Ways to Life Forever [8/?]

rfs

[Chapter 8] Ways to Life Forever

Author : Rien Rainy (@rienhara_)

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Song Soo Ra (OC)
  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Genre : drama, family, romance

Rated : T

Length : chapter

Note : FF ini juga tayang di http://rienrainy.blogspot.com/ dan di http://rienhara.wordpress.com/

— Ways to Life Forever —

‘Temui aku di lapangan.’—Ayah Hyonnie.

Soo Ra menutup buku bacaannya, Na Hyun yang sedang mengetik jadi tertarik untuk sekedar berhenti fokus dan menatap Soo Ra sebentar. Perempuan bermarga Song itu menunjuk layar ponselnya yang berisi pesan Kyu Hyun, “Menemuinya lagi,” kata Soo Ra membuat dahi Na Hyun terlipat heran.

“Aku tidak bertanya apapun tentang apa yang akan kau lakukan?” kata Na Hyun sambil melanjutkan kegiatannya, Soo Ra memutar bola matanya dan menggedikan bahu. “Aku pergi, nde!” kata Soo Ra membuat Na Hyun mendongak dan menatap Soo Ra heran, “Kau juga tidak biasanya seperti ini? Terdengar seperti kau sedang pamit berken… uhmmptt?!”

Soo Ra tak bisa menahan rasa ingin membekap mulut besar Na Hyun sejak tiga hari yang lalu, sekarang mulut Na Hyun mirip dengan Jang Mi. Soo Ra berpikir jika Na Hyun dan Jang Mi terlihat seperti kakak-adik yang tidak identik secara fisik dan berbeda orangtua, benar-benar pikiran yang tidak masuk akal. Diam-diam, Soo Ra jadi teringat ketika Hyo Na kesal karena Jang Mi menggodanya tentang Dong Hae, entah kenapa itu mirip dirinya sekarang.

“Sekali lagi aku mendengar kalimat itu, aku tidak segan mendiamkanmu!” ancam Soo Ra yang tidak membuat Na Hyun takut, Soo Ra melepas tangan pada wajah Na Hyun untuk memberikan akses oksigen.

“Kau ini semakin tidak bisa diajak bercanda?!” keluh Na Hyun membuat Soo Ra cemberut, “Jika boleh kuingatkan padamu, Hyunnie. Apa yang kau katakan bukanlah candaan yang lucu bagiku!” Na Hyun mendengarnya jadi menghela napas, Soo Ra sudah tidak memperhatikannya.

“Baiklah, maafkan aku kalau candaanku itu tidak lucu di telingamu, tapi yang harus kau tahu Soo Ra-ya …” Soo Ra menarik bibir Na Hyun hingga mengerucut dan menghentikan suaranya, “Aku tidak ingin dengar pengamatanmu karena seperti yang sudah kukatakan malam itu. Aku tidak punya perasaan apapun dan aku hanya menganggap semua ini sebatas hubungan professional antara pengajar dan orangtua. Sekian. Aku pergi!”

Soo Ra yang tak ingin lagi mendengar perkataan Na Hyun langsung bergegas pergi menemui Kyu Hyun. Sekarang Soo Ra paham bagaimana perasaan Hyo Na yang selalu digoda Jang Mi dan Soo Ra jadi paham perasaan ingin melemparkan sesuatu pada Na Hyun ketika perempuan itu menggodanya tentang Kyu Hyun. Sebenarnya secara spesifik Na Hyun tidak sedang menggoda, tetapi perempuan itu sekarang lebih banyak bicara mengenai ada hubungan apa diantara Kyu Hyun dan Soo Ra dan itu jelas saja membuat Soo Ra tidak nyaman.

Ah, jika saja malam itu Kyu Hyun tidak mengantarnya pulang dan membuat Na Hyun berpikir yang aneh-aneh, mungkin hari ini atau dimulai sejak saat itu, tidak akan Soo Ra dengar segala macam godaan tentang kencan bersama Kyu Hyun.

000ooo000

Soo Ra hampir seharian menghabiskan waktu untuk menunggu Hyo Na pulang, lagi pula hari ini tidak ada jadwal bertemu dengan dosen Kim. Soo Ra menghabiskan waktu di beberapa café dengan buku yang dibawanya, dia membaca untuk beberapa lama lalu mencoba sabar menunggu balasan pesan dari Hyo Na. Karena jujur saja, perempuan muda itu sama sekali tidak membalasnya, Soo Ra tahu dia tidak ditolak, tetapi apa salahnya dengan membalas pesan dengan segera. Ketika pesannya dibalas dengan cukup lama dan menguras rasa sabar, akhirnya mereka bertemu di dekat gerbang sekolah saat jam sekolah sudah usai.

Hyo Na secara terang-terangan tidak ingin pertemuan mereka diketahui Jang Mi dan Dong Hae, jadi saat Soo Ra datang Hyo Na langsung menarik perempuan itu untuk segera meninggalkan sekolah. Soo Ra senang-senang saja lagi pula dia memang hanya perlu bersama Hyo Na hari ini.

Mereka berdua berkeliling, singgah sebentar ke café untuk membeli minuman, singgah di kedai-kedai kecil membeli kudapan dan menghabiskan waktu berbincang. Soo Ra tidak akan menyangka jika Hyo Na bersikap sangat terbuka pada hari ini. Karena jika diingat lagi hubungan mereka cukup buruk di awal pertemuan ditambah adanya insiden kecil yang tidak akan mungkin Soo Ra lupakan. Namun, Hyo Na bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi, perempuan muda itu asyik dengan jalan-jalan dan cerita.

Hingga diujung pertemuan, Soo Ra akhirnya mengantar Hyo Na pulang. Tepat saat itu Kyu Hyun juga baru saja turun dari mobilnya, lelaki itu pulang lebih awal dan hari ini memang tidak ada jadwal Soo Ra untuk mengajari Hyo Na. Ketika Soo Ra ingin pulang ke flat, Hyo Na dengan suasana hati yang baik malah mengusulkan untuk Soo Ra agar makan malam di kediaman Cho padahal Soo Ra secara halus sudah menolak, tetapi Kyu Hyun memaksanya lebih halus pula.

“Tidak usah segan, Soo Ra-ssi. Anggap saja ini bagian dari imbalan telah membantu Hyonnie, hm?” Kyu Hyun mengatakannya sambil merangkul Hyo Na yang sudah mengangguk untuk menyetujui perkataan Kyu Hyun.

Soo Ra jelas tidak bisa menolak, jadi malam itu Soo Ra makan bersama Kyu Hyun dan Hyo Na, hanya mereka bertiga dan sebenarnya ada seorang bibi yang memasak makanan di kediaman Cho. Soo Ra berpikir kehadirannya di tengah-tengah keluarga Cho akan sangat tidak nyaman, karena Soo Ra merasa tidak dekat secara pribadi dengan mereka. Soo Ra menganggap hubungannya dengan mereka hanya sebatas kontrak, yaitu Soo Ra sebagai pengajar untuk Hyo Na dan Soo Ra punya hubungan tutor dan orangtua dengan Kyu Hyun. Lagi pula Soo Ra diberkahi keberuntungan untuk mengenal mereka lewat kebaikan hati Kyu Hyun yang sudah membantunya membela diri saat di café dan Soo Ra merasa punya tanggung jawab untuk membalas kebaikan hati itu dengan membantu pembelajaran Hyo Na. Hanya sebatas itu saja.

Malam itu, Soo Ra pulang tepat pukul 9 malam dan Kyu Hyun bersedia mengantarkannya. Hyo Na tidak berkomentar walau Soo Ra secara terang dan jelas menolak kebaikan hati Kyu Hyun, Soo Ra benar-benar merasa tidak enak hati pada keluarga ini. Namun, Kyu Hyun bersikeras mengantarkannya, jadi Soo Ra tidak mampu berbuat apapun. Dan malam itu, Kyu Hyun mengantar pulang Soo Ra ke flat.

“Jadi, kau hanya tinggal berdua dengan Jang Na Hyun-ssi?” tanya Kyu Hyun sambil memutar kemudinya, Soo Ra memperhatikan jalanan yang berisi kendaraan, “Sejak kami kuliah, kami sudah tinggal bersama dan mencoba mandiri.”

Kyu Hyun tersenyum, “Semangat anak muda, aku suka mendengar semangat kemandirian kalian.”

Soo Ra tidak tahu mengapa, tapi pipinya memanas mendengar pujian itu. Ah, tentu ini respon yang wajar, dirinya dipuji dan itu membuatnya senang, semua orang normal pasti senang pujian. Soo Ra meyakinkan dirinya sendiri dan cepat-cepat merubah raut wajahnya, flatnya hampir ditemukan.

Mobil Kyu Hyun berhenti tidak terlalu jauh dari perkarangan gedung tinggi yang kira-kira punya hampir 10 lantai dan dengan banyak kamar. Soo Ra melepas sabuk pengamannya dan mendorong pintu mobil pelan, “Terimakasih sudah mengantarku, Ayah Hyonnie!”

Kyu Hyun mengangguk, pintu tertutup dan kaca bagian penumpang terbuka sehingga menampilkan wajah Kyu Hyun. Soo Ra belum beranjak dari tempatnya, hanya berdiri menunggu Kyu Hyun memutar arah dan hilang dibelokan. Semua terasa sangat lancar dan sedikit mengganjal, Soo Ra tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Tetapi, semua momen ini tidak mungkin tak dilihat Na Hyun yang baru saja tiba di sekitar tempat Soo Ra berdiri.

“Jadi, kalian kencan, ya?” komentar Na Hyun dan Soo Ra langsung badmood dengan alasan yang tidak jelas.

000ooo000

“Aku tidak biasa melihat Hyonnie seceria itu?” bisik anak lelaki yang sedang duduk-duduk di sisi lapangan, Dong Hae ada di sana sedang menyeka keringat dan mendinginkan wajahnya dengan botol minuman dingin. Mereka jadi memusatkan perhatian pada Hyo Na yang sedang berlari menuju garis finish dan mereka tertular anak-anak perempuan untuk berteriak, menyemangati mereka yang bermain di lapangan.

Hyo Na sedang berlari di lapangan, anak-anak perempuan sudah memutuskan untuk lomba lari estafet setelah bertengkar ingin bermain sepak bola atau basket. Tapi, kali ini usul Hyo Na yang dipakai padahal sebelumnya mereka tidak ingin, namun karena Hyo Na sangat bersemangat dan berhasil menularkannya, anak-anak perempuan ikut menikmati permainan.

Jauh dari pandangan, mereka semua bisa melihat jika grup Hyo Na menang dan perempuan itu sudah dikerubungi anak-anak perempuan lainnya. Anak laki-laki jadi ikut tersenyum dan merona melihat pancaran kebahagiaan Hyo Na, Dong Hae entah mengapa merasa tidak suka melihatnya.

“Jarang melihatnya mempengaruhi hampir semua anak perempuan, kecuali Jang Mi yang memang sudah ada di bawah pengaruhnya.” komentar anak lelaki berambut hitam membuat yang lain mengangguk. “Ah, iya. Aku dengar jika hasil ulangan sudah keluar dan kalian tahu? Nilai Hyonnie membaik!” anak laki-laki jadi berisik mendengar kabar itu, Dong Hae mengulum senyum bangga di balik bibirnya yang mengecap ujung botol minuman.

“Aku rasa Hyonnie diam-diam akan menambah populasi penggemarnya lagi? Kudengar adik-adik kelas sangat menyukai Hyonnie dan ditambah ini adalah akhir dari tahun Hyonnie.”

“Ah, kurasa akan ada banyak anak laki-laki yang menyatakan perasaannya pada Hyonnie?”

Dong Hae mendadak bangkit dari tempat duduknya, wajahnya merah dan ketika Dong Hae sadar, dia juga tidak tahu kenapa harus merah. Anak laki-laki yang ada di sekitarnya jadi menatapnya heran dan sebagian lagi menyeringai karena tahu respon Dong Hae yang sangat jelas.

“Kurasa kita bisa mendahului teman kita untuk menyatakan perasaan pada Hyonnie?” komentar anak itu tanpa melihat wajah Dong Hae yang mendadak jadi kesal.

Semuanya terasa sangat cepat, selesai anak itu menambahkan komentarnya yang lain, Dong Hae menerjang anak itu dengan geram. Anak-anak perempuan teralihkan dan berlari dengan raut penasaran. Sebagian dari yang mendekat, mereka berkata jika ada perkelahian, tetapi tidak ada satu pun yang menyebutkan nama siapa yang berkelahi.

Hyo Na tiba di sana dan melihat jika Dong Hae sudah berhasil melumpuhkan lawannya. Ada sekitar enam orang anak laki-laki yang memisahkan, tetapi tidak ada yang mampu untuk menahan Dong Hae dan itulah yang membuat Hyo Na berteriak memanggil namanya.

“Lee Dong Hae!”

Dong Hae yang berhasil menduduki perut temannya dan akan menghantamkan kepalan tangan jadi berhenti, tangannya melayang dan teman lelakinya menyeringai dengan wajah lebam di sudut bibirnya. Jelas saja korban pukul Dong Hae sangat tahu hanya Hyo Na yang bisa mengontrol emosi Dong Hae saat ini, benar-benar lucu.

Hyo Na berjalan mendekat untuk menarik tangan Dong Hae, anak laki-laki lain membantu teman mereka yang wajahnya terluka. Hyo Na menatap tanya pada Dong Hae yang menunduk, “Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini, tapi kau benar-benar terlihat konyol.” ucap Hyo Na kesal dan perempuan itu menarik Dong Hae menjauh.

Guru olahraga mereka sudah ada di lapangan dan menginstruksikan untuk membawa teman mereka yang luka ke ruang kesehatan, sedangkan Dong Hae harus dibawa ke ruangan bagian kesiswaan. Hyo Na tak banyak berbuat apapun selain memberikan pandangan simpati, “Kuharap kau tidak diam saja saat ditanya-tanya, Hae-ya!” Dong Hae tidak membalasnya, tetapi lelaki itu mengangguk pelan dan jam olahraga di akhiri sampai sana.

Ketika akhirnya Dong Hae kembali ke kelas, Hyo Na langsung menarik Dong Hae untuk ke atap sekolah dan mengabaikan teriakan Jang Mi yang sudah mengingatkan tentang jam pelajaran akan segera berlangsung. Hyo Na merasa tidak peduli karena sekarang dia ingin tahu apa yang telah dilewatkannya di ruang kesiswaan. Hyo Na berdiri sedikit menjauh dari hadapan Dong Hae dan memunggunginya, Dong Hae hanya menghela napas berat sambil mendudukan diri. Mereka berdua telah di atap sekolah, pintu sudah ditutup dan Hyo Na sudah memastikan tidak ada satu pun anak yang mengikuti mereka. Sekarang, Hyo Na bisa bertanya apa yang membuat Dong Hae kehilangan kendali seperti tadi.

Hyo Na berbalik, “Kenapa kau bersikap konyol seperti tadi? Kau tidak takut orangtuamu dipanggil, hm? Kita hampir saja lulus, Dong Hae-ya.”

Dong Hae menunduk mendengar perkataan Hyo Na yang tidak semuanya salah. Karena memang mereka akan segera lulus sekolah dan jika membuat masalah di saat seperti ini tentu akan berdampak buruk. Hyo Na yang tidak mendapat jawaban Dong Hae jadi menghela napas dan mendekat padanya, “Jadi, Lee Dong Hae, apa yang membuatmu selepas kendali seperti tadi? Kau benar-benar mengkhawatirkan.”

Dong Hae mengangkat kepalanya dan melihat Hyo Na sudah duduk di depannya, matanya memohon dan Dong Hae benci tatapan itu. Dong Hae jelas tidak bisa menghindar dan tak mungkin mengatakan alasan sesungguhnya karena itu terdengar kekanakan. Seketika Dong Hae menyesal kehilangan kendali seperti tadi, benar-benar hal ceroboh.

“Hae-ya, tidak ingin mengatakannya padaku?” tanya Hyo Na memastikan dan Dong Hae menghela napas panjang sambil memejamkan mata erat, berharap jika mulutnya bisa tertutup rapat menolak perintah otaknya untuk bersuara dan menjelaskan apa yang terjadi atau apa yang dirasakannya. Tapi, semuanya tidak bisa dikendalikan Dong Hae karena mulutnya terbuka dan suaranya terdengar.

“Aku benci pada Tae Hyung—anak laki-laki yang dipukulnya—karena membicarakanmu dan aku benci mereka semua membicarakanmu!” Dong Hae mengatakannya cepat membuat Hyo Na membuka mulutnya, masih heran dan tidak mengerti. Dong Hae salah tingkah ketika tahu Hyo Na belum berhasil menangkap maksudnya, jadi Dong Hae mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Aku benci karena mereka ingin menyatakan perasaannya padamu sebelum hari kelulusan kita!” kata Dong Hae sambil berteriak dan Hyo Na menatapnya horror.

Setelah menyadari perbuatannya, Dong Hae hanya mendengar pintu atap sekolah dibanting keras dan Hyo Na sudah tidak ada. Sekarang Dong Hae benar-benar menyesal telah bersikap bodoh, lelaki bersurai brunette itu mengacak rambutnya dan menendang udara. Berharap bisa melampiaskan rasa kesal karena kebodohannya sendiri.

— Ways to Live Forever —

“Selamat, nde!” ucap Soo Ra bangga sambil mengembalikan hasil ulangan Hyo Na, perempuan muda itu mengangguk dan tersenyum apa adanya. “Hari ini kita kembali belajar lagi, nde! Dan hanya tinggal menghitung minggu, kau akan ujian dan kemudian lulus. Sudah diskusi dengan ayahmu ingin sekolah di mana, Hyonnie?” Soo Ra terdengar bersemangat saat berbicara, tidak memperhatikan Hyo Na yang tidak berekspresi apapun, tidak terbaca.

Mengetahui ini Soo Ra jadi menggigit lidahnya, ditatapnya lekat wajah Hyo Na untuk mencari tahu apa yang salah dengan mendapat nilai bagus dan sedikit mengajak perempuan muda bermarga Cho itu berbicara tentang sekolah baru saat lulus nanti. Ah, kenapa Soo Ra jadi terdengar seperti ibunya? Pikir Soo Ra sambil membenturkan kepalanya di dalam imajinasi.

“Hyonnie?” panggil Soo Ra menarik perhatian, Hyo Na menatapnya langsung dan menghela napas panjang sambil menggeleng. “Belum bilang apapun pada ayahku, tapi nanti aku akan bicara.” Hyo Na diam dan membuka lembaran soal yang kemarin dikerjakannya, Soo Ra menatapnya ganjil.

“Tidak ingin cerita?” katanya berhati-hati, Soo Ra masih sadar hubungan mereka sebaik ini juga karena Hyo Na baru saja melewati masa ulangan Matematika dan mendapat nilai bagus, jadi Soo Ra tidak terlalu banyak berharap walau dalam hatinya sangat ingin dekat dengan Hyo Na. “Aku rasa kita belajar saja!” pinta Hyo Na membuat Soo Ra mengangguk dan membuka lebar bukunya, mereka mulai belajar hingga pukul delapan dan Soo Ra pulang ketika Kyu Hyun tiba di rumah.

Malam ini tidak ada acara makan malam lagi di kediaman Cho, jadi Soo Ra dengan segera dan seperti terkesan menghindar berkata jika malam ini sudah ada janji dengan temannya. Kyu Hyun mengangguk, mengantar perempuan itu hingga halaman rumah dengan Hyo Na yang masih muram dan beralasan lelah.

“Hei, Hyonnie, baru saja mendapat nilai bagus, kenapa tidak bersemangat?” komentar Kyu Hyun sambil mengacak rambut Hyo Na sayang, “Lelah tidak beralasan, apa Ayah mau mengajakku liburan di akhir minggu ini, hm?” Hyo Na terdengar tidak meminta karena nadanya lebih terdengar seperti Hyo Na sedang berbicara dan bertanya pada diri sendiri, Kyu Hyun tersenyum kecil mengerti jika Hyo Na merasa bosan.

“Bagaimana malam ini kita makan di luar, hm? Ayah pulang cepat karena malam ini spesial.” Kyu Hyun memberi tawaran, Hyo Na meliriknya lalu menggeleng, “Buatkan ramyeon saja, aku ingin ramyeon buatan ayahku.” Hyo Na sudah menidurkan diri di sofa panjang, Kyu Hyun mencoba mengerti dan mengangguk sambil meninggalkan Hyo Na untuk menyanggupi permintaan putri kecilnya.

Malam itu, Soo Ra pulang menggunakan bus dan menempati bangku paling sudut dekat jendela hanya untuk bersandar dan menyembunyikan diri. Hari ini melelahkan, bukan secara fisik tetapi perasaannya. Soo Ra meringis mengingat sehari ini perasaannya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama, ditambah sikap menjengkelkan Na Hyun. Soo Ra rasa ini titik yang membuatnya lelah secara mental dan butuh istirahat dari selalu memikirkan apa yang tidak atau belum pernah dipikirkannya akhir-akhir ini.

“Kurasa kau harus mencoba berpikir apa sebenarnya yang membuatmu terlalu berempati seperti ini? Aku yakin, hari itu kau hanya ingin membalas budi dan aku sangat tahu kau seperti apa, Soo Ra-ya. Tapi sekarang ini kulihat jadi berbeda.”

Soo Ra tentu masih ingat perkataan Na Hyun hari ini, setelah mereka bertengkar sebelum bertemu dengan Kyu Hyun di lapangan. Padahal jelas sekali, Soo Ra sangat tidak suka ketika Na Hyun mulai berspekulasi tentang Soo Ra menaruh rasa pada Kyu Hyun atau pun sebaliknya. Soo Ra merasa itu tidak benar karena murni dalam dirinya adalah untuk membalas budi, tapi mengingat kalimat Na Hyun tadi. Soo Ra sepertinya mulai paham dan mengerti, “Tapi, aku rasa, aku tidak. Aku tidak bisa. Aku hanya membalas budi dan tidak boleh ada perasaan yang timbul. Aku hanya membalas budi, dia baik dan aku juga membalas kebaikannya.” Soo Ra mengatakan itu seperti sedang menjampi dirinya, berulang-ulang dan syukurnya bus tidak ramai sehingga Soo Ra tidak diperhatikan.

Sekarang Soo Ra jadi merasa malas untuk benar-benar pulang ke flat, di sana pasti ada Na Hyun dan Soo Ra belum ingin Na Hyun mulai membaca dirinya dan mulai menyadarkan Soo Ra pada kenyataan yang tidak diinginkannya. Soo Ra menatap hampir semua etalase toko dan kemudian tangannya secara reflek menekan bel untuk menghentikan supir, Soo Ra turun di depan mini market dan memilih makan ramen sambil minum bir, mungkin bisa membuat kepalanya bersih dari segala pemikiran aneh.

Jadi, Soo Ra pergi mengambil satu cup ramen, beberapa snack dan bir lalu membayar pada kasir untuk dibawanya keluar mini market. Soo Ra duduk di luar untuk melepaskan rasa penatnya sambil menenggak bir dan menunggu ramennya matang. Tapi, sepertinya hari ini tidak terlalu buruk karena Soo Ra menemui Dong Hae, lelaki itu sedang duduk sendiri dengan cola dan es krim di mejanya sepertinya tidak sadar jika Soo Ra sedang memperhatikannya.

Mendadak sekali Soo Ra jadi ingat dengan apa yang terjadi pada Hyo Na hari ini, perempuan muda itu tidak bersemangat dan jadi pendiam, tapi Soo Ra bisa bertanya pada Dong Hae tentang apa yang terjadi hari ini di sekolah. Soo Ra sudah menetapkan hatinya untuk bertanya dengan Dong Hae karena sambil memasukan kaleng bir dan snack ke dalam plastik, Soo Ra menghampiri meja Dong Hae dan mengagetkannya dengan suara plastik dan mangkuk ramen yang menghentak meja.

“Kebetulan sekali!” katanya riang, Soo Ra merasa sikapnya berlebihan, tetapi menjadi tak peduli ketika melihat sesuatu yang salah pada wajah Dong Hae yang ada luka di sana-sini. “Kenapa dengan wajahmu?” tanyanya membuat Dong Hae meringis, “Menabrak tembok apa bisa dijadikan alasan paling logis?” katanya membuat Soo Ra tertawa, syukurlah Dong Hae langsung mengajaknya bergurau.

“Serius, apa yang terjadi pada wajahmu? Terakhir kali, kulihat tidak ada yang aneh, tapi ini …” daripada mendengar racauan Soo Ra, Dong Hae lebih tertarik menghentikannya dengan tersenyum miris, “Bagaimana Hyonnie? Apa ada perilaku aneh yang dibuatnya hari ini?” Soo Ra yang ditanya mengangguk pelan lalu mencoba mengaitkan semuanya dengan wajah Dong Hae dan sikap aneh Hyo Na, Dong Hae senang bisa melihat perubahan ekspresi Soo Ra yang seperti baru sadar dari pingsan.

“Kurasa kau tak harus kuceritakan lagi,” katanya dan Soo Ra menggeleng, “Ceritakan saja! Siapa tahu noona bisa membantu hubungan kalian?” Soo Ra menuntut dan memberikan canda diujung kalimat, Dong Hae tidak bisa menahan senyumnya.

“Aku memukul seseorang karena dia tertarik pada Hyonnie.” kata Dong Hae tanpa malu dan lelaki itu menggigit es krimnya, “Aku kehilangan kendali karena sebelum itu terjadi, sekumpulan anak laki-laki sangat senang melihat bagaimana senyuman Hyonnie hari ini. Aku merasa seperti …” Soo Ra mengetuk meja membuat Dong Hae berhenti berkata, “Sesaat aku kaget, tapi mendengar alasanmu aku jadi ingin tertawa, Dong Hae-ssi. Jika boleh jujur, kau cemburu, sangat cemburu! Lalu apa yang terjadi?”

Dong Hae tersenyum tetapi wajahnya lebih menunjukkan sirat penyesalan, Soo Ra jadi merasa gemas pada hubungan kedua remaja belum cukup umur ini. Oh, bagaimana tidak gemas, Soo Ra adalah saksi selain Jang Mi yang selalu melihat jika tingkah Dong Hae dan Hyo Na lebih mirip sepasang kekasih jika sedang bersama, mereka berbicara seperti berbisik dan membagi banyak tatapan dan senyuman yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya jadi ingin mencubit pipi mereka, benar-benar pasangan yang menggemaskan.

“Hyonnie memarahiku, mengatakan jika aku tidak bisa menahan diri dan membuat masalah pada tahun terakhir sekolah, aku hargai nasehatnya. Tapi, semuanya jadi terasa sulit ketika Hyonnie bertanya apa alasan aku kehilangan kendali. Aku mengakuinya dan membuatnya jadi … terguncang, mungkin?” Dong Hae mengatakan diujung kata dengan tidak yakin, tapi Dong Hae merasa lega ketika selesai bercerita—walau sebenarnya bukan cerita yang lengkap—dan Soo Ra mengangguk.

“Kau baru saja membuat Hyonnie dalam versi pendiam dan aku tidak begitu suka lihat Hyonnie jadi pendiam. Hyonnie lebih baik dengan dirinya sendiri, Cho Hyo Na. Tapi, kuapresiasi keberanianmu itu.” Soo Ra tersenyum kecil lalu mendadak sekali pikirannya melayang pada kalimat Na Hyun.

“Kurasa kau masih lebih baik daripada aku? Aku sudah didoktrin oleh temanku menyukai seseorang atau ada orang yang menyukaiku dan aku masih tidak mengerti dengan tuduhannya. Lalu yang lebih menyebalkannya adalah aku tidak paham pada diriku sendiri. Aku tidak bisa mencari jawabannya.” Soo Ra berhenti bicara karena cegukan, Dong Hae jelas tahu kenapa perilaku Soo Ra saat ini tidak seperti biasa karena perempuan dewasa itu sudah melewati batas kadar alkoholnya.

Dong Hae tidak bersuara dan lebih penasaran apakah Soo Ra akan mengutarakan perasaannya tanpa sadar dan membuat Dong Hae paham pada apa yang sedang terjadi, Dong Hae menunggu dengan hati yang tak menentu. Karena itu Dong Hae menjauhkan bir yang belum dibuka Soo Ra dan menyahut seadanya agar perempuan itu lanjut bicara, “Lalu apa yang terjadi karena kau tidak bisa menemukan jawabannya?”

Soo Ra memberengut, “Aku merasa kesal pada diriku dan jadi bersikap aneh ketika mengingat-ingat apa yang kulalui baru-baru ini. Aku melakukan ini, mengajari Hyonnie tentu saja karena murni membalas budi keluarga mereka, dosen Cho sudah baik hati membelaku saat insiden pelecehan di café dan Hyonnie sudah sangat baik membiarkanku mengaduk-aduk es krim cokelatnya tanpa marah.”

Dong Hae tidak mungkin merasa terkejut karena Dong Hae tahu betapa baiknya Kyu Hyun hingga membantu Soo Ra, jadi Dong Hae menanggapinya dengan tenang dan menunggu kelanjutan cerita Soo Ra dengan rasa sabar. Mungkin saja diakhir cerita Soo Ra bisa jujur sendiri pada perasaannya, “Jadi, kau yakin tidak memiliki perasaan pada dosen Cho setelah memikirkan semua ini? Kau suka padanya?”

Soo Ra menatap Dong Hae sambil berkedip, pipinya memerah karena pengaruh alkohol dan Dong Hae baru sadar ramen dan snack milik Soo Ra sama sekali belum tersentuh. Soo Ra diam lalu menyandarkan kepalanya di atas meja, “Hubungi Na Hyun dan suruh dia menjemputku!” katanya memerintah dan Dong Hae hanya bisa membuka tutup mulutnya tak percaya.

Lain kali, jika bertemu dengan Soo Ra sendirian, Dong Hae harus menghentikan Soo Ra untuk beli ramen, snack dan bir karena Soo Ra hanya akan membuang-buang makanan, Soo Ra tidak punya ketahanan pada minuman beralkohol dan masih nekat meminumnya. Benar-benar perempuan dewasa yang ceroboh, pikir Dong Hae.

Melihat tidak ada tanda-tanda Soo Ra akan sadar, Dong Hae mengambil tas Soo Ra dan memeriksa isinya. Ponsel Soo Ra ditemukan dalam keadaan habis batrai, sekarang Dong Hae merasa menyesal sudah merasa lega selesai menceritakan kejadian hari ini karena secara cepat dirinya tertekan hanya karena Soo Ra yang mabuk.

Tidak punya pilihan, Dong Hae menghubungi seseorang yang tidak ada hubungannya dengan semua ini. Walau khawatir dengan apa yang akan dihadapinya, Dong Hae tetap menghubungi nomor itu untuk mengantar Soo Ra dengan aman tanpa kehilangan jasad atau nyawa Soo Ra keesokan hari. Dong Hae tidak ingin memanggil taksi karena merasa paranoid, Soo Ra dalam keadaan tak sadar dan bisa saja hal buruk terjadi pada perempuan dewasa ceroboh ini. Alasan yang tepat jika ditanya pada orang yang sedang dihubunginya sekarang ini.

Sambungan telepon diangkat, Dong Hae merasa lega, “Yeobeseo …”

— Ways to Life Forever —

Soo Ra rasa dirinya benar-benar tersesat, yang diingatnya adalah dia sedang duduk berdua dengan Dong Hae di depan mini market. Mereka berbincang tentang hari yang melelahkan, Soo Ra masih ingat jelas apa cerita Dong Hae dan merasa sulit ingat apa yang diceritakannya pada Dong Hae.

Tapi, kenapa bisa?

Soo Ra menegakkan punggung, dirinya jelas merasa tersesat, tapi Soo Ra masih di mini market dan tanpa Dong Hae. Kepalanya mencari ke kanan dan kiri, tetapi keadaan sepi dan Soo Ra merinding sambil memungut tasnya dan dia meninggalkan mini market.

Pasti ini hanya mimpi!

Soo Ra berjalan dan berjalan, tetapi merasa langkahnya semakin lambat dan hanya memutar di sekitaran mini market. Sekarang kepalanya mulai sakit, Soo Ra berhenti dan duduk di bangku depan mini market, merasa putus asa. Soo Ra jelas tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi sialnya Soo Ra juga tidak menemukan seseorang yang bisa menjelaskan semua ini padanya.

Di tengah kebingungan dan rasa panik, seseorang yang tidak bisa dijelaskan mendadak muncul dan menyentuh pundak Soo Ra. Perilaku itu membuatnya reflek membalikan badan dan terkejut secara bersamaan karena ada Kyu Hyun yang menatapnya hangat dan khawatir.

Oh, tunggu, kenapa juga harus ada Kyu Hyun?

Tapi itu menjadi tidak dipedulikan ketika sesuatu yang absurd secara mengejutkan muncul. Musik piano yang menghasilkan nada-nada khas pernikahan secara tidak diketahui bisa didengar Soo Ra dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pakaiannya mendadak berubah menjadi gaun pernikahan.

Jadi, ini pernikahannya?

Soo Ra pusing lagi, tapi pusingnya kembali hilang ketika lengannya secara misterius sudah bertengger manis di lengan seseorang. Kepala Soo Ra mendongak mengikut lengan yang dipegangnya lalu kaget ketika tahu lengan siapa yang dipeluknya. Lelaki itu tersenyum ramah dan Soo Ra yakin wajahnya memerah, “Soo Ra-ya, baik-baik saja?”

Soo Ra mengedipkan matanya, berulang-ulang hingga membuatnya terbuka secara benar dan pertama kali yang dilihatnya adalah wajah khawatir Na Hyun. Rasa sakit mendadak menyerang, Soo Ra menekan dahinya dan Na Hyun juga ikut membantu, “Masih sakit?” tanyanya khawatir dan Soo Ra mengangguk pelan.

Na Hyun mendengus pelan lalu menepuk bahu Soo Ra secara tidak manusiawi, “Kurasa sudah kuperingatkan agar tidak minum setetespun bir atau soju atau minuman beralkohol lainnya?!”

Nasihat yang paling dihindari Soo Ra harus didapatkannya sepagi ini, pagi yang hangat karena Soo Ra sangat sadar ada cahaya mentari yang menyusup masuk dari celah gorden. Na Hyun kemudian memberikan sup penghilang pengar dan menyarankan hari ini Soo Ra tidak keluar kamar atau mengajar Hyo Na dan untuk permintaan terakhir Soo Ra tidak terima.

“Kurasa dosen Cho sudah memberikanmu izin,” kata Na Hyun serius, tetapi Soo Ra menganggap Na Hyun sedang bercanda. Soo Ra melotot dan sejenak lupa pada sakit kepalanya, “Kurasa sudah kuperingatkan untuk tidak bercanda tentang dosen Cho, Jang Na Hyun.”

Na Hyun memutar bola matanya, “Dan kurasa kau tidak akan percaya dengan perkataanku ini, tapi yang perlu kau tahu Song Soo Ra, semalam kau diantar pulang dengan dosen Cho.”

Soo Ra sukses menjatuhkan sup pengar dan membuat basah tempat tidurnya sendiri, suasana panik menggantikan raut jengkel dua perempuan berbeda marga itu dan Na Hyun tidak bisa menahan mulutnya untuk menasehati Soo Ra tentang jangan minum alkohol dan berhenti bersikap ceroboh seperti menjatuhkan sup di atas meja. Pagi yang meriah. Tetapi sepertinya Soo Ra masih tidak percaya pada penjelasan Na Hyun, jadi Soo Ra menanyakannya lagi di ruang tengah.

Na Hyun memutar bola matanya jengah, “Apa perlu kita memeriksa CCTV di dekat gedung sebelah dan flat kita untuk membuktikannya? Kau tahu, perilakumu kemarin benar-benar memalukan dan aku mungkin saja tidak bisa menemui dosen Cho lagi dengan wajah seperti ini.”

Soo Ra panik dan memegang kedua bahu Na Hyun, “Benarkah? Aku… apa yang aku lakukan? Aku muntah? Aku melakukan hal-hal aneh?”

“Kau pikirkan saja sendiri di sini karena aku harus ke kampus.” saran Na Hyun sambil menepuk kepala Soo Ra seperti bocah usia lima tahun. Soo Ra mendudukan diri di sofa dan kemungkinan besar masih akan seperti itu saat Na Hyun pulang nanti. Mengingat kelakukan Soo Ra setelah hangover benar-benar membuat Na Hyun  geleng kepala.

“Hah, jika saja dia bisa mengingatnya, maka habislah wajahnya untuk bertemu dosen Cho.” kata Na Hyun pelan sambil menutup pintu flat mereka.

[tbc]

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: