[Go Curry] A Little Plate of Happiness

UJ

.

.

Written By: IJaggys

.

Curry Go – A Little Plate of Happiness

.

.

Jika ada satu hal yang belum terealisasikan dari mimpi seorang Lee Donghae, yaitu membuka restoran kari. Sekitar hampir 15 tahun yang lalu, di pertengahan 2005, Lee Donghae pernah bermimpi untuk membangun sebuah restoran. Bukan restoran mewah, hanya restoran kecil yang cukup nyaman, di mana ia bisa menyapa para pengunjung dengan senyuman hangatnya.

Tapi dia yang dulu, merupakan seorang pria muda yang ambisius. Cita-citanya dulu ingin menguasai dunia, mungkin membeli beberapa perusahaan start-up atau perusahaan yang berkembang di bindang jasa dan layanan, seperti hotel atau tur.

Namun, kini. Cita-citanya meredup, jauh lebih sederhana–tentunya karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan di usia mudanya. Sebagai pengusaha yang terkenal dengan perusahaan start-up nya, hingga hotel bintang mewahnya yang tersebar di Asia Pasifik, kini Donghae sudah cukup puas untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pemilik restoran kari yang ada di wilayah Itaewon.

“Pernah kah ada yang bilang, bahwa masakanmu sebenarnya biasa saja?” Lee Hyukjae, sahabatnya sejak mereka masih merintis karir dan ditendang dari flat kumuh karena mereka tak bisa membayarnya, kini duduk di salah satu meja makan dengan kursi kayu berwarna biru muda. Hyukjae adalah pelanggannya yang pertama, di restoran Go Curry ini.

“Tidak juga. Elle bilang bahwa kari buatanku rasanya sangat enak, mirip seperti kari yang ada di Cafe Rilakuma di Taipei,” Donghae menjawab dengan tenang, satu tangannya memastikan bahwa plating di hidangan karinya terlihat sempurna.

“Elle berbicara begitu hanya untuk menghiburmu. Sebenarnya dia mau bilang bahwa kari buatanmu biasa saja, tapi kau adalah Ayahnya, dan aku rasa Elle cukup sopan untuk menyenangkan Ayahnya dengan berkata kari buatanmu mirip seperti di Cafe Rilakuma,” Hyukjae menyuap kari itu ke dalam mulutnya, dan dia berusaha menutupi ekspresi terkejutnya, bahwa kari buatan Donghae ternyata sangat enak.

“Well, jika kau tidak suka dengan kari buatanku. Kau bisa hengkang dan pergi dari sini. Di sebelah ada restoran El Pino 323, chefnya mantan anggota gangster–jika kau cukup beruntung, kau mungkin akan selamat makan di sana,” goda Donghae, yang dijawab Hyukjae dengan toyoran kecil di kepalanya.

Donghae mengantarkan segelas minuman dingin untuk Hyukjae, isinya campuran dari soda dan fruit citrus, rasanya mirip seperti Mojito tapi tanpa alkohol. Setelah itu, ia mengatur meja di sudut restorannya sekali lagi, sebelum matanya mengarah ke jendela besar yang membentang jalanan riuh ramai di Itaewon.

Dia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Selama 33 tahun di hidupnya, tak pernah sekalipun ia merasa setenang ini. Di usianya yang masih 19 tahun, Donghae pergi dari Mokpo ke Seoul, untuk mengadu takdirnya. Di sana ia bertemu dengan Hyukjae, yang datang dengan kondisi sepertinya.

Ia hanyalah anak dari seorang nelayan, rumahnya berada di dekat garis pantai. Ketika hujan turun, rintikan air akan merendam setengah kamarnya. Sementara Hyukjae, datang dari keluarga yang sama miskinnya, hidup dalam rumah kecil di lereng gunung Goryeosan. Mereka berdua melalui masa sulit yang sama, kehabisan uang, kelaparan, hingga perjuangan tanpa akhir.

Tentunya semua kerja keras mereka membuahkan hasil yang manis. Kini Donghae merupakan salah satu pengusaha yang disegani di Korea dan Jepang, sementara Hyukjae? Ia merupakan pengusaha mobil dan motor sport, di mana penghasilannya cukup untuk membuatnya duduk tenang dan bersenandung di sore hari, di dalam rumahnya yang mewah di Gangnam.

Kehidupan mereka berdua terlihat sempurna, mungkin Hyukjae bisa dikatakan seperti itu. Tapi tidak dengan Donghae.

“Apa Elle akan berkunjung kemari? Cheonsa pasti memberi izin untuk Elle hadir ke pembukaan restoran Ayahnya bukan?” Hyukjae bertanya dengan hati-hati, tahu bahwa ia memasuki topik yang sensitif.

“Aku sudah menghubunginya beberapa hari yang lalu, tapi tidak ada jawaban. Panggilanku masuk ke dalam kotak suara–jadi aku menghubungi sekertarisnya, dan sekertarisnya bilang bahwa Cheonsa tengah berada di London, bersama Elle untuk bertemu dengan Philip.”

Meski ia merasa lega, merasa tenang setelah perceraiannya dengan wanita yang dinikahinya ketika ia berusia 23 tahun itu. Tapi ia selalu merasakan kekosongan, setiap kali membuka pintu rumahnya yang megah, dan menemukan tidak ada siapapun di sana. Kecuali barang-barang mewah, dan lukisan klasik berharga jutaan won yang tak pernah disukainya.

Ketika kabar peceraiannya terendus publik, banyak orang yang tak percaya dan bertanya-tanya mengapa Lee Donghae–salah satu pengusaha paling kaya di Korea, memutuskan bercerai dengan Han Cheonsa, pewaris dan pemilik The Langham Hotel Group. Mereka telah dikaruniai satu orang putri, Elle Lee–gadis kecil berusia sembilan tahun yang selalu menuai pujian dari orang-orang yang melihat kecantikannya.

Lee Donghae memiliki semuanya, karir yang cemerlang, kekayaan yang melimpah, dan keluarga yang sempurna. Jadi ketika orang-orang mendengar kabar perceraian ini, wajah Lee Donghae, Han Cheonsa, dan Elle Lee memnuhi setiap surat kabar hingga situs media daring.

Banyak orang yang berasumsi bahwa pernikahan mereka berakhir karena hadirnya orang ketiga. Sebenarnya, semuanya jauh lebih sederhana. Tidak ada orang ketiga, atau penghianatan yang terjadi di dalam rumah tangganya. Ia hanya merasa bahwa di sepuluh tahun pernikahannya, Han Cheonsa melihatnya tak lebih dari sebuah aksesoris yang dia banggakan ketika orang-orang datang untuk melihat kehidupannya. Kemudian meniadakan kehadirannya, ketika tak ada satu pun orang yang melihatnya.

Donghae tak pernah merasa tenang selama sepuluh tahun membina pernikahan dengan Cheonsa, setiap harinya ia harus pergi tidur dengan rasa cemas, membayangkan bahwa Cheonsa bisa meninggalkannya dan menggantinya dengan siapa saja–dengan pria manapun, pria yang jauh lebih menjanjikan dari seorang anak nelayan yang tak tahu caranya memenuhi apa yang dia inginkan.

“Coba katakan sekali lagi, mengapa kau tak mendapatkan hak asuh Elle?” tanya Hyukjae lagi, kali ini sambil mengambil suapan terakhir dari piring kari yang hampir habis. Kari buatan Donghae memang enak, pikirnya.

Donghae terdiam sebentar, matanya masih mengarah ke jendela. Memikirkan beribu alasan mengapa dia dengan mudahnya menyerahkan hak asuh Elle sepenuhnya ke Cheonsa, meskipun ia sangat menyayangi putri semata wayangnya itu. Tapi bayangan Cheonsa yang duduk di ruang kerjanya, dengan ekspresinya yang kosong, membuatnya tersadar bahwa–

“Cheonsa jauh lebih membutuhkan Elle di hidupnya, aku tak bisa membiarkan Cheonsa kehilangan satu-satunya hal yang ia cintai di dunia ini bukan?”

Sebut dia bodoh. Tapi dia rela melepaskan semua yang dia punya, hanya untuk membuat Cheonsa merasa lebih baik. Selama lebih dari sepuluh tahun, Donghae mengenal wanita yang tak habisnya membuatnya bertekuk lutut, tak pernah sekali pun ia menunjukkan perasaannya. Bahkan ketika Donghae memberanikan diri untuk mengajaknya menikah, wanita itu hanya terdiam beberapa saat, sebelum dia menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Tapi semua kekosongan di mata Cheonsa berubah setiap kali dia melihat Elle. Hanya bersama Elle, Cheonsa bisa tertawa, tersenyum, dan membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sebelumnya ia batasi dengan sebuah labirin besar yang membingungkan.

“Jika tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin dulu seharusnya kau memproduksi dua anak. Jadi satu untukmu, satu untuk Cheonsa. Atau kau bisa mengadopsi aku, memberikanku rumah mewah, uang yang banyak, dan wanita cantik, normalnya aku tak masalah–aku akan memanggilmu Ayah, jika kau mau,” kelakar Hyukjae yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Donghae ikut tertawa, sambil balik menoyor kepala Hyukjae. Diam-diam dia bersyukur dengan kehadiran sahabatnya ini, tanpa Hyukjae, mungkin Donghae akan berakhir mengenaskan di dalam apartemennya, dan menangisi serta menyesali keputusannya untuk menceraikan Cheonsa.

Awan senja mulai datang, meninggalkan Donghae dan Hyukjae yang berbincang santai tentang menu makanan di restoran itu. Donghae tak memperkerjakan banyak orang, hanya ada tiga orang. Jhonny, Taeyong, dan Lucas—tiga remaja awal, yang mendaftarkan diri mereka secara online, lewat iklan yang dibuat oleh sekertaris Donghae.

“Jika restoran ini bangkrut karena rasa makananmu yang tak enak, akan jadi apa kau setelah ini?” Hyukjae bertanya asal, sambil melirik ke arah tiga pegawai Donghae, yang asyik mengabadikan wajah mereka lewat kamera ponsel masing-masing.

“Mengapa kau selalu berkata seperti itu? Bisa saja  restoran ini sukses dan–” Pembicaraan Donghae terputus, ketika ia melihat sebuah mobil limousine hitam, berhenti tepat di depan pintu restorannya. Seorang gadis kecil dengan rambut cokelat nilonnya, dan ransel berwarna merah mudanya, turun dari sana dengan seorang pengawal yang membukakan pintu untuknya.

Dengan sigap Donghae berlari ke luar sana, dan beteriak dengan kencang, “Elle!” gadis kecil itu menoleh dan tersenyum dengan lebar, sebelum ia berlari ke dalam pelukan sang Ayah.

Ellle, putrinya yang sempurna, hadir ke acara pembukaan restorannya yang hanya dihadiri oleh Lee Hyukjae dan tiga pegawai barunya.

Elle, putrinya yang sangat ia cintai, memeluknya dengan erat dan memberikan ucapan selamat–karena akhirnya, sang Ayah mewujudkan impiannya sejak dulu.

“Maaf Ayah aku terlambat, aku tak tahu jarak antara dari rumah Grandpa Philip dan restoran Ayah sangat jauh, aku sampai harus terbang dengan pesawat Mom!” Celoteh Elle dan kembali memeluk Ayahnya dengan erat.

Donghae tak menjawab, ia hanya tertawa lega, sambil terus memeluk putrinya dengan erat. Apa yang ditunggunya telah datang.

Elle Lee datang sebagai tamu pertamanya, dan Donghae percaya bahwa di kedepannya, restoran ini akan menghadirkan lebih banyak senyuman dan kebahagiaan di dalam hidupnya.

.

.

-To Be Continued-

.

.

 

Hi.. hehe, iseng aja sih pengen buat cerita ringan tentang Donghae buka restoran kari, semenjak Donghae terlihat super hot dan delicious pas masak kari bareng Shindong. Anyway comments are greatly appreciated, agar aku semangat melanjuti kisah ini, dan agar aku tau kalo masih ada yang mampir ke blog zombie ini muah!

xo

2 Comments (+add yours?)

  1. jihan
    Nov 17, 2019 @ 12:10:01

    omg!!! akhirnya yang ditunggu2 pun kembali. cerita cheonsa dan donghae🤗🤗🤗 Glad to see you writing again😊 We’ve missed you💙💙

    Reply

  2. Choki Sue
    Nov 17, 2019 @ 14:38:15

    Ikatan batin macam apa ini?? tiba2 pengen buka wp ini buat baca ff IJaggys dan tiba2 juga ada ff terbaru dari anda? :”))
    Pengennya lanjut sapa tau LDH-HCS bisa rujuk? Atau cukup ketemu dan mengenang masa lalu?
    Dan ini gemes lah sama Elle, kenapa dia polos bgt pas ngasih alasan telat krn masalah jarak London-Itaewon. Luv luv lah buat IJaggys

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: