangis.

“Lalu ? Ada masalah ?” tantang sang pria dengan nada angkuh.

Setetes air mata mulai menetes di pipi sang gadis. Sesak, sangat. “Kau tahu Tuan Cho, seumur hidupku, tidak pernah sekalipun aku berharap menikahi pria yang sama sekali tidak mencintaiku. Tidak pernah sedetikpun”. Air mata sang gadis tidak meruntuhkan dinding kebekuan di antara mereka. Sang pria tetap bertahan di dalam selubung pribadinya. Tidak peduli.

“Lalu bagaimana ? Kau ingin aku melakukan apa ? Orang tua kita tidak akan membatalkan pernikahan ini walaupun aku menangis dan bersujud di kaki mereka. Kau tahu itu bukan ?” ucap sang pria sambil memasang wajah tak peduli.

Suasana hening kembali. Sang gadis membuka mulutnya perlahan. “Kau tidak pernah menyukai gadis. Karenanya orang tuamu memintaku menikah denganmu. Kau tahu itu ?” sang gadis mencoba membeberkan rahasia besar yang ia sembunyikan. Alasan pernikahan mereka.

“Aku tahu. Kau diwajibkan menikah denganku dan membuatku mencintaimu agar tidak timbul rumor buruk yang mungkin menghancurkan bisnis ayahku. Ada yang kurang, Nona Choi ?” serang balik pria itu.

Sang gadis melotot kaget. Tidak menyangka bahwa calon suaminya telah mengetahui semua yang ia sembunyikan. “Kau masih menerima perjodohan ini ?”

Sang pria mulai bosan dan mendecak dengan keras. “Aku masih menerimanya. Berharap harapan kedua orang tuaku bisa terkabul dan tidak ada rumor bodoh yang akan mencuat. Puas ?” mata pria itu mulai menyipit menahan emosi.

Sang gadis terdiam. Mencoba membuat alternatif lain yang mungkin akan menguntungkan semua pihak. “Baiklah. Sekarang dua bulan sebelum pernikahan kita. Kalau aku bisa memenuhi keinginan orang tuamu, pernikahan kita batal. Bisa kau terima ?”

Sang pria hanya memutar bola matanya dengan malas. Seolah tidak peduli. “Terserah saja. Kalau kau berhasil, kau bebas.” Lalu sang pria pergi meninggalkan sang gadis sendirian. Perasaan sesak yang membuncah mulai menyeret sang gadis ke dalam masa lalu kelamnya. Menariknya untuk kembali mengingat kenangan itu.

Cho Kyuhyun-ssi, satu – satunya hal yang aku inginkan saat ini adalah menjagamu sampai desah nafas terakhirku. Hanya itu, Kyuhyun-ssi.

-choi hyun joon-

“Tuxedo ini bagus ? Kau suka warna apa ?” tanya Hyunjoon pada Kyuhyun yang kini tengah berdiri di sampingnya dengan penyamaran lengkap. Saat ini mereka tengah mengunjungi salah satu butik milik relasi bisnis ayah Kyuhyun untuk memilih pakaian. Tuxedo dan gaun.

“Terserah kau saja”, ucap Kyuhyn malas lalu mulai melihat sisi lain dari butik. Saat berhenti di bagian sarung tangan, Kyuhyun memperhatikan sepasang sarung tangan berwarna hitam dan putih yang tampak hangat. Sedetik kemudian pikiran Kyuhyn bercabang dan terhenti pada kenangan saat konser SMTown. Saat itu hari pertama ia melihat Hyunjoonn secara langsung. Hyunjoon yang tengah berdiri di barisan penonton dan melihatnya dengan pandangan berbinar penuh harap saat ia berduet dengan salah saatu rekannya di SMent. Seohyun.

“Oppa suka sarung tangannya ? Ingin membeli ? Untuk siapa ?” tiba – tiba Hyunjoon muncul di hadapan Kyuhyun. Tanpa sadar Kyuhyun mengucapkan sebuah nama yang langsung membekukan suasana. “Seohyun ?”

Seo … Seohyun Onnie ?

-choi hyun joon-

“Kau menyukainya ?”

“Dia siapa ?”

“Onnie”.

“Berbicara yang jelas, aku tidak mengerti !”

“Ck ! Kau menyukai Seohyun-ssi ? Keurae ?”

“Ck ! Apa pedulimu ?”

“Ini masalahku juga, kau tahu !”

“Kau bukan siapa – siapaku !”

“Aku calon istrimu, Cho Kyuhyun-ssi !”

“Lalu ?”

“Jawab dengan benar, kau menyukainya. Ya atau tidak ?”

“Aku sibuk”. TREK.

Sambungan telepon terputus. Meninggalkan Hyunjoon yang hanya bisa terdiam dengan wajah kaku menahan emosi.

Kenapa … mendapatkan hatimu harus sesulit ini ?

-choi hyun joon-

“Gereja ini bagus. Ukurannya cukup besar untuk menampung seluruh keluarga besar Oppa dan keluarga besarku. Bagaimana ?” tanya Hyunjoon saat mereka berdiri di depan sebuah gereja besar di pinggir kota.

Gereja itu indah. Besar, mewah, unik dan sakral. Dindingnya yang dilapisi cat berwarna putih gading dengan seluruh kusen maupun tepian jendela yang terbuat dari kayu berwarna coklat alami menambah kesan mewah. Belum lagi ukurannya yang sangat besar, mampu manampung ribuan tamu. Gereja itu berdiri kokoh di tengah padang rumput dan menambah kesan asri. Jenis gereja yang akan dipilih setiap pasangan untuk mengucapkan ikatan suci dengan janji seumur hidup. Sempurna.

“Ada yang bisa kami bantu ?” ucap seorang biarawati dengan senyum lebar dan mata sipitnya yang ramah. Pakaian putih dan penutup kepala berwarna senada sangat pas dengannya. Bagaikan malaikat penjaga. Biarawati itu berjalan perlahan dan menghampiri mereka. Menatap dengan tatapan teduh. Pasangan baru, pikirnya. Hyunjoon menyapanya dengan senyum lebar dan binar di matanya. “Kami ingin menyewa gereja ini untuk acara pernikahan, bisakah ?”

Sang biarawati tersenyum lebar -sampai kerutan yang ada di sudut bibirnya tertarik- lalu membuka mulut perlahan. ” Tentu saja, rumah Tuhan memang diperuntukkan bagi setiap pasangan yang hendak menyatakan janji suci. Kalian bisa menyewanya kapan saja. Silakan ikuti saya untuk mencatatkan nama kalian ke dalam daftar”, jelasnya sambil berbalik dan berjalan memasuki pintu masuk gereja diikuti Kyuhyun dan Hyunjoon yang berjalan beriringan.

Mereka berjalan melewati deret bangku panjang berplitur yang sangat banyak dan berjejer rapi. Tampak beberapa kitab yang berserakkan di atas bangku. Saat tiba di podium, mereka berbelok ke kanan dan memasuki sebuah lorong panjang dengan kaca sebagai sekatnya. Mereka kembali berjalan menuju ujung lorong, tampak sebuah pintu kayu coklat besar berpapan. Pasangan Suci, tulisan itu terpaku di tengah pintu. Seolah mengindikasikan bahwa setiap pasangan yang ada merupakan pasangan yang diberkati Tuhan. Menambah kesan sakral di sana. Saat memasuki ruangan itu, Hyunjoon menganga kaget saat mendapati setiap dinding yang ada di ruangan itu tertutupi oleh rak buku setinggi ternit dan berisi buku – buku bersampul kulit coklat tebal dan juga terdapat tulisan pada bagian sampingnya. 1925. Arsip gereja, eh ? Sang biarawati berhenti di depan meja kayu yang menampakkan sebuah buku besar terbuka dengan garis baris dan kolom tergambar di dalamnya. Ia menulis angka 13 dengan sebuah pena perak yang tergelatak di bagian tengah buku lalu mendongak ke arah mereka.

“Nama kalian ?” tanyanya ramah.

“Cho Kyu-hyun dan Cho-i Hyun-jun”, eja Hyunjoon dengan nada sopan. Kemudian biarawati itu mencatatkan nama mereka di dalam buku. Senyum tipis terulas setelah ia selesai menulis. “Aku harap kalian akan hidup dalam naungan berkat Tuhan”, ucapnya perlahan.

“Terima kasih”, jawab Hyunjoon lalu membungkuk tanda terima kasih.

Tiba – tiba Kyuhyun membuka suara. Nadanya datar dan menusuk. “Bisakah kau menghapus nama pasangan jika pernikahannya dibatalkan ?” Sontak suasana hening seketika. Hyunjoon hanya melongo kaget karena tidak percaya.

Dia serius ?

-choi hyun joon-

“Hyunjoonie, berhasilkah ?”

“Mianhada Eommonim. Belum berhasil.”

“Persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Kau yakin ?”

“Aku … aku mencintainya, Eommonim.”

“Eommonim tahu. Tetapi, dia ? Sudah bisakah dia menerimamu ?”

“Oppa tidak menunjukkan reaksi apapun.”

“Bersabarlah. Soal ucapanmu tempo hari yang mengatakan akan menyerah jika Kyuhyun mempunyai kekasih, apa kau serius ?”

“Ye. Aku serius Eommonim.”

“Tapi kau mencintainya. Tidakkah kau memilih untuk berusaha membuatnya melihatmu dibandingkan melihatnya bahagia dengan gadis lain ?”

“Eommonim, aku tidak ingin mengulang kesalahanku dengan Hyunshik Oppa. Tidak untuk kedua kalinya.”

“Tapi … kau tahu bukan itu bukan kesalahanmu ? Itu sudah berlalu empat tahun yang lalu, Sayang.”

“Empat tahun yang lalu calon suamiku berusaha meninggalkanku di altar dan mengalami kecelakaan hebat setelahnya. Itu bukan sesuatu yang bisa dilupakan dengan mudah, Eommonim.”

“Tetap saja, itu bukan kesalahanmu, Sayang.”

“Tentu kesalahanku, Eommonim. Kalau saja aku tidak memaksanya menikah denganku. Aku rasa sekarang Oppa masih berdiri di sini. Bernafas dengan bahagia tanpa gangguan abadi di sisinya. Seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Karenanya aku tidak ingin Oppa mengalami kejadian serupa. Jika memang bersama gadis lain bisa membuatnya bahagia. Apa lagi yang bisa aku lakukan ?”

“Hyunjoon Sayang, kau tahu tidak seharusnya berkorban sebanyak ini ?”

“Tidak Eomonim. Ini tidak seberapa. Aku hanya ingin membuktikan kepada dunia bahwa aku, Choi Hyunjoon, bisa membuat bahagia pria yang ia cintai. Bagaimanapun caranya. Bisakah Eommonim mendukungku ?”

“Tentu, Sayang. Tentu saja.”

“Khamsahamnida, Eomonim.”

“Chonmanaeyo, Sayang.” TREK.

Satu – satunya hal yang aku hindari saat ini adalah mengulang kesalahan yang sama dengan orang yang berbeda. Lebih baik aku tidak merasakan lagi apa itu kebahagiaan dibandingkan harus mengulang kesalahan yang sama. Seekor keledai tidak mungkin masuk ke dalam lubang yang sama dua kali, begitu pula aku, tidak mungkin aku terpuruk untuk kedua kalinya karena masalah yang sama, keurachi ?

-choi hyun joon-

“Oppadeul, aku pulang, eo ?” ucap Hyunjoon dengan nada riang yang berlebihan. Sedangkan semua member yang ada di ruangan itu tidak memberikan respon berarti. Hanya gumaman pelan tanda mengiyakan. Bahkan tidak ada satupun di antara mereka yang menolehkan kepala. Bosan, eh ?

Mendapat tanggapan dingin dari calon-kakak-ipar-nya, Hyunjoon memilih berkemas dan segera berdiri dalam diam. Mencoba tidak menimbulkan kegaduhan apapun. Ia sadar, tidak ada satupun member yang tahu bahwa ia dan Kyuhyun sudah dijodohkan. Begitu pula masalah pernikahan mereka yang terhitung hari ini tinggal menunggu satu setengah bulan lagi. Keluarga mereka tidak merasa perlu membeberkan berita bahagia ini. Lebih baik diam dan memberikan kejutan, sanggah Kyuhyun saat diminta ibunya untuk mengabarkan berita. Jadi, bukan salah mereka jika mengabaikan kehadiran Hyunjoon yang dirasa mengganggu waktu istirahat mereka yang sangat berharga di antara jadwal super sibuk yang ada. Hyunjoon paham dan mengerti, karenanya ia tidak pernah berharap apa – apa.

Setelah selesai berkemas dan membereskan dapur, Hyunjoon berjalan perlahan menuju pintu keluar. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri untuk menoleh sekali dan mendapati kesunyian. Seluruh member sudah masuk ke dalam kamar masing – masing. Kecuali satu orang, Yesung. Yesung tampak berdiri lalu berjalan perlahan ke arah Hyunjoon. Setelahnya ia menatap Hyunjoon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penasaran.

“Hyunjoon-ssi, kau tahu ? Aku tidak pernah memahami apa motivasimu selalu datang ke dorm kami setiap hari. Datang dan diabaikan. Kau menikmatinya, eo ?” tanya Yesung dengan nada penasaran yang tampak di permukaan. Yesung benar – benar tidak mengerti apa motivasi Hyunjoon yang sebenarnya.

“Aku tidak mengharapkan apapun, Oppa. Hanya datang dan menjaga Kyuhyun Oppa dari jarak dekat. Tidak salah bukan ?” jawab Hyunjoon enteng.

“Kau kekasihnya ?” tanya Yesung menyelidik.

Hyunjoon tertawa terbahak, mencoba menutupi rasa kagoknya. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia calon istri Kyuhyun, kan ? “Kau lucu, Oppa. Tentu saja tidak. Aku mengidolakannya. Sangat”, tandas Hyunjoon cepat.

Wajah Yesung tampak berpikir lalu berbicara lagi. “Lebih daripada aku ?” tanyanya. “Tentu saja”, jawab Hyunjoon mantap dan mendapatkan tatapan sinis dari Yesung. “Keuraechi. Tuhan memang memberkatimu karena bertemu denganku. Aku akan memberikan fan service untukmu”, Yesung terdiam lalu mulai berteriak. “Cho Kyuhyun ! Antarkan Hyunjoon-ssi pulang ! Sekarang !” tepat saat Yesung menutup mulut, Kyuhyun keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk dan rambut berantakan.

Tampan sekali, gumam Hyunjoon perlahan.

“Kau gila, Hyung ? Ini sudah pukul sebelas malam dan aku tidak bisa menyetir. Biarkan ia pulang dengan taksi atau dijemput supirnya. Aku lelah, Hyung”, tolak Kyuhyun kasar sambil berbalik dan masuk ke dalam kamarnya lagi. Dengan sigap Yesung menarik kaus Kyuhyun lalu menyeretnya kembali.

“Kau gila ? Antarkan dia pulang. Dia seorang gadis. Mana mungkin ia pulang sendiri di malam selarut ini, huh ?” bentak Yesung sebal. Dasar, maknae gila, dengusnya.

“Aku tidak bisa menyetir, Hyung. Hyung saja yang mengantar.”

“Ada sepeda motor Siwon di bawah. Jangan banyak alasan. Ini kuncinya.”

PLUK. Sebuah kunci mendarat mulus di dada Kyuhyun. Dengan gusar Kyuhyun meraih kunci tadi dengan cepat dan menggenggamnya erat. “Demi Tuhan, kalau kau bukan Hyung-ku, kau sudah aku masukkan ke dalam toilet dan aku kunci selama satu minggu”, desis Kyuhyun lalu berjalan keluar dengan langkah terhentak. Emosi.

Hyunjoon segera berlari menyusul Kyuhyun setelah membungkuk singkat pada Yesung. Saat sudah berada di samping Kyuhyun, suasana mendadak hening. Keheningan masih bertahan saat mereka berada di dalam lift dan masih terus berlanjut sampai mereka tiba di tempat parkir bawah tanah apartemen. Beruntung tempat itu terang. Ketika mereka tiba di depan sebuah sepeda motor besar berwarna keperakkan, Kyuhyun langsung duduk di atasnya. Hyunjoon hanya bisa terpaku saat melihat pemandangan itu. Kyuhyun dan sepeda motor memang perpaduan yang sangat sempurna. Sampai akhirnya suara berat Kyuhyun menghancurkan khayalan Hyunjoon barusan.

“Kau membawa helm tidak ?” tanya Kyuhyun datar.

“Ani”, jawab Hyunjoon cepat.

Kyuhyun berdecak keras tanda gusar lalu segera menyalakan mesin motornya. Suara derum sepeda motor mengisi tempat parkir yang sunyi senyap. “Kau tidak perlu memakai helm, aku tahu jalan aman. Naik”, titah Kyuhyun.

Sejenak Hyunjoon menatap tubuh Kyuhyun yang kuyu dan tampak kelelahan. Hati nuraninya menolak untuk memaksa orang yang ia cintai kelelahan hanya untuk mengantar dirinya pulang. Apa yang harus ditakutkan untuk pulang sendiri dan menumpang bus umum ? Tidak ada, pikirnya. Tanpa pikir panjang Hyunjoon menarik kunci tadi, memutar dari kontak dan melepaskannya. Suasana mendadak hening. Dengan cepat Hyunjoon menyodorkan kunci tadi di depan wajah Kyuhyun dan tersenyum lebar.

“Ini. Bawa ini dan simpan di atas. Lalu segera berbaring di atas tempat tidur, pakai selimutmu dan jangan lupa matikan lampu. Mengerti ?” ucap Hyunjoonn dengan nada riang.

“Kau ?” tanya Kyuhyun.

Hyunjoon menggeleng perlahan sambil masih tersenyum. “Aku bisa pulang sendiri. Jung Ajusshi sudah dalam perjalanan kemari.” Kyuhyun mengerutkan dahi tanda tidak percaya namun berusaha untuk percaya. Lalu ia turun dari motor dan berjalan menjauh untuk kembali naik ke atas. Tiba – tiba Hyunjoon berteriak kencang.

“Jaljayo, Oppa !” Kyuhyun hanya melambaikan tangan tanda tidak peduli dan melanjutkan perjalanannya. Saat Kyuhyun hilang dari pandangan, Hyunjoon segera berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Ia memilih melewati jalur kendaraan dibandingkan harus melewati lift. Malas, eh ?

Saat tiba di depan apartemen, setetes air bening jatuh dari langit dan mengenai kepala Hyunjoon yang tidak terlindungi apapun. Perlahan Hyunjoon mendongak dan mendapati serangan jutaan tetes air dari langit dan mengenainya. Ia segera berteduh di bawah kanopi apartemen dan berusaha merogoh tas selempangnya untuk meraih ponsel perak yang ia bawa. Begitu meraihnya, ia langsung menariknya keluar dan menekan tombol kunci. Nihil, layar tetap hitam. Sekali lagi ia coba, nihil. Baterai habis ? Sialan, umpatnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari menembus hujan menuju tempat pemberhentian bus di bawah guyuran derasnya hujan.

Sementara itu, di lantai atas, dari sebuah kaca besar, tampak bayangan seorang pria tengah menatapnya dengan pandangan kalut. Antara ingin menyusul dan tidak peduli. Setelah beberapa saat, ego sang pria menang. Tanpa ba-bi-bu, sang pria berbalik memunggungi kaca dan masuk ke dalam selimut hangatnya.

Aku tidak peduli, itu pilihannya. Ia yang memintaku segera tidur. Aku hanya menuruti apa keinginannya.

-choi hyun joon-

Sudah satu minggu sejak insiden itu. Hyunjoon demam dan terpaksa tidak bisa datang ke dorm untuk menemui Kyuhyun seperti biasa. Suhu tubuhnya tinggi dan kepalanya pening. Hari ini, ia merasa tubuhnya sudah baikan dan ingin mengunjungi Kyuhyun. Akhirnya, ia memutuskan memakai beberapa lapis mantel dan menyiapkan sebuah kotak bekal yang berisi jajangmyeon. Tadi pagi Yesung mengiriminya sebuah pesan.

From. Yesung Oppa
Kyuhyun demam. Kau bisa datang ?

Pesan itu yang memaksa Hyunjoon untuk bangun dan bersiap untuk pergi. Sebelum berangkat, ia sempat berkaca dan memandangi penampilannya. Mengerikan, desisnya. Mata sembab, wajah pucat, kantung mata tebal dalam balutan tiga lapis mantel tebal. Beruntung supirnya ada di bawah, otomatis ia tidak perlu menaiki bus atau semacamnya untuk tiba di dorm.

Sesampainya di dorm, Hyunjoon berjalan dengan langkah gontai sambil menenteng sebuah tas plastik berisi kotak bekal. Langkahnya sempoyongan. Saat berada di dalam lift, ia memilih bersandar dan menutup mata. Meminimalisir rasa pening yang kembali menyerang.

TING

Denting lift berbunyi dan pintu besi tebal itu terbuka. Perlahan Hyunjoon berjalan keluar dengan berpegangan pada dinding. Mencoba bertahan agar tidak jatuh terjerembab apalagi pingsan di sana. Setilha terseok – seok, pandangan matanya terhenti pada dua orang yang tengah berpelukan di depan pintu dorm Super Junior. Tubuh sang pria tinggi semampai dan sang wanita berambut lurus panjang. Kyuhyun dan Seohyun. Dalam keadaan setengah sadarpun ia bisa mengenali mereka, hebat. Hyunjoon terlalu kaget saat harus berteriak atau berlari. Akhirnya ia hanya bisa terpaku dan melihat pasangan di hadapannya.

Dengan lirih, Hyunjoon bisa mendengar suara berat Kyuhyun. Satu kata yang tidak pernah ia harapkan akan terucap dari bibir seorang Cho Kyuhyun untuk gadis lain selain dirinya. “Saranghae”. Lalu, seperti pada umumnya, Kyuhyun menatap dalam mata gadis itu, mencium keningnya perlahan, turun ke hidung, dan tanpa harus melihat apa yang akan terjadi setelahnya, Hyunjoon memilih berbalik dan berjalan dengan cepat menuju lift. Melupakan rasa pening dan mencoba menghalau rasa sakit yang kini menyeruak di dadanya.

Ia sudah berkomitmen untuk ikhlas jika saat ini terjadi. Tuhan mengabulkan doannya. Dia harus menerima semua konsekuensinya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan mobil, dengan cepat ia masuk ke dalam kursi penumpang dan setetes air mata mengiringi ucapannya. “Ajusshi, tolong, antar aku ke kediaman Cho. Sekarang.”

Mobil itu melaju dengan cepat dan meninggalkan tanda tanya besar di kepala Yesung yang melihat adegan saat Hyunjoon keluar dari pintu lobi dengan langkah sempoyongan dan wajah kacau sampai hilang di balik pintu mobil.

Masalah apa lagi ini ?

-choi hyun joon-

“Eomonim, aku berdiri di sini, sebagai Choi Hyunjoon dan memwakili Cho Kyuhyun, meminta pembatalan pernikahan kami”, ucap Hyunjoon dengan suara sedikit tersendat dan mata sembab. Hatinya hancur, namun tidak dipungkiri, ada sepercik rasa bahagia saat menyadari orang yang ia cintai telah menemukan kebahagiaan yang nyata. Untuk satu hal itu, ia patut untuk sedikit berbahagia.

Keempat orang yang kini duduk di hadapan Hyunjoon hanya bisa menatapnya dengan tatapan sedih. Emosi mereka tercampur aduk, antara sedih, shock, bingung dan lain sebagainya. Mereka sudah menyetujui pernikahan kedua anak mereka, tetapi, sekarang, hanya beberapa hari sebelum pernikahan, mereka harus membatalkannya. Orang tua Kyuhyun ingin menahan Hyunjoon, namun apa daya, sesuai dengan janji yang telah Hyunjoon ikrarkan waktu itu, mereka tidak bisa melakukan apapun. Begitu pula orang tua Hyunjoon, mereka ingin membatalkan keinginan anak mereka, tetapi, mereka tidak ingin melihat Hyunjoon kembali menangis jika kejadian empat tahun yang lalu kembali terulang. Park Hyunshik dan Cho Kyuhyun. Kedua pria yang berbeda namun keduanya bisa menghancurkan hati Hyunjoon sama beratnya.

“Nak, tidakkah kau ingin mengulurnya ? Membatalkannya mungkin ?” saran Ayah Kyuhyun. Mencoba mengambil jalan tengah.

“Mungkin kau salah lihat, bisa saja bukan ?” timpal Ibu Kyuhyun.

Hyunjoon hanya menggeleng tanda menolak. Ia lelah. Ia tidak mau menyesal jika harus mengekang orang yang ia cintai, lagi. Tuhan sudah memberikannya pelajaran empat tahun lalu, apa ia memerlukan remedial untuk merasakan sakit yang sama ? Tidak. Ia tidak mau.

“Kenapa tiba – tiba sekali ? Lihat, undangan ini akan segera disebarkan untuk kerabat keluarga besar Cho dan Choi. Gereja sudah dipesan. Gaun sudah dibeli. Tidakkah ini terlalu ceroboh ?” ucap Ibu Hyunjoon dengan nada frustasi. Ia tampak lebih tua saat ini, lelah.

“Eomma, mianhamnida. Aku … aku tidak bisa”, ucap Hyunjoon dengan mata yang kembali berkaca – kaca.

Keempat orang tua itu kini terdiam. Tidak ada yang berusaha mencari inisiatif apapun. Setiap kata yang terucap bisa menghancurkan hati Hyunjoon lebih lagi. Mereka tahu itu. Akhirnya, Hyunjoon membuka mulut.

“Aku … aku akan bertanggung jawab. Semua gedung dan gereja akan aku batalkan untuk sewa. Undangan akan aku bawa pulang dan aku simpan. Beruntung bukan kita tidak sempat mengabarkan hal ini kepada media. Sempurna sekali. Soal gaun, aku bisa menyimpannya”, nada suara Hyunjoon berubah naik turun tidak pada saat yang tepat, membuatnya terdengar janggal. Sarat kepedihan dan kesedihan.

“Untuk itu, aku hanya meminta satu hal. Tidak perlu mengingatkan ataupun mengabarkan hal ini kepada Oppa. Aku tidak sanggup melihatnya bergembira secepat ini. Mungkin terdengar egois, tapi aku bersungguh – sungguh. Biarkan ia mengenalkan kekasihnya kepada Eomonim dan Aboenim. Setelah itu, semuanya bisa dijabarkan secara gamblang. Bisakah ?” pinta Hyunjoon dengan wajah memerah menahan tangis.

Semua yang ada di dalam forum singkat itu hanya mengangguk tanda paham. Hyunjoon tersenyum tipis lalu berdiri dengan perlahan.

“Terima kasih banyak. Permisi”, ucapnya lalu pergi dari tempat itu. Berusaha meninggalkan semua masalahnya di sana. Sebentuk senyum miris terbentuk di antara air mata yang sudah membahasahi wajahnya.

Sekali lagi, aku gagal merubah margaku. Apa memang sesulit ini untuk ikhlas, Tuhan ?

-choi hyun joon-

FLASH BACK

Gedung ini tampak megah dan mewah. Seluruh perabotan yang ada di sana berkelas. Luasnya yang melebihi luas gedung pernikahan lain membuatnya mencolok. Besok, akan ada hari besar. Hari besar untuk keluarga Park dan Choi.

Tampak seorang gadis dengan rambut panjang yang digelung rapi dan menyisakan beberapa helai -yang ntah sengaja atau tidak- terjauh di kedua sisi wajahnya. Ia tampak lelah.

“Nona, bisa kau letakkan meja bundar itu di sana ? Iya, letakkan di sana. Kau, letakkan buket bunga itu di atas sana. Jejerkan dengan buket bunga lain. Omo ! Letakkan meja panjang itu di sini. Iya, dekat lenganku”, sang gadis sibuk memberikan arahan di sana – sini.

Besok adalah hari besarnya, ia tidak mau semuanya gagal atau tidak sempurna setitik pun. Karenanya ia memutuskan untuk turun tangan secara langsung dalam menangani tata desain ruang resepsi ini.

Dari pintu utama, tampak seorang pria tengah berdiri dengan wajah berkerut janggal. Senyumnya kaku dan kedua tangan yang ia jejalkan ke dalam saku celana tergenggam dengan erat. Seolah menahan marah. Besok hari pernikahannya, tetapi, ia tidak bahagia. Tidak sedikitpun.

Perlahan ia berjalan ke arah sang gadis yang kini tengah menjadi pusat perhatian seluruh pekerja di sana. Ia berdiri di belakang sang gadis. Sang gadis tidak sadar, ia masih sibuk memberikan arahan di sana sini.

Pria itu menyayangi gadis di hadapannya. Sangat, tetapi, sebagai adik. Bukan sebagai wanita dan ia baru menyadari hal ini tadi malam. Untuk itu, ia ingin membatalkan semua ini. Sebelum semua terlambat.

Beberapa menit berlalu dan sang gadis tetap tidak menyadari kehadirannya. Akhirnya, sang pria mengambil inisiatif dengan menyentuh pelan pundak sang gadis. Refleks sang gadis langsung berbalik. Dalam sekejap, senyum bahagia terkembang di wajahnya, menutupi kelelahan yang sangat. Refleks sang gadis mencium pipi sang pria sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Sang pria kembali menyentuh pundak sang gadis. Ia perlu bicara. Sekarang. Saat sang gadis menoleh, ia segera menahan pundaknya.

“Aku perlu bicara”, ucapnya cepat.

“Keurae, kita masih memiliki banyak waktu untuk bicara, Oppa. Sedangkan ini harus selesai hari ini”, sela sang gadis.

“Aku harus mengatakan hal ini sekarang. Aku mohon”, pintanya memelas.

“Baiklah. Lebih baik kita keluar saja”, akhirnya sang gadis mengalah. Ia menggamit lengan sang pria dan duduk di bagian kaki sebuah patung besar di sayap kanan gedung.

Suasana hening sesaat. Sang pria mulai membuka mulut, “Hyunjoon~ah, kau mencintaiku ?” tanyanya.

Tanpa berpikir, Hyunjoon menjawab dan senyum lebar tersungging di wajahnya. “Ne, tentu saja. Aku sangat mencintai Oppa. Ada apa ? Hyunshik Oppa kenapa ?” tanya Hyunjoon balik.

Hyunshik mulai tidak tega, ia meremas kedua tangannya bergantian. Bingung. “Kalau … kalau aku tidak mencintaimu … maksudku mencintaimu seperti kau mencintaiku, apa yang akan kau lakukan ?” tanyanya terselubung. Mirip tapi tak sama.

“Hmm .. aku sudah berjanji dengan Tuhan. Aku akan mencintaimu dalam hidup maupun mati. Tidak peduli apapun yang terjadi padaku nantinya”, jawab Hyunjoon enteng.

Hyunshik mendesah kecewa. “Kalau aku tidak mencintaimu, akankah kau tetap mencintaiku seperti ini ?” tanyanya gamblang.

Hyunjoon tidak menangkap adanya sinyal negatif di sini. Ia menjawab dengan cepat dan seolah yakin Hyunshik amat sangat mencintainya. “Ne, aku tidak akan menyerah. Aku mencintai Oppa. Aku akan melakukan apapun untuk mengikat Oppa. Menawan Oppa menjadi milikku selamanya. Menyenangkan bukan ?” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata tanda ia sedikit bercanda.

Hyunshik terdiam. Ia bingung. Jika ia menyerah mengatakannya sekarang, hidupnya akan berakhir besok.

“Kalau aku memilih mati daripada menjadi pendampingmu, apa yang akan kau lakukan ?” Hyunshik mulai berbicara tanpa kendali.

“Maksud Oppa ?” Hyunjoon kebingungan. Tiba – tiba Hyunshik berdiri dan meninggalkan Hyunjoon sendirian yang tengah menatap punggungnya dengan tatapan bingung.

Aku harus meninggalkannya. Harus. Segera.

-choi hyun joon-

STILL FLASH BACK

Hyunjoon tampak sempurna dibalik balutan gaun pernikahannya. Kain penutup wajah yang ia kenakan menambah kesan anggun.

Ia akan menikah. Hari ini. Tanpa sadar, seulas senyum bahagia tergambar di bibirnya. Ia akan segera menjadi Park Hyunjoon. Membayangkannya saja sudah mambuat Hyunjoon kalang kabut. Bahagia, sangat. Jika kau mencintai seorang pria, apa lagi yang kau inginkan selain menjadi pendampingnya ? Tidak ada.

“Sudah datang ?” tanya pendeta dengan wajah datar.

Hyunjoon hanya terdiam. Berusaha melupakan fakta bahwa Hyunshik belum tiba. Seharusnya ia sudah menikah setengah jam yang lalu. Tetapi, pengantin pria belum datang. Sekali lagi Hyunjoon mengecek jam yang ada di dinding kamar rias ini. Dengan cepat ia berdiri sambil mengangkat bagian bawah gaunnya yang menggembung lalu berjalan keluar, berdiri di depan pintu utama dengan melewati koridor samping, menghindari para undangan yang hadir. Ia melihat ke jalan raya dan mendapati sebuah mobil sedan hitam melaju keluar dari dalam parkiran dengan kecepatan yang tidak biasa. Beberapa detik kemudian, tepat saat ia menyadari siapa pemilik mobil itu, suara hantaman benda keras terdengar membahana dibarengi lengkingan suaranya sendiri. Tanpa sadar, tubuhnya melemas dan satu hal yang ia ingat adalah pipinya yang menyentuh dinginnya lantai keramik di bawah.

Ini tidak mungkin terjadi. Kebahagiaanku … sudah di depan mata.


FLASH BACK END

-choi hyun joon-

Saat ini Hyunjoon tengah berjalan sendirian menyeberangi pelataran parkir di depan gereja yang sudah ia pesan. Langkahnya mantap. Walau berat ia harus melakukannya, harus. Suara heels yang ia kenakan terdengar nyaring saat menginjak lantai marmer. Bersiap memasuki bagian dalam gereja yang amat megah.

Ketika Hyunjoon baru saja maju satu langkah, seorang biarawati paruh baya menyambutnya dengan senyum lebar. Beruntung, ia biarawati yang menanganinya waktu itu. Ntahlah, ini suatu kebetulan atau apa. Tidak ada yang tahu.

“Nona Choi Hyunjoon-ssi, ada yang bisa saya bantu ?” tanyanya dengan aura ramah. Hari ini biarawati mengenakan pakaian dengan warna biru yang lembut dan penutup kepala. Rambutnya ditutupi oleh penutup kepala yang biasa digunakan para biarawati. Sempurna, bukan ?

“Ye, saya ingin mengurus penyewaan gereja ini waktu itu, bisakah ?” tanya Hyunjoon dengan wajah sopan. Jujur, ia malu karena tidak bisa memenuhi doa sang biarawati yang menginginkannya menikah dalam naungan berkat Tuhan. Gagal, lagi.

“Baiklah, silakan ikuti saya”, ucap biarawati lalu berjalan melewati koridor. De javu. Itu yang kini Hyunjoon rasakan. Sepertinya baru saja kemarin ia datang kemari, memesan gereja bersama orang yang ia cintai. Tetapi, sekarang, ia harus berjalan sendiri untuk … membatalkan pemesanan. Menyedihkan sekali.

“Ini, apa yang ingin Nona ubah ?” tanya biarawati sambil membuka buku daftar. Hyunjoon sempat terkesiap saat menyadari mereka sudah sampai di sini. Ternyata pikirannya sudah melayang ke mana – mana sejak tadi.

Hyunjoon menghela nafas perlahan. Menguatkan hati untuk mengatakan maksud kedatangannya. “Tolong, batalkan pernikahannya”. Sejenak suasana membeku. Tangan biarawati yang sempat terangkat kini terdiam di udara kosong. Kaget.

“Kau … Kau serius, Nona ?” tanya biarawati dengan nada kaget.

Hyunjoon menunduk. Berusaha menahan air matanya. “Ne”.

“Kenapa ?” tanya biarawati.

Keheningan sesaat muncul. Suara nafas Hyunjoon mulai memberat, menandakan bahwa ia menahan rasa sedih yang amat sangat. “Dia, maksudku Kyuhyun-ssi, sudah memutuskan”.

“Perselingkuhan ?” tanya biarawati dengan suara datar. Kebencian terdengar dalam nadanya.

“Bukan. Tidak seperti itu. Sudah kau silang ? Perlu aku membubuhkan tanda tangan atau apa untuk menunjukkan ini bukan main – main ?” tanya Hyunjoon mengalihkan perhatian.

Hyunjoon menunduk menatap daftar di hadapannya. Sesaat, matanya seolah akan keluar dari rongganya. Ini, serius ?

“Mereka akan menikah hari itu ?” tanya Hynjoon sambil menunjuk sebuah pasangan.

Sang biarawati tersenyum bahagia. Aura positif mulai terpancar. “Ne, Nona Park Hyunjoon dan Tuan Choi Hyunshik dijadwalkan menikah tanggal 3 November besok.”

Hati Hyunjoon terasa membeku. Setengah tubuhnya kaku karena kaget.

Park Hyunjoon dan Choi Hyunshik ? Kebetulan gila macam apa ini ?

-choi hyun joon-

HYUNJOON POV

“Ya ! Bangun kau !” terdengar suara sentakan bersamaan dengan hentakan di bagian bahu kananku. Perlahan aku menggeliat dan mendapati Kyuhyun tengah berkacak pinggang dengan wajah kusut menahan emosi.

“Ini sudah pukul sebelas malam. Kau ingin pulang jam berapa ? Huh ?” lagi – lagi Kyuhyun menyentakku.

Astaga, ini di dorm ? Berarti sejak tadi aku tertidur ? Ish !

“Ne, aku pulang sekarang, Oppa”, ucapku cepat lalu segera berdiri dan dengan setengah berlari keluar dari dorm.

Ck ! Menahan diri untuk tidak datang ke dorm saja sulit setengah mati, melupakannya ? Aku rasa aku bisa gila !

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

“Ne, aku pulang sekarang, Oppa”, ucap Hyunjoon cepat lalu segera berdiri dari sofa ruang tengah. Aku langsung berbalik untuk meraih kunci motor yang sudah Hyung siapkan sebelum aku membangunkan Hyunjoon tadi.

Saat berbalik aku tidak melihat Hyunjoon di mana – mana. Dengan tergesa aku berlari ke arah jendela besar di sisi ruangan lalu melongokkan kepala untuk memandang ke bawah.

Beberapa menit kemudian tampak Hyunjoon yang berlari keluar dari lobi dan segera melesat keluar dari gerbang masuk apartemen. Kemudian ia berbelok ke arah kiri dan berhenti -setelah berjalan beberapa meter- di sebuah halte. Menunggu bus ? Semalam ini ?

Tanpa sadar aku menatapnya lebih seksama. Memperhatikannya yang kini tengah menggosokkan telapak tangan karena udara dingin. Bodoh, sudah hampir memasuki bulan Oktober ! Ceroboh ! gerutuku dalam hati.

Sekitar setengah jam kemudian muncul sebuah bus besar dari ujung jalan. Hyunjoon tampak tersentak berdiri ketika melihatnya. Bus berhenti tepat di hadapan Hyunjoon, dengan sikap agak terburu, ia naik ke dalam bus. Kemudian bus berjalan, aku tidak bisa melihat apa lagi yang ia lakukan. Tanpa sadar aku menghela nafas lega.

Melihat tunanganmu pulang dengan selamat membuat lega bukan ?

-choi hyun joon-

TWO WEEKS LATER

KYUHYUN POV

Bosan sekali. Hari ini jadwal tidak terlalu padat. Aku hanya duduk bersantai di ruang tengah. Menonton acara televisi yang tidak jelas. Berkali – kali aku menekan remote untuk mencari channel yang tepat, namun nihil, tidak ada acara yang menarik perhatianku.

“Kyuhyun~ah ! Hyunjoon di mana ?” terdengar suara Yesung Hyung dari arah dapur.

Ah, benar. Sudah dua minggu Hyunjoon tidak datang mengunjungiku. Rekor, eh ? Terakhir dia tidak mengunjungiku selama satu minggu. Aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin sakit, karena malamnya ia pulang sendirian bersama dengan hujan deras yang mengguyur Seoul. Mengenaskan, bukan ?

“Ya ! Hyung bertanya padamu !” sentak Yesung Hyung yang dengan sangat tiba – tiba sudah duduk di sampingku sambil membawa segelas susu vanilla hangat. Hmmm, baunya harum sekali, pikirku girang.

Dengan secepat kilat aku menarik gelas dari genggaman Hyung dan meminumnya setengah. Setelah selesai, aku menyodorkan gelas tadi ke arah Hyung dan memasang senyum lebar.

“Ya ! Itu susuku ! Bodoh !” bentak Hyung sebal.

“Dasar pelit ! Kau harus sering bersedekah Hyung, ingat itu”, seringaiku kecil.

“Dasar bocah setan ! Lupakan saja ! Ke mana Hyunjoon ? Ini sudah hampir dua minggu ia tidak kemari. Kau tidak merasa janggal ?” tanya Hyung.

Aku mengerutkan dahi, apa aku bilang, janggal sekali bukan ?

“Molla, Hyung. Aku tidak tahu”, jawabku sekenanya.

“Ish ! Sial sekali ia memiliki idola sepertimu. Tidak peka”, dengus Hyung.

Eh, Hyunjoon mengidolakanku ? Hyung serius ?

“Ngomong – ngomong, kau sebenarnya ada hubungan apa dengan Hyunjoon ? Jujur saja dengan Hyung”, tiba – tiba mata Hyung melebar aneh. Jiwa tukang gosip, eh ?

“Hubungan apa ? Hyung jangan main – main”, ucapku gugup.

“Yaaaaaa, tidak perlu berbohong. Dia kekasihmu, benar ?” desak Hyung lagi.

Aku hanya menggeleng tanda tidak mengiyakan. Kenapa aku tidak berbicara ? Kalau berbicara, aku yakin suaraku akan bergetar karena panik.

“Bukan, Hyung. Aku seorang publik figure, mana mungkin aku memiliki kekasih. Hyung ingin kekasihku habis dikuliti ELF dan SparKYU ?” tanyaku sarkatis.

Hyung menatapkau tajam sebelum melanjutkan ucapannya. “Ck ! Berlebihan ! Seunghyun, Taemin, dan Eeteuk Hyung saja berani memiliki kasih. Kau tahu Raena, Sungra dan Miho kan ? Lihat ! Mereka masih sehat sampai sekarang, bukan ?”

Aku bersiap untuk menunjukkan protes. Aku bukan mereka, walaupun ya, aku memiliki tunangan -bukan kekasih-. Tetapi, ish, bagaimana menjelaskannya ? Sulit sekali.

Tiba – tiba bel dorm berbunyi. Sontak Hyung berlari ke arah pintu dan membukanya. Beberapa detik kemudian suara Hyung terdengar membahana.

“Cho Kyuhyun ! Choi Hyunjoon mencarimu ! Panjang umur bukan ? Tidak salah kau membicarakannya barusan, benar kan ?” ucap Hyung dengan nada terlalu bahagia.

Demi apapun, aku ingin menenggelamkan Hyung ke dasar Sungai Han saat ini ! Harga diriku, kau mengalami kemrosotan harga, Nak.

-choi hyun joon-

HYUNJOON POV

“Cho Kyuhyun ! Choi Hyunjoon mencarimu ! Panjang umur bukan ? Tidak salah kau membicarakannya barusan, benar kan ?” teriak Oppa dengan suara sangat lantang. Aku sempat mematung selama sepersekian detik. Membicarakanku ? Dia serius ?

Perlahan Kyuhyun berjalan ke arahku dengan wajah gusar. Aku tahu, ia benci situasi seperti ini. Karenanya aku diam saja. Aman, bukan ?

“Apa ? Ada apa kau ke sini ?” tanya Kyuhyun ketus.

“Aku perlu bicara berdua saja denganmu. Sekarang”, ucapku cepat.

UHUK UHUK. Tiba – tiba terdengar suara batuk dari arah samping. Omo ! Ternyata Oppa masih berdiri di sini ? Aku kira ia sudah pergi.

“Hyunjoon~ah, kau sudah bertunangan ?” tanya Oppa tiba – tiba.

Tunangan ? Bagaimana Oppa bisa tahu ? Jangan bilang Kyuhyun mengatakan hal bodoh seperti itu. Ck ! Aku sudah membatalkan segalanya.

“Ma … maksud Oppa ?” tanyaku gugup.

“Igeo. Kau memakai cincin. Kau sudah akan menikah ? Aku kira kau akan menunggu Kyuhyun terlebih dahulu”, tanya Hyung dengan wajah bingung.

Aku menelan ludah dengan gugup. Sekilas melirik ke arah cincin perak yang ada di jariku. Si ‘pembawa masalah’. Sebagai ganti jawaban, aku hanya menunjukkan cengiran lebar.

“Tidak perlu menyeriangai seperti itu. Aku rasa itu hanya aksesoris saja. Benar, bukan ? Ngomong – ngomong, sebenarnya kau sudah memiliki kekasih belum ? Kalau sudah, ada satu hal yang aku bingungkan, ia -kekasihmu- apa tidak marah kau selalu berada di dekat Kyuhyun seperti ini ?” tanya Oppa sambil menunjuk ke arahku dan Kyuhyun bergantian.

Aku terdiam. Tiba – tiba bayangan Hyunshik Oppa yang tengah tersenyum lebar datang. Tanpa pikir panjang aku menjawab, “Ne, aku sudah memiliki … satu kekasih. Ia tidak marah, tentu saja, ia tidak akan pernah bisa marah padaku, Oppa”, karena dia sudah tidak bisa marah lagi kepadaku, tambahku dalam hati.

Saat Oppa akan menjawab, Kyuhyun menyela dengan cepat. “Kau ada urusan apa ? Cepat katakan”. Aku memandangnya dengan sedikit jengah, ayolaaaah, aku tahu kau sudah memiliki kekasih, tetapi, apa kau harus selalu sekasar ini padaku ?

“Sudahlah, ikut aku saja”, ucap Kyuhyun lalu menyeret tubuhku agar masuk ke dalam kamarnya. Di sana ada Sungmin Oppa yang tengah berbaring di atas ranjang. Otomatis aku membungkuk dan memberikan salam formal, “Annyeong haseyo, Sungmin-ssi” dan mendapat anggukan kecil sebagai balasan.

“Apa yang ingin kau bicarakan ? Tidak perlu menebar pesona di sana – sini, tidak akan ada yang teratrik padamu. Mengerti ?” sentak Kyuhyun dengan keras.

Aku kembali terdiam. Jadi, selama ini ia mengira semua sikap baikku untuk menebar pesona ? Begitu ? Dia kira aku gadis macam apa ? Untuk ukuran mantan calon suami, aku rasa dia sedikit keterlaluan.

“Kyuhyun~ah ! Itu tidak sopan !” bentak Sungmin Oppa.

Sebelum pertengkaran dimulai, dengan cepat aku menyela, “Sudah, Sungmin-ssi. Tidak apa – apa. Aku rasa aku datang di waktu yang tidak tepat”, ucapku sambil membungkuk ke arah Sungmin Oppa.

“Aku diminta Eomma mengambil setelan jas untuk ‘acara’ November awal. Kau bawa bukan ?” tanyaku.

Ya, tugasku hari ini adalah mengambil jas milik Kyuhyun. Untuk apa ? Dimusnahkan ? Tentu saja tidak, hanya akan aku simpan. Lagipula tidak lucu bukan jika aku membatalkan pernikahan dan tuxedo masih tetap Kyuhyun bawa. Menggelikan.

Wajah Kyuhyun tampak berpikir, sedetik kemudian sekelebat pemahaman muncul. “Ne, aku bawa. Akan kau benahi atau bagaimana ? Bukankah terakhir saat diukur sudah pas ?” tanyanya sambil berjalan ke arah almari baju besar pribadinya.

“Ummm … molla. Ahjumma yang meminta. Lagipula aku hanya mengikuti perintahnya saja”, jawabku sekenanya.

Setelah beberapa saat sibuk mengaduk – aduk gantungan baju, akhirnya Kyuhyun menyodorkan satu stel tuxedo yang sudah aku pilih. Bagus sekali. Sungguh. Model ini mirip dengan model yang dulu juga aku pilihkan untuk Hyunshik Oppa. Tidak bermaksud memiripkan atau apa, hanya saja seleraku memang hanya sebatas itu. Simple dan elegan.

“Butuh kantung atau apa untuk membawanya ?” tawar Kyuhyun.

“Tidak perlu, bukankah saat membeli ini ada tempat khususnya ?” tanyaku.

“Sebentar, aku carikan dulu”, ucap Kyuhyun dan kembali berkutat dengan almari pakaiannya.

“Hyunjoon-ssi, sampai kapan kau akan selalu datang kemari ? Kau tidak bosan ?” tanya Sungmin Oppa.

Aku hanya tersenyum, belum sempat menjawab Kyuhyun sudah memotong pembicaraan, “Tidak perlu sok mannis, Hyung. Ia sadar ia tidak dibutuhkan di sini. Biarkan saja ia datang setiap hari. Aku rasa suatu hari nanti ia akan menyerah dan tidak datang lagi. Lihat saja”, ucap Kyuhyun dengan nada sangat menyakitkan.

Aigoo, aku baru menyadari kalau Kyuhyun berlidah tajam.

Saat akan membuka mulut, lagi – lagi ucapanku diiterupsi suara Sungmin Oppa dari luar kamar. “KYUHYUN~AH ! SEOHYUN DATANG !”

Tanpa sadar suasana hening seketika. Tanpa pikir panjang aku segera berbalik menatap Kyuhyun yang tengah berekspresi sangat janggal -wajahnya bersih dari emosi, kau tahu ?-.

“Kalau begitu tidak perlu kantung, aku pulang sekarang. Terima kasih”, ujarku cepat. Saat akan berjalan ke arah pintu, aku bisa merasakan sebuha tangan mencekal lenganku. “Aku antar”, ucap Kyuhyun singkat.

Perlahan aku melepaskan cekalan tangan Kyuhyun, “Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Jung Ahjussi sudah menunggu di bawah. Lagipula kau ada tamu, Kyuhyun-ssi”, tanpa sadar aku mengucapkan nama Kyuhyun dengan sangat formal.

“Aku ingin bertemu Ahjumma”, desak Kyuhyun. “Eomma tidak ada di rumah”, jawabku singkat.

“Ke mana ?” tanya Kyuhyun lagi.

“Tentu saja ke tempat peristirahatan calon menantunya. Itu sebuah hal lazim bukan, Kyuhyun-ssi ?” ucapku dengan nada datar lalu segera keluar dari ruangan.

Sudahkah aku katakan ? Hari ini tepat satu minggu sebelum tanggal ulang tahunku dan tanggal dari kedua hari pernikahanku. Kau tau artinya ? Artinya … satu minggu lagi aku akan mengadakan upacara peringatan kematian Hyunshik Oppa. Jika Eomma ke sana, bukankah sama saja beliau mengunjungi calon menantunya, benar ?

-choi hyun joon-

WEDDING DAY – 1

KYUHYUN POV

Hari ini ada sesuatu yang aneh. Sangat aneh. Sepanjang sejarah yang aku tahu, setiap satu hari sebelum pernikahan, pasti keluarga yang memiliki acara akan sibuk luar biasa, benar ? Aku rasa aku adalah salah satu dari keluarga itu. Tetapi, lihat ! Aku tidak sibuk sama sekali. Ntah Eomma-deul yang sudah sangat detail dalam menyusun segalanya atau bagaimana. Aku tidak paham. Benar – benar tidak paham.

DRRT DRRT DRRT

Tiba – tiba aku merasakan ponselku bergetar. Dengan cekatan aku meraihnya dari saku celana dan mengangkat telepon masuk itu.

“Kyuhyun~ah, bisa kau pulang sekarang ? Ada sesuatu yang ingin Eomma bicarakan”.

“Sekarang Eomma ?” Ini yang sejak tadi aku tunggu.

“Ne, kau tidak ada jadwal bukan ?”

“Ye, aku rasa hari ini sudah kosong Eomma. Umm, setengah jam lagi aku sampai rumah. Annyeong”. TREK.

Panjang umur, baru saja aku pikirkan, sudah terlaksana, keren bukan ?

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

“Apa yang ingin Eomma bicarakan ?” tanyaku. Saat ini aku sudah berada di ruang keluarga bersama Eomma, Appa dan Nuna. Ntah kenapa, pertemuan kali ini sedikit canggung.

“Sebantar, Hyunjoon di mana ? Tidak datang kemari ?” tanyaku lagi.

Tidak tahu kenapa, tidak melihatnya selama seminggu ini membuatku agak … rindu, eh ? Aku baru menyadari suatu hal, ia tidak buruk. Setidaknya tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan. Aku selalu menganggap ia bersedia menikah denganku hanya karena aku seorang idol dan kaya raya. Tetapi, setelah masa penjajakan ini, aku rasa ia tidak sepicik itu.

“Tumben sekali kau menanyakan tentangnya, huh ?” dengus Nuna keras.

Aiya ! Ada apa ini sebenarnya ?

“Ahra~ya. Sudahlah. Kyuhyun~ah, cincin pernikahanmu di mana ?” tanya Eomma.

Cincin, cincin. Sebentar, aku rasa aku membawanya. Aku merogoh saku dan mengeluarkan dompet hitam, lalu merogoh lipatan samping dan TARA ! Cincin itu sekarang ada di sini. Sudahkah aku deskripsikan wujud cincin ini ?

Cincin ini berbahan dasar perak dan berlian. Bentuknya lingkaran -tentu saja-, sisinya agak tebal dan pada bagian tengah terdapat garis horizontal -yang membagi cincin ini menjadi dua bagian- berwarna perak terang dan ada hiasan berlian di bagian depannya. Satu kata, simple. Pada bagian dalam tertulis nama Cho Kyuhyun dan Choi Hyunjoon serta tanggal pernikahan kami besok, 3 November. Cincin ini dipilihkan oleh Hyunjoon, tidak heran bukan.

Aku menyodorkan cincin itu pada Eomma. Eomma meraihnya lalu memasukkan cincin itu ke dalam kotak beludru berwaran merah, kalau tidak salah aku melihat pasangannya. Milik Hyunjoon ?

“Sekarang kau jujur saja, kau sudah memiliki kekasih bukan ?” tanya Eomma.

“Maksud Eomma ?” tanyaku kaget.

“Ne, kekasih, pacar kalau kau tidak mengerti”, tambah Appa.

Hei, ada apa ini ? Kenapa Appa dan Eomma membentakku ?

“Seohyun itu siapa ?” Nuna menimpali.

Ada apa sebenarnya ?

“Ada apa ini ?” tanyaku mulai panik.

“Eomma sudah tahu segalanya. Semua sudah selesai diurus. Kau tinggal jujur dan ya, semua akan kembali seperti sedia kala”, ujar Eomma halus.

Aku menatap wajah keluargaku dnegan bingung. Apa maksud mereka sebenarnya ? Tiba – tiba, sekelebat ingatan merayapiku.

FLASH BACK

“Oppa, bantu aku”, pinta Seohyun di hadapanku. Saat ini kami tengah berdiri di depan pintu dormku. Kondisiku sedang amat sangat tidak fit dan aku benci basa – basi. Dan lagi Hyunjoon sudah beberapa hari tidak mengunjungiku, pantas bukan kalau aku sedikit uring – uringan ?

“Apa ?” tanyaku singkat.

“Tolong katakan kau mencintaiku dan cium dahiku, bisakah ?” pinta Seohyun.

Aku memutar bola mataku dengan malas. Ayolah permintaan bodoh macam apa ini ? Aku sudah hampir beristri sekarang.

Aku menatap wajah gadis di hadapanku dengan seksama, “Beri aku satu buah alasan untuk menuruti keinginanmu”, tantangku.

Perlahan Seohyun menghembuskan nafasnya, “Yonghwa Oppa tidak tahu cara memintaku menjadi kekasihnya. Ia berkata dengan jujur dan aku kasihan. Aku butuh sebuah referensi untuk mengajarinya”.

“Cih ! Pria macam apa yang tidak tahu cara meminta gadis menjadi kekasihnya ? Kau yakin ia seorang pria ?” ejekku kasar.

“Ayolah Oppa. Aku mohon. Bantu aku kali ini saja”, pinta Seohyun sekali lagi.

Aku menghembuskan nafas -kelewat- keras lalu mengiyakan. “Baiklah, aku akan melakukannya satu kali saja. Tidak ada siaran ulang. Mengerti ?” titahku.

Seohyun mangangguk paham. Perlahan aku mendekat, mencoba menciptakan suasana yang romantis. Aku tahu ini hanya tipuan, tetapi aku butuh romansa untuk mengatakan kata keramat itu.

Aku menundukkan kepalaku saat akan membisikkan kata -aku tidak ingin mengucapkannya- di telinga Seohyun. Setelah selesai aku mengecup dahinya, turun ke hidung dan … selesai. Hanya sampai hidung.

“Sudah, kau paham bukan ?” tanyaku.

“Ne, terima kasih, Oppa”, ucap Seohyun lalu pergi begitu saja. Maknae aneh.

Setelahnya aku masuk ke dalam dorm dan beristirahat di sofa ruang tengah. Tiba – tiba pintu terbuka dengan keras. Yesung Hyung muncul lalu mencari – cari sesuatu -ntah apa-. Saat melihatku ia langsung berbicara keras. “Katakan padaku, apa yang baru saja kau lakukan ?”

“Aku ? Aku menerima tamu”.

“Siapa ?”

“Maknae SNSD itu, ada apa ?”

“Hanya si maknae ? Kau yakin ?”

“Ne. Tentu saja”.

Hening sesaat. “Kau tahu Kyuhyun~ah. Aku rasa kau dalam masalah besar”.

FLASH BACK END

Apa ini akar dari semua masalah ini ? Benar ? Bagaimana bisa keluargaku tahu ? Apa yang akan terjadi setelah ini ? Batal ? AKu rasa tidak mungkin. Ini terlalu gabah untuk membatalkan sebuah pernikahan karena salah paham. Aku benar, bukan ?

“Eomma, apa maksud Eomma dengan selesai ? Seperti sedia kala ? Apa ?”tanyaku panik.

Tiba – tiba ponselku bergetar. Aku mengacuhkannya. Nuna tampak tak suka lalu menendang tulang keringku dengan keras. “Angkat ! Bodoh !”

Malas – malasan aku membuka ponselku. Sebuah telepon masuk dari … Sungmin Hyung ? Ada apa ini ?

“Yeobeosaeyo”.

“Kyuhyun~ah ? Ini benar kau ?”

“Tentu saja, Hyung. Ada apa ?”

“Bisa kau datang ke dorm sekarang ? Ini penting sekali”.

“Penting ? Penting bagaimana ?”

“Cepat datang ! Sudah tidak ada waktu lagi !” TREK.

Ketiga pasang mata kini menatapku dengan penuh tanya. Tanpa diminta aku menjelaskan apa yang terjadi. “Hyung memintaku pergi ke dorm sekarang”.

Eomma tampak menghela nafas perlahan sebelum menjawab, “Pergilah”.

“Keundae …”, Nuna memotong ucapanku, “Sudahlah, pergi saja. Kau menyebalkan, kau tahu ? Kau makhluk paling kurang ajar yang pernah aku temui di dunia ini. Pergi kau !” sentak Nuna keras.

Aku hanya ternganga kaget mendengar umpatan dari bibir Nuna-ku sendiri. Ini gila. “Sudahlah, kau pergi saja. Tidak apa – apa. Besok akan Appa jelaskan apa yang terjadi”, sela Appa. “Yeobo ! Apa maksudmu ? Kita sudah berjanji !” bentak Eomma keras.

“Sudah ! Cukup ! Aku lelah ! Biarkan pria bodoh ini pergi ! Aku muak melihat wajahnya hari ini !” sekali lagi Nuna membentak lalu berjalan dengan hentakkan kaki menaiki tangga. Beberapa detik kemudian terdengar suara debam pintu yang dibanting. Marah ?

“Eomma, Appa, aku berangkat. Annyeong”, pamitku sambil berjalan gontai keluar rumah.

Sungguh, sebenarnya apa yang terjadi ? Semua terasa janggal.

-choi hyun joon-

HYUNJOON POV

Ntah sudah berapa puluh kotak tisu yang habis aku pakai. Aku menangis. Semalaman, tidak, seharian -lebih bahkan-. Aku menantang ? Benar. Aku menonton Titanic saat suasana hatiku sedang sesedih ini. Pas sekali bukan ? Panggil aku badak kalau aku sampai tidak menangis.

Bayangkan, besok -seharusnya- hari pernikahanku. Tetapi, lihat ! Saat ini aku tengah duduk di lantai kamar. Tumpukkan undangan, gaun, tiara, bahkan high heels ku bertebaran di sana – sini. Aku depresi, sangat depresi.

“Sayang, kau sudah makan ?” tampak kepala Eomma menyembul dari celah pintu yang baru saja terbuka.

Dengan lemah aku mengangguk, sebenarnya aku belum makan sama sekali sejak tiga hari lalu. Peduli setan dengan makan. Untuk apa aku makan dan bertahan hidup ? Lebih baik aku menemani Hyunshik Oppa di surga. Benar ?

“Kau yakin ? Wajahmu pucat sekali”, ujar Eomma prihatin.

“Aku baik – baik saja, Eomma. Lihat, aku menangis karena menonton film ini”, jawabku sambil menunjuk layar televisi dengan telunjuk.

Eomma hanya diam lalu pergi. Sudah hampir satu minggu aku seperti ini. Tidak berjiwa. Kosong. Hampa. Aku tidak melakukan apapun. Hanya duduk atau berbaring dengan wajah datar. Emosi … aku lupa bagaimana rasanya beremosi selain sedih.

DRRT DRRT

Ponselku bergetar tanda sebuah pesan masuk. Dengan tangan bergetar aku meraih ponsel dan membuka pesan tadi.

From. Kyuhyun-ssi
Hyung sakit. Aku di dorm. Kau ingat acara besok bukan ? Kenapa tidak ada perayaan atau semacamnya di rumah ? Bahkan pesta pelepasan masa bujangan pun tidak ada. Kau melupakannya, huh ?

Aku ingin tersenyum, tapi aku tidak bisa merasakan wajahku. Lemas sekali. Saat akan membalas pesan tadi, tiba – tiba ratusan kunang – kunang muncul dan beberapa detik kemudian … gelap.

-choi hyun joon-

HYUNJOON POV

Saat ini aku berdiri di tengah lapangan hijau yang sangat luas. Sejauh mata mamandang tidak ada apapun selain rumput jepang hijau. Aku mendongak dan mendapati langit masih tetap biru. Tidak ada awan atau burung seperti biasanya. Aku baru menyadari satu hal, di sini sunyi sekali, eh ?

Tiba – tiba aku merasakan sepasang lengan memeluk pinggangku. Refleks aku menunduk dan melihat penampilanku. Aku sempat ternganga saat menyadari pakaian yang aku kenakan, gaun pernikahan dengan … Hyunshik Oppa ? Gaun ini masih sama. Simple dan cantik. Bagian bawah gaun ini masih mengembang dan warna putihnya tampak sangat cemerlang. Hiasan bunga kecil dan pernak – pernik lainnya masih ada. Satu hal yang baru saja aku sadari … ini berbeda. Gaun ini … terlalu baik – baik saja. Terakhir memakainya, aku rasa gaun ini berlumuran darah dan ada beberapa bagian yang robek. Kau tahu bukan alasannya ? Aku bahkan masih ingat aku meratap di lantai kamar mayat dengan gaun ini. Ingatan buruk sulit dilupakan, kau tahu ?

“Sudah cukup terkesannya ?” tanya sebuah suara selembut angin dari telinga kananku. Sontak aku menoleh dan mendapati Hyunshik Oppa yang tengah memeluk pinggangku. Tanpa sadar aku berbalik dan memeluknya sangat erat. Amat sangat. Bahkan aku yakin seratus sebelas persen Oppa akan tercekik jika ia tetap pasrah seperti ini dalam dua menit ke depan. Aku jamin.

“Hiks … hiks … Oppa, aku rindu sekali padamu”, isakku tanpa sadar. Astaga, aku sempat heran, bagaimana bisa aku bertahan selama lima tahun -terhitung tanggal 3 November ini- tanpa melihat Oppa. Aku bisa merasakan tangan besar Oppa mengusap punggungku lembut. Oppa membuat pola melingkar saat mengusap. Menenangkan sekali.

“Jangan menangis. Oppa juga merindukanmu. Di sini sepi sekali, kau tahu ?” tanya Oppa sambil melonggarkan pelukanku.

Perlahan aku mengusap wajahku untuk menghilangkan bekas air mata yang dengan sangat sukses sudah membasahi gaunku. Aku juga sibuk mengibaskan tangan di atas gaunku untuk menghilangkan bekas air mata yang sudah terlanjur jatuh. Tiba – tiba Oppa mencekal tanganku. Refleks aku mendongak menatapnya.

“Oppa, gaun ini bisa kotor”, ucapku cepat.

“Tidak perlu kau bersihkan. Lihat ! Sudah hilang sendiri, bukan ?” ujar Oppa sambil menunjuk bekas air mata tadi. Ajaib, hilang tanpa bekas. Saat akan membuka mulut untuk bertanya, Oppa memotong ucapanku.”Ini Surga. Kau tahu, Sayang ? Segala kesenangan ada di sini. Di sini tidak ada penderitaan. Apalagi kesulitan”.

Tiba – tiba pandanganku berkabut. Tanpa sadar aku menyarukkan kepalaku ke leher Oppa. Menangis keras di sana. “Oppa, maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu memaksamu, mengekangmu. Maafkan aku”, isakku keras.

“Sssssttt, gwaenchanha. Aku baik – baik saja, Sayang. Tidak perlu menangis”, jawab Oppa pelan. Suasana hening sesaat sebelum aku membuka suara lagi. “Oppa, aku ingin di sini”.

“Kenapa ? Bukankah banyak orang yang mencintaimu di sana ?” ujar Oppa sambil menunjuk sisi lain lapangan yang sangat jauh. Aku bahkan tidak bisa melihat apapun.

“Kau tidak bisa melihatnya ? Aku rasa itu belum nampak untuk mata manusia”, kekeh Oppa. Tanpa sadar aku menepuk bahu Oppa gemas, “Ya ! Oppa kira Oppa apa ? Oppa juga manusia !” dengusku kesal.

“Aigoo ! Tetap saja childish. Hyunjoon Sayang, kau lupa ? Aku sudah bukan manusia sekarang”, jelas Oppa dengan senyum lebar. “Aku malaikat penjaga. Malaikat penjagamu”, tambah Oppa.

Mwo ? Malaikat penjaga ? Apa Oppa kira ini komik ?

“Aku selalu bersamamu. Sejak kejadian itu aku selalu ada di sampingmu. Kapanpun dan di manapun. Kau merasakannya ?” jelas Oppa.

Aku hanya menatap dengan wajah bingung. Sungguh. Aku bingung. “Aku selalu ada di sini. Di dalam hati dan pikiranmu. Sejak dulu, sekarang, dan nanti”, tambah Oppa.

Aku menggelengkan kepala bingung. “Aku tidak peduli. Aku ingin di sini saja. Bersama Oppa, ya ?” desakku sekali lagi.

Oppa terkekeh singkat sebelum menjawabku. “Kau yakin ? Kau ingin meninggalkan Kyuhyun begitu saja ?”

Tanpa sadar air mataku mulai merebak. “Jangan biacarakan dia, Oppa. Itu menyakitkan”.

“Menyakitkan ? Ia mencintaimu, kau tahu bukan ?” ucap Oppa.

“Cinta ? Huh ! Ia bahkan meminta seorang gadis menjadi kekasihnya saat ia sudah berstatus menjadi tunanganku. Kau bilang dia cinta padaku ?” aku tahu, nada suaraku agak kasar dan terkesan tidak peduli, tetapi, sungguh, aku sangat sedih.

Oppa mengusap puncak kepalaku perlahan. Lalu bernafas di sana. Hangat sekali.

“Ia cinta padamu. Tidakkah kau merasakan kemiripan kami ?” tanya Oppa.

“Mirip ?” nadaku terdengar sarkatis.

“Ne, kami sama – sama mencintaimu. Walaupun Oppa terlambat menyadari dan terlanjur goyah, ia lebih baik dari Oppa. Ia … hadiah dari Tuhan karena kau sudah merelakan Oppa, Sayang. Tidakkah kau menyadarinya ?” jelas Oppa panjang lebar.

Hadiah dari Tuhan ? Ini bukan lelucon, kan ?

“Untuk kali ini saja, dengarkan Oppa sebagai seorang pria. Oppa mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Saat pergi, Oppa memang goyah. Hanya di saat terakhir itu. Saat berada di sini, Tuhan melihat kesungguhan Oppa dan menakdirkan pertemuanmu dengan Kyuhyun. Kalau kau perhatikan dengan seksama, ia mirip dengan Oppa. Satu hal yang harus kau tahu, ia belum sadar kalau ia mencintaimu. Saat sadar, Oppa berani jamin, Kyuhyun akan menjagamu sangat baik, bahkan lebih baik daripada saat Oppa menjagamu. Kau percaya kan ?” jelas Oppa sambil sesekali mengusap rambutku. Ini kebiasaan Oppa sejak dulu, aku tidak tahu apa alasannya sampai sekarang.

“Tap ..”

“Sebenarnya, semua yang kau lakukan tidak ada yang sia – sia. Tidak ada. Bukankah di balik semua pengorbanan pasti ada kesenangan ?” kekeh Oppa sebelum tubuhku limbung dan kegelapan kembali merayapiku.

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

“Kyuhyun~ah ! Bangun ! Sudah pukul dua belas siang, kau tidak ikut misa di gereja ?”, suara cempreng Sungmin Hyung membangunkanku.

Perlahan aku menggeliat dan mendapati tubuhku yang tengah dalam posisi setengah di lantai dan setengah lagi di atas kasur milik Yesung Hyung. Semalam ia sakit dan aku dipaksa menjaganya karena seluruh member sedang ada keperluan. Tumbal, eh ?

Dengan masih setengah sadar aku berdiri dan dengan sedikit terhuyung, aku mulai berjalan keluar dari pintu. Berniat untuk gosok gigi dan segera berangkat ke gereja.

SRAK

Tiba – tiba kakiku menendang benda tipis terbuat dari besi di bawah sana. Dengan masih sambil mengucek mata aku menunduk dan mendapati iPhone-ku tengah terguling dengan sangat anggun di bawah sana. Sedikit demi sedikit aku berjongkok untuk meraihnya.

Aku menekan tombol kunci di sisi samping dan mendapati sebuah pengingat.

WEDDING DAY at 11.00 am

Mwo ?! Hari pernikahanku ! Hari ini ! Gila ! AKu tidak pernah mendengar sejarah pengantin pria terlambat datang di acara pernikahannya. Dari kisah yang pernah aku baca, memang ada kasus seperti ini dan berakhir dengan pengantin wanita yang menikah dengan pria lain pilihan Appa-nya secara acak. Membayangkan Hyunjoon menikah dengan pria lain benar – benar membuatku mual seketika.

Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke lantai dasar dan meraih kunci motor Hyung.

AT CHURCH

Saat ini aku sudah berdiri di depan gerbang gereja. Ramai. Sangat ramai. Aku rasa upacara pernikahan sudah selesai. Aku benar – benar terlambat ? Hyunjoon sudah menikah ? Apa dengan kekasih yang ia ceritakan pada Yesung Hyung ? Aduh, bagaimana sekarang ?

Beberapa tamu mulai keluar dan melewatiku begitu saja. Sebuah tatapan tajam seorang ahjumma membuatku menunduk memperhatikan penampilanku. Omo ! Aku bahkan tidak memakai tuxedo-ku. Keundae, sebentar, bukankah seluruh perlengkapan pernikahan sudah dipersiapkan Hyunjoon ? Itu artinya … ia benar – benar sudah menikah dengan pria lain ? Omo !

“Pengantin wanitanya cantik sekali, sungguh”.

“Benar, pengantin prianya juga sangat tampan”.

“Sebentar, siapa nama pengantin wanitanya ?”

“Hyunjoon. Sekarang bernama … Choi Hyunjoon kan ?”

JEDER ! Rasanya seperti ditimpa batuan besar dari ketinggian seribu meter. Sakit sekali. Jadi sungguh ia menikah dengan pria lain ? Lalu, bagaiamna denganku ? Aku … mulai bisa menerimanya. Ish ! Tanpa pikir panjang aku berjalan menerobos kerumunan. Dari pintu masuk aku bisa melihat sepasang pengantin baru tengah berbicara dengan amat sangat mesra di depan sana. Pengantin wanita tengah membelakangiku. Dengan sedikit menggeram aku berlari melewati lorong bagian tengah menuju altar. Saat tiba di dekat sang gadis, aku segera mencekal lengannya dan membalikkan tubuhnya.

“Kau menikah dengan … Mwo ?!” ucapanku terputus saat melihat seorang gadis berwajah asia yang tengah menatapku dengan wajah kebingungan. Dia bukan Hyunjoon-ku.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu ?” sela sang pria yang kini berdiri di hadapan sang gadis dengan sangat protektif. Dengan kikuk aku melepas cekalan tangan sang gadis dan membungkuk dalam. Memohon maaf dari dasar hatiku yang paling dalam.

“Maaf, saya salah orang. Maafkan saya”, ucapku berkali -kali lalu segera berlari ke tempat parkir.

Ini janggal. Sekarang baru pukul setengah satu. Mana mungkin sebuah prosesi pernikahan sudah selesai dan bersih dalam waktu satu setengah jam ? Pasti ada yang tidak beres.

-choi hyun joon-

“Eomma ! Eomma !” teriakku di ruang tengah. Saat ini aku ada di dalam rumah dan mendapati rumah sudah kosong melompong. Tidak ada satupun manusia di dalam sini. Apa pernikahannya dipindahkan ? Diundur ? Kenapa tidak ada yang mengabariku ?

Tiba – tiba pandangan mataku terhenti pada secarik kertas pesan di dekat telepon rumah di atas meja. Aku berjalan mendekati pesan itu dan mulai membaca dengan seksama.

Rumah baru Hyunjoon di daerah Nowon.

Itu judulnya. Lalu di bawahnya terdapat alamat rumah lengkap. Tanpa ba-bi-bu aku langsung memasukkan kertas tadi ke dalam saku celana dan keluar dari rumah.

Aku harus menemui Hyunjoon. Harus.

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

Saat ini aku tengah berdiri dengan wajah bodoh di depan sebuah rumah besar di daerah yang terbilang sepi. Tidak banyak kendaraan berlalu lalang sejak tadi. Rumah ini … jenis rumah yang akan ditinggali seseorang sampai ia tua nanti. Aku yakin.

Perlahan aku melangkah menyusuri taman dan berhenti di depan sebuah pintu putih besar. Aku berniat memutar kenop pintu saat menyadari tidak ada kenop di pintu besar itu. Eh, lalu bagaimana caraku masuk ?

Pandanganku bergerilya ke sekeliling dan terhenti pada secarik kertas berwarna hijau lembut di atas pot pada bagian kanan bawah pintu ini. Aku menunduk dan meraihnya. Terdapat tulisan rapi milik seseorang -yang aku yakini sebagai Hyunjoon- di sana.

Kalau kau ingin masuk, ucapkan saja namamu dengan sedikit keras. Pintu itu akan terbuka. Ingat ! Nama aslimu.

Dengan wajah polos tanpa dosa, aku menegakkan tubuhku dan mulai mengucapkan namaku dengan jelas. “Cho Kyuhyun”.

Tiba – tiba pintu di hadapanku terdorong masuk. Aku ternganga bodoh saat menyadari ini bagian dari sebuah teknologi. Saat aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, seluruh lampu segera menyala dan pintu di belakangku berdebam pelan. Saat berbalik lagi ke arah pintu, aku mendapati secarik kertas tertempel di sana.

Selamat datang di surga bagi Keluarga Besar Cho Kau suka ? Itu bagian dari teknologi rumah ini. Pintu itu tidak akan terbuka jika bukan suara keluarga kita sendiri. Apalagi suaramu, aku sudah memasukkan berbagai macam suaramu agar mudah terdeteksi. Tidakkah ini seperti aku ? Aku yang akan selalu merespon saat mendengar suaramu

Aku menarik secarik kertas tadi dan menggabungkannya dengan kertas yang aku dapat di depan. Perlahan aku mulai menyusuri rumah ini. Rumah ini … tidak buruk. Mewah bahkan. Seluruh interiornya terbuat dari kayu jati berplitur dan kaca besar. Setiap sudut tampak didesain dengan sangat sempurna. Lantai granit berwarna putih semakin menambah kesan megah dsan mewah rumah ini.

Sekarang aku berhenti di dapur sekaligus ruang makan. Aku melihat ada secarik kertas yang menempel pada kompor gas di sudut ruangan. Aku berjalan mendekatinya dan menyadari ada tulisan lagi di sana.

Di sini, di dapur ini, aku akan memasakkan ribuan menu untuk suami tercintaku dan anak kita kelak. Menyenangkan bukan ?

Aku mulai menyadari, ini tulisan Hyunjoon. Jadi, benar ini rumah Hyunjoon untuk … kami ?

Aku kembali berjalan dan berhenti saat melihat sebuah pintu kayu coklat besar -yang kalau aku perkirakan adalah kamar utama- di seberang ruangan. Tampak secarik kertas di sana dan aku kembali membacanya dengan seksama.

Ini kamar kita, Sayang. Saat kau sudah sampai di sini, itu artinya kita benar – benar sudah menikah. Aigoo … aku hampir tidak percaya :p Di kamar ini kita akan menua bersama. Selamanya, kau setuju ?

Dengan gugup aku menarik kertas tadi dan menolak untuk masuk. Aku … belum resmi menikah dengannya. Aku tidak selancang itu untuk masuk ke dalam sana. Berjalan lagi … sekarang aku sudah tiba di taman belakang. Terdapat sebuah ayunan berpayung -yang aku yakin tahan panas dan tahan dingin- di sana. Ntah kenapa aku yakin ada secarik kertas lagi di sana. Dengan semangat aku berjalan dan saat tiba … TARA ! Ada secarik kertas lagi.

Di ayunan ini, empat puluh tahun yang akan datang, kau dan aku akan duduk bersama sambil meminum secangkir teh bersama. Mendengarkan suara musik trot dari iPod kesayangku dan mencium aroma hujan bersama. Menyenangkan bukan ? :’)

Mataku mulai memanas. Jadi, selama ini, ia sudah mempersiapkan semuanya ? Sampai sedetail ini ? Ntah kenapa aku merasa tidak berguna sama sekali sekarang. Aku kembali berjalan masuk ke dalam rumah utama dan medapati sebuah grand piano putih yang ternyata ada di dekat televisi. Aku mendekatinya perlahan dan -lagi – lagi- aku mendapati secarik kertas sudah tertempel di atas grand piano.

Aku tahu kau ahli bermain clarinet. Tetapi, aku rasa piano lebih romantis, eh ? Lihat, kau akan duduk di kursi ini dan aku akan menopang daguku di atas piano. Aku berjanji akan menjadi penonton dan penggemarmu yang paling setia. Everlasting Fans, eh ?

Sekali lagi aku menggabungkan kertas tadi ke dalam genggamanku. Kembali berjalan dan berhenti di depan sebuah televisi besar yang mengindikasikan bahwa aku sudah berada di ruang keluarga. Pada bagian bawah almari televisi ada sebuah rak panjang berisi puluhan -atau ratusan ?- film dan album musik. Secarik kertas tertempel di penutup kacanya. Setengah berjongkok aku meraih kertas tadi dan mulai membacanya.

Film dan musik. Aku tahu mereka adalah bagian dari hidupmu. Di ruangan ini kita akan menonton jutaan film dan mendengarkan ratusan juta lagu bersama. Saat anak kita tumbuh, kita akan mengajarkannya nilai kehidupan bersama. Kau dengan musik dan filmmu dan aku dengan semua buku serta pengalaman yang aku punya. Bagus bukan ? Saat anak cucu kita datang, kita akan menyambut mereka dengan senyum di wajah keriput kita nanti, bersama. Kau setuju ?

Tanpa sadar aku sudah terduduk di atas sofa yang tersedia di ruangan ini. Menatap nanar ke arah tulisan – tulisan yang ada di hadapanku. Aku merasa, ini belum berakhir. Masih ada sesuatu selain kertas dan tulisan ini. Pasti. Perlahan aku membalik kertas tadi dan menemukan tulisan lain dengan ukuran yang lebih besar -satu huruf untuk satu carik kertas-. Tulisan … Romaji, eh ?

Dengan setengah terburu aku meletakkan kertas – kertas tadi di pangkuanku. Menyadari ada banyak huruf. Seperti permainan menyusun kata. Kau tahu itu kan ?

Ada total tujuh huruf di sini. K – J – N – O – O – U – Y. Ntah apa maksudnya. Kjnoouy ? Koonju ? Jooknyu ? Kojonuy ? Nojokyu ? Apa ? Tiba – tiba selintas nama muncul di kepalaku. Sebuah nama yang … lazim digunakan untuk memberi nama anak sepasang pengantin. Gabungan nama keduanya. Kyu … Joon ? Kyu untuk Kyuhyun dan Joon untuk Hyunjoon. Benar ! Ini pasti KYUJOON ! Rasa gembira membuncah dengan sangat saat menyadari aku bisa menyelesaikan permainan ini. Tanpa sadar aku meraih ponselku dan berniat untuk menghubungi Hyunjoon. Sekarang juga.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum digantikan suara operator wanita yang mengatakan nomor Hyunjoon tidak aktif. Sekali lagi aku mencoba. Gagal. Tidak diangkat. Gadis ini … selalu membuat khawatir. Dasar !

Setelahnya aku mencoba beberapa -ratus- kali namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya aku mencoba menghubungi Eomma. Mungkin Eomma tahu Hyunjoon di mana. Benar bukan ?

Nada sambun terdengar beberapa kali sebelum -lagi – lagi- digantikan oleh suara operator yang mengatakan ponsel Eomma tidak aktif. Ck ! Aku mencoba menghubungi seluruh anggota keluargaku dan nihil. Tidak ada yang bisa dihubungi. Sialan ! Ada apa ini sebenarnya ?

Akhirnya, cara terakhir aku menghubungi Eommonim. Eommonim pasti tahu di mana anaknya berada. Nada sambungan terdengar beberapa kali sebelum suara wanita yang sarat akan rasa keibuan menjawab pelan.

“Yeobeosaeo”.

“Yeobeosaeyo, Eommonim. Ini aku Kyuhyun”.

“Ne, Sayang. Eomma tahu. Ada apa menghubungi Eomma di siang hari seperti ini ?”

“Emm … Hyunjoon~ah eodi ?”

“Hyunjoon ?”

“Ye, hari ini juga hari pernikahanku bukan ? Kenapa di gereja tidak ada perayaan -perayaanku- ? Apa ditunda ? Kenapa tidak ada yang mengabariku, Eommonim ?”

“Sayang, kau belum tahu ? Pernikahannya dibatalkan”.

“Ba … batal ? Kapan ? Maksudku, sejak kapan ?”

“Sudah lama, kau benar – benar tidak tahu ? Keluargamu belum mengabarimu ? Ah … kau pasti belum mengenalkan kekasihmu pada Appa dan Eomma mu, benar ? Pantas saja”.

Huh ? Kekasih ? Sebenarnya siapa yang mengabarkan rumor paling bodoh sedunia itu ? Aku ingin mengulitinya sekarang juga.

“Aku belum memiliki kekasih, hal terakhir yang aku ingat dan tidak mungkin salah, aku bertunangan dengan Hyunjoon, Eommonim. Hanya itu”.

“Err … Hyunjoon membatalkan semuanya sekitar satu bulan yang lalu. Kau benar – benar tidak tahu ?”

“Tentu saja Eommonim. Tidak ada yang mengabariku. Hyunjoon sekarang di mana ? Aku harus bicara dengannya”.

“Hyunjoon … bersama Hyunshik”.

JEGER ! Jadi, Hyunjoon serius saat mengatakan bahwa ia sudah memiliki kekasih ? Lalu, aku apa ? Rumah ini ? Semuanya ? Apa maksudnya ?

“Hyun … shik ? Nugusaeyo ?”

“Mereka sedang mengadakan peringatan tujuh tahun bersama, Kyu”.

Tu … tujuh tahun ?

“Eommonim, Hyunshik-ssi, nugusaeyo ?”

Hening sesaat. Terdengar suara hela nafas Eommonim pelan.

“Hyunshik itu … calon suami Hyunjoon”.

Sialan ! Ini serius ? Ini bukan tanggal satu April kan ? Tidak, sekarang tanggal 3 November dan ini bukan lelucon murahan.

“Ca … calon suami ? Lalu, aku ? Aku apa ?”

“Kyuhyun~ah … tidak, itu masa lalu. Lupakan saja”.

Lupakan ? Melupakan sebuah fakta bahwa calon istri -yang sudah mulai bisa kau cintai- memiliki calon suami selain dirimu ? Siapa pihak yang tidak waras di sini ?

“Eommonim. Aku mohon padamu. Ceritakan segalanya. Aku … harus tahu. Hyunjoon calon istriku. Apa aku perlu berbicara dengan Hyunshik agar semua lebih jelas ? Eommonim, aku mohon.”

Suara Eommonim terdengar parau. Beliau menangis ?

“Hyunshik … sudah meninggal lima tahun yang lalu. Hari ini peringatan kematiannya dan Hyunjoon sedang ada di sana, Kyu.”

Sebentar ! Tunggu sebentar ! Hyunjoon sedang memperingati tujuh tahun mereka bersama saat peringatan lima tahun kematian Hyunshik ini. Begitu ?

“Ba … Bagaimana bisa seperti ini ?”

Eommonim kembali menghela nafas sebelum mulai bercerita.

“Hyunshik dan Hyunjoon akan menikah lima tahun yang lalu, tetapi …”, ucapan Eommonim yang menjelaskan panjang lebar sejarah Hyun-Couple itu sukses membuatku ternganga kaget.

Eommonim serius ?

-choi hyun joon-

HYUN JOON POV

“Oppa, kau bahagia bukan di sana ?” tanyaku pada gundukan tanah yang
ada di hadapanku. Sesekali mengusapnya perlahan atau membuang beberapa daun kering yang tersangkut di rumput hijau.

Ya, makam Oppa memang ditutupi rumput hijau. Dengan batu nisan terbuat dari marmer yang dipahat dengan tulisan yang kaku dan tegas. Benar – benar menggambarkan kepribadian Oppa selama hidupnya.

“Oppa, kenapa aku hanya bisa mengunjungimu sebentar sekali ? Apa kau tidak rindu padaku ?” ucapku pelan sambil masih berjongkok di sisi makam Oppa.

Di sini hening sekali
, pikirku.

“Sayang, kau tidak ingin pulang ? Langit mendung”, ucap Ahra Onnie yang tiba – tiba sudah ikut berjongkok di sampingku. Hanya gelengan yang aku berikan sebagai jawaban. AKu masih ingin di sini. Menemani Oppa-ku.

“Onnie pulang dulu, ne ? Jangan kau matikan ponselmu, keurae ?” instruksi Onnie. Beberapa detik kemudian -tanpa aku mengiyakan atau menolak- Onnie sudah hilang dari sampingku.

Aku mulai terduduk di tanah dan dengan setengah berbaring di atas makam Oppa. Sesekali tanganku mengusap batu nisan dan menghilangkan beberapa jejak debu yang nampak.

“Oppa, sudah lima tahun ternyata. Lama sekali bukan ?” ucapku perlahan.

“Lima tahun kau di sana. Semalam kau tampak sangat bahagia. Aku memakai gaun pengantinku dan aku tidak melihat apa yang kau kenakan. Oh, astaga, aku baru menyadari satu hal, tadi malam kau tampak sangat … tampan. Sungguh”, aku mulai terkekeh pelan bersamaan dengan air mata yang meleleh. Dengan cepat aku mengusap air mataku dnegan punggung tangan dan mencoba tersenyum.

“Oppa, tadi malam kau mengatakan padaku bahwa kau kini menjadi malaikat penjagaku, benar ? Aku ingin melihatmu, Oppa. Aku mohon, sekali saja”, pintaku dengan nada memelas.

Aku tahu ini gila, meratap di atas makam. Berbicara dengan angin. Kalau saja aku tidak mengenali identitasku sendiri, aku yakin seseorang yang cukup waras akan membawaku ke rumah sakit jiwa terdekat.

DRRT DRRT DRRT

Ponsel di dalam mantel tebalku bergetar. Aku benci saat seseorang menggangguku yang tengah bertemu Oppa. Dengan malas – malasan, aku melihat nama yang tertera di layar ponselku.

Cho Kyuhyun

Tanganku sedikit bergetar saat mengingat ucapan Oppa tadi malam.

Untuk kali ini saja, dengarkan Oppa sebagai seorang pria. Oppa mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Saat pergi, Oppa memang goyah. Hanya di saat terakhir itu. Saat berada di sini, Tuhan melihat kesungguhan Oppa dan menakdirkan pertemuanmu dengan Kyuhyun. Kalau kau perhatikan dengan seksama, ia mirip dengan Oppa. Satu hal yang harus kau tahu, ia belum sadar kalau ia mencintaimu. Saat sadar, Oppa berani jamin, Kyuhyun akan menjagamu sangat baik, bahkan lebih baik daripada saat Oppa menjagamu. Kau percaya kan ?

Aku ingin percaya dengan ucapan Oppa, tapi berat sekali. Rasanya … tidak mungkin. Dengan amat sangat perlahan, aku mengangkat telepon -yang ntah sudah keberapa kali- ini.

“Yeobeosaeyo …”

“Hyunjoon~ah ? Ini benar kau ? Kau ada di mana sekarang ? Kenapa aku tidak ada di rumah ? Kenapa kau tidak bisa aku hubungi sejak tadi ?”

Aku masih sedikit linglung untuk menyadari apa yang Kyuhyun katakan.

“Aku … sedang ingin sendirian sekarang.”

“Sendirian ? Kau di mana ? Kau ada di luar ruangan, benar ? Suara angin terdengar jelas dari sini.”

“Aku … ingin sendirian.”

JEGER JEGER JEGER. Tepat saat aku selesai berbicara, petir menggelegar diikuti setitik air jatuh dari langit dan kemudian hujan deras datang. Aku hanya diam, tidak berniat untuk pergi atau berteduh sedikitpun. Oppa saja kehujanan, apa aku harus berteduh ? Yang benar saja, pikirku sarkatis.

“Halo ?! Hyunjoon~ah ? Kau di mana ? Sekarang hujan sangat deras”, suara Kyuhyun mulai tidak jelas karena teredam suara hujan.

“Aku di sini.”

“Di daerah …”, suara Kyuhyun terputus diikuti hujan yang semakin deras. Perlahan aku melepaskan ponsel tadi dari telingaku dan mendapati layarnya sudah hitam gelap. Korslet, eh ? Tanpa sadar aku meletakkannya di dekat kaki dan kembali fokus dengan Oppa. Menyandarkan kepala di atas rumput ini sangat menyenangkan.

“Hhhhh … seandainya hidup semudah ini. Tenang dan damai. Pasti menyenangkan, Oppa”, ujarku. Sejak tadi memang tidak ada sahutan, tetapi aku sudah cukup puas saat bisa mengatakan banyak hal di sini. Itu, sudah cukup untukku.

Aku memejamkan mata untuk waktu yang aku tidak tahu berapa lama. Satu hal yang aku tahu, tubuhku sudah basah kuyup dan mantel serta seluruh barangku sudah menggembung dan berat karena terkena siraman hujan dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Aku bisa merasakan rambutku basah. Tanpa sadar aku mulai berucao sedikit keras.

“Oppa, kau tahu ? Aku tidak pernah mengerti arti cinta. Cinta itu … apakah merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain ? Atau mengikatnya seumur hidup dengan cinta yang kita miliki ?” suaraku terdengar sangat menyedihkan.

“Oppa, tidakkah kau tahu, cintaku padamu adalah masa lalu pikiranku, melebihi luasnya hatiku dan … jauh tersimpan di dalam jiwaku ?” aku bisa merasakan hangatnya air mata mulai berbaur bersama air hujan yang sudah lebih dulu membahasahi wajahku. Sakit.

“Dan sekarang, ada aku yang akan mencintaimu untuk sekarang, besok dan sampai kapanpun. Tidakkah kau tahu ?”, potong suara lain bersamaan dengan berhentinya hujaman air dari atas kepalaku. Tanpa sadar tubuhku menegang. Ini … Oppa ?

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

Saat ini aku tengah berdiri sambil menentang sebuah mantel besar dan payung hitam. Di bawah, aku bisa melihat Hyunjoon tengah mendongak menatapku dengan wajah kosong. Ia sedih, melihatnya seperti ini membuatku sedih lebih lagi.

Sedikit demi sedikit aku mulai berjongkok dan menyejajarkan wajahku di depannya. Menatap matanya dalam – dalam. Sebelah tanganku menyampirkan mantel yang aku bawa ke pundak Hyunjoon. Hyunjoon diam, tidak merespon apapun.

Perlahan aku mendekatkan tubuhku dan memeluknya seerat yang aku bisa. Menelusupkan sebelah tanganku ke dalam mantel, berharap panas tubuhku bisa mengimbangi tubuhnya yang sangat dingin luar biasa. Aku bisa mendengar gemeletuk kedinginan sekarang, tanpa pikir panjang aku segera berdiri.

Tubuh Hyunjoon sangat lemah. Bermodalkan satu tangan, aku mulai memapahnya masuk ke dalam mobil beserta supir yang sudah menunggu di mulut pemakaman. Jalanan terasa sangat jauh. Beberapa kali tubuh Hyunjoon terseok dan limbung, aku yakin seratus persen jika aku melepaskannya sekarang, ia akan tergeletak di tanah begitu saja. Aku yakin.

“Oppa … ini benar kau ?” terdengar suara lirih Hyunjoon. Aku tidak menjawabnya. Ia harus tetap sadar jika ingin mendengar jawabanku. Siapa yang bisa menjamin kalau aku emnjawab dan ia akan tetap sadar ? Tidak ada.

Saat sudah berada di depan pintu, Shin Ahjussi turun dan mengelurkan payung lain yang lebih besar. Ahjussi membukakan pintu untukku dan dengan sekali hentak aku memasukkan tubuhku dan Hyunjoon ke dalam mobil.

BLAM. Pintu tertutup. Jok mobil saat ini sangat basah. Tubuhku yang semula otomatis absah karena terkena guyuran hujan yang tidak bisa dihalau oeyung sialan tadi.

“Ahjussi, tolong nyalakan pemanasnya”, pintaku.

Sedikit demi sedikit aku mulai melonggarkan rangkulanku pada tubuh Hyunjoon yang sangat basah. Aku mulai melepaskan sweater yang aku gunakan. Beruntung kausku tetap kering. Dengan cekatan aku meraih mantel lain yang lebih tebal dan hangat lalu membungkus Hyunjoon dengannya. Aku juga mulai mengeringkan rambut Hyunjoon dengan sweaterku. Melihat bibir Hyunjoon bergetar kedinginan, muncul pikiran bodoh yang langsung aku halau jauh – jauh. Aku menarik tubuh Hyunjoon lebih dekat dan mengeratkan pelukanku. Menyarukkan wajahnya ke lekukan leherku agar lebih hangat. Semakin banyak kulit yang ia sentuh, semakin hangat dia. Aku yakin. Sesekali aku meniup leher Hyunjoon yang tampak dengan nafasku yang hangat. Berharap semua usahaku tidak sia – sia dan Hyunjoon bisa merasa lebih hangat.

“Oppa … Ini benar Kyuhyun Oppa ?” tanya Hyunjoon sangat lirih.

Aku menjawab dengan sama lirihnya. Hanya berbisik, “Ya, aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun-mu. Masa lalu, masa sekarang dan masa depanmu.” Tepat saat aku berhenti berbicara, kepala Hyunjoon terkulai lemas. Pingsan ?

Paling tidak aku sudah mengatakan segalanya.

-choi hyun joon-

KYUHYUN POV

Saat ini aku tengah duduk di pinggir ranjang dekat nakas untuk menemani Hyunjoon yang masih belum sadar sejak kemarin. Aku tidak tahu ia kenapa, yang pasti ia beberapa kali mengigau dan suhu badannya panas sekali. Berkali kali aku mengganti kompres di dahinya dan beruntung suhu tubuhnya sudah mulai mendingin sekitar sepuluh menit yang lalu.

Aku menggenggam erat tangan Hyunjoon. Melihat ada sebuah garis putih melingkari jarinya. Sepertinya belang karena memakai cincin. Aku memperhatikan tanganku dan tidak mendapati bekas apa – apa. Ya, aku memang tidak pernah memakai cincin pertunangan kami. Ntah dulu aku sebodoh apa sampai bisa berbuat sejahat itu padanya.

Tiba – tiba kelopak mata Hyunjoon bergetar. Beberapa detik kemudian terbuka dan mengerjap beberapa kali. Sadar ? Aku beringsut mendekat dan mulai berbicara. “Hyunjoon~ah, kau sudah sadar ?” tanyaku.

Hyunjoon hanya mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian mulutnya bergerak untuk berbicara, namun tidak ada suara yang terdengar. Aku mencoba mendekatkan telingaku ke bibirnya. “Bagaimana … caranya … aku … bisa ada … di sini … bersamamu ?”

Aku mengakkan tubuh dan membelai lembut kepala Hyunjoon. Menatap matanya dalam – dalam sebelum menjawab pertanyaannya.

“Kemarin aku menjemputmu di pemakaman Hyung lalu kau pingsan karena kehujanan dan demam sampai sekarang. Mengerti ?” jelasku singkat.

Hyunjoon mengangguk kecil lalu suasana kembali hening. Sesaat kemudian aku berdehem dan mulai bertanya.

“Kau … kenapa kau membatalkan pernikahan kita ?” tanyaku tanpa basa basi. Untuk apa berbasa basi ? Tidak penting.

“Misiku … berhasil”, jawab Hyunjoon parau.

“Misi apa ?” tanyaku bingung.

“Kau sudah bisa memiliki kekasih. Sesuai janjiku … pernikahan kita batal”, jelas Hyunjoon dengan suara yang mulai sedikit jelas.

“Seohyun bukan kekasihku”, tandasku cepat.

“Tapi … aku melihatmu …”, aku memotong ucapan Hyunjoon, “Itu salah paham ! Aku tidak serius saat melakukan itu !”

“Tapi …”

“Sekarang kau jawab dengan jujur ! Kau cinta padaku ?” tanyaku cepat.

“…..”, Hyunjoon tidak menjawab.

“Hyunjoon~ah, jawab ! Kau cinta padaku bukan ?” desakku lagi.

Hyunjoon tampak berpikir sebelum bicara, “Apa itu penting ?” nada suaranya terdengar sarkatis.

Dengan gusar aku mendekatkan wajahku sampai hidung kami bersentuhan dan mulai mengintimidasinya. “Ya, katakan kau cinta padaku dan aku akan menunjukkan apa imbalannya.”

“Ma .. Maksud … mu ?” tanya Hyunjoon sambil sesekali menelan ludah. Aku terkekeh dalam hati. Baru begini saja sudah gugup, gadis ini lugu sekali.

“Kau cinta padaku bukan ?” tanyaku sekali lagi.

“Darimana kau bisa menyimpulkan hal ini ?” tanya Hyunjoon balik. Aku menegakkan tubuh dengan cepat sebelum mengelurakan tujuh lembar kertas yang sudah aku laminating dan tersusun dalam satu garis membentuk nama kami. Mata Hyunjoon tampak melebar.

“Kau … Kau sudah masuk ke dalam rumahnya ?” tanya Hyunjoon cepat.

Dengan santai aku menjawab, “Tentu saja, itu rumahku juga kan ? Apa ada masalah ?”

“Ru .. rumahmu ? Ani, itu rumahku sendiri”, elak Hyunjoon.

“Aku suamimu.” tandasku.

“Suami ? Sejak kapan ?” tanyanya bingung.

“Sejak … besok”, aku terkekeh geli.

BUGH ! Sebuah pukulan menimpa bahuku. Sakit.

“Jangan bercanda. Aku tidak mencintaimu, Bodoh !” bentak Hyunjoon garang -kalau mata melotot dan wajah panik bisa diindikasikan sebagai ekspresi garang-.

“Tidak perlu mengelak. AKu tidak menerima penolakan apapun. Besok kita menikah”, putusku.

“Tapi persiapannya …”, “Sudah aku urus.” Hyunjoon tampak akan membuka mulut untuk menyanggah, tetapi dengan cepat aku memotong lagi ucapannya.

“Aku tidak mau tahu. Besok kita menikah. Eomma sudah mengatur semuanya dan aku hanya ingin kau besok sudah siap berjalan menuju altar bersama Aboenim. Keurae ?” ucapku memaksa.

“Ck ! Egois sekali kau ini !” gumam Hyunjoon malas.

Mendengar ucapan Hyunjoon, aku mendekat ke arahnya dan mulai berbicara serius.”Huh ?! Egois ? Aku begini juga hanya karena kau. Dasar gadis ! Kau kira aku tahan melihatmu melakukan ribuan macam hal bodoh seorang diri ? Ya ! Aku rasa kau butuh partner, tunggu, kata partner aku rasa kurang tepat, kau butuh bodyguard keuraechi ?” ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.

Hyunjoon tampak menahan tawa saat akan berbicara lagi, “Mwo ? Bodyguard ? Kau ? Kyuhyun~ah, kau tidak lebih besar dari tiang infus di rumah sakit, mana mungkin kau menjadi penjagaku seperti itu ? Kalau aku benar membutuhkan penjaga, lebih baik aku menikah dengan Siwon-ssi atau Kangin-ssi. Benar kan ?” ucap Hyunjoon dengan nada sangat menyebalkan. Ish ! Sakit saja dia bisa semenyebalkan ini.

“Ya ya ya ! Kenapa kau membawa nama mereka di sini ? Huh !” ucapku tidak suka.

“Sudahlah, tidak perlu berlebihan. Aku lelah sekali”, ucap Hyunjoon sambil menaikkan selimut sampai menutupi kepalanya dan membelakangiku.

Perlahan aku duduk di tepi tempat tidur dan membuka sedikit selimut yang menutupi kepala Hyunjoon. Membelai kepalanya lembut. Ntah dorongan dari mana, aku ingin sekali membelai kepalanya seperti ini selamanya, sepanjang hidupku.

“Hyun~ah … kau sudah tidur ?”

“….”, tidak ada jawaban, hanya hela nafas teratur yang keluar dari hidung Hyunjoon.

Aku mulai memberanikan diri untuk mengatakan hal ini, mungkin terdengar aneh mengatakan pada orang yang tengah tertidur, tetapi … masa bodohlah. Akal sehatku sudah hilang ntah ke mana sepertinya.

“Hmmm … kau tahu tidak sejak kapan aku menyukaimu, Hyun~ah ? Tidak tahu ? Jangankan kau, aku saja tidak tahu kapan aku mulai menyukaimu. Terdengar konyol ? Aku rasa iya. Sewaktu aku mengacuhkanmu, itu … aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya. Saat aku bersedia memenuhi keinginan teman satu manajemenku itupun aku tidak tahu apa alasannya. Semua terasa kabur saat aku mengingatnya sekarang. Ketika aku hendak mengantarkanmu pulang, ingat ? Kemudian kau menolak dan menyodorkan kunci motor ke depan mataku. Sebenarnya aku melihatmu berlari ke halte sampai basah kuyup. Dan kau tahu apa yang aku lakukan ? Aku hanya diam dan menatapmu lalu segera tidur. Brengsek sekali ? Aku tahu. Bahkan aku merasa sangat bersyukur kau masih bersedia menerimaku saat ini setelah semua yang aku lakukan padamu. Lalu, saat aku dengar kau mengatakan pada Hyung bahwa kau sudah memiliki kekasih dan aku berubah ketus seketika, kamudian saat kau menyapa Sungmin Hyung dengan kesopanan yang aku rasa sudah di luar batas, kau tahu kenapa aku membentakmu ? Ck ! Aku kira saat itu kau sedang menguji kesabaranku. Kau tahu kan aku bukan jenis pria yang suka blak – blakan. Apalagi mereka Hyung-ku, mana mungkin aku berkelahi dengan mereka. Juga saat aku menghubungi Eomma-mu dan mengetahui bahwa kau sudah pernah nyaris menikah dengan … Hyunshik … Hyung. Aku kira kau belum pernah memiliki kekasih, ternyata kau sudah sampai sejauh itu. Ya, mungkin terdengar sangat egois jika aku mengatakan secara langsung bahwa aku bersyukur Hyung telah tidak ada, bayangkan saja jika hari itu kau benar – benar menikah, kau tahu bukan apa yang terjadi ? Kita tidak akan pernah bertemu, Hyun~ah”, aku menjelaskan panjang lebar dengan masih terus mengusap kepalanya perlahan.

Aku melanjutkan ucapanku, “Kau … aku menjanjikan satu hal padamu. Satu hal yang akan berarti segalanya, bagiku dna bagimu, tentu saja. Aku, Cho Kyuhyun, akan selalu dan tidak akan pernah tidak menjagamu. Bisa kau dengar aku ? Aku akan mencintaimu sekarang, besok, lusa, atau puluhan tahun yang akan datang, bahkan jika maut menjemputmu terlebih dahulu, aku berjanji tidak akan mengkhianatimu. Mencari penggantimu akan terdengar sangat konyol bagiku. Lebih baik tidak merasakan kebahagiaan cinta daripada harus dicintai dan mencintai orang lain selain kau, benar bukan ? Jika kau menganggap semua hal yang aku lakukan ini sebagai salah satu balas budi atau rasa bersalah, kau telah melakukan kesalahn terbesar, Sayang. Karena aku bisa membedakan apa itu cinta dan rasa bersalah. Keurae ?” sebelum beranjak, aku membisikkan sebuah kata yang akan selalu aku ucapkan padanya setiap hari, sepanjang sisa umurku sejak hari ini, “Saranghae, Choi Hyunjoon~ah”.

Dan kalian tahu, hari ini, aku menutup lembaran hidupku sebagai seorang bujangan. Cho Kyuhyun dan Cho Hyunjoon ? Tidak buruk sama sekali, kurasa.

EPILOG

“Berhenti melakukan hal seperti itu dengan pria lain”, terdengar geraman rendah dari mulut seorang pria yang kini tengah berusaha memakai dasinya seorang diri.

“Ck ! Dia hanya mencium bibirku. Itu bukan masalah besar”, sanggah sang wanita yang kini sedang sibuk melepas celemek dan apron dari tubuhnya.

“Ha ! Kau berciuman dengan seorang pria di hadapan suamimu sendiri tanpa basa – basi dan kau mengatakan itu bukan masalah besar ? Ck ! Siapa yang tidak waras di sini ?” sang pria masih tidak terima dan terus- terusan mengomel tidak jelas.

“Hyun-ie, aku mohon, normal lah sedikit. Pilihan katamu … Ck ! Seolah aku ini istri tidak tahu malu yang gemar berselingkuh”, sang wanita mulai geram juga.

“Hyun~ah ! Aku sudah normal. Kau menghinaku tidak normal ? Aigoo~ Dan kau … kau memang berselingkuh kan ?” desak Kyuhyun lagi.

Hyunjoon mulai berkacak pinggang dan menatap Kyuhyun intens, “Ya ! Aku memang berselingkuh tetapi hanya dengan Kyujoon. Dan apakah kau lupa satu hal, suamiku tercinta ? Cho Kyujoon itu putramu sendiri. Aish !”

“Ya ya ya ! Apa ada seorang putra yang berebutan Eomma-nya dengan Appa-nya sendiri ? Ini gila, kau tahu”. suara Kyuhyun mulai frustasi.

Tiba – tiba dari arah kamar muncul seorang bocah lelaki kecil memakai seragam berwarna biru dan potongan rambut rapi khas siswa sekolah dasar. Wajahnya tampan -tentu saja-, gen superior sang Appa turun dengan sangat sempurna di wajahnya. Rambutnya yang berwarna coklat kemerahan serta mata semi-bulatnya ia dapat dari Eomma-nya. Dengan sangat sopan bocah itu berjalan mendekati Hyunjoon dan menarik – menarik kemeja yang Hyunjoon kenakan.

“Eomma, Eomma. Morning kiss”, pintanya dengan nada aegyo kepada sang Eomma.

“Morning kiss, siapa yang mengajari bocah itu ?” geram Kyuhyun pelan.

Wajah Hyunjoon yang semula gemas karena kelakuan suaminya berubah rileks saat melihat betapa lucunya Kyujoon, putra satu – satunya. Otomatis Hyunjoon berjongkok dan mencium kedua pipi serta bibir anaknya cepat. “Sudah, sekarang jagoan Eomma harus makan, keurae ? Hari sudah siang dan Appa juga hampir terlambat untuk masuk kantor. Ayo ayo”, ucap Hyunjoon lembut sambil berjalan ke meja makan bersama Kyujoon, meninggalkan Kyuhyun yang ternganga kaget merasa amat sangat diabaikan.

Hyunjoon duduk dikursi depan Kyujoon dan mulai menyiapkan makanan untuk putranya, beberapa detik kemudian Kyuhyun datang dan memaksa Hyunjoon untuk bergeser sedikit agar mereka bisa duduk di satu kursi yang sama. Hyunjoon dengan bingung mulai berujar, “Yeobo, kau kenapa ? Ada kursi lain di sana.”

“Tidak ! Tidak ! Tidak perlu pindah. Kursi ini cukup luas untuk kita berdua dan aku rasa Kyujoon harus sadar siapa pemilik sah Eomma-nya ini. Hahahahaaa”, jawab Kyuhyun dan diakhiri tawa setan yang menggelegar. Hyunjoon dan Kyujoon hanya menatap Kyuhyun dengan wajah datar. Apa – apaan pria ini ?

Dengan manja Kyuhyun meminta Hyunjoon menyuapinya dan sukses mendapatkan tatapan sebal dari Kyujoon. “Appa, apa yang Appa lakukan ? Kenapa dekat sekali dengan Eomma, huh ? Eomma hanya milikku !” ucap Kyujoon tiba – tiba.

“Appa dekat Eomma itu HAK Appa kau tahu. Cih, kalau tahu kau akan senakal ini, lebih baik kau Appa simpan saja di dalam brangkas. Dasar bocah !” ucap Kyuhyun pedas dan sukses mendapat jitakan keras dari Hyunjoon.

“Jaga bicaramu !” desis Hyunjoon sebal.

“Appa kekanakkan. Eomma … aku ingin hadiah ulang tahun yang bagus tahun ini”, ucap Kyujoon riang dan mulai mengabaikan ‘ulah’ Appa-nya.

“Hadiah apa, Sayang ?” tanya Hyunjoon riang.

“Kyujoon ingin … Adik. Bolehkan Eomma ? Kyujoon kesepian. Apalagi Appa sering mengambil alih Eomma dari Kyujoon. Ya ya ya ?” ucap Kyujoon yang sontak membuat Hyunjoon dan Kyuhyun terbelalak kaget.

Adik ? Kalau ada dua setan kecil seperti dia ada di rumah ini, bisa habis Hyunjoon dimanipulasi mereka, astaga ! Membayangkannya saja aku sudah merinding,
pikir Kyuhyun liar.

“Adik ? Kau ingin adik ? Akan Appa usahakan, tetapi janji jangan ganggu Eomma lagi, bagaimana ?” ucap Kyuhyun dengan wajah -sok- riang agar anaknya bersedia menjauhkan tangan kecil dan wajah aegyonya dari Hyunjoon dengan imbalan sang adik kecil nanti. Sebuah pertaruhan sengit, kalau sampai Kyujoon memiliki adik dan ketakutan Kyuhyun terkabul, bisa habis dia setelah itu.

“Aku harus memilih adik atau Eomma, begitu Appa ?” tanya Kyujoon gamang.

“Ne, pilih salah satu. Kau tidak boleh serakah, Kyu~ah”, ucap Kyuhyun sok menasihati.

Kyujoon tampak berpikir sebelum akhirnya memutuskan, “Baiklah, tetapi … aku ingin adik perempuan. Kalau adikku tidak perempuan, perjanjian batal, bagaimana ?”

Kyuhyun tersenyum setan. “Keurae. Kau butuh adik perempuan dan berhenti meminta morning kiss pada Eomma juga. Mengerti ? Dan Yeobo, kau dengar permintaannya ? Adik perempuan, hahahaaaa”, ucap Kyuhyun sambil mengerling nakal pada Hyunjoon.

PLETAK ! Jitakan keras Hyunjoon berhasil mendarat sempurna di kepala Kyuhyun, “Ck ! Simpan wajah mesummu itu, Hyun-ie. Aku tidak ingin Kyujoon menegrti macam – macam.” Kyuhyun hanya tertawa semakin keras saat mendengar ucapan istrinya itu.

Delapan tahun aku hidup bersamanya, tidak ada satupun kesalahan masa lalu yang pernah ia lakukan padaku. Bahkan ia semakin perhatian. Hanya saja, rasa cemburu yang ia miliki tidak pernah bisa ia tahan. Menggelikan bukan ? Untuk Hyunshik Oppa, terima kasih atas keyakinan yang telah kau berikan padaku. Saat ini aku tahu apa persamaan kalian, kalian sama – sama suka membelai kepalaku. Saat aku bertanya pada Hyun-ie, ia beralasan kepalaku enak untuk disentuh, jawaban bodoh bukan, Oppa, hahahaaaa. (Cho Hyunjoon)

Tidak terasa aku sudah bersamanya delapan tahun. Lama ? Tidak, rasanya seperti baru kemarin aku menikahinya, menggelikan. Tujuan hidupku saat ini adalah membahagiakannya, apapun cara yang harus aku tempuh. Satu hal yang mengganjalku dan tidak bisa ia tinggalkan adalah terlalu ramah pada banyak pria, termasuk kolega kerjaku. Memuakkan sekali. Saat aku tanya alasannya, ia mengatakan bahwa istri yang baik harus bisa menjaga citra suami. Menjaga citra apa, ia malah berhasil membuatku kalang kabut setiap membawanya pergi untuk mengikuti acara kantor, huh. Untuk Hyunshik Hyung, aku hanya ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih karena sudah merelakan aku merasakan cinta seorang Cho Hyunjoon. Aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi, Hyung. Aku janji. (Cho Kyuhyun)

Aku sayang Eomma dan Appa, tetapi aku paling benci saat Appa terlalu dekat dengan Eomma. Setiap hari Appa selalu bertanya padaku dari mana aku mengetahui kata ‘Morning Kiss’, aku rasa Appa lupa, setiap hari Appa selalu meminta hal itu pada Eomma dan aku hanya meminta jatahku saja. Tidak salah kan ? Resolusiku di masa depan adalah bisa menguasai Eomma sepenuhnya dan menjadi pria yang lebih hebat dari Appa agar Eomma tetap cinta padaku, hahahaahaa. (Cho Kyujoon)

THE END

4 Comments (+add yours?)

  1. nanakazami
    Jun 30, 2017 @ 13:43:23

    Wooo…ini bagus ff.nya.
    Oneshoot tapi bener-bener ke intinya. Mana feelnya juga dapet.
    Jakka-sshi ada wp.nya kah?? 😄😄

    Reply

  2. Hwang Risma
    Jul 02, 2017 @ 20:58:57

    Waaahhh seru banget bacanya! Sedihnya kerasa banget 😂 akhirnya mereka mempunyai akhir yang bahagia setelelah kesedihan hyunjoon yg lama dgn hyunsik. Good job & story chingu!^^

    Reply

  3. Ifah
    Jul 08, 2017 @ 17:55:14

    Pernah baca tp lupa dimana

    Reply

  4. Monika sbr
    Jul 16, 2017 @ 22:16:59

    Udah Pernah post disinikan?
    Tapi tetap suka baca sm ff ini

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: