Ways to Life Forever [4/?]

fsd 

[Chapter 4] Ways to Life Forever; Cho Kyu Hyun Side Story

Author : Rien Rainy (@RienHara_)

***

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, romance, sad

Rated : T

Length : chapter

Author Note : FF ini sedang tayang di http://rienrainy.blogspot.com/ dan wattpad @rienhara_

— Ways to Life Forever —

 

Punggung lelaki bersurai ikal itu baru saja menyandar untuk memandang hasil pekerjaannya yang selesai. Menata ruang kamar untuk anggota keluarga baru yang akan hadir beberapa bulan lagi. Eun Ha memanggil anggota baru keluarga mereka ‘Hyonnie’, Kyu Hyun tidak menolak apa yang disematkan istri tercintanya untuk anak mereka yang akan hadir di dunia nanti.

Ruang kamar yang akan ditempati ‘Hyonnie’ tidak memiliki warna dominan, corak warna sengaja diseimbangkan. Perpaduan warna biru—kesukaan Kyu Hyun—dan violet—kesukaan Eun Ha—menjadi suatu yang serasi menghias ruang ‘Hyonnie’. Peralatan yang diletak di dalamnya terlihat biasa saja, seperti peralatan bayi pada umumnya. Peralatan yang sudah dipilih Eun Ha dan diatur rapi oleh Kyu Hyun.

“Aku membayangkan senyum dan wajah takjub Hyonnie jika tahu ayahnya bekerja sangat keras membuatkan kamarnya,” suara lembut Eun Ha membuat Kyu Hyun menoleh.

Senyum indah Eun Ha yang terpatri di wajah menggantikan rasa lelah Kyu Hyun. Eun Ha ikut mendudukan diri di samping Kyu Hyun, di ambang pintu kamar ‘Hyonnie’. Kyu Hyun sempat menyuruh Eun Ha menjauh karena Kyu Hyun penuh keringat dan berbau tak sedap, tetapi perempuan itu tidak menghiraukan perintah Kyu Hyun.

Eun Ha menatap Kyu Hyun dengan cemberut di wajah, “Ck, Kyunnie, tidak bau dan berhentilah mengusirku!”

Kyu Hyun menarik sudut bibirnya yang berkedut ingin tersenyum, “Istriku benar-benar pandai bicara, ya?”

Keduanya tertawa mengakhiri sesi candaan mereka. Kyu Hyun membiarkan kepala Eun Ha menyandar. Jemari besar Kyu Hyun menggenggam tangan Eun Ha yang diletakan di perutnya, “Aku jadi membayangkan akan keluar masuk kamar ini ketika mendengar Hyonnie menangis nanti?” Eun Ha berangan-angan, Kyu Hyun tersenyum tertular angannya, “Benarkah?”

Eun Ha mengangguk lalu mendongak menatap wajah Kyu Hyun, “Kita sengaja membuat kamar ini berhadapan dan terpisah dengan ruang berkumpul. Artinya ketika punya anak nanti kita masih bisa terhubung dengan mereka.”

“Ideku cemerlang artinya, kan?” tanya Kyu Hyun membuat Eun Ha mencubit tangan Kyu Hyun, “Artinya kau juga tidak keberatan nanti akan membantuku mengurus Hyonnie, kan?”

“Aku akan membantumu, Sayang,” balas Kyu Hyun membuat Eun Ha tertawa, sedetik kemudian Eun Ha menatap Kyu Hyun serius, “Aku jadi khawatir kau akan memanjakan Hyonnie nanti?”

“Kenapa? Aku ‘kan ayahnya, jadi wajar aku memanjakannya, Eun Ha-ya,” balas Kyu Hyun membuat Eun Ha menggeleng, menolak ide cemerlang Kyu Hyun. Kedua tangan Eun Ha terlipat di depan dada, wajahnya yang serius bersiap untuk menasehati Kyu Hyun. “Jangan terlalu memanjakannya, Kyunnie! Kita harus mendidiknya mandiri, aku tidak ingin dia jadi manja dan kau jadi lemah menghadapi Hyonnie.”

“Ya, baiklah. Aku tidak akan memanjakannya nanti karena sekarang aku ingin memanjakan Ibunya dulu,” jawab Kyu Hyun sambil memeluk Eun Ha yang sudah tertawa.

Suara tawa Eun Ha berhenti, tangannya membuat jarak untuk Kyu Hyun berhenti mendekapnya. Ketika iris berbeda warna itu bertubrukan dengan rasa takjub, Eun Ha sudah tertawa melihat Kyu Hyun yang membuka tutup mulutnya. Kyu Hyun bersikap konyol dan itu menggemaskan di mata Eun Ha.

Eun Ha menarik sebelah tangan Kyu Hyun, diletakannya di atas perut, “Aku sangat sering merasakan pergerakan Hyonnie,” katanya sambil menekan lembut perut mencari pergerakan lain, Kyu Hyun memandang takjub perut Eun Ha, “Apa yang kau rasakan, Kyunnie?”

“Aku merasa Hyonnie mengatakan ‘terimakasih’ dan menyapaku? Mungkin.” Kyu Hyun terlihat ragu, Eun Ha menganggukan kepalanya. “Menyapa ayahnya yang bekerja keras. Aku benar, ‘kan, menebak Hyonnie senang mengetahui ayahnya membuatkan kamar?”

“Ya, kau benar,” Kyu Hyun menatap perut Eun Ha lamat-lamat, “Aku sampai kehabisan kata-kata, Eun Ha-ya? Bukankah ini konyol?” Eun Ha tertawa lebar, Kyu Hyun benar-benar seperti orang bodoh.

Kemudian Kyu Hyun menyejajarkan wajahnya ke hadapan perut Eun Ha, kedua tangannya memegang sisi perut Eun Ha. Senyum geli Eun Ha muncul ketika mendengar Kyu Hyun berbicara seolah ‘Hyonnie’ bisa mendengar atau memberi respon, “Hyonnie, Ayah ingin segera bertemu denganmu, Nak! Ketika kau lahir, Ayah akan memanjakanmu.” Eun Ha berdecak tak setuju, Kyu Hyun hanya tertawa menanggapinya.

“…Hyun? Kyu Hyun?”

Kyu Hyun tersentak mendengar namanya dipanggil, Ah Ra—kakak perempuan Kyu Hyun—sudah menatapnya dengan pandangan khawatir, “Kau tidak apa-apa?”

Kyu Hyun tersenyum kecil menunjukkan dirinya baik-baik saja, “Hanya sedang mengenang Eun Ha, noona. Rasanya aku sangat merindukannya.”

Ah Ra tak banyak berkomentar mendengar jawaban Kyu Hyun. Senyuman simpat yang tercetak jelas di wajah Ah Ra, tepukan lembut di sebelah bahu Kyu Hyun dilakukan Ah Ra untuk membesarkan perasaan Kyu Hyun. Keduanya sedang berdiri di hadapan pusara Yoon Eun Ha, hari ini adalah hari peringatan kematian istri Kyu Hyun dan seluruh keluarga terdekat mereka mengunjunginya.

Hyo Na masih duduk di samping pusara Eun Ha, masih menatap nisan dengan tatapan yang sulit dibaca Kyu Hyun. Kedua orangtua Eun Ha dan Kyu Hyun beberapa menit yang lalu sudah berlalu untuk memberikan waktu yang panjang bagi Kyu Hyun dan Hyo Na. Sedangkan Ah Ra, baru saja datang dan tak sengaja melihat kalau Kyu Hyun dan Hyo Na belum beranjak dari pusara Yoon Eun Ha.

“Hyonnie sudah selesai?” tanya Kyu Hyun membuat Hyo Na mendongak, senyuman lebar muncul dengan anggukan kepalanya yang pelan.

“Ayah mau langsung pulang?” tanya Hyo Na membuat Kyu Hyun memeriksa arloji yang melingkar di lengannya lalu pandangan Kyu Hyun jatuh pada Ah Ra, “Noona bisa sampaikan pada Ayah dan Ibu kalau kami akan segera pulang? Rasanya ingin berjalan-jalan dengan Hyonnie saja hari ini.”

“Kita mau ke mana, Yah?” sahut Hyo Na tidak langsung dijawab Kyu Hyun.

Ah Ra yang melihat interaksi ayah-anak di depannya tersenyum, “Akan kusampaikan. Hati-hati di jalan, Hyonnie, Kyunnie!”

Hyo Na menyempatkan diri memeluk dan melambaikann tangan pada Ah Ra sebelum mengamit lengan Kyu Hyun. Kedua orang itu berjalan meninggalkan pusara Eun Ha, hanya tinggal Ah Ra yang tersenyum tipis. Sayup-sayup Ah Ra mendengar Hyo Na terus bertanya dan Kyu Hyun tidak memberikan jawaban pada perempuan berambut sebahu itu.

Ah Ra menghela napas berat, “Sepuluh tahun, ya? Eun Ha-ya, bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia melihat Kyunnie dan Hyonnie sekarang?”

— Ways to Live Forever —

“Ayah?”

Kyu Hyun menanggapi panggilan Hyo Na dengan deheman. Lama menunggu tak ada suara Hyo Na, Kyu Hyun melirik sekilas. Hyo Na tidak menunjukkan ekspresi yang bisa ditebak. Tidak ingin bertanya pada Hyo Na, Kyu Hyun memutuskan menunggu dengan sabar.

“Salah tidak kalau aku bilang pada Ayah, jika aku merindukan Ibu?” suara Hyo Na terdengar ragu, Kyu Hyun tersenyum tipis. “Aku juga merindukannya.”

Kyu Hyun yakin melihat raut terkejut dan daripada mengomentari respon Hyo Na, Kyu Hyun merasa kali ini harus mulai serius menceritakan Eun Ha pada anaknya. “Semua orang yang mengenal ibumu pasti merindukannya juga. Sama seperti kita yang merindukannya dan ibumu pasti sedang merindukan kita di sana.”

Hyo Na menganggukan kepala, ujung bibirnya tertarik membentuk senyum membuat Kyu Hyun tertular senyumannya. Semua terasa ringan saat mata Kyu Hyun melirik tangan Hyo Na yang masih memegang salah satu lembaran foto yang berisi Eun Ha, foto Eun Ha saat masih muda dulu—yang diberikan Ibu mertua Kyu Hyun.

“Hyonnie seperti Eun Ha saat sekolah dulu. Aku senang kau membawanya lagi, Kyu Hyun-ah. Aku senang, kau bisa merawat Hyonnie dengan baik, Kyu Hyun-ah.”

Hari ini adalah peringatan kepergiaan Yoon Eun Ha, Ibu dari Hyo Na sekaligus istri Kyu Hyun. Anggota keluarga terdekat, seperti kedua orangtua Eun Ha dan Kyu Hyun datang mengunjungi pemakaman. Sudah menjadi suatu kebiasaan pula, selesai acara mengunjungi makam Eun Ha, Kyu Hyun dan Hyo Na akan bermalam di rumah kedua orangtua Kyu Hyun atau Eun Ha. Namun, kebiasaan itu tidak dilakukan hari ini, Kyu Hyun punya rencana lain untuk Hyo Na.

“Aku penasaran tempat seperti apa yang Ayah dan Ibu kunjungi dulu? Hm, apa benar Ayah akan membawaku ke sana?” Hyo Na masih penasaran atau sebenarnya memastikan jika saja Kyu Hyun mulai berubah pikiran—Hyo Na juga tak ingin hal ini membuat sedih Kyu Hyun. Kyu Hyun tertawa. “Tempat makan favorit ibumu, Hyonnie.”

Hyo Na terlihat bersemangat. “Benarkah? Wuah, Ayah, akan memberitahukan apa makanan favorit Ibu juga?” Kyu Hyun memberikan anggukan kepala sebagai jawaban.

“Aku tidak menyangka Ayah akan membawaku ke tempat yang pernah disinggahi Ibu?” ucap Hyo Na yang lebih terdengar untuk diri sendiri, Kyu Hyun tak bisa menghentikan tawa.

“Ayah ingin Hyonnie bisa merasakan jika Ibu selalu ada di dekatmu.” Hyo Na tersenyum kecil, Kyu Hyun memandang kendaraan yang sudah berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.

Melihat lampu merah menunjukkan rupanya, Kyu Hyun teringat sesuatu tentang pertanyaan ‘cantiknya Hyo Na dan Eun Ha’ yang sempat dilontarkan Hyo Na. Bukan hanya ingat pertanyaan itu, Kyu Hyun juga mengingat kenangan di balik lampu merah yang dibenci para pengendara. Memang tidak ada hubungannya, tapi dua hal yang berbeda itu memiliki kesamaan topik, yaitu kecantikan.

“Apa Hyonnie masih penasaran tentang kecantikan Ibu?” Kyu Hyun bertanya dengan pandangan yang mengambang menatap lampu merah. Hyo Na menganggukan kepala pelan, menunggu jawaban Kyu Hyun yang sebenarnya tidak terlalu dipikirkannya.

Kyu Hyun tidak suka lampu merah dan akan sering mendumel jika bertemu lampu merah.. Eun Ha yang duduk di samping bangku kemudi selalu saja iseng, niatnya ingin menghibur Kyu Hyun. Terkadang perempuan itu sengaja bernyanyi lagu romantis yang bisa dibalas Kyu Hyun, melemparkan tebak-tebakan secara random—hadiahnya, jika menang akan bisa memerintah apapun pada si pihak kalah—atau jika lebih berani Eun Ha akan mencuri kecupan di pipi Kyu Hyun. Sehingga membuat Kyu Hyun tidak bisa membalas karena sekejap saja lampu sudah berwarna hijau, kendaraan mereka harus segera bergerak sebelum pengemudi lain marah.

Kenangan yang tak mampu dihapus Kyu Hyun, menurut Kyu Hyun kenangan itu sangat manis dan membuat pandangannya terhadap lampu merah berubah. Karena ingatan itu juga, Kyu Hyun sering memuji Eun Ha sebagai perempuan yang cantik.

“Kalian sama-sama cantik.” kata Kyu Hyun membuat Hyo Na tertawa kecil.

Warna hijau sudah menggantikan si merah. Kendaraan mulai bergerak. Kyu Hyun juga harus bergerak, tidak ada hal yang bisa menghentikannya. Kenangan bersama Eun Ha memang tak bisa dihapus, kenangan itu hidup bersamanya. Sekarang yang Kyu Hyun lakukan adalah ikhlas dan menikmati kenangan mereka di sela-sela kehidupan.

— Ways to Live Forever —

Hyo Na menatap takjub tempat sekelilingnya, Kyu Hyun tak bisa menahan suara tawa. Ekspresi wajah Hyo Na kelewat polos membuatnya gemas dan tak bisa menghentikan tangan yang ingin mencubit pipi atau mengelus surai Hyo Na. Sebelah tangan Kyu Hyun merangkul bahu kecil Hyo Na, “Kenapa sulit sekali merangkulmu, hm?”

Hyo Na merengut mendengar ledekan Kyu Hyun, disikutnya pinggang Kyu Hyun, “Ck, awas saja kalau aku tumbuh lebih tinggi daripada Ayah?!”

Kyu Hyun tertawa, menggoda Hyo Na benar-benar pilihan paling sempurna, benar-benar merubah perasaan Kyu Hyun. Mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Sebuah cafe dimana dulu Kyu Hyun dan Eun Ha banyak menuliskan kenangan manis. Kyu Hyun membuka pintu cafe, menimbulkan bunyi lonceng dan mempersilahkan Hyo Na masuk terlebih dulu, memperlakukan Hyo Na seperti putri.

“Aku curiga kalau Ayah akhir-akhir ini sangat sering membaca koleksi novelku?” komentar Hyo Na membuat Kyu Hyun tertawa, lagi pula mana mungkin Kyu Hyun membaca koleksi novel romantis Hyo Na.

Cafe yang menjadi saksi kisah asmara Eun Ha-Kyu Hyun tidak punya banyak perubahan dari segi tata bangunan. Tatanan meja dan bangku masih sama persis, perubahan yang terjadi cuma di bagian warna dan hiasan-hiasan dinding. Pelayan yang bekerja juga masih ada yang Kyu Hyun kenal, benar-benar membuat rasa rindu Kyu Hyun pada Eun Ha jadi dua kali lipat rasanya.

Hyo Na sudah sibuk menarik lengan Kyu Hyun untuk ikut berjalan, mata Kyu Hyun jadi kurang fokus dan tak sengaja bertemu pandang dengan perempuan yang ditolongnya di insiden cafe. Senyum hangat Kyu Hyun menguar, menyapa tanpa suara dan dibalas perempuan itu dengan senyuman dan anggukan kepala. Kyu Hyun memilih duduk di tempat biasa dulu Eun Ha duduk, Hyo Na yang mendengar penjelasan itu jadi takjub.

“Aku duduk di bangku yang sama dengan Ibu? Benarkah?” Kyu Hyun tertawa mendengarnya.

Pelayan datang ke meja mereka, memberikan daftar menu dan sepertinya Hyo Na sudah lupa jika harusnya Kyu Hyun akan memberitahukan makanan kesukaan Eun Ha. Tapi, semua tidak masalah karena kebiasaan Hyo Na yang sering memesan makanan adalah warisan berharga milik Eun Ha.

“Kau memesan banyak sekali? Kau akan mentraktir Ayah, hm?” celetuk Kyu Hyun membuat Hyo Na tersipu, Kyu Hyun jelas menyindir, “Aku akan mentraktir Ayah, tapi karena tidak membawa banyak uang jadi aku meminjam uang Ayah dulu, nde?” gurauan Hyo Na benar-benar membuat Kyu Hyun semakin tertawa.

Selera humor, segala macam pesanan dan sikap Hyo Na yang senang mengomentari segala isi café mirip dengan Eun Ha. Kyu Hyun merasa tak perlu lagi menjelaskan tingkah Eun Ha karena Hyo Na sudah memiliki semuanya secara alami, tidak kurang dan tidak berlebihan. Kyu Hyun merasa melihat sosok Eun Ha di hadapannya, bukan Hyo Na.

Sekarang apa Eun Ha tahu kalau Kyu Hyun amat sangat merindukannya?

***

“Kau memesan sebanyak ini, Eun Ha-ya?”

Eun Ha baru saja akan menyuapkan es krim coklatnya, kehadiran Kyu Hyun menjadi penyebab utama. “Kau ‘kan juga belum makan saat datang ke sini, Kyunnie?” balas Eun Ha sambil menyuapkan es krim, wajahnya yang polos membuat Kyu Hyun menggelengkan kepala.

Eun Ha mana pernah ingin jika ini adalah salah satu kebiasaan buruknya, Kyu Hyun yang sering mengingatkannya saja sampai merasa bosan. Setengah jam yang lalu, Eun Ha menghubungi Kyu Hyun, meminta bertemu di cafe langganan mereka. Jika sudah seperti ini, Kyu Hyun bisa menebak Eun Ha punya waktu kosong yang sangat banyak. Kyu Hyun menyetujui pertemuan tanpa pikir panjang dan merasa menyesal tak sempat berpesan agar Eun Ha tidak banyak memesan makanan.

“Sepertinya di sini kau yang sangat kelaparan?” celetuk Kyu Hyun membuat Eun Ha yang sedang mencicipi makanan jadi berhenti. Eun Ha memberikan glare tidak menakutkan pada Kyu Hyun. “Aku memang lapar, sangat lapar malah. Wajar, ‘kan?” balas Eun Ha membuat Kyu Hyun menyandarkan punggung sambil menganggukan kepala, mengalah saja pada Eun Ha.

“Makanlah kalau begitu!”

Eun Ha mendengus pelan dan melanjutkan acara makannya. Eun Ha mendadak lupa untuk menawari Kyu Hyun makan atau bahkan tebakan tentang Kyu Hyun belum makan adalah salah. Kyu Hyun tidak bisa marah, tentu Kyu Hyun tahu kebiasaan buruk Eun Ha dan sangat memakluminya.

Merasa terabaikan, Kyu Hyun memandang wajah menarik Eun Ha yang sedang tersenyum sambil mengunyah makanannya. Eun Ha makan tanpa pernah berpikir dengan siapa Eun Ha makan, tidak memandang orang sekitarnya karena seperti hanya Eun Ha dan makanan saja. Inilah yang membuat Kyu Hyun sangat menyukai—atau sebenarnya semakin menyukai—Eun Ha, perempuan berambut hitam ini berbeda dari mantan kekasih Kyu Hyun yang lain.

“Apa ada saus di wajahku, Kyunnie?” suara Eun Ha membuyarkan fokus, Kyu Hyun langsung menatap sekitar bibir Eun Ha. Wajah Eun Ha kebingungan ingin mengelap tisu, menunggu Kyu Hyun menjawab pertanyaan.

“Tidak ada, Eun Ha-ya,” kata Kyu Hyun membuat kerutan muncul di dahi Eun Ha, “Benarkah? Lalu kenapa kau tersenyum seolah wajahku lucu? Kau berbohong, ya? Benar-benar ada saus, kan?” Eun Ha menatap galak Kyu Hyun yang sudah tertawa, “Bukan, Sayang. Aku hanya senang saja melihatmu sedang makan.”

Eun Ha merasa menyesal mengikuti naluri daripada menahan dirinya. Pipinya bersemu dan Kyu Hyun merasa tak berdosa telah menggodanya seperti ini. Eun Ha mendadak kehilangan selera makan, jadi menatap makanannya dan mengalihkan pandangan menatap wajah Kyu Hyun. “Maafkan aku memesan makanan terlalu banyak.”

“Kenapa tiba-tiba minta maaf?”

Eun Ha menggaruk pipinya lalu menunjuk satu per satu makanan yang dipesan, Kyu Hyun ikut menghitung jumlah makanan dan ditambah es krim cokelat yang berjumlah lima pesanan. “Aku tak pernah berpikir saat berhadapan dengan buku menu, jadi ketika kurasa makanan itu menarik, aku akan memesannya dan tak berpikir jika akan sebanyak ini. Jadi…”

“Aku senang bisa melihatmu banyak memesan makanan seperti ini. Kau tahu?” Kyu Hyun berhenti untuk menunjuk salah satu menu makanan, “Ini salah satu favoritku dan kau juga menyukainya. Aku benar-benar bahagia.”

Lagi. Pipi Eun Ha bersemu tanpa bisa dikontrol, Kyu Hyun mengabaikan pipinya dan memilih memandangi Eun Ha dengan lekat. “Aku jadi berpikir jika kelak menikahimu dan punya anak pasti anak kita punya selera makan yang bagus sepertimu.”

“Kyunnie.”

“Dan kurasa anak kita nanti akan lebih mirip denganmu daripada aku.”

Eun Ha mengerucuti bibir rasanya tak adil jika anak yang dipikirkan Kyu Hyun nanti akan lebih mirip Eun Ha ketimbang Kyu Hyun, “Itu tidak adil! Aku harap anak kita bisa pintar, punya mata bulat, pipi chubby dan… umm, aku harap ia bisa mendapatkan banyak cinta dari orang-orang di sekitarnya. Semua sama sepertimu!”

***

“Kau tahu Hyonnie? Ibumu juga memesan makanan sepertimu.”

Hyo Na berhenti makan dan memandang Kyu Hyun dengan tatapan kaget. Hyo Na tak menyangka jika Kyu Hyun belum sama sekali makan. “Ibumu suka memesan banyak makanan karena merasa apa yang ada di dalam menu menarik dan ia tak pernah sadar jika apa yang ia pesan adalah favorit Ayah. Kau tahu Hyonnie?”

Hyo Na tersenyum kecil, kenangan kedua orangtuanya yang bisa Hyo Na dengar. Rasanya ingin sekali Hyo Na pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan Ibu, untuk berbicara dengan Ibu, untuk melihat bagaimana kehidupan percintaan kedua orangtuanya dan merasa sebentar saja memiliki seorang Ibu.

“Hyo… Hyonnie?”

Kyu Hyun kaget melihat Hyo Na terang-terangan mengusap air matanya, Kyu Hyun jadi memarahi dirinya sendiri. “Hyonnie maafkan Ayah.”

Hyo Na menggelengkan kepalanya pelan, senyumannya muncul, “Aku senang akhirnya bisa mendengar cerita Ayah. Aku sudah menunggu terlalu lama hingga waktu ini tiba dan tidak akan pernah menyangka jika cerita yang Ayah bicarakan akan membuatku merasa Ibu benar-benar berada di sekitar kita saat ini.”

Kyu Hyun tertegun mendengar perkataan Hyo Na. Tak pernah sama sekali Kyu Hyun berpikir jika Hyo Na akan menunggu dan memikirkan kehidupan mereka dulu. Selama ini Kyu Hyun hanya fokus untuk menyembuhkan rasa cintanya pada Eun Ha dan menghapus segala kenangan agar Kyu Hyun berhenti menyakiti diri sendiri. Sekarang harusnya Kyu Hyun berterimakasih pada Eun Ha yang sudah menghadirkan Hyo Na yang pengertian di dalam hidupnya.

“Lagi pula, aku sudah hampir dewasa, Ayah.” ucap Hyo Na membuat Kyu Hyun bernapas lega, Kyu Hyun menghapus gambaran Hyo Na berusia lima tahun; sering merengek tentang Ibu. Hyo Na sudah hampir dewasa dan akan segera memasuki senior high school.

— Ways to Live Forever —

Kyu Hyun baru saja mengaktifkan ponselnya dan menemukan ada banyak pesan dan panggilan. Kyu Hyun memeriksa satu per satu nama, sebagian yang menghubunginya adalah orang yang dikenal dan satu dari lainnya adalah nomor asing yang menghubungi dan mengiriminya pesan.

“Song Soo Ra?” gumamnya heran lalu Kyu Hyun memeriksa catatan dalam bukunya yang menampilkan foto seorang mahasiswi, “Song Soo Ra?” gumam Kyu Hyun memperhatikan secara seksama perempuan yang mirip dengan perempuan yang ditemuinya di cafe. “Ah, perempuan yang bekerja di café dan… Oh, tunggu! Bukannya dia tadi yang kutawari untuk jadi tutornya Hyonnie?” Kyu Hyun masih menatap kagum pada catatan buku.

Kyu Hyun tersentak bahkan hampir menjatuhkan ponselnya. Layar ponselnya menunjukkan nomor Soo Ra sedang melakukan panggilan, Kyu Hyun menerima panggilan Soo Ra.

“Yeobeoseo? Hm, maaf menghubungi anda selarut ini. Saya pikir…”

Kyu Hyun tersenyum kecil mendengar suara ragu Soo Ra, “Aku baru tahu kau adalah salah satu mahasiswi di kampus tempatku mengajar.”

“Ah, itu… Maafkan saya, Pak.”

Kyu Hyun duduk di pinggir tempat tidur sambil memeriksa latar belakang Song Soo Ra di bukunya. Sedikit yang diketahui, Soo Ra pintar dan sangat menguasai bidang yang diambilnya, ciri-ciri tutor yang sangat memuaskan. “Aku tidak masalah jika kau adalah mahasiswiku, lagi pula kita tidak pernah bertemu dalam kelas yang sama.”

“…”

“Kau menerima tawaran kerjaku?” tanya Kyu Hyun tiba-tiba sambil masih membaca catatan mengenai Soo Ra hingga matanya berhenti di tulisan ‘dosen pembimbing : Cho Kyu Hyun’ dan Kyu Hyun kembali berkata, “Tunggu! Namamu Song Soo Ra? Kau adalah mahasiswi yang akan aku bimbing tugas akhirnya?”

“Iya, Pak. Saya Song Soo Ra, tapi saya sudah bilang pada dosen Kim untuk dibimbing dengannya atau mencari dosen pengganti selain anda.”

Kyu Hyun menganggukan kepalanya pelan, masalah dosen pembimbing sudah selesai. “Keputusan yang bagus. Aku minta maaf tidak bisa membimbingmu karena aku hanya membimbing mahasiswa saja bukan mahasiswi, anak perempuanku tidak suka itu.”

Lengang sebentar, Kyu Hyun baru akan berbicara tetapi Soo Ra memotongnya, “Saya menerima pekerjaan yang Bapak…”

Kyu Hyun entah mengapa sedikit risih dengan panggilan yang Soo Ra tujukan. Padahal jelas sekali, Kyu Hyun dan Soo Ra tak bertemu secara intesif di kelas. Kyu Hyun tidak terdaftar mengajarkan mata kuliah apapun dan dengan panggilan wajar yang disematkan Soo Ra entah mengapa membuat Kyu Hyun merasa sangat tua—untuk urusan tutor dan orangtua.

“Ayah Hyonnie saja! Kita tidak berada di kampus dan tidak pernah bertemu sebagai dosen dan mahasiswi. Besok kita bisa membicarakannya dan datanglah ke ruanganku. Ah, terimakasih sudah mengambil pekerjaan ini!” tutur Kyu Hyun mengakhiri pembicaraannya.

Kyu Hyun langsung menyimpan nomor Soo Ra, memberikan nama pada nomor itu ‘Tutor Hyonnie’ dan tuntas sudah masalah tutor untuk Hyo Na.

— Ways to Live Forever —

Hari ini adalah hari pertama Soo Ra mengunjungi kediaman Cho. Kyu Hyun menyuruh Soo Ra langsung mengunjungi rumahnya karena Kyu Hyun akan hadir dan memberikan materi apa saja yang akan dipelajari Hyo Na di sisa semester sekolah tingkat akhirnya.

Kemarin saat bertemu Soo Ra, Kyu Hyun tak akan pernah menyangka jika Soo Ra memberikan kesan berbeda diantara semua pertemuan dengan tutor Hyo Na. Kyu Hyun memang sering hadir sendiri untuk melihat para tutor Hyo Na, demi mendapatkan kriteria tutor yang handal walau Kyu Hyun sendiri tahu kelemahan tiap mahasiswi yang jadi tutor Hyo Na tidak bisa dielakkan.

Pernah Kyu Hyun menolak mereka, tetapi mereka masih saja kekeh ingin mengajari Hyo Na bahkan tanpa dibayar pula. Kyu Hyun yang sangat membutuhkan jasa tutor tak punya pilihan, tidak ada kriteria lain dan Kyu Hyun terpaksa menerima.

Song Soo Ra di hari pertemuan mereka terkesan seperti mahasiswi biasa saja. Berpakaian sopan, tidak ada lipstick berwarna terang atau tatapan menggoda dan sikapnya benar-benar alami. Kyu Hyun tak perlu capek-capek menolak atau berkilah macam-macam, dosen Kim—lengkapnya, Kim Ki Bum—sempat memberitahukan prestasi gemilang Soo Ra. Jadi, sudah dipastikan pilihan Kyu Hyun untuk tutor Hyo Na tidak akan meleset. Sesuai dan sempurna!

“Kuharap kau tak pernah menyinggung tentang tempat kuliahmu atau mengatakan jika kau adalah salah satu mahasiswiku. Dan aku sangat berharap jika kau bisa bertahan mengajari Hyonnie hingga selesai masa junior high school-nya. Setelah semuanya selesai, kau bebas pergi.”

Suatu ketika mereka bertemu dan Kyu Hyun memberikannya petuah itu. Setelah semua macam aturan yang tertulis di kontrak—walau sebenarnya tidak resmi—mereka pun resmi bekerja sama untuk membentuk masa depan Hyo Na.

Hari pertama, Kyu Hyun rasa semua berjalan lancar. Sebenarnya Hyo Na sempat merajuk, tidak terima karena tidak dilibatkan memilih tutor atau diberitahu jika ada tutor baru. Tapi, semuanya tidak menjadi yang dikhawatirkan Kyu Hyun karena Hyo Na terlihat baik-baik saja dan menerimanya.

Hari kedua, Kyu Hyun memesankan pada Soo Ra untuk datang ke kediamannya pukul empat dan menyuruh Soo Ra agar selalu membuat laporan pembelajaran Hyo Na. Dugaan Kyu Hyun benar, semua sangat lancar dan perintah Kyu Hyun dijalankan dengan bagus oleh Soo Ra. Hari keempat, laporan tidak lagi disampaikan lewat pesan, tetapi mereka secara resmi bertemu di waktu senggang.

“Selama ini tutor Hyonnie tidak pernah bekerja sekeras ini,” kata Kyu Hyun masih tersenyum memandang kertas-kertas soal yang berhasil dikerjakan Hyo Na. Mata Kyu Hyun mematut Soo Ra yang duduk di depan mejanya, perempuan itu tersenyum sopan. “Aku sering menerapkan sistem yang sama kepada tutor Hyonnie yang lain, tapi tak ada yang bisa membuatku tersenyum seperti ini karena kebanyakan dari mereka tak bisa membuat Hyonnie mengerjakan soalnya. Aku sangat berterimakasih padamu, Soo Ra-ssi.”

Soo Ra menggelengkan kepala dan wajahnya terlihat sungkan, “Saya hanya melakukan hal yang biasa saja, jadi Ayah Hyonnie…”

Kyu Hyun memotong perkataan Soo Ra, “Tidak, tidak. Kau memang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Hm, pantas saja dosen Kim selalu memuji hasil bimbingannya denganmu.”

Soo Ra terlihat membulatkan matanya tak percaya, Kyu Hyun yakin Kim Ki Bum akan sangat bangga mengetahui mahasiswi bimbingannya sangat ulet. Sekali dua kali memang Kyu Hyun dan Ki Bum sering berbicara mengenai Soo Ra, entah karena Ki Bum yang memuji Soo Ra atau Kyu Hyun yang bertanya tentang ini-itu mengenai Soo Ra, memastikan jika gadis yang menjadi tutor Hyo Na adalah perempuan yang baik dan pintar, jadi wajar jika Kyu Hyun jadi tahu segalanya.

“Saya masih tidak ada apa-apanya.”

Kyu Hyun tersenyum kecil, sikap rendah hati perempuan ini benar-benar membuatnya kagum. “Jadi, Soo Ra-ssi besok hari kelimamu, baik-baiklah dengan Hyonnie, ya!”

Soo Ra menganggukan kepalanya pelan, Kyu Hyun meliriknya sekilas mencoba membaca raut apa yang akan diberikan Soo Ra. Namun, sejauh yang dipandang, tak ada yang bisa dibaca Kyu Hyun, Soo Ra tidak mengizinkannya untuk dibaca terlalu mudah. Kyu Hyun tidak keberatan, tidak pula merasa penasaran karena Soo Ra berhak bersikap tertutup padanya.

“Hyonnie itu sangat berharga buatku, sama seperti Ibunya. Aku tak ingin Hyonnie terus-terusan jadi anak manja seperti yang kudengar dari teman sekolahnya, aku tak ingin Hyonnie bergantung terus padaku.” Kyu Hyun berhenti berkata dan baru sadar jika sedari tadi Soo Ra menatapnya dalam diam.

“Kau mengerti maksudku, kan?” Kyu Hyun memelankan suaranya saat bertanya seperti itu pada Soo Ra, memilih memandang ke arah berkas-berkasnya daripada wajah perempuan muda di depannya.

“Aku mengerti perasaan seorang Ayah. Ayahku juga seperti itu padaku, jadi aku paham bagaimana kerja keras kalian untuk anak perempuannya. Aku yakin bisa membuat Hyonnie jadi lebih baik, Hyonnie juga akan masuk senior high school tahun depan, jadi kupastikan Hyonnie akan lulus dengan nilai yang baik.”

Sore itu Kyu Hyun tak banyak bicara mendengar perkataan Soo Ra. Perempuan muda di depannya membuatnya tersenyum dan berterimakasih di dalam hati.

— Ways to Live Forever —

Hyonnie berhasil berkonsentrasi walau lelah, empat dari sepuluh soal berhasil benar dikerjakannya. Maaf hanya bisa membuatnya benar empat soal, aku minta maaf.’-Soo Ra-ssi.

Kyu Hyun heran selesai membaca pesan laporan Soo Ra. Jam di ruangannya sudah menunjukan waktu yang sangat larut, otot badan Kyu Hyun juga terasa kaku karena berjam lamanya duduk menekuni berkas-berkas. Membaca pesan Soo Ra entah mengapa tidak membuatnya tersenyum seperti biasa, ada sesuatu yang ganjil dan mengkhawatirkan.

Kyu Hyun akhirnya menghubungi nomor telepon rumahnya, sambungan telepon terangkat dan itu karena bibi pengurus rumah. “Hyonnie sedang tidur saat aku tiba di rumah, Soo Ra-ssi juga sudah pulang setengah jam yang lalu.”

“Aku juga akan pulang.” balas Kyu Hyun sambil memutus sambungan telepon.

Kyu Hyun merapihkan peralatannya, memasukan beberapa berkas yang perlu dibawa dan sebagian berkas dimasukkan ke dalam laci. Kyu Hyun bergegas meninggalkan ruangan, pulang ke rumah.

 

[tbc]

 

 

Rien Note :

Yuhuuuu~ Rien muncul! Sudah chapter 4 ini~ >.<

Sebelumnya terimakasih buat yang kalian yang sempat komen dan baca FF Rien~ seneng bisa membaca komen kalian dan maaf lagi-lagi belum bisa muncul di kolom komen buat balas komen kalian~ :3

Sedikit bocoran, FF ini akan direncanakan ending di chapter 10, jadi doakan FF ini selesai Rien ketik ya~ karena sebenarnya FF ini sudah ada 8 chapter di lappy Rien~ ^^

Hmm, sekian deh~ sampai ketemu di chapter selanjutnya~ ^^ dan jangan lupa, baca, komen dan sebar FF Rien, yaaa~ ^^

5 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Oct 05, 2017 @ 04:04:14

    part ini dari sudut pandang kyu yaa,,,,
    lanjut

    Reply

  2. amel chomb
    Oct 06, 2017 @ 03:56:19

    Yg ditunggu muncul jg, ayah yg. Sayang bnget sm anak nya, apa munkin nanti song soora bs menjadi ibu ke dua hyonni

    Reply

  3. unknown
    Oct 06, 2017 @ 14:54:57

    Waaaa versi Kyuhyun yaaaa ❤ next chapter ditungguuu ^^

    Reply

  4. Ifah
    Oct 08, 2017 @ 18:26:21

    Bagiannya Kyuhyun

    Reply

  5. amel chomb
    Oct 22, 2017 @ 19:03:18

    Lnjut lg dong author

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: