[Siwon’s Day] Oh My Husband

cnUEk

Oreous proudly present

Oh My Husband

|| Choi Siwon || Min Jae Kyung ||

|| Romance || PG-13 ||

Find me also in https://ryweiirawan.wordpress.com/ *promosi*

 

***

 

“Aku Choi Siwon, suamimu.” Dia bilang apa barusan? Yang benar saja, dia sedang melawak yah?

 

Mencebikan bibir secara culas ke arahnya, bagaimana bisa lelaki sok keren–yang artinya dia sama sekali tidak oke–berani mengaku-aku sebagai pemilik nama gagah itu? Hei, lihatlah rambut jabrik mirip sarang burung di atas kepalanya tersebut. Dibanding Choi Siwon, dia justru lebih mirip Choi Tawon.

 

“Maaf yah kalau mau menipu, coba Anda riset dulu,” usulku rasional, merasa sedikit bersimpati pada penjahat new comer yang terkesan bodoh juga tak up to date. Ayolah, target manipulasinya adalah Choi Siwon sang agen rahasia pemerintah, si makhluk paling sibuk seantero Korea Selatan. Manusia yang terlampau memesona untuk ditiru apalagi oleh tampang preman macam si pengganjal pintu apartemenku ini.

 

“Dan lagi, selain penyamaran yang begitu buruk, akting Anda pun nol besar. Suamiku itu sedang tugas di Jeju tahu. Ha ha ha, jadi jangan harap mampu mengelabuhiku,” tambahku diiringi cekikikan tanda kemenangan. Baru kali ini aku kegiliran peran lebih pintar dari penjahat.

 

“Aku tidak bohong. Masa kau tak mengenaliku?” Lelaki bersetelan serba hitam ini keras kepalanya bukan main ternyata. Aku kan anti duel kasar, kenapa dia tetap di sini dan terus merecoki sih?

 

“Aku pun tidak berdusta. Kau telah ketahuan secara telak. Saranku, lekaslah pergi lalu susun rencana guna mencari korban baru.”

 

Ia nampak memutar kedua bola mata jengah sesaat begitu suaraku mengudara. Huh, sok tidak butuh sokongan pendapat sekali orang ini. Penjahat amatir saja belagu, biar akan kuadukan dia pada Siwon oppa jika belahan cintaku tersebut pulang nanti.

 

“Kau makan apa sebenarnya selama seminggu ini, hah? Atau jangan-jangan kau terbentur? Aku tidak operasi pita suara, bagaimana kau lupa pula? Ikrarmu, kau mencintaiku sampai mati,” dia masih mengeyel kali ini dapat kusaksikan muka berberewok ala Brutus itu melengkung turun. Huh, preman-preman kok mental tempe. Sudah begitu, kapan aku pernah mengumbar cinta secara murahan? Satu-satunya lelaki beruntung pemilik raga serta jiwaku hanya Choi Siwon, dia fitnah sekali.

 

“Sudahlah, tidak kah kau merasa lelah menunggui pintuku? Kuberitahu rahasia kecil yah, tiga lantai dibawah hunianku ini pemiliknya artis. Kalau kau mau uang, kau bisa mandi uang di sana. Jika kau butuh perhatian, ganggu saja dia. Kujamin seluruh warga Korea akan memerhatikanmu, oke?” ujarku mulai diserbu kejengahan. Oh ayolah, ini pukul sembilan malam dan aku sudah kewalahan untuk membendung dambaku pada jajangmyeon yang dijajankan tenda biru dekat Hongdae tetapi, ia tidak jua menguarkan tanda-tanda bersedia kalah lantas pulang. Tsk!

 

“Tidak. Semua itu aku sungguh tidak perlu. Yang aku mau, kau berhenti menghalangiku masuk ke dalam. Aku mau kasur kita, aku letih dan butuh tidur.” Apa yang mulut berdinding kumis itu bicarakan? Sejak kapan kasurku diisi oleh tiga orang? Lancang sekali dia mengklaim properti keluargaku.

 

Memicingi sosoknya, aku marah. Sangat berang, enak sekali ia melantunkan omongan yang seakan-akan menuduh secara halus bahwa aku berselingkuh dari Choi Siwon. “Kau enyah sekarang juga, brengsek!” Dalam kondisi tersebut, aku masih ingat guna mengkemplang kepala menyebalkannya yang sialnya sekeras beton. Gila!

 

“Kenal saja tidak beraninya kau mengata-ngataiku. Pernah bertemu saja belum, tidak ada takut-takutnya kau berlaku kurang ajar. Aku benci, sana minggir. Menyingkir dari jangkauan mataku!” kepalan-kepalan tinju mungilku bertubi-tubi mengoyak tubuh atletis nan kokohnya dengan brutal. Oh, aku kesal! Tidak tahu yah, seminggu penuh aku bertahan membendung ledakan-ledakan rindu pada suamiku. Lalu sesuka udelnya, dia datang mendeklarasikan diri sebagai lelaki yang paling kukangeni. Bersama suara yang jujur, sedikit banyak memang tak asing bagiku. Tidak bisa, hatiku terlalu rapuh bila dijadikan mainan.

 

“Stop, kau menyakiti tanganmu sendiri, Sayang.” Bukannya mendengar racauan interupsinya, aku malah makin berambisi membombardir badan yang double sialannya memang persis sekali dengan milik Siwon oppa–sangat huggable.

 

“Hei, hei, hei hentikan! Kau bisa terluka, come on.” Entah mengapa detik ini, menerima untaiannya yang ini, aku jadi merasa benar-benar terluka. Ingin menangis, meresapi ngilu daging kecil sang perasa yang merangkak timbul.

 

“Min Je Kyung.” Dan tumpah ruah lah tangisan itu. Dilungkupi isakan juga sesekali serutan ingus, perlahan kuturunkan lengan yang melemas, kusandarkan dahi secara nyaman pada permukaan bilik kiri dada seseorang.

 

“Hei, kenapa menangis?”

 

“Apa ada yang sakit? Sudah kuperingatkan, jangan lakukan hal itu tadi. Coba lihat, mana yang luka?” Dia mengangkat sebelah tanganku, mengusap hati-hati bagian punggungnya. Terasa hangat namun aku tidak peduli. Yah, sekarang aku cuma tertarik untuk bercengeng ria.

 

“Uh, sedikit merah. Kau pasti menggunakan full energy tadi. Sudah, sudah aku akan mentransfer sakitnya yah. Jangan menangis, hm?” Biasanya di waktu lampau bila Choi Siwon menenangkanku dengan cara begitu, air mata maupun ingusku akan masuk lagi tapi tidak dengan sekarang. Aku tahu dia nyata belahan jiwaku yang entah bagaimana bisa bertransformasi jadi gengster. Pokoknya aku cuma mau fokus terisak-isak bagai orang kekurangan udara, dan parahnya belum ada tanda aktivitas kuras air asin ini siap berakhir.

 

“Je Kyung-a tenanglah. Kau kenapa sebenarnya?” Diam. Yah, jangankan menjawab ujarannya, tenaga sekaligus pola pikirku sedang terarah sepenuhnya demi memperdalam tangisan.

 

“Kalau kau kuras air matamu sekarang, apa yang kau sisakan buat kematianku nanti, hm?” Siapa bilang dia akan mati lebih dulu? Aku percaya, Tuhan akan mengabulkan doaku. Aku taat mengikuti sekolah minggu. Kami hanya akan mati bersama, tentu itupun setelah hidup dulu selama dua ribu tahun berdua eh maksudku juga bersama seribu anak cucu.

 

“Min Je Kyung?”

 

“Aku takut, kau seperti Johnny Depp.”

 

“Apa?”

 

“Di Pirates of the Caribbean. Model jenggotmu, aku tidak bisa menghentikan air mataku. Bagaimana ini, Oppa?” Dan yah, aku memeluknya erat sekencang suara cengengku yang menggema di sepanjang lorong.

 

***

 

“Jadi, kenapa kau betah berdiri di sana? Kau tidak rindu padaku?” Aku mengetuk-ngetukan jempol ke atas lantai kamar kami. Ragu seribu derajat guna merangsek, bergabung dengan lelaki kecintaanku di ranjang sederhana namun nyaman itu.

 

“Aku bingung,” akuku akhirnya memilih terbuka mengenai kebenaran rasa ini.

 

“Tentang?”

 

“Saat pamit padaku, bukannya kau akan di Jeju selama lebih dari dua pekan? Lalu, tiba-tiba kau hadir tanpa pemberitahuan. Parahnya lagi kau terlihat … berbeda,” jelasku satu per satu meruntutkan unek-unek, kulihat juga dia yang menatapku bersama air muka melesu begitu bibir ini terkatup.

 

“Bukan berarti ada masalah jika kau berjambang hanya saja …,” buru-buru aku menambahkan sebab sungguh pondasi utama mengapa aku menerima pelamarannya setahun lalu tidak ada sangkut pautnya dengan visualisasi. Dia tampan, selalu. Namun sekarang ini ….

 

Siwon oppa berdehem ringan sebelum mempertontonkan senyum gaya model pasta gigi. “Aku tahu. Boleh aku sedikit bercerita?”

 

Aku mengangguk kuat-kuat menjawab permisinya.

 

“Duduk dulu di pinggirku. Aku mau cerita sambil memegang tanganmu,” negonya manja setelah terlebih dahulu diawali tawa geli yang memikat. Ah, suamiku memang paling bisa melumerkan keenggananku. Bagaimana aku tak makin sayang?

 

“Oke, ayo mendongeng,” setujuku begitu sukses menempatkan diri tepat di sebelah kanannya.

 

Meraih telapak kiriku, ia mengecup mesra cincin pernikahan yang terpasang cantik pada lingkaran jari manis. “Pertama-tama aku ingin minta maaf karena besok pagi-pagi sekali harus meninggalkanmu lagi.”

 

Bersiap menghamburkan seribu satu jurus protes, kurasai menempelnya telunjuk miliknya mengunci mulutku, tidak sedetik pun memberi kesempatan untuk sesi menyela. “Aku tidak mengada-ada ketika kukatakan dua minggu. Hari ini aku dipanggil ke markas pusat dan karena tak sanggup lagi meregang rindu, di sinilah aku sekarang. Er, sesungguhnya ini rahasia. Jangan bilang-bilang bosku, yah?”

 

“Kabur dari misi, kuyakini Choi Seung Hyun akan merampas habis persenjataanmu.”

 

“Dia mungkin akan menambahi hukuman kurungan juga,” responnya diselai senyum paling memorable di mataku.

 

“Aku tidak mau kau tidur di lantai dingin macam begitu,” tuturku kental menyuarakan nada rajukan seraya menubrukan kepala ke dalam lingkup bidang dada Choi Siwon.

 

“Nah, makanya mari bekerjasama,” putusnya, memerangkapku bersama kehangatan serta kenyamanan yang aku akan mengorbankan apapun demi mempertahankannya.

 

“Aku benci, Oppa.”

 

“Yah, aku mencintaimu juga.”

 

“Aku sungguh-sungguh membenci, Oppa,” tegasku mengulang.

 

“Yah, aku akan menghadiahimu satu ciuman untuk itu.”

 

“Tidak. Tidak sebelum kau jujur, bagaimana bisa menumbuhkan hutan gosong di wajahmu?” ujarku mutlak sembari menarik tubuh dari jangkauan rangkulannya.

 

“Kau masih penasaran juga? Apa aku sebegitu jeleknya dengan kumis, jenggot maupun jambang ini? Kau menyesali pernikahan kita bila tampilanku begini?” Tunggu, tunggu! Dia salah paham? Dia tersinggung kah?

 

“Tidak begitu. Kau keren untukku pribadi, Siwon Oppa tak ada duanya. Tetapi ….”

 

“Dia tidak suka yah?” tebaknya yang sulit untuk kusangkal.

 

“Mungkin sebab dia belum terbiasa saja,” kilahku mencoba meringankan perasaan tak menyenangkan yang timbul di hatinya.

 

“Ketidaksukaannya, apakah merupakan salah satu bentuk demo karena aku pun sering meninggalkannya?”

 

“Dia mengerti profesimu. Yah, pelan-pelan dia akan beradaptasi. Tak masalah, kau melakukan ini dan itu, kan juga demi dirinya.”

 

Kudengar tarikan napas panjang diambil Siwon oppa, lantas detik berselang ia sudah menghadapku, menekuk kakinya di atas busa kasur dengan tangan yang menggenggam erat ruas-ruas jariku. “Dia akan dengar jika kubilang ini? Aku minta maaf atas ketidak kerasanannya terhadap sosokku. Tugasku menyelinap sebagai anggota dari kelompok kecil Yakuza di Jeju, aku janji setelah semua ini beres. Dia akan mendapati Choi Siwon versi The Most Wanted Husband lagi. Kumohon, dia bersedia bersabar.”

 

“K-kau terlibat dengan Yakuza? Kau tak bicarakan ini padaku,” kataku terkejut. Sangat malah. Tega benar dia menyembunyikan fakta sepenting plus membahayakan ini dariku? Jikalau dia kenapa-kenapa bagaimana? Tidak ada yang tahu mengenai masa nanti kan? Dia bisa saja celaka, tertangkap atau … kita membahas mengenai Yakuza. Organisasi hitam paling tersohor di Asia Timur ini. Choi Siwon, kau tak memikirkan kekhawatiranku?

 

“Ini aku bilang. Jangan cemas! Ingat, aku pemegang sabuk hitam taekwondo, karate, juga master dari menembak dan memanah. Ah, jangan lupa aku cum laude untuk fisika serta kimia di California. Selain itu, aku dibantu Jung Yunho sekaligus doa istriku. Percayalah, aku tidak akan kekurangan apapun.”

 

“Oppa ….”

 

“Ah, aku mengantuk,” ucapnya dengan mulut yang menguap lebar. “Ayo, aku ingin tidur bersama kalian berdua,” imbuhnya tanpa berlama-lama membaringkan diri di atas ranjang.

 

Tersenyum menyaksikan tingkah lucu khas bocahnya, aku langsung ikut menempatkan kepala di atas lengan kekarnya. Bantal yang nyaman, membuatku serta merta melupakan nikmatnya semangkuk jumbo jajagmyeon.

 

“Jangan menolakku lagi, yah?” gumam Siwon oppa tiba-tiba, menarik refleksku agar mendongak, mengabsen wajah berlukis bulu-bulunya.

 

“Jangan buat ibumu muntah malam ini karena berdempetan denganku, hm?” Aku merasakan permukaan tangan seseorang mengelus area perut sana. Perlahan nan penuh kasih.

 

“Cepatlah temui kami. Ayah sangat mencintaimu.” Sebuah kecupan menyinggahi dahi berponi rataku. Meski ciuman ini terasa aneh akibat bercampur rasa geli efek gesekan kumis-kumis manly-nya tapi aku sedang menjajal agar menyukainya.

 

Choi Siwon, kau yang berwajah bersih dan cemerlang tanpa gagal menyihir rasaku namun detik ini sepertinya aku sudah harus mulai berpikir bahwa jenggot, jambang nan kumismu pun tak kalah sexy-nya. “Akhirnya mimpiku jadi nyata.”

 

“Hm?”

 

“Tidur dalam dekapan Johnny Depp, impianku sedari SMA. Aku belum pernah cerita?”

 

“Choi Junior, jangan terus pengaruhi ibumu untuk memerangiku lah ….”

 

Fin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. YeKyu
    Nov 25, 2015 @ 19:42:40

    hahaha ff ini tuh kaya ngegambarin reaksi awal siwonest liat siwon berjenggot ya, menurut aku sih gitu. Awalnya emang agak err.. aneh tapi diliat-liat sexy juga. laki banget!

    Reply

    • i'm2IP
      Nov 25, 2015 @ 20:11:23

      Wahahaha.. iya setuju banget sama komennya.. awalnya rada shock liat abang siwon kaya gitu.. tapi lama kelamaan manly juga hehehhe Xp

      Reply

  2. ElvaZavier
    Nov 26, 2015 @ 09:46:02

    haha .. lucu bgt. emang agak aneh sihh Siwon oppa pake jenggot gitu. jadi kaya laki2 di jaman joseon. wkwk …
    tp keren ff nya😀

    Reply

  3. kimmayurinerays
    Dec 05, 2015 @ 10:49:12

    Lucu deh bgus bget ceritanya…
    Mau nya ada special os nta hehe…
    Fighting ya🙂

    Reply

  4. LC_Ovan
    Aug 10, 2016 @ 19:19:19

    Kocak ya emang Bang Kuda rada aneh pas awal” gitu tapi lama” manly dan keliatan garang

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: