Retrouvaille

ds

 Retrouvaille

Written By: Ilana hawa

Cho Kyuhyun | Han Jihyun

***

 

~o0o~

 

Mengenakan white tee, denim serta sneakers, Han Jihyun melenggang ringan keluar dari pintu kedatangan bandara Incheon. Dengan satu paperbag berlabel LA, sudah terlihat jika ia baru saja kembali dari Amerika. Walau tidak dengan gaun mewah, make up yang mencolok ataupun rambut yang tertata rapi, ia tetap bisa menarik perhatian beberapa pria yang terus saja mengarahkan mata padanya.

Bukan tanpa alasan gadis itu kembali ke Korea seorang diri. Ia tengah mengambil waktu untuk memikirkan sesuatu yang menguras hati, perasaan juga otaknya. Melarikan diri sejenak dari segala aturan kedua orang tuanya yang memaksakan kehendak agar ia tetap bertunangan dengan pria yang sama. Kepalanya sontak berdenyut sakit, kala mengingat hal menyebalkan itu. Jihyun beranjak ke salah satu kursi, menyandarkan tubuhnya dan membiarkan matanya menatap tanpa fokus pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, sementara pikirannya berlari pada percakapannya dengan sang ayah.

_

   “Bagaimana hubungan kalian? Kau dan pria bernama Donghae itu.”

Jihyun melirik Han Sang Hyuk -sang ayah- sejenak lalu kembali melanjutkan makan malamnya tanpa menjawab apapun. Sudah terlambat menanyakan tentangnya dan Donghae, saat hubungan mereka sudah kandas.

   “Aku tahu alasan kau kabur dan menolak pertunangan yang kulakukan, karena kau masih berkencan dengannya.”

   “Sejak dulu ayah tahu aku berkencan dengannya. Tapi kau tetap melakukan pertunangan konyol itu.” Sahut Jihyun tanpa menoleh.

   “Karena ayah tidak suka dengan pria yang berkencan denganmu.” Jawab Han Sang Hyuk tenang. Sudut bibirnya naik melihat Jihyun memandangnya dengan kesal. “Walau kau sudah mempermalukannya, Tuan Park tetap ingin kau jadi calon menantunya. Karena itu, pertunangan akan tetap dilaksanakan.”

   “Ayah!”

   “Karena kau dan pria itu sudah berpisah, kurasa kau tidak memiliki alasan apapun untuk menolak. Bersikap baiklah pada Park Taejoon setelah itu kembali ke Korea dan pikirkan semuanya.” Han Sang Hyuk mengusap sudut bibirnya dengan kain sebelum akhirnya beranjak meninggalkan meja makan. Meninggalkan Jihyun yang hanya bisa berdesis kesal.

_

Jihyun menarik nafas panjang. Ia tak terkejut sang ayah mengetahui hubungannya dan Donghae yang sudah berakhir. Tidak ada yang tidak pria tua itu ketahui jika menyangkut tentang dirinya.

“Setidaknya aku sudah di Korea saat ini. Kampung halaman jauh lebih baik.” Jihyun bergumam pelan.

Walau baru beberapa menit menginjakan kaki, Korea mampu menghilangkan semua rasa sesaknya selama di Amerika. Demi kedua orang tuanya, Ia harus beramah tamah pada ‘sang calon tunangan’ dan mengiyakan apapun yang pria itu ucapkan. Makan siang bersama, pergi jalan-jalan, menonton film bahkan makan malam romantis ditemani lilin, buket bunga serta alunan musik. Walau sudut bibirnya selalu tersenyum tapi Jihyun mengumpat pria itu habis-habisan. Demi apapun ia tidak menyukai Park Taejoon.

Hampir dua musim di Amerika membuat Jihyun begitu merindukan Korea. Pergi saat negara itu tengah indah dengan daun-daun berwarna merah kecoklatan, dan kembali kala indahnya kelopak Cherry Blossom menghiasi kota. Korea tengah musim semi saat ini. Dan satu hal penting yang membuat gadis itu rindu dengan negara kelahirannya adalah Lee Donghae. Pria tampan bermata teduh itu masih berada dalam mimpinya setiap malam. Menjadi alasannya melamun dan pemilik segala pikirannya. Ia ingin berada ditempat dimana mereka menghirup udara yang sama.

Tanpa sadar, Jihyun memperhatikan secarik kertas yang terus berada dalam genggamannya sejak meninggalkan Amerika.

 

Haru and Oneday’s cafe.

 

Sejujurnya, pria itu yang menjadi alasan utama ia kembali menolak rencana pertunangan. Sesakit apapun perpisahan yang Donghae ucapkan, Jihyun tak bisa lepas dari bayang-bayangnya. Bahkan dia menghubungi salah satu teman untuk mencari tahu apapun yang Donghae lakukan. Dan salah satu info yang Jihyun terima, pria itu membuka sebuah cafe bernama Haru and Oneday. Dan ia berjanji akan mendatangi cafe itu saat menginjakan kaki di Korea. Namun yang terjadi sekarang justru berbeda.

“Seorang pria tidak akan menemui gadis yang sudah dicampakannya.” Jihyun meraba lembut kertas ditangannya. Entah mengapa, saat ini ia tiba-tiba ragu dengan keinginannya sendiri. Jihyun menyadari satu kenyataan, jika Donghae mencampakannya dulu. Dan bisa dipastikan pria itu tak ingin menemuinya.

Kembali menghela nafas, Jihyun membuang pandangannya kesisi lain. Kedua alisnya mengernyit, melihat kaca besar yang menghadap pada pemandangan luar bandara. Sesuatu disana entah mengapa langsung menarik perhatiannya. Bukan sesuatu yang luar biasa, hanya mengetahui jika hari sudah petang. Ia beranjak mendekat dan tersenyum melihat langit Korea yang mulai terlihat semburat kemerahan. Ia selalu suka senja. Semua pikirannya berputar pada kejadian dimana ia dan seorang teman pernah memandang langit Amerika saat matahari juga sedang terbenam. Jarak yang begitu jauh tak membuat langit berbeda dan keindahan saat senja pun tetap sama.

“Kenapa tiba-tiba aku teringat pria bodoh itu lagi?”

Tanpa Jihyun sadari, selama ini matahari terbenam selalu mengingatkannya pada Kyuhyun. Seperti role film, semua yang pernah mereka lewati di Amerika berputar dalam ingatan. Termasuk pada satu kejadian dimana Kyuhyun mengirim sebuah pesan singkat sehari setelah pria itu kembali ke Korea. Sontak Jihyun mengaktifkan ponsel dan mulai serius mencari satu pesan dari banyaknya pesan masuk yang belum sempat terhapus. Sudut bibirnya terangkat saat jarinya terhenti pada pesan yang terkirim dua musim lalu.

   Hubungi aku jika kau kembali ke Korea.

 

~o0o~

 

“Argh sial!”

Dengan tergesa-gesa, Kyuhyun memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk bandara. Melompat keluar dan langsung beranjak masuk kedalam dengan langkah lebar menuju pintu kedatangan. Seseorang baru saja kembali ke Korea dan dia diminta untuk menjemputnya. Namun karena kelas Prof. Kim berakhir sedikit lebih lama, jadilah ia terlambat hampir 20 menit. Langkah Kyuhyun yang cepat kian melambat melihat orang yang akan dijemputnya tengah berdiri dekat jendela di salah satu sudut bandara. Bibir mungilnya tersenyum merekah dan matanya memandang cahaya senja penuh rasa bahagia. Hal yang paling disukainya.

Han Jihyun. Seorang gadis yang dijumpainya pertama kali disebuah cafe saat turun hujan. Gadis yang sempat menarik perhatiannya hanya karena melihatnya tertawa disebuah taman. Gadis yang dijumpainya lagi dibandara saat mereka akan sama-sama terbang ke Amerika. Gadis yang sempat diciumnya disebuah klub malam di LA dan gadis yang bersamanya melihat matahari terbenam dipantai Malibu saat perasaan mereka berdua tengah hancur karena cinta. Dialah Han Jihyun, yang membuatnya merasakan ada tali takdir setelah pertemuan mereka.

Gadis itu hanya mengenakan white tee, denim dan sneakers. Walau tampak santai untuk orang yang baru saja kembali dari Amerika, dia tetap saja terlihat mempesona. Dari tempatnya berdiri, Kyuhyun menelisik Jihyun lebih lekat. Dia terlihat lebih tinggi dari terakhir mereka bertemu. Kulitnya sedikit kecoklatan dan rambutnya yang berubah hitam. Namun ada satu yang tak berubah. Dimata Kyuhyun, Jihyun tetap bisa membuat sudut hatinya tertarik.

Dengan langkan pelan, Kyuhyun beranjak menuju tempat dimana gadis itu berada. Duduk santai sambil menyilangkan kedua kaki dan menatap punggung yang tetap tak bereaksi. Kyuhyun tersenyum mengingat ia seperti orang bodoh saat menerima pesan itu. Jihyun yang selama ini tak bisa hubungi, tiba-tiba memintanya datang ke bandara. Tak dipungkiri, Kyuhyun merindukan Han Jihyun. Ya, walau rasa rindunya tak sebesar saat ia merindukan Serra.

“Lama tidak bertemu, Han Jihyun.”

Seruan itu membuat Jihyun tersentak. Kepalanya otomatis menoleh kebelakang, sementara matanya mengerjap. Disana, duduk sosok tampan dengan pakaian casual yang entah kapan datangnya. Sudut bibir Jihyun terangkat, melihat pria itu tak berubah sejak terakhir mereka bertemu.

“Kau tetap tampan seperti dua musim lalu, Cho Kyuhyun.” Sahut Jihyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Kyuhyun terkekeh pelan.

“Sejak kapan kau datang?” Tanya Jihyun lagi.

“Sejak matahari sore menarik semua perhatianmu.” Kyuhyun menepuk pelan tempat kosong di sisinya. Jihyun berdesis pelan sebelum berjalan menghampiri.

“Apa yang kau lamunkan tadi? Korea pasti mengingatkanmu pada Lee Donghae.”

“Aku memikirkan pria lain.”

“Siapa?” Kyuhyun menoleh dengan cepat. “Kau berkencan dengan pria Amerika?”

Jihyun hanya mengulum senyumnya. Haruskah ia memberitahu pria itu jika tadi ia memikirkannya? Jihyun menggeleng samar. Kyuhyun pasti besar kepala.

“Tapi siapapun dia, aku senang kau memikirkan pria lain. Setidaknya kau sudah bisa melupakan sakit hatimu. Pasti berat berada di tempat yang menyimpan banyak kenangan kalian.” Tutur Kyuhyun tulus.

Jihyun terdiam. Benar, pasti berat melewati setiap sudut Korea yang menyimpan kejadian indah bersama Donghae. Jihyun melirik pria di sampingnya yang tengah memperhatikan langit Korea yang mulai gelap. Walau dirinya dan Kyuhyun hanya sebatas teman, tapi bersama pria itu begitu menyenangkan.

“Karena itu, bisakah kita tetap seperti di Amerika? Aku bisa bertemu denganmu dan menceritakan apapun.” Jihyun menatap Kyuhyun penuh harap.

“Hubungi aku jika kau kembali ke Korea. Aku mengirim pesan itu karena aku serius dengan pertemanan kita.” Ungkap Kyuhyun, sontak membuat Jihyun tersenyum. “Aku ingin memulai semuanya di Korea dan melakukan banyak hal menyenangkan denganmu.”

“Dan hal menyenangkan pertama yang bisa kita lakukan adalah…bagaimana kalau kita merayakannya?” Jihyun mengubah posisi duduknya.

“Merayakan apa?”

“Kepulanganku ke Korea. Kita adakan pesta kecil dengan banyak makanan dan juga soju. Ah! kita akan merayakannya di rumahmu.”

“Kenapa harus dirumahku?” Kyuhyun mengernyit heran.

“Karena aku butuh tahu tempat lain selain rumahku.” Jawab Jihyun lalu beranjak lebih dulu. Gadis itu meninggalkan senyuman yang justru membuat Kyuhyun merasa ada sesuatu yang terjadi.

 

~o0o~

 

“Whoa..” Jihyun keluar dari mobil Kyuhyun dengan mata terbelalak dan bibirnya yang terbuka. Ia tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. “Kau benar-benar tinggal di tempat ini?”

“Kau tidak percaya aku tinggal disini?” Kyuhyun melirik Jihyun lalu melangkah ke pintu belakang mobil, mengambil beberapa kantung makanan untuk pesta kecil mereka.

“Kau pasti kaya raya. Bukankah apartemen ini salah satu yang mewah di Korea?” Jihyun memandang gedung pencakar langit didepannya. Ia tak bisa berkata-kata, mengetahui temannya itu tinggal di apartemen yang memiliki hampir 50 lantai.

Kyuhyun memang kaya raya. Ayahnya adalah seorang pengusaha di bidang teknologi dan memiliki perusahaan besar di Korea juga di beberapa negara lainnya. Pria itu tersenyum lalu menghampiri Jihyun setelah susah payah menutup pintu mobil dengan tangan penuh kantung makanan. Walaupun begitu, ia tak meminta Jihyun untuk membawa sebagiannya. Biarkan gadis itu menenteng paperbag coklat misterius yang entah apa isinya.

“Kenapa? Kau tiba-tiba menyukaiku karena tahu aku kaya raya?”

“Kau pikir aku matrealistis? Aku juga kaya raya!” Jihyun merengut lalu berjalan lebih dulu. Ia bahkan menghentakan kakinya karena kesal. Gadis itu tersinggung? Tidak juga.

Kyuhyun terkekeh di belakang. Jelas Jihyun terlahir kaya raya. Ia putri dari Han Sang Hyuk, seorang pengusaha sukses dibidang arsitektur. Kedua alis pria itu mengernyit, melihat Jihyun tiba-tiba berbalik dan berlari ke arahnya.

“Hei, bukankah apartemen ini ditempati salah satu boyband terkenal Korea? Kau pernah bertemu mereka?”

Kyuhyun bergumam pelan. Kakinya mulai melangkah menuju lobi apartemen diikuti Jihyun yang berjalan mundur didepannya.

“Benarkah? Mereka benar-benar tampan?” Tanya Jihyun antusias.

“Sama seperti yang kau lihat di TV.”

Jihyun mencebikan bibirnya. “Pembohong. Mereka pasti jauh, jauh, jauh lebih tampan daripada di TV.”

Kyuhyun mengangkat bahunya dan tersenyum. Boyband terkenal Korea? Ia bahkan tidak yakin pernah bertemu mereka. Keduanya memasuki lift. Selama itu tak ada percakapan apapun. Jihyun tiba-tiba sibuk dengan ponselnya. Raut wajah gadis itu berubah datar, dan sesekali terdengar helaan nafasnya yang panjang. Ia tak menyadari, Kyuhyun memperhatikannya sejak tadi. Namun pria itu hanya diam mengamati, tak mencoba mencari tahu apa yang membuat Jihyun seperti itu. Bukan saat yang tepat untuk banyak bertanya.

Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Mereka tiba di sebuah lorong pendek yang akan terhubung pada pintu apartemen. Masih seperti tadi, Jihyun berjalan dalam diam. Apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dipikirkan gadis itu, sungguh Kyuhyun ingin tahu. Namun ia hanya bisa menatap punggung didepannya tanpa mengatakan apapun.

“Berapa kode pintu apartemenmu?”

Pertanyaan itu membuat Kyuhyun tersentak. Langkahnya terhenti karena Jihyun tiba-tiba membalikan badan dengan senyum lebar di depan pintu. Perubahan suasana hatinya cepat sekali.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun. Karena mulai menerka-nerka apa yang terjadi dengan gadis itu, Kyuhyun tanpa sadar larut dalam lamunannya sendiri.

“Aku yang akan buka pintunya.” Jihyun menunjuk pintu dibelakangnya.

“Kenapa harus kau yang buka pintunya?”

Jihyun berdecam gemas. “Karena tanganmu penuh dengan kantung makanan, dan aku mencoba membantumu.”

“Kau hanya perlu bawa semua ini, dan aku yang akan buka pintunya.” Kyuhyun mengangkat kedua tangannya yang kerepotan.

“Tidak mau. Kau menyuruh seorang gadis membawa kantung makanan sebanyak itu? Jahat sekali kau Cho Kyuhyun.”

“Kau akan sering menyelinap masuk dan menggangguku Han Jihyun.”

Jihyun berdesis kesal karena Kyuhyun bisa membaca pikirannya. Ia memang berencana akan merusuh di apartemen pria itu. Mengganggunya tidur, bersantai ria dengan semua cemilan dan layar tv yang menyala. Namun saat ini Jihyun hanya bisa merengut, melihat Kyuhyun yang membuka pintu. Pria itu tak menyadari, Jihyun tersenyum lebar mengingat satu rencana lain yang ia sembunyikan.

~o0o~

 

Kyuhyun keluar dari kamar dengan satu Tshirt putih ditangan. Jihyun bilang, ia butuh mengganti baju dan Kyuhyun meminjamkan satu Tshirt miliknya. Gadis itu juga bilang malam ini ia tak ingin pulang. Selain karena kedua orang tuanya yang masih di Amerika, Jihyun tak suka sendirian. Kaki panjang Kyuhyun berderap menuju ruang tamu dimana gadis itu berada sejak tadi.

“Kemana dia?” Kyuhyun terkejut mendapati Jihyun tak berada di sofa. Kepalanya memutar kearah dapur, dan tak menemukan gadis itu disana. Angin malam yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka, membuat Kyuhyun menoleh dan melihat Jihyun tengah berdiri di balkon dengan ponsel di telinganya. Seseorang tengah menelepon. Karena harus menata semua makanan, Kyuhyun berjalan menghampiri.

“Bagaimana ayah tahu? Ayah menyuruh seseorang mengikutiku?”

Kyuhyun menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu balkon, mendengar Jihyun tengah bicara pada seseorang yang dipanggilnya ayah. Karena mungkin itu percakapan serius, Kyuhyun membatalkan niatnya dan berbalik ke arah dapur. Namun satu teriakan Jihyun membuat langkahnya kembali terhenti.

“Tidak bisakah ayah berhenti melakukannya? BAHKAN JAUH DI AMERIKA SANA KAU MASIH BISA MENGATURKU!”

Kyuhyun menarik nafas panjang. Akhirnya, ia bisa tahu apa yang membuat gadis itu sedikit aneh hari ini. Pertengkaran dengan orang tua. Urusan keluarga yang tak bisa Kyuhyun campuri.

“Apa yang bisa kulakukan?” Gumam Kyuhyun sendiri.

Sementara itu, dengan satu tangan mencengkeram pagar balkon, Jihyun menggeram kesal mendengar sang ayah mengetahui ia bersama seorang pria saat ini. Bahkan sebagai anak pun ia tak memiliki privasi.

“Siapa dia? Kau bersama Lee Donghae? Aku menyuruhmu ke Korea bukan untuk menemuinya!”

“Jika aku bisa, aku sudah datang menemuinya ayah.” Ucap Jihyun parau.

“Karena pria itu mencampakanmu? Bukankah sudah ayah katakan, kau tidak memiliki pilihan untuk menolak pertunangan ini.”

“Bukan tidak ada pilihan untukku, tapi ayah yang tidak memberikanku pilihan.”

TUT. Jihyun menutup teleponnya. Ia menarik nafas panjang, mencoba melerai rasa kesal yang bergemuruh. Matanya yang berkaca-kaca menatap lampu kota di kejauhan yang terlihat seperti kunang-kunang. Entah mengapa, hal indah itu tidak bisa membuatnya sedikit lebih baik. Dan dengan bodohnya Jihyun justru merindukan Donghae sekarang. Pria itu selalu bisa membuatnya tenang.

“Kau masih berharap pada pria yang sudah mencampakanmu? Kau pasti sudah gila.” Ucap Jihyun pada dirinya sendiri. Gadis itu mengusap sudut matanya yang basah lalu menepuk pelan kedua pipinya sebelum masuk menemui Kyuhyun.

Bukan benar-benar menemui Kyuhyun dan membantu pria itu menata semua makanan di meja, Jihyun justru meminta izin untuk menjelajah seluruh isi apartemen yang luas. Terlalu luas hanya untuk seorang mahasiswa. Dan disana, selain menemukan hal mencengangkan dengan jumlah kamar, Jihyun juga mendapatkan satu ide menarik di kepalanya

“Apartemen dengan tiga kamar tidur. Apa tidak terlalu luas untuk kau tinggal sendiri?” Tanya Jihyun yang muncul dari arah lorong kamar.

“Temanku kadang menginap.” Sahut Kyuhyun.

“Choi Serra?” Goda Jihyun.

“Kau pikir Serra temanku?”

“Ah, aku lupa dia gadis yang kau sukai. Ya, teman bukan lagi seorang teman, saat ada cinta di antara mereka.”

Kyuhyun tersenyum miring.

“Kau yakin kita bisa menghabiskan semua makanan ini?” Jihyun menarik salah satu kursi dan duduk sambil menopang dagu. Menatap prihatin pada makanan yang penuh di meja makan. Jjajangmyeon. Tteokbokki. Tokkebi hot dog. Donat isi kacang merah. Roti isi telur. Eomuk dan Gryenppang. Bagaimana bisa mereka memesan makanan begitu banyak.

“Ini pestamu, jadi kau harus menghabiskannya.” Jawab Kyuhyun tanpa membalikan badan. Pria itu sibuk berkutat dengan sebuah cangkir.

“Tentu saja. Lagipula soju membuatku bersemangat sekarang.” Jihyun tersenyum sambil memutar-mutar botol soju di depannya. “Aku merindukan minuman ini saat di Amerika.”

“Kau di campakan pria Korea, jadi kau butuh soju untuk melupakan kejadian menyedihkan itu.” Gurau Kyuhyun.

“Kurasa kau benar. Pantas semua minumam yang kutemukan di Amerika tidak bisa membuatku melupakan semuanya.”

Kyuhyun tertawa pelan. Niat ingin menggoda Jihyun tapi siapa sangka gadis itu justru mengiyakan ucapannya.

“Kau sedang apa?” Tanya Jihyun yang heran melihat Kyuhyun terus berdiri membelakanginya, dan hanya terdengar dentingan sendok.

Tak lama pria itu berbalik dan berjalan ke arah meja dengan cangkir yang masih mengepul dan meletakannya tepat di depan Jihyun. Lalu pria itu menarik satu kursi dan duduk disana. Butuh waktu lama bagi Jihyun untuk mencerna apa yang ada dihadapannya.

“Coklat panas?” Tanya Jihyun heran.

Kyuhyun mengangguk.

“Ini bukan malam di musim dingin atau aku baru saja kehujanan. Kenapa kau membuatkanku coklat panas?”

“Karena coklat panas adalah penguat suasana hati yang paling ampuh. Dia bisa melawan amarah, stres, kecemasan dan perasaan hati yang buruk. Coklat panas akan membuatmu merasa lebih baik dalam sekejap.” Kyuhyun menarik botol soju dari hadapan Jihyun. “Dan kau lebih butuh minuman itu di bandingkan soju.”

Jihyun terdiam lalu memalingkan wajahnya. Sadarlah ia jika Kyuhyun mengetahui semuanya. Tidak, dia mendengar pembicaraannya dengan sang ayah.

“Kau menguping ya?” Tanya Jihyun pada Kyuhyun tengah menuang soju pada gelas kecil di depannya dan langsung meminumnya dengan sekali tenggak.

“Bukan menguping, hanya tidak sengaja mendengarnya. Kau bicara terlalu keras tadi. Ah bukan, kau berteriak tadi.” Jawab Kyuhyun sambil menjumput Tteokbokki.

Jihyun menghela nafas. Ia mengumpat dalam hati, kenapa bisa kentara menunjukan apa yang terjadi. Bicara dengan sang ayah memang selalu membuatnya hilang kendali. Tanpa mengatakan apapun, Jihyun mengambil cangkir berisi coklat panas, menghirup aromanya dan meneguknya sedikit. Sesaat tak ada pembicaraan apapun. Kyuhyun kini asyik dengan semangkuk Jjajangmyeon, namun ia tetap menunggu Jihyun mengatakan apa yang terjadi. Sedangkan Jihyun masih berhitung dalam hati, apa ia harus menceritakannya pada Kyuhyun atau tidak.

“Jika sulit kau tidak perlu mengatakannya. Aku juga tidak akan bertanya apapun.” Ucap Kyuhyun memecah kesunyian. “Kadang seseorang butuh waktu untuk menceritakan hal tidak menyenangkan yang ia alami.”

Jihyun tersenyum kecil. “Senang rasanya disaat seperti ini aku tidak menerima banyak pertanyaan.”

“Kita nikmati saja pesta kecilnya.” Seru Kyuhyun lalu mengangkat gelas berisi soju miliknya. “Bersulang untuk kepulanganmu ke Korea.”

“Bersulang untuk pertemuan kita.” Sahut Jihyun lalu mendentingkan cangkirnya pada gelas kecil Kyuhyun.

Keduanya tertawa. Jihyun menyesap coklat panasnya setelah Kyuhyun menenggak sojunya lebih dulu. Perasaannya lebih baik? Ya. Semua rasa kesalnya perlahan menghilang. Entah memang karena pengaruh coklat panas atau karena ia kini memiliki teman yang mungkin bisa membantunya.

Jihyun menjumput Tteokbokki dan mengunyahnya dengan ritme pelan. Ia membuang pandangannya ke sudut ruang tamu, dan disana ia menemukan satu pigura cukup besar berisi potret seorang gadis dengan sweater biru, terlihat merebahkan kepalanya di atas meja bersama tumpukan buku juga laptop yang menyala. Gadis dengan rambut sebahu yang Jihyun tahu siapa.

“Choi serra… Dia juga kembali ke Korea?” Tanya Jihyun yang membuat raut wajah Kyuhyun berubah. Pria itu bahkan menghentikan makannya.

“Aku tidak tahu.” Sahut Kyuhyun pelan.

“Kau ke Amerika karena dia, bukankah seharusnya kau kembali bersamanya?”

“Setelah penolakan cinta waktu itu, kau pikir aku masih memiliki keberanian untuk bertemu dengannya?” Kyuhyun berdecak pelan. “Itu saat-saat paling memalukan dalam hidupku.”

Jihyun tertawa. “Kau saja yang bodoh. Kalian sudah berteman sejak kecil tapi kau tidak bisa mendapatkan hatinya. Selama ini kau tidak melakukan apapun?”

“Sekuat apapun berusaha, karena kami sudah bersama sejak kecil, tidak ada tempat lagi untuk perasaan yang lain.” Jawab Kyuhyun yang terdengar seperti gumaman.

Jihyun mengerjap pelan. Ia menyadari satu hal, jika cinta tak bisa datang walau sudah mengenal begitu dekat seperti Kyuhyun dan Serra. Juga cinta bisa pergi begitu saja walau sudah menghabiskan waktu sekian lama seperti dirinya dan Donghae. Kedua mata gadis itu menatap Kyuhyun yang tengah mengaduk-aduk Jjangmyeonnya tanpa selera. Raut wajahnya berubah dan ada gurat kerinduan dalam pancaran bola matanya. Dia, Cho Kyuhyun merindukan Choi Serra saat ini.

“Setidaknya cinta bertepuk sebelah tangan itu lebih baik daripada kau dicampakan.” Seru Jihyun mencoba menghibur.

“Ya. Sedikit tidak menyedihkan.” Balas kyuhyun.

Keduanya tertawa. Konyol memang. Pengalaman cinta yang berakhir ‘tragis’ membuat mereka bisa dekat seperti ini. Banyak cara bagi Tuhan untuk mempertemukan seseorang, walau harus mengalami kejadian meyesakkan hati dulu.

“Terima kasih untuk coklat panasnya. Perasaanku jauh lebih baik sekarang.“ Jihyun meregangkan tubuhnya yang terasa pegal lalu tersenyum pada Kyuhyun.

“Istirahatlah. Kau bisa tidur di…”

“Kamar kedua sebelah kanan. Itu akan jadi kamarku jika aku ingin menginap.”

“Mwo?” Kyuhyun mengernyit bingung.

“Selamat malam Cho Kyuhyun.” Ucap Jihyun seraya tersenyum lalu berjalan ke kamar. Tak lupa ia mengambil Tshirt putih yang ada di atas sofa.

“Selamat malam.” Balas Kyuhyun sambil memperhatikan Jihyun hingga masuk ke dalam kamar. Ia mencoba mencerna kalimat sederhana yang gadis itu ucapkan barusan.

Tak lama Kyuhyun terkekeh, mengingat Jihyun sudah menjelajah seluruh isi apartemennya tadi. Dia bahkan masuk ke semua kamar yang ada, termasuk kamar pribadinya. Dan Kyuhyun tak bisa melakukan apapun untuk melarangnya. Bukan tidak bisa, tapi tidak mau. Ia hanya membiarkan Jihyun melakukan apapun yang dia suka. Kenapa begitu? Kyuhyun sendiri pun tidak tahu.

 

 

 

 

 

End

 

Desclaimer:

Haiii…masih inget sama aku? Ilana hawa imnida~^^ Kalau sama cerita ini masih inget? Dua orang yang memutuskan berteman hanya karena mereka merasa terikat takdir. Yup, Kyuhyun dan Jihyun. Dan ini, kisah mereka selanjutnya…

Selamat membaca^^

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. Hwang Risma
    May 01, 2018 @ 17:18:41

    Sepertinya sebentar lagi akan ada bibit2/? Cinta diantara mereka kekeke^^

    Reply

  2. Dona Silvia
    May 03, 2018 @ 07:58:20

    haii eonni, punya blog sendiri kah?

    Reply

  3. lieyabunda
    May 03, 2018 @ 12:54:12

    dilanjut dong,,,

    Reply

  4. kylajenny
    May 04, 2018 @ 23:42:45

    Suka bgtttt lanjut teruuus. Kapan pacaraaaan wkwkwk

    Reply

  5. petriCHOr
    May 30, 2018 @ 05:49:48

    Ku tunggu lanjutannya…
    Ini cerita manis & misterius. Mereka bakal jadian kan ya?*ngarep

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: