Ways to Life Forever [1/?]

fsd

[Chapter 1] Ways to Life Forever

Author : Rien Rainy (@RienHara)

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, family

Rated : T

Length : chapter

Blog Pribadi : http://riechanieelf.wordpress.com/

— Ways to Life Forever —

 

Srek.

Soo Ra membuat coretan tepat di atas kalender yang tertempel pada pintu lemari pendinginnya, jika dihitung kira-kira ada lima coretan yang sudah Soo Ra bubuhkan secara terpaksa pada kalender tersebut. Soo Ra menghela napas dan mengambil sebotol air dingin untuk diminum, pikirnya dengan minum air dingin bisa sedikit mengurangi beban pikiran. Hanya pikirnya saja tanpa memperhatikan waktu masih begitu pagi untuk bisa minum air sedingin itu, di luar hujan dan Soo Ra tak berpikir itu bisa membuatnya flu atau demam.

“Ah, ini bahkan sudah sepuluh kali aku melamar tetapi tidak ada yang menerimaku?!” protesnya entah pada siapa.

Pintu tak jauh dari tempat duduk Soo Ra terbuka menampilkan Na Hyun yang tengah menatap Soo Ra sambil melakukan peregangan badan dan menguap lebar, “Kau tahu, Soo Ra-ya? Ini masih terlalu pagi untukmu kehilangan semangat seperti itu.”

Soo Ra mencebikan bibirnya, sedikit tak terima apa yang dikatakan Na Hyun karena faktanya Soo Ra sedang merasa jika peruntungan belum berpihak padanya, Na Hyun yang mengerti sikap Soo Ra tersenyum tipis, “Daripada kau terus menunjukkan wajah jelekmu lebih baik kau menunjukkan wajah semangatmu seperti lima hari yang lalu! Jadi, fighting Nona Song!” setelahnya Na Hyun meninggalkan Soo Ra untuk pergi ke kamar mandi.

Soo Ra tersenyum kecil, ia membenarkan perkataan Na Hyun, tidak seharunya ia menunjukkan wajah jelek—murung dan berputus asa—sepagi ini. Yah, walau di luar keadaan tidak secerah perasaan Na Hyun, setidaknya Soo Ra bisa membuat aura kebahagiaan Na Hyun lebih sempurna dengan wajah penuh senyuman, bukan wajah keputusasaan yang jelek.

Pintu kamar mandi terbuka, mungkin hampir lima belas menit Na Hyun berlama-lama di sana, meninggalkan Soo Ra yang merubah perasaannya jadi lebih baik. Setidaknya Soo Ra harus membuat pagi hujannya penuh dengan semangat, pikirnya sendiri. Na Hyun tersenyum geli begitu menangkap aura berbeda dari Soo Ra, “Ck, aku tak menyangka perkataanku bisa merubahmu seceria ini?”

Soo Ra menggedikan kedua bahunya, bersikap lebih tak peduli karena membalas rasa terimakasihnya pada sahabat baiknya tersebut, Soo Ra sorongkan piring yang berisi roti panggang berselai madu pada Na Hyun yang sedang menyeduh kopi instan. Kernyitan muncul di dahi Na Hyun, sikap Soo Ra benar-benar mengerihkan hingga ia bergidik, “Aku benar-benar takut pada sikap ramahmu sekarang ini?” candanya yang membuat Soo Ra mendecih.

“Aish, kau selalu saja menatapku dari sudut pandang negative?” sungut Soo Ra, “Sesekali lihatlah sisi positifnya, Hyunnie! Aku melakukannya tulus untuk berterimakasih padamu karena membuat perasaanku membaik. Yah, walau tidak banyak.” Dan memberikan candaan dan menjulurkan lidah pada Na Hyun yang jadi tertawa.

Ritual pagi yang hampir sama, yang hampir mereka lalui di dalam flat sederhana, flat yang hampir tiga atau empat tahun—Soo Ra dan Na Hyun bahkan lupa kapan mereka mulai menempatinya—menemani mereka, segala macam perasaan dan cerita yang sudah tak bisa tertulis bahkan dibicarakan. Semuanya terjadi begitu saja, di flat mereka secara alami.

Soo Ra menggigit ujung rotinya, mengabaikan Na Hyun yang membagi roti panggangnya jadi bagian kecil untuk dicelupkan ke dalam kopi. Keduanya sama-sama menerawang, entah memikirkan apa, tetapi Na Hyun terlalu peka untuk tahu jika Soo Ra masih memikirkan tentang kerja paruh waktu di sela-sela waktu kuliahnya. “Jadi, kau masih mencari kerja?” Tanya Na Hyun.

Soo Ra menganggukan kepala pelan, ia meringis kecil mengingat beberapa kejadian di mana ia hampir saja diterima bekerja, tapi akhirnya harus mendapat penolakan. Na Hyun terlalu terbiasa melihat aktifitas tersebut, jadi ia berusaha menjadi orang yang paling bahagia, yang harus hadir di saat Soo Ra merasa terpuruk karena usahanya sia-sia, yang harus bersedia memberikan senyuman dan semangat pada Soo Ra yang punya keinginan kuat.

Lagi pula siapa yang tahu rahasia milik Song Soo Ra?

Jang Na Hyun, sahabat terdekatnya semenjak duduk di bangku junior high school saja tidak tahu menahu perihal keadaan keluarga Soo Ra karena gadis berambut hitam bergelombang tersebut menutupi serapat mungkin. Entah sebab apa?

Na Hyun akhirnya menepuk sebelah bahu Soo Ra yang menatap ke arahnya dengan kernyitan di dahi, “Harusnya kau terima saja tawaran kerja yang diberikan Ayahku secara percuma.” Ucapnya membuat Soo Ra menggelengkan kepala, rasanya terlalu berlebihan jika harus membuat Na Hyun merasa kesusahan.

Ya, Soo Ra sangat tahu siapa sebenarnya Jang Na Hyun, gadis bersurai blonde yang sering merasa kesal pada penampilannya jika menemukan suatu keganjilan, gadis yang menjadi sahabat Soo Ra ini adalah salah satu chaebol keluarga Jang yang cukup terkenal. Namun, Na Hyun sangat baik dan sebenarnya sangat tulus bersahabat dengan Soo Ra jadi gadis berambut hitam itu berpikir tak baik menerima bantuan Na Hyun. Terlebih jika Na Hyun mengetahui hal yang paling sebenarnya Soo Ra sembunyikan dari sahabat baiknya, Soo Ra hanya berpikir apa yang ia lakukan untuk menjauhkan sikap dari cari perhatian para teman-teman Ayahnya, Tuan Song.

“Kalau seperti itu aku menyusahkanmu. Jadi, lebih baik kau saja yang bekerja pada Ayahmu, Hyunnie.”

“Eh? Aku?” Na Hyun menunjuk dirinya sendiri, “Ck, mana mungkin. Asal kau tahu, Soo Ra-ya. Hidupku bukan bergelut di bidang perhotelan, aku lebih menyukai sesuatu yang berkaitan dengan kecantikan, penampilan. See, aku tak ingin menyia-nyiakan wajah cantikku hanya untuk duduk di balik meja dan berhadapan dengan segala macam kertas. Tidak mau.”

Soo Ra hanya tertawa menanggapi perkataan Na Hyun, gadis bersurai blonde itu memang tak ada niatan menjadi pengganti Ayahnya, Tuan Jang dan seperti yang sudah diberitahukan Na Hyun, ia hanya menyukai sesuatu yang berkaitan dengan kecantikan dan penampilan seperti menjadi seorang fashion designer, cita-cita masa kecil Na Hyun yang sedang dalam proses pencapaian.

Soo Ra bangkit dari tempat duduknya, sarapan sudah selesai, air dinginnya juga sudah habis. Tak ada kata pamit, Na Hyun tahu jika Soo Ra masih ingin mencari pekerjaan lagi, jadi ia membiarkan Soo Ra memasuki kamarnya sambil berucap, “Fighting sahabatku, Song Soo Ra!” dan membuat Soo Ra tertawa mendengarnya.

— Ways to Life Forever —

Suara pulpen terletak kasar di atas meja belajar gadis muda yang kini menatap wanita di depannya dengan mata menyipit. Cho Hyo Na, gadis muda berseragam sekolah tersebut kesal mengingat hampir dua jam berlalu sepertinya tidak ada hal yang bisa dikerjakannya. Ada lima soal Matematika yang tersedia secara percuma di bukunya, pemberian dari wanita dengan wajah tebal—karena riasan wajahnya yang terlihat sangat mencolok, menurut Hyo Na—yang tengah menatapnya dengan raut tanya dibalik kacamata.

“Ada apa Hyonnie?” tanya wanita tersebut dengan nada sok ramah yang membuat Hyo Na mendengus. “Kau tidak ingin mengerjakannya?” tanyanya lagi pada Hyo Na membuatnya kini mendorong buku berisi lima soal Matematika tersebut.

“Kenapa tidak kau saja yang mengerjakannya untukku?” Hyo Na berhenti berkata lalu melirik jam di meja belajar yang tak jauh dari tempat duduknya. “Bukannya kau hanya menghabiskan waktumu saja di kamarku? Ah, dan tanpa melakukan apa pun dan bahkan kau tidak mengajariku, tetapi kau menyuruhku untuk menonton video pembelajaran. Bukan benar-benar menjadi tutorku.” Tambah Hyo Na membuat wanita itu menggelengkan kepala dengan gerakan angkuh.

“Sudah kubilang berulang kali.” Wanita itu sedikit menahan napasnya, ia sebenarnya cukup kesal, tapi tak mungkin marah pada Hyo Na, “Aku. Akan. Pulang. Jika. Ayahmu. Pulang. Kau tidak ingat itu, Hyonnie?” melanjutkan perkataannya dengan penuh penekanan.

Decihan kecil keluar dari bibir Hyo Na yang bangkit berdiri dari tempatnya membuat si wanita yang sebelumnya menatap dengan angkuh mulai mengernyit terheran, terlebih ketika mata wanita tersebut mendapati seringai kecil Hyo Na yang menakutkan, “Jadi kau benar-benar akan menunggu Ayahku?” tanya Hyo Na sambil tersenyum meremehkan, “Sayangnya kau harus pulang sekarang. Kau tidak tahu? Aku bisa mengusirmu secara tidak terhormat dan bahkan menghilangkan keberadaanmu dari hadapan Ayahku.”

Wanita itu meremang, perkataan Hyo Na terdengar tidak main-main, tapi wanita itu tak bisa menunjukkan ketakutannya, “Hei, bocah berhentilah bersikap kekanakan. Kau bahkan hampir tamat junior high school dan segera senior high school, jadi sekarang kau harus bersikap lebih…”

Hyo Na memilih tak mendengar kelanjutan ceramah penuh omong kosong milik wanita bermarga Byun di depannya, membosankan dan memuakkan. Hyo Na berbalik sebentar, mendekati sisi tempat tidurnya untuk mengambil stik baseball yang selalu tersedia di dalam kamarnya lalu kembali berhadapan dengan wanita itu yang kini sudah berdiri ketakutan.

“Kau yakin tak mau pulang? Ah, aku lupa memberitahukan padamu. Aku bisa saja melukai wajahmu, mematahkan tangan atau kakimu dan bahkan bisa menghilangkanmu dari permukaan bumi ini. Jika kau…”

“Tunggu! Kau mengancamku?” wanita itu mendecih, merasa direndahkan oleh gadis muda bernama Cho Hyo Na, “Kau bisa saja kulaporkan atas tuduhan ancaman pembunuhan.”

Hyo Na menggelengkan kepalanya pelan lalu tangannya menunjukkan pulpennya yang samar-samar mengeluarkan suara dari wanita tersebut, “Aku tak menyangka Ayahmu begitu mudah untuk didekati dengan iming-iming tutor anak kesayangannya? Tak kusangka betapa mudahnya Ayahmu itu, Hyo Na-ssi?”

Rekaman suara!

Wanita itu sukses membelalakan mata, sama sekali tak menyangka. Hyo Na menyeringai kecil menunjukkan jika kedudukannya kali ini bisa menyelamatkan Ayahnya dari serangan penggoda wanita tak tahu moral. Oh, Hyo Na cukup ingat tiga hari yang lalu wanita bermarga Byun ini mengaku sebagai tutornya dan tidak berpakaian semesti seorang tutor di hadapannya bahkan Ayahnya. Mengingat hal ini saja rasanya Hyo Na ingin sekali melempar wanita ini ke luar angkasa, benar-benar wanita murahan.

“Aku bisa bertindak sesuka hati lewat rekaman ini dan bahkan bisa menghilangkanmu. Kau harus ingat itu kalau ancamanmu melapor pada polisi tidak akan berguna sama sekali karena aku akan menghilangkanmu lebih dahulu sebelum kau sampai di kantor polisi.”

Telak.

Wanita itu sukses keringat dingin kini ia benar-benar ketakutan akan sosok Hyo Na yang berubah menjadi iblis, matanya menatap secara acak saat Hyo Na berjalan mendekat dengan stik baseball yangterangkat ke atas dan ketika Hyo Na mendekat sambil mengayunkan tongkatnya ke arah wanita itu yang panik. Mendadak keadaan berubah karena…

Kriet.

“Apa yang kau lakukan Nona Byun?”

Dan semuanya terasa seperti gravitasi berhenti sepersekian detik memberikan gambaran paling tidak masuk akal yang tidak dapat diterima akal manusia mana pun. Wanita itu cukup terkejut dengan stik baseball yang berpindah tangan, posenya yang hendak seperti ingin memukul dan keadaan Hyo Na yang sudah terduduk di lantai dengan wajah sembab. Oh, tunggu dulu. Bukannya semenit yang lalu Hyo Na tampak ingin melukainya, jadi kenapa…

Ah, keadaan berubah dan drama yang diciptakan Hyo Na pun dimulai…

Action!

“Hiks. Ayah dia hampir memukulku karena salah mengerjakan satu soal, hiks.” Air mata itu jatuh dengan sukses menyusuri pipi berisi milik Hyo Na, sedangkan pria bersurai ikal yang dipanggil Ayah itu menatap heran pada wanita di depannya, yang kini tangannya bergetar memegang stik baseball. Setelahnya stik baseball terjatuh, Hyo Na berlindung di balik punggung Ayahnya, tangis masih mengisi atmosfir di antara ketiga orang tersebut.

Wanita yang bergetar ketakutan itu kini mulai membuka mulutnya, memaksa suara untuk keluar untuk menjelaskan segala macam salah paham pada sosok Ayah Hyo Na, Cho Kyu Hyun. Namun belum sempat bunyi keluar dari mulutnya, Hyo Na menyerebot dengan kalimat dramatisnya dan pertunjukan yang diciptakan Hyo Na pun hampir mencapai puncak. Tapi, Hyo Na harus sedikit bersabar agar rencananya berjalan lancar dan sukses.

“Aku pikir sudah tak seharusnya kau melakukan hukuman fisik Nona Byun mengingat Hyonnie pasti sudah mendapatkannya…” kalimat Ayahnya terpotong dengan cengkraman tangan Hyo Na yang bergetar, raut wajah gadis muda itu dibuat seakan-akan tengah dihantui oleh pembunuh hingga membuat wanita berserta Ayahnya pun merinding melihat Hyo Na, “Hiks sebelum eonni itu memukulku dia juga sempat mengancamku Ayah. Hiks, dia bilang dia akan memotong rambutku jika tak berhasil mengerjakan satu soal dan… dan… hiks. Dia juga melecehkanku, dia bilang dia ingin menelanjangiku, Ayah. Hiks.”

Skak mat. Scene puncak dan kita akan menunggu bagaimana Ayahnya menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Hyo Na, gadis kecil tersayangnya.

Nona Byun pun membuka tutup mulutnya, mendadak ia benar-benar kehilangan suaranya, ia tak bisa membela dirinya sama sekali hanya dengan ancaman bahkan aduan maha bodoh milik Hyo Na dan ditambah tatapan Ayah Hyo Na yang menajam lalu ketika Nona Byun mendapati kekuatannya, ia pun mengeluarkan suaranya dengan rasa yang sesak, “A… Aku… Aku tidak melakukan apapun… Aku…” dan perkataan itu tidak bisa dilanjutkan karena Ayah Hyo Na dengan suka rela—ia telah menghubungi salah satu penjaga rumah—menyeret paksa Nona Byun keluar.

Hyo Na didudukkan di atas tempat tidur, badannya bergetar dan tangis masih ada di wajahnya membuat sang Ayah menyuruhnya untuk berbaring selagi ia mengurus Nona Byun dan memutuskan tak memanggil Nona Byun untuk mengajari Hyo Na. Setelah pintu kamar tertutup, setelah Hyo Na membungkus dirinya di dalam selimut, suara cekikikan terdengar dari bibir Hyo Na.

“Wuah, aku tak menyangka aktingku semakin bagus saja?” pujinya sambil bangkit dari tempat tidur dan mengusap bekas-bekas air mata di pipi berisinya. “Ck, begitu mudahnya menyingkirkan lalat-lalat itu. Ah, aku bangga pada diriku sendiri!” ucapnya lagi sambil mengambil buku di laci meja nakas di samping tempat tidur.

Buku daftar hitam begitu Hyo Na menyebutnya karena berisi bermacam rencana ‘baik’ kepada setiap wanita yang mengaku mahasiswi Ayahnya, yang selalu mengaku ingin menjadi tutor dan memperbaiki nilai Matematikanya dan yang selalu saja menunjukkan tatapan memuja dan mengagumi Ayahnya. Ya, Hyo Na benci wanita yang tidak sopan, yang terlalu berani mengungkapkan secara verbal jika mereka mencintai Ayahnya. Dan Hyo Na selalu bertekad menjauhkan Ayahnya dari wanita-wanita yang selalu ia sebut sebagai ‘lalat’ untuk dekat dengan Ayahnya.

Pekerjaan maha penting dan mulia ini—menurut Hyo Na saja—sudah Hyo Na lakukan semenjak sadar jika nilai Matematikanya tidak pernah bagus, Ayahnya yang baik semenjak Hyo Na duduk di kelas satu junior high school sempat mengirim Hyo Na ke sebuah bimbingan belajar. Namun, bimbingan belajar tersebut hanya berjalan dua tahun saja untuk Hyo Na karena Hyo Na meminta berhenti dan Ayahnya memilih opsi mencari tutor Matematika Hyo Na, yang baru disadari Hyo Na adalah mahasiswi fans Ayahnya sendiri.

Tapi, daripada mencari, Hyo Na lebih senang menyebut jika para mahasiswi Ayahnya menawarkan diri secara percuma dengan harapan bisa dekat dengan Ayahnya, dengan harapan jika bisa menggait Ayahnya dan menjadi Ibu bagi Hyo Na. Oh, Hyo Na tak ingin hidupnya mendramatisir seperti itu!

Ya, siapa yang tidak akan menawarkan diri secara percuma pada dosen muda seperti Ayahnya, Cho Kyu Hyun, Hyo Na selalu saja menambahi jika Ayahnya itu tampan, kaya dan pintar. Tipikal pria dewasa yang paling diincar wanita mana pun dan hal ini yang membuat Hyo Na secara lebih suka rela lagi menjauhkan Ayahnya dari gangguan wanita-wanita genit.

Kriet.

Pintu kamar terbuka lebar menunjukkan Kyu Hyun—Ayahnya yang menatap Hyo Na tengah menyandarkan punggung sambil membaca novel membuat senyum Hyo Na tertular dan mengingatkan Kyu Hyun pada seseorang yang mirip dengan Hyo Na, seseorang yang sangat Kyu Hyun cinta. Dan Kyu Hyun bersyukur ada suatu yang ditingalkan wanita yang dikasihinya tersebut untuk selalu ia sayang dan jaga. Kyu Hyun harus lebih banyak berterimakasih pada istrinya, Ibu kandung Cho Hyo Na yang kini—mungkin saja—tengah mengawasi mereka dari tempat-Nya.

Kyu Hyun mengambil tempat duduk di samping Hyo Na lalu dengan sengaja menyandarkan kepala di bahu kecil milik Hyo Na, berniat mengusili satu-satunya pewaris marga Cho di keluarganya. Hyo Na yang sadar jika Kyu Hyun tengah menjahilinya hanya menjauhkan bahu membuat kepala Kyu Hyun terjatuh dan tawa gadis muda tersebut terdengar. Sedikit yang Kyu Hyun tangkap, Hyo Na dalam keadaan yang lebih baik dan jika saja Hyo Na sampai tidak baik-baik saja, Kyu Hyun tak akan segan membawa masalah yang sudah berlalu tadi ke jalur hukum.

“Syukurlah kau baik-baik saja,” ucap Kyu Hyun sambil mengacak surai Hyo Na dan membuatnya menghindar, “Ayah aku sudah meremaja berhentilah menganggapku sebagai bayimu?!” Kyu Hyun tertawa mendengarnya, “Kau akan tetap jadi bayi untuk Ayahmu, Hyonnie!” pernyataan tersebut malah membuat Hyo Na berdecih dan kali ini gantian Hyo Na yang menyandar di dekat Kyu Hyun.

Kyu Hyun merebut novel itu dari tangan Hyo Na lalu membaca secara acak dan menemukan adegan romantis. Ia lirik Hyo Na yang menatapnya polos, merasa tidak melakukan kesalahan padahal Hyo Na sedang melakukan kesalahan—walau sebenarnya tidak serius. “Ayah lebih suka melihatmu membaca sesuatu seperti yang berbau misteri atau science-fiction daripada melodrama atau romantic seperti ini.”

Hyo Na merengut, ia membuka novelnya entah pada halaman berapa lalu menyodorkannya di depan wajah Kyu Hyun, “Ayah harus tahu jika ini benar-benar misteri tapi…”

“Tapi?” ulang Kyu Hyun dengan kernyitan jahil di wajahnya, Hyo Na berdehem pelan sambil memasang wajah super polosnya, “Iya, sedikit romantis itu tidak apa-apa.”

Kyu Hyun tak kuasa menahan tawanya, tatapan Hyo Na benar-benar melemahkannya yang ingin berceramah panjang karena itu Kyu Hyun menarik anak gadis satu-satunya untuk tertidur di sampingnya, tepat di atas lengannya yang terbuka agar bisa mengganjal kepala Hyo Na untuk menggantikan bantal empuk.

“Yah, aku sudah bilang berkali-kali kalau aku meremaja seperti gadis lainnya, Ayah?!” rengek Hyo Na mendapati Kyu Hyun mengambil buku dongeng yang selalu tersedia di dalam laci Hyo Na.

“Tapi kau akan selalu jadi bayi bagi Ayahmu, Hyonnie. Ayah sudah sering bilang begitu, kan?” Dan Hyo Na tak bisa menyembunyikan senyuman atau tawa geli mendengar perkataan Kyu Hyun yang menirunya.

Kyu Hyun membuka lembaran buku dongeng yang ada di hadapannya—dan tentu di hadapan Hyo Na juga—membalik-balikan setiap halaman karena memang tidak berniat untuk membacakannya.Hal ini tentu saja membuat Hyo Na menyikut Kyu Hyun, “Tidak membacakan apapun untukku?” tanyanya tanpa melirik Kyu Hyun.

Kyu Hyun menggunakan tangan yang menjadi bantalan untuk mengacak rambut Hyo Na, “Hyonnie benar-benar ingin dibacakan, hm?”

Hyo Na mendongak, matanya menyipit lalu bibirnya terbuka untuk berbicara tetapi Kyu Hyun memotongnya, “Tidak ingin makan dulu, hm? Kita akan makan di luar malam ini dan itu…”

Hyo Na langsung bangkit dan duduk di samping Kyu Hyun, senyuman dan bahkan matanya seakan tersenyum menatap Kyu Hyun. “Ayah tidak bohongkan akan mengajakku makan di luar? Benar-benar di luar, kan?”

Kyu Hyun ikut duduk di samping gadis remajanya, “Hm, sebenarnya tidak juga.” Dan membuat Hyo Na merengut dan melihat bagaimana kedua tangan Hyo Na terlipat di depan dada, matanya juga menatap Kyu Hyun kesal. Kyu Hyun baru tahu jika merajuknya Hyo Na benar-benar menggemaskan, benar-benar membuatnya tak bisa menahan tawa karena berhasil membohongi Hyo Na.

Kyu Hyun bangkit dari tempat tidur Hyo Na, sebelah tangannya mengacak rambut Hyo Na, “Cepat ambil jaketmu karena Ayah akan menunggumu di ruang tengah, mengajakmu makan di luar seperti permintaanmu. Dandan yang cantik, ne!”

Hyo Na membulatkan mata tak percaya, ia baru saja secara mengejutkan terjebak pada kebohongan Kyu Hyun, benar-benar tak masuk akal.Kyu Hyun menutup pintu kamar Hyo Na setelah mendengar Hyo Na berucap terimakasih dan menyuruh untuk menunggu lalu berdiri di ruang tengah sambil memandang pigura berukuran sedang yang terletak di atas sofa.

Matanya menelisik pada pigura yang menunjukkan foto berisi lima orang dewasa, ada kedua orangtua Kyu Hyun, Cho Ah Ra—kakak perempuan Kyu Hyun, dan yang terakhir ada Kyu Hyun beserta istrinya yang tengah mengandung Hyo Na, jadi yang ada di dalam perut buncit istri cantik di dalam pigura itu adalah Hyo Na.

“Kau harusnya ada di sini dan melihat betapa Hyonnie mirip denganmu. Payah eksak, suka novel, makan es krim, benci keramaian dan sangat suka makan di luar.” Kyu Hyun tersenyum sendu menatap mata kecokelatan sang istri yang terperangkap dalam bingkai.

Mungkin Kyu Hyun tengah berdelusi saat matanya menangkap sedikit pergerakan pada sudut bibir istrinya di dalam pigura. Senyuman istrinya, senyuman yang juga sama seperti Hyo Na, benar-benar duplikat asli milik istrinya.

Grep.

Kedua lengan melingar di pinggang Kyu Hyun lalu dari balik pinggangnya kepala Hyo Na muncul dengan senyuman lebar membuat matanya menyipit. “Ibu, Ayah dan aku akan bersenang-senang malam ini!” ucap Hyo Na dengan tangan Kyu Hyun yang mengelus rambut Hyo Na dengan sayang. “Akhirnya, Ayah menepati janjinya minggu kemarin untuk mengajakku makan di luar. Ah, aku tak menyangka Ayah… auw!?”

Dan Kyu Hyun memberikan seringai kecilnya setelah mendengar kalimat Hyo Na berhenti akibat dari sentilan di dahi Hyo Na. “Maafkan Ayah, ne.” ucap Kyu Hyun yang langsung membuat Hyo Na menggelengkan kepala, “Tidak. Tidak. Akulah yang harusnya minta maaf pada Ayah karena sudah sering merepotkan Ayah.” Dan Hyo Na tertawa setelah mengucapkannya.

Ah, tawa Hyo Na… mirip sekali dengan Ibunya!

— Ways to Life Forever —

Soo Ra baru saja melewatkan makan malamnya dan kini terkejut mendapati sepatu Na Hyun yang terletak asal-asalan di pintu masuk. Soo Ra sempat membereskannya dan melongokkan kepala, berharap menemukan Na Hyun yang tengah duduk di counter atau di sofa yang tak jauh dari pintu masuk. Tapi semuanya nihil, Na Hyun tidak ditemukan di mana pun.

“Hyunnie?” panggilnya memeriksa keadaan sambil melangkah semakin masuk ke ruang tengah. “Hyunnie? Aku pulang dan…” Soo Ra kurang yakin untuk mengatakannya tetapi ia tersenyum kecil mengingat kalau sudah menemukan pekerjaan untuk memangkas kebosanannya saat libur kuliah. “Dan kau tahu? Aku sudah mendapat pekerjaan.” Ucapnya sambil terkikik meletakan sekantung bir dan ddokbokkie kesukaan mereka.

Ah, sedikit merayakan tidak buruk juga, kan?

Tidak mendapat balasan dari Na Hyun membuat Soo Ra bertanya-tanya apa benar Na Hyun sudah pulang—seperti yang ia kira—atau Na Hyun memakai sepatu yang lain saat keluar. Ya, kebiasaan Soo Ra untuk mengenali sepatu Na Hyun terkadang membantunya, tetapi saat ini seperti tidak membantu sama sekali.

Kriet.

Mendadak pintu kamar Na Hyun tebuka dan menampilkan gadis bersurai blonde itu dalam keadaan setengah sadar memandang Soo Ra yang hanya menunjukkan tawa, ia tak menyangka jika Na Hyun tidur lebih awal dari perkiraannya. Benar-benar seperti bukan gaya Na Hyun mengingat gadis yang menjaga penampilan itu sering tidur larut malam.

“Wuah, kau beli bir? Beli ddokbokkie juga?” Na Hyun melirik jam dinding yang ada di dekat mereka lalu senyumannya muncul menggantikan rasa kantuk, “Kau mudah sekali ditebak, Soo Ra-ya? Hmm, chukkaeyo!” dan Soo Ra tak bisa menahan senyuman lebar begitu Na Hyun memeluk lehernya mengingat posisinya yang menduduki bangku counter.

Bruk.

Savety belt sudah terpasang atau sebenarnya baru saja dipasangkan Kyu Hyun pada Hyo Na yang ternyata sudah tertidur. Dan seingat Kyu Hyun ini belum ada setengah jam keluar dari tempat makan dan ditambah berkeliling di toko buku—karena permintaan anaknya, dan Hyo Na sudah ‘ambruk’. Mungkin kelelahan karena terlalu bersemangat memilih novel, pikir Kyu Hyun.

Deru mesin mobil berbunyi lalu bergerak menengah karena sempat menepi untuk membenarkan posisi Hyo Na yang tertidur untuk memasangkan sabuk pengaman pada putrinya tadi. Ya, Kyu Hyun harus menyadari jika Hyo Na memang selalu tidak memakai sabuk pengaman, suatu sore yang cerah gadis itu pernah merengek karena benci sabuk pengaman, ‘Ini membuatku sesak dan tak bisa bergerak, Ayah?!’ dan ingat benar Hyo Na merajuk seharian sampai akhirnya Kyu Hyun merayunya dengan novel dan es krim cokelat.

“Apa aku terlalu memanjakannya? Apa aku salah memberikan perhatian lebih pada Hyonnie? Apa dia tidak akan mandiri nantinya karena sikapku? Atau ia akan bergantung terus padaku? Aku…” kata Kyu Hyun entah pada siapa, tangannya pada kemudi terlihat mengerat dan ia tak bisa menahan senyuman sendu itu muncul.

Matanya melirik sekilas pada Hyo Na, gadis itu terlihat merengut dan mengubah ekspresinya jadi lebih murung. Entah mimpi apa, tetapi Kyu Hyun takut jika kembali mendengar kata…

“Ibu… Ibu…”

Dan benar pikirnya.

Kyu Hyun benar-benar menghentikan mobilnya kali ini karena lampu merah sudah menunjukkan rupa untuk memberi peringatan pada setiap pengguna jalan, menyuruh mereka yang bahkan punya jabatan tinggi untuk menghentikan laju kendaraan. Tidak terkecuali Kyu Hyun yang selalu butuh tempat berhenti karena tak bisa selamanya memasang wajah baik karena tahu jika putri kecilnya selalu mengalami mimpi buruk. Terlebih mimpi itu harus membawa istrinya, kali ini ia rasa tak harus bersyukur karena Hyo Na cukup tersiksa berkat mimpi yang tak diketahuinya.

Sebelah tangannya menyusup untuk menggenggam jemari Hyo Na, ia merasakan jika tangan itu basah karena keringat dan merasa Hyo Na bergerak gelisah hingga akhirnya jatuh lebih dalam untuk tertidur. Kyu Hyun berpikir, genggamannya memberikan efek untuk menghapus mimpi buruk Hyo Na seperti pengganti pelukan atau elusan pada rambut Hyo Na ketika hampir setiap tengah malam merintih, menangis bahkan kelepasan berteriak menyebut kata ‘Ibu’.

“Saya mana berani memukul atau bahkan melakukan hal yang dibilang Hyonnie bahkan di sini saya yang diancam, bukan saya yang mengancamnya, saenim Cho.”

Kyu Hyun kembali mengingat aduan Nona Byun, kejadian yang sudah lewat dua hari yang lalu benar-benar masih membekas diingatan. Apalagi ini bukan pertama kali Kyu Hyun melihat Hyo Na hampir mendapat kekerasan dari setiap tutor yang dibawa Kyu Hyun, kejadian ini terus saja berulang bersamaan aduan para mahasiswinya.

Sedikit Kyu Hyun ketahui, Hyo Na tidak menyukai belajar apalagi itu adalah Matematika dan karena itu Hyo Na selalu saja memiliki rencana untuk menjauhkan diri dari para tutornya. Yah, hanya sebatas itu saja pengetahuan Kyu Hyun tidak sampai pada sikap baik Hyo Na menjauhkan Kyu Hyun dari para mahasiswi yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan lebih dari hubungan dosen-mahasiswi.

Suara klakson dari mobil belakang mengagetkan Kyu Hyun, ia melirik sekilas pada kaca spion lalu menghela napas mendengar di belakang sana umpatan kekesalan orang lain keluar begitu saja. Dan ia pun menginjak pedalnya untuk kemudian pulang menuju rumahnya dengan Hyo Na yang terlelap. Benar-benar terlelap tanpa mimpi buruk.

— Ways to Life Forever —

Hyo Na baru akan membuka pintu mobil namun sebelah lengannya ditarik Kyu Hyun hingga membuatnya mengernyit heran, Kyu Hyun menyodorkannya bekal makanan hingga Hyo Na tertawa malu. “Kau hampir melupakannya?” kata Kyu Hyun membuat Hyo Na menganggukan kepala lalu membuka pintu mobilnya, Kyu Hyun di dalam sana hanya menggelengkan kepala mengetahui sikap pelupa Hyo Na.

Annyeong Cho ahjussi,” sapaan Jang Mi terdengar membuat Hyo Na yang kaget reflex memukul lengan gadis itu, “Reaksimu ini berlebihan sekali Hyonnie?!” ucap Jang Mi sambil mengusap lengannya dan Hyo Na hanya menunjukkan cengiran tak berdosa dan wajah yang mengandung makna ini-juga-karena-sikapmu pada Jang Mi.

Kyu Hyun kemudian pamit pada Hyo Na yang menganggukan kepala, senyuman manis gadis itu keluar bersama lambaian tangannya pada mobil Kyu Hyun yang sayup-sayup mengecil di pandangan matanya, pergi menjauh. Ketika mobil pergi menjauh, Jang Mi merangkul Hyo Na tepat di leher dan mengajak sahabatnya itu berjalan berdampingan. “Terlihat dari wajahmu, aku bisa menebak kau berhasil menjauhkan lalat. Benar, kan?”

Hyo Na tersenyum mendengarnya, ia melepas rangkulan Jang Mi dan bergaya untuk membanggakan dirinya sendiri. “Aku berhasil menjauhkan tart cokelat dari ‘lalat’ pengganggu.” Hyo Na mengerling Jang Mi dengan senyuman puas. “Aku hebat, kan?” tanyanya kemudian dan membuat Jang Mi tertawa menanggapinya.

“Jadi seperti apa lalat ini, hm?”

“Hm, lalat berkacamata, memakai pakaian yang tidak sopan dan tidak sama sekali mengajariku pelajaran Matematika karena dia hanya memutar siaran belajar selama hampir setengah jam. Argh, aku seperti balita saja dibuatnya.”

“Wah, itu benar-benar menyebalkan,” ucap Jang Mi mendramatisir membuat Hyo Na menyeringai, “Aku juga berhasil berakting menangis… auw!”dan perkataan Hyo Na putus setelah buku yang tak begitu tebal menepuk puncak kepalanya, Hyo Na baru akan protes tetapi mengurungkan niat karena kini dahinya disentil—pukulan kedua setelah buku—oleh lelaki bersurai brunette yang memandangnya dengan helaan napas.

“Yak, Lee Dong Hae?!” teriak Hyo Na kesal berniat mengejar namun segera ditahan Jang Mi, sedangkan Dong Hae hanya menatapnya dengan tatapan malas. “Bukannya bagus kalau kau mendapatkan tutor baru, hm? Kenapa kau memperlakukannya seperti itu? Lagi, Hyonnie?”

Hyo Na terlepas dari pegangan Jang Mi—dan bahkan Jang Mi harus memastikan jika Hyo Na tidak sampai memukul wajah atau menjambak rambut Dong Hae—dan berhasil memukul lengan Dong Hae berulang-ulang—sedikit Jang Mi bersyukur—dan sepertinya lelaki itu tidak mempermasalahkan pukulan yang diterimanya terlalu banyak dari Hyo Na, “Aku kesal kenapa kau membela ‘lalat’ dan bukan membelaku? Aish, kau ini berada di pihak siapa, eoh?”

Dong Hae menggelengkan kepalanya, ia menyentil lagi dahi Hyo Na lalu mengacak rambut gadis itu cepat. “Berhentilah bersikap kekanakan, terima tutor dari Ayahmu atau pergi ke tempat kurs…”

“Aku tidak mau!” bentak Hyo Na sambil menyentakkan tangan Dong Hae yang masih memegang rambutnya.

Jang Mi membulatkan kedua matanya, “Hyonnie…” panggil Jang Mi, rasanya ia mengenal percakapan ini dan terlalu sering memperhatikan pertengkaran Dong Hae dan Hyo Na mengenai tutor atau pergi ke tempat kursus belajar. Dan biasanya pertengkaran itu akan selalu berakhir dengan Dong Hae dan Hyo Na yang saling mendiamkan satu sama lain, normalnya hanya akan jadi seminggu tetapi jika sama-sama menyakiti satu sama lain, mereka akan tahan saling berdiam diri sekitar satu bulan atau tiga bulan bahkan hampir satu semester—dan Jang Mi pernah berada di situasi seperti itu dengan Hyo Na dan Dong Hae.

“Ayahmu ingin kau…”

“Aku bilang aku tidak mau! Aku hanya ingin…”

“Aku yang akan mengajarimu!”

Hyo Na membulatkan matanya, Dong Hae berkata tanpa menatapnya sama sekali. Jang Mi tidak kaget mendengarnya karena sebelum Dong Hae mengatakan hal ini Jang Mi sudah mendengarnya jauh hari. Jang Mi tersenyum lega, matanya melirik ke arah Hyo Na yang tak memberi jawaban dan melihat gadis kekanakan itu pergi menjauh.

Jang Mi mendengus pelan, ia lewat tepat di depan Dong Hae lalu tersenyum sungkan, “Kau terlalu ‘kelihatan’, tidak pernah pahamkah kalau Hyonnie itu tidak akan menyukai sesuatu yang terlalu…”

“Dia tidak suka perubahan dan tidak suka dijauhkan dari Ayahnya.Tapi, aku ingin dia bisa tidak membebani Cho ahjussi.”

Jang Mi menghela napas panjang, ia melirik tempat Hyo Na pergi dan mendapati kalau Hyo Na benar-benar menghilang, sempat pamit meninggalkan Dong Hae lalu mulai menyusul Hyo Na yang mungkin saja akan memilih opsi membolos di jam Matematika pagi ini—dan tentu hal ini akan membuat Cho ahjussi bisa saja dipanggil kepala sekolah atau wali kelas, pikir Jang Mi.

Kyu Hyun terlihat mengernyit heran menatap seorang mahasiswinya, yang beruntungnya ia kenali, tengah berdiri di tengah ruangan dengan membawa—mungkin bisa dibilang—buah tangan. “Ada yang bisa kubantu Nona Byun?”

Wanita bermarga Byun itu membungkuk hormat, menimbulkan baju bagian bawahnya tersingkap sedikit lalu menimbulkan gerakan genit, yang sudah pasti dibuat-buatnya. Dan syukurlah, Kyu Hyun yang sadar bagaimana mahasiswinya ini tertarik jelas padanya, ia masih bisa menahan diri untuk—setidaknya—tidak langsung mengacuhkan atau bersikap tidak sesuai dengan jabatan ‘dosen’ yang ia pegang. Setidaknya ia harus bersabar untuk menghadapi hal-hal murahan yang ditawarkan mahasiswinya.

“Saya ingin menyampaikan permintaan maaf karena…”

Kyu Hyun bangkit dari tempatnya, melirik jam tangan karena memang sudah waktunya memasuki kelas dan itu membuat wanita bermarga Byun mengernyit tak suka karena terabaikan, Kyu Hyun bersyukur ia memiliki jam mengajar. “Aku sudah memaafkanmu dan kau bisa kembali ke kelas sebelum meletakan itu di atas meja… Hm, kupikir kau bisa meletakkannya di meja mana saja yang kau sukai.”

Kyu Hyun berhenti di sela pintu menatap mahasiswinya, “Aku ada jam mengajar. Terimakasih karena sudah mengajari Hyonnie.” Dan Kyu Hyun membungkuk, memberikan kesan untuk dihargai atas terhadap hubungan dosen dan mahasiswi—setidaknya menyadarkan mahasiswi itu kalau tidak ada hubungan yang boleh terhubung setelah permintaan maaf.

Kyu Hyun berjalan lurus menuju tangga yang langsung menghubungkan ke kelasnya yang baru ia sadari berada di ujung lorong, di dekat tangga lainnya. Lalu membiarkan beberapa mahasiswi dan tentu saja mahasiswa menyapanya ramah, sebelum akhirnya berpapasan pada dua orang mahasiswi. Satu mahasiswi dengan rambut blonde dan mahasiswi lainnya menggunakan earphone yang tengah memandang kosong ke depan—tak ada sapaan hanya mereka yang berjalan saling melewati diri satu sama lain. Lalu ketika sampai di ujung, Kyu Hyun memasuki kelas dan memulai pelajaran.

— Ways to Life Forever —

Malamnya, setelah hari melelahkan Hyo Na di sekolah karena ia memilih bolos dan dengan senang hati menerima hukuman membersihkan ruangan olahraga—dan sebenarnya hukuman itu akhirnya dilakukan oleh Dong Hae, mungkin sebagai permintaan maaf. Hyo Na akhirnya dengan bujukan yang sangat mengharap pada Kyu Hyun kembali mengajak Ayahnya untuk makan malam di luar.

Mesin mobil bergerak, Hyo Na selalu memandangi keluar jendela jika berpergian dan akan bercerita tentang apapun tanpa Kyu Hyun suruh, tetapi untuk malam ini. Gadis itu memilih memandang PSPnya—atau sebenarnya PSP Kyu Hyun. Tidak biasanya, pikir Kyu Hyun.

“Ayah…”

“Hm?”

Hyo Na mem-pause permainannya yang hampir selesai, memilih memandang Kyu Hyun ragu-ragu sebelum melanjutkan pembicaraan. “Tutor atau bimbingan belajar? Ayah akan mengirimku ke mana lagi, hm?” Kyu Hyun mengernyit heran, tak menyangka jika Hyo Na akan membahas masalah ini begitu serius karena seingat Kyu Hyun gadis kecilnya ini tidak akan pernah serius jika diajak bicara mengenai tutor atau bimbingan belajar.

“Ayah sedang tidak memikirkan keduanya.”

Nde?

Kyu Hyun menganggukan kepalanya pelan lalu memutar kemudinya untuk berbelok dan memakirkannya di parkiran tempat makan. Kali ini café pilihan acak, menurut Kyu Hyun tak ada salahnya memilih tempat makan berbeda dan acak ini bisa saja memberikan kesan menyenangkan untuk Hyo Na yang terlihat tidak dalam keadaan baik.

“Yah? Ayah?” Hyo Na memanggilnya, Kyu Hyun tersadar karena melamun selama beberapa menit setelah mesin mobil mati dan selesai mendapatkan tempat parkir. “Aku akan diajari olehmu lagi kalau begitu?” Tanya Hyo Na kemudian membuat Kyu Hyun mengernyit dan sedetik kemudian mengacak rambut Hyo Na.

“Hm, sepertinya kau lapar? Kita makan dulu dan membicarakannya di rumah, ne?” tawar Kyu Hyun, ia berusaha mengalihkan perhatian Hyo Na yang masih menunjukkan wajah tidak enaknya.

Kyu Hyun keluar dari bangku pengemudi, berbelok ke sisi di mana Hyo Na duduk dan membukakan pintu untuk gadis kecilnya. Hyo Na tertawa dibuatnya karena Kyu Hyun bersikap seolah Hyo Na adalah tuan putri, “Ayah aku bahkan hampir masuk senior high school dan Ayah masih saja memperlakukan seperti anak kecil.”

Kyu Hyun tak bisa menahan tangannya menarik Hyo Na untuk berjalan di sampingnya dan membuat jarak tinggi badan mereka terlihat begitu jelas. Hyo Na memiliki perawakan yang lebih mungil dibandingkan remaja seusianya, jika ia berdiri di samping Kyu Hyun yang memiliki wajah yang masih terlihat muda maka akan terlihat seperti seorang kakak laki-laki dengan adik perempuan karena postur wajah mereka yang hampir mirip.

Sepanjang memasuki tempat makan, banyak mata mencuri tatap mereka dan Hyo Na menyadari pandangan-pandangan itu—berbeda dengan Kyu Hyun yang mengabaikannya—membuatnya jadi semakin manja merangkul tangan Ayahnya. “Hyonnie sayang Ayah!” dan mengucapkannya sedikit berteriak agar terdengar oleh wanita-wanita genit yang menggoda Ayahnya.

Tempat duduk yang hampir menyudut, di batasi dinding kecokelatan batu bata dan kaca besar memberikan akses lebih pemandangan luar tempat makan yang cukup jauh dari hiruk pikuk jalanan karena hanya menimbulkan cahaya kelap-kelip lampu-lampu kendaraan. Hyo Na sejenak melamun tetapi kemudian menjadi sangat aktif karena membaca isi menu dan Kyu Hyun tak bisa menahan gadis kecilnya untuk tidak memesan makanan sesuka hatinya—meninggalkan Kyu Hyun yang hanya memesan kopi.

“Ayah tidak makan?” tanyanya heran. “Ayah akan bantu kau memakannya,” balas Kyu Hyun singkat dan Hyo Na menanggapinya dengan kerlingan.

Hampir lima belas menit, makanan datang dan Hyo Na mendadak permisi untuk ke kamar mandi. Kyu Hyun ditinggal sendirian, ia menatap lurus kaca di depannya, kaca yang samar-samar merefleksikan dirinya, Hyo Na dan bayangan istrinya. Mereka bertiga duduk bersama, bercakap-cakap dan memanjakan Hyo Na. Hal ini tentu membuat senyum sendu Kyu Hyun muncul, “Ini tidaklah nyata.” Gumam Kyu Hyun pelan.

Brak.

Suara berisik memecah keheningan, banyak pasangan mata menatap pada seorang pelayan wanita yang terjatuh dengan baju setengah basah dan seorang lelaki yang Kyu Hyun kira berumur 40-an menatapnya marah. Samar-samar terdengar pria itu menghardik si wanita yang hampir menangis, Kyu Hyun tertarik hingga meninggalkan mejanya dan bergabung di antara keramaian.

Si pemilik tempat makan keluar bersama pelayan lainnya, yang paling depan berusaha meminta maaf dan menyuruh wanita yang bajunya setengah basah untuk ikut meminta maaf. Tetapi, wanita itu tidak mengindahkannya karena argumennya, “Saya tidak bersalah. Paman ini hampir melecehkan saya. Kenapa saya harus minta maaf?”

Pemilik restoran mengetatkan wajahnya, tak percaya pada perilaku Paman usia 40-an—menurut Kyu Hyun—yang dituduhkan pelayan wanita yang menjadi korban. Bisik-bisik timbul di sekitar tempat ramai membuat lelaki tua itu hampir kehilangan muka dan kini mulai berucap, “Kau ingin memerasku, eoh? Kau benar-benar tidak sopan menuduhku yang tidak-tidak.” Kalimat lelaki tua itu terputus atas kehadiran seorang wanita yang umurnya diperkirakan tidak jauh beda darinya, menatapnya curiga dan Kyu Hyun menyimpulkan wanita itu adalah sang istri—Kyu Hyun menangkap mereka menggunakan cincin dijarinya.

“Saya berani mengadukan ini sebagai tuduhan.Anda berani sekali menuduh saya melakukan pemerasan? Jelas-jelas anda hampir meleceh…”

Plak.

“Yak? Kau butuh uang, eoh? Benar-benar membutuhkannya sampai memeras suamiku seperti ini?” geram sang wanita tua, kali ini tebakan Kyu Hyun benar, keadaan lebih hening.

Kyu Hyun entah mengapa mengepalkan tangannya, merasa tidak adil pada pelayan wanita dan paman 40-an tersebut, Kyu Hyun rasa ada yang salah di sini hingga matanya mulai menelisik mencoba mencari sesuatu hingga matanya menemukan suatu hal yang bisa saja membantu pelayan wanita tersebut.

Ah, itu dia!

“Maaf jika aku ikut campur. Tapi, bisakah kita memeriksa kameranya?” Kyu Hyun berbicara dalam keheningan yang mulai menguap setelah sesi tamparan panas wanita tua pada pelayan wanita muda yang kini jadi menundukkan kepalanya.Kyu Hyun mengasihaninya sejenak, pasti rasanya sangat sakit dan menyedihkan di satu sisi.

Si pemilik tempat seakan kaget karena baru sadar jika tempat duduk si lelaki tua itu sangat dekat oleh kamera. Pemilik tempat pun menganggukan kepala dan berubah menjadi si penengah, “Karena saya tidak bisa melihat secara langsung apa yang terjadi. Saya akan mengecek rekaman, jadi saya mohon untuk tidak meninggalkan tempat ini.” Mata si pemilik menelisik lelaki berumur 40-an bergantian dengan pelayan wanita muda lalu berakhir pada wajah Kyu Hyun.

“Apa anda bisa menemani saya untuk melihat rekamannya?” tanya si pemilik, Kyu Hyun menyanggupi ketika tak sengaja lengannya tertahan oleh tarikan Hyo Na yang menatapnya bingung. Kyu Hyun tersenyum kecil sambil menepuk kepalanya, “Ayah hanya sebentar,” ucapnya lalu melirik ke arah pelayan wanita muda yang diikuti Hyo Na. “Hyonnie bisa menemani eonni itu, hm?”

Hyo Na membulatkan kedua matanya—sedikit tak percaya, tetapi ia mengangguk patuh dan menarik tangan eonni yang dimaksud Kyu Hyun untuk duduk dengannya. Atau lebih tepatnya duduk menjauh dari lelaki berumur 40-an yang samar-samar tersenyum meremehkan.

Hyo Na memang tak mengerti situasi apa yang sedang ia hadapi, tetapi melihat sikap diam wanita di depannya dan baju yang sedikit basah—oh, bahkan baru sadar jika pipi wanita di depannya memar—membuat Hyo Na bersimpati hingga menyodorkannya semangkuk es krim cokelat. Pelayan wanita itu mengangkat kepalanya, air matanya turun begitu saja dan itu membuat Hyo Na panik karena tidak tahu harus melakukan apa.

“Umm, Eonni bisa mengambilnya… hm, es krim apalagi cokelat rasanya bisa memberimu mood yang baik.” Hyo Na berucap sedemikian perhatian, sedikit menghibur dan menahan diri untuk tak bertanya-tanya.

Di ruang kendali. Ada beberapa orang di dalamnya, salah satunya Kyu Hyun yang berdiri mengamati apa yang terjadi pada rekaman yang hampir diulang sebanyak sepuluh kali dan menghasilkan keputusan yang sama. Ya, pelayan wanita muda itu hampir dilecehkan setelah lima belas menit wanita tua pergi meninggalkan lelaki tua. Karena tidak menerima perilakunya, pelayan wanita pergi tapi tak sengaja menjatuhkan nampan berisi air dan membasahi hampir separuh bajunya. Keramaian tercipta, Kyu Hyun bisa melihat refleksi dirinya berjalan mendekati arah keributan dan berakhir dia yang menjadi si petunjuk meluruskan niat busuk si lelaki tua tersebut.

“Padahal ini hari pertamanya bekerja di tempat kami,” ucap pemilik tempat, Kyu Hyun mendengarnya ikut bersimpati. “Dilihat dari mana pun, gadis ini sangat cekatan dan jujur. Aku berpikir tak mungkin dia melakukan hal semurahan itu, tapi…”

“Dan kita bisa jadikan ini sebagai bukti pelecehan.” Dan si pemilik menganggukan kepalanya, setuju begitu Kyu Hyun menanggapinya.

Hyo Na hanya menatap bergantian ke arah paman berusia 40-an dengan pelayan wanita di depannya yang kini hanya mengaduk-aduk es krim cokelatnya. Ia tahu, jika bertanya tentang apa yang terjadi saat ini, artinya sama saja membuat keributan kecil lainnya. Jadi, ia berusaha mengerti hingga ujung matanya menangkap Kyu Hyun dan seorang yang tak ia kenali keluar ruangan.

Kyu Hyun memanggil Hyo Na dari balik tatapannya lalu ia menyerahkan handuk pada Hyo Na yang hampir bertanya karena Kyu Hyun segera berkata, “Berikan ini pada eonni itu, ne!” Hyo Na patuh lagi dan menghampiri eonni yang dimaksud untuk memberikannya handuk.

Dan setelah itu, pria berusia 40-an beserta istrinya dipanggil sang pemilik tempat dan Kyu Hyun pun ikut, mereka menghilang dan tersembunyi di balik pintu. Hyo Na berpikir, ia seperti berada di dalam sebuah novel dan memikirkan tengah menjadi salah satu tokoh penting—tapi sayangnya ia tak bisa paham ia jadi apa di cerita ini.

“A… Aku yakin. Aku tidak bersalah. Jelas-jelas Paman itu hampir melecehkan… hiks.”

Hyo Na tersentak mendengar gumaman wanita di depannya yang kini menangis dalam tundukan kepalanya, lagi. Es krim cokelat mencair sempurna, Hyo Na ragu mengatakan es itu enak setelah sadar jika sekarang tampilan es menjadi cair dan tidak mengunggah siapa pun untuk memakannya. Hyo Na bingung melakukan apa selain berkata, “Tenang saja, Ayahku itu pasti bisa membuat Paman Mesum—istilah baru yang diberikan Hyo Na—tadi jadi mengakui kesalahannya. Eonni tenang saja, nde?” Hyo Na tak yakin itu adalah kalimat penghibur, tetapi samar-samar ia melihat garis tipis terbentuk di wajah wanita pelayan tersebut.

Suara alas kaki mendekat, hal pertama yang Hyo Na dapati adalah tatapan Kyu Hyun yang hangat dan beralih menatap pelayan wanita tersebut. “Kau bisa menemui pemilik tempat ini dan Paman itu akan meminta maaf padamu.”

Wanita itu mengangkat wajahnya, air matanya berjatuhan Hyo Na yang melihatnya sedikit aneh karena rasanya ada yang mengganjal. Tapi Hyo Na mengabaikan karena wanita pelayan itu buru-buru untuk membungkuk—dan itu berulang kali sambil mengucapkan kata terimakasih pada Ayahnya—lalu menghilang di balik pintu di mana lelaki berusia 40-an beserta wanita tua juga masuk ke sana.

Hyo Na mendongak menatapi Kyu Hyun yang melihat ke arahnya dengan senyuman lalu mengacak rambut Hyo Na dengan lembut. “Jadi, terkadang hidup itu memang tak adil. Kalau kau hanya melihatnya dari satu sisi. Cobalah melihatnya sekali lagi tetapi dari sisi lain dan temukan perbedaannya. Jadi, kau bisa tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Memang bukan mencari itu, tapi itulah suatu sistem yang disebut keadilan.”

Nde?”

Kyu Hyun tertawa mendengarnya, ia tak bisa menahan untuk mencubit pipi berisi Hyo Na yang kini sedang cemberut berkat tawa Kyu Hyun. “Ck, Ayah pasti mengira aku ini mahasiswinya, ya? Aku tak paham apa yang Ayah katakan.”

“Kau kurang dewasa untuk hal-hal ini, Hyonnie.”

Hyo Na melirik tak suka lalu cemberut di wajahnya makin menjadi, “Ck, terserah Ayah!” dan mengakhiri perdebatan kecil mereka dengan Hyo Na yang menyambar es krim cokelatnya—atau lebih tepatnya sisa es krimnya.

Kyu Hyun menggelengkan kepala tak percaya, ia lirik sekilas tempat keributan lalu bergantian pada pintu di mana dua orang suami istri, pelayan wanita dan pemilik tempat berada. Senyumnya terkulas lalu ia memilih mencomot makanan milik Hyo Na tanpa mengindahkan pekikan tak suka Hyo Na.

“Ayah juga lapar Hyonnie.” Balas Kyu Hyun.

[tbc]

3 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Aug 06, 2017 @ 04:05:05

    apa soora bakalan jadi tentor hyona,,,
    lanjut

    Reply

  2. Monita
    Aug 08, 2017 @ 01:56:12

    Sebenernya siapa pelayan itu?? apa dia yg akan jadi tutor hyo na selanjutnya???
    Next part thor,…
    ceritanya mengasikkan ☺️ aku suka…

    Reply

  3. Ifah
    Sep 21, 2017 @ 17:50:18

    Tutornya pada mau deketin kyuhyun

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: