Mate of The Soul

Mate of the Soul

Author : Fay

Casts :    Cho Kyuhyun | Hwan Minha (OC) | Kim Jong Woon | Kim Yara (OC)

Length : One Shot

Genre : Romance? Revenge? Find it!

***

 

Kau harus kuat, meski dia tak ada lagi di sampingmu

Hwan Minha’s POV

Percayakah kau jika tiba-tiba seseorang datang menghampirimu dan berkata bahwa dirinya adalah soulmate-mu? Ya, soulmate-mu. Belahan jiwamu. Orang yang notabene harus kau cari di sepanjang hidupmu, tiba-tiba datang dengan sendirinya. Datang tanpa janji, tanpa pemberitahuan,juga tanpa firasat apapun. Aku tahu seperti apa rasanya karena mengalaminya setahun yang lalu. Dan aku percaya. Orang itu Cho Kyuhyun. Namja yang sangat tampan juga bertampang malaikat. Tapi, jangan tertipu dengan wajahnya. Wajahnya bisa berubah menjadi setan jika hal yang diinginkannya tidak dipenuhi. Seperti anak kecil? Aku tahu. Namun aku sangat menyukainya. Menyukai suaranya, wajahnya, juga dirinya. Aku mencintainya.

Author’s POV

Seorang namja dan yeoja itu terlihat sangat nyaman satu sama lain. Tatapan matanya, gerak tubuhnya, semuanya menunjukkan bahwa mereka tahu mereka takkan bisa hidup tanpa satu sama lain. Mereka berjalan ke arah Taman Bermain Everland. Hari itu ramai sekali, dan dengan keadaan mereka yang seperti itu tentu saja mereka tidak tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi.

Cho Kyuhyun’s POV

Cho Kyuhyun imnida. Aku ini namja paling tampan di seluruh Korea. Bahkan Choi Siwon sekalipun akan kalah tampan jika dibandingkan denganku, hahaha. Aku hanya bercanda, namun sejujurnya itu fakta yang tak dapat dielakkan. Sebab, jika aku berjalan saja yeoja-yeoja yang melihatku akan langsung terbengong-bengong melihatku. Hahaha, oke aku hanya bercanda lagi. Lagipula aku tak peduli pada apapun di dunia ini termasuk pada yeoja-yeoja yang tergila-gila padaku itu, kecuali pada seorang yeoja di sebelahku ini.

Namanya Hwan Minha. Dia soulmate-ku. Kau tahu kenapa aku bilang begitu? Karena setiap hari selama seminggu sebelum bertemu dengannya aku bermimpi. Mimpi yang sama. Juga pada malam sebelum aku bertemu dengannya, aku bermimpi lagi. Aku bermimpi bertemu dengannya di sebuah kafe. Dia sedang membaca buku di pojokan kafe dekat jendela. Saat itu hujan, dan beberapa helai rambutnya jatuh tergerai. Aku melihatnya dari luar jendela, perpaduan antara air hujan yang membasahi jendela dan dirinya merupakan perpaduan yang begitu cantik dan mempesona. Perpaduan yang mampu membuatku secara tak sadar menghampirinya masuk ke dalam kafe.

Annyeong. Joneun Cho Kyuhyun imnida.” Kataku memperkenalkan diri sambil tersenyum. Gadis itu mengangkat kepala dari bukunya sebentar kemudian mengangguk.

Mianhaeyo, apa ada yang bisa kubantu?” tanyanya ramah.

Ani, ng sebenarnya aku…ng” aku bingung harus berkata apa! Aku gugup sekali! Tiba-tiba entah aku mendapat ilham dari mana, aku menjawabnya tanpa ragu “Aku soulmate-mu! Belahan jiwamu!”.

Keningnya berkerut melihatku. Kemudian dia meraba dahiku dan berkata, “Aneh, tidak panas. Kau kenapa? Apa kau sakit? Tapi dahimu tidak panas. Apa yang barusan kau katakan?” tanyanya heran.

Deg!

Tangannya meraba dahiku! Aku merasakan jantungku hampir meledak saat itu juga. “Aku serius. Aku ini belahan jiwamu. Siapa namamu?” tanyaku.

Dia hanya menggeleng perlahan “Kau aneh tuan. Kau mengaku belahan jiwaku, tapi bahkan namaku saja kau tak tahu? Mungkin kau harus diperiksa ke dokter. Dan oh ya, namaku…”

Brak!

Aku terbangun karena suara itu. Selalu seperti itu. Dan ketika aku pergi pada hari ketujuh setelah mimpi itu berakhir, aku mengalami de ja vu. Semuanya sama. Semua! Bahkan keadaan dan suasananya benar-benar sama. J

adi kuputuskan untuk mengikuti alur mimpiku, aku mengatakan semua yang aku katakan dalam mimpiku dan dia pun begitu. Seakan mengalir normal apa adanya. Suara yang selalu membangunkanku itu rupanya mungkin hanya suara yang digunakan Tuhan untuk membangunkanku dari tidur. Karena saat aku benar benar mengalaminya, tak ada suara apapun. Yang ada hanya suara rintik hujan dan percakapan kami yang terus mengalir. Kali ini, aku mengetahui namanya. Hwan Minha. Satu hal lagi yang aku tahu tentangnya, aku sangat mencintainya entah bagaimana caranya.

Hwan Minha’s POV

Satu  tahun sudah berlalu. Aku semakin akrab dengannya. Bahkan mengetahui semua sifat-sifatnya. Tapi, aku tetap menyimpan perasaanku hingga hari ini. Tak pantas rasanya jika aku mengatakan cinta lebih dulu padanya. Biarlah juga jika perasaan ini hanya perasaanku saja, yang paling penting adalah dia tetap ada di sampingku sampai kapanpun.

“Kyu, kita main bianglala dulu ya.” pintaku pada Kyuhyun.

“Ani, mana boleh kita datang langsung bermain bianglala? Itu permainan anak kecil Minha-ya. Kita harus coba yang ekstrim dulu, kau bilang kau stres dengan ulangan matematikamu? Kajja!” ajaknya sambil mengeluarkan senyum evilnya kemudian menggamit tanganku.

“Yah Kyu, tapi kan…” aku hanya bisa cemberut saat melihatnya mengajakku ke wahana roller coaster. Tapi baiklah, aku akan menuruti kata-katanya.

“Ya! Kenapa kau cemberut begitu? Kau takut ya? Hahaha, tenang saja ada aku disampingmu.” ejeknya sambil mengacak rambutku lembut.

Aniya! Aku tidak takut kok! Kubuktikan nanti!” kataku menantang. Well, aku tidak pernah suka Everland. Aku terlalu penakut untuk menaiki semua wahana ekstrim ini. Aku takut ketinggian, tapi aku menyukai bianglala. Aneh bukan? Wajar saja, sebab appa dulu sering sekali mengajakku kesini. Aku kangen appa. Appa tak pernah muncul lagi sejak Minho Oppa menghilang 2 tahun yang lalu. Eomma bilang, appa mencarinya. Namun dia tak kunjung kembali. Ah, mengingat appa selalu membuatku ingin menangis.

“Minha-ya? Gwaenchana? Kau menangis ya? Kalau kau benar-benar tak mau menaikinya, ayo kita cari wahana lain saja.” Kata Kyuhyun.

Nan gwaenchana Kyu. Aku hanya ingat appa setiap datang kesini.” Jawabku. “Sudahlah, ayo kita naik!” ajakku.

Hari itu, aku bersenang senang seharian bersama Kyuhyun. Ah, tidak terasa. Malam sudah tiba. Everland tutup jam 8. Dan di 10 menit terakhir selalu ada kembang api yang menyala indah sekali. Aku ingin naik bianglala sebagai wahana terakhir. Kyuhyun menurutiku dan ikut naik ke wahana tersebut. Jam 8 kurang 10. Waktunya kembang api menyala. Namun tiba-tiba semua lampu mati dan bianglala yang kutumpangi berhenti di tempat paling atas. Aku panik dan reflek memegang tangan Kyuhyun.

“Kyu, eottohke? Listriknya mati!” kataku hampir menangis.

“Tenanglah, bukankah ini wahana favoritmu? Kau sekarang berada di tempat paling atas. Nikmatilah.” Katanya tenang.

“Tapi Kyu, kalau listriknya tidak menyala bagaimana?” tanyaku panik.

“Sabar dan tenanglah Minha. Aku ada disini. Aku tak akan kemana-mana. Tak perlu khawatir.” Katanya pelan sambil beranjak perlahan untuk memelukku. Tubuhku menegang. Namja ini seperti mengaliri tubuhku dengan 1000 volt listrik! Namun, aneh…rasanya sangat hangat…dan nyaman. Entah kenapa aku sekarang bisa tenang hanya dengan berada di pelukannya. Aku merasakan dia membelai kepalaku dengan lembut. Tangan itu, pasti nantinya akan sangat kurindukan.

Tiba-tiba terdengar suara letupan kembang api di arah barat yang sangat kencang. Sontak aku menoleh untuk melihatnya. Dan, coba tebak apa yang kulihat! Aku melihat kembang api itu menuliskan namaku di langit! Dan di letupan yang kedua, muncul tulisan “Saranghaeyo” dengan warna biru. Warna favoritku. Aku terperangah beberapa detik sampai kemudian muncul lampu lampu neon di bawah sana yang bertuliskan “Saranghaeyo, Hwan Minha! CKH” aku menoleh menghadap Kyuhyun. Mataku tak kuasa menahan haru. “Kyu, apa ini semua perbuatanmu?” tanyaku padanya. Dia mengangguk.

“Kau suka?” tanyanya.

“Jadi, semua ini kau yang mengaturnya?” kataku dan merasa air mataku mulai turun ke pipi.

“Tentu saja. Mianhae, aku membuatmu panik. Uljima, Minha-ya. Nan saranghaeyo.”katanya sambil mengusap air mataku kemudian memelukku erat.

Cho Kyuhyun’s POV

“Tentu saja. Mianhae, aku membuatmu panik. Uljima, Minha-ya. Nan saranghaeyo.”kataku sambil mengusap air matanya kemudian memeluknya erat. Sangat erat. Seakan aku takut kehilangannya jika dia tidak mencintaiku juga. “Nado.” katanya lirih. Aku lega bukan main mendengarnya. Yeoja yang aku cintai, juga mencintaiku. Aku membiarkannya menangis di pelukanku. Rasanya nyaman sekali seperti ini. Rasanya aku tak akan bisa hidup jika tanpa dia. Listrik kembali menyala dan kami pulang dengan perasaan baru yang berbunga-bunga. Seakan semuanya akan terus baik-baik saja jika aku bersamanya.

Author’s POV

Cho Kyuhyun dan Hwan Minha berjalan pelan sambil berangkulan. Tak juga sadar jika mereka diikuti oleh seseorang. Orang itu masih setia mengikuti sepasang kekasih itu. Mata yang tajam bak elang itu menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun. Jenis tatapan yang sama yang digunakannya pada semua orang. Jaket dan topi hitamnya setia menemani setiap pengintaiannya. Penyamaran yang sempurna. Matanya memicing melihat mereka jalan berdua. “Cih, enak sekali mereka berjalan seperti itu. Tanpa beban. Wait your death, nappeun namja.” Katanya mendengus dan segera berlalu.

#####

Author’s POV

Laki-laki itu berlutut di hadapan sebuah makam yang terlihat sangat terawat. Makam yang sangat familiar baginya. Makam yang diapit oleh makam ayah dan ibunya. Makam adik perempuannya. Adik perempuannya meninggal 1 tahun yang lalu. Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam. Namun sesaat kemudian berganti menjadi wajah yang penuh dengan amarah dan matanya berkilat-kilat karena amarahnya. Tiba-tiba, dia meninju tanah di hadapannya dan berteriak “Sial! Sial kau Cho Kyuhyun! Kalau bukan karena kau, adikku pasti masih ada disini! Kim Yara pasti masih ada disini! Di sampingku! Tapi sekarang apa? Adikku malah meninggal dan aku sendirian disini! Lihat saja nanti Tuan Cho!” katanya mulai sesenggukan, tak bisa lagi menahan tangis yang sedari tadi ditahannya.

Kim Jong Woon’s POV

Ya, gara-gara namja babo satu itu adikku meninggal. Kim Yara. Dulu, Yara adalah pacar namja itu. Yara terlihat sangat bahagia bersamanya. Sebagai oppa, aku hanya bisa ikut bahagia melihatnya bahagia. Tentu saja, aku harus mengalahkan egoku untuk menghajar namja itu. Sebab, dia seperti anak kecil! Kerjaannya hanya main PSP sepanjang hari. Namun jika ngambek, Yara akan dibuat susah olehnya. Dia bisa ngambek berhari-hari dan mendiamkan Yara. Aku tidak tega melihat Yara murung seperti itu. Biasanya, Yara akan kuajak jalan-jalan atau aku akan menungguinya hingga dia tertidur sambil menyanyikan sebuah lagu di sampingnya. Hubunganku dengan Yara termasuk dekat, sangat dekat malah. Kami sering berbagi cerita bersama. Aku sangat mengenal Yara, karena Yara selalu menceritakan semuanya padaku. Termasuk tentang namjachingu sialannya itu. Aku ingat hari itu. Hari ketika Kyuhyun memutuskan hubungannya dengan Yara. Waktu itu, aku sedang menonton film ketika Yara tiba-tiba memanggilku. “Oppa,” katanya pelan.

Waeyo Yara-ya? Kau ada masalah? Sini duduk di sebelah oppa.” Kataku sambil menepuk sofa di sebelahku.

Dia pun menurut dan mulai diam menunduk. Lama, dia hanya diam dan duduk dengan posisi itu. Aku yang melihatnya heran dan segera angkat bicara “Yara-ya? Waeyo? Kau ada masalah? Ceritakanlah pada oppamu ini, siapa tahu aku bisa membantu.” Kataku sambil mengelus kepalanya pelan sekadar untuk menenangkannya.

“Ak…aku…aku…bertengkar dengan Kyuhyun, oppa. Kami bertengkar hebat tadi siang. Lalu, dia memutuskanku begitu saja. Dia bilang…dia bilang…dia mencintai yeoja lain. Katanya, lebih baik aku mencari namja lain saja.” Tangisnya pecah dan air matanya mulai menetes. Aigo, aku paling tidak tahan melihatnya menangis.

“Mwo? Dia bilang begitu padamu? Biar kuhajar dia besok! Cup, cup, cup, sudah ya yeodongsaengku ini gaboleh nangis lagi. Masih banyak namja lain yang lebih baik darinya, aku yakin kau akan mampu mendapatkannya.” Kataku sambil menariknya kedalam pelukanku dan mengusap-usap lembut bahunya, berharap hal itu akan sedikit meringankan bebannya.

“Tapi oppa, aku sayang sekali padanya. Kenapa dia seperti itu oppa?” katanya lirih dalam pelukanku, namun aku masih dapat mendengar suaranya dan merasakan kaosku basah oleh air matanya.

“Yara, dengar oppa. Mungkin kau memang masih sayang padanya, tapi perasaan itu tidak bisa dipaksa Yara-ya. Kau harus tahu itu. Perasaanmu dan perasaannya berbeda, sebab kalian adalah 2 orang yang berbeda. Jadi, jika dia memang mencintai yeoja lain, cobalah untuk mengikhlaskannya. Kau tak mau bukan bila pacaran dengan seseorang yang sebenarnya sudah tidak mencintaimu lagi? Itu berarti kau ditipu olehnya. Baguslah jika dia sadar dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya denganmu. Kau harus kuat, meski dia tak ada lagi di sampingmu.” Kataku memberi nasihat.

Yara hanya diam mendengar kata-kataku dan perlahan melepas pelukanku padanya. “Aku harap aku bisa oppa, aku ke kamar dulu ya.” Katanya tersenyum lemah dengan mata sembab dan segera berlari menuju kamarnya. Aku hanya bisa menatapnya nanar. Ingin rasanya menyusulnya, namun hatiku menahannya. Hatiku bilang, Yara pasti butuh waktu sendiri. Akhirnya, aku membiarkannya selama beberapa jam. Ketika tiba waktunya makan malam, aku memutuskan untuk melihatnya keadaannya di kamar. Ya Tuhan, keadaannya sangat menyedihkan.

Dia hanya terduduk diam di kasurnya, menatap hampa ke depan. Mukanya pucat dan matanya sembab sekali karena pasti menangis sejak beberapa jam yang lalu. Aku mencoba memanggilnya lirih, “Yara? Jaljinaesseoyo?” kataku khawatir. Selama beberapa detik, tak ada respon sama sekali darinya. Aku menyentuh bahunya perlahan untuk menyadarkannya. Dia sedikit tersentak melihatku ada di sampingnya.

Ne? Mwo haneun goya oppa? Mian, aku tidak mendengarnya tadi.” Katanya sambil tersenyum. Senyum sedih yang aku tahu sangat dipaksakan. “Aku bilang, kamu baik-baik saja? Ayo makan dulu, mukamu pucat. Nanti kamu sakit.”kataku mengajaknya.

Dia menggeleng,”Oppa saja. Aku tidak lapar. Aku mau tidur saja.”katanya kemudian merebahkan diri ke tempat tidur membelakangiku. Aku menghela napas, memutuskan untuk menemaninya sampai tertidur. Aku membelai rambutnya sambil lirih bernyanyi Andante milik Super Junior.

Jami wa jami wa
I jiteun nunmul kkeute kkeuchi wa
Nae bang changmun bakk gwansim bakk deung dollin
Chaero myeochilbami ga ne gieogi
Cheoeum biga naerin nalbuteo
Jeojeun majimakkkaji

Nyanyianku bahkan belum selesai ketika kulihat bahu Yara turun naik. Aku tahu dia mencoba menahan tangisnya mendengar nyanyianku. Liriknya. Ah ya, mungkin aku salah menyanyikan lagu ini untuknya. “Yara-ya? Oppa tau kau belum tidur. Mianhae, jika oppa salah menyanyikan lagu. Tapi jika kau ingin menangis lagi, menangislah. Oppa tidak akan melarangmu. Tapi hanya untuk hari ini. Besok, kau harus belajar menerima segalanya. Arra?”kataku padanya. Kulihat ia mengangguk sekilas kemudian bahunya berguncang lebih keras, sesenggukan. Aku kembali mengusap bahunya, mencoba menenangkan.

Tiba-tiba, napasnya memburu tak beraturan. Asmanya sepertinya kambuh. “Yara!” kataku panik sambil membuka laci tempatnya biasa menyimpan obat. Kosong. Obatnya habis? Kenapa dia tak bilang padaku? Aku bergegas membawanya ke rumah sakit. Asmanya akut dan aku takut dia kenapa-napa. Dia tersengal hebat selama di perjalanan. Aku menyetir seperti orang kesetanan.

Yara langsung masuk UGD begitu tiba di rumah sakit. Aku takut. Sangat sangat takut. Takut kehilangan Yara. Tuhan, aku mohon jangan ambil Yara dariku. Hanya dia yang aku punya saat ini, doaku dalam hati. Ketika dokter keluar, beliau bilang asma Yara makin parah karena beban pikirannya. Ditambah pembuluh di jantung Yara ada yang tersumbat, sehingga oksigen juga susah mengalir di tubuhnya. Yara kritis dan tidak yakin Yara dapat diselamatkan. Yara masih siuman dan sudah sedikit tenang karena diberi oksigen tambahan. Yara ingin bertemu denganku katanya. Aku bergegas masuk dan menemukan Yara terbaring lemah di dalamnya. Ah, yeodongsaengku tersayang, kenapa kamu selemah ini? Jangan bilang ini semua gara-gara Kyuhyun babo itu!

Aku menghampirinya dan menggenggam tangannya, memberi tanda bahwa aku ada di sampingnya. Perlahan, Yara membuka mata dan menatapku. Bibirnya bergerak-gerak berusaha mengucapkan sesuatu. Aku mendekatkan kepalaku padanya, agar bisa mendengar suaranya lebih jelas. “Oppa, saranghaeyo. Mianhae, sepertinya aku harus meninggalkanmu lebih dulu. Waktuku tidak banyak oppa, aku harus menyusul appa dan eomma.” Katanya lirih. Aku mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna perkataannya.

Dia melanjutkan,”Oppa, bisakah kau sampaikan pada Kyuhyun bahwa aku sangat mencintainya? Aku merelakannya jika dia bahagia bersama wanita lain, walaupun harus aku yang tersakiti seperti ini.” Air mata sepertinya sudah menggenangi mataku. Bolehkah aku dendam pada namja satu itu? Namja yang sudah menyakiti adikku sampai begini? Bolehkah aku marah padanya Yara-ya? Aku mengepalkan tangan kananku berusaha menahan emosiku.

“Nah, sudah saatnya aku pergi oppa. Mianhae oppa, jeongmal mianhae karena harus meninggalkanmu sendirian.” Katanya tersenyum sambil perlahan menutup matanya. Aku tau aku tak boleh menangis, tapi kali ini aku sudah tak kuat menahannya. Air mataku runtuh juga. Yara. Orang terakhir yang kupunyai di dunia ini akhirnya pergi juga. Aku berkali-kali meninju tembok kuat-kuat sampai tanganku memerah dan bengkak. Tapi masih belum puas rasanya. Sepertinya aku harus benar-benar bertemu muka dengan namjanya.

Aku menerawang mengingat kejadian itu. Aku ingin sekali membunuhnya. Membunuh Cho Kyuhyun. Terlebih setelah kemarin melihatnya bermesraan dengan seorang yeoja lain di Everland. Darahku mendidih. Apa karena yeoja itu ia meninggalkan adikku? Pikiranku berkeliaran mencari cara untuk membalas perbuatannya pada adikku. Cara yang lebih sakit tentunya. Haruskah aku merebut yeojanya?

#####

Hwan Minha’s POV

Malam yang kelam. Sepertinya akan turun hujan, sebab kilat dan petir datang silih berganti. Perasaanku tak tenang, entah mengapa. Aku bergerak-gerak gelisah dibalik pintu kamarku. Ada apa denganku? Hubunganku dengan Kyuhyun berjalan baik-baik saja. Tapi, apa perasaan tak enak ini ada hubungannya dengannya? Ah, aku harap dia baik baik saja.

Aku bergegas turun ke bawah untuk mengunci pintu saat hujan mulai turun dan mendadak kudengar suara seseorang mengetuk pintu. Aku sedang sendirian di rumah karena eomma sedang pergi ke luar kota, jadi jujur saja aku agak takut untuk menerima tamu di rumah sendirian apalagi pada malam hari.

Ragu-ragu, kubuka pintu rumah. Kulihat seorang namja berdiri menunduk di depanku dengan pakaian serba hitam dan basah kuyup disiram hujan. Aku langsung bergidik sedikit begitu ia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Matanya…mata hitam yang tajam dan dalam seakan siap menelanku sekali tatap. Aku seperti terhipnotis pada matanya sehingga tak sadar air hujan yang terbawa angin mulai membasahi pakaianku, sampai akhirnya ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh lenganku.

Annyeong. Maaf bertamu malam-malam. Apa benar ini rumahnya Hwan Minha Agasshi?”tanyanya. “Y…ya benar. Ini rumahku. Aku Hwan Minha” jawabku tergeragap. “Ah, jadi kau orangnya.”katanya tersenyum. “Boleh aku masuk? Pakaianku basah semua.”tanyanya lagi. “Ah ya, tentu saja. Silakan masuk.”kataku sambil menyingkir dari pintu untuk membiarkannya lewat.

Aku segera menutup pintu dan segera mengambil handuk. Kemudian aku menghampiri namja itu,”Ini handuknya. Cepat keringkan badanmu tuan, kau bisa masuk angin.”kataku.

“Ah, gomawo. Jeongmal gowawo Minha-ssi. Kau baik sekali. Pantas saja namja babo itu tampaknya begitu mencintaimu.”katanya tersenyum sambil mengambil handuk dari tanganku. Kuperhatikan raut wajahnya diam-diam saat dia sedang mengelap seluruh badannya. Senyumnya membius, sungguh. Siapa dia? Aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya, pikirku. “Ah ya, kau pasti heran dengan kedatanganku malam ini, namaku Kim Jong Woon. Maaf jika aku mengganggumu. Aku ingin membicarakan suatu hal padamu.”katanya tiba-tiba.

Kim Joong Woon’s POV

Aku tahu Minha memperhatikanku sejak aku masuk ke rumahnya tadi. Aku tahu dia pasti heran dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah menemukan cara untuk membalaskan dendamku pada Kyuhyun babo itu. Aku harus segera melakukannya. Dan satu-satunya cara adalah melalui yeoja ini. Minha.

Hwan Minha’s POV

Apa tadi katanya? Memutuskan hubunganku dengan Kyuhyun untuk sementara? Dan semua itu harus kulakukan demi dia? Dia pasti sudah gila! Mukaku pasti sudah merah padam menahan marah mendengar kata-katanya. “Minha-ssi, aku tahu itu pasti berat untukmu.”katanya melihat ekspresiku.

“Aku tahu mungkin aku keterlaluan, tapi aku hanya ingin memberinya pelajaran. Sungguh. Aku hanya ingin dia tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh seseorang yang amat dia cintai.”kata Jong Woon, gurat wajahnya terlihat lelah dan mmm sedikit menyesal? Mungkin. Aku agak melunak melihat ekspresinya.

“Mmm, maaf, kalau aku boleh tahu, kenapa kau berniat melakukan itu pada Kyuhyun?”tanyaku perlahan, takut menyinggung perasaannya. Mendengar hal itu, raut wajahnya menegang dan kulihat rahangnya mengeras, pertanda ia sedang menahan amarah. Beberapa saat kemudian, ia menarik napas perlahan sambil memejamkan mata. Kemudian, mengalirlah cerita tentang Kim Yara, adik perempuannya, yang rupanya juga mantan pacar Kyuhyun.

Aku mendengarkan dengan seksama dan mendapati diriku terkejut mendengar cerita yang keluar dari mulutnya. Sejahat itukah Kyuhyun? Dan…mendengar ceritanya…jangan-jangan yang dia maksud dengan yeoja lain itu…aku? Ya Tuhan, ampuni aku jika memang yeoja yang dicintai Kyuhyun hingga meninggalkan Yara itu benar-benar aku. Aku tak akan membiarkannya mendekatiku jika aku tahu ada seseorang yang begitu membutuhkannya seperti Yara.

“Jong Woon-ssi, aku sangat mencintai Kyuhyun dan rasanya tak mungkin untuk meninggalkannya. Tapi setelah mendengar ceritamu, aku juga merasa berdosa kepada Yara karena telah merebut namjachingunya, jika bisa dibilang aku merebutnya. Jeongmal mianhae, Jong Woon-ssi.”kataku setelah ceritanya selesai. “Ani, gwaenchanayo Minha-ssi. Jadi, maukah kau membantuku? Dan oh ya, mulai sekarang tolong jangan menggunakan bahasa formal padaku, panggil saja aku Jong Woon Oppa, arra?”tanyanya sambil tersenyum.

Senyum itu lagi. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman dengan senyumnya. Seperti ada sesuatu yang terbang dalam perutku. Rasanya menggelitik. Sepertinya, seseorang dalam masa laluku pernah tersenyum seperti itu. Dan aku merindukannya. Ah ya, mungkin senyum milik Minho Oppa juga memiliki efek yang sama dengan senyumnya. Entahlah, aku tak ingat. Sudah lama sekali sejak aku bertemu dengannya.

Kim Jong Woon’s POV

Menceritakan kembali tentang Yara membuatku teringat kembali akan kejadian itu. Tapi, yasudahlah. Toh, waktu yang sudah berlalu tak akan pernah kembali lagi. aku merasa lega setelah menceritakan semuanya pada Minha. Rasa-rasanya, seperti aku memiliki adik lagi selain Yara, sekadar untuk berbagi rasa dan cerita. Bahkan, rasanya dendamku sudah sedikit mereda hanya karena bercerita padanya. Tanpa sadar, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku “…Dan oh ya, mulai sekarang tolong jangan menggunakan bahasa formal padaku, panggil saja aku Jong Woon Oppa, arra?” diiringi oleh senyum yang sepertinya otomatis terbentuk di bibirku.

Minha tertegun setelah mendengar kalimatku. “Minha-ssi? Gwaenchanayo? Apa kau keberatan dengan permintaanku?”tanyaku menyadarkan lamunannya. “Ah, aniyo Jong Woon Oppa. Kau juga jangan menggunakan –ssi lagi ketika memanggilku, ya?”pintanya kembali padaku. Aku mengangguk cepat,”Ne, tentu saja. Anggap aku Oppa-mu sendiri ya.” Kulihat dia tersenyum senang mendengar permintaanku. “Arra, Oppa.”katanya mengangguk. “Dan, soal permintaanmu untuk memberi Kyuhyun pelajaran, aku rasa aku menyetujuinya. Toh ini hanya untuk sementara, ya kan Oppa?”tanyanya sambil menatapku. Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya. “Jadi,apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanyanya lagi.

Hwan Minha’s POV

Aku mendengarkan rencana Jong Woon Oppa dengan seksama. Oh, jadi yang perlu kulakukan hanya tidak menghubunginya selama 2 minggu dan menghilang bagai ditelan bumi? Terdengar mudah, namun aku tak tahu akan dapat melakukannya atau tidak. Aku pasti akan sangat merindukan namja evil itu. Tapi baiklah, toh setelah 2 minggu itu aku akan kembali padanya.

Cho Kyuhyun’s POV

Ini sudah hampir 3 hari sejak Minha sama sekali tidak bisa dihubungi. Hp-nya selalu tidak aktif. Saat aku ke rumahnya pun, rumahnya kosong. Kepalaku rasanya sudah hampir pecah mencarinya. Aku butuh Minha. Aku butuh obat penenangku. Oksigenku. Semua yang kulakukan selalu terasa salah tanpanya. Argh! Aku benar-benar bisa gila jika begini terus! Chagiya, neo eodiyo? Mungkin lebih baik aku pergi ke taman di pinggir kota. Aku butuh sendirian. Udara di taman mungkin dapat membantu menyegarkan pikiranku.

Aku memacu mobilku menuju sebuah taman kecil yang rindang karena tertutupi oleh pohon-pohon besar di sekelilingnya. Aku menemukannya. Sebuah bangku kecil yang menghadap sebuah kolam ikan mungil. Aku duduk dan memejamkan mataku, mendengarkan gemericik air yang turun dari air terjun buatan di kolam tersebut sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Sekelebat memori terlintas di pikiranku.

Memoriku bersama Yara. Ya, Yara adalah yeojachinguku sebelum Minha. Aku meninggalkannya karena mimpi soulmate itu. Apa kabarnya ya dia sekarang? Pikiranku kembali ke saat aku memintanya untuk mengikhlaskan hubungan kami yang harus berakhir. Wajahnya terlihat tak percaya dan terpukul sekali. Aku merasa bersalah karena itu semua. Ah, aku jadi ingin bertemu dengannya. Sekadar untuk meminta maaf padanya atas kelakuanku dulu. Aku menarik nafas lagi dan menghembuskannya perlahan. Aku yang sekarang sudah memiliki Minha, yeoja yang benar-benar aku cintai. Aish Minha-ya! Dimana sih kau? Mengingatmu benar-benar membuatku gila!

Kim Jong Woon’s POV

Sudah hampir seminggu sejak Minha tidak menghubungi namja evil itu dan coba lihat kondisinya! Sudah seperti mayat hidup saja! Ya Tuhan, Cho Kyuhyun! Apa sih yang membuat para yeoja bertekuk lutut di hadapanmu sampai seperti itu, hah? Aku jadi merasa bersalah terhadap Minha. Lihat saja, mukanya jauh lebih pucat daripada kemarin! Aish, kalau saja Minha itu Yara, sudah kupaksa makan dan kupeluk dia erat-erat! Minha benar-benar sudah seperti adikku sendiri. Ia kini tinggal di rumahku, di pinggiran kota Seoul yang notabene tidak seramai pusat kotanya.

“Minha-ya, kau tidak mau makan? Dari tadi pagi kau belum makan saeng. Makanlah dulu, sedikit saja. Atau mau aku suapi?”kataku menghampirinya sambil membawa satu porsi jjangmyeon. Pipinya memerah mendengar aku yang menggodanya. “Ani Oppa, aku tidak lapar.”katanya sambil tersenyum.

“Minha-ya, mianhae sudah membuatmu begini.”kataku menatapnya. Dia menoleh dan melempar tatapan bingung ke arahku. “Ne? Minta maaf untuk apa Oppa? Oppa tidak salah apa-apa.”tanyanya.

“Kau merindukan Kyu, babo! Lihat saja dirimu, sampai pucat seperti itu karena merindukannya. Aish, aku tak tahu apa yang membuatnya begitu mempesona para yeoja.”jawabku sedikit mencibir. Minha tersenyum geli melihatku mencibir Kyu.

Oppa-oppa, kau ini seperti anak kecil saja. Aku ini mencintainya, wajar saja jika aku merindukannya. Tapi, apa benar aku pucat karena merindukannya? Aish, aku sendiri tidak sadar. Mungkin sebaiknya aku makan sedikit.”katanya sambil mengambil jjangmyeon yang tadi kuletakkan di meja. “Ayo Oppa, makan bersamaku! Mmm, jjangmyeonnya enak! Oppa mau aku suapi?”

Cho Kyuhyun’s POV

Hari ke-13! Yap, aku melingkari kalender mejaku. Sudah 13 hari Minha menghilang bagai ditelan bumi. Sama sekali tak ada kabar tentangnya. Semua usahaku untuk menghubungi teman-temannya dan mencarinya kemana-mana juga percuma. Nihil. Karenanya juga aku harus mengambil cuti dari kantor selama 2 minggu untuk mencarinya. Karena jika aku terus memaksa diriku untuk bekerja, pekerjaanku akan kacau semua nantinya. Hari ini aku ingin ke taman itu lagi. Taman di pinggiran kota yang memiliki kolam ikan kecil nan sejuk.

Cuma butuh waktu 15 menit untuk mencapainya. Dan yap, disinilah aku! Duduk di bangku kecil dengan sebuah kolam ikan mungil di depanku. Aku memejamkan mataku lagi sambil menarik nafas perlahan. Mencoba untuk menenangkan diriku tanpa Minha disini. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara tawa yang familiar. Sangat familiar bagiku. Aku membuka mata dan mulai mencari suara itu. Sepertinya beberapa ratus meter di belakangku. Aku terus berjalan dan aku menemukannya. Suara tawa seorang yeoja yang sedang berjalan diikuti seorang namja yang tersenyum di belakangnya. Kuperhatikan yeoja itu baik-baik. Dia…Minha? Itu Minha kan?!

Hwan Minha’s POV

Aku mencium satu aroma yang sangat kukenal. Bukan, tapi aroma yang sangat kurindukan. Aku menolehkan kepalaku ke arah dimana menurutku aroma itu berasal. Dan tawaku spontan terhenti. Aku mematung. Aku melihatnya!

Itu…CHO KYUHYUN!

Namja yang saat ini sedang aku hindari sekaligus sangat aku rindukan. Mataku bertemu dengan matanya. Dengan menatapnya saja aku tahu kalau dia sangat merindukan seseorang. Apa orang itu aku? Jong Woon Oppa juga kaget melihatnya yang muncul tiba-tiba disitu. Kyuhyun mendekat perlahan, tetap tak melepaskan tatapannya ke arahku, mengabaikan Jong Woon Oppa yang ada di sampingku. Sementara aku tetap berdiri kaku di tempatku.

2 meter lagi Kyuhyun dapat mencapaiku, saat itulah aku mencoba melarikan diri darinya. Aku tersadar dan berbalik membelakanginya kemudian berjalan perlahan. Tiba-tiba, kurasakan sesuatu menahan tanganku. Aku mencoba melepaskannya, namun sia-sia. Kulirik tangan kananku. Sebuah tangan milik seorang namja melingkar erat disana. Tangan itu menyentak tangan dan tubuhku untuk berbalik arah. Mataku langsung bertatapan kembali dengan matanya. Mata Kyuhyun.

Ada berjuta perasaan disana. Marah, sedih, senang, rindu, semuanya bercampur jadi satu. Beberapa detik lamanya, kami cuma saling bertatapan tanpa mengucapkan apapun. Seakan tatapan kami sudah mampu mewakili segalanya. Tangannya bergerak ke belakang punggungku kemudian menarikku mendekat ke tubuhnya. Menarikku dalam pelukannya. Pelukannya masih sama, hangat dan tetap menyenangkan, juga nyaman.

Aroma ini…sudah berapa hari aku tidak menciumnya? Dia memelukku lebih erat, namun aku tak juga membalasnya. Aku masih terlalu kaget dengan semua ini hingga kudengar suaranya berbisik,

”Tidakkah kau rindu padaku? Atau hanya aku yang selama ini merasa kehilanganmu, hm?”. Ia melepas pelukannya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Perlahan, aku merasakan bibirnya menempel tepat pada bibirku. Menciumku lembut dan hati-hati. Sekadar ingin aku merasakan kerinduan yang selama ini ia rasakan.

Dan ya, kau berhasil Tuan Cho. Aku dapat merasakannya. Semua perasaanmu selama aku pergi. Mataku memburam oleh air mata. Setetes air mata jatuh ke pipiku. Aku membalas ciumannya. Terasa hangat dan manis?

Kim Jong Woon’s POV

            Aku terpaku melihat sepasang kekasih itu berciuman hangat. Terlihat sangat merindukan satu sama lainnya. Mungkin aku terlalu kejam karena meminta Minha membantuku membalas dendam? Tapi sungguh, melihatnya sangat bahagia karena bertemu Kyuhyun membuatku ingat akan Yara. Rasanya, seperti melihat Yara hidup dan bahagia kembali. Air mata menggenang di pelupuk mataku. Dendam ini rasanya hilang begitu saja. Mungkin ini petunjuk yang Tuhan berikan? Aku tak tahu. Aku melihat mereka kemudian berpelukan erat lagi. Ya Tuhan, mungkin balas dendam memang bukan penyelesaiannya. Mungkin Yara meninggal memang karena sudah waktunya, bukan karena Kyuhyun. Ah sudahlah, lebih baik aku merelakan kepergian Yara dan melupakan rencana balas dendam itu. Aku tersenyum mendapati Minha yang menatapku penuh arti.

Cho Kyuhyun’s POV

            Kulihat Minha berpaling menatap seseorang yang berdiri di sebelahnya. Tunggu dulu! Bukankah itu Jong Woon Hyung? Oppa-nya Yara kan? Bagaimana bisa dia ada disini? Dan kenapa Minha menatapnya seperti itu? Pikiranku penuh dengan berbagai pertanyaan tentangnya. Kudengar Minha memanggilnya mendekat. “Jong Woon Oppa, kemari. Aku ingin kita semua meluruskan semua masalah ini. Aku tahu dari wajahmu kalau kau sudah tidak lagi berniat meneruskan rencana ini, ya kan?”tanyanya. Jong Woon Hyung mendekat sambil tersenyum kemudian mengacak rambut Minha perlahan sambil mengangguk. “Wah, kau pintar Minha-ya.”jawabnya. aku kebingungan melihat mereka berdua yang saling mengenal dan sepertinya akrab sekali.

Jong Woon Hyung mengajak aku dan Minha untuk duduk bersamanya. Perlahan tapi pasti, meluncurlah cerita dari mulutnya secara berurutan. Dari mulai bagaimana dulu Yara hancur karena kami putus, Yara yang sakit hingga kemudian meninggal, ia yang mempunyai niat balas dendam dengan cara mengambil Minha dari hidupku, hingga sekarang ini. Mendengar ceritanya, aku merasa sangat bersalah padanya juga pada Yara. Aku sama sekali tak tahu kalau Yara sudah meninggal. “Jeongmal mianhaeyo hyung. Naega jalmothaesso.

Aku tak tahu jika Yara sampai seperti itu karenaku.”kataku. “Gwaenchanayo. Bersyukurlah kau karena mempunyai yeojachingu yang baik seperti Minha. Karenanya keinginanku untuk membunuhmu jadi lenyap tak berbekas. Karena dia terkadang terasa seperti Yara yang hidup kembali.”katanya menerawang.

Oppa, aku ini Minha bukan Yara!”kata Minha protes. “Ne, saeng. Aku tahu kau berbeda dengannya, tapi bolehkah aku tetap menganggapmu adik kandungku?”tanya Jong Woon Hyung. Minha mendekat kemudian memeluk Jong Woon Hyung. “Geureom! Aku juga kangen Minho Oppa, tapi dia tak tahu ada dimana. Lumayanlah aku punya Oppa pengganti kkk”katanya menggoda. “Dasar kau ya!”kata Jong Woon Oppa sambil mencubit pipi Minha.

“Ehm,chogiyo. Kau punya namjachingu Minha-ya.”kataku sebal. “Kau cemburu Kyu? Dia ini kan Oppaku, bwee!”katanya sambil menjulurkan lidah. Jong Woon Hyung hanya tertawa melihat aku dengannya sambil mengacak rambutnya. “Hm, Jong Woon Hyung, bolehkah aku berziarah ke makam Yara?”

3 years later

Author’s POV

Kyuhyun terlihat rapi mengenakan tuksedo abu-abu kasual di depan altar. Dan Minha juga terlihat sangat cantik dengan gaun putih sutranya. Sebentar lagi upacara dimulai, namun Jong Woon belum juga nampak tanda-tanda kehadirannya.

Hwan Minha’s POV

“Kyu, Jong Woon Oppa kemana ya? Sudah jam segini, tapi dia belum datang juga.”tanyaku pada Kyu khawatir. “Tenang saja Chagiya, Jong Woon Hyung sebentar lagi juga sampai kok. Tenangkan saja dirimu ya.”jawab Kyu sambil mencium pipiku lembut. “Ya! Kau masih saja mencuri kesempatan disaat begini!”kataku dengan wajah yang kutahu pasti merona merah. “Hohoho, tapi kau suka kan? Haha.”tawanya menggodaku. Dasar si evil satu ini!

Cho Kyuhyun’s POV

Upacara pernikahanku berjalan lancar dengan pengecualian Jong Woon Hyung sebagai pendamping pengantin wanita datang 5 menit sebelum acara dimulai. Bayangkan! 5 menit sebelum acara! Bagaimana Minha tidak ketar-ketir dibuatnya? Hahaha, yasudahlah yang penting sekarang Minha sudah resmi jadi milikku! Yeoja itu tak boleh berpaling kemana-mana lagi! Hanya boleh padaku, uyeay! Masih terbayang di benakku kejadian 3 tahun lalu saat Jong Woon Hyung berniat membalas dendam padaku melalui Minha. Untunglah semuanya bisa diselesaikan baik-baik. Dan satu hal lagi yang masih aku sesali hingga sekarang adalah kepergian Yara yang begitu tiba-tiba dan disebabkan olehku pula! Neon paboya Kyuhyun-a! Dan ah ya, aku juga harus bangga dengan mimpiku yang memberitahukan bahwa Minha adalah soulmateku. Sebab kalau bukan karena dia, pasti aku sekarang sudah tidak ada di dunia ini!

Kim Jong Woon’s POV

Mereka baru yang namanya soulmate! Benar-benar belahan jiwa rupanya hahaha sampai aku sendiri pun dibuat takluk oleh mereka. Ingat kejadian 3 tahun lalu? Saat aku melihat bagaimana mereka saling melepas rindu dihadapanku dan dendamku hilang begitu saja? Selain karena Minha sudah seperti adikku sendiri, ada sesuatu juga yang menyebabkan dendamku hilang. Tapi aku sendiri juga tak tahu apa sesuatu itu, jadi jangan tanyakan padaku! Yah, kuharap Kyu dan Minha bahagia selamanya. Dan kuharap, Yara disana juga merelakan Kyu bahagia dengan Minha disini. Seperti aku merelakan kepergiannya dulu.

END

Glossary:

  1. Nappeun Namja : bad guy
  2. Jaljinaesseoyo = gwaenchana : are you alright?
  3. Mwo haneun goya : apa yang kau lakukan?
  4. Naega jalmothaesso : aku merasa sangat bersalah
  5. Chogiyo : permisi (ungkapan ketika lewat di hadapan orang lain atau untuk menyela percakapan)
  6. Chagiya : sayang, dear
  7. Neon paboya/neon baboya : kau bodoh!
  8. Geureom : tentu saja!
  9. Joneun…imnida : ungkapan untuk memperkenalkan diri

2 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Feb 11, 2018 @ 20:17:14

    Ternyata mereka bisa hidup bahagia

    Reply

  2. ay
    Mar 02, 2018 @ 20:13:28

    Kasian sih si yara diputusin kyuhyun dg alasan suka sama cewe lain, sakit mas digituin :”” haha untunglah si kaka ga jadi balas dendam dan mereka hidup bahagia selamanyaa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: