Someone From the Past [2-END]

CollageMaker_20180711_200731434.jpg

Written By : ilana hawa

Cast :

Cho Kyuhyun | Han Jihyun

Choi Serra | Lee Donghae

Desclaimer :

Haiii… ilana hawa kembali \^^/

Fanfiction ini murni hasil karyaku dan imajinasiku. Kali ini aku bikin sedikit lebih panjang. Ya, semoga kalian gak bosen bacanya. Dan di akhir-akhir ada adegan yang menurutku sih agak menjurus ‘kesana’ ya tapi hanya pnggambrannya aja, masih layak buat di baca kok. So, happy reading.. sorry for typo.

Kamsha~

~o0o~

 

“Mwo?” Kyuhyun membuka matanya dan bangkit duduk mendengar apa yang Eunhyuk katakan disebrang telepon. “Sungai Han? Hei! Kita akan ke perpustakaan mencari bahan untuk persentasi. Kenapa tiba-tiba kau mengajak ke sungai Han?”

“Memangnya kenapa? Kita pergi ke sungai Han dulu setelah ke perpustakaan. Ah sudahlah! Jangan lupa pergi kesana.”

“Aish!” Kyuhyun berdesis kesal setelah Eunhyuk menutup teleponnya. “Ada apa dengannya?”

Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang pria gummy smile itu sembunyikan. Tapi apa? Apa yang dia rencanakan? Kyuhyun mengerang kesal dan mulai mengacak rambutnya yang sudah berantakan karena bangun tidur menjadi jauh lebih berantakan. Dentingan jam analog di meja nakas membuat Kyuhyun menoleh dan bergegas lari ke kamar mandi. Jam 8 pagi. Ia ingat harus mencari beberapa buku untuk tugas persentasi tapi Eunhyuk membuatnya malas karena ia harus pergi ke sungai Han lebih dulu.

Tak berapa lama Kyuhyun datang dengan selembar handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia berjalan kearah lemari, mengambil satu stel pakaian dan juga jaket yang ia lempar ke atas tempat tidur. Berbalik ke kamar mandi dan kembali lagi dengan tampilan casual nan tampan. Sambil merapikan rambutnya, Kyuhyun berjalan ke sisi tempat tidur, mengecek ponselnya sekaligus mengenakan jam tangan. Tunggu! Jam tangan?

“Aku lupa ini bukan punyaku.”

Kyuhyun membuka kembali jam yang sudah melingkar dipergelangan tangannya dan membawanya keluar kamar. Tak lupa dia mengambil kamera juga jaket yang ada di atas tempat tidur. Namun Kyuhyun tidak langsung meninggalkan apartemen, melainkan berdiri di depan sebuah kamar yang bersebrangan dengan pintu kamarnya. Kamar milik Han Jihyun. Kamar yang dipakai gadis itu jika ingin menginap.

Kyuhyun ragu untuk masuk. Walau ia tahu tidak ada Jihyun di dalam, namun aneh rasanya masuk ke kamar seorang gadis, meskipun itu salah satu kamar di rumahnya. Kedua mata hitam milik Kyuhyun jatuh pada jam ada dalam genggamannya. Jam pemberian Jihyun itu membuatnya tanpa sadar melangkah masuk dan mulai menjelajahkan matanya ke seluruh sudut kamar.

Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar yang ditata ulang oleh Jihyun. Sebuah boneka beruang besar yang duduk di atas sofa, lili aroma terapi yang berjejer rapi di atas meja serta buku-buku dongeng yang masih tergeletak di tempat tidur. Tak lupa peralatan make up lengkap, cermin besar seukuran badan, wallpaper dinding yang cantik juga karpet bulu berwarna putih.

“Dia benar-benar membuat kamarnya sendiri di rumah orang lain.” Kyuhyun bergumam sambil tertawa pelan.

Ia meletakan jam berwarna hitam itu di atas nakas lalu bergegas pergi tanpa mengatakan apapun. Tentu. Tidak ada yang perlu dia katakan. Jam itu memang bukan untuknya.

*

Mobil hitam Kyuhyun berhenti di tepian sungai Han yang ramai meski cuaca tengah mendung. Dia keluar dari mobil sambil menenteng kameranya. Kyuhyun mengedarkan matanya, mencari Eunhyuk yang mungkin sudah datang lebih dulu. Tapi nihil, tidak ada tanda-tanda pria itu sudah datang. Tidak ada pesan ataupun panggilan yang masuk. Kyuhyun beranjak ke pinggiran sungai, memandangi riak air yang tampak tenang juga memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang dengan sepeda.

“Sebenarnya untuk apa kita bertemu disini.” Kata Kyuhyun seraya berkacak pinggang.

Ia masih penasaran dengan tingkah si Eunhyuk itu yang mengajaknya bertemu di sungai Han. Sambil menunggu, Kyuhyun duduk di sebuah kursi kayu berwarna coklat. Ia menatap langit dengan gumpalan awannya yang hitam. Mendung, terlihat seperti menggambarkan kemuraman dan ketidakpastian. Tapi mendung juga bisa menorehkan senyum bahkan rasa rindu. Kyuhyun mengambil ponselnya dari saku jaket dan memandangi deretan panggilan masuk yang masih ia acuhkan.

Tanpa sadar Kyuhyun menarik nafas panjang. Betapa pengecutnya dia yang tidak mampu menghadapi gadis yang tidak bisa menerima cintanya. Walau terlihat tak peduli, tapi sebenarnya Kyuhyun sangat merindukannya. Ia hanya bingung. Kyuhyun mengambil kameranya, membidik jembatan panjang membentang dengan background langit mendung. Lalu ia mengalihkan kameranya ke semua sudut menarik di sungai Han, hingga saat lensa kameranya membidik sosok gadis yang menatapnya dari jauh.

Choi Serra.

Perlahan Kyuhyun menurunkan kameranya, memastikan dengan jelas apa yang baru saja ia lihat. Walau hanya dua musim tidak bertemu, bukan berarti Kyuhyun melupakannya. Tidak, wajah cantik itu masih membayangi mimpinya setiap malam. Melihat Serra sekarang, melihatnya berada di tempat yang sama dengannya, melihat langkah kakinya yang mulai mendekat, membuat Kyuhyun tak kuasa menolak saat peristiwa ‘menyedihkan’ itu kembali teringat.

“Mungkin ini terdengar konyol bagimu, tapi kebersamaan kita membuat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Aku menyukaimu, Choi Serra.” Ungkap Kyuhyun dengan wajah serius.

Serra memandangi wajah yang sudah dikenalnya sejak taman kanak-kanak. Mata hitamnya terlihat penuh harap, tapi Serra tahu Kyuhyun mempertaruhkan semua keberaniannya. Serra tersenyum seraya mengacak surai ikal berwarna coklat itu. Untuk pertama kalinya ia akan menyakiti hati dan perasaan Kyuhyun.

“Aku tahu, kita sudah bersama-sama sejak kecil. Melakukan banyak hal menyenangkan dan menghabiskan waktu hampir setengah hidup kita. Tapi bagiku, cinta tidak datang sesederhana itu Kyuhyun. Maafkan aku, sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tetap sama. Kau tetap sahabatku.”

Kyuhyun terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia marah dan kecewa dengan jawaban Serra atas pernyataan cintanya. Namun cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sebenarnya Kyuhyun melupakan Kevin. Pria Amerika yang Serra ceritakan padanya dengan mata berbinar-binar sesaat setelah dirinya tiba di Amerika. Bukan melupakan, Kyuhyun hanya mencoba tidak peduli dengan kenyataan jika Serra menyukai Kevin.

Tanpa sadar Kyuhyun menelan salivanya. Selesai. Ia sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Kyuhyun tak berani melirik gadis itu, namun dari ujung matanya ia bisa melihat Serra tengah memandangnya dengan mata coklat yang selalu Kyuhyun sukai. Demi tuhan hatinya masih berdebar hingga sekarang.

“Jangan melihatku begitu.” Seru Kyuhyun yang langsung membuat Serra tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke penjuru sungai. Ia kecewa pria itu terlihat dingin. Sudah dua minggu di Korea, Kyuhyun bahkan tidak memberikannya pelukan selamat datang di pertemuan pertama mereka ini. Tapi Serra mengerti, Kyuhyun perlu waktu untuk itu.

“Kau tahu apa yang Eunhyuk sukai? Kurasa, aku harus memberikannya sesuatu.” Kata Serra seraya kembali menoleh.

“Eunhyuk? Maksudmu?” Tanya Kyuhyun acuh. Ia sibuk memotret entah apa, ia sendiri tidak bisa fokus. Kyuhyun hanya mencoba menekan keinginannya untuk melihat wajah itu.

“Aku harus berterima kasih karena dia bisa membuatku bertemu denganmu.” Sahut Serra.

Kyuhyun mengernyit kaget. Ternyata benar, pria bodoh itu dalang dari pertemuannya dengan Serra hari ini. Beralasan mengajaknya bertemu di sungai Han, tapi hampir setengah jam dia tak juga datang.

‘Awas kau!’ Kyuhyun menggeram dalam hati.

Ia sudah merencanakan banyak hal untuk bisa membalas Eunhyuk. Memberondongnya dengan kata-kata tajam, mengacuhkannya di kampus atau berhenti mentraktir pria itu untuk beberapa tahun ke depan. Ya, Kyuhyun rasa rencana terakhir akan sangat sempurna. Eunhyuk si hemat itu akan menderita untuk waktu yang lama karena ia akan berhenti jadi seorang ‘dermawan’.

“Apa kata-kataku begitu menyakitimu?”

Deretan rencana Kyuhyun untuk Eunhyuk buyar saat Serra melontarkan pertanyaan yang membuat pria itu terkejut.

“Kau marah sampai tidak mau bertemu denganku.” Tambah Serra.

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bohong jika kata-kata gadis itu tidak menyakitinya. Bohong jika ia tidak marah. Bagaimanapun saat itu Kyuhyun begitu menginginkan Serra. Dan saat semua perasaannya terhempas, rasanya begitu menyakitkan. Diamnya Kyuhyun dalam kebingungan membuat Serra hanya bisa menarik nafas dalam. Ia menyesal menanyakan pertanyaan itu. Untuk apa menanyakan pertanyaan yang ia sendiri mengetahui jawabannya.

“Seharusnya aku yang marah.” Ujar Serra lagi yang membuat Kyuhyun akhirnya menoleh. “Kau kembali ke Korea tanpa memberitahuku. Kau mengacuhkan panggilan juga pesan yang kukirim, dan sekarang kau terlihat tidak senang bertemu denganku. Aku mengerti, tapi itu membuatku sedih Cho Kyuhyun. Aku merindukan kebersamaan kita.”

Andai Serra tahu, Kyuhyun juga rindu dengan kebersamaan mereka. Sulit melewati hari-hari tanpa bertemu dengannya. Kyuhyun tak mengerti kenapa sekarang justru ia merasa bersalah sudah membuat gadis itu bersedih. Bukankah Serra yang lebih dulu membuatnya patah hati?

“Maafkan aku ya. Jangan terus menerus menghindariku. Jawab teleponku dan balas pesanku. Arrachi?” Serra tersenyum seraya menepuk lembut tangan Kyuhyun lalu bangkit dan beranjak pergi. Namun…

“Aku senang bertemu denganmu.” Kyuhyun mencekal pergelangan tangan Serra, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.

“Aku hanya tidak tahu harus bagaimana, dan semua jadi terasa aneh. Harusnya aku tidak mengatakannya waktu itu.”

Serra menoleh tepat saat Kyuhyun melepaskan cekalan tangannya. Gadis itu menggigit bibirnya, menahan matanya yang berkaca-kaca. Entah bagaimana perasaannya sekarang. Sikap Kyuhyun yang berubah benar-benar menguras semua pikirannya. Serra senang Kyuhyun mau bicara lagi dengannya, tapi jauh dilubuk hatinya ia menyesal sudah menghancurkan perasaan Kyuhyun.

“Tidak ada yang salah untuk orang yang jatuh cinta. Kau berhak merasakannya, dan kau juga berhak mengatakannya.” Serra berujar lembut seraya kembali duduk disamping Kyuhyun.

“Persahabatan kita jadi berubah. Jika ada sesuatu yang membuat tidak nyaman, itu semua salahku.” Kyuhyun memandang Serra dengan rasa menyesal. Menyesal karena membuat persahabatan mereka hampir retak dan menyesal kenapa ia harus mengungkapkan semua perasaannya. Cinta itu bisa ia simpan sendiri.

Serra tak menyahut. Ia tidak menampik jika perasaan Kyuhyun memang merubah kebersamaan mereka. Benar yang dikatakan orang, tidak boleh ada cinta diantara dua sahabat. Tapi tetap, itu bukan salahnya. Pria bodoh yang kini menunduk itu tak bisa menolak saat cinta menuntun hatinya pada seseorang.

“Kita mulai lagi semuanya dari awal.” Serra menggenggam tangan Kyuhyun dan tersenyum saat pria itu melihatnya. “Lupakan semua yang membuat tidak nyaman dan kembali jadi Serra dan Kyuhyun yang dulu, yang bisa tertawa lepas tanpa beban.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Tak lama ia tersenyum sambil mengangguk. Ya, mungkin Serra benar. Walaupun kalimat ‘lupakan semua yang membuat tidak nyaman’ itu berarti dia selamanya akan melupakan cinta yang pernah Kyuhyun katakan. Tidak apa. Kyuhyun memilih persahabatan mereka. Serra yang senang semua kembali baik-baik saja, sontak memeluk Kyuhyun.

“Jangan bersikap seperti itu lagi padaku. Kau mengerti?” Gumam Serra.

“Aku mengerti. Maafkan aku.” Perlahan Kyuhyun mengangkat tangannya dan balik memeluk Serra. Erat dan semakin erat. Pria itu memejamkan matanya, merasakan bahagianya memeluk Serra dengan semua perasaannya yang tersisa. Setelah ini semua akan kembali seperti dulu. Mereka mungkin akan berpelukan sesekali, tapi saat itu terjadi hanya ada kasih sayang seorang sahabat. Kyuhyun tersenyum getir, menyadari cinta pertamanya berakhir seperti ini.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Serra seraya melepaskan pelukannya. Ia duduk menghadap Kyuhyun dengan raut wajahnya yang serius.

“Kau ingin bertanya apa?”

“Kau harus menjawabnya dengan jujur!” Serra mengacungkan jarinya tepat di depan hidung Kyuhyun, dan langsung membuat pria itu merengut tak suka.

“Ya ya baiklah.”

Serra berdehem pelan. Ia sekuat tenaga menahan senyumnya agar tidak kentara.

“Han Jihyun, siapa gadis itu?”

“Mwo?” Kyuhyun mengernyit bingung. Apa telinganya tidak salah dengar? Bagaimana bisa nama Jihyun keluar dari mulut Serra. “Kau…”

“Aku pernah bertemu dengannya.” Ucap Serra cepat yang langsung membuat Kyuhyun membelalakan matanya karena terkejut. Satu yang ada dipikiran pria itu sekarang adalah dunia sangat sempit sampai bisa mempertemukan Serra dan Jihyun.

“Sepertinya kalian sangat dekat. Jihyun langsung membicarakanmu tanpa sungkan.”

“Memang apa yang dia katakan?” Tanya Kyuhyun hati-hati. Ia sedikit was-was gadis itu akan menceritakan semua yang pernah dia katakan tentang Serra atau tentang ciuman mereka di klub malam Amerika waktu itu.

“Kau tanya saja sendiri.” Sahut Serra santai.

Kyuhyun berdesis sebal sekaligus menghela nafas lega.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Jihyun itu siapa? Kalian sangat dekat?”

Kyuhyun tak langsung menjawab. Ia tengah berpikir bagaimana menjelaskan hubungannya dan Jihyun. Haruskah Kyuhyun katakan pada Serra jika dirinya dan Jihyun memutuskan berteman hanya karena keduanya merasa terikat takdir? Atau tentang Jihyun yang sudah mendapatkan ciuman pertamanya? Ya, walaupun itu hanya untuk keadaan darurat, tapi sebuah ciuman tetap saja sebuah ciuman. Dan saat itu, Kyuhyun merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Pria itu tersenyum seraya menggeleng pelan.

“Ya, seperti itu.” Ucap Serra tiba-tiba.

Kyuhyun menoleh. “Apa?”

“Ekspresi Jihyun juga seperti itu saat dia membicarakanmu. Aku semakin yakin ada sesuatu diantara kalian.” Serra memicingkan matanya.

“Sesuatu apa maksudmu? Kami hanya berteman.”

“Jangan bersembunyi dibalik pertemanan Kyuhyun. Bukankah kau sudah mengalaminya? Tidak ada teman diantara laki-laki dan perempuan. Suatu hari kau juga akan jatuh cinta padanya.”

Kyuhyun berdecak. “Kau ini bicara apa sih?”

“Dan saat semuanya terjadi, aku yakin Jihyun merasakan perasaan yang sama.” Serra mengangguk yakin. Entah mengapa ia merasa mereka sebenarnya saling menyukai.

“Itu hanya akan terjadi jika…” Kyuhyun menghentikan ucapannya lalu menengadah ke atas saat beberapa titik air jatuh di kepalanya. “Hujan mulai turun. Ayo!”

Pria itu bangkit dan berjalan ke arah mobil tanpa mengatakan apapun lagi.

“Hei! Kau belum melanjutkan kalimatmu!” Serra berseru kencang.

“Aku akan mentraktirmu kopi.”

“Cho Kyuhyun!” Serra menghentakan kakinya kemudian berlari menyusul Kyuhyun karena hujan yang perlahan-lahan berubah deras.

Kyuhyun tidak tahu harus mengatakannya pada Serra atau tidak jika ia dan Jihyun memiliki satu kesepakatan konyol. Dan kemungkinan tentang cinta diantara mereka itu, entahlah. Jihyun masih sangat mencintai Donghae dan Kyuhyun sendiri tidak yakin apa benar-benar bisa menghilangkan perasaannya terhadap Serra setelah ini.

~o0o~

Jam masih pukul 9 pagi, tapi Jihyun sudah berada di kafe tak jauh dari rumahnya sambil menikmati caramel macchiato dan seporsi tiramisu. Wajahnya terlihat serius dengan sebuah bolpoin dan notes kecil di atas meja.

Shopping.

Menonton film.

Mencoba semua rasa es krim

Menikmati keindahan sungai Han saat malam hari.

Pesta piyama di rumah.

“Selesai!” Jihyun berseru senang melihat catatan semua kegiatannya bersama Han Yoora hari ini.

Yoora adalah sepupu Jihyun yang sejak lulus sekolah menengah pertama mengikuti orangtuanya pindah ke Jepang. Dan entah karena urusan apa, gadis itu pulang ke Korea dan mengajaknya menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama. Dan Jihyun tidak sabar menunggunya. Yoora bilang ia akan menemui Jihyun di kafe favorit mereka lalu setelah itu keduanya akan mulai dengan list pertama yaitu shopping.

Jihyun kembali menyesap caramel macchiatonya seraya menoleh ke luar jendela. Senyumnya mengembang melihat hujan yang mengguyur Seoul hari ini. Walaupun hujan, Jihyun pastikan rencana mereka akan tetap terlaksana. Ya, walaupun menikmati es krim akan dicoret dari daftar. Tidak mungkin mereka menikmati es krim dihari yang hujan. Namun satu hal yang paling Jihyun sukai saat hujan adalah menikmati secangkir kopi dari balik jendela seperti saat ini.

Kesenangan gadis itu terusik kala ponselnya bergetar panjang di atas meja. Yoora memanggil.

“Kau dimana? Aku sudah di kafe favorit kita.”

“Aku masih ada urusan. Bagaimana kalau kita ubah tempat janjiannya?”

“Baiklah. Kita bertemu dimana?”

Terdengar gumaman lama dari Yoora.

“Ah! Kau naik bus berwarna hijau, lalu di halte berikutnya tak jauh dari sana ada sebuah kafe. Kudengar kafe itu terkenal dikalangan anak muda. Bagaimana kalau kita coba?”

“Oke!”

“Sampai bertemu disana Jihyun.”

Jihyun bergumam lalu mematikan panggilan. Ia menghela nafas mengingat di luar masih hujan dan dia tidak bawa payung. Tapi tak apa. Sedikit bermain hujan tidak masalah. Setelah mengeluarkan beberapa lembar uang, Jihyun bergegas meninggalkan kafe.

Sambil menutupi kepalanya dengan tas, Jihyun berlari menghalau hujan dan menepi di sebuah halte bersama orang-orang lainnya. Sebagian dari mereka mengeluh kesal karena hujan membuat pakaian mereka basah. Tapi tidak dengan Jihyun, gadis itu nampak senang baru saja berlari di bawah hujan. Sambil menunggu bus berwarna hijau datang, Jihyun merapikan rambutnya yang berantakan.

“Kenapa aku lupa menanyakan nama kafenya?” Jihyun mencoba menghubungi ponsel Yoora namun tidak aktif.

Karena dia yakin bisa dengan mudah menemukan kafe yang Yoora maksud, Jihyun mengendikan bahunya tidak peduli dan bersiap menaiki bus yang sudah datang.

Seperti biasa, Jihyun memilih duduk di samping jendela dan menikmati hujan selama perjalanan. Namun hujan yang deras membuat pandangan di sepanjang jalan tidak begitu terlihat. Jihyun sibuk dengan pikirannya hingga tak terasa bus berhenti setelah hampir 30 menit. Ia beranjak turun lalu kembali menutup kepalanya dengan tas dan berlari ke sebuah kafe yang tak jauh dari halte.

“Dingin.” Jihyun menggosok kedua tangannya yang mati rasa setibanya di depan kafe. Tentu saja, dua kali tertimpa hujan siapa yang tidak menggigil kedinginan.

Setelah mencoba merapikan rambutnya yang kembali berantakan, Jihyun bergegas masuk ke dalam kafe. Ia yakin minum secangkir kopi, teh atau coklat panas akan membuatnya sedikit lebih baik. Namun belum sampai tangannya menggapai gagang pintu, Jihyun terkejut mendapati dimana ia sekarang. Kafe berwarna putih dengan logo namanya yang berkilau.

“Haru and Oneday.” Ucap Jihyun pelan. ia mengerjapkan matanya dan kembali membaca nama kafe tersebut sekali lagi. Benar. Jihyun baru saja menginjakan kakinya di kafe milik Donghae.

Jihyun sontak membalikan badannya, berniat pergi dan menunggu Yoora di tempat lain saja. Ia tak memiliki keberanian bertemu Donghae secepat ini. Apa yang akan pria lakukan? Apa yang akan Donghae pikirkan jika melihat gadis yang sudah dicampakannya masih berkeliaran disekitarnya? Pikiran-pikiran itu membuat kepala Jihyun berdenyut sakit.

“Anda ingin masuk nona?”

Jihyun tersentak mendengar seseorang bersuara di belakangnya. Ia menoleh dan melihat salah satu karyawan kafe tersebut berdiri di ambang pintu, memandangnya heran karena ia terlalu lama di luar. Jihyun tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe. Berpikir terlalu keras juga percuma, dan bertemu sekarang atau nanti pun sama saja.

Sambil berjalan ke sebuah meja kosong di dekat jendela, Jihyun mengitari matanya ke seluruh penjuru kafe. Ia memperhatikan semuanya satu persatu, mulai dari tata letak meja dan kursi, lampu cantik yang menggantung, lemari kaca berisi deretan kue-kue cantik dan seorang pria yang sedang menuruni tangga. Lee Donghae.

Jihyun merasakan hatinya berdebar melihat Donghae tertawa bersama seorang pria di sampingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya itu sesuatu yang menyenangkan. Tanpa sadar Jihyun tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah itu tetap sama, caranya tertawa tetap sama dan kerinduan Jihyun terhadapa pria itu juga tetap sama.

“Senang bisa melihatmu lagi.” Jihyun berkata pelan. Ia mengalihkan wajahnya ke luar jendela kala matanya mulai berkaca-kaca.

Sementara itu, Donghae menuruni tangga bersama Park Jaemin, sahabatnya ketika sekolah menengah atas dulu. Mereka berhenti di depan counter pesanan sambil asyik membicangkan segala hal dan sesekali saling menggoda.

“Pesonamu tetap kuat seperti dulu Lee Donghae. Terlihat dari kafemu yang ramai dengan para gadis.” Sambil terkekeh Jaemin mengedarkan pandangannya ke semua pengunjung kafe.

“Kau pikir aku menjual pesonaku? Mereka menyukai semua menu disini.” Sahut Donghae.

“Tapi pesonamu berpengaruh juga. Lihatlah gadis-gadis itu! Mereka mencuri-curi pandang ke arahmu.”

Donghae berdecak malas, namun mau tidak mau ia ikut memperhatikan beberapa gadis yang memang terlihat benar mencuri pandang ke arahnya. Dan tanpa sengaja mata Donghae terpaku pada satu gadis yang berada di salah satu meja di ujung sana. Gadis yang sekali lihat, ia tahu siapa.

“Han Jihyun?” Donghae menyebut nama itu tanpa sadar. Ia terkejut bisa melihatnya disini.

“Hei! Siapa Han Jihyun?”

Donghae mengacuhkan pertanyaan Jaemin, hanya sibuk mengamati Jihyun yang terlihat pucat dengan rambutnya yang basah. Gadis itu juga sesekali bersin dan menggigil kedinginan. Tanpa harus bertanya, Donghae tahu Jihyun mulai demam karena kehujanan. Pria tampan itu menggigit bibirnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Banyak hal sebenarnya yang ingin Donghae katakan pada Jihyun.

*

Jihyun meraba dahi dan lehernya yang mulai terasa hangat. Kepalanya pusing dan ia juga sudah beberapa kali bersin. Tidak biasanya terguyur hujan dua kali membuat Jihyun benar-benar terserang demam. Gadis itu menyesal tak sempat memesan minuman hangat tadi. Jihyun memejamkan mata, mencoba bertahan dari suhu badannya yang perlahan-lahan berubah panas. Han Yoora masih tak bisa di hubungi, entah sampai jam berapa ia harus menunggu.

“Di kafe ini, kau harus memesan minuman lebih dulu.”

Jihyun mendongak dan terkejut mendapati Donghae datang dengan secangkir teh.

“Minumlah. Kau terlihat tidak baik-baik saja.” Donghae meletakan cangkir tersebut di hadapan Jihyun lalu menarik satu kursi.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih.” Jihyun menggeser cangkir sedikit menjauh darinya.

“Mereka yang datang ke kafe ini karena ingin menikmati semua menu yang ada disini. Jika kau tidak mau, untuk apa kau datang? Menemuiku?”

Jihyun mendengus pelan. Kepalanya yang pusing karena demam berubah berdenyut sakit mendengar Donghae mengatakan itu. Jihyun benar-benar menyesal menginjakan kakinya di tempat ini. Donghae pasti berpikir, ia tidak memiliki harga diri menemui pria yang sudah mencampakannya.

“Aku datang bukan sengaja menemuimu. Aku ada janji dengan sepupuku, dan dia memintaku menunggu disini. Jadi jangan berpikiran apapun.” Jelas Jihyun dengan wajah datar.

“Kalau kau tidak mau aku berpikiran apapun, minumlah! Itu akan mengurangi demammu.”

Jihyun mengernyit bingung. Bagaimana pria itu tahu ia sedang demam? Donghae memperhatikannya? Untuk sesaat Jihyun sempat merasakan hatinya kembali berdesir hangat hanya karena perhatian kecil seperti itu. Namun semua berubah, saat adegan Donghae meninggalkannya kembali teringat. Bahkan kalimat yang keluar dari bibir tipis itu seperti lonceng mimpi buruk bagi Jihyun.

“Aku menunggu sepupuku di tempat lain saja.” Jihyun memakai tasnya dan hendak pergi.

“Kau tidak nyaman bicara denganku?” Tanya Donghae.

Jihyun yang sudah bangkit dari kursi sontak mengerutkan alis tidak suka. Bagaimana bisa pertanyaan konyol itu keluar dari mulut pria yang bahkan tampak tenang dengan semua yang di lakukannya dulu.

“Saat dua orang yang pernah menjalin suatu hubungan kembali bertemu dan satu orang lainnya merasa canggung, bukankah itu artinya dia masih menyimpan perasaanya?”

“Kau itu kenapa sih?!” Jihyun berseru kencang dengan tatapan tajamnya ke arah Donghae. Ia tidak peduli jika saat ini dirinya menjadi pusat perhatian semua pengunjung kafe.

Donghae tersenyum kecil di tempatnya. Sebenarnya ia tidak bermaksud membuat Jihyun marah. Ia hanya menghalangi gadis itu pergi karena di luar masih hujan dan itu akan memperburuk demamnya.

“Ya! Kau benar! Aku tidak nyaman bicara denganmu. Gadis mana yang nyaman bicara dengan pria yang sudah mencampakannya! Aku tidak sepertimu yang terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun merasa bersalah!” Ungkap Jihyun panjang lebar. Ia menyesal kenapa bisa terbawa perasaan begini.

Donghae melirik pengunjung kafe yang berbisik-bisik ke arah mereka. Mungkin Donghae keterlaluan tadi. Harusnya pria itu bisa bilang ‘jangan pergi dulu’ atau apapun. Bukan justru menyulut emosi Jihyun yang sedang demam.

“Duduklah. Aku minta maaf.” Ujar Donghae kemudian.

Jihyun kembali duduk. Bukan karena ia menuruti perintah Donghae, tapi karena kepalanya bertambah pusing dan sekujur tubuhnya terasa panas.

“Sejak tadi aku menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya. Tentang semua yang terjadi diantara kita, aku minta maaf.” Tutur Donghae. Demi tuhan ia tulus mengatakannya.

“Dua musim berlalu, aku hanya ingin mendengar penjelasanmu. Kau memutuskan hubungan  kita karena semua perasaanmu hilang padaku?”

Donghae tidak langsung menjawab. Ia diam menatap wajah yang pernah sangat ia cintai. Meski Donghae memiliki alasan lain kenapa ia memutuskan sepihak hubungannya dan Jihyun, tapi sesungguhnya kalimat di pantai Malibu itu semuanya bohong.

“Sudahlah. Lupakan yang ku tanyakan tadi. Rasanya tidak berguna menanyakan itu lagi.” Jihyun membuang muka ke luar jendela. Melihat hujan jauh lebih baik, di bandingkan wajah tampan menyakitkan itu.

“Ibuku mengatur kencan buta untukku saat itu.”

Jihyun memandang Donghae. Kencan buta?

“Namanya Kang Jieun. Dia gadis yang sangat di sukai ibuku. Saat ibuku mengatur perjodohan kami, aku menolak karena ada gadis lain yang kucintai. Kau Han Jihyun.”

Jihyun diam tercekat.

“Dan kenapa aku menjauhimu, itu karena ibuku jatuh sakit. Dia tetap ingin Jieun menikah denganku dan memintaku melupakanmu. Aku tidak punya pilihan Jihyun. Ibuku satu-satunya orang tua yang ku miliki. Dan aku memilih memutuskan hubungan kita.”

“Kenapa saat itu kau tidak katakan jika kau di jodohkan dengan gadis lain? Kenapa harus bilang semua perasaanmu hilang padaku?”

“Karena aku masih mencintaimu tapi aku tidak bisa memperjuangkan hubungan kita.” Jawab Donghae.

Jihyun menggeleng pelan. Ia berusaha menolak semua yang Donghae katakan. Ternyata selama ini mereka sama-sama sudah di jodohkan dengan orang lain. Hanya bedanya, Jihyun berusaha mempertahankan perasaanya, sedangkan Donghae hanya diam tanpa melakukan apapun.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku di bayangi rasa bersalah setelah mengatakan itu padamu. Dan kupikir, aku tidak akan bisa bahagia sebelum menjelaskan semuanya.”

“Kau sudah menjelaskannya padaku. Jika kau ingin bahagia, bahagialah! Tapi apapun alasanmu dulu, itu tetap menyakitiku.” Jihyun bangkit dari duduknya. Ia melirik Donghae yang hanya bisa diam lalu berderap pergi meninggalkan kafe.

Lelah. Demam ini membuat Jihyun sangat lelah. Ia ingin pulang. Ingin bergelung di bawah selimutnya dan ia ingin menangis. Kata-kata Donghae membuat Jihyun merasa semua yang di lakukannya sia-sia. Menolak perjodohan, kabur di malam pertunangan dan bertengkar dengan sang ayah hanya karena pria itu, hanya karena ia berharap hubungan mereka bisa kembali. Tapi lihatlah, Jihyun seperti gadis bodoh sekarang.

“Ku antar kau pulang.”

Jihyun tertegun merasakan Donghae menahan pergelangan tangannya. Ia membalikan badan tepat saat pria itu melepaskan pegangannya dengan gurat wajah khawatir.

“Badanmu panas dan demammu akan bertambah buruk kalau kau kehujanan lagi. Tunggu disini, aku akan ambil kunci mobil.”

“Jangan bersikap baik padaku!” Ujaran Jihyun membuat Donghae menghentikan langkahnya. “Jangan bersikap seolah kau peduli padaku.”

“Aku hanya khawatir padamu.” Sahut Donghae pelan.

Jihyun tidak menanggapi, hanya berbalik dan terus melangkahkan kakinya. Dibatas perasaan cinta dan bencinya, Jihyun tetap berharap pria itu masih berdiri memandangnya pergi.

“Donghae Oppa? Kau sedang apa disitu?”

Tanpa sadar Jihyun menoleh. Ia menyesali tubuhnya yang langsung bereaksi hanya karena nama itu keluar dari bibir seorang gadis. Jihyun berdiri di ambang pintu, memperhatikan gadis yang mungkin tadi berpapasan dengannya berjalan menghampiri Donghae dan mereka berpelukan. Donghae memang  membalas pelukannya, namun kedua matanya tak lepas dari Jihyun.

Tak ingin melihat adegan itu terlalu lama, Jihyun kali ini benar-benar pergi. Gadis itu berlari menerobos hujan, tak memperdulikan langkahnya yang kadang tak seimbang. Entah bagaimana ia akan sampai di rumah dengan keadaan demam parah seperti itu. Kalimat Donghae terngiang kembali di telinga Jihyun, bersahut-sahutan dengan riuhnya deraian hujan.

‘Aku masih mencintaimu, tapi aku tidak bisa memperjuangkan hubungan kita.’

~o0o~

Suara hentakan jari yang bergerak cepat di atas keyboard laptop itu membahana di dalam apartemen Kyuhyun. Sang empu sedang serius dengan kegiatannya mempersiapkan tugas kuliah untuk besok. Selain laptop yang menyala, di atas meja ruang tamu juga tergeletak beberapa buku tebal dan secangkir kopi. Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sofa seraya menguap. Entah karena di luar yang masih turun hujan, baru menginjak jam makan siang Kyuhyun sudah merasa mengantuk.

Pria tinggi itu bangkit dan berjalan ke depan jendela. Memperhatikan langit yang masih mendung dan hujan yang masih belum berhenti sejak pagi tadi. Di musim semi hujan memang kadang datang beberapa kali. Dan di cuaca seperti ini membuat Kyuhyun teringat dengan ramyeon. Ia berencana akan membuatnya untuk makan siang nanti. Sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, Kyuhyun kembali ke sofa dan berniat melanjutkan kegiatannya. Namun belum sampai jarinya menyentuh laptop, bel apartemen berbunyi.

“Siapa yang datang?” Kyuhyun beranjak ke arah layar monitor kecil yang terhubung dengan pintu masuk. Matanya terbelalak melihat Jihyun berdiri disana dengan keadaan basah kuyup dan wajah yang pucat pasi. Setengah berlari Kyuhyun membukakan pintu.

“Jihyun? Kau kena…?”

Kyuhyun nyaris jatuh terjengkang karena Jihyun tiba-tiba memeluknya. Gerakan cepatnya membuat Kyuhyun terdorong jauh ke dalam rumah. Pria itu mengernyit bingung, namun sedetik kemudian ia tahu Jihyun menangis. Semula tak ada suara apapun, hingga tak lama bahunya berguncang. Jihyun benar-benar mengeluarkan suara tangis memilukan yang membuat jantung Kyuhyun berdegup kencang.

“Hei! Ada apa denganmu? Han Jihyun!” Kyuhyun yang panik tidak tahu harus berbuat apa.

Bukannya menjawab, Jihyun justru menangis semakin keras. Ia mendekap Kyuhyun kencang sambil menyembunyikan wajahnya di pundak pria itu. Jarak mereka yang terlampau dekat membuat Kyuhyun bisa merasakan suhu tubuh Jihyun naik. Gadis itu sedang demam. Dan mungkin itu yang membuatnya seperti ini.

“Menangislah. Aku tidak akan bertanya apapun.”

Kyuhyun mencoba menenangkan Jihyun dengan mengusap punggung dan juga rambutnya selembut mungkin. Kyuhyun membiarkan Jihyun tenggelam dalam tangisnya, hingga ia tersentak kala berat tubuh Jihyun berkali-kali lipat dan merosot perlahan-lahan dari pelukannya. Dia pingsan.

“Astaga Jihyun!”

Sekuat tenaga Kyuhyun menopang tubuh Jihyun agar tidak jatuh ke lantai. Ia menepuk pelan pipi gadis itu mencoba membangunkannya. Karena tak ada gerakan, Kyuhyun membopong Jihyun ke dalam kamar dan membaringkannya perlahan ke atas tempat tidur.

Pria itu lantas berderap mengambil air hangat dan juga handuk. Ah, tak lupa ia juga mengambil tas berwarna coklat milik Jihyun yang tergeletak di dekat pintu. Kyuhyun menaruh semua yang di bawanya ke atas tempat tidur lalu mulai mengompres Jihyun terus berulang-ulang, sampai Kyuhyun bisa memastikan demam gadis itu turun.

Sambil menunggu, Kyuhyun memperhatikan Jihyun yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat. Demi tuhan ia ingin tahu apa yang terjadi dengan gadis itu sebenarnya. Fokus Kyuhyun teralih manakala ia melihat seprei dan juga kasur yang ikut basah karena Jihyun belum mengganti bajunya.

“Ah sial” Kyuhyun mengumpat kesal. Bagaimana demamnya bisa turun jika Jihyun masih mengenakan pakaian basah kuyup itu. Jihyun harus secepat mungkin ganti baju dan mengeringkan badannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi seperti flu bahkan pneumonia. Tapi jika Jihyun tidak bisa bangun cepat, lalu bagaimana ia bisa mengganti bajunya?

“Tidak!” Kyuhyun menggeleng keras. Pria itu meneguk ludahnya tanpa sadar, mengingat jika di apertemen ini hanya ada dirinya dan Jihyun. Tidak! Kyuhyun menolak habis-habisan apa yang terlintas di benaknya.

“Han Jihyun! Hei, bangunlah! Kau dengar aku?” Kyuhyun terus mencoba membuat Jihyun siuman. Menepuk pelan pipinya, menggoyang-goyang lengannya. Tapi panas yang menguar dari tubuh Jihyun membuat Kyuhyun harus cepat mengambil pilihan.

Tak bisa terelak, jantung Kyuhyun berdegup kacau membayangkannya. Tidak mungkin dia menanggalkan semua pakaian Jihyun dan menggantinya dengan baju kering. Kyuhyun lantas menghubungi Serra, berharap gadis itu bisa membantunya. Tapi sayang, nomor itu tidak bisa di hubungi. Tak ingin banyak berpikir dan keselamatan Jihyun jauh lebih penting, Kyuhyun beranjak ke lemari dan mengambil satu piyama disana.

Tangan Kyuhyun sudah terulur gemetar ke arah kancing baju milik Jihyun. Membukanya satu persatu dan… Kyuhyun melihatnya. Melihat semua yang belum pernah ia lihat. Dan Jihyun tidak boleh menganggapnya kurang ajar karena Kyuhyun melakukannya dengan alasan yang benar.

*

Hari beranjak pukul 3 sore ketika Kyuhyun masuk ke dalam kamarnya, membawa teh papermint untuk Jihyun. Karena seprei dan kasur di kamar gadis itu basah, jadilah Kyuhyun menyuruhnya istirahat di kamar miliknya. Jihyun tengah duduk di sisi tempat tidur seraya menghadap ke jendela. Ia sudah memakai baju kering dan juga minum obat. Demamnya sudah turun namun Jihyun masih tak juga bicara. Matanya hanya fokus ke luar, mengamati hujan yang sudah mereda walau langit mendung masih menghiasi langit.

“Minumlah” Kyuhyun mengulurkan teh yang di bawanya kehadapan Jihyun dan diterima gadis itu tanpa protes.

Kyuhyun ikut duduk di sisi tempat tidur. Terenyuh rasanya melihat wajah cantik yang masih terlihat pucat dengan mata sayu tak bergairah. Sesuatu yang terjadi hari ini pasti sangat membuatnya terluka. Hingga waktu berlalu hampir 20 menit, tak ada siapapun yang mulai bicara. Kyuhyun diam dan Jihyun masih diam, hanya menyesap minumannya sesekali.

“Ayolah, bicara sesuatu. Aku takut demam itu membuatmu jadi bisu.” Ujar Kyuhyun dengan wajah memohon. Ia tidak tahan dengan keheningan mereka. Sejak siuman Jihyun memang tidak mengatakan apapun dan itu membuat Kyuhyun khawatir.

“Siapa yang mengganti bajuku?” Tanya Jihyun dengan suara serak.

“Mwo?” Kyuhyun mengerjapkan matanya, tak menyangka pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari bibir Jihyun.

“Kau yang melakukannya?”

“Kau pikir ada orang lain di rumah ini?”

Jihyun mendongak menatap Kyuhyun.

“Mesum.”

“Aku melakukannya karena kemanusiaan. Kau benar-benar akan jatuh sakit kalau aku tidak mengganti bajumu. Lain kali jika kau demam, jangan datang ke apartemen pria. Merepotkan!” Jelas Kyuhyun dengan wajah memerah. Tak ingin mengingat tapi adegan itu berputar lagi di pikirannya.

Jihyun tertawa. Tertawa biasa yang langsung membuat Kyuhyun bernafas lega. Jihyun ingat, jarak apartemen Kyuhyun memang lebih jauh dari rumahnya. Tapi dengan pikiran kacau begitu, Jihyun tak butuh rumah besar yang kosong. Ia butuh seseorang untuk meluapkan kesedihannya. Dan pundak Kyuhyun menjadi tempat nyamannya saat Donghae membuat harinya buruk.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kau bertengkar lagi dengan ayahmu?”

“Tidak. Aku justru merindukannya sekarang.” Tukas Jihyun. Ia sedikit menyesal dengan semua pertengkarannya dengan sang ayah karena pria jahat itu.

“Lalu?”

Jihyun diam menarik nafas. Lubuk hatinya enggan membicarakan itu lagi.

“Lee Donghae?”

Tepat. Jihyun menoleh dengan wajah kaget.

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku hanya menebak.” Kyuhyun mengendikan bahunya. “Karena hanya pria itu yang bisa merubah suasana hatimu.”

Jihyun menunduk dengan wajah suram. Tidak lagi. Donghae tidak lagi berpengaruh apapun untuknya. Itu yang coba Jihyun yakinkan. Ia melirik Kyuhyun yang sabar menunggunya bicara. Alasannya datang ke apartemen ini adalah karena ia memang butuh seorang teman.

“Aku bertemu Donghae di kafe miliknya. Kau tahu? Rambutnya sedikit panjang. Tapi senyum tawanya dan mata teduhnya tidak berubah. Dia tetap tampan seperti dulu. Hanya yang berbeda…” Jihyun menggantung ucapannya. Pandangan matanya berubah sedih.

“Dia berkencan dengan gadis lain?”

Dengan mata yang kembali berkaca-kaca, Jihyun kembali menoleh ke arah Kyuhyun.

“Kau tahu itu? Bukan, kau mengenal Donghae?”

Kyuhyun mengangguk.

“Sahabatku di kampus itu sepupu Donghae. Dia mengajakku ke Haru and Oneday dan mengenalkanku padanya. Dan disana aku bertemu kekasih pria itu.”

Jihyun mendesah pelan. Jadi selama ini Kyuhyun mengetahui semuanya. Andai pria itu mengatakan pada Jihyun sejak dulu, pasti tidak akan sesakit ini rasanya.

“Aku minta maaf. Saat itu kupikir kau harus melihatnya sendiri. Aku tidak berhak mengatakannya, tapi aku bisa berjanji akan ada untukmu saat kau mengetahuinya nanti.” Kata Kyuhyun tulus.

Jihyun memandangi pria di sampingnya itu dengan lekat kemudian tersenyum. Kyuhyun menepati janjinya.

“Kau tahu Cho Kyuhyun? Aku sudah berusaha menjaga perasaanku padanya dengan sangat baik. Tapi Donghae tidak berusaha menjaga perasaanku dengan sama. Dia memilih kebahagiaanya sendiri.” Jihyun memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Tak lama isakan tangisnya kembali terdengar.

“Hari ini adalah hari yang baik. Yang sedang sedih, sudahi dulu. Yang sedang kecewa, maafkan dulu.” Kyuhyun mengusap puncak kepala Jihyun yang membuat gadis itu mengangkat wajahnya. “Hari ini adalah hari yang baik, jika kau memandangnya dengan baik.”

Jihyun menatap tak mengerti. Mungkin Kyuhyun benar. Dengan kejadian ini, ia bisa melihat seperti apa Donghae itu. Dan penyesalan Jihyun kian terasa kala ia teringat semua yang sudah di lakukannya demi cintanya pada Donghae. Pria itu tidak layak di perjuangkan. Jihyun tersenyum seraya menyeka semua airmatanya.

“Ayo makan! Aku sudah memesan Samgyetang untukmu.” Kyuhyun bangkit dan berjongkok membelakangi Jihyun. “Karena kau sedang sakit, kau boleh naik ke punggungku.”

“Kau manis sekali hari ini.” Jihyun mengerucutkan bibirnya.

“Kau tidak mau?”

“Mau!” Jihyun menjawab cepat dan langsung melompat ke punggung Kyuhyun. Mereka mulai beranjak meninggalkan kamar.

“Ada yang ingin kutanyakan, tapi aku tidak tahu kau bisa menjawabnya atau tidak.” Seru Jihyun sambil mengeratkan rangkulan tangannya di leher Kyuhyun.

“Apa?”

“Apa aku masih perawan?”

“MWO?!” Kyuhyun terbelalak kaget. “Tentu saja! Kau pikir aku sudah gila?!”

Kyuhyun menggeleng miris mendengar Jihyun masih mempertanyakan tentang keperawanan, sedangkan ia hampir mati ketakutan ‘menyelamatkannya’.

“Aku kan sedang pingsan. Aku tidak akan ingat apa yang sudah kau lakukan selagi kau ‘menyelamatkanku’. Kau bisa saja melakukannya diam-diam.” Sahut Jihyun.

“Benar juga. Kau pingsan dan kau tidak akan tahu apa yang sudah terjadi. Aku menyesal tidak melakukannya.” Seru Kyuhyun seraya merapatkan bibirnya menahan tawa.

“Aish! KAU MAU MATI YA?!” Jihyun sontak menarik kedua telinga Kyuhyun hingga pria itu mengaduh kesakitan.

“Sakit! Jangan menarik telingaku! Aku hanya bercanda!” Kyuhyun terus mengerang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari.

Jihyun tertawa keras, dan semakin gencar melakukannya. Ia tidak peduli dengan umpatan Kyuhyun atau pria itu yang mencoba menjatuhkannya dari punggung. Kyuhyun benar-benar membuat semuanya jadi baik-baik saja. Perasaan Jihyun. Hati Jihyun. Juga hari Jihyun yang berubah jadi menyenangkan. Apapun yang pria itu lakukan untuk ‘menyelamatkannya’ pagi tadi, Jihyun tidak peduli. Ia tahu, Kyuhyun akan selalu menjaganya.

 

 

 

End.

 

 

 

 

 

 

6 Comments (+add yours?)

  1. kylajenny
    Oct 04, 2018 @ 23:49:58

    Lucu banget mereka berdua. Kapan mereka saling sukaaa heheh

    Reply

  2. Diyacsw
    Oct 08, 2018 @ 20:36:15

    Cerita yg lucu dan ringan

    Reply

  3. Julie han
    Oct 11, 2018 @ 16:26:46

    Sukaaa…. Setelah sekian lama hiatus membaca….

    Reply

  4. Shita
    Oct 20, 2018 @ 15:40:29

    Udahh jadian aja merekaa :v sukkaa dehh sama ceritanya ❤

    Reply

  5. inggarkichulsung
    Oct 23, 2018 @ 20:33:45

    So sweet bangett, Kyuhyun benar2 penyelamat Jihyun dan skrg meskipun sakit dgn kenyataan yg ada tp Jihyun berusaha mengikuti kata2 kyuhyun u memandang hari ini adl hari baik wlpn menyakitkan

    Reply

  6. Meng04
    Jun 08, 2019 @ 18:31:23

    bukan jodohnya walopun cinta banget juga tetep ga bisa bersatu, biar kan mereka (cinta lama) jadi masa lalu.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: