Stupid Lee Donghae

Stupid Lee Donghae

Written by : @aforalfida (http://fansweetdream.wordpress.com/)

Cast : Lee Donghae Kwon Ara (OC) Jang Wooyoung Kim Hyuna Kim Kibum (Key)

Genre : Romance | Rating : PG-13 |Lenght : One-shot

 

***

Hai, namaku Ara. Ini kisahku..

(Ara POV)

“Bagaimana kalau kita berpura-pura berpacaran?”

“MWO? Kau gila?” Kataku sambil menunjuk wajah bodoh sahabatku dengan sumpit. Saat ini aku sedang makan ramen dirumahnya, setelah sebelumnya dia mati-matian merengek padaku agar menemaninya yang sedang sendirian dirumah karena orang tuanya sedang pergi kerumah kakeknya. Kalian tahu? Rumah kakeknya hanya berjarak 4 blok dari rumah si bodoh ini, kurang lebih sekitar 30menit waktu tempuhnya. Dan ramen menjadi syarat agar aku mau menemaninya, si bodoh ini memang penakut. Payah.

“Hanya untuk lelucon saja. Ya kalau mereka percaya, berarti aktingku bagus dan aku bisa saja menjadi aktor di kemudian hari” dengan wajah bangganya. Ya, si bodoh ini memang bercita-cita menjadi aktor terkenal. Harus ku akui bahwa sahabatku ini memiliki wajah yang tampan. Ah sudahlah, dia bisa gila jika mengetahui kalau aku memujinya seperti ini.

“Ralat! Jika mereka percaya, bukan aktingmu saja yang bagus, tapi aktingku juga patut diperhitungkan!”

“Terserah katamu sajalah Kwon Ara. Bagaimana? Kau mau tidak?”

“Kalaupun aku ingin berakting pura-pura berpacaran, aku lebih baik memilih Kim Hyun Joong oppa untuk menjadi pacar pura-puraku” kataku senyam senyum membayangkan bagaimana mesranya aktor tampan favoritku itu akan memperlakukanku sebagai pacarnya.

“Dan akhirnya kalian putus karena Hyun Joong hyung menyadari bahwa kalian hanya pura-pura hahaha” dia tertawa puas. Aku benci jika dia mentertawakanku.

“Menyebalkan kau Lee Donghae! Baiklah, aku mau jadi pacarmu”

“aigoo.. uri Ara neomu yeoppo” katanya sambil membelai pipiku.

“cih!” tanpa peduli aku melanjutkan makan siangku dengan lahap.

(Ara POV End)

(Author POV)

Keesokan harinya Donghae menjemput Ara dengan motornya untuk berangkat sekolah bersama, seperti biasanya. Hanya saja kali ini tangan Donghae dengan mesra menggenggam tangan mungil Ara begitu mereka turun dari motor saat sampai di sekolah. Ketika mereka masuk kelas, semua teman-teman sekelas mereka memandang dengan tatapan bodoh. Termasuk Wooyoung, Hyuna, Key sebagai sahabat mereka berdua dari SD. Pasalnya Donghae dan Ara sudah dikenal di sekolah karena persahabatannya yang seperti kakak-adik – tentu saja Ara kakaknya, bagaimanapun Donghae tetap saja kekanakan.Ketika mereka duduk di bangkunya, bel berbunyi. Dan Hyorin sonsaengnim tidak pernah terlambat. Ketiga sahabat mereka pun memendam ribuan pertanyaan hingga jam istirahat.

(Author POV End)

(Ara POV)

Kami berlima saat ini sedang duduk di kantin. Sejak tadi pagi aku menginjakkkan kakiku di sekolah, si bodoh Donghae tidak pernah melepaskan genggamannya pada tanganku. Dan aku hanya dapat membiarkannya saja. Saat aku sedang fokus terhadap makananku, tiba-tiba sebuah tangan halus milik Donghae menangkup pipi kananku kemudian ibu jarinya bergerak menghapus noda saos disubut bibirku, lalu dia hisap ibu jarinya tersebut seperti merasai manisnya selai coklat.

“Wah daebak! Aku tidak pernah menyangka bahwa kau bisa bersikap semanis itu pada wanita, Lee Donghae” sindir Wooyoung yang duduk dihadapan kami berdua.

“Kau benar! Padaku saja, dia tidak segan-segan memukul kepalaku ketika aku sedang bercerita” Hyuna yang duduk disebelah Wooyoung membuat pembelaan.

“Bagaimana dia tidak menjitakmu kalau kau bercerita dengan nada tinggi melengking seperti lumba-lumba” ucapku yang membuat kami semua tertawa kecuali Hyuna sendiri yang merengut kesal. Haha dia temanku yang lucu.

“Bagaimana kalian bisa berpacaran? Apakah terjadi sesuatu yang kalian tutupi?” selidik Key.

“Maksudmu?” kataku dengan tatapan membunuh.

“Ah tidak, maksudnya apakah kalian sebenarnya memang sudah saling menyukai selama ini?” ralat Key karena tatapanku tadi.

“Apakah itu harus menjadi urusanmu? Lalu apakah fakta bahwa kau menyukai Hyuna juga bisa menjadi urusanku?” si bodoh Donghae membuat kemenangan telak sambil asik memainkan ujung poniku. Key dan Hyuna menutup mulut rapat dengan muka merah. Sementara aku dan Wooyoung terbahak melihat tampang kedua tersangka.

(Ara POV End)

(Author POV)

Sepulang sekolah mereka berlima mengunjungi salah satu cafe tempat  mereka biasa berkumpul. Sampai saat itu Key dan Hyuna masih menjadi bahan tertawaan mereka. Key menyesal karena menceritakan semua perasaan cintanya untuk Hyuna pada Donghae.

“Setelah lulus SMA aku akan melanjutkan kuliah lalu menjadi seorang produser handal, kemudian menjadikan Hyuna sebagai salah satu artisku dan kita akan menikah..” Donghae menirukan ucapan Key padanya saat itu. Kali ini Donghae sambil mengambil sejumput ujung rambut Ara kemudian mengecupnya. Sesungguhnya perlakuan Donghae hari ini membuat kacau proses kerja jantung di tubuh Ara, namun Ara berusaha menutupinya.

“Key-ah, aku tidak menyangka bahwa kau seromantis itu bisa memikirkan masa depanmu bersama Hyuna diusia kita yang baru menginjak tahun terakhir di SMA ini” kata Wooyoung sambil menepuk-nepuk pundak Key.

“diamlah.. apa kalian tidak bosan dengan topik ini?” Key membela diri.

“Hyuna, apa kau tidak terkesan dengan semua ini? Sungguh aku iri padamu” ucap Ara jujur.

“Kau iri? Coba kita lihat tanggapan kekasihmu. Apa yang akan kau lakukan pada Ara nanti?” Key bertanya pada Donghae. Kali ini Key berhasil mengganti topik.

“Aku? Aku akan menjadi aktor terkenal, dan Ara pasti dengan setia mengurus anak-anak kami dirumah sambil menunggu kepulangan suaminya yang tampan ini” ucap Donghae dengan penuh percaya diri.

“Apa kau bilang? Mana bisa aku berdiam diri dirumah sedangkan kau asik melakukan adegan mesra dengan artis-artis cantik diluar sana?” secara tidak sengaja Ara mengeluarkan kecemburuannya, dan segera mengutuk mulut tipisnya itu karena telah lancang mengucapkan kalimat tersebut.

“Kau cemburu hem?” ucap Donghae sambil menangkup kedua pipi Ara dengan lembut sehingga Donghae bisa dengan intens menatap kedalam manik mata coklat milik Ara.

(Author POV End)

(Ara POV)

Deg! Lee Donghae, apa yang kau lakukan sekarang? Bisa tidak kau berhenti menatapku seperti ini? Tapi mengapa mataku tidak bisa berpaling dari sorot matanya yang teduh dan lembut ini. Mantra apa yang kau gunakan untuk menyihirku, namja bodoh?

“Hey, kenapa tidak menjawab? Kau cemburu?” ucapan Donghae membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk dan masih tetap menatapnya. Dia terkekeh lalu mengusap lembut puncak kepalaku, dan mengecupnya kemudian.

Sungguh perlakuannya hari ini membuatku gila. Terkutuk kau, Lee Donghae!

“Bisakah kalian tidak membuatku iri?” seru Hyuna dengan merengut.

“Bisakah kau membuat Hyuna tidak iri pada pasangan didepan kita ini?” seru Wooyoung pada Key.

“Dan bisakah kau hanya diam kemudian mencari perempuan yang mau menjadi kekasih dari namja cerewet sepertimu?” balas Key membuat Wooyoung merengut. Kami semua tertawa dan mengakui ucapan Key barusan.

Setelah hampir 3 jam di cafe ini, kami memutuskan untuk pulang. Donghae mengantarkanku sampai rumah dan entah kenapa sebelum ia meninggalkanku, dia.. Oh tidak! Apa yang dia lakukan? Bukankah sudah tidak ada orang lain lagi selain kami berdua?

(Ara POV End)

(Author POV)

Donghae menangkup kedua pipi Ara, menatap kedalam manik mata bulat milik Ara. Dengan senyum dan tatapan lembutnya, Donghae mengatakan

“Aku pulang dulu ya? Besok pagi aku jemput seperti biasanya. Selamat beristirahat” sambil mencubit hidung Ara. Diperlakukan seperti itu, Ara hanya bisa melongo hingga Donghae menghilang di ujung jalan.

(Author POV End)

(Ara POV)

Aku sudah selesai membersihkan diriku dan bersiap untuk tidur. Begitu aku merebahkan tubuhku diatas kasur, aku terbayang kembali kejadian hari ini dengan semua sikap lembut si bodoh Donghae. Ya tuhan, apa yang terjadi dengan jantungku? Mengapa dengan memikirkan semua ini cukup membuatnya berdetak kencang? Apakah ini cinta? Apa karena aku tidak pernah dekat dengan namja lain sehingga seluruh perlakuan Donghae membuatku begini? Apakah aku salah jika aku berharap pagi segera datang agar aku bisa bertemu dengannya lagi?

(Ara POV End)

(Author POV)

Ara sudah terlelap dengan mimpinya, namun ada satu hal yang dia lupakan. Fakta bahwa dia dan Donghae adalah sandiwara.

Sandiwara mereka berlangsung hingga memasuki minggu ketiga. Jujur saja, Ara benar-benar sudah dibuat gila dengan sikap Donghae yang sempurna sebagai sosok kekasih tanpa embel pura-pura. Ara sadar bahwa dirinya terjebak oleh permainan Donghae, dirinya sangat menikmati saat-saat bersama Donghae. Mungkin jika dulu dia bisa menolak ajakan Donghae, Ara tentu tidak akan merasakan tersipu ketika tiba-tiba Donghae menggenggam tangannya atau berdebar jantungnya ketika Donghae mengusap pipinya. Dia dan Donghae mungkin masih tetap bersama namun sebagai sahabat. Sebenarnya Ara sedikit merasa kehilangan sikap bodoh dan kekanakannya Donghae. Namun di dalam hatinya, Ara lebih berharap kalau Donghae lupa bahwa mereka sedang bersandiwara.

Pagi itu Donghae datang menjemput Ara, setelah Ara dirasa sudah memeluk pinggangnya erat, kemudian dia melajukan motornya meninggalkan rumah Ara. Bukannya menuju sekolahan, Donghae membawa Ara ke Lotte World.

“Kenapa kita kesini?”

“Kita bolos satu hari saja, tidak apa-apa kan?”

“Tapi..”

“Sudahlah, kau tidak lihat disana ada siapa?” tunjuk Donghae ke arah pintu masuk. Ternyata Hyuna Key dan Wooyoung sudah menunggu. Mereka bolos bersama untuk hari ini. Donghae merangkul pundak Ara dan membawanya berjalan menuju ketiga sahabatnya itu.

“Tapi..”

“Apalagi hem?” lagi-lagi Donghae menangkup kedua sisi pipi Ara.

“Apakah bisa aku masuk menggunakan seragam seperti ini?” tanya Ara dengan tampang lugunya.

“Ah iya hampir saja lupa.” Kemudian Donghae mengeluarkan jaket dari dalam tasnya.

“Tadi aku sudah menyiapkan ini untukmu” lalu Donghae memakaikan jaket tersebut pada tubuh Ara.

“Kebesaran ya?” kata Donghae terkekeh melihat Ara memakai jaket miliknya.

“Iya. Kenapa tidak memberitahuku kalau kita akan membolos? Kan aku bisa membawa jaket sendiri” tanya Ara dengan muka sedikit kesal.

“Maafkan aku. Tadi Key yang tiba-tiba memberi kabar. Jadi aku tidak sempat memberitahumu. Ya sudah tidak apa-apa, toh kau tetap terlihat cantik” ucap Donghae sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala Ara.

“Tahan Ara, tahan..” batin Ara.

Setelah masuk, mereka berlima menikmati seluruh wahana permainan. Dan selama itu pula Donghae dengan mesra terus menggenggam tangan Ara, kadang merangkul atau sekedar mengelus lembut pipi Ara. Dan Ara hanya bisa menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar karena perlakuan yang Donghae berikan padanya.

Setelah seharian menghabisakan waktu di Lotte World, Donghae membawa Ara untuk menikmati udara malam di pinggir sungai han. Mereka duduk berdampingan. Hening, mereka bergelut pada pemikiran masing-masing. Hanya Ara sesekali menyesap coklat panas yang tadi sempat dibelikan Donghae untuknya.

“Hatchiii..”

(Author POV End)

(Ara POV)

“Hatchiii..” aku bersin. Harus ku akui udara malam ini cukup dingin, padahal aku sudah memakai jaket milik Donghae namun masih terasa dingin.

“Kau flu? Apa kau kedinginan?” Donghae terlihat panik, dan aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya itu. Kemudian dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu menempelkan pada kedua pipiku. Sialan kau Donghae! Kau membuat suhu tubuhku meningkat panas akibat perbuatanmu.

“Masih dingin?” tanyanya padaku. Aku menggeleng. Terlihat kelegaan dari raut wajahnya. Namun kedua tangannya masih menempel pada pipiku. Mata teduh itu pun masih dengan lembut menatap mataku. Ya tuhan..

“ehm..” aku berdehem. Dengan gerakan cepat dia melepaskan kedua tangannya.

“Ayo sebaiknya kita pulang” ajaknya sambil menggenggam tanganku. Namun aku menahannya sehingga dia menoleh dan duduk kembali disampingku.

“Ada apa? Bukankah kau kedinginan? Lebih baik kita pulang..”

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu” sebaiknya aku bertanya sekarang, sebelum aku menjadi gila. Gila karena aku mulai mencintai si bodoh Donghae.

“Apakah harus sekarang? Tidak bisa besok? Ya sudah, apa itu?”

“Mengapa kau masih memperlakukanku seolah kita ini benar-benar sepasang kekasih? Sedangkan disini sepertinya tidak ada yang kita kenal” tanyaku sambil menatapnya. Dia diam dan dengan gerakan cepat dia menarikku kedalam pelukannya.

(Ara POV End)

(Donghae POV)

“Saranghae Ara-ya..” ucapku ditelinganya. Aku pikir mungkin ini sudah waktunya.

“Ne?” tanyanya heran. Ara masih tidak membalas pelukanku.

“Aku mencintaimu Ara. Apakah itu cukup?”

“Maksudmu?” dengan nada polos. Ara memang dewasa sikapnya, namun dia terlalu polos untuk urusan cinta. Itu karena dari masa SD dia selalu bersama kami (aku, Wooyoung, Jonhyung dan Hyuna). Aku melepaskan pelukanku, kemudian menggenggam kedua tangannya dan menatap intens bola matanya.

“Begini…”

#flashback

Saat ini Junhyung dan Wooyoung sedang menginap dirumahku. Kalian tahu bukan bahwa aku tidak akan berani tinggal sendirian dirumah? Eomma dan Appa sedang ke Busan karena pekerjaan ayah. Jadilah aku mengajak dua sahabatku ini untuk menginap karena tidak mungkin Ara dan Hyuna ikut menginap.

“Apakah diantara kalian ada yang bisa mengalahkanku? Ah tentu saja tidak ada” ucap Wooyoung dengan penuh kesombongan. Tapi nyatanya memang dia ahli dalam hal tanding sepak bola di playstation.

“Cih, sombong! Lagi pula bukannya aku takut, hanya saja aku tidak minat” seru Key sambil asik membaca majalah fashion disebelahku. Aku sendiri hanya mendengarkan musik dari i-pod putihku ini dengan sebelah earphone yang terpasang di telingaku.

“Ayolah.. Apa perlu kita bertaruh agar permainan semakin seru?”

“Bertaruh? Memang apa yang kau punya?” sengaja ku sombongkan nada bicaraku ini haha.

“Wah kau tidak takut rupanya, begini saja …” Wooyoung mengucapkan aturan main yang dibuatnya dan kami bertiga sepakat. Lalu permainan dimulai. Aku dan Key sama-sama melawan Wooyoung karena dia yang membuat aturan, namun nasib sial ternyata kami berduapun kalah. Ya memang permainan PS Wooyoung belum ada yang bisa menandingi. Belum ada bukan berarti tidak ada bukan? Suatu saat nanti aku pasti bisa mengalahkannya.

“Sesuai peraturan yang tadi telah disepakati, siapa yang ingin jujur duluan?” tanya Wooyoung dengan wajah senang. Karena dia menang, dia tidak harus memberitahu aku dan Key tentang siapa yeoja yang sedang disukainya.

“Baiklah, aku duluan!” ujarku sok gentle, walau sebenarnya cukup malu juga mengatakannya namun aku harus sportif pada permainan karena aku namja.

Mendengar aku berkata demikian, sontak kedua sahabatku ini menoleh padaku. Kemudian memasang tampang ingin tahunya.

“Aku menyukai…. Ara. Kwon Ara” kataku.

“MWO??” teriak Wooyoung dan Key. Aku tahu, mereka pasti akan kaget mendengar kejujuranku ini.

“Ne. Memangnya kenapa? Apakah salah jika aku menyukainya?” tanyaku polos. Karena aku pikir reaksi dan ekspresi yang mereka tunjukkan terlalu berlebihan.

“Ani.. Keunde, sejak kapan?” tanya Key.

“Aku juga tidak tahu sejak kapan, hanya akhir-akhir ini aku jadi sering memperhatikannya. Dia terlihat semakin cantik. Semakin berulang kali aku menatapnya, maka kecantikannya akan bertambah saat itu juga” kataku bersemangat. Aku tidak sadar bahwa aku mengatakan ini sambil tersenyum. Ah jatuh cinta memang membuat gila.

“Yak! Kau gila? Gombalanmu itu tak mempan untukku” Wooyoung berteriak. Sedangkan Key hanya tertawa.

“Jangan berharap aku mengucapkan kata-kata manisku untukmu, Jang Wooyoung!” desisku.

“Apakah kau tidak berniat untuk mengatakan langsung pada Ara?” tanya Key.

“Aku ingin, tapi apakah dia akan menerimaku?”

“Kau takut ditolak?” kini giliran Wooyoung bertanya.

“Rasa takut ditolak pasti ada, hanya saja aku lebih takut kalau dia justru lebih memilih untuk menjauh karena perasaanku padanya saat ini. Itu lebih buruk daripada ditolak, kau tahu?”

“Bagaimana kalau kau mengujinya terlebih dahulu? Untuk mengetahui apakah dia memiliki perasaan untukmu atau tidak” seru Key.

“Iya benar. Misalnya kau mendekati yeoja lain dan ihat reaksinya apakah dia akan cemburu atau tidak” kata Wooyoung.

“Jangan seperti itu. Nanti Donghae malah senang bisa dekat-dekat dengan yeoja lain” sindir Key.

“Yak!” aku melemparnya dengan bantal. Dia pikir aku Wooyoung yang senang berganti-ganti wanita? Cih! Menyebalkan.

“Aku akna melakukannya dengan caraku sendiri” kataku bersemangat..

#flashback end#

(Donghae POV End)

(Ara POV)

“Begitu ceritanya.. Kau tidak marah kan?” katanya. Jelas saja aku tidak marah, aku justru senang dia mengakui semuanya apalagi mengatakan dengan jujur perasaannya yang juga menyukaiku. Tanpa menjawab, aku langsung memeluknya. Menyesap aroma maskulin di relung leher miliknya. Dia pun membalas pelukanku.

“Apakah kau tidak tahu bahwa aku tersiksa dengan semua ini? Ucapku dipelukanya. Dia terlihat kaget dan segera melepaskan pelukannya padaku. Memegang kedua sisi lenganku, dan intens menatap mataku.

“Apakah aku menyakitimu? Apa yang membuatmu tersiksa, Ara-ya?” ucapnya panik.

“Semuanya. Kau membuatku nyaman dan selalu ingin berada disisimu, namun aku takut jika tiba-tiba kau meminta hubungan pura-pura ini berakhir. Setiap malam doaku hanya satu, aku ingin segera pagi agar bisa bertemu denganmu lagi” ucapku malu-malu.

Dia tersenyum, dan memelukku lagi. Dia mengecup pundakku, kemudian mengatakan.

“Mulai saat ini, kita bukan pura-pura. Dan tak perlu takut untuk berakhir karena aku akan selalu bersamamu sampai nanti, sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan akan segera datang namun aku mohon bertahanlah bersamaku. Apakah kau mau?”

Sejak kapan si bodohku ini menjadi begitu romantis? Siapa yang mengajarinya?

Aku mengangguk menerima ajakannya itu kenudian mengeratkan pelukanku padanya. Aku ingin seperti ini terus, sampai waktu yang tidak ditentukan seperti katanya tadi.

Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum menatapku, sedikit memainkan poniku hingga akhirnya aku merasakan wajahnya semakin dekat. Gee! Apakah aku akan mengalami ciuman pertamaku? Dan ketika kedua ujung hidung kami sudah menempel, sontak aku langsung memejamkan mataku. Aku merasakan sesuatu menempel pada bibirku, ya hanya menempel, cukup 5 detik. Dia memberiku sebuah kecupan, walaupun sekedar kecupan namun sudah mewakili perasaannya padaku. Aku tidak berani melihat cermin sekarang, wajahku pasti merah padam.

“Saranghae Ara-ya”

“Nado saranghae”

Dia menggenggam sebelah tanganku dan mengkaitkan jari-jari tangan milik kita berdua. Aku bersandar pada bahunya, dan kita berdua benar-benar menikmati malam yang begitu indah ini.

“Hae-ya.. Bagaimana dengan Key dan Hyuna? Apakah dia melakukan sesuatu untuknya sama sepertimu?” tanyaku.

“Mereka bahkan sudah lebih dulu berpacaran sejak melakukan pengakuan dirumahku saat itu” jawabnya santai.

“MWO??”

END

 

1 Comment (+add yours?)

  1. vey
    Jul 18, 2017 @ 16:49:47

    Ahhh..suka suka suka…mau digituin sama hae oppaaa 😘😘😘

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: