Ways to Life Forever [2/?]

[Chapter 2] Ways to Life Forever

Author : Rien Rainy (@RienHara)

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, family

Rated : T

Length : chapter

Blog Pribadi : http://riechanieelf.wordpress.com/

— Ways to Life Forever —

 

Pintu kediaman Cho terbuka lebar oleh Hyo Na, langkahnya yang lebar menuju kamar terlihat tergesa-gesa. Setelah bunyi debum keras karena pintu kamar Hyo Na, sosok Kyu Hyun muncul di ruang tengah yang langsung berhadapan dengan kamar Hyo Na.

Kyu Hyun menghela napas panjang melihat sikap Hyo Na, setengah tidak percaya jika sifat manja Hyo Na semakin parah. Kyu Hyun meringis kecil saat matanya tak sengaja menatap refleksi istrinya di dalam pigura. Merasa kedapatan berbuat salah, Kyu Hyun tersenyum kecil jika mengetahui dirinya rindu akan tatapan istrinya dan segala macam ‘ceramah’nya.

“Aku mengurusnya dengan tak baik, ya?” tanyanya sambil menundukkan kepala, “Maafkan aku membuatnya jadi semanja itu. Kau tahu jika aku sangat menyayanginya, kan? Sangat menyayangi Hyonnie,” tambahnya lalu menghampiri pintu kamar Hyo Na yang tertutup rapat.

Kyu Hyun sebenarnya bisa mengetuk pintu kamar Hyo Na. Kyu Hyun bahkan bisa membuka pintu Hyo Na dengan duplikat kunci yang dia punya. Namun, sepertinya Hyo Na benar-benar merasa kesal. Keputusan Kyu Hyun mengenai tutor baru membuat Hyo Na tidak menyukainya. Bukan tidak menyukai secara keseluruhan, Hyo Na juga masih sadar diri siapa yang paling berhak mengaturnya di dalam rumah, tentunya Kyu Hyun sebagai Ayahnya.

Tapi kali ini sikap Kyu Hyun berbeda daripada biasanya. Kyu Hyun tidak membicarakan apapun mengenai tutor baru saat makan malam kemarin atau ketika Hyo Na mencoba membuka topik itu Kyu Hyun malah tidak ingin membahasnya. Semuanya tidak sama seperti yang Hyo Na duga sehingga membuatnya menjadi orang paling akhir yang tahu jika Kyu Hyun sudah punya calon tutor baru.

…Dua hari yang lalu, saat malam saat makan malam di luar…

Tempat duduk yang mereka pilih hampir menyudut berbatasan dengan dinding kecokelatan dan kaca yang besar sehingga memberikan akses untuk melihat pemandangan di luar tempat makan. Hyo Na sejenak melamun lalu menjadi sangat aktif begitu membaca isi menu makan yang didapatnya dari seorang pelayan. Kyu Hyun bahkan tak bisa menahan anak perempuannya agar tidak memesan makanan sesuka hati.

“Ayah tidak makan?” tanya Hyo Na heran melihat Kyu Hyun hanya memesan kopi. “Ayah akan bantu menghabiskan makananmu saja,” balas Kyu Hyun sambil mengintip pesanan Hyo Na.

Mereka menunggu setengah jam setelah itu pelayan perempuan datang membawa pesanan dan Hyo Na pergi ke kamar mandi. Kyu Hyun yang ditinggal sendiri menatap lurus kaca yang ada di depannya. Kaca yang samar-samar merefleksikan dirinya, Hyo Na dan bayangan sang istri. Ada mereka bertiga sedang duduk bersama, bercakap-cakap dan memanjakan Hyo Na, sesuatu yang membuat senyum Kyu Hyun muncul, “ini tidaklah nyata,” katanya pelan.

Hyo Na muncul setelah sepuluh menit lalu mulai makan dan bercerita banyak mengenai sekolah. Kyu Hyun menjadi pendengar sekaligus jahil saat mengambil makanan Hyo Na tanpa izin. Memang tak perlu izin untuk mengambil makanan milik Hyo Na karena Hyo Na akan memberikan tanpa diminta, tetapi karena mereka sama-sama jahil pertengkaran konyol pun terjadi.

“Oh, Ayah, aku juga ingin makan itu?!” Hyo Na mulai merengek saat Kyu Hyun menyuapkan salah satu menu ke dalam mulut. “Hei, kenapa jadi pelit begini, hm? Ayah juga mau makan, Hyonnie!” balas Kyu Hyun tanpa menghiraukan wajah cemberut Hyo Na.

“Yah? Bagaimana dengan tutorku? Apa Ayah sudah memikirkannya?” tanya Hyo Na tiba-tiba membuat Kyu Hyun sedikit bingung memikirkan perkataan Hyo Na yang belum menghasilkan jawaban. “Hm, bagaimana jika kita tidak memikirkannya sekarang? Kau pasti sangat lapar sehingga memikirkan hal itu tiba-tiba?” Hyo Na yang mendengarnya membalas dengan gelengan kepala, Kyu Hyun jelas tak ingin membahas pergantian tutor, jadi Hyo Na tak memikirkan atau bertanya lagi.

Saat mereka sedang menikmati makan malam mendadak suara pecahan gelas memecah seisi café. Mereka sama-sama melihat sumber kejadian yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Seorang lelaki yang Kyu Hyun perkirakan berumur 40 tahunan sedang menghardik seorang wanita muda yang terjatuh di dekat meja lelaki tua tersebut.

Keributan itu membuat sang pemilik café muncul bersama pelayan lain. Bisik-bisik terdengar di sekitar tempat duduk Kyu Hyun dan Hyo Na ketika lelaki tua mendapatkan permintaan maaf mewakili pelayan perempuan tersebut. Namun sepertinya si lelaki tua itu menginginkan agar pelayan perempuanlah yang meminta maaf langsung padanya tetapi pelayan perempuan itu mengeluarkan pembelaan diri, “Saya tidak bersalah di sini karena Paman ini hampir melecehkan saya. Kenapa saya harus minta maaf?” kata pelayan perempuan tersebut.

Raut tak percaya terbias di wajah si pemilik café dan pengunjung café lain membuat paman itu memandang pelayan perempuan dengan wajah memerah karena marah, “Kau ingin memerasku, eoh? Kau benar-benar tidak sopan menuduhku yang tidak-tidak!”

Suasana semakin memanas ketika tanpa ada yang menyadari kehadiran seorang perempuan yang seumuran dengan paman tersebut muncul entah darimana dan menampar pelayan perempuan tersebut. Ketegangan sampai pada puncak ketika bibi itu memberikan ancaman, “Berani sekali kau menuduh suamiku yang tidak-tidak? Kau masih muda untuk menuduh seseorang yang lebih tua daripadamu, Nak! Apa kau benar-benar membutuhkan uang dibalik tuduhanmu itu?”

Kyu Hyun yang melihatnya merasa tidak bisa diam, diabakan sebentar ribut-ribut itu untuk melihat setiap sudut café. Sehingga matanya menangkap ada beberapa pasang kamera yang terpasang tepat di dekat tempat duduk paman dan bibi tersebut.

“Maaf jika aku ikut campur, tapi bisakah kita memeriksa kameranya?” suara Kyu Hyun terdengar membuat ketiga orang yang dalam suasana menegangkan jadi menatap Kyu Hyun.

Si pemilik café seakan baru tersadar dan langsung menyetujui usul Kyu Hyun sambil mengajak Kyu Hyun untuk memeriksa rekaman. Pasangan paman dan bibi itu juga sudah duduk di mejanya, sedangkan pelayan perempuan itu didudukan bersama Hyo Na.

Hampir setengah jam Kyu Hyun berada di dalam sana, Hyo Na mencoba menenangkan pelayan perempuan yang menahan tangis sampai merelakan es krim cokelatnya pada si pelayan perempuan. Tetapi pelayan perempuan itu tidak memakannya hanya mengaduk-aduk isinya. Setelah lama menunggu, akhirnya Kyu Hyun keluar karena merasa tidak punya andil dalam keributan dan menyuruh ketiga orang yang terlibat keributan memasuki ruangan yang sama dan menyerah semua permasalah kepada pemilik café.

“Jadi, terkadang hidup itu memang tak adil jika kau hanya melihat semuanya dari sudut pandangmu.” Kyu Hyun berucap seperti itu di samping Hyo Na yang kebingungan, “Nde?” tanyanya membuat Kyu Hyun tertawa menanggapi Hyo Na, “Kau harus memeriksanya Hyonnie jika tak ingin ada seseorang yang tersakiti!” kata Kyu Hyun membuat Hyo Na tersenyum kecil.

“Ah, kurasa Ayah hampir saja mengira aku adalah salah satu mahasiswinya? Hm, tapi benar apa yang Ayah katakan, jika tidak melihat dari sudut yang berbeda maka apa yang kita lihat hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Iya, kan?”

Kyu Hyun tertawa menanggapi jawaban Hyo Na, “Kau tidak salah dan tidak benar, Hyonnie. Aku senang mendengar jawabanmu!”

—000—

Kyu Hyun menghela napas panjang menatap pintu kamar Hyo Na, kalau Hyo Na sudah bersikap seperti ini akan sangat sulit membujuknya. Jadi Kyu Hyun memberikan banyak waktu untuk Hyo Na menyendiri. Sebelum akhirnya Kyu Hyun meninggalkan pintu kamarnya suara Kyu Hyun terdengar melembut mengatakan pesan kecil, “Hyonnie boleh mengurung diri selama apapun. Ayah tak marah padamu, tapi jika kau lapar atau membutuhkan apapun, Hyonnie bisa panggil Ayah, nde?”

Tak ada jawaban di balik pintu, Hyo Na yang duduk menyandarkan punggungnya jadi merasa bersalah. Suara Kyu Hyun yang lembut, suara samar-samar langkah kaki dan derit pintu yang terdengar berusaha menghilangkan bunyinya yang menjadi pengisi indera pendengaran Hyo Na. Karena tahu Kyu Hyun akan membiarkannya sendiri, Hyo Na kembali teringat pada perkataan Dong Hae.

…Dua hari yang lalu saat Hyo Na menerima hukuman membolosnya…

Hyo Na tidak menyentuh sama sekali tongkat pel dan sapu bahkan tidak mengurangi isi air pada ember karena sibuk menatap kesal pada ruangan yang menjadi tempatnya dihukum. Lapangan basket. Guru Matematika Hyo Na yang memberikan hukuman membolos. Jang Mi sebenarnya sudah membujuk Hyo Na tetapi perempuan berambut sebahu itu terlalu keras kepala sehingga mengusir Jang Mi turun dari atap sekolah dan disaat bersamaan muncul guru Matematika mereka.

Kesal mendapatkan hukuman membersihkan lapangan basket beserta ruangan klub basket, Hyo Na menendang ember berisi air tersebut. Airnya tidak tumpah hanya berupa percikan yang keluar dan mengenai ujung sepatu Hyo Na. Tidak seorangpun yang membantu hukumannya kali ini, Jang Mi terbebas hukuman karena mungkin saja guru Matematika mereka lebih membenci Hyo Na—atau sebenarnya sangat tahu jika yang berniat membolos adalah Hyo Na karena Jang Mi lebih berusaha membujuk Hyo Na kembali ke kelas.

Ah, menyebalkan!

Semuanya mendadak lebih menyebalkan ketika mata kecokelatan Hyo Na menangkap sosok lelaki yang paling dia ingin hindari hari ini. Lee Dong Hae. Lelaki itu tentu saja berada di ruangan klub basket, dia adalah salah satu anggotanya.

Dan karena dia pintar dan tak harus mengikuti program belajar tambahan atau belajar dengan tutor di rumah, pikir Hyo Na.

Dong Hae yang keluar dari ruangan klub dengan membawa bola basket sadar jika di tengah lapangan Hyo Na sedang berdiri dengan peralatan hukumannya. Dong Hae mengabaikan keberadaan Hyo Na, bola basket yang dipegangnya sudah memantul-mantul dan sambil berlari kecil mengelilingi lapangan mendekati Hyo Na seakan mengajaknya bermain.

Hyo Na tahu jika kemampuan bermain basket Dong Hae hampir seimbang dengan Kyu Hyun. Seakan menerima undangan bermain, Hyo Na merebut bola Dong Hae karena berhasil merebut bola Hyo Na langsung memasukannya ke dalam jarring yang sialnya tidak berhasil karena bola Hyo Na tidak sampai mengenai jaring.

Sadar jika Dong Hae menahan tawa, Hyo Na mendengus sambil mengambil bola berwarna orange itu dan melemparkannya ke arah Dong Hae yang berhasil menangkap bolanya. Dong Hae dengan santai memantulkan beberapa kali bola ke lantai, berlari-lari kecil sampai ke tengah lapangan lalu mencetak three point seakan memberikan contoh pada Hyo Na yang gagal.

Hyo Na tak menyembunyikan tatapan takjub, bola orange tersebut sudah memantul-mantul kecil hingga mengenai ujung sepatu Hyo Na. Dong Hae yang melihat ekspresi Hyo Na hanya tersenyum, wajah kekanakan Hyo Na muncul lagi setelah sekian lama tidak terlihat.

‘Kau bisa anggap dia seperti adik perempuanmu agar kau bisa melindungi dan menyayanginya…’ suatu hari Ibu pernah berpesan seperti itu pada Dong Hae.

Pantulan bola terdengar, Hyo Na memantulkan bola orange tersebut sambil berjalan santai menghampiri Dong Hae di tengah lapangan. Hyo Na mengakhiri pantulan bola dengan memberikan lemparan chestpass asal-asalan lalu mendengus karena Dong Hae berhasil menangkapnya bahkan sama baiknya saat Hyo Na sedang iseng pada Kyu Hyun, berniat menjahili tapi akhirnya menjadi bahan kejahilan. Dua lelaki yang menyebalkan, tapi yang paling menyebalkan itu adalah Dong Hae, pikir Hyo Na.

“Aku sungguh-sungguh,” buka Dong Hae sambil menatap bola orange di tangannya, mengira-ngira mana bekas pegangan Hyo Na, apa yang masih hangat atau yang dingin.

Entah yang mana?

“Aku tahu kau pintar, jadi apa kau sedang benar-benar menyombongkan dirimu di depanku, eoh?”

Hyo Na memang kekanakan, Dong Hae dan Kyu Hyun tahu benar sifatnya. Sedikit meringis, Dong Hae berpikir bagaimana bisa Cho ahjussi tahan berdua dengan Hyo Na yang sebentar merajuk, sebentar rewel, dan sebentar manja. Dong Hae tak bisa bayangkan karena merasa ngeri dan sedikit penasaran pada rasanya.

Bagaimana?

“Aku tidak butuh kau untuk membantuku, aku bisa melakukannya sendiri.”

Akhirnya Dong Hae tahu ke mana arah pembicaraan ini berlanjut. Selalu sama dan tidak ada yang berbeda. Dong Hae meringis kenapa Hyo Na selalu terlihat sama di tahun-tahun yang berbeda, tubuhnya tinggi dan wajahnya jadi lebih manis daripada masa kecil Hyo Na yang Dong Hae ketahui berisi hal-hal yang tidak baik, sesuatu yang bahkan Dong Hae sendiri takut untuk memikirkannya dan membayangkan jika terjadi kembali.

Tapi, apa sikap Hyo Na adalah bentukan dari masa lalunya?

“Kurasa kau harus berhenti mengkhawatirkanku. Ayah bisa membantuku, aku juga akan berusaha membuat Ayah tidak terlalu khawatir padaku. Aku…”

Bola orange terjatuh dan tarikan tubuh Hyo Na yang melekat pada dada Dong Hae membuat gadis kekanakan itu membelalakan matanya tak percaya. Pantulan keras pada bola perlahan berubah semakin kecil kemudian bergelinding bebas ke lapangan seakan mengukur berapa lama Dong Hae bisa mendekap teman masa kecil yang disayanginya itu.

“Tidak bisakah aku ikut membantumu? Kita hampir lulus sekolah bersama-sama, Hyonnie?”

Jarak tercipta, tangan Hyo Na memanjang memberikan ruang untuk menunduk menyembunyikan rasa sesak. Hyo Na tahu benar ke mana pembicaraan Dong Hae yang selalu sama dari awal tahun Hyo Na masuk sekolah menengah pertama sampai Hyo Na akan lulus dan memasuki senior high school. Akhirnya, hanya sama-sama membuat mereka menjadi sama, tidak berubah walau tahun terus bertambah nominalnya.

Lee Dong Hae, anak lelaki yang dulu diletakan Nyonya Lee di samping boxnya, lelaki bersurai brunette tersebut selalu sama saja di mata Hyo Na.

“Aku tahu kau tidak akan pernah menerima setiap tutor yang diberikan Ayahmu, kenapa tidak pergi ke tempat bimbingan belajar? Atau yang paling gampang adalah aku bisa membantumu? Aku akan senang membantumu, Hyonnie.”

“Tapi, aku tidak akan senang, Dong Hae-ya.”

Dong Hae berhenti berbicara, langkah kaki lebar yang dibuat Hyo Na mengartikan semuanya. Hyo Na pergi mengabaikan hukuman yang diberikan guru Matematika yang dibencinya. Masa bodoh dengan hukuman dan niat baik yang menyebalkan dari Dong Hae, pikir Hyo Na.

—000—

Posisi tidurnya yang tidak nyaman membuat Hyo Na terbangun. Ternyata tidur dengan posisi meringkuk di depan pintu kamar tidaklah baik, Hyo Na meregangkan tubuhnya pada saat yang sama matanya tak sengaja menangkap waktu yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Makan malam sudah terlewat dan Hyo Na ragu keluar karena rasa bersalahnya pada Kyu Hyun.

Kyu Hyun memang jarang marah pada Hyo Na, namun mengingat nada suara Kyu Hyun yang lembut membujuknya untuk bertemu walau Kyu Hyun tahu Hyo Na butuh waktu sendiri membuat Hyo Na merasa tidak berhak keluar kamar. Entah hanya sekedar mengisi perut atau meminta bantuan Kyu Hyun, Hyo Na merasa tak pantas.

Namun, apa boleh dikata, Hyo Na juga tak bisa menahan dirinya. Lagi pula Kyu Hyun yang berhak dan bertanggungjawab atas semua yang Hyo Na kerjakan. Hyo Na mencoba berteman dengan keputusan Kyu Hyun walau dia tahu tidak bisa dilakukan secepatnya, jadi Hyo Na memutuskan berdamai sejenak karena khawatir jika Kyu Hyun semakin terbebani. Akhirnya Hyo Na keluar kamar untuk meminta maaf.

Ketika pintu kamar terbuka untuk pertama kalinya, Hyo Na dapat mencium aroma sangat lezat yang menusuk indera penciumannya. Seulas senyum geli muncul ketika tahu apa yang Kyu Hyun masak walau hanya mencium aromanya saja, yaitu ramyun.

Hyo Na sengaja membunyikan kursi yang berhadapan langsung dengan punggung Kyu Hyun. Usaha menarik perhatian Ayahnya berhasil, Kyu Hyun berbalik dan mengerling ke arahnya.

“Tergoda dengan ramyun buatan Ayah, hm?”

Hyo Na memajukan bibirnya mencoba bersikap jual mahal pada Ayahnya sendiri, “Tidak.”

Alis Kyu Hyun bergerak menyatu menimbulkan wajah bertanya pada tatapannya yang bertubrukan dengan Hyo Na yang tak bisa menahan tawa. Hyo Na tak menyangka jika Kyu Hyun akan bersikap santai seperti ini seolah menjelaskan jika Kyu Hyun tidak benar-benar marah padanya.

Mendadak sekali ketika melihat Kyu Hyun tertawa membuat Hyo Na selain merasa lega juga menyadarkan jika Kyu Hyun sangat tampan walau hanya memakai kaus putih dengan celana yang tak pendek hingga menutupi lututnya.

Pantas saja banyak wanita yang mengejarnya, pikir Hyo Na sebal.

“Ayah, Hyonnie minta maaf atas kejadian tadi.”

“Hm?” Kyu Hyun membalasnya dengan deheman yang terdengar menyenangkan sambil memunggunginya.

Hyo Na tersenyum lega merasa menyenangkan hanya dengan menatap punggung dan mendengar deheman bernada menyenangkan Kyu Hyun sehingga suatu niat menghampiri benaknya. Hyo Na hampiri Kyu Hyun dan memeluknya dari belakang, “Apa Ibu secantik diriku?” tanyanya terdengar asal-asalan tetapi berniat ingin mendapati jawaban paling jujur dari Kyu Hyun.

Kyu Hyun berbalik sambil melepaskan pelukan Hyo Na dan menatap wajah perempuan kecilnya dengan senyuman. Hyo Na tidak cantik, Kyu Hyun yakin karena Hyo Na lebih bagus disebut manis ketimbang cantik.

Jadi, kesimpulan Kyu Hyun untuk menjawab pertanyaan Hyo Na, “Sebenarnya Ibumu itu yang sangat cantik dan dirimu itu sangat manis.” Kyu Hyu berhenti berkata sambil menunjukkan wajah bertanya. “Apa itu bisa diartikan sama, Hyonnie?” membuat Hyo Na mendengus kembali merajuk, Kyu Hyun berbalik menekuni ramyunnya, “ditambah Ibumu sangat senang merajuk, jadi kalian sama-sama mirip.” Tambah Kyu Hyun.

Hyo Na tersentak dari rajukannya, menatap punggung Kyu Hyun yang lebar dan terlihat kokoh namun tereksan sendirian. Hyo Na tidak suka harus melihat Kyu Hyun merasa sedih ketika Hyo Na mencoba membahas mengenai Ibu, mengenai istri Kyu Hyun tetapi Hyo Na merasa harus banyak tahu mengenai Ibu dan Ayahnya, tentang kehidupan mereka sebelum dia dilahirkan.

Demi menghibur Kyu Hyun sekali lagi Hyo Na memeluk pinggangnya, “Jika kami mirip, apa Ibu juga melakukan hal ini sering pada Ayah?”

Hyo Na mengernyit kecil ketika pikiran konyol terlintas di dalam kepalanya dan kembali berkomentar, “Aneh melakukannya seperti ini apalagi aku meremaja, sama seperti temanku yang lain. Aku jadi berpikir melakukan ini jika punya…”

“Hyonnie,” tegur Kyu Hyun yang mengerti ke mana arah pembicaraan Hyo Na.

Hyo Na tentu saja membahas tentang kekasih yang selalu menjadi bagian paling buruk untuk bahan bercanda dengan Kyu Hyun.

Kyu Hyun sadar-sesadarnya jika perempuan kecilnya memang meremaja, seiring bertambahnya waktu Hyo Na akan semakin mendewasa dan menemukan pria lain dalam kehidupannya lalu menikah dan menghasilkan cucu untuk Kyu Hyun. Kyu Hyun sudah tua dari segi umur, tapi Kyu Hyun sangat percaya diri jika di masa tuanya pun Kyu Hyun akan semakin tampan.

“Inilah mengapa Ayah tak suka membelikanmu novel romantis,” komentar Kyu Hyun sambil mematikan kompor, ramyun yang dimasaknya sudah selesai.

Hyo Na tanpa komando mengambil peralatan makan dan meletakannya di atas meja, ramyunnya sudah matang dan mungkin akan menemani makan malam mereka yang terlambat dan diselingi dengan ceramah super panjang Kyu Hyun.

Panci ramyun diletakan di tengah, asapnya mengepul seperti cerobong asap kereta api tetapi tidak membuat mereka batuk justru menggunggah selera makan. Ramyun buatan Kyu Hyun tanpa sayur di sana-sini hanya ada telur dan potongan daging karena mereka sama-sama tidak suka sayur. Hyo Na menjadi orang pertama yang menyendokkan ramyun untuk Kyu Hyun, “Ibu juga melakukan ini, kan?” tanyanya sambil tersenyum sendiri.

Kyu Hyun tertegun beberapa detik sebelum senyum muncul dengan anggukan kepalanya, Hyo Na lalu mengambil ramyun untuk dirinya sendiri, “Mungkin sisi positif dari membaca novel romantis yang Ayah larang adalah aku bisa bersikap semanis ini untuk Ayahku dan kelak… untuk suami di masa depan nanti,” kata Hyo Na sambil terkikik mengabaikan pandangan mata Kyu Hyun yang tidak bisa ditebak; sedih dan rindu teringat istrinya dulu pernah berucap sedemikian sama dengan Hyo Na.

Seketika refleksi Hyo Na berubah bentuk menjadi raga istrinya. Senyumannya, kerlingan matanya, suara tawa dan pembicaraannya yang bernilai fantasi—karena istrinya yang tidak suka akan hal-hal serius dibicarakan di meja makan—menempati raga Hyo Na. Kyu Hyun tak sadar menangis menatap Hyo Na dan membuatnya berhenti berbicara, “A… Ayah?” panggil Hyo Na khawatir.

Mungkin keterlaluan membuat Kyu Hyun sampai menangis mengingat Ibunya, tapi bukankah Hyo Na juga sama tersiksanya karena tak sempat menatap wajah Ibunya secara langsung untuk pertama kali. Kyu Hyun masih bernasib lebih baik karena menghabiskan banyak waktu bersama dengan istrinya.

“Maafkan aku, Yah,” cicit Hyo Na sambil menundukkan kepala, menyesal.

Tangan besar Kyu Hyu mengelus puncak kepala Hyo Na, pelan-pelan sambil menahan lonjakan emosi yang sukses diciptakan Hyo Na padanya. Kyu Hyun merasa lupa sesaat bahwa dulu istrinya persis seperti Hyo Na yang membuatnya bisa menangis karena hal-hal yang tak masuk akal dan Kyu Hyun entah mengapa—kadangnya—selalu bersyukur bisa merasakan emosi yang dinamakan tangisan.

‘Menangis memang tidak menyelesaikan apapun.Tapi, setiap manusia, tidak memandang gender, aku yakin mereka membutuhkan menangis agar perasaan mereka lebih baik.’

“Aku bersyukur memiliki duplikat Ibumu di sini,” ucap Kyu Hyun terdengar serak, air matanya sudah diusap tapi sepertinya masih tidak ingin berhenti juga suara Kyu Hyun masih terdengar menahan tangis, Hyo Na merasa bersalah. “Hyonnie, tidak bermaksud membuat Ayah menangis hanya… hanya saja…”

Kyu Hyun tersenyum sambil mengelus pipi Hyo Na, “Sudahlah. Ayah tidak marah padamu, Hyonnie. Ayah hanya merasa bahagia kau bisa menghibur Ayah dengan cara seperti ini sebelum memperingati hari kematian Ibu,” dan mengubah ruang makan terasa lebih hening.

Keduanya kembali menghadap ramyun dan Hyo Na menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan seruputan kuah terlihat berusaha mengubah suasa hening.

“Ini hanya perasaanku atau bukan. Tapi, ramyun Ayah jadi lebih enak,” candaannya keluar, suasana sukses mencair tetapi Kyu Hyun kembali diingatkan lagi dengan istrinya.

Yah, bukan salah Hyo Na hanya saja istri Kyu Hyun memang menurunkan segalanya pada Hyo Na karena istri Kyu Hyun adalah Ibu Hyo Na.

— Ways to Live Forever —

Tok.Tok.Tok.

Mi Na terlihat mengetuk pintu kayu di depannya, jika saja Mi Na tak menyukai lelaki yang ada di dalam ruangan ini mungkin sejak tadi dia tidak akan terus-terusan mengetuk pintunya.

Mi Na akan mulai mengetuk pintu lagi tetapi menghentikan kegiatannya karena diinterupsi Soo Ra, komentar pedas Soo Ra mengenai penampilan Mi Na keluar saat itu juga, “Apa aku tak salah datang? Ini kampus, kan?”

Mi Na memerah mendengar sindiran Soo Ra tanpa banyak kata Mi Na meninggalkan ruangan disertai hentakan kaki. Soo Ra mengernyit heran tapi dia senang bisa menegur Mi Na dengan cara yang menurutnya sangat baik dan bersyukur jika orang yang disindir bisa memahaminya.

Kepergian Mi Na membuat Soo Ra menjadi orang kedua sebagai si pengetuk pintu. Soo Ra kembali memastikan nama seorang dosen di dalam kertasnya lalu mengetuk pintunya lagi. Sebenarnya Soo Ra kurang yakin untuk menemui dosen pengganti hari ini, tapi dikarenakan tuntutan dosen lamanya, dia bergegas untuk menanyakan kesediaan dosen pembimbing baru.

Soo Ra memang tidak mengenal secara pribadi dosen yang dimaksud pada kertas yang dipegangnya, lagipula dosen tersebut bukan dosen yang selalu mengajar di kelasnya, jadi wajar Soo Ra tak mengenalnya.

Ah, kenapa pula dosen lamanya tidak bisa membimbingnya dan meminta pergantian di tengah tugas akhirnya yang hampir selesai? Bagaimana jika dosen pengganti tidak merasa puas dengan tugas akhirnya?

Hampir putus asa, Soo Ra mencoba menghubungi dosen bernama Cho Kyu Hyun yang ternyata sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Hal itu membuat Soo Ra menghela napas panjang, rasanya menyerah untuk menanyakan kesediaan dosen Cho untuk menjadi dosen pembimbing kedua. Soo Ra sepertinya harus meyakinkan dosen Kim jika hanya butuh satu dosen pembimbing saja dan atau digantikan dosen selain Cho Kyu Hyun itu sudah cukup untuknya, jadi Soo Ra segera menghubungi dosen Kim setelah mengirimikan pesan padanya.

Yeoboseo-yo, Kim sonsaengnim?” suaranya menggema di sambungan telepon begitu nada ‘tut’ hilang dan menggantikan suara dosen Kim.

Jang Mi membiarkan tubuhnya terayun, kakinya yang melayang dibiarkannya melayang bebas mengikuti hembusan angin. Hari ini Jang Mi tak bisa menemui Hyo Na karena alasan Hyo Na tidak hadir bertepatan dengan peringatan kematian sang Ibu.

“Haruskah aku mengiriminya pesan, Dong Hae-ya?” Tanya Jang Mi pada Dong Hae yang duduk tak jauh di dekatnya, lelaki bersurai brunette itu menghela napas panjang, “Jangan melakukan hal yang sia-sia, Jang Mi-ya!” katanya sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana.

Sebenarnya Dong Hae adalah orang yang paling khawatir saat ini, Hyo Na pasti merasa sedih atau bahkan tidak ada yang tahu dengan perasaannya di hari ini, terkecuali Kyu Hyun. Lagi, Dong Hae sudah menghubungi Hyo Na larut malam, tapi tak mendapatkan balasan dari Hyo Na.

“Apa… haruskah kita ke rumahnya?” Tanya Jang Mi agak ragu, tapi dia ingin sekali menemui Hyo Na. “Aku sedikit khawatir padanya. Kau tahu, kan? Hyonnie di saat seperti ini akan menjadi apa apa?” tambah Jang Mi lagi sambil meremas tangannya.

“Hyonnie hanya ingin sendiri hari ini, Jang Mi-ya,” ucap Dong Hae sambil menghela napas, dia tentu masih ingat kebiasaan apa yang sering ditunjukkan Hyo Na ketika hari ini selalu datang di tiap pergantian tahun.

“Tapi dia tak akan mungkin sendirian karena Cho ahjussi dan Kakek Neneknya selalu menemani Hyonnie,” tambah Dong Hae membuat Jang Mi menganggukan kepalanya, setengah membenarkan setengah lagi masih merasa khawatir.

Hanya deru mesin yang terdengar di antara Kyu Hyun dan Hyo Na, keduanya memilih berdiam daripada banyak bicara, hal-hal yang biasa mereka lakukan di mobil tak mereka lakukan hari ini. Kyu Hyun menghela napas panjang agar otot punggungnya tertarik dan menciptakan suatu kenyamanan seperti selesai melepaskan perasaan yang dia tahan sejak lama.

Kyu Hyun tak sengaja melihat jika sabuk pengaman Hyo Na tidak terpasang, Kyu Hyun tersenyum maklum karena kelakuan Hyo Na benar-benar tidak bisa drubah, “Pakai sabuk pengamanmu, Hyonnie!”

Hyo Na tersentak, ia lirik sabuk pengamannya dengan ogah-ogahan lalu memasangnya tanpa niat. Kyu Hyun melihatnya tersenyum dan menganggukan kepala sebagai pembenaran atas sikap Hyo Na karena sudah memasang sabuk pengamannya dengan benar.

Hampir dua jam yang lalu keduanya mengunjungi makam orang tercinta mereka, baik itu Hyo Na maupun Kyu Hyun hingga sekarang masih belum ada mengeluarkan suatu pembicaraan, entah karena kekalutan perasaan mereka atau suatu hal yang mengganjal dipikiran satu sama lain.

“Ayah?” panggil Hyo Na pelan, Kyu Hyun berdehem membalasnya. “Hm, salah tidak kalau aku bilang pada Ayah, jika aku merindukan Ibu?” katanya kemudian terdengar ragu, jeda di antara keduanya membuat Hyo Na berpikir jika kali ini sikapnya salah, tidak ada jawaban Kyu Hyun berarti sudah membuat kesalahan fatal.

“Ay…”

Kyu Hyun tersenyum kecil, “Aku juga merindukan Ibumu,” potong Kyu Hyun sambil menatap Hyo Na sekilas, Hyo Na terkejut karena tak menyangka jika Kyu Hyun akan menjawab semudah yang dibayangkan.

“Semua orang yang mengenal Ibumu pasti juga merindukannya. Ayah yakin, Ibumu pasti sedang merindukan kita juga.”

Hyo Na menganggukan kepalanya, ia menggenggam selebaran foto mendiang Ibunya yang baru saja didapatkan dari neneknya—Ibu dari Yoon Eun Ha, mertua Kyu Hyun—saat di pemakaman tadi. Kyu Hyun tak bisa menyembunyikan senyumannya ketika melihat betapa senang Hyo Na mendapatkan banyak foto Ibunya saat masih muda, “Hyonnie itu seperti Eun Ha saat sekolah dulu. Aku senang kau membawanya lagi, Kyu Hyun-ah.” Dan mengingat betapa bersyukur mertuanya saat melihat Hyo Na.

Hari ini adalah hari peringatan kepergian Yoon Eun Ha, ibu Hyo Na dan istri Kyu Hyun, anggota keluarga terdekat seperti; orang tua Kyu Hyun, kakak perempuan Kyu Hyun dan kedua orang tua Yoon Eun Ha hadir. Seperti biasa, para kakek-nenek sangat bahagia bisa melihat Hyo Na tumbuh dengan baik di bawah pengawasan Kyu Hyun yang penuh kasih sayang.

Setelah menolak ajakan orang tua Yoon Eun Ha dan orang tuanya untuk tinggal lebih lama, Kyu Hyun memilih langsung mengajak Hyo Na pulang. Kyu Hyun bilang ingin mengajak Hyo Na ke sebuah tempat yang dulu pernah disinggahi bersama dengan istrinya.

“Aku penasaran tempat seperti apa yang Ayah dan Ibu kunjungi?” kata Hyo Na penasaran.

Kyu Hyun di sampingnya tersenyum, “Tempat makan favorit Ibumu.” Hyo Na langsung menoleh ke arah Kyu Hyun dengan wajah antusias, “Benarkah? Wuah, berarti Ayah akan memberitahukan apa makanan favorit Ibu juga?” Kyu Hyun menjawab pertanyaan Hyo Na dengan anggukan kepala.

“Aku tidak menyangka Ayah akan membawaku ke tempat yang pernah disinggahi Ibu?”

Kyu Hyun tertawa kecil mendengarnya, ia tak begitu tahu kenapa harus tertawa mendengar perkataan Hyo Na, “Kau sama cantiknya dengan Ibumu, Hyonnie,” ucapnya sambil tersenyum memandang lampu merah, mobil mereka berhenti. “Kalian sama-sama cantik.” Katanya lagi, Hyo Na tak begitu paham maksud Kyu Hyun, tapi ia tersenyum mendengarnya.

— Ways to Live Forever —

Seorang pelayan perempuan menghampiri meja Soo Ra, mengantarkan pesanan lalu pergi meninggalkan mejanya sendirian. Sudah berulang kali Soo Ra menghela napas berharap jika sesuatu yang mengganjal pada dirinya—yang sialnya Soo Ra tidak ketahui apa itu—segera menghilang dari dirinya.

Soo Ra mungkin merasa lelah akibat tugas akhir, bisa juga karena faktor tidak tahu ingin melakukan apa di waktu senggangnya atau bisa jadi karena insiden yang terjadi di tempatnya bekerja kemarin. Sebenarnya tidak jelas apa yang membuat Soo Ra merasa ada yang mengganjal pada dirinya saat ini. Pusing memikirkan diri sendiri, Soo Ra memilih menghubungi Na Hyun untuk mengajak perempuan bersurai blonde itu bercerita.

“Yeobeoseo Soo Ra-ya?” sapa Na Hyun pada sambungan telepon membuyarkan lamunan Soo Ra yang menunggu panggilannya ditanggapi.

“Oh, kau sudah pulang, Hyunnie?” tanya Soo Ra membuka pembicaraan, “Oh, aku masih di kampus. Ada apa? Kau sudah pulang? Atau ada yang ingin kubelikan?” Na Hyun bertanya membuat Soo Ra menyempatkan diri untuk menyeruput minuman.

“Aku berhenti bekerja.”

Ada jeda panjang yang tercipta setelah kalimat yang tak terduga itu meluncur keluar dari bibir Soo Ra. Jeda panjang yang terasa aneh dan canggung, pikir Soo Ra. Karena tidak ada yang membuka pembicaraan, Soo Ra berdehem pelan memastikan jika Na Hyun masih ada di sambungan telepon.

“Kau masih di sana, Na Hyun?” tanyanya terdengar ragu ketika mendengar helaan napas panjang Na Hyun, pasti Na Hyun sedang menahan rasa kesal, pikir Soo Ra.

Mereka memang sering bertengkar, entah hal sepele atau hal serius, jika Na Hyun akan mencoba menggunakan rasionalnya saat bertengkar dengan Soo Ra alias tidak terlalu meluapkan kekesalanya maka Soo Ra sebaliknya. Namun, lucunya, dibandingkan dengan Na Hyun yang terlihat tidak meledak-ledak saat emosi, sisi baiknya adalah Soo Ra mampu meminta maaf lebih cepat pada Na Hyun karena sadar jika perkataannya banyak menyakiti Na Hyun saat mereka bertengkar.

Ya, persahabatan ‘kan tidak selalu berisi hal-hal baik saja?

“Kenapa berhenti?”

Soo Ra yang mendengar pertanyaan Na Hyun mendadak tak bisa menjawab, bukan karena Soo Ra tidak mempunyai alasan paling masuk akal yang akan dia katakan pada Na Hyun, bukan itu. Karena sebenarnya Soo Ra sudah salah rencana, Soo Ra berpikir mengatakan hal ini pada Na Hyun jika sudah sampai di flat, tapi kenyataannya Soo Ra mengatakannya via sambungan telepon. Benar-benar di luar rencana, pikir Soo Ra.

“Kau trauma, Soo Ra-ya?” tebak sekaligus tanya Na Hyun dengan nada khawatir, entah ke mana rasa kesal Na Hyun. Soo Ra berdehem sambil menganggukan kepala pelan yang tidak akan mungkin dilihat Na Hyun dan juga untuk perkataan Na Hyun adalah bukan benar-benar alasan Soo Ra, tapi tidak salah juga membenarkan perkataan Na Hyun sementara waktu, pikir Soo Ra.

“Hah, apa kubilang untuk menerima tawaranku bekerja di perusahaan Ayah? Kau keras kepala sekali tidak mengikuti saranku?” Na Hyun mulai menasehati, Soo Ra tidak fokus mendengarkan karena pada saat yang bersamaan lonceng di atas pintu berbunyi mengantarkan pelanggan baru.

Soo Ra entah kenapa hanya fokus melihat pelanggan baru memasuki café, lelaki bersurai ikal yang membukakan pintu dan mempersilahkan sosok perempuan muda memasuki café lebih dahulu. Gesture yang sangat gentleman, pikir Soo Ra tetapi kedua pelanggan itu bukanlah sepasang kekasih. Karena lelaki bersurai ikal adalah Ayah dan perempuan mudah berambut sebahu itu adalah anaknya, ikatan ayah-anak yang sangat menggemaskan.

Soo Ra tidak mengenal mereka secara dekat, nama saja tidak tahu tetapi berkat insiden café kemarin, Soo Ra mengenal wajah mereka. Lelaki bersurai kecokelatan itu membalas tatapan Soo Ra membuat seulas senyum ramah muncul di wajah Soo Ra sebagai sapaan dan lelaki bersurai ikal itu membalasnya.

“Soo Ra? Soo Ra-ya, kau mendengarku?” suara Na Hyun yang setengah berteriak menyentak.

Lagi, Soo Ra menganggukan kepala pelan padahal tak sedang berhadapan dengan Na Hyun, “Maaf. Aku tak mendengarmu tadi, Hyunnie,” balas Soo Ra tanpa pikir panjang membuat Na Hyun kesal.

“Oh, aigo, kau tidak mendengarku? Oke, dengarkan aku! Jadi, apa yang harus kulakukan padamu agar menerima permintaanku? Apa perlu aku meninggalkan impianku demi…”

Na Hyun sepertinya sengaja menularkan rasa kesal pada Soo Ra sehingga membuat perempuan berambut hitam tersebut mendengus keras, “Oh, Jang Na Hyun! Kau harus mengejar impianmu sendiri dan berhentilah menasehatiku seperti Ibu-Ibu!” suara kekehan Na Hyun terdengar, Soo Ra jadi ingin memukul kepala perempuan bermarga Jang itu dengan tangannya jika berdekata.

“Kau tahu? Kau itu bodoh Song Soo Ra. Sudah kubilang untuk melamar di salah satu perusahaan, kau tidak mau? Kau malah memilih café? Sebenarnya apa yang…”

“Kau lupa kalau misi kita hampir sama? Bukankah kita sama-sama ingin menjadi pesaing perusaahan keluarga kita sendiri, hm? Haruskah kuingatkan padamu berulang kali, Jang Na Hyun?” balas Soo Ra memotong perkataan Na Hyun yang lagi-lagi tertawa di sana.

“Tapi, tidak ada yang salah untuk sementara waktu menggunakan keahlian managemenmu pada perusahaan. Aku bingung, apa orangtuamu tidak khawatir anak perempuan mereka yang cantik ini menjadi pengantar makanan?” Na Hyun balas meledeknya membuat Soo Ra tertawa.

Suara tawa Soo Ra terdengar hingga ke tempat Kyu Hyun duduk. Kyu Hyun sebenarnya tidak mendengar secara keseluruhan isi pembicaraan Soo Ra tetapi dari apa yang ditangkapnya, Soo Ra sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Pasti perempuan itu merasa trauma, pikir Kyu Hyun.

“Jadi apa rencanamu sekarang, hm?” tanya Na Hyun langsung membuat Soo Ra yang sedang mengaduk setengah isi minumannya terlihat berpikir, “Ah, daripada kau bekerja lebih baik kau diam saja di rumah beberapa bulan ini, bagaimana, Soo Ra-ya?” saran Na Hyun membuat Soo Ra membenarkannya di dalam hati saja.

“Tapi aku tidak bisa diam saja. Ah, aku jadi menyesal tidak mengikuti apapun di kampus?!” keluh Soo Ra.

“Ck, itu ‘kan salahmu sendiri! Ah, sudahlah, Soo Ra-ya! Aku tutup dulu, aku harus mencari model untuk pakaianku! Bye!”

Soo Ra menutup sambungan telepon, ponselnya dibalik di atas meja. Isi minumannya hanya tinggal sekali seruput artinya dia harus segera pulang ke flat. Agar bisa menghindari Na Hyun yang pasti akan menceramahinya, mengingat hal itu Soo Ra bergidik ngeri.

— Ways to Live Forever —

Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Hal yang tidak membuat Hyo Na meninggalkan kelasnya. Walau Jang Mi sempat menemaninya lalu sepuluh menit yang lalu sudah pergi karena menghadiri klub memasak, kelas kembali sepi hanya berisi bangku dan meja yang menjadi teman Hyo Na.

Tapi, tidak benar-benar sepi. Dong Hae yang baru saja tiba di ambang pintu adalah orang kedua setelah Hyo Na, jersey yang dipakai menandakan jika Dong Hae sedang ada kegiatan klub basket. Ah, sekarang kelas tidaklah sepi.

Dong Hae tidak menyangka akan bertemu Hyo Na dan sepertinya perempuan berambut sebahu itu tidak menyadari kehadiran Dong Hae. Seakan teringat sesuatu, Dong Hae menghampiri Hyo Na membuat gerakannya yang tiba-tiba menjadi pengantar reflek kejut jantung, perempuan berambut sebahu itu menghela napas lega ketika tahu Dong Hae menjadi tersangka utama yang mengagetkannya.

“Kulihat Ayahmu sedang menunggu, Hyonnie? Tak biasanya menjemput, kau tidak pulang, hm?” tanya Dong Hae membuat Hyo Na menggelengkan kepalanya pelan, perasaan Hyo Na sedang tidak bagus ditambah kehadiran Dong Hae yang bersikap simpati membuat rasa kesal Hyo Na bertambah.

Kelas yang hanya berisi mereka berdua bukanlah sesuatu yang baik, Jang Mi tidak ada menjadi penengah untuk Dong Hae dan Hyo Na jika mereka bertengkar.

“Pulanglah! Kau tidak kasihan melihat Ayahmu yang menunggu, hm? Kau harus menghargai waktu luangnya yang menjemputmu, Hyonnie.”

“…” tidak ada jawaban dari Hyo Na.

Dong Hae pun berinisiatif, dirapihkannya buku milik Hyo Na dan dimasukannya ke dalam tas. Hyo Na yang melihat bertambah kesal, ditariknya tas yang dipegang Dong Hae dan dijatuhkannya semua isi dalam tas sehingga berserakan.

Ya, cara seperti ini akan membuat Dong Hae pergi meninggalkannya, pikir Hyo Na.

Namun, semua pikiran Hyo Na tentang Dong Hae seakan menyerang balik. Dong Hae dengan sabar memungut isi tas Hyo Na yang berceceran, dirapihkannya kembali. Hyo Na melihat ada satu buku yang cukup dekat dengan kakinya, tangan Dong Hae yang berniat mengambil buku tersebut jadi berhenti ketika buku itu ditendang Hyo Na menjauh.

“Berhenti kubilang! Aku bisa melakukannya sendiri, kau tahu?” Hyo Na mengucapkannya dingin, Dong Hae hanya menghela napas sambil mengambil buku yang ditendang Hyo Na untuk dimasukan ke dalam tas.

Dong Hae sama sekali tidak mendengarkan perkataan Hyo Na, diberikannya tas Hyo Na yang sudah rapih, “Temui Ayahmu!” katanya memerintah membuat Hyo Na membeku di tempat.

Harusnya Dong Hae pergi meninggalkannya, harusnya Dong Hae kesal padanya, harusnya Dong Hae tak boleh berbuat seperti ini dan harusnya Dong Hae tidak muncul di saat yang seperti ini juga karena semua hanya memperburuk keadaan. Ah, Hyo Na sudah berlaku keterlaluan pada Dong Hae, kesalkah Hyo Na pada dirinya?

Iya!

“Hyonnie?” panggil Dong Hae memegang sebelah bahu Hyo Na membuat perempuan itu berjengkit dan menatap Dong Hae dengan pandangan berembun.

Hyo Na menarik tas di pegangan Dong Hae dengan kasar, “Harusnya kau tidak membantu atau mengingatkanku!” anggaplah kalimat itu adalah ucapan perpisahan. Hyo Na berlari meninggalkan kelas sekaligus menutupi air matanya yang sudah turun membasahi pipi.

Pintu mobil terbuka kasar membuat Kyu Hyun terkejut dan merasa lega secara bersamaan melihat Hyo Na sebagai pelakunya. Kyu Hyun melirik sekilas wajah Hyo Na yang tidak berubah, terlihat masam dan sudah seperti itu selama dua hari. Ah, tidak masam sepanjang waktu karena Kyu Hyun sesekali mampu melihat senyum atau mendengar tawa Hyo Na, jadi Hyo Na dikategorikan gagal protes dengan wajah dan sikap kesalnya.

Kyu Hyun sempat merasa bersalah tetapi dia juga harus mulai bersikap tegas pada pewaris tunggal marga Cho di keluarganya. Kyu Hyun melakukan hal ini agar sikap manja Hyo Na tidak menjadi berkepanjangan dan mulai menimbulkan masalah di kehidupan sosialnya. Kyu Hyun tak ingin Hyo Na tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, jadi Kyu Hyun bertekad untuk menghilangkan rasa bersalahnya demi kebaikan Hyo Na.

Suasana diam antara Kyu Hyun dan Hyo Na membuat perjalan terasa lebih cepat. Tak jauh dari gerbang rumah, Kyu Hyun melihat seorang perempuan berambut hitam yang sepertinya baru saja tiba di kediaman Cho, Kyu Hyun tersenyum menyadari perempuan itu tidak datang terlalu cepat atau terlalu lama.

Ketika mobil mereka berhenti di tempat parkir, Hyo Na keluar tanpa mengatakan apapun membuat Kyu Hyun menghela napas panjang, “Hah, kenapa bisa dia bersikap seperti itu pada Ayahnya?” keluhnya.

Kyu Hyun lalu mendekati sosok perempuan yang akan menjadi tutor Hyo Na untuk mengingatkan sesuatu pada perempuan itu, “Seperti yang pernah kukatakan padamu, kau tidak perlu menganggapku sebagai dosenmu karena kita tak pernah bertemu di kelas dan jangan sekali-kali mengatakan kalau kau adalah mahasiswi di kampus tempatku mengajar pada Hyonnie.”

Perempuan itu menganggukan kepala pelan walau sebenarnya belum mengerti maksud perkataan Kyu Hyun tetapi dicobanya mengikuti saran Kyu Hyun. Perempuan itu masuk ke kediaman Cho dan ketika melihat Hyo Na sudah duduk di ruang tamu dengan wajah yang masih kesal, Kyu Hyun berdehem meminta perhatian.

Kyu Hyun baru akan mengenalkan perempuan yang menjadi tutor Hyo Na tetapi Hyo Na mendadak berkata, “Bukankah eonni ini yang kita temui di café, Ayah?”

Kyu Hyun sepertinya tidak perlu menjelaskan lagi karena dia langsung saja memperkenalkan perempuan itu pada Hyo Na, “Song Soo Ra namanya, Hyonnie. Ayah menjadikan eonni ini sebagai tutormu mulai sekarang!”

 

 

[tbc]

 

 

Rien Note :

Annyeong!!! Rien is back~!! Yuhuu~ masih pada setia menunggu bertambahnya chapter ini? :3

Rien harap kalian masih menunggu, ya~ >.<

Ah, iya, sebelumnya terimakasih banyak untuk komen di chapter kemarin walau Rien engga bisa bales, tapi Rien baca kok~! ^^

Chapter 2 kali ini mungkin kelihatannya seperti campuran chapter kemarin ya?

Jadi begini… Rien melakukan edit cerita sehingga beberapa bagian yang Rien hilangkan dan gantikan menjadi tercampur antara chapter 1 dan 2. Kalau kalian ingin melihat chapter 1 yang lebih rapih, kalian bisa cek di blog Rien di http://rienhara.blogspot.com/ atau buat kalian yang punya wattpad bisa cek di @riennhara_ ^^

Selebihnya isi cerita masih sama kok ^^ jadi jangan khawatir jika semua isi cerita bakal diubah~ justru dilakukannya editing agar tulisan lebih rapih dan lebih bisa dipahami karena gaya tulisan Rien sangat memberatkan T.T, huhuhu~

So, akhir kata~ terimakasih telah membaca chapter 2 dan menunggu chapter 3, hihihi~ ^^

Jangan segan meninggalkan jejak dan sebar cerita ini, yaaa~ ^^

5 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Sep 21, 2017 @ 04:01:54

    jadi tutor dulu,,,, baru jadi omma,,,
    lanjut

    Reply

  2. Ifah
    Sep 21, 2017 @ 17:53:35

    Ada beberapa bagian yg aku agak bingung sama alur ceritanya

    Reply

  3. unknown
    Sep 22, 2017 @ 16:31:04

    itu calon eommamu, Hyona XD neeexxttt

    Reply

  4. amel chomb
    Sep 23, 2017 @ 20:54:17

    Lm tak tunggu muncul jg akirnya, wah nti bs jd psangan nya kyuhyun itu ya tutor anak nya, cerita. Ringan saya suka

    Reply

  5. elfishyvil
    Jun 18, 2018 @ 22:00:31

    Penasaran…
    Tapi sedikit membingungkan dgn penggunaan bahasa dan alur ceritanya…
    Thor..
    Alur ceritanya lebih rapi lagi ya..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: