Ways to Life Forever [5/?]

fsd

[Chapter 5] Ways to Life Forever

Author : Rien Rainy (@rienhara_)

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, family, romance

Rated : T

Length : chapter

Note : FF ini juga tayang di http://rienrainy.blogspot.com/ dan di http://rienhara.wordpress.com/ dan juga di wattpad @rienhara_ ^^ jika kalian tidak sabar menunggu tayang di sini, bisa cek di blog dan wattpad^^

— Ways to Life Forever —

Hyo Na terdiam setelah menabrak seseorang yang tak dikenalnya. Kepalanya masih menunduk membuat orang yang ditabraknya merasa kesal karena menganggap Hyo Na tak merasa bersalah. Baru saja si korban akan menumpahkan rasa kesalnya, Dong Hae muncul di belakang Hyo Na. Tatapan tajam Dong Hae adalah sesuatu yang membuat si korban tak berani membentak Hyo Na, gerakan dagu Dong Hae yang mengusir menunjukkan jika dalam keadaan seperti ini Hyo Na mutlak tidak melakukan kesalahan.

Ketika korban Hyo Na pergi, Dong Hae mengernyit melihat perempuan berambut sebahu ini tidak berjalan dengan Jang Mi. Sepengetahuannya, Hyo Na dan Jang Mi tidak bisa dipisahkan sama sekali, kecuali jika Hyo Na ingin sendirian atau Jang Mi yang punya kesibukan.

Hyo Na sebenarnya bukan perempuan pendiam yang senang berjalan-jalan sendirian. Hyo Na perempuan yang ceria dan banyak bicara. Namun, sikap banyak bicaranya hanya muncul pada teman-teman tertentu. Karena tanpa disadari orang banyak, Hyo Na tidak mudah mempercayai orang lain. Perasaan yang tanpa diketahui juga menjadi penghambat Hyo Na untuk bersosialisasi dengan orang baru dan perasaan yang membuatnya selalu sendirian.

Dong Hae memegang sebelah bahu Hyo Na sehingga membuatnya terkejut dan menarik tangan Dong Hae menjauh dari bahunya. “Kau baik-baik saja, Hyonnie?” tanyanya khawatir karena Hyo Na berusaha menghindar.

Dong Hae yakin ada yang tidak beres pada Hyo Na, tentang ketidakhadiran Jang Mi dan cara menghindar Hyo Na yang tentu membuat rasa khawatir yang tidak diundang Dong Hae dengan sepenuh hati langsung merayap ke dalam perasaannya. Karena merasa Hyo Na akan semakin menghindar jika Dong Hae berusaha keras bertanya, maka Dong Hae mengikuti langkah kaki Hyo Na yang terseok-seok.

Hyo Na yakin baru saja menabrak seseorang saat berjalan dan yakin kalau lelaki yang bertanya tadi adalah Dong Hae. Jangan lupakan tatapan khawatir lelaki bermarga Lee tersebut yang membuat Hyo Na menghindar. Hari ini Hyo Na tidak dalam keadaan yang fit, Kyu Hyun juga menyarankan untuk tak berangkat sekolah. Tetapi Hyo Na keras kepala memutuskan untuk tetap berangkat. Tiba di sekolah, Jang Mi menceramahi sikap keras kepalanya dan ingin mengantarkannya ke ruangan kesehatan tetapi, Hyo Na bersikeras untuk pergi sendiri.

…seperti menuruti perkataan Ayah dan ibumu, Hyonnie.’

Tes.

‘… ibumu ada di mana, Hyonnie?’

Kalimat sialan itu kembali mengusik kepala Hyo Na, perkataan Soo Ra menyakitkan jika harus diingat-ingat. Beberapa hari yang lalu adalah hari paling buruk yang pernah dijalani Hyo Na bersama tutor barunya. Tidak pernah dalam kegiatan belajar mengajar bersama tutor, Hyo Na mendengar semua perempuan-perempuan itu menyebut kata ‘Ibu’. Soo Ra adalah orang pertama sekaligus terakhir yang ingin Hyo Na temui, yang membuatnya sesakit ini.

Air mata yang tak mampu dikontrol membuat tubuh Hyo Na kehilangan keseimbangan. Bagaimana kerasnya Hyo Na mengabaikan perkataan Soo Ra malah semakin membuatnya tak bisa menghapus suara Soo Ra tanpa sisa. Ekspresi Soo Ra dan suaranya yang setengah mengejek, mana mungkin Hyo Na mudah melupakannya.

Hyo Na jadi menyayangkan sikapnya yang sempat percaya pada Soo Ra. Bagaimanapun juga, Hyo Na tahu jika Soo Ra sangat tulus membantunya, Soo Ra berbeda dari perempuan yang sering mengaku tutornya. Namun, sayangnya, kepercayaan Hyo Na harus hilang dengan cara menyebalkan, Hyo Na harus menelan pil kekecewaan yang terlampau sakit karena Soo Ra menyinggung sesuatu yang orang lain tidak boleh katakan.

Mendadak kedua kaki Hyo Na lemas, Hyo Na juga lupa berjalan sampai mana. Kepalanya yang berdenyut ditambah pandangan matanya yang jadi mengabur dan membuat benda yang dilihatnya jadi dua, Hyo Na terjatuh. Sebelah tangannya masih bertahan memegang dinding, Hyo Na meyakini dirinya belum tiba di ruangan kesehatan. Ketika pegangannya terlepas dari lantai dan Hyo Na yakin akan jatuh ke lantai, sesuatu yang nyaman segera menampung tubuhnya. Rasanya hangat dan membuat mata Hyo Na terpejam erat, bukan karena rasa nyaman melainkan rasa sakit yang ditahannya sudah membuat dirinya menyerah.

Dong Hae panik ketika tak sengaja bersentuhan dengan kulit Hyo Na yang panas setelah menangkap tubuh Hyo Na. Karena rasa paniknya juga membuat Dong Hae memapah tubuh Hyo Na dan sambil berjalan tak berhenti bibirnya memanggil nama Hyo Na.

“Hyonnie?! Kau mendengarku?!”

“…”

“Oh, Ya Tuhan! Tubuhmu panas sekali, Hyonnie?!”

“…”

— Ways to Live Forever —

‘Saya minta maaf karena telah membuat Hyonnie…’

Soo Ra langsung menghapus kalimat yang diketiknya. Layar ponsel kembali putih bersih. Kursor di sudut layar berkedip-kedip menunggu huruf apa yang akan diketik, menunggu batas keberanian Soo Ra mengirimkan Kyu Hyun pesan berisi permintaan maaf dan menunggu perkiraan jika saja pesannya bisa diselesaikan.

Kegiatan Soo Ra sudah berlangsung hampir setengah jam atau sebenarnya sudah hampir dua hari. Tak ada hasil yang bisa dibacanya pada layar ponsel karena ketika kalimat sudah terbentuk, Soo Ra akan menghapusnya. Selalu seperti itu berulang-ulang membuat Na Hyun yang melihatnya jadi semakin khawatir.

‘Saya mengundurkan diri, saya akan mengembalikan, saya…’

Brak.

Na Hyun berjengkit kaget mendengar suara keras yang diciptakan Soo Ra. Ponsel pintarnya sudah tidak berbentuk, pecah di atas lantai. Alih-alih khawatir pada ponsel Soo Ra, Na Hyun berlari ke arahnya yang sudah menangis histeris. Wajah Soo Ra yang memucat ditambah berat badannya yang juga ikut turun membuat Na Hyun sangat berempati pada Soo Ra, pada rasa menyesal Soo Ra.

Soo Ra punya emosi yang buruk, jika sudah marah atau kesal biasanya Soo Ra akan berkata dengan sangat menyakitkan tanpa berpikir akibat buruknya. Keadaan ini sering dialami Na Hyun dan membuatnya jadi terbiasa dan memaklumi sikap Soo Ra. Karena sekejamnya perkataan Soo Ra, perempuan bermarga Song itu akan menjadi orang yang meminta maaf pada Na Hyun. Namun, semuanya menjadi kesalahan besar karena objek kekesalan Soo Ra bukan Na Hyun, melainkan Hyo Na yang tidak tahu benar sifat Soo Ra.

“Soo Ra-ya.” panggil Na Hyun lembut, Soo Ra berusaha menghentikan tangis. “Berhenti menyalahkan diri sendiri, Soo Ra-ya!” ucap Na Hyun membuat tubuh Soo Ra tegang.

Kedua tangannya gemetar memegang sisi lengan Na Hyun, “Aku tidak bisa, Hyunnie! Aku tidak bisa!” Soo Ra melepas genggamannya untuk memeluk diri sendiri, “aku sudah menyakiti Hyonnie. Aku bahkan bodoh untuk sekedar paham, jika sikap Hyonnie selama ini karena ingin melindungi Kyu Hyun-ssi dan menyayangi ibunya.”

Na Hyun tak banyak berkomentar, sedikit yang dipahami, Na Hyun juga ikut andil membuat salah. Na Hyun sering mencari informasi Kyu Hyun di kampus, setiap ada kesempatan Na Hyun akan sengaja mencari celah cerita. Na Hyun tahu tentang istri Kyu Hyun yang meninggal dan cerita-cerita lain tentang Hyo Na dan Kyu Hyun. Alih-alih memberitahu Soo Ra, Na Hyun hanya bungkam dan berpikir jika hal seperti ini pasti Soo Ra juga tahu. Karena Soo Ra adalah tutor Hyo Na dan artinya Soo Ra tahu tanpa harus diberitahu.

“Aku ikut menyesal tidak memberitahukan semuanya padamu, Soo Ra-ya,” kata Na Hyun lemas, Soo Ra menggelengkan kepala pelan karena baru sadar sikapnya membuat Na Hyun ikut menyalahkan diri sendiri. “Bukan salahmu, Hyunnie. Ini jelas salahku, harusnya aku bisa lebih memahami tentang keluarga Cho. Aku tutor Hyonnie dan harusnya aku bisa mengerti dengan sikapnya dan bukan merasa jengah dan… arght!”

Soo Ra mengacak sebal rambutnya, tak bisa lagi bibirnya berkata-kata. Rasa sesal sudah menguasai, harusnya benar Soo Ra mengetahui keadaan Hyo Na, tetapi alih-alih bisa paham. Soo Ra tidak bisa memahami sikap Hyo Na yang selalu ketus dan menuduhnya macam-macam terkait hubungannya dengan Kyu Hyun.

“Bagaimana bisa sekarang aku menemui Hyonnie? Apa aku harus mengundurkan diri dan mengatakan semuanya kepada Ayah Hyonnie?” kata Soo Ra pelan.

Soo Ra memegang kedua tangan Na Hyun, air matanya turun lagi. “Aku bahkan tidak sanggup mengatakannya pada Ayah Hyonnie, Hyunnie.”

— Ways to Live Forever —

“ … bu … Ibu!?”

Tubuh Hyo Na tertarik sampai membuatnya terduduk. Pupil matanya melebar, debaran jantungnya sangat cepat seperti selesai berlari marathon. Hyo Na yakin baru saja mengejar sesuatu di depannya, di sebuah ruangan putih yang tidak ada batasnya. Hyo Na yakin berdiri di depan seseorang yang sangat dirindukannya dan sangat ingin dipeluknya.

Hyo Na yakin yang ditemuinya adalah ibunya, benar-benar ibunya!

“Hyonnie?”

Hyo Na mendongak, Dong Hae sedang menatapnya khawatir. “Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Aku bisa…”

Hyo Na menggeleng, air matanya turun perlahan ditambah tubuhnya gemetar. Dong Hae tanpa pikir panjang langsung mendekap Hyo Na, berusaha menenangkan perempuan berambut sebahu itu. “Sudahlah, Hyonnie!”

“Hiks. Aku … Aku rasa, aku hampir saja bertemu ibuku, Hae-ya!”

Dong Hae membeku dan didetik lainnya semakin mengeratkan dekapannya pada Hyo Na. “Ibumu selalu bersamamu, Hyonnie. Ibumu selalu didekatmu.”

“Hiks. Hae-ya … Hyonnie rindu Ibu.” Dong Hae tertegun mendengar perkataan Hyo Na, rengekan manja yang sudah lama tidak Dong Hae dengar. Sekelebat ingatan masa kecilnya muncul satu-satu di dalam kepala, ada Dong Hae dan Hyo Na, keduanya masih akur dan terlihat lebih kecil.

“Hyonnie jangan bersedih, nde! Hae akan menemani Hyonnie!”

oo000oo

Satu jam yang lalu Hyo Na kecil masih berdiri di belakang Kyu Hyun, bersembunyi dengan rengutan di wajah. Setelah itu, Hyo Na memilih duduk dipangkuan Kyu Hyun, bermanja pada ayahnya tanpa mempedulikan Dong Hae yang mengajaknya bermain.

Dong Hae menatapnya hangat, memberikan hampir semua mainan dan mengajak Hyo Na bercerita. Namun, tak satupun hal yang diberi Dong Hae bisa menarik perhatian Hyo Na, Dong Hae jadi cemberut membuat ibunya mengelus surai brunette lelaki kecilnya. Karena jangankan Dong Hae yang diacuhkan, kedua orangtua Lee juga tidak mendapat sambutan baik Hyo Na. Perempuan kecil itu sulit sekali didekati karena sangat betah berada di dekat Kyu Hyun.

“Hyonnie mau sama Ayah saja!” teriak Hyo Na saat Kyu Hyun membujuknya bermain dengan Dong Hae.

Namun, semua itu adalah pemandangan satu jam yang lalu. Sekarang Hyo Na dan Dong Hae sudah sibuk sendiri dengan peralatan menggambar. Berbagai macam pinsil warna dan lembaran kertas berserakan di antara mereka, sebagian sudah dipenuhi coretan dan sebagian lagi masih putih bersih.

Hyo Na menarik ujung kemeja Dong Hae, matanya yang bulat memelas tidak sabar, “Hae-ya, gambarnya sudah selesai? Hyonnie mau lihat!”

Dong Hae memberikan hasil gambarnya, wajah Hyo Na tersenyum sumringah. Jemarinya yang kecil menghitung ada tiga gambar kelinci, kernyitan di dahi Hyo Na muncul, “Kenapa Hae menggambar tiga kelinci? Hyonnie hanya minta dua saja?”

Dong Hae menanggapi pertanyaan Hyo Na dengan polos, “Ini keluarga kelinci, Hyonnie,” katanya sambil menunjuk satu persatu kelinci yang ada di dalam kertasnya, menjelaskan kedudukan kelinci-kelinci. “Ini Ayah Kelinci, ini Ibu kelinci…”

“Ibu?”

Dong Hae memperhatikan wajah Hyo Na yang dan untuk anak seusia Dong Hae tentu tidak mengerti apa yang membuat Hyo Na murung. “Hyonnie tidak suka gambar Hae, ya?” tanyanya membuat Hyo Na menggeleng pelan.

“Hyonnie rindu Ibu! Hiks.”

Dong Hae kecil tersentak karena Hyo Na mendadak menangis. Kumpulan orang dewasa langsung menghampiri mereka. Ayah Hyo Na, yang dikenal Dong Hae dengan panggilan Ayah Cho langsung menggendong Hyo Na, menenangkan perempuan cilik yang sudah meronta dalam gendongan sambil meminta ibunya.

Dong Hae juga langsung digendong ibunya yang menatap dengan sedih ke arah Hyo Na bergantian dengan Dong Hae. “Jadi, apa yang Hae-ya katakan pada Hyonnie tadi, hm? Kenapa Hyonnie menangis?”

Dong Hae memiringkan kepalanya, mengingat sesuatu tentang gambar keluarga kelinci, “Hae, hanya bilang tentang keluarga kelinci. Ada ayah kelinci, ibu kelinci dan anak kelinci lalu Hyonnie bilang rindu dengan ibunya. Apa Hae melakukan kesalahan, Ibu?”

Ibu Dong Hae menatap Kyu Hyun dengan serba salah karena kepolosan jawaban Dong Hae membuat Hyo Na rewel dan meminta ibunya, istri Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya tersenyum sendu, memaklumi ketidaktahuan anak kecil tersebut.

Dong Hae mendengar sayup-sayup Kyu Hyun mengatakan, “Ibu nanti pasti pulang, jadi Hyonnie harus bersabar menunggu, nde? Nanti akan Ayah belikan buku cerita sambil menunggu Ibu pulang?”

“Huwe … Hyonnie mau Ibu sekarang! Hyonnie mau Ibu sekarang!”

Dong Hae diturunkan ibunya dalam gendongan, anak lelaki itu menatapnya bertanya, sedangkan ibunya mengelus surai brunette milik Dong Hae dengan lembut. “Jadi, Hae-ya harus menjaga Hyonnie. Ketika Hyonnie menangis karena rindu ibunya, Hae harus membuat Hyonnie tidak menangis lagi, nde!”

Setelah itu ibunya mengambil Hyo Na dari gendongan Kyu Hyun, membawa gadis yang meronta-ronta itu dalam pelukannya dan berusaha membujuknya agar tak menangis lagi.

oo000oo

“Minumlah!”

Hyo Na menerima uluran minuman dari Dong Hae dan menyimpannya di atas pangkuan. Dong Hae menghela napas berat karena tahu Hyo Na belum ingin meminum obatnya. Wajah Hyo Na pucat, tubuh perempuan itu masih gemetar berkat tangisan dan demamnya.

“Jangan bilang Ayah kalau aku pingsan hari ini. Aku tidak ingin Ayah khawatir.” Hyo Na berkata pelan membuat Dong Hae mengangguk, kali ini Dong Hae ingin menuruti keinginan Hyo Na sekaligus bisa dipercaya Hyo Na.

“Tapi kau harus minum obat, Hyonnie!”

Hyo Na melirik obat yang ada di atas meja, tanpa banyak bicara Hyo Na mengambilnya dan melakukan perintah Dong Hae. Semua tampak seperti mimpi, biasanya Hyo Na akan meronta atau yang lebih parah akan tidak peduli pada permintaan Dong Hae, tetapi kali ini Dong Hae merasa bersyukur karena Hyo Na mau mendengarkan perkataannya, tidak mengabaikan atau bersikap masa bodoh pada keadaannya yang lemah.

“Aku akan mengantarmu pulang, Hyonnie.” kata Dong Hae pelan sambil melihat ekspresi Hyo Na, takut juga sikap Hyo Na berubah tiba-tiba. “Kalau begitu ajari aku juga!” sahut Hyo Na membuat Dong Hae mengernyit tidak mengerti.

Hyo Na menidurkan diri sambil memunggungi Dong Hae, “Bantu aku memperbaiki nilai, Hae-ya!”

Dong Hae membulatkan kedua matanya, entah mengapa tiba-tiba merasa berterimakasih pada obat demam yang baru saja diminum Hyo Na. Mungkin saja karena obat itu Hyo Na jadi bersikap baik, entahlah. Tak ingin mengeluarkan suara karena takut Hyo Na hanya mempermainkannya, Dong Hae memandang punggung Hyo Na.

“Kau mau, kan, Hae-ya?” tanya Hyo Na memastikan dan kali ini Dong Hae meyakinkan dirinya. Ini sama sekali bukan mimpi atau khayalan anehnya mengenai Hyo Na, ini benar-benar Hyo Na yang meminta padanya. “Aku akan membantumu, Hyonnie.”

Suara ketukan pintu membuat Kyu Hyun menghentikan aktifitasnya. Kyu Hyun mendongak sambil menurunkan kacamata, “Masuk!” katanya mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu.

Pintu ruangan terbuka, Soo Ra berdiri di ambang pintu. Tampilannya tidak sesegar seperti biasanya, Kyu Hyun baru saja mengingat jika hari ini Soo Ra juga sakit dan meminta izin tidak mengajar. Wajar saja, pikir Kyu Hyun.

“Apa yang membuatmu kemari, Soo Ra-ssi? Kau masih sakit, kan?”

Soo Ra mendadak tidak bisa menjawab padahal di kepalanya sudah tersusun banyak kalimat. Jangankan bicara, tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak sampai Kyu Hyun menegurnya untuk masuk ke dalam ruangan. Benar-benar payah, pikir Soo Ra.

Soo Ra mencoba duduk dengan tenang di hadapan meja Kyu Hyun, namun gagal karena tubuhnya gemetar. Kyu Hyun yang tak sengaja tahu merasa iba, kondisi kesehatan yang memburuk tentu bukanlah keinginan semua orang, pasti Soo Ra merasa tidak enak mengambil libur. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Kyu Hyun karena sejauh ini, Soo Ra sangat mendedikasikan dirinya dalam mengajari Hyo Na.

“Jika kau merasa tidak nyaman karena mengambil libur, kurasa kau harus lebih perhatian pada dirimu, Soo Ra-ssi.” Kyu Hyun menatap Soo Ra lembut membuat Soo Ra kikuk karena Kyu Hyun salah paham. “Kau jangan terlalu bekerja keras. Aku tidak banyak menuntutmu, Soo Ra-ssi.” tambah Kyu Hyun sambil tersenyum kecil.

“Saya hanya …”

“Ah, iya. Hyonnie juga sedang sakit dan memaksa hadir di sekolah. Aku heran kenapa Hyonnie bisa sangat keras kepala?” potong Kyu Hyun tanpa melihat raut tegang Soo Ra. “Apa kalian semacam punya janji untuk sakit dan sama-sama keras kepala, hm?” celetuk Kyu Hyun sambil tertawa dan memandang Soo Ra lurus.

Soo Ra menggeleng pelan, penyebab sakit Hyo Na pasti jelas karena salahnya. Soo Ra jadi menundukan kepala, Kyu Hyun menangkap gesturnya seperti menyesal. “Ah, tidak-tidak! Maksudku, Soo Ra-ssi, aku sedang tidak menuduhmu menularkan sakit!”

Soo Ra menggeleng lagi, “Tidak. Saya … saya sepertinya harus menjenguk Hyonnie hari ini.”

Dasar Song Soo Ra bodoh, cacinya dalam hati. Soo Ra telah salah bicara, sangat salah. Padahal jelas di dalam kepalanya tadi ada kalimat permintaan maaf, tetapi kalimat itu tidak kunjung keluar dari bibirnya. Sama sekali tidak keluar dan berganti dengan alasan paling konyol. Benar-benar payah, caci Soo Ra untuk dirinya lagi.

Kyu Hyun tersenyum, “Kau mau menjenguk Hyonnie?”

Soo Ra sebenarnya ragu untuk mengangguk, tetapi kepalanya kelewat tidak mengikuti perintah otaknya. Kyu Hyun semakin tersenyum, “Perlukah kuingatkan kalau kau juga sedang sakit, Soo Ra-ssi?”

“Eh?” Soo Ra hanya mampu mengeluarkan kata itu untuk menanggapi perkataan Kyu Hyun, setelahnya Soo Ra merasa bodoh. “Maksud saya … saya … umm …” dan selebihnya adalah kalimat tak jelas yang keluar dari bibir Soo Ra, Kyu Hyun entah mengapa merasa terhibur.

“Baiklah. Jenguk Hyonnie saja! Aku sedang tidak menyuruhmu untuk mengajarinya, kalian sama-sama sakit. Bawakan Hyonnie buah jeruk karena Hyonnie hanya suka itu!”

Soo Ra mengangguk pelan, sebagian perasaannya merasa lega dan sebagian lagi panik. Harusnya Soo Ra minta maaf atas semua kejadian yang telah terjadi pada Kyu Hyun, tapi semuanya tidak sesuai rencana. Soo Ra merasa harus menemui Hyo Na, harus mengatakan sesuatu pada perempuan muda itu dan menebus dosa yang dilakukannya.

Bagaimanapun juga ini adalah antara Hyo Na dan Soo Ra, jadi untuk kali ini saja izinkan Soo Ra menyembunyikan hal ini dari Kyu Hyun. Karena Kyu Hyun baik padanya, Soo Ra merasa punya tanggungjawab untuk membalas kebaikannya. Ya, Soo Ra harus menemui Hyo Na walau tahu jika Hyo Na nanti akan menolaknya.

— Ways to Live Forever —

Dong Hae mendudukan dirinya di ruang tengah keluarga Cho. Lima belas menit yang lalu mereka sampai di kediaman Cho. Dong Hae benar-benar mengantar Hyo Na pulang dan misi lain kehadirannya berkenaan dengan permintaan Hyo Na.

‘Tutorku membahas tentang Ibu kemarin. Aku pikir sudah seharusnya aku menggantikannya, dia tidak cocok denganku dan dia tidak tahu apapun tentangku. Aku tidak ingin Ayah ikut sakit sepertiku, jadi cukup aku saja yang tersakiti.’

Suara cangkir yang diletakan di atas meja terdengar, Dong Hae menoleh dan menemukan Hyo Na yang melakukannya. Perempuan berambut sebahu itu masih mengenakan seragam sekolah dan mendudukan dirinya di samping Dong Hae sambil memainkan PSP.

“Kau tidak istirahat saja?” tanyanya membuat Hyo Na menggelengkan kepala. “Kau masih sakit, Hyonnie.” kata Dong Hae pelan membuat Hyo Na melirik sekilas lalu melanjutkan permainannya lagi. “Bukan tubuhku yang sakit, tapi hatiku,” balas Hyo Na membuat Dong Hae menghela napas panjang.

“Apa yang kau inginkan, hm?” tanyanya membuat Hyo Na heran, “Kau aneh? Aku, ‘kan, tidak meminta apapun?” balas Hyo Na membuat Dong Hae tersenyum kecil mengingat salah satu momen di mana Hyo Na kecil selalu merengek meminta kelinci ketika sedang merajuk.

“Aku mengenalmu sangat lama, jadi aku sangat paham jika kau ingin ini atau itu, Hyonnie.” komentar Dong Hae membuat Hyo Na tersenyum getir. “Percuma saja. Apa yang aku inginkan kau tidak akan bisa mewujudkannya, Hae-ya.” balas Hyo Na dengan nada bercanda, tetapi di mata Dong Hae semua perkataan Hyo Na bukanlah candaan.

Hyo Na masih betah memainkan PSP tanpa tahu jika Dong Hae sedang menyalahkan diri sendiri. Atas ketidaktahuan Hyo Na juga, Dong Hae menarik tubuh Hyo Na ke dalam pelukannya. PSP yang digenggaman Hyo Na terlepas, suara musik permainan menjadi pengisi keheningan dan tulisan ‘game over’ menjadi satu-satunya penjelas atas perasaan yang tidak bisa ditahan Dong Hae selama ini.

“Maafkan aku.” Dong Hae bergumam pelan, “Maaf, aku selalu menawarkanmu permintaan dan tidak bisa mewujudkannya.” tambah Dong Hae membuat Hyo Na yang berusaha melepaskan diri dari Dong Hae jadi terdiam.

Hari ini, Hyo Na terlalu banyak memperlihatkan perasaannya dan membiarkan Dong Hae membantunya. Sejak mereka kecil, Dong Hae selalu membiarkan Hyo Na bergantung padanya. Namun, keadaan sudah berubah. Mereka sama-sama meremaja, Hyo Na bahkan sudah tahu ke mana ibunya pergi dan mencoba menghentikan sikap ketergantungannya pada Dong Hae.

Suasana sepi diantara keduanya terusik, seseorang menekan bel rumah. Hyo Na lepas dari dekapan Dong Hae sambil melirik arloji, “Tidak biasanya Ayah pulang menekan bel?” katanya dengan suara yang aneh—menutup rasa canggung.

Dong Hae berdiri dan menawarkan diri untuk membuka pintu, “Kau ganti pakaian saja sana!” perintahnya yang langsung dilakukan Hyo Na tanpa banyak protes.

Dong Hae membuka pintu kediaman Cho dan menemukan sosok perempuan dewasa yang tidak dikenalnya. Song Soo Ra, perempuan itu adalah tamu keluarga Cho, Soo Ra tersenyum hangat ke arah Dong Hae yang keheranan. “Siapa?” tanyanya begitu saja membuat Soo Ra seakan baru tersadar. “Aku … Oh, tunggu, kau temannya Hyonnie?” Soo Ra balik bertanya pada Dong Hae yang mengangguk.

“Aku …” Soo Ra tak bisa menyelesaikan kalimatnya, Dong Hae terlanjut menutup pintu kediaman Cho rapat dan berdiri memandang Soo Ra dengan khawatir. “Noona ini … Noona kekasihnya Cho ahjussi, ya?” pertanyaan konyol Dong Hae tentu membuat Soo Ra menghela napas panjang, lagi-lagi tuduhan yang tidak ingin diidengarnya kembali menyapa.

“Aku tutornya Hyonnie,” balas Soo Ra membuat Dong Hae mengangguk karena merasa lega dan didetik lainnya wajahnya jadi berang, “Jadi, kau yang membuat Hyonnie sakit, ya?” tanyanya tajam membuat Soo Ra gelagapan.

Soo Ra tak pernah menduga jika Hyo Na akan menceritakan ini pada temannya, padahal Soo Ra lebih siap lagi jika semuanya diketahui terlebih dahulu oleh Kyu Hyun. Artinya akan sangat lebih mudah—walau sebenarnya bodoh—untuk diselesaikan, pikir Soo Ra. Bukannya merasa lega Hyo Na tidak mengatakan apapun kepada Kyu Hyun, Soo Ra merasa sangat khawatir pada Hyo Na.

“Aku merasa bertanggung jawab dengan apa yang kulakukan terhadap Hyonnie. Bisa izinkan aku masuk ke dalam, hmm … siapa namamu?” Soo Ra memberanikan diri untuk berterus terang, Dong Hae menghela napas panjang, “Lee Dong Hae. Aku bisa saja membiarkan noona masuk ke dalam dan menemui Hyonnie, tapi Hyonnie tidak dalam keadaan yang baik untuk ditemui saat ini.”

Soo Ra mendengarnya jadi berkecil hati, entah kapan lagi punya kesempatan untuk bertemu dengan Hyo Na. Jika saja Soo Ra tidak membuat masalah ini, pasti sekarang Soo Ra sedang membantu Hyo Na belajar, bukan meminta cuti sakit pada Kyu Hyun dan merasa bersalah. Dong Hae menyadari raut wajah Soo Ra yang muram, Dong Hae juga sebenarnya tidak begitu yakin mengapa perempuan yang terlihat baik di depannya ini bisa melukai Hyo Na dengan keterlaluan.

“Benar-benar tidak bisa ditemui, Dong Hae-ssi?” tanya Soo Ra memastikan, Dong Hae menganggukan kepala pelan, “Hari ini dia menjalani hari yang berat, aku bahkan harus merahasiakan pingsannya dari Cho ahjussi. Aku tidak ingin melihat Hyonnie semakin parah.”

“Pingsan? Hyonnie pingsan katamu?”

Dong Hae mengangguk, “Tapi, kurasa Hyonnie pasti bisa memaafkan noona.” Soo Ra membulatkan matanya, Dong Hae terlihat menerawang langit, “Aku akan membantu kalian. Aku sudah lama mengenal Hyonnie dan perempuan itu sebenarnya sangat mudah memaafkan dari yang noona bayangkan.”

“Tapi, aku sudah menyakitinya. Perkataanku kemarin membuatnya sakit dan aku ragu bertemu dengannya seperti ini.” Dong Hae tersenyum simpati, “Kalau noona ragu, kenapa hari ini memberanikan diri untuk berkunjung, hm?” pertanyaan simple ini membuat Soo Ra membeku.

Soo Ra juga diam-diam mempertanyakan hal yang sama pada dirinya, kenapa harus repot-repot mengunjungi Hyo Na saat dirinya juga sakit dan kenapa harus Soo Ra ragu padahal niatnya tadi bertemu dengan Kyu Hyun sudah bulat sampai harus mengunjungi kediaman Cho. Apa yang salah pada Soo Ra, apa yang salah pada pikirannya saat ini, Soo Ra tidak tahu karena yang jelas Soo Ra merasa bertanggung jawab atas kesalahannya kemarin.

“Masuklah! Hyonnie sedang ganti baju dan kupikir dia pasti sudah duduk di ruang tengah,” ajak Dong Hae sambil membukakan pintu kediaman Cho untuk mempersilahkan Soo Ra masuk.

Mereka tiba di ruang tengah, tetapi Hyo Na masih tidak ada di sana. Dong Hae menyuruh Soo Ra menunggu selagi Dong Hae mengambilkan minum. Iris mata Soo Ra melihat ruangan di sekelilingnya, ruang tengah yang berukuran cukup luas dan bisa menampung kira-kira lima atau enam orang. Ada sofa berukuran panjang berhadapan langsung dengan televisi, di sisi kanan dekat dengan pintu kamar Hyo Na ada single sofa dan berseberangan dengan pintu kamar Hyo Na ada pintu kamar yang diyakini Soo Ra sebagai kamar Kyu Hyun.

Soo Ra melewatkan satu pemandangan yang paling mencolok, yaitu pigura besar yang terletak di belakang sofa panjang. Pigura itu menunjukan ada 4 wajah di dalamnya dan diantaranya adalah Kyu Hyun dan perempuan berambut panjang yang punya tekstur wajah yang mirip dengan Hyo Na dalam keadaan tubuh bagian perutnya membesar, Soo Ra memperkirakan foto ini diambil sebelum kelahiran Hyo Na. Keempat wajah itu terlihat bahagia, Soo Ra bisa melihat senyum Kyu Hyun dan istrinya yang terlihat tulus sambil menyentuh perut perempuan yang mirip dengan Hyo Na.

“Orang yang mengenal ibu Hyonnie akan selalu berpendapat jika Yoon ahjumma mirip dengan Hyonnie. Wajah, bentuk senyuman hingga hal-hal kecil yang tidak terlalu diperhatikan orang banyak Yoon ahjumma diwariskan pada Hyonnie.” suara Dong Hae menggema di ruang tengah, Soo Ra melihat anak lelaki itu sudah menyimpan teh di atas meja, Soo Ra tersenyum kecil.

“Mereka sangat mirip dan pantas jika Kyu Hyun-ssi sangat menyayangi Hyonnie,” komentar Soo Ra membuat Dong Hae mengangguk, “Semua yang mengenal keluarga Cho juga tahu itu.”

“Eun Ha ahjumma meninggal dua hari setelah melahirkan Hyonnie karena penyakit yang dideritanya.” Soo Ra mengedipkan kedua matanya, “Awalnya Cho ahjussi rapih menyimpan rahasia mengapa Hyonnie tidak punya Ibu, tetapi semuanya jadi berantakan ketika Hyonnie mulai masuk playgroup dan muncul pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya.”

“Bukankah ini sudah sangat lama, Dong Hae-ssi?” tanya Soo Ra hati-hati, “Iya, sudah sangat lama dan terlalu lama bagi Cho ahjussi untuk bisa mengikhlaskan Yoon ahjumma. Ditambah lagi, Hyonnie punya rupa yang sangat mirip dengan Yoon ahjumma, bukan hanya Cho ahjussi, tetapi Hyonnie sendiripun merasa tidak bisa menghilangkan perasaan ingin bertemu ibunya.”

Cerita Dong Hae selesai, ruang tengah menjadi lengang. Teh yang belum disentuh Soo Ra uap panasnya hampir menghilang, artinya teh sudah tidak terlalu panas. Soo Ra masih mencerna cerita Dong Hae di dalam kepala, semuanya jadi sangat kusut jika ditambah dengan apa yang sudah Soo Ra lakukan pada Hyo Na. Harusnya Soo Ra tidak pernah menerima tawaran Kyu Hyun atau mendapat pertolongan Kyu Hyun di café kemarin. Soo Ra rasa semua takdir yang tengah dijalaninya membuat seorang perempuan muda tersakiti.

“Aku ragu Hyonnie akan memaafkanku. Aku sangat bodoh bersikap seperti itu kemarin,” kata Soo Ra membuat Dong Hae menghela napas, “Hyonnie seperti ini karena sempat menaruh rasa percaya padamu. Aku yakin, Hyonnie sama menyesalnya sepertimu, noona.”

Soo Ra tersenyum getir karena tahu Dong Hae mencoba menghiburnya. “Terimakasih sudah berusaha untuk menguatkanku, Dong Hae-ssi.”

Pintu kamar terbuka, kedua orang yang berada di ruang tengah melihat satu titik. Hyo Na berdiri di ambang pintu kamarnya, ketika matanya bersinggungan dengan Soo Ra. Tubuhnya berbalik hendak mengurung diri di kamar, Soo Ra menghentikan pergerakan Hyo Na dengan menahan pintu kamar.

“Kenapa? Baru sadar kalau kau menyesal, heh?” tanya Hyo Na datar, Soo Ra mengangguk pelan. “Ma … maafkan aku, Hyonnie. Aku … aku …” Hyo Na membuka pintu kamarnya lebar, permintaan maaf Soo Ra membuatnya tersinggung. “Mudah sekali kau meminta maaf padaku? Ah, aku masih ingat. Kemarin kau juga sangat mudahnya mengatakan hal itu padaku?”

Soo Ra menggelengkan kepala pelan, kemarin jelas emosinya sedang tidak baik dan tidak seharusnya Hyo Na menjadi pelampiasan. Harusnya Soo Ra sadar, tetapi Soo Ra gelap mata saat Hyo Na semakin bertingkah yang aneh-aneh.

“Kurasa aku memang tidak pantas mendapatkan maafmu, Hyonnie. Tapi, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan tugas dari Ayahmu.” Soo Ra habis akal ketika mengatakan hal ini, Hyo Na membeku di tempatnya. “Kau bahkan tidak tahu malu membawa-bawa masalah ini atas nama Ayahku? Benar-benar lucu?”

Soo Ra menggelengkan kepalanya cepat, wajahnya yang memelas menghadap Hyo Na yang tidak menatapnya sama sekali. “Bukan. Bukan itu maksudku, Hyonnie. Kau tahu benar, kan? Ini bentuk balas budiku. Kalian … ah, ya, memang kalian sudah menyelamatkanku di insiden …”

“Aku menyesal ayahku telah membantumu kemarin kalau kau perlu tahu.” sahut Hyo Na tak peduli, Soo Ra sudah menangis dan berlutut di depan Hyo Na. “Beri aku kesempatan, kumohon! Aku harus menyelesaikan tugas ini dan setelahnya kita bisa tidak terikat lagi, Hyonnie. Aku jamin!”

Hyo Na merendahkan tubuhnya, manik matanya memandang Soo Ra dingin. “Benarkah? Benarkah kau bisa menjamin setelah semua ini berakhir, aku … ah, bukan. Keluargaku tidak akan bertemu denganmu lagi, hm?”

Soo Ra mengangguk cepat, demi mendapat kepercayaan dan kesempatan, Soo Ra rela melakukan apapun. “Berjanjilah padaku!” pinta Hyo Na tegas tanpa mengetahui perasaannya sendiri.

Dong Hae yang melihat perjanjian itu sudah dijadikan saksi tanpa permintaan. Dong Hae menyaksikan semua perjanjian antara kedua perempuan itu. Soo Ra menangis sambil menyetujinya, sedangkan Hyo Na tidak menunjukkan emosi yang terbaca. Entah apa yang kedua perempuan itu pikirkan, tetapi hanya dengan melihat saja Dong Hae tahu. Dong Hae sangat tahu akan ada kejadian yang tak terduga di waktu mendatang pada perjanjian mereka.

Nanti di saat yang tepat, kedua perempuan ini atau ada orang lain yang akan sakit mengetahui perjanjian—menurut Dong Hae—bodoh ini. Dong Hae yakin itu.

 

 

[tbc]

 

 

 

 

Rien note :

Annyeong~~!!! Yeheeeyyy~ Sudah chapter 5~~~!!!! >.< itu artinya ada sisa 5 chapter lagi, yeay~!!!

Sejauh ini, menurut kalian, apa momen antara Kyu-Soo Ra dan Hae-Hyo sudah banyak atau hanya seumprit tiap chapter? :3

Rien selalu bertanya-tanya tentang hal ini karena menurut Rien sebenarnya FF ini minim akan momen para pairingnya~ *nangis guling-guling*

Karena jika kalian ingin tahu, sebenarnya awal pembuatan FF ini, Rien ingin memperlihatkan sisi drama-family lewat hubungan Kyu-Hyona, tapi tetep~ harus ada bumbu-bumbu romance dari kehadiran Dong Hae dan Soo Ra >.< entah ini konsep cerita yang aneh atau tidak? Jadi, Rien harap kalian bisa mengerti atau bisa menangkap sesuatu yang tak terlihat jelas pada tulisan Rien ini.

Dan, selalu ditiap tayangnya FF ini, Rien mengucapkan banyak terimakasih pada dukungan kalian lewat komen dan terimakasih yang sama juga buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca FF ini~ :’)

Dan yap~ sampai bertemu lagi di chapter selanjutnyaaaaaaaaaaa~!!!!

4 Comments (+add yours?)

  1. lumina
    Dec 05, 2017 @ 13:53:39

    ditungguu next.chapternya 🙂

    Reply

  2. lieyabunda
    Dec 05, 2017 @ 14:06:06

    turunan kyuhyun tu,,,
    hehehehe
    lanjut

    Reply

  3. amel chomb
    Dec 12, 2017 @ 21:05:40

    Lamanya , ditungguin alhmdulilah updet lg

    Reply

  4. Ifah
    Dec 12, 2017 @ 22:00:17

    Akhirnya ada yang baru, walaupun telat buka😃

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: