[Go Curry] Slowly Sinking

UJ

.

.

Written By: IJaggys

Go Curry  – Slowly Sinking

.

.

Ada yang berbeda dari restoran kari milik Lee Donghae hari ini. Bukan karena ketiga pelayannya, Lucas, Taeyong, dan Johnny memutuskan untuk mengadakan promo All You Can Eat. Tapi lebih ke pengunjung spesial yang akan datang.

“Apa benar Ibumu akan menjemputmu, Elle?” Lee Hyukjae bertanya dengan penasaran. Mendengar kabar bahwa Han Cheonsa akan menjemput Elle langsung, ke restoran Donghae, membuatnya tertarik.

Cheonsa bukan tipe wanita yang mau bertemu mantan suaminya, hanya untuk embel-embel menjemput anak mereka. Jadi menurut Hyukjae, ini hal yang menarik.

Di sisi lain, ada Donghae yang masih sibuk menyelesaikan pesanan salah satu pengunjung, yang meminta kari buatannya agar lebih kental, dan kentangnya lebih banyak. Pikirannya sebenarnya terpecah belah, antara menghias nasi kari, atau memikirkan kemungkinan yang akan terjadi ketika mantan istrinya berkunjung ke restoran kecilnya ini.

“Mom berkata seperti itu. Mom bilang supir pribadiku sakit, jadi Mom yang akan menjemputku.” Jawab Elle. Gadis kecil yang cantik dan polos itu, nampaknya tak menyadari, situasi apa yang sebenarnya akan terjadi jika sang ayah bertemu dengan ibunya.

“Apa kau siap? Perbandingannya seperti ini, Cheonsa datang, tapi tidak turun dari mobil dan menyuruh Elle untuk segera masuk ke dalam mobil. Atau bisa juga, Cheonsa masuk, duduk di salah satu meja kayu yang jelek ini, dan memesan makanan buatanmu. Kau lebih suka skenario yang mana?”

Tentu saja Hyukjae penuh skenario. Ia penasaran apakah Cheonsa, wanita dengan semua kekuatan dan kekayaannya yang menyeramkan itu, mau meluangkan waktunya untuk duduk di sini, beramah tamah dengan dirinya dan Donghae.

“Aku tidak terlalu memikirkannya,”

Bohong.

Donghae memikirkannya sejak Elle pertama kali memberitahukan bahwa sang ibu akan menjemputnya.

Tak berapa lama, Taeyong yang tengah membersihkan piring kotor di meja luar, masuk ke dalam restoran dengan napas yang sedikit terengah. Tangannya masih memegang nampan berisi piring dan gelas kotor.

“Bos, aku rasa Ibu Elle sudah sampai,” tutur Taeyong. Meski ia tidak tahu bagaimana wujud Cheonsa, tapi Eunhyuk dan Donghae selalu membicarakan Cheonsa, dengan semua sifat dan gambarannya, sehingga Taeyong yakin bahwa wanita yang turun dari Bentley hitam itu adalah Cheonsa.

Dengan cepat, Hyukjae berlari ke arah konter, tempat Donghae tengah berdiri memakai apron. Ia melepaskan apron itu dari tubuh sahabatnya, menarik rambut Donghae ke belakang dengan jari-jarinya, lalu mengeluarkan botol kecil dari Jo Malone dan membubuhkannya ke tubuh Donghae.

“Kau tidak bisa terlihat jelek dan kampungan di depan dia. Ingat, kau itu pengusaha kaya, jangan merasa terintimidasi dengan kehadirannya. Kau pernah menghamilinya—dan,”

Ucapan Hyukjae langsung terhenti, ketika pintu restoran itu terbuka. Han Cheonsa datang dengan kemeja putih dari Dior, dibalut dengan satu setelan dari Chanel, dan satu tas kecil dari Fendi.

“Hai Elle,” Cheonsa menyambut pelukan putrinya yang berlari kecil ke arahnya. Ia hanya menyapa Elle, padahal di ruangan itu ada Donghae mantan suaminya, dan Hyukjae mantan temannya.

Suasana restoran itu sedikit berubah. Rasanya penuh aura mengintimidasi. Mirip seperti yang Donghae rasakan, ketika Cheonsa mengajaknya makan malam di restoran One If By land Two If By Sea di New York.

Donghae tarpaku di sana, tak tahu harus melakukan apa atau mengucapkan apa. Tapi Hyukjae justru lebih senang menyiksanya, jadi ia menyapa Cheonsa lebih dulu, menyuruh wanita sempurna itu duduk di salah satu meja di sana, kemudian memanggil Donghae untuk mencatat pesanan Cheonsa.

“Anggap saja, kau sedang kedatangan tamu dari anggota kerajaan,” bisik Hyukjae, ketika menarik Donghae yang menatapnya penuh emosi menuju meja Cheonsa.

Sebaliknya, Cheonsa merasa tidak terintimidasi sama sekali. Ia mengambil buku menu yang ada di atas meja, membacanya dengan perlahan, kemudian bertanya kepada Elle, menu apa yang paling enak di sini.

“Semua makanan yang ada di sini enak, karena kami membuatnya dengan cinta,” Lucas yang polos, yang tak tahu apa-apa datang dengan senyumannya, siap membawa kertas putih untuk mencatat pesanan Cheonsa.

“Ini bukan bagianmu, kembali ke dapur. Kari tak butuh cinta, butuhnya uang.” Hyukjae berkata dengan asal, lalu menarik Lucas, Taeyong, dan Johnny menjauh dari sana. Untungnya, tidak ada pengunjung yang datang, hanya ada tiga pengunjung yang sedang makan dan memilih meja di luar restoran.

Jadi situasinya, hanya ada Donghae, Cheonsa, dan Elle di dalam sana.

Cheonsa berhenti membaca buku menu itu, dan menutupnya. Ia mengalihkan pandangannya ke Donghae, yang masih berdiri terdiam di depan mejanya, mirip seperti pelayan amatir yang tak tahu caranya melayani tamu yang datang.

“Mom mau pesan apa? Kalau aku, suka dengan chicken curry buatan Dad. Di dalamnya ada telur mirip Rilakuma, mirip seperti yang di Taiwan,” Elle bertanya dengan antusias. Tapi Cheonsa tidak menjawabnya.

Sadar, bahwa wanita itu hanya ingin menjemput putri mereka, Donghae pun mencairkan suasana, dan berdiri di samping Elle.

“Sayang, ibumu pasti sudah makan, mungkin kita bisa mencoba memasakannya kari di lain kesempatan. Lagi pula besok kau harus bangun pagi untuk ke sekolah, bukan?”

Mendengar ucapan Donghae, Cheonsa hanya membenarkan kancing di kemeja di pergelangan tangannya, seakan-akan dia tidak terlalu perduli dengan hal ini. Cheonsa memang seperti itu, selalu membuatnya merasa bahwa dia hanyalah aksesoris di dalam hidup wanita itu.

Sejak dulu wanita itu tidak pernah berkata banyak. Sebagian besar, Donghae harus pintar menebak apa yang Cheonsa inginkan, dan apa yang tidak dia sukai.

“Mom benar tidak mau mencoba kari buatan Dad dulu?”

Cheonsa mengalihkan pandangannya dari kancing pakaiannya, menimbang perkataan Elle, sebelum menggeleng pelan.

“Kita bisa mencobanya lain kali, mungkin dikunjungan berikutnya.” Jawabnya pendek.

Donghae tahu bahwa tidak akan pernah ada kunjungan berikutnya. Cheonsa berada di sini mungkin karena dia terpaksa, dan setengahnya lagi untuk membayar rasa penasarannya dengan restoran kecil yang selalu dibicarakan Donghae setiap malamnya, sebelum mereka pergi tidur.

Cheonsa berdiri dari kursi kayu di sana. Membiarkan Donghae memakaikan syal berwarna kuning cerah ke leher putrinya, lalu mengecup kening Elle sebanyak tiga kali dan memeluknya dengan erat.

Berpisah dengan Elle selalu menjadi hal yang sulit baginya, meskipun ia seharusnya sudah terbiasa dengan kondisi ini sekarang.

Sambil melambaikan tangannya ke arah Hyukjae, Lucas, Taeyong, dan Johnny. Elle yang ramah, akhirnya masuk ke dalam mobil Bentley hitam itu. Sementara Cheonsa berjalan perlahan di belakangnya.

Donghae ikut mengantarkannya hingga ke luar, bahkan terlalu dekat dengan mobil hitam itu. Ia berharap Cheonsa akan mengeluarkan beberapa kata singkat. Seperti ‘Sampai bertemu lagi,’ atau ‘Lain kali aku akan mencoba kari buatanmu,’.

Tapi tentunya hal itu tak pernah terjadi, Cheonsa tetap menganggapnya seperti tidak ada di sana. Sebelum membuka pintu mobilnya, Cheonsa menolehkan wajahnya ke Donghae, menatap wajah mantan suaminya.

Ia kemudian berkata, dengan suara rendahnya.

“Minggu depan Elle tidak bisa berkunjung kemari, ia akan berada di Hampton bersamaku.” Itu lebih terdengar seperti sebuah pernyataan, dibandingkan pertanyaan untuk meminta izin.

“Hampton? Bukankah minggu depan masih jadwalku untuk bertemu dengannya?” Donghae bukan lah pria yang menuntut, tapi jika berhubungan dengan putrinya, ia akan melakukan apapun demi bisa melihat senyuman hangat dari malaikat kecilnya itu.

Cheonsa melirik sekilas ke arah Hyukjae yang membuka pintu restoran itu karena penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Ia kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Aku akan melangsungkan pernikahan di Hampton, Elle akan bertemu denganmu secepatnya setelah kita kembali dari Amerika. Aku harap kau bisa mengerti,” Cheonsa mengakhiri kata-katanya dengan tatapan tenangnya, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, dan melaju dari sana.

Donghae masih berdiri di sana, terdiam. Meski Hyukjae sudah berlari ke belakangnya dengan belasan pertanyaan antusias tentang apa saja yang ia dan Cheonsa bicarakan.

Sekarang semuanya sudah jelas, Han Cheonsa mengunjungi restorannya hari ini bukan karena ia tertarik untuk mengetahui kehidupan yang ia jalani, setelah mereka berpisah. Namun, untuk menyampaikan kabar bahwa wanita itu akan segera menikah.

Satu atau dua hari, mungkin ia akan terus memikirkan Cheonsa. Memikirkan pernikahan wanita itu, memikirkan siapa pria beruntung yang bisa meyakikan wanita itu untuk memulainya dari awal. Tapi tiga hingga empat hari lagi, semua itu mungkin tidak akan berarti baginya.

Karena Donghae tersadar bahwa apa yang dia miliki bersama Cheonsa sudah berakhir di belakang sana. Tak ada alasan untuk merasa kecewa, yang ia miliki kini hanyalah Elle, dan restoran karinya.

Donghae tersenyum kecil mendengar pertanyaan bodoh dari Hyukjae. Dari sudut matanya, beberapa pengunjung baru datang, masuk ke dalam restorannya. Dan bagi dia semua itu sudah cukup. Dia mendapatkan semua yang ia inginkan—yaitu kebahagiaan.

Dulu dia selalu berpikir bahwa hanya Han Cheonsa yang bisa membuatnya merasa bahagia di dunia ini. Tapi ternyata dia salah besar. Kebahagiaannya tidak pernah berada di tangan Cheonsa atau orang lain, kebahagiannya berada di tangannya sendiri.

Ia melepaskan semua hal yang ia cintai untuk mendapatkan kebahagiaannya.

Ia melepaskan Han Cheonsa, wanita yang paling dicintainya di dunia ini, untuk mendapatkan kebahagiaannya.

 Lee Donghae mendapatkan kebahagiaannya di sini. Di restoran kari sederhana yang didirikannya dari nol, dan selama beberapa saat dia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Karena ia mencintai Han Cheonsa, tanpa harus memilikinya.

Because when you love someone, you see them everywhere in everything. And for Lee Donghae, that’s enough.

.

.

-ToBeContiuned-

.

.

This is scheduled post (if you’re reading this, then im probably on my third mojitos). Buat ini karena kangen, dapet mention di Twitter masih banyak yang cari Ijaggys hehehe. Jadi biar gadikira tertelan bumi, seperti author ff legenda lainnya, aku post ff ini. Plotless I know, but this is life. Comments are greatly appreciated! Love you so! Happy 2020! (better late than never!)

xo

IJaggys

2 Comments (+add yours?)

  1. Y
    May 25, 2020 @ 18:29:36

    Huaaaa kak son…….. kangen…….

    Taeyong ngadi adi ye lu yong, org dulu pernah naksir sama mom han pas jadi guru les nya Elle, masa ngga kenal mukanya 😆😆😆😆

    Reply

  2. yoyo
    Jun 10, 2020 @ 14:57:54

    selalu sukak deh ceritanya cheonsaa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: