[Sequel of My Masochist CEO] You Are Reborn

sa

[Sequel My Masochist CEO] You Are Reborn

Written By: Suzy Choi a.k.a MissCaramelizo

 

Cast         :                 Cho Kyuhyun

                                    Kim Geulri (OC)

                                    Jang Seulhan (OC)

                                    Yoo Younghee (OC)

                                    Jang Nara (OC)

Genre    : Married Life, Hurt, Angst

Length  : Oneshoot, Sequel My Masochist CEO

PG            : 15++

A.N          : Ini semacam lanjutan yang My Masochist CEO tapi versi happy end. Di wattpad sama di blog banyak yang request, hehehe, gamsahamnida chingu^^~

..

.

“Cinta ini tak seberapa, hanya lebih dalam satu jengkal dari samudera. Maka dengan pelukan ini kuharap kau bisa mengerti isi hatiku dan apa yang tersirat disana. Dan aku harap kamu sadar bahwa aku tak sedangkal kubangan air. –Jang Nara

Story begin~~

Author POV

Secanggih apapun zaman berkembang, denting sebuah jam dinding di ruangan itu rupanya tak bisa tergantikan, persetan dengan jam canggih yang bisa membangunkan pemiliknya dengan musik menghentak. Apartemen itu masih sepi, hanya detik jam yang terdengar. Dua buah jarum panjang dan pendek itu bertemu di angka 11 membentuk sudut kurang dari 10º. Matahari sudah dengan sombongnya menyinari bumi, termasuk kisi-kisi jendela yang tak tertutup gorden seluruhnya itu. Kyuhyun, tak peduli akan hal itu, yang ia pedulikan sekarang hanya hatinya. Hatinya yang hampa tanpa seseorang disana.

Pisau dapur yang kemarin ia gunakan masih tergeletak disana, berpelurus dengan kaki sofa, masih dengan tetesan darah yang tergenang. Darah? Oh tunggu dulu, Kyuhyun tidak akan sebodoh itu memotong nadinya, karena kematian adalah hadiah terbesar untuk jiwanya yang merindu sosok disana. Kyuhyun tak akan semudah itu memberikan hadiah kepada jiwa yang sudah menyia-nyiakan cintanya hingga pergi, meniada.

Masochist masih terpendam dalam lubuk hati terdalam seorang Kyuhyun. Goresan pisau dapur di sepanjang lengannya justru mampu menorehkan senyum di wajah yang beberapa hari ini murung.

Sesaat, dering sebuah smartphone menyita perhatiannya. Dia melihat nama pemanggil. Tak ada. Dengan ogah-ogahan, dia menggeser lambang telepon hijau itu hingga suara orang di seberang sana terdengar.

“Kyuhyun-ah? Gwenchana?” Seseorang menyaut dengan nada khawatir.

“Eung..” gumam Kyuhyun.

“Aku memesan satu mangkok jjajangmyeon ke apartemenmu. Mungkin sebentar lagi akan datang. Makanlah. Ne?” cecar namja yang akhir-akhir ini baru dia ketahui sebagai samchon iparnya –Seulhan. Belum Kyuhyun memberi sautan, sambungan itu terputus.

***

‘DING..DONG..DING..DONG..’

Bel apartement Kyuhyun berbunyi, Kyuhyun masih enggan beranjak dari tempatnya. Dan diluar yang dia duga, pengantar jjajangmyeon itu membuka pintu apartemennya yang memang tidak dia kunci beberapa hari ini. Siapa tahu Geulri akan pulang –pikirnya.

Annyeonghaseyo.. Saya pengantar jjajangmyeon,” sapaan ramah perempuan dengan rambut dicepol ke atas itu.. hingga ia menyadari sesuatu di dalam apartement itu. Dia terpaku tepat di tempatnya berdiri, sendi-sendinya untuk sementara disulap jadi es.

Bukannya berteriak histeris seperti yeojayeoja lain, dia malah bergegas, dia meletakkan box besi jjajangmyeon ke lantai, kemudian mendatangi namja yang terduduk damai di sofa dengan tatapan hampa. Dia coba meraba nadi di leher namja itu. Matanya terarah ke bawah, beberapa bekas darah baik yang kering ataupun yang masih basah ada di lantai dan tangan.

“Bodoh,” umpat yeoja itu tanpa peduli tatapan mengintai Kyuhyun.

“Geulri-ya.. Kamu Geulri? Kapan kamu pulang? Memasaklah untukku. Aku lapar,” ucap Kyuhyun lirih.

“Geulri siapa? Aku Nara, pengantar jjajangmyeon. Dimana box P3K mu? Lenganmu berdarah,” ucapnya sambil berlalu menuju dapur. Biasanya orang kaya akan meletakkan P3K di laci dapur.

Ketika sedang menggeledah setiap laci dapur, ia dikagetkan dengan kemunculan namja di belakangnya. Masih dengan tatapan kosong.

“Geulri, kamu lupa ya, kamu meletakkan P3K di laci bawah meja, dekat dengan tempatku duduk tadi,” celoteh Kyuhyun diakhiri seringaian.

Tanpa peduli dia dipanggil Geulri atau siapalah itu, Nara menuju laci yang dimaksud. Membawanya ke tempat semula Kyuhyun duduk. Dia membuka botol berwarna kuning untuk membersihkan luka, memberi sedikit obat merah, kemudian menutupnya dengan perban luka yang tersedia. Nara agak heran. Pasalnya, dengan keadan rumah serapi ini tanpa ada resiko terluka, tapi peralatan untuk perawatan lukanya sangat lengkap.

“Aku akan menelpon ambulans. Sepertinya ada lukamu yang lebih parah daripada luka lengan itu. Ohiya, itu tadi jjajangmyeonmu. Makanlah selagi kau menunggu ambulans. Annyeong,” cecar yeoja itu semangat kemudian berlalu meninggalkan apartemen Kyuhyun.

***

Senja sudah tak begitu berpengaruh pada Kyuhyun. Dia perlahan mulai bangkit dari ketergantungannya pada Geulri yang tak sungkan melayaninya dengan setulus hati. Kini dia lebih terbuka terhadap lingkungan sekitar tempatnya bekerja. Menjadi seorang pebisnis di Korea cukup mengalihkan perhatiannya dari yeoja yang sudah lama berpulang itu. Sekarang dia sedang duduk di coffee shop terkenal dekat kantornya. Hanya duduk tanpa melakukan apapun. Seulhan yang menyuruhnya datang ke tempat itu, setelah berdebat panjang pasca insiden pengantar jjajangmyeon yang berakhir dia dibawa ke rumah sakit dan terpaksa opname berapa hari.

“Aku serius, yeoja pengantar jjajangmyeon itu Geulri. Aku tak mungkin salah lihat. Aku ingin menemui Geulri,” ucap Kyuhyun saat Seulhan menjenguknya di rumah sakit.

“Kyuhyun-ah, Geulri sudah tiada. Jangan bercanda,” ucap Seulhan diakhiri helaan napas panjang.

“Younghee-ya, apakah kehilangan yang dialami Kyuhyun sebegitu parah hingga dia begini?” tanya Seulhan pada Younghee, yeojachingunya yang juga dokter Kyuhyun.

“Hm.. Geusse.. coba kamu temukan yeoja yang dimaksud Kyuhyun. Siapa tahu bisa membantunya,”

Pandangan Kyuhyun beralih dari sidewalk yang ramai di luar ke meja di belakang mesin pembuat kopi itu. Gadisnya datang. Geulri-nya datang. Dia memakai pakaian seperti teman-temannya, dengan ramah menyapa pengunjung, membuatkannya kopi, sesekali bercanda dengan rekan kerjanya. Senyum teduhnya dan tawa renyahnya cukup menonjok ulu hatinya. Seumur-umur Khyuhyun belum pernah melihat Geulri-nya tertawa serenyah itu. Yang dia lihat hanya senyum teduh dan meneduhkan, tidak lepas.

Kyuhyun mendial nomor Seulhan, “terimakasih hyung, aku akan mendapatkannya,” ucapnya lalu menutup sambungan secara sepihak.

Kyuhyun masih duduk di tempatnya. Hingga Nara –yeoja itu mendatanginya. “Annyeong.. Kami akan tutup, apakah anda masih mau disini dan memesan sesuatu?” ucapnya diakhiri senyum ramah.

Kyuhyun tersenyum segaris, meninggalkan kartu namanya dan beranjak dari tempat duduknya, pulang.

Nara membalasnya dengan senyum lebar, “Selamat malam, terimaksih sudah berkunjung ke coffeeshop kami.. Annyeonghaseyo..”

Pandangannya teralih ke meja, disana ada kartu nama, Nara mengambilnya, melihat nama yang tertulis disana ‘Cho Kyuhyun’. Nara membolak balikkan kartu nama itu dan berusaha menebak biaya cetak kartu nama sebagus itu, mahal.

***

Seorang namja berpakaian rapi dengan setelan jas hitam gelap dan sebuah headset spy terpasang di salah satu telinganya. Dengan berjalan cepat, dia menuju lift dan menekan tombol dengan angka tertinggi disana, ruang CEO. Setelah mengetuk pintu dia memasuki ruangan yang didominasi warna monokrom dan beberapa keramik megah di sudut-sudutnya. Namja itu menyerahkan map cokelat.

“Itu hasil pengamatan saya terhadap Nara, sajangnim..” ucapnya dengan raut wajah tegas.

“Hahaha.. Jangan tegang begitu Taemin-ah, santai saja, sekarang jelaskan, aku malas membuka map membosankan itu,” kata Kyuhyun dengan tawa sumbang yang terdengar mengerikan.

“Jang Nara, seorang pekerja part-timer. Dia bekerja di dua tempat berbeda, full tujuh hari seminggu. Dia mahasiswa teknik informatika yang cuti kuliah untuk mengumpulkan uang karena dia yatim piatu sekarang. Adiknya masih sekolah,” jelas namja itu.

“Huh.. baboya..” dengus Kyuhyun sambil melempar map itu ke dada Taemin.

Kyuhyun berdiri, memutari mejanya, menuju tempat Taemin berdiri. Tangannya menjelajah ke sekililing, dan hap, dia mendapatkan sebuah tongkat baseball disana.

BUGH’

Kyuhyun tak segan memukul tulang kering namja itu dengan tongkat baseball. Sedang namja yang dipukul hanya terpaku di tempat, raut wajahnya menyiratkan kesakitan yang mendalam. Dia tahu, sajangnim-nya itu menderita sindrom untuk selalu menyakiti, jadi jangan nampakkan kesakitanmu di depannya agar dia tak semakin menjadi-jadi.

“Kau pikir.. aku membayarmu 100 juta won untuk mendapat informasi itu, HAH?!!” Kyuhyun menyeringai dan melempar tongkat baseball itu sembarang arah.

Jeosonghamnida sajangnim. Aku akan segera mengumpulkan informasi yang anda butuhkan, segera,” ucapnya masih dengan ekspresi tegang.

Kyuhyun mengangguk kecil, tanpa disuruh dua kali, mata-mata itu pergi meninggalkan ruangannya. Kyuhyun kembali menduduki kursi kebesarannya, sesekali matanya menatap smartphonenya, ragu-ragu dia mendial nomor restoran jjajangmyeon yang dipesankan Seulhan dulu. Setelah mengucapkan pesanannya, dia menelpon kembali memberitahu sekertarisnya –Seulhan, untuk membiarkan Nara ke ruangannya tanpa halangan security.

Kyuhyun mengetukkan ujung jari telunjuknya ke meja, tepat pada ketukan ke-enam ratus, pintu ruangannya terketuk, dan tanpa menunggu lagi, wajah yeoja yang sudah mengalihkan perhatiannya akhir-akhir ini muncul dibalik pintu yang bercat hitam itu.

Annyeonghaseyo.. Saya pengantar jjajangmyeon, silahkan menikmati jjajangmyeonnya,” ucapnya sambil meletakkan dua paket jjajangmyeon ke meja di dekat sofa.

Kyuhyun masih bersedekap sambil bersandar ke sofa itu, memperhatikan dengan saksama saat jari-jari lentik itu menata makanan di meja, persis Geulri yang selalu menyiapkan makanan untuknya.

Gomawo,” gumamnya samar.

“Iya sama-sama, makanlah yang banyak, aku pergi dulu Kyuhyun-ssi,” ucap yeoja itu diakhiri dengan tepukan lembut di pundak Kyuhyun. Kyuhyun menyeringai, yeoja ini membaca kartu namanya yang dia tinggalkan di meja coffee shop beberapa hari yang lalu, dan bagusnya lagi yeoja ini mengingat namanya.

Sebelum kaki jenjang yang dibalut jeans belel itu melangkah, Kyuhyun meraih tangan Nara. “Makanlah denganku, kamu pasti belum makan siang,” ucap Kyuhyun dengan tatapan memohon.

Nara tersenyum lepas, “Kau sungguh peka terhadap keadaan lambungku, hahaha, ayo, aku sangat lapar.”

Kedua anak manusia itu makan sambil duduk melantai. Hebat sekali Nara, bagaimana tidak, seorang CEO arogan yang suka menyakiti diri sendiri mau-maunya duduk melantai menikmati jjajangmyeon dengan lahap ibarat dia belum makan selama seminggu.

Pandangan Kyuhyun beralih ke Nara yang makan dengan belepotan. Satu tangannya yang bebas meraih beberapa tisu, kemudian menjulurkannya ke hadapan Nara. Sekilas ingatannya tentang Geulri melintas secepat flash kamera. Kyuhyun mengurungkan tangannya. Kyuhyun meringis kesakitan, sakit yang abstrak, tidak diketahui sumbernya.

Nara mendongak, melihat Kyuhyun yang kelihatan kesakitan, dia mengernyit. “Kau tak apa-apa?” ucapnya masih dengan mulut penuh mie. Saat dia selesai meneguk air minum, teleponnya berdering, bossnya mengatakan kalau dia harus mengantarkan jjajangmyeon segera atau dia akan kehilangan bonus 8000 wonnya. Nara menepuk jidatnya, pantesan bosnya itu sampai menelpon, Nara sudah berada di ruangan Kyuhyun sejak 15 menit lalu. Dengan serabutan dia mengambil segumpal tisu kemudian mengusapkan secara asal ke bibirnya.

Gamsahamnida Kyuhyun-ssi, aku sangat kenyang sekarang, aku pergi dulu,” ucapnya sambil kembali menenteng box jjajangmyeon, keluar dari ruangan Kyuhyun.

Dengan tergesa, dia kembali ke lobi kantor yang berlantai puluhan itu, kemudian meletakkan box itu di belakang. Menaiki motor matic itu, kemudian menstarter, dan melaju kencang membelah kota Seoul yang padat itu. Entah karena terburu atau dia tidak konsen, dia menabrak sebuah mobil yang berlawanan arah dengannya. Dia terjungkal dari motor. Meskipun tak mendapatkan luka serius, tapi mobil yang ditabraknya tergores parah. Motor bosnya juga lecet dengan spion patah.

Sambil mengaduh kecil, dia bangkit, mendirikan motor, kemudian menengok ke dalam mobil yang ditabraknya. Di dalam, seorang namja sedang duduk tenang. Dia mengetuk kaca mobil itu, menyuruhnya turun.

Seulhan –namja itu turun. Dia memperhatikan mobil kantor yang lecet. Dia menggaruk dagunya yang tak gatal.

Jeosonghamnida tuan, saya tidak sengaja menabrak mobil anda, sekali lagi maafkan saya,” ucap Nara sambil membungkuk 90 derajat.

Seulhan hanya tersenyum kecil. Tak menyangka yeoja muda yang dia tabrak justru meminta maaf atas kesalahan yang bukan dia penyebabnya. Sebelum bibirnya berhasil mengucapkan kata-kata, smartphonenya berdering. Kyuhyun adalah nama penelpon.

Yeobseo.. Ada apa Kyuhyun-ah?” ucapnya dengan senyum, adik iparnya itu sekarang tidak begitu kaku seperti dulu, dia dengan santai berbicara banmal.

“Kau.. Kau apakan mobilku hah?!” gertak Kyuhyun di seberang sana. Uh.. ralat, tak sepenuhnya Kyuhyun berubah. Seulhan mengitari penjuru jalan, dan mendapati Kyuhyun sedang terduduk di balik kemudi di ujung jalan.

“Ditabrak,” ucapnya singkat. Mari kita tunggu reaksi Kyuhyun, andai tau yang berurusan dengan Seulhan adalah Nara, yeoja yang akhir-akhir ini Kyuhyun ceritakan mirip dengan Geulri.

“Apalagi yang kau tunggu? Laporkan yeoja itu, dia telah merusak mobilku yang berharga,” ucapnya kemudian memutus panggilan sepihak.

Seulhan selalu tak habis pikir dengan jalan pikiran Kyuhyun. Dia terlalu sulit ditebak.

Agashi, aku harus melaporkanmu ke polisi, ini bukan mobilku, dan kamu menabraknya,” ucap Seulhan sambil memanggil polisi untuk menengahi kejadian ini.

Mwoya? Tuan akan melaporkanku? Ralat, aku tak jadi minta maaf, kaulah yang menebrakku, kau yang harusnya minta maaf,” ucap yeoja itu bersungut-sungut dengan telunjuk yang mengarah ke hidung menjulang Seulhan, tak sampai menyentuh. Ingatkan dia tinggi badannya jauh dari namja bersetelan jas navy dengan senyum memikat itu.

Tak berselang lama, sebuah mobil polisi mendekati lokasi kejadian, dan Seulhan masih dengan senyum memikatnya melihat Nara dibawa ke dalam mobil polisi. Bibir mungil yang merah muda itu tak hentinya mencerca Seulhan dengan umpatan-umpatan nista. Seulhan heran, kemana perginya binar mata bercahaya dan keramahan yeoja itu beberapa detik yang lalu. Sulit ditebak. Persis Kyuhyun.

***

 

Sampai berbusa mulutnya menjelaskan pun, kedua polisi di depannya ini tak akan menggubrisnya. Dia di kantor polisi sekarang, hanya duduk termangu, tidak tahu apa yang akan dia katakan lagi. Kedua polisi itu memintanya untuk mendatangkan seseorang untuk menjamin kebebasannya, atau menunggu pelapor mencabut tuduhannya, kalau keduanya tidak terpenuhi hanya mencari pengacara jalan utamanya agar dia tak mendekam di balik jeruji besi.

Nara menatap nanar smartphone-nya. Tak satupun teman kerja yang sering Nara bantu dikala sedang kesulitan yang mengangkat panggilan darinya. Nara mencoba berpasrah ria tapi demi adiknya yang tidak boleh kelaparan disana, dia harus memperjuangkan kebebasannya apapun yang terjadi.

Saat dirinya bangkit untuk berdiri, sang pelapor –Seulhan tepat berdiri di depannya. Dengan tatapan yang teduh, Nara sudah meleleh di tempat andai tubuhnya tercipta dari es lilin. Eh? Dengan gagu, Nara mencoba menonjok rahang kiri namja itu, tapi gerakan tangannya terbaca dengan jelas, terbukti sekarang kepalan tangan mungil itu tertangkap tepat di dalam tangkupan tangan besar Seulhan.

Tanpa menunggu kesadaran Nara kembali, Seulhan melakukan beberapa teknik bela diri, hap.. hap.. Nara merasa Seulhan baru saja melakukan teknik totok urat, sebab sekarang semua urat-uratnya tidak ada yang berfungsi, kaku.

“Maafkan aku agashi, aku terpaksa melakukan ini. Instingku sebagai pemegang sabuk hitam sangat peka terhadap serangan. Jadi, apa kamu sudah menyerah?” tanyanya dengan senyum tak berdosa.

Nara mengangguk bodoh, sesaat kemudian tubuhnya sudah kembali seperti semula. Seulhan melangkah mundur sejengkal, jaga-jaga terhadap serangan spontan yeoja bar-bar yang Kyuhyun incar ini. Mirip Geulri apanya. Geulri adalah sosok wartawan energik tapi tidak bar-bar begini, Geulri sangat anggun dan berperilaku halus, sangat berbanding terbalik.

Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan di sebuah tempat yang diperuntukkan untuk keluarga yang menjenguk keluarganya di kantor polisi. Seulhan menghela napas sesaat, dia ada di dua oilihan sulit. Dia ingin membantu yeoja di depannya ini tapi di sisi lain, dia juga ingin membantu Kyuhyun untuk mendapatkan kembali jiwanya yang telah berpulang bersamaan dengan berpulangnya Geulri untuk selamanya.

“Jadi, begini. Aku minta maaf telah melaporkanmu. Mobil yang kemarin itu memang mobil kantor, dan bossku tak mau tahu aku harus me-“

“Sudahlah, aku sudah disini sekarang, tanpa keluarga tanpa teman, sungguh mudah kan memasukkanku ke sini. Gomawo,”

“Kata siapa kamu tak punya siapapun, aku disini, mau jadi temanmu. Aku memang melaporkanmu tapi aku juga akan berusaha membujuk bossku agar membebaskanmu, sungguh,” jelas Seulhan terdengar tulus.

***

Nara POV

‘ARGHH’

Aku menjambak rambutku dengan serampangan, diakhiri aku membanting kepalaku ke atas meja. Jujur aku lelah. Lelah karena semua yang terjadi padaku selama ini. Aku sudah cukup susah bahkan sejak aku seharusnya masih bermain perosotan. Aku anak sulung dengan seorang adik laki-laki yang umurnya berbeda 5 tahun dariku. Orang tua kami meninggal saat bekerja di sebuah tambang minyak karena kecelakaan kerja. Dan yah, aku seperti ini, menyandang status yatim piatu sejak SD, hidup bergantung pada sisa tabungan orang tua, oleh sebab itu, saat aku SMA memutuskan untuk kerja part-time sampai sekarang.

Tiga bulan terakhir aku memutuskan cuti kuliah untuk full bekerja di dua tempat berbeda, karena hutang. Aku kurang tau kenapa nominal hutang yang ditinggalkan orang tuaku sangat besar, dan aku juga tidak tau kenapa rentenir itu mengejarku baru saat ini, andai dari dulu, mungkin bunga yang kami peroleh tidak sampai empat kali lebih banyak dibanding uang yang dipinjam orang tuaku. Strategi rentenir rupanya.

Mundur 6 jam belakangan, aku menabrak –ah ralat, aku ditabrak oleh seorang namja berperawakan mempesona semua wanita dari segala usia maupun status. Dan apa yang dia lakukan padaku setelah aku mengalah dan meminta maaf padanya? Dia melaporkanku ke kantor polisi karena kata dia, mobil yang aku tabrak itu mobil kantor, sehingga dia tak bisa berbuat banyak. Bah.. Aku sangsi. Ya mana mungkin karyawan gayanya se-membahana itu. Tuxedo berkelas, jam Rolex, kaca mata hitam dari Chili. Aku penasaran bagaimana penampilan bosnya kalau karyawannya saja setampan ini. Atau jangan-jangan dialah bosnya?

Setelah aku menghubungi beberapa temanku untuk membantuku di kantor polisi, dan apa yang mereka katakan? Ada yang akan berkencan setelah lima tahun tak bertemu. Satunya lagi mengatakan kalau dia lupa menyimpan kimchinya di kulkas. Huh.. apakah kimchi lebih berharga daripada aku? Belum sempat aku melanjutkan gerutuanku, smartphone-ku berdering. Dari bos pemilik restauran jjajangmyeon, dia memecatku saudara-saudara. Kedua kelopak mataku sepertinya sudah tak bisa menampung air mata, dan setitik air mata tumpah dari mata kananku.

Huft..

Aku masih mengacuhkan namja itu, menawarkan bantuan, eoh? Jelas-jelas dialah yang melaporkanku. Sedetik lalu aku diam, detik berikutnya tepat saat aku mendengar kursi berderit menandakan seseorang di depanku berdiri, aku juga ikut berdiri, menampar pipinya. Dia cengo sesaat. Bisa ku lihat pipinya yang mulus dengan sedikit bintik hitam bekas shaving itu memerah. Mungkin aku keterlaluan, tapi persetan lah.

“Kamu..” aku menudingnya tepat di hidung, seperti beberapa jam yang lalu.

“Kamu mau menjualku ke luar negeri ya?” Tuli.. semoga dia tuli.. mulutku dengan tak sopan mengatakan tuduhan itu kepadanya.

“Ide yang bagus,” balasnya sambil mengacak rambutku asal.

Aku spontan menyilangkan kedua tanganku di depan dada, masih dengan tatapan membunuh terjurus kepadanya. Dia lalu tertawa kecil, menatapku ke atas dan ke bawah, mengukurnya dengan jari-jari besar itu. Dan dia menggeleng. Oh, bung, apa maksud gelenganmu? Aku di bawah rata-rata, begitu? Ooh, aku tersinggung.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia berlalu pergi, tanpa membalikkan badannya. UH, aku bermalam di balik jeruji besi malam ini. Malangnya aku.

Otakku mendidih semalaman, aku memikirkan banyak hal. Mengingat siapa saja yang mungkin bisa ku hubungi. Dan pagi ini, ide cemerlang mampir dengan pintarnya. Aku memohon kepada pak polisi yang berjaga, memohon tasku untuk menghubungi seseorang sebagai waliku.

Setelah mendapatkan kartu nama seseorang yang mengajakku makan siang kemarin, disana ada nomor telepon dibawah sebuah nama yang terukir tinta perak, “Cho Kyuhyun-ssi,” gumamku pelan sambil mengepalkan tangan dengan semangat membara. Dialah satu-satunya harapanku saat ini.

Dering pertama tidak diangkat, aku mencoba lagi, masih tidak terjawab. Tepat pada dering ketiga, panggilan itu tersambung, dan hening. Aku jadi ragu menyampaikan maksudku padanya, dia terkesan sangat dingin dan siapa aku baginya? Pengantar jjajangmyeon? Coba kita pikir, berapa banyak pengantar jjajangmyeon di kota Seoul ini, apa cuma aku? Hah. Aku memutuskan sambungan.

Tapi.. aku minta bantuan siapa lagi? Aku menelpon ulang, dan langsung diangkat. Huh, syukurlah.

“Yeo..yeobseo.. Cho Kyuhyun-sshi,” ucapku terbata.

“Eung..” aku hanya mendengar gumaman orang bangun tidur.

“Aku.. aku.. pengantar jjajangmyeon yang ke kantormu kemarin siang. Kamu.. kamu.. em…” aku bisuu sesaat, lidahku kelu tidak tau apa yang harus ku katakan selanjutnya. Aku manarik napas dalam.

“Kamu harus bertanggung jawab, gara-gara kamu ajak makan jjajangmyeon, aku diare, lalu aku naik motor dan menabrak mobil orang saking terburu-burunya, kamu harus tanggung jawab. Aku di kantor polisi sekarang,” ucapku dalam satu tarikan napas. Huft.. aku ngos-ngosan. Tanpa menunggu jawaban darinya, aku memutus sambungan sepihak.

***

Author POV

Kyuhyun tersenyum, baru kali ini dia memulai paginya dengan senyuman setulus itu, dan.. mungkin untuk hari-hari selanjutnya juga, bersamayeoja itu. Ya, dia berniat mengesahkan hubungan yang dimulai oleh rasanya sepihak. Setidakanya ini tidak akan seperti pernikahannya terdahulu, yang hanya dilandasi sebuah perjodohan yang memaksa.

Dengan enteng, Kyuhyun melangkah memasuki gedung pencakar langit yang menjadi perusahaannya. Disana, telah duduk Seulhan dibalik meja yang dipelitur cokelat mewah. Kyuhyun berdiri tepat di depan meja itu dengan senyum tersungging seolah ada investor yang memberikannya modal dengan digit lebih dari sembilan.

“Kamu kenapa, Kyu? Baik-baik saja kan?” tukas Seulhan menyelidik, mengamati satu-satu tubuh adik iparnya, siapa tahu Kyuhyun baru saja menyileti lengannya, karena bisa senyum semenyenangkan itu. Masochist.

“Aku.. baik. Seulhan, Nara meminta bantuanku, rencana A berhasil, hahaha” jawab Kyuhyun sambil tertawa lepas dan pergi meninggalkan Seulhan menuju ruang CEO.

..

Siang itu, setelah makan siang, Kyuhyun berkunjung ke kantor polisi dimana Nara telah ditahan selama 24 jam. Dia berbincang sebentar dengan polisi disana, diakhiri dengan jabat tangan hangat dan senyum yang setia tersungging disana.

“Nara-ssi, kamu dinyatakan bebas sekarang, keluarlah,” ucap polisi itu sambil membuka jeruji besi.

“Ne? Aku bebas?”

“Ya, seseorang mencabut laporannya, dan—“

“Aku yang jadi walimu, penanggungjawab atas kebebasanmu,” potong Kyuhyun sambil bersidekap.

Nara memandang Kyuhyun dengan mata berbinar dan kedua tangan yang tertangkup di depan dada merapalkan beberapa doa. Dia menurut, keluar dari sel itu, mengucapkan salam perpisahan ala kadarnya, mengemasi barang, dan mengekor pada Kyuhyun yang berjalan cepat di depannya menuju mobil Audy hitam.

“Jangan tersenyum selebar itu. Apa aku harus membungkam bibirmu agar terkatup?” sarkas Kyuhyun.

Kini keduanya sudah ada di dalam mobil dengan Kyuhyun dibalik kemudi dan Nara di sebelahnya. Kyuhyun menatap lurus ke depan, fokus menyetir, sedang Nara masih menatap Kyuhyun sambil terus menggumamkan kata terimakasih tanpa teroutus.

“Apa yang bisa ku lakukan untukmu untuk membalas kebaikanmu, Kyuhyun-ssi?”

“Kamu punya apa untuk kamu berikan?”

“Semua. Apa yang kau minta dan itu punyaku, ambillah. Ayo ucapkan apa yang kamu mau”

“Sungguh? Apapun mauku?” ucap Kyuhyun yang membuat bulu kuduk Nara berdiri. Dengan refleks, Nara menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap horor pada Kyuhyun. “YA..!!” pekik Nara sambil memberondong Kyuhyun dengan pukulan membabi buta dengan tas polkadotnya.

“Tidak..tidak.. aku tak seburuk yang kamu pikirkan,” gumam Kyuhyun yang berhasil menyetop kegiatan Nara memukulinya. “tapi aku jauh lebih buruk dari yang kamu pikirkan,” lanjut Kyuhyun dalam hati.

“Menikahlah denganku,” tegas Kyuhyun memecah keheningan yang beberapa menit lalu menyergap kedua manusia di dalam mobil itu. Kyuhyun menunggu respon dari Nara, dan tidak seperti dugaan Kyuhyun yang mengira Nara akan melemparinya dengan segala benda yag ada di mobil, dia justru diam. Kyuhyun khawatir, lalu menepikan mobilnya di parkiran dekat Namsan tower.

“Jangan ajak aku bercanda Kyuhyun-ssi. Hidupku sudah cukup rumit selama ini,” gumam Nara lirih.

“Lagipula, mana ada orang melamar seperti itu? Sangat tidak romantis..” lanjutnya yang memicu terbitnya senyum Kyuhyun.

“Itu tadi hanya pemanasan agar aku tak gagu, turunlah, kita di sudah tiba di Namsan tower,”

Nara melongokkan kepalanya hingga bisa melihat Namsan tower menjulang tinggi disana. Hidupnya 24 jam terakhir ini sangat tidak dia duga sebelumnya, banyak kejutan-kejutan besar terjadi dalam satu kali kedipan mata. Sebelumnya, jika dia mengedip dia menemukan baris besi yang menjulang vertikal, di detik ini dia mengedip dan menemukan di Namsan tower bersama Kyuhyun.

Kyuhyun menuntunnya menuju kereta gantung, tanpa mengantri. Jangan tanyakan bertapa berkuasanya Kyuhyun. Mereka berdua berada di dalam kereta gantung dengan atmosfer hening yang dingin. Nara berdehem. Kyuhyun menoleh, menatap Nara.

“Kyuhyun-ssi, apa sebenarnya rencanamu. Sungguh ini bercanda yang sangat tidak lucu,” tanya Nara.

“Siapa bilang aku bercanda. Sekarang coba kamu tatap mataku, temukan keseriusanku disana, lalu katakan, betapa seriusnya aku,” jawab Kyuhyun sambil menangkup kedua pipi Nara.Rahang tegas itu mengeras, Nara berjinjit untuk lebih dekat dengan Kyuhyun. Ditatapnya bola mata hitam legam itu seksama, dan benar, disana setumpuk keseriusan terpancar dengan sangat menyilaukan.

Tubuh Nara bagai tersihir mantra, entah mantra Voldemort atau totok urat, yang jelas sekarang sendi-sendinya membeku. Kyuhyun memiringkan kepalanya, lalu menghabiskan jarak diantara keduanya. Napas halus Kyuhyun yang beraroma mint hangat menyapa indra penciuman Nara. Nara otomatis menarik napas dalam untuk menghirup aroma itu, hingga tanpa sadar dia lupa untuk menghembuskan dan menarik napas selanjutnya.

Dalam hitungan ketiga, gumpalan lembut nan hangat itu menyentuh bibir Nara. Hangat dan manis, Kyuhyun tersenyum dibalik penyatuan itu. Ketika dia mulai menggerakkan bibirnya untuk menyapu bibir bawah Nara, Nara tersedak. Kyuhyun otomatis menjauhkan bibirnya, memberi jarak kedua tubuh itu.

“Bernapaslah, Nara-ya” ucap Kyuhyun sambil mengusap bibirnya sendiri. Sedang Nara terbatuk-batuk sambil membungkukkan tubuhnya. Kyuhyun kemudian membantu dengan menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tanpa dia sadari, mereka telah sampai di restauran yang berada di puncak Namsan tower. Restauran itu sepi, tentu, Kyuhyun tekah menyuruh Seulhan membooking seluruh restauran.

Dan kakak iparnya itu sedang berdiri di depan pintu kereta gantung menyambut keduanya. Sebelah alisnya terangkat. “Kamu apakan dia Kyu? Dia tampak berantakan. Kamu belum berniat menghamilinya disini bukan?” tanya Seulhan menatap Nara dengan kasihan. Sedang yeoja itu? Dia masih menormalkan jantung dan seluruh organ geraknya terhadap serangan Kyuhyun sehingga tak menyadari apapun. Seulhan berlalu, memberi ruang pada Kyuhyun menjalankan privasinya.

Kyuhyun menggenggam erat yeoja yang berjalan bersisihan dengannya. Dia menuntunnya menuju meja yang sudah dihias lilin dan taburan kelopak bunga sepanjang jalan. Mereka duduk berhadapan. Makanan tersaji di depan mereka, lengkap dengan segelas whiskey. Mereka makan dengan tenang tanpa perbincangan apapun. Sesekali Nara mengernyit dengan rasa yang terlalu asing di lidahnya, ditambah minuman yang membuat lidahnya terbakar itu.

Kyuhyun menggeleng gemas, dia mengulurkan segeals air putih. Nara menerimanya dan langsung meneguk habis.

“Lebih enak jjajangmyeon yang dulu, kurasa,” ucapnya sambil mengelap bibir.

Bibir. Kyuhyun sudah tiak fokus lagi dengan makanan, dia meneguk whiskey itu hingga habis. Dia menarik dagu Nara hingga mendekat dengannya. Sedikit condong, Kyuhyun melahap habis bibir atas dan bawah Nara. Sedikit menggigit, bibir Nara memberikan aksesnya. Kyuhyun memasukkan beberapa teguk whiskey yang masih tinggal di mulutnya ke dalam. Nara sedikit memberi pemberontakan, tapi tangan Kyuhyun dengan sigap memegang keduan pergelangan tangan Nara dalam satu genggaman besar.

Satu tangannya yang bebas menarik tengkuk Nara untuk memperdalam ciuman. Satu-satu Lidah Kyuhyun mengabsen gigi Nara yang rapi. Kemudian, Nara yang cukup tenang sudah bisa membalas ciuman itu. Lidah bertemu lidah, membelit, mempertemukan dua rasa. Cinta yang meluap-luap dan nafsu yang membara diantara keduanya. Menit demi menit berlalu, mereka melepas tautan itu dengan napas yang terengah-engah.

Kyuhyun mengakhirinya secara manis, dengan mengecup ujung bibir Nara. Lalu mengusapnya dengan ibu jari. Tak ingin menyiakan kesempatan, dia mengecup ibu jarinya sendiri, menikmati tetes terakhir manisnya bibir Nara.

Kyuhyun mengeluarkan kotak beludru berwarna merah maroon lalu membukanya. Di dalamnya teronggok kalung yang sangat indah berwarna keperakan. Sederhana tapi tidak kehilangan unsur glamour, sesuai selera Kyuhyun. Kyuhyun bangkit dari kursinya, menuju Nara. Dia menyibakkan rambut panjang yang terikat asal itu, melingkarkan kalung di leher jenjang Nara.

“Memangnya aku menerima lamaranmu? Jangan terlalu percaya diri Kyuhyun-ssi,” ucap Nara sarkastik.

“Harusnya kamu menolak ciumanku tadi kalau kamu tidak menerima lamaranku. Tapi, buktinya kamu malah menikmatinya. Bukan begitu Miss Cho?” tampik Kyuhyun kembali duduk di kursinya, sedang Nara membisu di tempanya dengan kedua pipi bersemu merah. Dia mengibaskan tangannya beberapa kali, berusaha memadamkan gejolak di dadanya.

“Tapi kamu, yang memaksaku—“ sanggah Nara. Kyuhyun berpikir, yeoja di depannya ini memang keras kepala dan pendebat ulung, dia harus punya trik khusus.

“Diawal. Ingat hanya diawal aku memaksa, selebihnya kamu yang menuntun permainan, kamu lupa, kamulah yang membuka bibirmu. Ku pikir itu cukup menjadi alasanku memiliku dengan atau tanpa paksaan,” sadis Kyuhyun dengan tangan disedekapkan di depan dada.

Nara terbengong di tempatnya. Bagaimana bisa seorang namja dingin bernama Kyuhyun itu menceritakan proses ciumannya seperti menceritakan menu makan siang. Nara malu wahai namja tak berperikewanitaan. Nara menghembuskan napasnya dalam.

“Hei, aku belum mengambil keperawananmu, jangan bersedih dulu,” ucap Kyuhyun diakhiri kekehan. Sedang lawan bicaranya menatapnya dengan mata melotot tajam.

***

Pernikahan mereka berjalan lancar. Hanya beberapa keluarga dan kolega bisnis yang diundang. Tidak seperti pernikahan mereka sebelumnya yang menjadi pusat pemberitaan nasional selama 24 jam, Kyuhyun lebih mengutamakan privasi. Kyuhyun menyalami satu-satu tamu dengan Nara berdiri di sampingnya mengenakan wedding dress termahas se-Korea musim ini. Nuansa autumn menjadi tema di ballroom salah satu hotel termahal ini.

Seulhan dan Younghee tampak serasi berjalan beriringan tiba di tempat Kyuhyun dan Nara berdiri. Nara tersenyum pada Seulhan membuatnya dihadiahi cubitan kecil di lengan oleh Kyuhyun. “Jangan berikan senyummu pada namja lain, arraseo?” bisiknya. Sedang Nara hanya tersenyum geli, menyentil tangan Kyuhyun.

“Jaga dia Kyu,” pesan Younghee pada Kyuhyun diakhiri senyum hangat. Ya, mereka merahasiakan pernikahan Kyuhyun sebelumnya. Cukup Kyuhyun dan orang-orang disekitarnya yang tahu, kecuali Nara. Kyuhyun sengaja, dia takut Nara akan kabur meninggalkannya jika tahu kecenderungan Kyuhyun yang berbeda. Suka menyakiti diri sendiri, masochist.

Younghee kemudian memeluk Nara erat, berusaha menyalurkan energi positif kepada yeoja tinggi semampai itu. “Tetaplah jadi yeoja yang semangat seperti yang Seulhan ceritakan, ne” nasehat Younghee dibalas anggukan mantap. Seulhan tidak mengucapkan sepatah katapun pada sahabat dan temannya itu, hanya tatapan matanya yang berkomunikasi.

Setelah resepsi pernikahan yang memakan waktu beberapa jam itu, langit sudah sangt gelap dan jam tangan Kyuhyun menunjukkan angka 11.00 KST. Kyuhyun menuntun Nara menuju apartemen yang lebih layak disebut penthouse-nya. Dia dengan gentle mempersilahkan Nara memasuki kamar mandi dahulu, melewati malam mereka dengan menonton film tanpa melakukan ritual pernikahan apapun.

Paginya, Kyuhyun bangun lebih pagi, dan bersiap membuat sarpan untuk mereka. Kyuhyun membuka kulkas sekedar mencari isian sandwich-nya. Dia mengumpulkan selada, tomat, mentimun, mayonaise, dan saus sambal. Semuanya sudah siap tapi ada satu bahan yang kurang. Kyuhyun membuka kulkas dan mendapat makanan kesukaannya, ham (irisan daging asap).

Kyuhyun mengambilnya dengan santai, mengeluarkannya dari plastik, lalu memanasinya. Mungkin karena masih setengah mengantuk, tangannya tiba-tiba saja menyenggol pan pemanggang yang sangat panas. Tangannya melepuh, tentu saja. Bukannya mencari salep pereda nyeri, Kyuhyun malah terduduk di lantai sambil tersenyum lucu seolah ada sesuatu yang menggelikan. Dari yang hanya tertawa kecil, dia kini tertawa keras hingga membangunkan Nara.

Nara, kontan saja mendatangi dapur dan disana dia melihat satu tangan Kyuhyun yang melepuh mulai memerah dan agak membengkak, sedang satu tangannya lain memegang pisau buah berukuran kecil, menyayat luka melepuhnya. Jika sebelumnya, dia melihat Kyuhyun melukai diri sendiri, Nara akan mengatakan kalau Kyuhyun “bodoh”, tapi kali ini dia baru sadar ada yang lain dari Kyuhyun. Ekspresi wajahnya dan kondisinya tidak sinkron.

Tanpa berpikir panjang, dia menampik pisau buah itu hingga terpental jauh. Dia mengambil koak P3K lalu membebat asal luka terbuka itu. Kemudian memberi salep di sekitar luka terbuka itu yang menunjukkan peradangan akibat melepuh. Tangan Nara tentu bergetar, sehingga hasil perbannya berantakan. Tapi ada yang lebih bergetar dari seluruh alat geraknya, yaitu hatinya, dia terlalu syok dengan pemandangan di depannya.

Yeobsseo, Seulhan-ssi, segeralah kemari, apa yang terjadi pada Kyuhyun?” tanya Nara sedetik setelah mendapatkan smartphone-nya. Tanpa menunggu balasan dari seseorang disana, Nara meninggalkan smartphone itu asal. Dia kembali ke dapur. Dilihatnya Kyuhyun sudah tidak tertawa lagi, ekspresi wajahnya kini datar. Seketika berubah sinis ketika melihat Nara.

“Wae? Kamu takut? Mau kabur dariku, eoh?” tanyanya sambil berdiri berusaha menyejajarkan dirinya dengan Nara.

Bagai tak gentar, Nara memeluknya erat, hangat dan penuh cinta. “Aniyo, Kyuhyun-ssi, aku— aku tulus mencintaimu, jangan begini, sadarlah,” ucaonya bersandar di dada Kyuhyun. Kyuhyun tidak merasakan rembesan air mata seperti yang selalu dia dapatkan saat bersama Geulri dulu. Nara berbeda. Dia bukan Geulrinya yang terlahir kembali. Nara terlalu kuat. Pertahanannya susah dia tembus.

Kyuhyun lemas, da menumpukan kepalanya di pundak Nara. Merasa tak siap, Nara hampir saja terjengkang ke belakang, tapi untung saja ada meja makan yang menyangga tubuhnya. Detik berikutnya, derap langkah menyapa pendengaran Nara, Kyuhyun pun berpindah tangan menuju Seulhan. “Dia melukai diri lagi,” gumam Seulhan yang secara tak sengaja di dengar oleh Nara.

“Ne? Apa dia sering seperti ini Seulhan-ssi?” tanya Nara menuntut penjelasan, dan hanya dibalas anggukan oleh Seulhan. Nara memundurkan diri, tak berniat mengekor Seulhan yang sudah memasuki lift. Dia perlu menenangkan diri terlebih dahulu. Beberapa kali Nara menggelengkan kepala berusaha mengusir kemungkinan-kemungkinan yang negatif.

Setelah merasa siap dengan kenyataan yang akan dia hadapi, Nara memberhentikan taxi untuk ke rumah sakit tempat Kyuhyun dirawat. Di depan ruang rawat inap VVIP telah berdiri Younghee dengan jas dokter berada di pelukan Seulhan yang terlihat kacau.

Nara mendekati mereka berdua, dan mereka reflesk memutar badan menghadap Nara. “Jelaskan padaku, apalagi yang kalian sembunyikan selain fakta bahwa Kyuhyun suka melukai dirinya sendiri?” cecar Nara tak memperdulikan setetes air mata yang lolos dari mata hazel kirinya.

Younghee mengangguk pelan, berdiri tegak lalu berganti memeluk Nara. Nara menerima pelukan itu beberapa saat kemudian memegang dua bahu Younghee, “eonni, ayo jelaskan padaku, hm?” paksa Nara.

“Masochist, dia menderita masochist,” jawab Seulhan pelan. Nara memajukan tubuhnya menuntut penjelasan pada Seulhan, meninggalkan Younghee sendiri. “Iya, dia memiliki kelainan kejiwaan yang suka menyakiti diri sendiri,” jelasnya lebih lengkap.

“Dan dia pernah menikah sebelum menikahimu,” tambah Younghee dingin. Nara bagaikan ditimpa beribu beban tak kasat mata. Tentu saja, mereka memiliki masalah, tak mungkin kalangan elie seperti Kyuhyun mau saja menikahinya tanpa embel-embel penyesuaian status menjadi sosialita. Keluarga mereka juga tak ada satupun yang menolak Nara padahal dia jelas berbeda dari status sosial.

“Lalu, kemana agasshi istri Kyuhyun-ssi?” tanya Nara.

“Dia meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan Kyuhyun hidup seperti zombie tanpanya. Oleh sebab itu, saat dia menceritakan seorang yeoja, dan kami melihat ketertarikan dan semangat hidupnya kembali bangkit, kami langsung setuju dengan idenya,” jelas Seulhan tenang.

Nara memicingkan matanya menyelidik, dia menunjuk Seulhan “Dan kamu, menjebakku seolah aku yang menabrak mobil bossmu. Padahal itu ide Kyuhyun-ssi?” tanyanya dan dibalas anggukan mantap.

“Aku mohon padamu Nara-ya, jaga semangat hidup Kyuhyun-ssi. Aku tahu kamu yeoja kuat, ne?” mohon Younghee. Nara masih diam.

Hingga seorang perawat mendatangi mereka memberitahu bahwa Kyuhyun sudah siuman dan mencari seorang bernama Nara. Younghee sebagai dokter penanggungjawabnya menuntun Nara memasuki ruang rawat itu. Setelah melihat kondisi Kyuhyun dengan muka pucat pasi, Nara segera berlari dan menghambur menuju Kyuhyun. Nara memeluk Kyuhyun erat. Sedang yang dipeluknya hanya bisa mengelus punggung yeojanya dengan tangan yang terpasang selang infus.

Sesekali, bibirnya mengecup puncak kepala Nara penuh sayang. Kyuhyun menangis dalam diamnya, air matanya merembes melalui sela rambut kecoklatan Nara. “Saranghae Nara-ya..” bisiknya di puncak kepala Nara.

Nara mendongak, menatap lurus onyx hitam legam itu, “Na..do.. Nado saranghaeyo Kyuhyun-ssi” balasnya sambil tersenyum hingga kedua lesung pipinya tercetak jelas.

“Panggil aku oppa, hm..” ucap Kyuhyun sambil mengusap pipi Nara lembut.

“Saranghae oppa.. Kyuhyun oppa,” ralat Nara sambil mencium kilat pipi kanan Kyuhyun.

“Saranghaeyo My Masochist CEO” imbuh Nara tersipu mallu lalu membenamkan mukanya di dada Kyuhyun.

Kyuhyun terkekeh pelan, lalu menarik dagu Nara mendekat, dikecupnya bibir merah muda yang sudah sah menjadi miliknya itu. Bermula dari bibir, ciuman Kyuhyun terus merambat turun menuju leher membuat Nara melenguh tertahan. Younghee yang tadi hanya memperhatikan, otomatis berpamitan keluar dari ruangan VVIP dan tak lupa menguncinya.

Cumbuan Kyuhyun berlanjut terus hingga mereka berdua berhasil melakukan penyatuan dua tubuh satu rasa itu. Entah sejak kapan Selang infus itu teronggok mengenaskan bersebelahan dengan pakaian-pakaian yang sudah robek sana-sini. Aroma percintaan menguar di ruangan VVIP yang nyaman. Kedua tubuh tanpa sehelai benang itu pun tertidur pulas dengan posisi saling memeluk erat seolah pasangannya akan hilang jika kulit mereka tidak melekat.

“I Love You Nara-ya..” bisik Kyuhyun di telinga Nara, sambil mengigitnya gemas.

“I LOVE YOU TOO MY BYUNTAE MASOCHIST CEO,” balasnya juga berbisik di dada bidang Kyuhyun.

Rasa sakitlah yang menjadi bagian paling penting dari keseluruhan rasa yang dihadirkan oleh cinta. Dan tanpa rasa sakit, cinta tak akan senikmat cinta. –My Masochist CEO and Sequel–

—-FIN—-

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: