The Past

Tara sedang berjalan diantara rak-rak buku bertema masakan saat seseorang dari rak sebelah memanggil namanya.

“Tar? Tara?” suaranya masih sama seperti terakhir kali Tara mengingatnya.

“..Yesung!” hampir saja ia memekik senang melihat laki-laki dihadapannya.

Selama ini Yesung lah satu-satunya alasan kenapa ia sangat bersikeras mengambil pendidikan S2 di negeri ini, alih-alih mengesampingkan perjodohan keluarganya. Dengan degup jantung yang semakin tak beraturan, mata Tara menelusuri penampilan Yesung, mencari sebuah benda di antara tangan kanan dan tangan kiri Yesung. Syukurlah, ia tidak menemukan benda itu.

Yesung menyunggingkan senyum menawannya. “Apa kabar?”, tangan kanannya terulur, menyelipkan harapan pada Tara.

“Sangat baik..”, ujarnya tersenyum senang. Ya, tidak pernah sebaik ini sebelumnya. Ini adalah hari baiknya! Ingin sekali Tara mengatakan rindu yang selama ini sengaja ia pendam.

“Sepertinya kau sedang belajar menjadi wanita seutuhnya”, Yesung mengatakan hal tersebut sembari mengamati buku-buku yang ada di antara mereka.

Tara tertawa kecil, “Ya.. aku memang sedang mengusahakannya”.

“Kalau begitu aku tantang kau untuk membuatkan masakan yang paling enak. Sanggup?”

“Mudah saja. Kau mau apa?” Tara menyanggupi tantangan Yesung dengan cepat. Ia memang belum begitu mahir dalam hal memasak, tapi hobi inilah yang sedang ia geluti sejak enam bulan terakhir, dengan harapan bisa menyenangkan hati orang yang ia sayang dengan masakannya. Mungkin harapan itu sebentar lagi akan terkabul.

“Aku hanya ingin makanan yang super enak buatanmu. Itu saja”, Yesung tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.

“Ahaha.. baiklah akan aku buatkan, tidak perlu jahil seperti dulu”.

Tara selalu ingat masa lalu di mana ia dan Yesung menjadi sangat akrab. Tara juga tidak akan pernah lupa masa lalu di mana Yesung meninggalkannya tanpa sebab dan menjaga jarak seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kini masa lalu itu membaur, memunculkan letupan-letupan kenangan dihatinya.

Baru saja ketika Tara hendak menyuarakan perasaannya, seorang anak kecil yang memperhatikan mereka dari jauh datang menginterupsi. Anak itu mengamati Tara dengan ekspresi bingung.

“Ini siapa, Pa?” ia menggandeng tangan Yesung dengan tangannya yang mungil.

Yesung mengusap puncak kepala anak tersebut. “Ini tante Tara, teman papa dulu waktu kuliah”.

Tara mematung. Kebahagiaan yang ia rasa sebelumnya sama sekali tidak berbekas. Ya, masa lalu punya caranya sendiri untuk datang kembali.

PS: maaf nyampah untuk yang kesekian kalinya 😉 tapi ini my first -again- setelah beberapa tahun ngga ngepost cerita hehe

Silly Girl

Siwon memasuki ruang kerja milik wanita yang sangat dicintainya. Ia bisa melihat di sudut ruangan, di depan meja yang berceceran kertas-kertas lusuh, Hyera meringkuk diatas kursi dan terlihat sedang asyik melakukan sesuatu.

“what are you doing, dear? Working hard?” Siwon memeluk figur mungil itu dari belakang.

Hyera menoleh, tangan kanannya menggenggam sebuah pensil. Sebagian wajahnya hitam dan kotor.

Siwon mengernyit, “wajahmu kenap… ah! Apa yang kau lakukan Han Hyera?!” ia berseru histeris saat menyadari apa yang di lakukan Hyera. Sementara itu Hyera hanya menatapnya dengan tampang pilon.

“lepaskan itu! Berikan padaku!”, Siwon merampas pensil dari tangan Hyera kemudian langsung melemparnya ke tempat sampah di samping meja.

Hyera yang baru menyadari perlakuan suaminya dengan cepat berusaha melindungi pensil dalam genggamannya, namun sayangnya ia kalah cepat dengan gerakan Siwon.

“tapi aku hanya memakannya..”

“apa??!” Siwon benar-benar terkejut. Tidak disangka perempuan cantik yang sudah menjadi istrinya ini memiliki kebiasaan yang aneh. Menggigit ujung pensil memang wajar dijumpai pada banyak orang, tetapi memakan isi pensil dan menelannya?? Itu tidak bisa ia tolerir!

“umm.. hanya sedikit..” Hyera memberengut berusaha mencari pembelaan.

“mulai sekarang aku akan menyingkirkan semua pensil ini jauh-jauh dari jangkauanmu.” Ujarnya tegas. Ada nada khawatir terselip di dalam suaranya.

Hyera diam. Ia memang tidak pernah mau membantah perkataan Siwon jika pria ini sedang uring-uringan, terlebih karena dirinya.

Melihat gelagat Hyera yang diam dan bermuka pongah, mau tidak mau Siwon melunak. Ia bukan jenis lelaki pemarah, terutama kepada satu-satunya wanita yang ia cintai. Dengan lembut Siwon membersihkan wajah Hyera yang kotor akibat memakan sebagian isi pensil menggunakan tissue basah. Sebenarnya saat ini wajah Hyera terlihat sangat lucu, dan mau tidak mau Siwon tertawa pelan.

“katakan padaku, sejak kapan kau suka memakan pensil seperti itu?” Siwon mengusap puncak kepala Hyera dengan penuh rasa sayang.

Hyera memamerkan seringai jenaka, takut-takut Siwon akan marah padanya. “sudah lama. Bahkan sebelum kita berpacaran”, jawabnya polos.

“wow.. kalau begitu kenapa aku tidak pernah tahu? Apa kau sengaja menyembunyikannya?”

Hyera menggeleng lemah, “tidak. Kau pikir saja sendiri, wanita mana yang mau terang-terangan melakukan kebiasaan anehnya di hadapan pria yang dicintai?” ia balik bertanya.

Siwon tampak berpikir sesaat. “Mungkin ada beberapa, tapi kau kan bisa memberitahukannya padaku”, ia merajuk.

Hyera memutar mata, “aku sering melakukannya, kau saja yang tidak pernah tahu. Baru hari ini aku ketahuan olehmu” ia mengangkat kedua bahunya pasrah. “Lagi pula, rasanya enak. Kau harus mencicipinya”, ucapnya bersungguh-sungguh.

Siwon bergidik membayangkan ia harus mengunyah isi pensil dan menelannya seperti layaknya makanan biasa. “No, thanks.”

Hyera tertawa melihat ekspresi laki-laki di hadapannya. “Memangnya kenapa?”, tanyanya usil meskipun ia sudah tahu jawabannya. Mana ada orang berpendidikan dan religius seperti suaminya ini mau begitu saja disuruh menelan isi pensil? Well, mungkin ia memang memiliki kelainan.

Kali ini Siwon menatapnya aneh. “kau pikir apa rasanya?”, ia tidak menggubris pertanyaan Hyera sebelumnya.

“seperti anggur”, Hyera menjawab spontan.

“hah?”

“rasanya seperti anggur..”, Hyera mengulang kembali pendapatnya.

“don’t be silly, Han Hyera” Siwon hampir tidak mempercayai pendengarannya sebelum Hyera mengulanginya kembali. “kalau kau ingin buah anggur akan aku belikan satu krat besok”

“maybe?” Hyera terkekeh pelan, tdak menanggapi serius ucapan Siwon. “Tidak perlu repot, aku tidak terlalu suka buah anggur”, jawabnya acuh.

“lalu kenapa kau mengatakan rasanya seperti anggur?”, Siwon menarik kursi lain yang kosong dan duduk disamping Hyera yang sudah mengubah posisi duduknya.

Hyera menyentuh lengan kekar milik Siwon dengan kekaguman dalam hatinya. Meskipun ia sudah terlalu sering melihat apa yang tersembunyi di balik pakaian laki-laki ini, tetap saja Hyera tidak pernah bisa berhenti mengagumi bentuk badan sempurna yang selalu membuat wanita manapun melirik suaminya dengan pandangan memuja.

“menurutku rasanya sama. Memangnya apa yang kau harapkan?”, kini Hyera memainkan tangannya disekitar dada bidang Siwon.

Siwon menghela napas, “kau mau makan apa saja terserah, akan aku belikan. Asal jangan pernah memakan pensil-pensil itu lagi”, pintanya protektif.

Seketika itu juga Hyera tertawa. Tapi melihat kesungguhan di wajah pria tampan yang kini sedang menatapnya dengan berbagai perasaan yang tidak dapat ia artikan membuatnya menyembunyikan sebagian tawanya. Hyera paham betul bagaimana Siwon jika ia sudah melakukan hal-hal yang membuatnya berada dalam pengawasan suaminya.

“maafkan aku”, manik mata Hyera mencari-cari pengampunan dalam mata Siwon yang berkilat cemas namun memancarkan semburat rasa sayang.

Siwon tersenyum dan menarik tubuh Hyera ke dalam dekapan hangatnya. Perlahan-lahan Hyera bisa merasakan ada sesuatu yang menggelitik hatinya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“tidak apa-apa. Sepertinya aku harus membayar seorang dokter untuk menjelaskan betapa bahayanya memakan isi pensil sebagai camilan di siang hari”

“kau..!” Hyera tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena ia membenarkan ucapan Siwon.

Mereka berdua terkikik pelan, persis seperti dua anak kecil. Sejenak lupa bahwa mereka adalah sepasang suami istri.

“you are my silly girl, Han Hyera..” bisiknya terdengar lembut namun parau di telinga Hyera.

ps : jangan protes! wekekek~ semalem ditelpon temen sampe jam setengah 3 pagi dan disalah satu cuap-cuapnya, dia cerita dulu pernah punya pacar yang hobinya makanin isi pensil dan katanya rasanya kaya anggur, hahaha. silahkan dicoba kalo kalian mau bukti -____- dan karena tampang bloon itu cocok sama Hyera, jadilah begini XD /digampar yg punya nama/

oya karena aku cuma mau bikin scene pas bagian Hyera makanin isi pensil jadi ya cm segini panjangnya hehe mian 😡 oya aku aja gatau ini genre apa hahaha /dilempar heechul/

satu lagi ; yang jadi silent reader aku sumpahin gabisa ketemu suju! :p

Missing You~

More

MELODY OF DARKNESS

Hujan..

Aku tersenyum samar. Rinai hujan jatuh membasahi tubuhku. Aku tidak beranjak sedikit pun dari sisi jalan melainkan menikmati hujan yang semakin turun deras. Aku menengadahkan kepala ku menatap langit mendung. Disana, jauh tertutup awan gelap, samar-samar terlihat pendar bintang yang indah.

Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh, kudapati Donghae sedang tersenyum menatapku.

“Kau.. Kenapa ada disini? Disini hujan, meneduhlah, kau bisa sakit..” kataku padanya.

Ia tertawa kecil. “Bukannya kau yang main hujan-hujanan?”

“Eh? Hehehe…” aku meringis malu. Ia malah tertawa melihatku meringis.

“Kalau begitu, biar kutemani” ujarnya sambil menarik tanganku membawaku ke tengah jalan raya yang sepi.

“Tapi…” ucapanku terpotong saat Donghae memeluk ku tiba-tiba dan mendaratkan kecupan lembut di dahi ku. Aku memejamkan mata, merasakan peluk hangat dan kecupan darinya.

Ia menaruh satu tangannya di pipi kananku, mengusap-usapnya. Aku memandangnya sendu. Langit masih menumpahkan hujan dan tidak satu pun dari kami yang beranjak pergi atau pun berbicara, menikmati sepi di bawah derasnya hujan. Tidak ada kata-kata. Tidak ada tindakan. Aku dan Donghae sama-sama tahu bahwa kami saling memahami tanpa harus banyak bicara. Dan kami hanya berpelukan berselimut hujan hingga kami merasa lelah.

Selamanya.

aku ingin seperti ini selamanya

memandangmu, bersamamu, memelukmu dan berada didekatmu

aku ingin sejenak waktu berhenti untuk memberikan ruang bagi ku, bagi mu. Bagi kita ..

entah kapan kita bisa berada dalam keadaan seperti ini untuk yang kedua kali dan seterusnya ..

aku akan selalu merindukan mu ..

merindukan momen ini ..

 

————-

Cuaca sangat cerah tapi aku terlalu malas untuk keluar rumah dan menemani sepupu ku berbelanja. Meski pun begitu, aku tetap beranjak pergi menemani sepupu kesayanganku.

Seoul, aku memang merindukan kota ini. Tiap-tiap sudut jalannya, toko-toko souvenirnya, penduduknya, pakaiannya, hiruk pikuknya dan terlebih aku merindukan seseorang. Kini aku berada di kota yang sama dengannya. Kota yang dulu juga pernah menjadi kenangan antara aku dan dirinya. Kota tempat pertama aku bertemu dengannya, dan juga tempat aku berpisah darinya.

Aku menyusuri jalanan yang entah kenapa terasa lebih lenggang dari terakhir saat aku melewatinya. Angin musim semi bertiup pelan, bermain dan menggelitik tengkuk ku. Refleks, aku menarik syal berwarna kuning pucat yang ku kenakan agar lebih menutupi bagian leherku.

Aku terbiasa berjalan sendiri hingga aku tersadar aku tidak lagi bersama sepupu ku. Tersesat? Tidak. Aku mengenal tiap liku jalan di seluruh kota dengan baik. Justru aku takut sepupu ku lah yang tersesat. Aku mengambil ponsel dan meneleponnya, mengatakan padanya bahwa ia bisa pulang sendiri tanpa ku, ia tidak akan tersesat selama ia tidak nekat pergi terlalu jauh dan berbalik melewati jalan yang kami lalui saat pergi.

Merasa haus, aku berbelok ke swalayan terdekat. Aku melihat-lihat rak minuman soda dan tidak sengaja menoleh kesamping. Di sana, tepat beberapa cm disampingku, ia juga menoleh dan berdiri kaku. Matanya membulat saat melihatku.

“Donghae…?” panggil ku setengah berbisik, aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Ia pun sama terkejutnya denganku saat melihat siapa yang memanggil namanya lirih.

Ia memandangku canggung, “ah~ apa kabar?” tanyanya sekedar berbasa-basi.

“Mmm baik, seperti yang kau lihat” senyuman canggung juga tersungging di bibir mungilku.

“Jadi.. kau masih di sini? Di Seoul?” ia mengulurkan minuman soda kesukaanku.

Aku menerima minuman darinya dengan kaku. Setelah sekian lama aku tidak pernah bertemu dengannya, kini aku berada langsung dihadapannya, bersamanya. Itu membuatku bingung dan salah tingkah harus bagaimana bersikap.

“Tidak.. aku memang sempat meninggalkan Seoul seperti yang kau tahu, tapi tidak lama lalu aku kembali lagi kesini”

“Lalu kenapa kau tidak memberi kabar saat kembali lagi? Kau juga tidak kembali kerumahmu yang dulu, kau seperti menghindariku..” raut wajahnya menunjukan kebingungan dan rasa penasaran.

Aku menghela napas panjang. “A-aku..” kata-kataku tersendat.

Ia masih menungguku meneruskan kata-kata. “Tidak apa-apa. Aku minta maaf, aku hanya tidak sempat memberi kabar dan mengecek rumah yang lama karena terlalu sibuk dan terburu-buru pindah” aku tersenyum kecut padanya, merasa bersalah telah membohonginya.

Ia tersenyum, “aku terus mencarimu, kau tahu?” kini ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia mengulurkan tangan kanannya dan menaruhnya diatas tangan kiri ku, mengusap-usap nya lembut.

Aku selalu merindukanmu, terlebih saat kau memandangku tersenyum dan mengusap-usap ku. Itu membuatku nyaman dan merasa dibutuhkan.

—-

4 tahun .. rasanya waktu yang cukup lama untuk mencari sosok pengganti diriku. Terlebih ia adalah super idol, wanita muda mana yang tidak mengenalnya? Apakah ia memang telah memiliki pengganti ku? Pertanyaan-pertanyaan semakin banyak muncul di kepalaku. Aku menahannya agar tidak meluncur keluar dari bibirku. Aku ingin tahu, tapi secara perlahan.

Kami berkeliling Seoul  menggunakan mobil Donghae dan berhenti di salah satu taman kota. Bunga-bunga mulai merekah menampakkan mahkotanya. Cantik. Tersusun rapi di sepanjang jalan setapak yang kami lalui. Aku selalu menyukai bunga. Bagiku, mereka semua memiliki pesona daya tarik sendiri.

Donghae menoleh mengikuti arah pandanganku ke bunga-bunga tersebut. Ia tersenyum dan memetik satu tangkai untuk ku. “Ini..” ia mengangsurkan bunga yang ia petik.

Aku menerimanya dengan sumringah di bawah tatapan mata darinya yang tidak bisa ku artikan. “Cantik” komentarku sembari membelai kelopak bunga.

“Cantik dan rapuh sekaligus. Seperti kau..” aku mengernyitkan dahi mendengar kata-katanya.

“Aku.. rapuh?”

“Lupakan” perintahnya lembut padaku.

Senja mulai menghilang saat aku berpamitan pulang. Donghae dengan sosok keras kepalanya ingin mengantarku pulang ke apartment yang mulanya aku tolak, tapi karena kami telah berdebat selama kurang lebih 20 menit, akhirnya aku mengalah dan memperbolehkannya mengantarku dengan syarat dia tidak boleh datang menemui ku sebelum membuat janji.

 

“PARK MINMI !” teriakan membahana memenuhi seluruh apartment. Sepupuku, si cerewet dan berisik Kim Hyochan sedang meneriakan sumpah serapah saat aku menganggu dirinya yang sedang terlelap.

“Bangun. Ini sudah siang, apa kau akan tidur terus sepanjang hari? Kau harus membantu sepupumu ini untuk menyelesaikan pekerjaan.” Hardik ku padanya yang hanya melirik dengan cuek dan mengulat seperti kucing.

“Kau ini.. sampai kapan kau akan sibuk dengan urusan pekerjaan saja? Pantas kau masih sendiri. Harusnya kau mengambil cuti dan mencoba berkencan dengan pria-pria diluar sana” gerutunya padaku yang sudah sering kali ku dengar darinya. Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya.

“Ayo cepat bangun!” aku menarik kedua kakinya hingga badannya merosot turun dari tempat tidur.

Dengan malas-malasan Hyochan bangkit dan berjalan ke kamar mandi. “Minmi !” aku memutar kedua bola mataku saat mendengar teriakannya. Pasti ada sesuatu yang tertinggal.

“Apa? Kali ini apa yang kau lupa?” teriakku dengan nada jutek.

Hyochan tertawa kecil dari dalam kamar mandi. Kepalanya menyembul dari balik pintu. “Tolong ambilkan pakaian dalamku, sepupuku sayang..” ujarnya masih dengan tertawa.

Benar-benar anak ini ! Gerutuku dalam hati. “Ini yang terakhir, lain kali aku tidak mau lagi menolongmu. Untung hidungmu menempel di muka, kalau tidak bisa-bisa lupa kau bawa.” Semburku asal sambil menyodorkan sepasang pakaian dalamnya. Ia hanya terkikik sambil mencibirku.

 

—–

Hari ini aku memiliki janji dengan Donghae setelah menyelesaikan pekerjaanku sebagai fotografer. Ia menjemputku di salah satu studio yang juga tempat ia biasa melakukan pemotretan untuk majalah.

Aku menunggunya di depan pintu studio dan tidak berapa lama kemudian ia muncul dengan Pigeot putihnya, entah mobil siapa yang ia pakai. Ku ulurkan tangan kananku dan menunjuknya dengan satu jari, menyuruhnya untuk tetap di dalam mobil sambil berjalan menghampirinya dan masuk ke mobil. Aku tidak ingin ia turun agar tidak ada yang tahu oleh siapa aku dijemput. Aku belum siap dengan berbagai pertanyaan yang ditujukan padaku nantinya mengingat ia seorang super idol terutama bagi para wanita.

Baru saja aku ingin memuntahkan pertanyaan dari bibirku padanya, ia menyela dengan cepat, “jangan kau tanyakan kita akan kemana. Kau pasti suka” jelasnya dengan senyum menggoda.

Kami tiba di suatu teluk yang aku tidak tahu di mana persis tempatnya. Yang aku tahu disini sangat sepi, bahkan mungkin tidak ada penduduk di sekitar sini. Donghae berjalan ke ujung teluk dan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Aku mengikutinya dengan hati-hati. Saat berada di ujung teluk, aku menengadahkan kepala menghadap laut yang tenang. Aku terpukau. Samudra biru yang berkilau menari-nari mengikuti ayunan ombak. Di atasnya, burung-burung laut melayang dan berputar mencari-cari makanan, dalam sekejap mereka menyambar ikan yang berenang bebas di laut lepas.

Angin bertiup pelan nan lembut menyapu wajahku. Aku membiarkan rambutku yang panjang sepunggung melambai dibuai angin senja. Aku begitu menikmati suasana ini. Ketenangan yang aku dapatkan dalam sekejap dapat menguapkan segala emosi dan pikiranku. Begitu lepas dan merasa bebas.

 

Mendapati wanita yang dicintainya kini tersenyum lepas disampingnya tanpa beban, laki-laki yang bernama Donghae ikut tersenyum bahagia. Ia tahu, beban yang ada di pundak wanita ini terlampau banyak sehingga seringkali membuat wanita itu harus bersikap tegar meskipun hatinya amat rapuh. Donghae memang tidak pernah tahu persis masalah-masalah yang dialami Minmi, tetapi ia bukan baru mengenalnya beberapa bulan. Ia tahu segala gerak-gerik yang membuat wanita itu tidak nyaman dengan hidupnya.

Jauh di dalam hatinya, ia ingin merengkuh wanita ini tanpa memikirkan penolakan yang ia dapat dari Minmi. Andaikan saja waktu itu wanita ini tidak pergi meninggalkannya tanpa kabar, menghilang tiba-tiba dan kemudian muncul kembali di hadapannya dengan kerinduan yang tidak dapat di gambarkan.

 

 

 

 

ps : harus komen ! *maksa* wekekek~ komen kalian penting loh buat author biar bisa bikin cerita yang lebih bagus lagi 🙂 dan makasih buat readers yang udah komen, maaf kalo ga sempet dibales hhe tapi aku sebagai author tetep menghargai komen kalian kok 😀 . nah karna aku jarang nongol, kalian bisa cari di fb : Adista Chrisna atau di twitter : @dischul ^^ >>sebenernya sih ga ngaruh bgt, secara aku jg jarang gentayangan di dunia maya haha~ /plak

GREENHOUSE [epilog]

Mian sebelumnya kalo ff ini jelek banget -_- . Tadinya oneshot tapi ada beberapa readers dan si jalang shalof minta dibuatin epilognya akhirnya jadilah ini. Happy reading guys ! 🙂

 

Aku benar-benar terperangah melihat raut wajahnya yang tanpa ragu dan terlihat serius seperti sekarang ini. Kurasa aku bermimpi. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali kemudian menatap kaku jalanan.

“Bolehkah aku sering berucap bahwa aku mencintaimu?” tuturnya lembut.

Dengan sedikit terperanjat, aku tersenyum. “Kau boleh melakukannya sesering yang kau mau”, ujarku sembari menatap ke dalam sorot matanya. “Tapi, kenapa kau ingin sering mengucapkannya? Bukankah sayang tidak harus selalu ditunjukkan dengan kata-kata?”

“Karna aku tidak butuh bantuan siapa pun untuk selalu mencintaimu.. Bagiku, itu caraku agar kau selalu ingat bahwa aku mencintaimu, Hyera”. Lagi-lagi ia mengatakannya dengan cara dan ekspresi yang tidak dapat ku gambarkan. Sempat membuatku menghentikan napas beberapa saat sebelum aku tersadar kembali.

 

Kami berhenti di sebuah restoran bergaya klasik. Ornamen-ornamen unik menghiasi dinding seluruh restoran. Siwon memang tahu bagaimana cara menyenangkan hati wanita.

Ya Tuhan, apakah ia benar sesempurna ini? Aku beberapa kali merasa rendah diri saat memikirkan sosoknya yang begitu sempurna. Well, memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi ia nyaris sempurna! Terlebih jika dibandingkan dengan diriku yang jauh dari tipikal wanita-wanita cantik nan anggun yang selalu mengelilinginya.

More

AUTHOR SUJUFF2010 in GATH 07112010

Jarak Bukan suatu halangan untuk merekatkan persaudaraan…. More

greenhouse ^_^

Aku menatap langit yang cerah dalam diam. Jenuh. Itulah yang aku rasakan. Kuhirup napas dalam-dalam dan ku hembuskan . Ini bukan yang pertama kalinya aku merasakan hatiku hampa. Sejujurnya, aku kesepian. Meski banyak orang lain disekelilingku, hatiku masih terasa sepi.

Terdengar seseorang memanggilku. Aku menundukkan kepala dari balkon.

“Kau tidak ingin membukakan pintu untukku?” ia menatapku tersenyum.

Aku membalas senyumnya. “Sebentar” jawabku lalu berlari menuruni tangga dan membukakan pintu untuknya.

Dia, laki-laki yang 3 tahun terakhir ini selalu menemaniku. Ia pria dewasa yang baik dan perhatian. Aku bersyukur memilikinya. Tidak semua wanita mendapatkan pria yang nyaris sempurna seperti dirinya.

Aku memeluknya. Suatu hal yang wajar dilakukan oleh seorang kekasih bila telah lama tidak bertemu. Ia kemudian melepas pelukanku dan memberiku kecupan singkat dibibir.

More

let him go~

Hati ini telah lama ikhlas melepasnya. Bahkan sebelum kau ada dihatinya.

Bukan berarti berhenti untuk mencintainya, melainkan karna tak mampu memberinya kebahagiaan..

Aku akan tetap menjadi aku yang membawa cinta ini hingga nanti. Hingga aku tak mampu lagi mencintainya..

Untukmu, perempuan yang telah dipilihnya, aku percayakan hatinya untuk kau jaga. Aku bersyukur karna engkaulah wanita itu J

Sepenuhnya, aku bahagia bila melihat ia bahagia. Sesederhana itu..

Kumohon, buatlah ia tersenyum seperti saat ini..

More

One Fine Spring Day, Ceritaku tentangnya

One Fine Spring Day, Ceritaku Tentangnya (One Shot)

Ini kisahku. Tentangku yang sedang mencinta. Untuk pertama kali dan satu-satunya. Pada seorang wanita. Cerita ini dimulai saat aku mengejar mimpiku di negeri seribu budaya, Indonesia. Sebagai putra dari pemilik perusahaan besar di Korea memang aku harus mengerti sistem marketing di seluruh dunia karena aku dipersiapkan menjadi penerus pimpinan perusahaan. Saat semua orang menyarankanku untuk pergi mencari pengalaman ke negara barat, entah mengapa aku justru memilih Indonesia. Kalian pasti tak tahu negara itu kan? Negara yang terdiri dari ribuan pulau itu terletak di benua Asia bagian tenggara. Dengan berbagai suku etnis dan budaya yang begitu mengagumkan. Aku mulai jatuh cinta dengan negara ini dari kegemaranku surfing di dunia maya. Aku pun segera mengajukan “proposal” untuk meneliti kemungkinan untuk mengembangkan perusahaan di sana, dan mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham.
Petualanganku dimulai. Aku mulai menyurvei kota mana saja yang memungkinkan untuk didirikan cabang perusahaan kami. Jakarta, Medan, Yogyakarta, Bali, dan aku sampai di Surabaya. Kisah cintaku dimulai di Surabaya, yang kata penduduk asli adalah kota pahlawan. Di sana, di salah satu café kecil di kota itu aku bertemu dengan seorang gadis manis. Gadis itu selalu berada di sudut café. Ya, gadis itu adalah pianis yang selalu menghibur tamu di café. Pertama kali aku melihatnya memainkan lagu Romance de Amor. Aku tersentuh. Dia memainkannya begitu sempurna. Saat memainkan tuts piano matanya seakan selalu tersenyum pada pangunjung. Dan aku selalu merasa dadaku berdebar saat mata kami bertemu. Tak kuragukan lagi. Aku sudah jatuh cinta padanya. Kuberanikan diri untuk mendekati dan menanyakan namanya. Kalian tahu apa jawabannya? Dia hanya tersenyum! Senyum yang sangat manis, tapi senyum itu juga yang selalu diberikan pada pengunjung lain. Tak berarti apa-apa. Saat aku mengenalkan namaku dia kembali tersenyum dan mengangguk lalu pergi masuk ke dalam ruang staf. More

Sengil cukhae naesarang .. Kim Heechul ~

If i never knew you
I never felt this love
I would have no inkling of
How precious life could be ..

And i’m so grateful to you
Because, i never known that i could feel a true and strong love before i met you..

I love you,
Everything you do, i’ve seen the best that lies in you..
You, whoever you are
i’m in love, and will still be in love with you ..

I just wanna say ‘Happy birthday’..
Sengil cukhae naesarang ..
Zum geburstag viel gluck ..
May you live long and success ^^
Be happy and be a strong person, kim heechul.
I know you can More

Previous Older Entries