Ways to Life Forever [7/?]

fsd
[Chapter 7] Ways to Life Forever

Author : Rien Rainy (@rienhara_)

 

***

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, family, romance

Rated : T

Length : chapter

Note : FF ini juga tayang di http://rienrainy.blogspot.com/ dan di http://rienhara.wordpress.com/ dan juga di wattpad @rienhara_ ^^ jika kalian tidak sabar menunggu tayang di sini, bisa cek di blog dan wattpad^^

— Ways to Life Forever —

Cuaca hangat sangat cocok untuk duduk-duduk di luar, bisa di taman atau berkumpul di lapangan luas. Suasana yang menyenangkan ini akan menjadi lengkap jika diisi bersama dengan orang yang istimewa pula. Karena cuaca pula, Kyu Hyun memutuskan untuk menemui Soo Ra di halaman kampus, di mana ada banyak mahasiswa yang berlalu-lalang dan sebagian lainnya berkumpul terlihat sedang duduk mendiskusikan sesuatu atau hanya untuk bercerita satu sama lain.

Kyu Hyun sedang berdiri di sana tanpa melakukan sesuatu yang berarti, matanya yang tersembunyi di balik kacamata sedang memandang berbagai macam tingkah laku para mahasiswa. Sebagian dari mereka sedang tertawa-tawa, sebagian lagi terlihat mual dan pucat—mungkin efek tugas atau apalah itu yang tidak ingin diketahui Kyu Hyun—dan sebagian lagi sedang duduk berdua bersama pasangannya.

Pasangan. Kyu Hyun tak bisa menyembunyikan senyum ketika ingatan tentang Eun Ha muncul. Kyu Hyun tentu pernah merasakan bagaimana suasana kencan di kampus, Kyu Hyun tahu sensasinya dan menjadi rindu ketika bayangan Eun Ha memenuhi kepalanya. Ingatan yang sungguh sulit dilupakan dan Kyu Hyun tidak ingin melupakannya.

“… sen Cho? Ayah Hyonnie?”

Kyu Hyun tersentak, kepalanya langsung menoleh ke asal suara membuatnya bertemu pandang pada Soo Ra. Perempuan muda itu tersenyum sopan dan mengambil jarak senyaman mungkin, “Menikmati pemandangan?” Soo Ra bertanya pelan membuat Kyu Hyun mengubah pandangannya jadi ke depan, “Rindu suasana dulu,” balasnya membuat Soo Ra mengangguk.

Ini adalah pertemuan pertama mereka di luar ruangan. Karena biasanya Kyu Hyun akan menyuruh Soo Ra menemuinya di ruangannya atau di café, jadi Soo Ra merasa ini adalah cara bertemu yang paling baru. Mengingat pesan Kyu Hyun beberapa menit yang lalu, mengajaknya bertemu untuk membicarakan hasil pembelajaran Hyo Na di luar ruangan benar-benar membuat Soo Ra harus berulang kali membaca isi pesannya secara pelan-pelan.

Khawatir salah baca atau sedang tidak fokus, tapi mengingat bagaimana senyum mengayomi Na Hyun sebelum jadwal bertemunya tadi membuat Soo Ra menampar dirinya secara mental. Soo Ra harus mengingatkan lagi pada Na Hyun tentang hubungannya dengan Kyu Hyun. Mereka hanya bertemu untuk membahas Hyo Na, tidak lebih dan kurang.

“Sejujurnya aku khawatir dengan Hyonnie.” suara Kyu Hyun membuyarkan lamunan Soo Ra yang jadi meringis kecil. “Walau kau bilang Hyonnie bisa mengerjakan soalnya dengan baik dan nilainya cukup stabil, aku tetap khawatir Hyonnie gugup saat menghadapi ulangannya nanti.” Kyu Hyun menutup kalimatnya dengan helaan napas panjang, Soo Ra sudah membuang pandang ke arah lain karena ikut merasakan hal yang sama.

“Hm, sejujurnya, aku juga khawatir. Padahal ini hanya ulangan saja, bukan ujian akhir. Posisiku khawatir, tapi tidak bisa bilang pada Hyonnie, jadi aku berusaha menyemangatinya. Bukankah ini terasa aneh?” Soo Ra mengakhiri kalimatnya dengan senyum kecil, “Sepintas Hyonnie mengingatkanku pada diri sendiri. Aku saat remaja dulu, ayahku juga sama protektifnya,” Soo Ra melirik Kyu Hyun yang tidak melihat ke arahnya, “aku jadi merasa melihat jika ayahku pasti pernah khawatir, sama sepertimu.”

Kyu Hyun tertawa, Soo Ra memang pandai dalam berkata-kata dan sangat pintar untuk membandingkan Kyu Hyun dengan ayah Soo Ra. Sejak mereka sering bertemu untuk membahas tentang Hyo Na, Soo Ra jadi akrab dengan Kyu Hyun dan sering memperdengarkan cerita tentang keluarganya.

Tentang sikap overprotektif Ayah dan Ibu Soo Ra yang lebih sering mendidiknya agar mandiri, dua kepribadian yang berbanding terbalik. Mungkin jika Eun Ha ada, sosok Eun Ha bisa dibilang mirip seperti Ibu Soo Ra, yaitu sama-sama tidak ingin anaknya menjadi manja. “Ya, kau benar. Aku hampir mirip seperti ayahmu dan ibumu mirip dengan istriku dan daripada mengkhawatirkannya, aku juga akan mendukung Hyonnie.”

Soo Ra ikut tersenyum dan membiarkan waktu terasa hening, keduanya berdiri tidak melakukan apa-apa, hanya mata mereka yang menatap lurus memperhatikan setiap kegiatan mahasiswa lain.

Suara pintu tergeser membuat Hyo Na mendongak secara panik dan sebelah tangannya menggeser pelan kain yang menutup tempatnya berbaring. Hyo Na sedang mendekam di ruang kesehatan mengingat insiden—konyol—menabrak tiang gawang saat berlari.

Konyol sekali, pikir Hyo Na gemas pada diri sendiri. Sebenarnya Hyo Na memang sering bertingkah konyol, tetapi hari ini tingkat kekonyolannya sangat tinggi, melebihi kapasitas dan membuat siapa saja yang mendengar ceritanya bisa tertawa sampai seabad. Dan lagi, sikap Hyo Na yang sering membolos juga mendadak jadi perhatian Jang Mi untuk dua hari yang lalu. Mana mungkin Hyo Na lupa jika Jang Mi bertingkah seolah pemburu berdarah dingin yang akan mencari hewan buruannya—dalam kasus ini adalah Hyo Na—hingga sudut-sudut kecil sekolah, Jang Mi tidak ingin membuat pengakuan bohong lagi pada Kyu Hyun.

Ya, dua hari terbebas dari kekangan Jang Mi dan hari ini menabrak tiang gawang adalah hal yang aneh dan mulai mengganggu. Dong Hae tidak mungkin pura-pura tak tahu jika Hyo Na mulai bertingkah aneh, lelaki itu secara sepihak membiarkan Jang Mi mengawasi Hyo Na agar tidak bolos dan membiarkan Jang Mi menasehati—atau sebenarnya memarahi—Hyo Na, biarkan hal-hal itu diurusi Jang Mi. Karena hari ini—hari insiden Hyo Na membiarkan keningnya dicium tiang gawang—menjadi bagian Dong Hae untuk bertemu dan menanyakan kabar Hyo Na.

Dong Hae menatap jika ada dua tempat tidur yang ditutup kain, matanya melirik sepatu Hyo Na yang terletak di tempat tidur paling sudut dan dirinya tidak bodoh untuk berpikir jika Hyo Na ada di tempat kedua. Jadi, Dong Hae menghampiri tempat tidur kedua hanya untuk menggertak Hyo Na, kainnya sengaja disibak kuat membuat Hyo Na yang ada di tempat paling sudut menyembunyikan dirinya dengan selimut.

“Hyonnie?” panggil Dong Hae pelan, Hyo Na merinding mendengar suaranya dan sekarang Hyo Na mendengar langkah kaki mendekat ke tempat tidurnya.

Kain tersibak keras, Dong Hae menemukan gumpalan di atas tempat tidur yang berisi Hyo Na, “Hyonnie?” panggilnya lagi dan Hyo Na membulatkan kedua matanya kaget.

Dong Hae menemukannya!

“Aku berjanji akan memarahimu jika tidak keluar dari selimut itu!” ancam Dong Hae membuat Hyo Na membuka selimut hanya sampai leher dan masih memunggungi Dong Hae. “Hyonnie?” panggil Dong Hae entah ke berapa kali, Hyo Na memutar arah tidur hingga berhadapan Dong Hae dan wajahnya dibuat-buat terkejut. “Oh, kau di sini?” katanya terlihat tidak panik.

Dong Hae tidak terlalu menanggapi pertanyaan Hyo Na, diambilnya bangku yang terletak di ujung tempat tidur dan menariknya berhadapan agar bisa duduk di dekat wajah Hyo Na. Suasana canggung menguar ketika Dong Hae duduk dan Hyo Na tidak bisa membuat hal ini jadi berkelanjutan. Jadi, Hyo Na menatap Dong Hae keras untuk membuatnya berbicara, tapi Dong Hae malah menghela napas panjang sambil menatap dahi Hyo Na yang sudah diplester.

“Kenapa bisa kau seceroboh tadi?” tanya Dong Hae membuat Hyo Na memegang bekas luka dan meringis. “Terlalu bersemangat menang, mungkin? Kau ‘kan tahu aku tidak mau dikalahkan sembarang orang?”

Hyo Na jelas membual dan beruntungnya Dong Hae tidak mudah percaya. Karena jelas alasan Hyo Na yang menjadi aneh beberapa hari ini, yaitu rasa paniknya akan menghadapi ulangannya besok. Dong Hae berpikir seperti itu ketika Hyo Na lebih banyak menceritakan hal yang tak penting dan menghindar kontak mata darinya. Namun, tidakkah Dong Hae ketahui sendiri jika selain alasan itu Hyo Na juga sangat ingin menghindar dari Dong Hae.

Dong Hae tidak tahu alasan lainnya!

Hyo Na yang sadar jika Dong Hae belum menyela perkataannya membuat Hyo Na kehilangan kata-kata, membuat mulutnya tertutup rapat. Barulah Dong Hae menghela napas, merasa lelah berhadapan dengan Hyo Na, “Kutanya sekali lagi. Kenapa bisa kau seceroboh itu? Jika kau tidak menjawab jujur, aku akan mengatakan ini pada ayahmu.”

Skakmat. Hyo Na tidak bisa mengelak, tidak bisa berlari keluar ruangan kesehatan dan pulang ke rumah untuk memutuskan berhenti sekolah. Jika sudah seperti ini akan sulit terlepas dari pertanyaan Dong Hae, lelaki di hadapannya terlihat lebih memaksa daripada ayahnya sendiri dan Hyo Na benci mengakui jika Dong Hae lebih banyak mempengaruhinya akhir-akhir ini.

Merasa jika Hyo Na tidak buka suara, Dong Hae mengeluarkan ponsel dan mencari kontak yang selalu disimpan dan berguna di saat seperti ini. Layar ponsel Dong Hae sengaja ditunjukan ke wajah Hyo Na agar tahu jika nomor yang ada di sana benar-benar akan di hubungi Dong Hae, “Jika kau tidak buka suara, aku benar-benar akan menelpon ayahmu dan mengatakan semuanya. Se-mua-nya!”

Hyo Na serba salah, tertekan dan benci Dong Hae mengintimidasi. Hyo Na jelas gusar, Dong Hae sudah menekan simbol telepon yang berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya pada telinga sambil menatap Hyo Na tajam dan memastikan perempuan itu segera berubah pikiran. Jika tidak, semuanya akan berantakan dan Dong Hae akan menyalahkan dirinya sedalam mungkin.

Oh, jadi… Dong Hae mana mungkin akan mengatakan semuanya!

Namun, semuanya telat. Sambungan telepon terangkat, Dong Hae terkejut untuk beberapa detik karena mendengar suara Kyu Hyun dan menjadi normal lagi sambil menatap Hyo Na, “Yeobeoseo, ahjussi?”

Hyo Na membulatkan matanya dan langsung menarik lengan Dong Hae reflex untuk merebut ponselnya. Dong Hae tidak bisa mencegah Hyo Na karena perempuan itu langsung mengambil alih percakapan dan membiarkan semuanya dihentikan.

“Ayah? Ayah mendengarku? Hmm, apa nanti malam kita bisa makan di luar? Ayah pulang cepat, kan?” kata Hyo Na panik dan mulai bertanya.

“…”

“Oh, tidak bisa? Hm, baiklah. Aku akan mengajak Jang Mi dan Dong Hae makan malam di rumah saja, Jang Mi bisa memasak untukku dan … ah, iya, Soo Ra eonni juga bisa memasak untukku.”

“…”

Nde! Sampai jumpa di rumah!” Hyo Na mengakhiri perbincangannya, menutup sambungan telepon dan meremas ponsel Dong Hae dengan harapan bisa meremukan benda tersebut.

“Jadi, kau benar-benar nekad menghubungi ayahku? Oh, tidak kusangka?” kata Hyo Na sambil memberikan ponsel, “Kukira kau benar-benar akan bungkam, aku jadi menyesal. Sungguh.”

Dong Hae memutar matanya, jengah. “Karena kau bersikap aneh, aku tidak bisa melihatmu seperti itu, jadi aku terpaksa melakukannya.”

Penjelasan Dong Hae membuat Hyo Na tersenyum kecut, “Kekanakan. Lagi pula, aku hanya terluka kecil, aku tidak …”

“Tidak apa? Sekarang yang kupertanyakan selain luka kecilmu itu, kenapa kau membolos, eh? Apa maksudmu, Cho Hyo Na?”

“…”

“Kau jadi panik menghadapi ulangan besok?” tanya Dong Hae yang jelas salah sasaran dan Hyo Na bersyukur. Karena Hyo Na tak mungkin menjelaskan alasan detail pada Dong Hae karena tidak mampu untuk mengatakannya apalagi mengingat jelas perkataan Jang Mi.

000ooo000

Hyo Na sudah selesai mengerjakan soal dan sekarang sedang menunggu Soo Ra selesai memeriksanya bersama Dong Hae. Jang Mi juga sudah selesai mengerjakan tugas dan sedang menatap arah pandang Hyo Na yang hanya tertuju pada Dong Hae. Jang Mi yang melihat ini jadi berpikir, apa Hyo Na sadar dengan tingkahnya atau Hyo Na terlalu bodoh untuk tidak menutupi hal-hal yang terlalu jelas seperti ini. Jang Mi jadi punya sedikit kejahilan ketika tahu posisi Dong Hae dan Soo Ra dekat.

Mereka berdua sama sekali tidak peka, pikir Jang Mi sambil terkikik secara mental.

Jang Mi mendekat pada Hyo Na lalu menidurkan kepalanya di atas meja, pergerakan ini membuat Hyo Na tersentak dan mengalihkan pandangannya pada PSP. Jang Mi membiarkan Hyo Na sibuk sebentar dengan PSP karena jika Jang Mi langsung menyerangnya pasti akan sangat membuat Hyo Na meledak-ledak. Dan Jang Mi tidak ingin Hyo Na meledak secara cepat.

“Aku baru sadar, jika Dong Hae dan Soo Ra eonni itu terlihat cocok… hm, seperti itu?” komentar Jang Mi pelan dan berharap hanya Hyo Na yang bisa mendengarnya, tetapi Hyo Na tidak merespon membuat Jang Mi menegakan posisi sambil menutup layar PSP Hyo Na.

“Kau tidak mendengarku? Benar-benar tidak mendengar atau kau hanya pura-pura tidak tahu, hm?” katanya membuat Hyo Na menghela napas panjang, “Berhentilah bercanda, Jang Mi-ya! Leluconmu tidak lucu sama sekali dan berhentilah menggangguku.”

Jang Mi tersenyum kecil, jelas matanya melihat cahaya lain pada pandangan Hyo Na. “Aku memang pernah bilang, jika Dong Hae dan kau cocok, benar-benar sangat cocok. Namun, akhir-akhir ini kulihat Dong Hae lebih tertarik pada Soo Ra eonni. Kau tidak menyadarinya, Hyonnie?”

Jang Mi memperhatikan ekspresi Hyo Na yang mulai fokus pada PSP dan bertingkah tidak mendengar apapun. Jang Mi melirik lagi pada Dong Hae dan Soo Ra yang sedang bercakap-cakap di seberang meja, “Kurasa kau harus berhati-hati. Sekarang target Soo Ra eonni bukan ayahmu, tapi… Dong Hae mungkin?”

Suara musik game mengudara bersama dengan kata game over, ini membuat fokus Dong Hae dan Soo Ra teralihkan. Hyo Na sudah berwajah cemberut dan Dong Hae yang tidak tahu apa-apa menangkapnya sebagai kekesalan tidak menang permainan, “Hyonnie, kau baik-baik saja, hm?” tanyanya membuat Hyo Na mendongak sehingga matanya melihat jelas posisi dekat antara Dong Hae dan Soo Ra.

“Selama ini aku baru mendengarmu game over. Tidak biasanya, Hyonnie?” komentar Soo Ra membuat Hyo Na mengerjapkan matanya, Jang Mi sudah berdehem dan merangkul bahunya. “Kebanyakan berlatih soal, mungkin saja membuatnya tidak fokus bermain game?”

Kedua orang yang tidak tahu menahu kejadian hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda. Hyo Na mendengus kecil, “Kuingatkan lagi padamu. Bercandamu itu tidak lucu, Jang Mi-ya.”

Jang Mi tersenyum kecil, “Aku tidak bercanda, Hyonnie. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat saja dan kulihat kau sepertinya… hm, apa, ya? Cemburu?”

Jang Mi tidak bisa menghindar ketika Hyo Na menutup mulut Jang Mi, Dong Hae dan Soo Ra yang melihatnya ikut turun tangan. Karena Hyo Na terlihat sangat kesal daripada menanggapi apa yang dikatakan Jang Mi dengan candaan.

“Awas saja aku sampai mendengar candaanmu lagi, Han Jang Mi!” teriak Hyo Na yang sudah dibawa menjauh Dong Hae, Soo Ra hanya melihat dua remaja perempuan itu bergantian. Jang Mi yang merasa dilihat pun tertawa, tidak ada rasa menyesal membuat Hyo Na masih kesal bahkan Dong Hae terdengar menasehatinya.

“Ck, jelas-jelas suka kenapa masih disembunyikan, hm? Iya, ‘kan, Soo Ra eonni?” kata Jang Mi yang menyentak Soo Ra, perempuan dewasa itu mengangguk ragu-ragu.

— Ways to Life Forever —

“Jadi, kalian datang bersama?” Hyo Na menatap Soo Ra dan Kyu Hyun di ambang pintu, bergantian.

Dong Hae dan Jang Mi bahkan tidak akan menyangka jika Soo Ra akan pulang bersama Kyu Hyun dan itu artinya akan ada dua orang dewasa yang mengawasi sikap anak-anak. Jang Mi mendadak menyesal ikut belajar karena dirinya sama sekali tidak suka selalu diawasi orang dewasa saat belajar apalagi memasak.

“Kebetulan Ayah bisa cepat pulang dan… bukannya tadi Hyonnie bilang ingin makan malam bersama?” Kyu Hyun masuk ke dalam lebih dahulu, Soo Ra mengikut di belakang dan Dong Hae berdiri di sampingnya dengan tatapan bertanya. “Kenapa bisa?” tanyanya langsung membuat Soo Ra meringis, “Kurasa tidak kujelaskan pun kau sudah tahu, Dong Hae-ssi?”

Jang Mi yang melihat bisik-bisik antara Soo Ra dan Dong Hae memandang curiga dan jadi mendekat hanya untuk bertanya, tetapi dua orang itu malah tidak sama sekali ingin menjawab. “Lebih baik kau persiapkan dirimu, Jang Mi-ssi, karena ayahnya Hyonnie akan makan malam di sini.” jelas Soo Ra lebih masuk akal dan Jang Mi pun teralihkan, Dong Hae bersyukur akan antisipasi Soo Ra.

Jadi, malam ini kediaman Cho ramai, kedatangan Dong Hae, Jang Mi dan Soo Ra ditambah sang pemilik rumah, Kyu Hyun. Makan malam tersedia cukup mumpuni, bersyukur Soo Ra bisa membantu karena memasukkan Hyo Na ke dalam dapur sama saja membuat bom atom yang siap meledak kapan saja. Tentunya, mereka semua tahu seberapa payah Hyo Na dalam mengolah makanan dan Kyu Hyun hanya tertawa untuk menggoda putri semata wayangnya.

Piring berisikan makanan sudah tertata rapih, Soo Ra dan Jang Mi bergantian menyajikannya walau Dong Hae bersikeras untuk membantu, Soo Ra dengan gelengan dan tatapan mata yang hangat secara fasih menyuruh Dong Hae duduk menemani kedua orang bermarga Cho di meja makan, sambil berbincang-bincang tentang masa lalu yang tidak begitu disukai Hyo Na.

Sejenak kediaman Cho terasa ramai dan hangat, Kyu Hyun diam-diam mendambakan kehadiran sosok lain yang selalu diimpikannya setiap malam dan dipikirkannya setiap hari. Melihat Hyo Na makan dan sesekali berbincang dengan dua orang temannya lalu ada Soo Ra selaku tutor yang menemani di samping tempat duduk Kyu Hyun.

Oh, tunggu!

Seketika Kyu Hyun menghentikan acara makannya hanya untuk melihat sekeliling tempat berada. Semua orang-orang berbeda dengan suasana yang selalu diinginkannya, yang bahkan belum sempat dirasakannya saat menikah dan menunggu Hyo Na lahir di muka bumi. Sikap Kyu Hyun tentu saja dilihat Soo Ra dan perempuan bermarga Song itu tahu benar apa yang tersirat diwajah Kyu Hyun.

Rindu.

Soo Ra tidak banyak bicara, selera makannya pun mendadak hilang dan dengan alasan yang berhasil meyakinkan, Soo Ra menyudahi makannya dan mulai menunggu seluruh orang di ruang tengah. Kyu Hyun masih ada di tempatnya, makannya juga tidak habis, Hyo Na terlalu peka untuk tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi Hyo Na diam dan tidak ingin merusak apa yang baru saja dirasakannya hari ini.

Walau aneh dan terasa asing, Hyo Na senang bisa melihat jika meja makannya berisi orang-orang yang disayangnya. Ada Kyu Hyun, kedua sahabatnya dan kursi sisa yang ada di samping tempat duduk Kyu Hyun, yang harusnya diisi ibunya malah diisi Soo Ra. Rasanya Hyo Na harus berterimakasih karena kursi itu berisi dan tidak selalu kosong seperti yang sering dilihatnya saat hanya makan berdua dengan Kyu Hyun.

Malam itu, setelah makan malam selesai. Pembelajaran di mulai, para remaja berkumpul di ruang tengah dan Kyu Hyun mendekam diri di kamar. Tidak melakukan apapun, hanya Kyu Hyun sedang berbaring dan memikirkan perasaannya sendiri. Benarkah rasa ini ada karena terlalu rindu pada istrinya? Atau karena takut kehilangan perasaan pada istrinya?

Kyu Hyun tidak tahu dan tertidur sambil memikirkan perasaannya.

Rasanya Kyu Hyun baru tertidur sebentar dan sekarang Kyu Hyun mengerang karena ada sesuatu yang mengusiknya. Sedikit-sedikit matanya yang masih ingin tertutup jadi terbuka, kilau cahaya menyerobot masuk ke dalam retina secara paksa dan berubah jadi nyaman ketika matanya terbuka semua.

Sosok Hyo Na yang memakai seragam sekolah lengkap sudah membangunkannya, “Yah, bangun! Hari ini aku akan ulangan! Ayolah, bangun! Ayah tidak ingin membuat Ibu menunggu di meja makan, kan?”

Kyu Hyun mengernyit, Hyo Na menarik tubuhnya hingga terduduk dan perempuan remajanya sudah berlari keluar. Kyu Hyun merasa harus memeriksa gendang telinganya karena baru saja mendengar sesuatu yang tak harusnya Hyo Na ungkit atau katakan. Tapi, tubuh dan perasaannya bertindak lebih dahulu daripada akal pikirannya, Kyu Hyun bangkit dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa. Menjeblak pintu kamar dan berlari tergopoh-gopoh menuju ruang makan di mana ada Hyo Na yang sedang bersenandung riang, menyapanya hangat dan menyuruhnya duduk.

Tak jauh dari Hyo Na ada sosok perempuan, dengan apron dan baju terusan yang sedang sibuk di depan kompor, sedang memasak dan memunggungi Kyu Hyun. Perasaan lega dan hangat menyeruak, Kyu Hyun yakin kemarin adalah mimpi dan sekarang adalah kenyataan hidup. Kyu Hyun senang menemukan Eun Ha ada di depan matanya, jadi dengan semangat rindu yang tidak bisa dicegah, Kyu Hyun berlari menghampiri dan memeluk perempuan itu dari belakang.

Namun, secepat pergerakan cahaya, semuanya terasa berbeda. Kyu Hyun harus mematung begitu tangannya tidak bisa mencapai apa yang ada di depan matanya, sosok perempuan yang tidak bisa didekapnya, “Eun Ha-ya? Ke… kenapa aku tidak bisa memelukmu?”

Sosok itu berbalik dan wujudnya seketika berubah menjadi sosok perempuan yang tidak pernah dibayangkannya. Perempuan yang sudah lama selalu membantu Hyo Na dengan tulus dan juga ditolong Kyu Hyun saat insiden pelecehan di café. Mana mungkin Kyu Hyun tahu bisa-bisanya sosok perempuan itu sudah menggantikan wujud istri tercintanya, Song Soo Ra.

“Dosen Cho?” panggil Soo Ra terasa nyata membuat Kyu Hyun langsung tersadar dari tidurnya.

Napasnya tersengal dan jam yang ada di meja nakasnya menunjukkan pukul 4 pagi, Kyu Hyun tak akan bisa tidur jika sudah seperti ini.

— Ways to Live Forever—

Hyo Na melihat keanehan saat makan malam dan berlanjut hingga pagi ini. Jam 4 pagi bukanlah waktu yang tepat bagi ayahnya untuk bangun dan menyeduh kopi, Kyu Hyun baru bangun sekitar jam 4.30 karena jam 4 adalah waktu bangun Hyo Na. Namun, Hyo Na berusaha untuk tidak terlalu khawatir atau bertanya macam-macam karena wajah ayahnya terlihat seperti tidak ingin diberi pertanyaan. Jadi, Hyo Na bungkam secara sukarela dan menemani Kyu Hyun duduk pagi itu.

“Aku perlu mengisi batrai lagi sepertinya?” keluh Hyo Na berusaha menarik perhatian, mereka kini sudah sampai di depan sekolah dan Kyu Hyun sepertinya melamun sambil menatap setirnya.

Hyo Na menatap Kyu Hyun dari samping dan menemukan wajah ayahnya sangat kusut pagi ini, tidak seperti biasa. “Yah, ada apa? Apa… Ayah khawatir hari ini aku… umm…”

Kyu Hyun yang seperti baru terbangun dari tidur jadi menggelengkan kepalanya, jika sikapnya seperti ini besar kemungkinan akan membuat Hyo Na tidak fokus menghadapi ulangannya.

“Tidak, tidak. Ayah tidak apa-apa, sayang. Jadi, jangan pikirkan apapun tentang ayahmu, hm.”

Hyo Na sedikit tersenyum untuk melihat seberapa jujur Kyu Hyun, “Jadi, cara apalagi yang akan Ayah buat untuk mengisi batraiku? Kata-kata penyemangat? Pelukan, mungkin?”

Kyu Hyun mengusir perasaan tidak enaknya sejenak, harusnya dia menjadi pemberi semangat untuk putri kecilnya dan jangan mengacaukan perasaan Hyo Na. Kyu Hyun membuka lebar tangannya, menarik Hyo Na mendekat untuk mendekap Hyo Na sejenak. Lengang, sebelah tangan Kyu Hyun menepuk punggung kecil Hyo Na, “Fighting, Hyonnie!”

Kyu Hyun melepas dekapannya, Hyo Na sudah tersenyum lebar seakan baru saja terlahir kembali dengan semangat yang baru. Kyu Hyun tak segan mengacak rambutnya gemas, ujung rambut Hyo Na sudah memanjang dan tidak sebahu lagi. Mungkin Kyu Hyun akan bertanya pada Hyo Na tentang pergi ke salon atau membiarkan putri kecilnya mencoba memanjangkan rambut cokelatnya.

“Ah, akhirnya batraiku terisi penuh. Sangat penuh!” kata Hyo Na sambil mengepalkan kedua tangannya dan tertawa pada Kyu Hyun yang tertular aura kebahagiaannya.

Pintu mobil bagian Hyo Na terbuka, perempuan itu sudah keluar dan melambaikan tangannya pada Kyu Hyun sebagai ucapan perpisahan. Pintu mobil tertutup, mobil Kyu Hyun belum beranjak dan dari tempat duduknya Kyu Hyun bisa melihat Jang Mi menghampiri Hyo Na dan kedua perempuan itu berjalan bersama memasuki gerbang.

“Ya, fighting, Hyonnie!” kata Kyu Hyun sendirian.

Pintu flat mereka terjeblak dengan cukup keras, Soo Ra sampai meringis mengetahui kecerobohannya pagi ini. Na Hyun yang baru saja keluar dengan raut wajah mengantuk bahkan sampai tidak merasa kantuk, “Yak?! Soo Ra-ya, aku tidak pernah mengajarimu membuka pintu seperti itu?!”

Soo Ra meringis, sepatu yang tersisa digenggamannya masih belum dipasang dan dengan terburu-buru Soo Ra memasangnya. Kepalanya masih muncul di sela-sela pintu dan bisa melihat Na Hyun yang terdengar berbicara sendiri, mengomentari sikap Soo Ra yang tidak biasa.

Mianhae, Hyunnie, aku sedang terburu-buru dan… kuharap para tetangga tidak mengomentari sikapku ini? Ya, semoga saja!” Soo Ra menambahi kalimatnya dengan berbisik dan menutup pintu perlahan.

Pagi ini, Soo Ra terbangun sangat pagi atau sebenarnya hampir tidak bisa memejamkan matanya. Soo Ra yakin dirinya lelah dan merasa khawatir, Soo Ra sudah pernah bilang jika sangat gugup hari ini dan keputusan konyol yang diambilnya adalah pergi cukup pagi menuju sekolah Hyo Na.

“Ah, sebaiknya aku mengirim pesan pada Hyonnie?” Soo Ra tersentak di bangku halte, bus belum muncul sejak beberapa detik tubuhnya terduduk. Ponselnya sudah pada genggaman, jemarinya sibuk mencari nama kontak yang sudah lama disimpan namun belum pernah dihubunginya.

Soo Ra tidak pernah terpikir akan menghubungi Hyo Na walau dari bagian dirinya sangat ingin, Soo Ra merasa tidak ada alasan khusus untuk mengirim pesan pada Hyo Na. Namun, hari ini berbeda, Soo Ra punya alasan untuk mengirim perempuan bermarga Cho itu pesan dan tentu saja untuk menyemangatinya.

‘Hei, Hyonnie? Aku tahu kau tidak menyimpan nomorku. Aku harap ujianmu berjalan lancar dan… temui aku sepulang sekolah. Aku akan mentraktirmu makan (bisa kau ajak Dong Hae dan Jang Mi jika ingin).’—*nomor tidak dikenal*

Jang Mi yang melihat Hyo Na mendengus saat menatap layar ponsel karena mendapat pesan jadi tertarik untuk berlaku jahil, karena tidak ada salahnya dan lagi pula, Jang Mi sebal melihat wajah tertekuk Hyo Na, terlihat antara ingin mual dan pingsan beberapa menit yang lalu. Dong Hae yang ada di dekat mereka hanya diam dan memperhatikan, tidak ingin membuat perasaan Hyo Na kacau dan berakibat buruk pada ulangan nanti.

“Wuah, dari kekasihmu, hm?” celetuk Jang Mi yang sudah mengintip ponsel Hyo Na, “Bukan urusanmu, Jang Mi-ya?!” balas Hyo Na tajam sambil menyimpan ponselnya dan Dong Hae terlihat tertarik mendengar dan melihat secara jelas perilaku kedua perempuan tersebut.

Jang Mi menangkap sinyal keingintahuan Dong Hae jadi tersenyum dalam khayalnya, ternyata menjahil seperti ini bisa membuat dua orang ‘bodoh’ sama-sama terperangkap dengan cara yang sangat efisien. Jang Mi bisa merasakan jika pada sisi kepalanya tumbuh tanduk berwarna merah, “Kurasa Hyonnie kita sudah punya kekasih, Dong Hae-ya?” kata Jang Mi memanasi, Dong Hae sekarang lebih tertarik pindah tempat duduk dan meninggalkan Hyo Na yang sudah ingin memukul Jang Mi.

Ya, semoga ujian Hyonnie berjalan lancar!

 

[tbc]

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: