Thank You

1 (34)

Written By : Chrysantdrey

Lee Donghae | Jung Songhyun (AU)

Romance | Marriage Life

This fanfic is dedicated to ELFishy in the world. All of content in this stories is mine and SJ’s Donghae is ours ^^

“Gugurkan!”

“T-tapi…”

“AKU BILANG GUGURKAN!!”

Tubuh mungilnya bergetar, matanya mulai memerah. Beruntung, linangan kristal itu tak sampai tumpah. Dia sangat hebat dan tenaganya cukup kuat untuk bertahan agar tak menangis saat itu juga.

“Izinkan dia… sampai lahir.” Sambung wanita itu setelah cukup lama terdiam. “Jika sudah lahir aku janji akan pergi dari kehidupanmu.”

Pria itu melempar tatapan kematian. Kesal dan amarah menguasai pikiran dan hati kecilnya. Bagaimana bisa dia membiarkan anak itu lahir? Jujur, bukan itu yang dia harapkan.

“H-Hae… ku mohon.” Dengan segala kerendahan hati, wanita malang tersebut berlutut di hadapan pria bernama Lee Donghae itu. Berharap Donghae mau memenuhi permintaannya. Dia juga bersumpah akan melakukan apapun asalkan bisa melahirkan janin yang ada dalam kandungannya. “Aku akan melakukan apapun. Aku bersumpah.”

Sayang, hati nurani Donghae seperti sudah membusuk. Dia tak bergeming ataupun terenyuh mendengar isak tangis wanita itu. Donghae justru tampak tergesa-gesa merogoh sesuatu di saku celananya, sebuah ponsel dia ambil dari sana. Jari-jarinya terlihat lihai menari di atas layar. Siapa yang mengira bahwa saat ini Donghae sedang menghubungi kontak seseorang.

Kim Kibum.

“Cepat ke apartment ku! Ada pasien untuk mu.”

Kona Beans

1F 640-9 Sinsa-dong, Gangnam, Seoul. 17.00 PM

“Lee Donghae yang ku kenal sudah mati. Ironis.”

Hujan deras dan angin kencang menyelimuti kota Seoul. Tak seperti kemarin, hari ini jalanan sekitar kafe terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang melintas, tentu dengan payung yang melindungi tubuh mereka. Dinginnya udara luar menjadi alasan tepat para kaum eksklusif daerah itu untuk tidak berpergian. Sebagian dari mereka lebih memilih berkumpul bersama keluarga di rumah atau mungkin ada yang tidur sambil ditemani alunan rintik hujan.

Pemandangan berbeda disuguhkan dari dalam bangunan kafe bergaya tropis. Dua orang pria tampak syahdu menikmati suasana dari balik jendela. Ditemani dua cangkir kopi hangat, keduanya memandang serius suasana diluar.

“Dunia merindukan Lee Donghae yang dulu.” Satu ucapan penuh makna terlontar dari mulut salah satu diantara mereka. Dia pria dengan kemeja putih panjang yang lengannya sengaja digulung rapi. Kim Kibum.

“Sudah mati.” Pria yang satu lagi menjawab. Jangan terkecoh dengan wajahnya yang lembut. Dia pria yang buruk, tak punya hati nurani. Style yang menawan bak seorang presdir rupanya tak seindah kepribadiannya yang keji dan menyeramkan.

Lee Donghae.

Tatapannya sinis. Membalas pernyataan seolah tak memiliki beban saat mengucapkannya.

“Aku mengenalmu. Bukan dua atau tiga tahun aku mengenal siapa dirimu.” Kibum mencoba menggali puing-puing hati nurani Donghae, berharap secuil rasa belas kasih ia temui disana. “Aku tahu kau melakukannya dengan sadar.”

“Aku mabuk saat itu.” Tolak Donghae yang tak terima atas tuduhan yang dialamatkan Kibum padanya.

“Kau pandai mengontrol diri.” Kibum tersenyum datar. “Bahkan ditengah rasukan alkohol pun kau bisa menguasai dirimu. Aku tahu itu.”

“Jangan sok tahu! Aku bilang aku-”

“Jangan bohong!!” Potong Kibum. Dia tetap terlihat tenang dan jauh lebih bisa mengontrol emosi ketimbang sahabatnya. “Kau tak bisa membohongiku. Matamu sedang berbicara.”

Kesal karena terus dituduh yang bukan-bukan membuat Donghae semakin geram. Dia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu.

“Pulanglah!” Suara Kibum menghentikan derap langkahnya. “Kau tidak dengar petir tadi? Dia sedang ketakutan sekarang. Pulanglah dan temani dia.”

Aku berterima kasih padanya, pada pria itu. Kim Kibum, Dokter Spesialis Kandungan yang telah menolongku. Dia begitu baik, tatapan matanya selalu tulus. Aku mengenalnya baru-baru ini, dia sahabat Donghae. Kibum datang disaat yang tepat. Ia berhasil meluluhkan hati Donghae untuk tidak menggugurkan kandunganku. Aku masih beruntung karena saat kejadian mengerikan itu Donghae menghubungi Kibum, bukan dokter lain. Andai saja dokter itu bukan Kibum, mungkin Donghae sudah berhasil membunuh darah dagingnya sendiri.

Lee Donghae, dia hanya pria malang sama sepertiku. Kami adalah korban perjodohan para orangtua. Jujur, aku tak menyukai pernikahan seperti ini, tapi aku juga tidak mengutuknya, tidak seperti Donghae yang mengutuk pernikahan kami. Ini menyedihkan, tak ada yang bisa ku lakukan kecuali bertahan, setidaknya sampai bayi ini lahir dan aku akan pergi jauh dari kehidupannya.

Galleria Foret Apartment – 45th floor

Seongdong – Seoul. 19.00 PM

Lantai 45, tepat di depan pintu flatnya, Donghae berdiri disana. Dia tak serapi saat bersama Kibum, penampilannya sedikit berantakan. Sedikit aroma alkohol tercium dari mulutnya. Apa dia minum?

Tentu.

Sepulang dari kafe dia tak langsung pulang ke apartment. Donghae berbelok arah menuju Itaewon, ke rumah kekasihnya, Ana Song, seorang top model internasional dari majalah fashion ternama di Paris. Keduanya sempat minum wine bersama, walau hanya beberapa teguk dan tak sampai membuat mabuk. Namun, pilihan Donghae mengunjungi Ana terkesan sia-sia. Kunjungannya tidak menghasilkan jalan keluar. Dia mengira bertemu dengan kekasih hati adalah jalan terbaik untuk melupakan semua masalah yang dihadapi, tapi ternyata tidak. Bayangan ekspresi Kibum mengganggu pikirannya. Donghae terus teringat pada Jung Songhyun, istrinya yang sedang sendirian.

Entah apa yang merundung pikiran Donghae kala itu, tak biasanya dia seperti ini. Enam bulan yang lalu, saat pernikahan mereka berlangsung, tak pernah dia sekhawatir ini pada Songhyun. Donghae justru mengabaikan wanita itu dan tidak mempedulikannya sama sekali. Baginya, Songhyun adalah kesialan dan dia sangat membenci wanita itu. Sepanjang perjalanan pulang Donghae pun bertanya dalam hati, apa yang menyebabkannya kacau jadi seperti ini? Bahkan rayuan Ana tak mampu menenangkan hatinya untuk tak mencemaskan Songhyun hingga Donghae melakukan satu kesalahan besar.

Meninggalkan model sexy itu dan pulang menemui istrinya.

Kurang lebih setengah jam Donghae berdiri disana. Pikirannya masih kalut atas apa yang dia terima hari ini. Proyek perusahaan yang diterpa masalah sampai protes para Dewan Direksi atas stabilitas perusahaan dibawah kepemimpinannya membuat Donghae tertekan dan frustasi. Belum lagi kekecewaan Ana atas sikap acuhnya hari ini. Tapi, bukan Donghae namanya jika tidak mengabaikan semua masalah itu, karena menurutnya ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar mencari jalan keluar atas permasalahan yang sedang menghinggap. Seseorang yang berhasil mengusik pikirannya.

Jung Songhyun.

Dialah yang terpenting.

Lama berdiam diri, Donghae pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Telunjuknya menekan lambat beberapa digit password pengaman, hingga tersisa tiga digit angka, Donghae mulai ragu untuk menekannya lagi. Dia mengalihkan pandangan lurus pada lorong koridor lantai 45. Hening dan sepi menghiasi lantai tertinggi dari gedung apartment mewah itu. Suara hujan sudah tak lagi terdengar, namun bukan berarti hujan sudah reda. Kecanggihan alat peredam dari gedung itulah yang membuatnya tidak terdengar. Lantas, bagaimana dengan petir? Apa sama tidak kedengaran juga?

“S-Songhyun…”

Donghae segera menekan sisa digit password pengaman. Suara dahsyat yang barusan didengar membuatnya panik. Dia teringat pada Songhyun yang mungkin sekarang sedang meringkuk ketakutan.

“Jung Songhyun…” Suara Donghae memenuhi setiap ruangan. “JUNG SONGHYUN…” Bahkan petir pun kalah bila dibandingkan dengan teriakannya.

“H-Hae…”

Merasa ada yang memanggil, Donghae berlari ke ruang makan, tempat suara berasal. Hingga sampai ditempat tujuan, dia menemukan pemandangan memilukan. Jung Songhyun, dengan posisinya yang memprihatinkan sedang duduk sambil memeluk erat lututnya. Bahunya bergetar dan wajahnya berubah pucat tak seperti biasa.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak masuk kamar?” Tanya Donghae yang tak bisa menyembunyikan rasa kesal bercampur cemas.

“A-aku… takut petir.”

Damn.

Donghae mengutuk dirinya. Bagaimana bisa Kibum tahu segala hal tentang Songhyun? Ucapannya di kafe tadi benar-benar nyata. Tanpa membuang waktu, Donghae segera menggendong wanita itu ke kamarnya, kamar Songhyun. Dia membaringkan Songhyun di atas ranjang lalu menyelimutinya hingga batas dada.

“Hae…” Suara lemah itu kembali terdengar. Donghae mendongak dan menatap wajah Songhyun. Lagi.

“Hmm?” Gumamnya pelan. Ini pertama kalinya Donghae menyahut ucapan wanita itu dengan lembut.

“Jangan… pergi.” Berusaha keras Songhyun membuka mata demi melihat wajah Donghae walau itu terlihat samar. Dia sangat ingin melihat dengan jelas, tapi kedua indera penglihatannya terlalu perih untuk terbuka lebar.

“Baiklah.” Tanpa harus berpikir menerima atau menolak, Donghae dengan tegas melontarkan bahwa dia bersedia menemani Songhyun malam ini. “Jangan takut, aku akan menjagamu.”

“Terima kasih.” Seutas senyum Songhyun berikan untuk Donghae, senyum yang tak akan pernah pudar sekalipun pria itu terus menyakiti hatinya.

Pertama kali, sejak enam bulan pernikahan mereka, baru sekarang Donghae menatap Songhyun sedekat ini. Tatapannya begitu intens, seperti sedang menelisik sesuatu yang indah dari objek yang dilihat. Rasa kagum akan pahatan sempurna Sang Pencipta dia tunjukan ketika menatap wajah teduh yang tengah tertidur pulas itu. Donghae mengamini bahwa dia beruntung mendapat istri semanis Songhyun. Tapi, tetap saja dibalik rasa beruntung itu tersirat sebuah kepahitan hati atas pernikahan terkutuk yang mereka jalani. Donghae masih membenci status barunya. Bagaimana pun juga cintanya terhadap Ana tak bisa terbantahkan, sekalipun Songhyun kini sedang mengandung benih atas perbuatannya, Donghae akan tetap mencintai Ana Song, gadis keturunan Korea – Belanda itu. Dia selalu berpikir untuk tidak mencintai Songhyun, bagi Donghae perasaan itu sangat tidak mungkin.

06.00 AM

“Jung Songhyun…”

Sinar mentari menyelinap dari balik tirai jendela, membangunkan Donghae dari tidur lelap. Perlahan dia membuka mata, berusaha menyesuaikan cahaya yang berlomba memasuki retinanya. Donghae tertegun, tak habis pikir dia bisa tidur dengan posisi duduk seperti itu. Tapi tunggu, ada pemandangan yang berbeda dari semalam. Seingatnya di kamar ini dia tidak sendirian, ada Songhyun, istrinya. Pergi kemana wanita itu?

“Songhyun…” Panggil Donghae yang kini beranjak keluar dari kamar. “Jung Songhyun…” Suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan.

“K-kau sudah bangun?” Nada ragu terdengar dari ruang makan. Itu Songhyun yang sedang asyik menata menu sarapan di atas meja. Dia terkejut mendengar teriakan Donghae, takut setelah ini pria itu akan memarahinya seperti biasa.

Donghae menghela nafas. Bersyukur karena sosok yang dicari ada di depan mata. “Aku tak melihatmu di kamar. Apa yang sedang kau lakukan?” Dia mendekat.

“Aku membuatkan sarapan untuk mu.” Songhyun tertunduk. Dia masih takut menatap Donghae. “Ma-makanlah.” Songhyun menghindar cepat saat Donghae menghampirinya. “Aku ke dapur dulu.”

“Tunggu!” Donghae menghentikan langkah istrinya. “Temani aku sarapan.”

Songhyun menoleh ragu, takut Donghae sedang mempermainkan dirinya. Tak pernah Donghae seperti ini. Biasanya dia selalu sarapan sendiri tanpa ingin ditemani wanita itu. Jelas ini membuat Songhyun cukup tercengang dan curiga.

“Kenapa diam?”

“I-iya.”

Mencoba berpikir se-positif mungkin, Songhyun pun menuruti perintah suaminya. Dia duduk berhadapan dengan Donghae, terlihat keduanya begitu canggung. Ini kali ketiga mereka duduk di meja makan dengan posisi saling berhadapan. Dulu, mereka pernah melakukan ini, momen perkenalan mereka, saat dimana orangtua Donghae dan orangtua Songhyun bertemu untuk membahas pernikahan sepihak itu.

Songhyun masih tertunduk, dia enggan, lebih tepatnya takut menatap wajah Donghae. Berbeda dengan Songhyun, Donghae justru sedang menatapnya. Setiap gerak-gerik Songhyun ditatap dengan seksama. Tak ada satu pun yang terlewatkan. Saat Songhyun menggerakan pisau untuk memotong daging, saat Songhyun menusuk potongan daging dengan garpu, saat Songhyun memasukan daging ke mulut hingga mengunyahnya, semua tak luput dari perhatian Donghae.

“Makanlah yang banyak!” Perintah Donghae yang terkesan peduli pada kesehatan istrinya.

Songhyun memberanikan diri untuk menatap wajah pria itu. Dia membuang rasa takut agar bisa melihat mata sendu Donghae. Songhyun sama seperti Kibum, pandai menebak isi hati seseorang hanya dengan melihat tatapan mata. “Hae… terima kasih.” Ujar Songhyun sesaat dia menatap manik cokelat milik Donghae. “Terima kasih sudah menemaniku semalam.”

Donghae terdiam, tak membalas ucapan Songhyun. Dia memilih beranjak tanpa menyentuh sedikit pun makanan yang ada dihadapannya. Kakinya melangkah ke arah kamar. Donghae masuk ke dalam lalu menguncinya pelan. Songhyun yang melihat itu hanya bisa diam. Dia sudah terbiasa dengan sikap Donghae yang seperti itu. Benar-benar susah ditebak.

11.00 AM

“Mau kemana?”

Donghae melihat Songhyun berpakaian rapi. Wanita itu mengenakan dress merah muda yang panjangnya selutut ditambah kardigan putih yang memperlihatkan keanggunan seorang Jung Songhyun. Belum lagi rambut panjangnya digulung ke atas hingga memperlihatkan tengkuknya yang mulus. Membuatnya benar-benar terlihat cantik dan keibuan.

“Persediaan bahan makanan kita sudah habis.” Jawabnya pelan. “Boleh aku keluar untuk membelinya? Hanya sebentar.” Songhyun meminta ijin Donghae agar dia bisa pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan mereka. Jujur, dia sangat takut. Takut Donghae tidak mengijinkannya.

“Tidak. Kau tidak boleh pergi.”

Lotte Department Store

401 Dogok-ro, Gangnam-gu, Seoul. 12.00 KST

Seorang pria tampak sibuk menelusuri rak-rak kebutuhan bahan pangan. Dia sangat teliti memperhatikan detail-detail makanan yang akan dimasukan ke dalam troli.

Lee Donghae.

Pria itu memang dikenal dengan tingkat ketelitian yang tak perlu diragukan. Dia tak pernah asal dalam mengerjakan sesuatu. Apapun itu, Donghae akan selalu memperhatikan sedetail mungkin apa saja yang dia kerjakan, termasuk memilih bahan pangan. Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan Songhyun, Donghae mencari barang yang harus dibeli. Semua barang yang ditemukan dia masukan dalam troli. Ada gula, kopi, teh, serta makanan ringan seperti roti dan biskuit memenuhi setengah dari kapasitas troli.

Tiba waktunya dia harus berbelok ke arah counter bahan makanan segar untuk membeli sayuran, daging dan makanan laut seperti ikan, udang dan kerang. Namun sebelum itu, Donghae jadi teringat pada Songhyun. Dalam daftar belanjaan tidak tampak barang khusus tertulis disana. Tentu barang khusus yang dimaksud Donghae adalah kebutuhan untuk ibu hamil. Apa Songhyun tidak membutuhkannya?

To : Kibum

Kau tahu apa saja kebutuhan untuk ibu hamil?

Tak ingin salah menebak, Donghae memutuskan menanyakan hal itu pada Kibum melalui pesan singkat. Dengan resah, dia menunggu balasan dari sahabatnya itu.

Sent…

From : Kibum

Kau tidak tahu? Kenapa tidak menanyakannya pada Songhyun?

“YA, this man.” Gerutu Donghae saat membaca balasan dari Kibum. Apa Kibum sedang meledeknya?

To : Kibum

Kau hanya cukup menjawab pertanyaanku, Dokter Kim. Cepat beritahu aku!!

Donghae kembali resah. Dia mengetuk jari-jarinya pada pegangan troli. Dia bersumpah akan memakan Kibum jika pria itu terus mengajaknya bercanda.

From : Kibum

Kau mulai berubah rupanya. Belum terlambat Presdir Lee. Kau masih punya waktu untuk mengakuinya.

Shit. Manusia ini, apa harus aku membunuhnya?”

Belum selesai Donghae meluapkan sisa emosinya, satu pesan sudah muncul lagi. Pesan dari orang yang sama. Kim Kibum.

From : Kibum

Untuk ibu hamil yang paling penting adalah asupan gizi. Kebutuhan gizi Songhyun harus seimbang, selain makanan segar tanpa bahan pengawet, kau bisa memberinya susu khusus ibu hamil. Bisa saja kau beri dia vitamin, tapi saranku lebih baik kalian periksa dulu ke dokter karena pemberian vitamin tergantung pada sistem metabolisme ibu hamil itu sendiri.

Sekiranya cukup, Donghae tahu apa yang harus dia lakukan. Ponsel itu kembali disimpan ke dalam saku celananya. Dia mendorong troli ke rak yang berisi beragam macam susu. Ada susu bayi, balita, anak-anak, dewasa, sampai manula dan tentu bukan itu yang Donghae pilih.

“Ah, ketemu.”

Berbagai macam merek susu khusus ibu hamil yang terdiri dari beberapa jenis rasa tersusun rapi disana. Cokelat, vanila, mocca dan lain-lain membuat Donghae bingung harus memilih rasa yang mana. Lagi, dia tidak bisa menebak.

“Cokelat? Vanila?”

Tak ingin dibuat pusing antara cokelat atau vanila, Donghae pun memutuskan untuk memborong beberapa merek susu dengan varian rasa yang berbeda. Dia tak ingin menebak, karena dia benci sesuatu yang berbau tebakan. Biarlah Songhyun memilih mana susu yang dia suka. Sekalipun ada yang tidak disukai, tidak masalah jika susu itu harus dibuang. Bagi Donghae ini bukan masalah besar. Dia punya banyak uang dan bisa membeli lagi kapan pun dia mau.

Selsai dengan urusan susu, Donghae kembali mendorong trolinya ke area bahan makanan segar. Dia memilih semua yang dilewatinya. Tampak benda beroda empat itu sudah tidak mampu menampung barang belanjaan. Tapi tunggu, ini bukanlah perkara sulit, kedua tangan Donghae masih cukup kuat untuk menggenggam sayuran, buah-buahan, ikan, daging dan sejenisnya. Dengan senang hati dia rela menghancurkan image seorang presdir yang identik dengan kharismatik, bijaksana dan gagah. Tidak peduli orang berkata apa, sekalipun para pengunjung supermarket menatap ke arahnya, Donghae tetap tidak peduli. Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu, itulah yang diterapkan dalam kehidupannya. Persetan dengan anggapan orang, apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang memang dia ingin lakukan.

Lotte Department Store Parking Area. 13.45 PM

Menghabiskan waktu lebih dari satu jam, Donghae pun selesai dengan tugasnya hari ini. Dia membawa masuk semua barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, khusus untuk makanan segar dia sengaja meletakannya di jok belakang agar kondisinya tetap segar dan tidak bau karena udara lembab.

Donghae masuk ke dalam mobil, dia memasang sabuk pengaman lalu menyalakan mesin. Tak butuh waktu lama, Mercedes Benz S500 dengan warna hitam mengkilat itu pun segera meninggalkan basement. Donghae melaju dengan kecepatan sedang, dia tampak menikmati perjalanan pulang. Mobil yang sedang dia kendarai adalah imbalan dari sang Ayah atas pernikahannya dengan Songhyun. Sebelumnya, Donghae tak pernah mau mengendari mobil super mewah itu. Dia berpikir mobil itu sama seperti Songhyun, sama-sama menyebalkan, perusak masa depan orang. Jika pergi ke kantor, Donghae selalu memakai mobilnya kesayangannya, BMW 760Li sedangkan mobil imbalan itu selalu terparkir manis di basement gedung apartment.

Tepat di pertigaan traffic light, Donghae menghentikan laju mobilnya, melatih kesabaran demi mempersilahkan para pejalan kaki menyebrang melewati zebra cross. Sesekali dia bersenandung pelan, mengikuti irama angin yang menemani perjalanannya. Donghae tampak seperti manusia normal yang hidup bahagia. Padahal jika ditelusuri lebih dalam tidak ada sedikit pun kebahagian yang dia rasakan. Miris.

Di sudut jalan, tepatnya di depan sebuah kedai es krim, ada pemandangan yang tak asing baginya. Donghae mencoba memicingkan mata, meyakinkan bahwa yang dia lihat adalah salah. Dua orang, seorang wanita dan seorang pria menarik perhatiannya. Dia yakin pernah melihat wanita itu, bahkan mengenalnya lebih dalam. Tapi sayang, dia tak mengenal identitas sang pria. Lantas, apa yang keduanya lakukan disana? Ini juga yang jadi pertanyaan di benak pria bermata sendu itu. Pasangan gila yang tak sadar tempat, haruskah mereka bercumbu di tempat ramai? Bahkan tatapan jijik yang mengarah ke mereka diabaikan begitu saja, membuat Donghae ikut mengutuk keduanya. Dia hanya bisa tersenyum remeh menatap dua sejoli dari kejauhan.

Galleria Foret Apartment – 45th floor

Seongdong – Seoul. 20.30 PM

Pintu flat terbuka, Donghae membawa masuk barang belanjaan ke dalam lalu meletakan semuanya di atas meja makan. Satu persatu bahan kebutuhan pokok dia keluarkan dari dalam kantong plastik. Donghae menyisihkan sayuran, ikan, daging, dan udang kemudian memasukannya ke dalam lemari pendingin.

“Kau sudah pulang? Kenapa lama?”

Suara Songhyun menginterupsikan gerakan Donghae. Dia menoleh ke arah wanita itu dan mendapati Songhyun dengan piyama yang sudah melekat di badan. Sebentar Donghae berkacak pinggang, kemudian menghampirinya.

“Kenapa malam-malam keramas? Kalau masuk angin bagaimana?” Donghae mendekat dan mengambil handuk yang ada di tangan Songhyun. “Keringkan dulu rambutmu.” Dia mengusap pelan rambut panjang Songhyun yang masih basah. Terlihat satu dua tetes air masih jatuh lambat dari ujung-ujung rambut. “Mulai detik ini aku melarangmu keramas malam-malam.”

Songhyun dibuat bertanya-tanya atas sikap mendadak suaminya hari ini. Rasa penasaran dan takut bercampur aduk. Songhyun tak pernah mengira jika Donghae bisa memperlakukan dia layaknya seorang suami memperlakukan manis istrinya. Selama ini dia hanya menerima amarah, kebencian, dan rasa sesal yang tak berujung. Songhyun benar-benar tidak mengerti apa tujuan Donghae melakukan itu. Semua masih terlalu dini untuk disebut kebahagian karena bisa saja esok hari Donghae kembali berubah mengerikan seperti biasa.

“K-kenapa lama?” Tanya Songhyun gugup.

“Kau menungguku?” Donghae bertanya balik. Dia masih asyik mengusap rambut istrinya supaya benar-benar kering.

“Sudah makan?”

“Belum.”

Pemandangan sepulang dari supermarket tadi kembali melintas dalam ingatan. Berusaha keras Donghae melupakan aksi memalukan itu, tapi semua sia-sia. Bahkan berdiam diri di dalam mobil hingga berjam-jam pun tak mampu membantunya melupakan apa yang sejoli sialan itu lakukan. Donghae masih terlalu tajam untuk merekam, ini sangat mengusik pikirannya.

“Kenapa belum makan? Ku pikir kau makan malam diluar makanya kau pulang lama.” Songhyun memutuskan pergi ke dapur untuk segera menyiapkan makanan. Namun, Donghae langsung menarik tangannya saat hendak berbalik arah.

“Songhyun…” Donghae tampak menarik nafas, seolah ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting.

“Ada apa?”

Dia terlihat serius menanggapi respon Songhyun. Perlahan raut wajahnya yang mengeras tampak sedikit lebih lembut. Belum lagi saat kedua tangannya mengenggam hangat tangan mungil itu, membuat pertemuan diantara manik mereka satu sama lain.

“Berjanjilah…” Seru Donghae membuat Songhyun bingung maksud dari perkataannya. “Jika suatu saat nanti aku kembali berubah pikiran, tolong, tetaplah bertahan demi anak itu.”

Secercah harapan menghampiri Songhyun. Mata sendu itu mengisyaratkan kejujuran. Dia percaya Donghae sedang tidak berbohong. Baginya, ini sebuah keajaiban. Songhyun tidak peduli jika pria itu tak menginginkan dirinya. ini sudah lebih dari cukup.

“Kau mau?”

Songhyun menyambut hangat permintaan Donghae. Dia mengangguk sambil tersenyum dan juga menangis. Mengekspresikan isi hati atas apa yang telah dia alami selama ini. Mengungkapkan kebahagiaan yang sedari dulu memang ingin dia rasakan. Tidak peduli penyebab Donghae jadi seperti ini, yang Songhyun inginkan hanyalah melahirkan janin yang ada dalam kandungannya, itu saja. Sederhana sekali, bukan?

 

Tuhan, bisakah aku mencintainya? Lihatlah, kami sama-sama malang, bukan? –Lee Donghae-

Tak peduli dengan hal lain, yang ku inginkan hanya ini. Terima kasih, Lee Donghae… –Jung Songhyun-

Note : Mungkin dari kalian ada udah yang pernah baca fanfic ini. Yap, ini pernah di posting di blog pribadi aku sebelumnya di chrysantdrey.wordpress.com . Sebenarnya ini series cuma memang udah lamaaaaaa banget belum aku lanjutin. Rencananya fanfic ini mau aku terusin di blog ini. Semoga kalian suka ^^

Donghae – Songhyun will return on the next story

-Chrysantdrey-

© 2018

4 Comments (+add yours?)

  1. ayujl99
    Jan 10, 2019 @ 14:04:17

    2 orang yg diliat Donghae, yg cewe pasti pacarnya ya ?
    disini Donghae udah mulai berubah,
    Nggak sabar baca next part nya
    .. I’m still waiting for the next part…

    Reply

  2. Meng04
    Jun 08, 2019 @ 11:05:10

    Donghae luluh karena ada calon anaknya? Sikapnya juga mulai me baik ke istrinya.

    Reply

  3. blueangel1015
    Oct 12, 2019 @ 03:14:19

    OMG I LOVE THIS!!!! 😻😻😻

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: