Nothin’ Special

fv

Nothin’ Special

Lee Donghae

By Nuhi

***

Apa yang kamu pikirkan saat umurmu yang menginjak dewasa? Melakukan resolusi untuk satu tahun ke depan atau merasakan kepahitan karena umurmu yang tidak muda lagi? Hm, dan kamu tahu apa yang aku rasakan saat umurku menginjak dewasa? Rasanya aku ingin menangis saja, biarlah aku dianggap cengeng, tapi bayangkan saja bagaimana perasaanku saat ini, di umurku yang tidak dikatakan muda lagi, aku belum memiliki calon pasangan paling potensional abad ini. Ah, tidak cantik tidak masalah, asal aku merasakan rasa nyaman saat bersamanya dan rasa saling membutuhkan dan pengertian itu yang paling penting. Tapi, tahulah sendiri zaman sekarang banyak yang cantik tapi perhatian untuk pasangannya sepersekian persen, ada juga yang perhatian namun ujung-ujungnya hanya modus belaka. Sudah biasa.

Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun seperti biasa. Menyiapkan segala keperluan termasuk pakaian yang akan aku kenakan untuk janji kencan hari ini. Ngomong-ngomong ini semua hanyalah akal-akalan Ibu dan kakakku. Padahal hari ini aku merencanakan tidur panjang disertai dengan mimpi bersama gadis cantik. Hihi. Tapi tak apalah, kata Ibu sih gadis yang nanti akan berkencan denganku adalah gadis cantik dan cukup populer, ah masa iya sih? Kalau cantik dan populer mana mungkin dia masih melajang dan mengikuti acara kencan buta ini. Sungguh menggelikan.

Kulihat sekali lagi tampilanku. Cukup memuaskan. Ya bagaimana ya, namanya orang ganteng seperti aku mau menggunakan baju model apapun tetap kelihatan keren. Aku menggunakan kaos hitam dan jaket jeans, dipadukan dengan celana jeans hitam dan bolongan di bagian lutut, ditambah dengan topi yang menghiasi kepalaku. Sedikit informasi tambahan, aku mengecat rambutku dengan warna yang sedikit mencolok, biar menambah kesan cool. Hah, lihatlah, benar-benar keren, bukan? Setelah penampilanku sudah beres, aku segera menuju mobil dan meleset untuk segera menuju tempat yang sudah direservasi oleh Ibu.

***

Aku sudah tiba di tempat yang sudah direservasi oleh Ibu. Duduk di bangku kafe yang langsung menghadap jalan raya, sedikit cemas menunggu kehadiran seseorang yang akan aku kencani hari ini. Dering poselku memberitahukan bahwa ada pesan masuk, aku mencoba membuka pesannya dan ternyata pesan dari Ibu. Ibu memberitahukan bahwa gadis yang akan aku kencani sudah berada di tempat, katanya dia menggunakan baju merah dan rambutnya panjang sepunggung. Aku mencoba melirikkan mataku ke semua penjuru kafe ini, melihat-lihat gadis yang menggunakan baju merah dan berambut panjang. Bingo. Itu dia. Gadis itu duduk membelangkangi arah pandangku. Sebelum aku menghampiri gadis itu, aku mengelap keringat yang berceceran di dahiku. Ah, apa-apaan aku ini. Begini saja sudah cemas dan panik.

Aku menepuk bahu gadis itu, lalu gadis itu membalikkan badan. Hal pertama yang aku tunjukkan saat melihat wajahnya adalah mengangakan mulutku dan mataku seolah-seolah tak bisa berkedip saat melihatnya. Gadis itu pun seolah tersihir dengan kedatanganku. Kamu tahu, hal selanjutnya yang dia lakukan padaku adalah mencakar-cakar tubuhku dan menjambak rambutku dengan sangat brutal. Ish, gadis ini. Aku mencoba menipis tangannya dan sedikit memundurkan posisi tubuhku agar dia tidak bisa menganiayanya diriku.

Lepas dari tindak kejahatan gadis itu, aku malah dihujami dengan tatapan matanya yang seperti membakar tubuhku saja. Menormalkan detak jantung dan mencari posisi yang pas untuk mengajak gadis itu berbicara, aku memilih duduk di hadapannya. Berdehem. Mencoba menormalkan suaraku agar tidak terlihat gugup.

“Hai” sapaku, saat kami sama-sama terdiam, dan mencerna hal apa yang baru saja terjadi. Gadis itu tidak menjawab pertanyaanku, dia malah mendengus kesal dan menyeruput minuman di depannya. Ah, asal tahu saja. Aku rasanya ingin berteriak murka di depan wajah cantiknya, namun aku cukup tahu tentang tata krama di depan umum. Lagi pula aku tidak ingin nama baikku tercoreng gara-gara meneriaki seorang gadis, yang sialnya juga cantik.

Beberapa saat kami terdiam, dia rasanya ingin memulai percakapan. Aku memperbaiki posisi dudukku, dan menunggu dia untuk memulai pembicaraan. Helaan napasnya terdengar berat. Dia sedikit mencodongkan tubuhnya di depanku, tak luput juga tatapan matanya yang menikamku, lalu dia kembali ke posisi semula. Aku yang sudah tak sabar karena keadaan yang mulai canggung ini, memilih membuka pembicaraan kembali.

“Aku tidak menyangka, orang yang akan berkencan denganku adalah dirimu. Sungguh mengejutkan untukku”.

“Yah” hanya kata tersebut yang keluar dari mulut manisnya. Apa-apaan gadis ini, mengapa hanya kata itu yang keluar. Rasa kesalku yang menjadi-jadi, membuatku bangun dari posisi dudukku, dan memberikan senyum getir kepadanya.

“Ah ya, mungkin kencan kita harus batal. Terima kasih telah datang, mantan kekasihku”.

Dan begitulah, kencan pertama dengan gadis cantik yang merupakan mantan kekasihku. Sungguh sial, nasibku.

***

09.00 a.m, hari kedua agenda kencanku yang telah diatur. Katanya sih orang yang akan berkencan denganku berpengalaman dalam hal romansa, apa benar? Entahlah. Pagi ini sebelum aku berangkat kencan, aku berdoa pada Tuhan agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi, dan berharap orang yang nanti akan aku temui bukan orang dari masa lalu kisah cintaku. Kali ini, tempat untuk bertemu dengan orang yang akan berkencan denganku bukan kafe seperti kemarin. Ibu berpesan padaku bahwa orang itu telah menungguku di depan supermarket daerah Gangnam. Aku bergegas menuju ke sana.

Setibanya di sana, aku arahkan arah pandangku mencari-cari orang yang sudah Ibu sebutkan ciri-cirinya saat menelpon tadi. Tapi, sejauh penglihatanku tidak ada tanda-tanda orang yang memiliki ciri-ciri yang sudah diberikan Ibu. Apa Ibu mau bercanda denganku kali ini? Jika iya, ini tidak lucu sama sekali. Dengan rasa jengkel karena tak kunjung menemui partner kencanku. Dari arah belakang, seorang wanita yang jika diperkirakan umurnya sudah memasuki umur ke 50 tahun, namun kulit wajahnya terlihat kencang. Dia memberikan senyuman terbaik untukku, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat. Aku yang masih tidak mengerti, mengikuti saja apa yang wanita itu lakukan, membalas senyumannya dan menjabat tangannya.

“Lee Donghae?” tanya wanita itu, aku hanya mengangguk, dan mengikuti langkah kakinya menuju kursi tunggu di depan supermarket yang sebelumnya wanita itu memberikan isyarat untuk mengikutinya. Jika aku pikir-pikir, mungkin wanita ini adalah Ibu dari anak gadisnya yang akan aku kencani, dan sekarang wanita itu akan mengatakan bahwa anak gadisnya tidak mau berkencan. Hah. Jika benar seperti itu? Apakah benar nasibku sial dalam hal percintaan? Miris.

“Namaku Miranda” wanita itu memperkenalkan dirinya. Aku hanya memperhatikannya, harap-harap cemas menunggu apa lagi yang akan dikatakannya.

“Aku adalah partner kencanmu”

“Hah?” teriakku refleks. Ini diluar dugaan. Ibuku mungkin sedang sakit dan banyak masalah. Mengapa Ibu memberikan partner kencan yang sepantaran dengannya. Apa gadis-gadis muda sudah punah, sehingga yang tersisa adalah wanita setengah abad ini? Huh.

“Maaf, tapi apakah anda tidak salah orang?” tanyaku.

“Tidak! Ah ya, aku wanita yang memiliki banyak pengalaman perihal percintaan. Aku juga sudah paham akan masalah-masalah yang dihadapi para pasangan. Dan kamu jangan khawatir, aku bisa memberikan kepuasan untukmu, anak muda. Haha. Aku cukup terkejut. Kamu rupanya lebih muda dan ganteng dari apa yang aku pikirkan. Bravo. Bravo.”

Aku memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalaku lemah.

“Maaf, Nyonya. Aku tidak bisa melanjutkan acara kencan ini. Terima kasih”.

***

“Tidak lagi, Ibu!”

“Tapi Donghae, Ibu sudah membuat janji dengannya. Ini untuk yang terakhir kalinya”.

“Tapi…”

“Apa kamu mau membuat Ibu malu? Serius, ini yang terakhir. Bagaimana?”

“Baiklah-baiklah. Lalu, di mana aku harus menemuinya?”

“Kamu tunggu saja di restoran tempat biasa kita makan, Ibu sudah memesan tempat untuk kalian. Good luck, my boy!”.

Dan aku dengan tenaga super minim, bergerak menuju restoran. Setibanya di sana, aku melihat seseorang berambut pendek sepundak, dia menggunakan kemeja kuning. Aku secara tiba-tiba duduk di depannya, dan bukan dia yang terkaget karena aku yang bertindak tiba-tiba seperti itu, melainkan diriku yang kaget dan speechles. Ah, tamat sudah riwayat kisah cintaku. Bagaimana bisa Ibu menyuruhku berkencan dengan seorang banci? Tidak. Lebih baik, aku tetap menjomblo saja hingga umurku 40 tahun daripada harus berkencan dengan seorang banci.

***

Aku mengumpat. Rasanya benar-benar ingin marah terhadap Ibu, tapi aku harus menahannya. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Kakakku tertawa cekikikan karena mendengar segala hal yang terjadi terhadapku. Sebenarnya aku punya dosa apa di masa lalu, mengapa kisah cintaku semengenaskan begini? Dan asal tahu saja, 3 patner kencanku tersebut Ibu dapatkan dari biro jodoh online. Ada-ada saja orang tua zaman sekarang.

Selesai

 

6 Comments (+add yours?)

  1. cchioween
    Dec 10, 2017 @ 13:47:36

    Eommaaaaa, kenapa kau seperti ini sama babang donghae :”))

    Reply

  2. journalistface
    Dec 29, 2017 @ 12:21:02

    ceritanya kurang panjang
    seharusnya ada klimaksnyaaa

    Reply

  3. nuhi
    Dec 29, 2017 @ 14:34:43

    mamanya donghae mama zaman now, harap maklum :)) terima kasih sudah membaca karya saya 🙂

    Reply

  4. nuhi
    Dec 29, 2017 @ 14:40:38

    Terima kasih atas sarannya, next time saya bakal perbaiki lagi :))

    Reply

  5. ay
    Mar 02, 2018 @ 19:59:57

    Wkwkwk kasian banget si ongee 😂 sini sini sama aku aja ku juga jomblo HAHA

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: