The Wirata [1/?]

hb.jpg

The Wirata

By Nuhi

***

Tokoh

  1. Leeteuk as Yudhistira
  2. Kyuhyun as Bhima
  3. Heechul as Arjuna
  4. Zhoumi as Nakula
  5. Henry as Sadewa

Genre : Saeguk

Bagian Satu

Al kisah, para pandawa1 terpaksa mengembara dan hidup di tengah hutan karena kekalahannya dalam perjudian melawan korawa2. Para pandawa harus bertahan hidup di tengah hutan selama 12 tahun. Lalu, satu tahun setelahnya mereka memutuskan untuk menawarkan jasa mereka kepada raja yang saat itu memimpin di kerajaan Wirata.

Abad ke-8, di tengah hutan.

Para pandawa duduk melingkar setelah menghabiskan ubi bakar yang menjadi makan malam mereka kali ini. Heechul menguap. Terlihat mengantuk dan matanya memerah, tapi malam ini Leeteuk sebagai anak tertua ingin berdiskusi tentang kelanjutan hidup mereka, akhirnya dia menahan kantuknya dan mengikuti sesi diskusi yang akan dipimpin oleh Heechul.

“Sudah 12 tahun kita tinggal di hutan” Leeteuk memulai percakapan. “Aku ingin kita keluar dari tempat ini dan mencari tempat tinggal yang layak. Menurut kalian bagaimana?”

“Bagaimana apanya, hyung?” tanya Henry.

“Ya, bagaimana menurut kalian jika kita pergi dari sini. Mungkin kalian mempunyai saran atau solusi untuk mengatasi ini. Apa kalian tidak bosan terus-terusan tinggal di tengah hutan”

“Benar sekali kata Leeteuk hyung, aku tidak ingin mati membusuk di tengah hutan”. Heechul menimpali.

“Ah, bagaimana jika kita kembali ke Hatysna” Zhoumi memberi usul.

“Aku setuju”. Jawab Henry dan Heechul kompak.

“Tidak! Tidak bisa! Korawa pasti tidak akan tinggal diam jika kita kembali ke Hatysna”. Leeteuk menolak usulan Zhoumi.

“Tunggu, aku memiliki ide yang bagus”.

“Apa itu, Kyuhyun?” Tanya lainnya.

“Aku dengar di seberang hutan ini terdapat kerajaan. Bagaimana jika kita mencoba untuk menjadi pelayan di sana. Barang jadi kita bisa kembali ke Hastyna tanpa sepengetahuan korawa”.

“Baiklah, aku setuju atas saran Kyuhyun. Lalu, bagaimana dengan kalian, apa kalian juga setuju dengan saran Kyuhyun?”

“Tentu saja, Leeteuk hyung”. Henry menjawab.

“Tapi, masalahnya adalah kita harus menyamar dan menutupi identitas kita. Apa kalian tidak keberatan?” kembali Leeteuk bertanya.

“Tidak apa-apa, kami tidak keberatan” Zhoumi berkata mewakili lainnya.

“Baiklah, besok pagi kita harus siap-siap. Sekarang kalian tidurlah! Selamat malam”.

***

Matahari tampak menyembul di celah-celah pepohonan yang menjulang tinggi. Burung-burung terbang bebas dengan kicauan merdunya. Aliran air terdengar indah dan menenangkan. Dan suhu di pagi hari yang dingin. Dan para pandawa masih terlelap dengan tidur indahnya. Tiba-tiba Henry terperanjat kaget dengan mimpi yang dialaminya. Helaan nafas beratnya memburu. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Tangannya terkepal kuat. Dia lantas terduduk, menghirup udara di sekitarnya banyak-banyak dan tergera. Ah, pusing tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Ah,,” Jerit Henry tertahan sambil memegang kepalanya. Dia berdiri dengan lunglai dan lemas menuju salah satu pohon. Dia menyandarkan kepalanya di situ dengan memejamkan kepalanya. Tidak lama kemudian terdengar gemirik air yang membuatnya kembali membuka matanya. Gemirik air itu rupanya tidak berhenti malah semakin dekat dalam indra pendengaran Henry. Karena rasa penasarannya, Henry mengikuti asal gemericik air tersebut

Dengan langkah mengendap-endap dan hati-hati. Henry rupanya telah sampai di sumber mata air. Namun, tidak ada satupun orang di sana. Dia membalikkan badannya ke belakang. Tepat. Ada kucing hutan yang sedang menumpahkan guci berisi air. Ah, pantas saja. Henry mengendus kesal dan kembali ke tempat semula. Tapi, dia penasaran dengan kucing itu. Kucing itu memiliki kalung kain yang diikatkan di lehernya, setahunya yang mempunyai tanda pengenal seperti itu hanya binatang peliharaan. Sudahlah! Henry tak mau ambil pusing. Dia kembali bergegas menuju tempatnya. Dan syukurlah hyung3-hyungnya belum bangun dari tidurnya.

***

Matahari mulai merangkak ke peraduannya. Semilir angin menghempaskan dedaunan yang mulai kering, para pandawa bersiap-siap untuk menuju ke kerajaan Wirata. Para pendawa membawa beberpa lembar pakaian dan beberapa serat kayu untuk dijadikan bahan menulisnya. Perjalaan mereka tak semulus yang ada di benak. Mereka harus menembus hutan ini dengan medan yang cukup berbahaya. Juga harus menyeberangi sungai yang alirannya deras, di beberapa kaki para pandawa terdapat goresan luka akibat menembus jalar-jalar pohon yang berduri. Parahnya lagi, tangan Leeteuk terkilir akibat terpeleset dari tebing. Apalagi persediaan makanan mereka tinggal sedikit, dan nampaknya perjalanan mereka masih cukup panjang. Bisa jadi mereka sampai di kerajaan Wirata esok pagi, syukur-syukur nanti malam mereka sudah di tempat tujuan.

Leeteuk meringis. Tangannya benar-benar sakit dan rasanya sekujur badannya remuk. Dia menelantangkan badannya di semak-semak. Tak memperdulikan para adiknya yang terus melangkah, juga tak ada niatan untuk memanggil salah satu dari mereka. Dia benar-benar kehabisan tetaga. Bicara pun rasanya tak mampu. Dan sedetik kemudian matanya terpejam. Samar-samar dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya.

“Hyung! Bangunlah!” Teriak Kyuhyun. Para pandawa yang baru sadar akan keadaan yang menimpa Leeteuk cukup terkejut dan membalikkan langkahnya menuju Leeteuk. Raut wajah para pandawa pun terlihat cemas dan khawatir.

Namun, yang dipanggil hyung tak kunjung bangun. Dan kecemasan para pandawa pun terlihat menambah.

Ah, ada apa dengan Leeteuk? ….

To be continue ….

Catatan Penulis: Cerita ini diadaptasi dari kisah yang termuat dalam kitab Mahabarata bagian keempat yaitu Wirataparwa. Wirataparwa sendiri membahas kehidupan para pandwa di kerajaan Wirata. Dan sebenarnya saya pribadi pada awalnya tidak tertarik dengan kisah-kisah Mahabarata tapi dengan terpaksa karena tuntunan mata kuliah akhirnya saya mencoba menbaca kisah Wirataparwa dan akhirnya saya jatuh cinta dengan bagian epos Mahabarata ini. Sempat terbayang seandainya Wirataparwa dijadikan drama, cukup keren menurut saya. Xoxo.

[1]

 

[1]Dalam kitab Mahabarata, pandawa merupakan makhluk yang berwajah tampan. Pandawa (Yudhistira, Bima, dan Arjuna) merupakan anak dari Kunti, sedangkan pandawa (Sakula dan Sadewa) merupakan anak dari Mandri.

2Dalam kitab Mahabarat, korawa merupakan makhluk yang berwajah buruk. Korawa berjumlah 100 merupakan anak dari Destarasta.

3Sebutan bagi kakak laki-laki yang diucapkan oleh adik laki-laki.

1 Comment (+add yours?)

  1. unknown
    Oct 22, 2017 @ 13:44:14

    Wahh.. Bisa juga ya dijadikan begini.. (y) Kerennn

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: