Opera [1/?]

Opera Cover

Nama : i-Leetha
Judul Cerita : Opera
Tag (tokoh/cast) : Park Jung Soo, Song Joong Ki, Shin Seung Ri, Kim Seu Hwa, Ji Sung

Other Cast : Super Junior Member yang mungkin muncul dalam setiap part

Genre : Romance, Comfort
Rating : PG-13
Length : Chapter
Catatan Author (bila perlu): Alur cerita murni berasal dari pemikiran author. Cast milik mereka sendiri, OC milik author. Do Not Copas Without my permission.

Copyright @ Ernita Sinaga

 

Part 1

 

 

Cho Ahra terlihat tersenyum bahagia saat dia berjalan menuju altar dimana calon suaminya menunggu. Hari ini adalah hari pernikahannya. Dia adalah saudara perempuan dari Cho Kyuhyun, personil Super Fiction. Pernikahan yang digelar dengan megah itu juga dihadiri oleh personil lainnya. Lee Donghae, Park Jung Soo, Lee Hyuk Jae, dan personil lainnya. Mereka terlihat menikmati moment tersebut.

Park Jung Soo saat itu berperan sebagai MC dalam acara tersebut. Donghae dan Lee Hyuk Jae menyumbangkan satu buah lagu andalan mereka, Oppa…Oppa. Tidak hanya itu, sang adik Cho Kyuhyun juga menyanyikan satu buah lagu yang dipopulerkan oleh Sung Si Kyung yang berjudul Two People. Dia juga mengajak mempelai laki-laki untuk bernyanyi bersama. Kyuhyun terlihat membantunya saat pria itu sama sekali tidak tahu lirik lagu tersebut.

Kesempatan foto bersamapun tidak dilewatkan oleh mereka. Senyuman dan tawa keluar dari wajah masing-masing personil yang ikut foto bersama. Tapi tidak bagi Jung Soo. Dia hanya berfoto ala kadarnya dan tersenyum tidak seperti biasanya. Ya, ada yang aneh dengan dirinya. Bahkan sepanjang acara, dia terlihat lebih banyak diam dan tidak bertindak seperti dia biasanya.

“Apa kau masih memikirkannya hyung?” tegur Kyuhyun.

“Siapa? Seu Hwa? Aku tidak memikirkannya,” jawab Jung Soo dan meminum minuman yang ada di meja di depannya.

“Cih. Mencoba berbohong? Seseorang sepertimu tidak bisa berbohong hyung,” sahut Kyuhyun. Dia cukup tahu bagaimana ‘kakak’ tertua di grupnya itu. Seseorang yang tidak akan bisa berbohong. “Apa kau menyesali keputusan Seu Hwa? Bukankah sudah kukatakan kalau dia tidaklah bagus buatmu. Dan sekarang, dia meninggalkanmu disaat kau akan benar-benar serius menjalin hubungan. Dan sekarang, kau harus mengulangi kisah cintamu sementara kau sudah akan memasuki usia 31 tahun. Bukankah sudah saatnya kau akan menikah?” Ucap Kyuhyun lagi. Kali ini, Kyuhyun terlihat sangat serius. Tidak seperti biasanya yang hanya bisa mengejek.

“Bahkan Sungmin hyung sudah mendahuluimu. Apa kau akan begini terus menerus?” tanya Kyuhyun lagi.

“Sudahlah. Aku tidak memikirkan pernikahan lagi. Sendiri seperti ini jauh lebih baik,” jawab Jung Soo dengan nada pasrah.

“Apa kau takut untuk jatuh cinta lagi?”

“Entahlah.”

 

x-x-x

 

Seorang gadis terlihat bergerak dengan cepat dan lincah menuju meja para tamu untuk membersihkan gelas kotor yang digunakan para tamu peserta rapat. Senyuman selalu terpancar dari wajahnya yang terlihat mulai lelah itu.

Dia adalah Shin Seung Ri. Seorang gadis dari universitas yang cukup terkenal di kotanya. Saat ini dia berstatus sebagai mahasiswa magang semeseter akhir.

“Shin Seung Ri… Apa kau bisa melanjutkan shift hari ini?” tanya seorang wanita berambut kriting pada Seung Ri setelah dia selesai mengerjakan seluruh tugasnya. Hal seperti itu merupakan hal mudah untuknya. Dia bisa menyelesaikannya dalam waktu 20 menit walau hanya seorang diri.

“Bisa Ibu Manajer,” jawab Seung Ri bersemangat. Jika begini setiap hari, pastinya akan menambah uang saku untuknya. Dia tidak perlu merepotkan ibunya lagi.

“Baiklah. Segera naik ke Royal Room di lantai 8 dan bantu disana. Hyun Ji hanya seorang diri dan dia butuh bantuanmu untuk makan malam nanti,” ujar wanita itu memberi perintah.

“Baiklah. Saya akan segera naik setelah mengisi absen magang saya,” jawab Seung Ri bersemangat.

Acara di lantai 8 sudah berlangsung sejak tadi pagi. Dia tahu siapa yang mengadakan acara disana. Tidak lain adalah pesta pernikahan kaka perempuan Cho Kyuhyun Super Fiction, sang idola. Itulah mengapa dia terlihat sangat bersemangat saat ditawari membantu disana. Beruntung jika dia bisa melihat sang leader yang menjadi pria yang paling dia sukai diantara personil Super Fiction.

Seung Ri terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mulai dari membersihkan meja hingga mengeringkan peralatan makan dengan kain bersih. Setelah itu dia kembali menyusun meja hidangan dan mengisi ulang menu yang sudah habis. Dia melakukan semuanya bersama seorang temannya yang usianya jauh diatasnya yang tidak lain adalah pekerja tetap di hotel itu.

Eonnie, bisakah aku istirahat sebentar?” tanya Seung Ri pada temannya dengan tubuh tambun itu. Gadis itu menyetujuinya dengan syarat sebelum makan malam dia harus sudah kembali. Seung Ri berlari menuju loker dimana dia bisa beristirahat walau hanya beberapa saat saja. Jam masih menunjukkan pukul setengah lima. Setidaknya dia memiliki waktu tidur sekitar satu setengah jam sebelum jam enam dia harus kembali bekerja.

Seung Ri merebahkan badannya dan mulai memejamkan matanya diatas bangku panjang yang ada diruangan itu. Baru saja dia akan tertidur, seseorang mengusiknya. Seung Ri berteriak saat melihat seorang pria berada disana. Dia mengambil barang apapun yang ada didekatnya dan mulai melempari pria itu.

“Berhenti. Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku ini artis terkenal. Kau tidak mengenali aku?” ucap pria itu.

Seung Ri mulai menghentikan aktifitasnya dan perlahan-lahan melihat kearah pria itu. Dia merasa tidak asing dengan wajah itu. Tapi dia tidak yakin. Apakah mungkin wajah di televisi dan nyata berbeda?

“Apakah kau aktor Song Jong Ki?” tanya Seung Ri setengah tidak yakin.

“Benar. Ini aku. Kau harus menyelamatkan aku. Mereka benar-benar mengejarku hingga aku tidak bisa masuk. Kau tahu kalau disini pernikahan noona dari Kyuhyun Super Fiction bukan? Aku harus pergi kesana. Tapi para penggemarku menangkapku dan mengejarku,” jawab Jong Ki. Dia terlihat tidak tenang. Terlihat dari caranya yang selalu melihat kearah luar ruangan tersebut.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Seung Ri.

“Tolong aku agar dapat lolos dari mereka dan masuk kedalam,” jawab Jong Ki.

“Tapi bagaimana?”

“Kau pikirkan sesuatu. Apakah tidak ada jalan pintas atau sesuatu hal yang bisa membuatku lolos dari sini?”

Seung Ri melihat kesekelilingnya. Berharap menemukan sesuatu agar pria yang didepannya saat ini bisa pergi dan dia dapat melanjutkan tidurnya. Dia melihat pakaian seragam seperti miliknya tergantung disana. Dan sepertinya dia tahu harus bagaimana. Dia menyerahkan pakaian itu pada Jong Ki dan menyuruh pria itu mengenakannya.

“Apa kau gila? Kau menyuruhku mengenakankan pakaian pelayan sepertimu? Apa kau tidak sadar? Aku ini artis,” sahut Jong Ki. Sepertinya dia tidak terima Seung Ri menyuruhnya mengenakan pakaian itu. Terlebih itu adalah pakaian untuk karyawan wanita. Hanya saja, karyawan wanita disana mengenakan celana juga.

“Apa kau mau masuk atau tidak? Kenapa tidak menurut saja?” jawab Seung Ri. Selain menganggu, ternyata dia sangat tidak tahu terima kasih. Bukankah dia meminta Seung Ri membantunya? Setelah dia berusaha membantu, dia menolaknya.

“Cukup bodoh dengan keinginanmu untuk lolos. Itu bukan urusanku. Urus saja sendiri. Aku harus pergi sekarang. Jam istirahatku sudah habis hanya karena pria sepertimu,” sahut Seung Ri. Dia menyimpan pakaian itu kembali ketempatnya dan bersiap meninggalkan Jong Ki.

Tidak ada pilihan lain bagi Jong Ki selain menyetujui usulan Seung Ri tadi. Dia menarik lengan Seung Ri saat gadis itu akan meninggalkannya. Walau wajahnya terlihat tidak menyenangkan, tapi sepertinya dia harus melakukannya. Dan akhirnya dia telah mengenakan pakaian itu.

“Aku tidak akan melupakan hal memalukan ini,” gumam Jong Ki seraya melangkah mengikuti Seung Ri.

“Kau bawakan benda itu,” ucap Seung Ri dengan nada memerintah. Dia menunjuk kearah trolley –sebuah benda yang memiliki roda yang biasa digunakan untuk membawa barang-barang berat- yang kebetulan berada di sekitar mereka. Walau hati menolak, mau tidak mau, Jong Ki terpaksa harus melakukannya. Dia mendorong trolley seperti yang diperintahkan oleh gadis itu. Mereka membawa beberapa buah kerat tempat gelas yang telah dipakai nantinya. Jong Ki berusaha menutupi wajahnya dari beberapa orang yang melewati mereka.

“Bisakah kau tidak bertingkah seperti itu? Mereka akan curiga jika kau seperti itu bodoh,” ucap Seung Ri.

“Berapa usiamu?” tanya Jong Ki. Sepertinya dia tidak terima dikatakan bodoh oleh gadis itu. Terlebih dia terlihat masih sangat muda. Mungkin saja usianya sekitar 22 tahun.

“23 tahun,” jawab Seung Ri.

Mwo? Dan kau berani memerintahku dan mengatakan aku bodoh? Apa kau tahu berapa usiaku?” tanya Jong Ki.

“25 tahun?”

“Dan kau bertindak tidak sopan terhadapku?”

“Diamlah. Atau kau akan terlihat oleh mereka.” Seung Ri seolah tidak perduli dengan protes yang dilayangkan Jong Ki padanya. Dia tetap tidak menoleh pada pria itu yang hanya menatapnya bingung.

Lift yang mereka tunggu sudah terbuka. Seung Ri menekan angka 8 pada lift tersebut. Jong Ki melepas ikat kepalanya dengan kasar dan melemparkannya kearah trolley. Dia benar-benar tidak terima. Wanita seperti apa yang ada didepannya ini? Bukannya berteriak histeris, dia malah menyuruhnya mengenakan pakaian pelayan seperti sekarang. Dan sekarang mereka hanya berdua didalam lift, bukannya meminta tanda tangan atau berfoto bersama, dia malah sibuk dengan ponselnya dan sesekali menguap. Tidak seperti wanita yang selama ini dia temui.

“Apa kau yakin tahu siapa aku?” tanya Jong Ki. Dia masih tidak yakin kalau gadis itu mengenalinya.

“Namamu Song Jong Ki,” jawab Seung Ri tanpa jeda.

“Apa hanya itu yang kau tahu?” tanya Jong Ki lagi.

“Ah, peranmu dalan drama The Innocent Man sangat menyedihkan. Kenapa harus berakhir seperti itu? Tidak bisakah berakhir dengan lebih romantis? Ah, membuat penonton kecewa saja. Ah dan juga dalam reallity show Running Man, kau cukup tampan disana,” jawab Seung Ri sambil tersenyum kecil kearah Jong Ki.

“Apa? Dia tahu cukup banyak tentangku, tapi kenapa dia berlaku seperti itu?” gumam Jong Ki. Dia masih belum paham gadis seperti apa yang ada didepannya ini.

“Pekerjaanku di hotel. Bertemu dengan artis seperti kalian sudah biasa buatku. Jadi aku tidak histeris seperti para penggemarmu itu. Ah, sampai saat ini kau belum memberi nama untuk penggemarmu bukan? Daripada memikirkan hal yang aneh-aneh, pikirkan saja nama untuk penggemarmu.”

“Kau…”

“Kita sudah sampai.”

Seung Ri berjalan keluar dengan mendorong trolley. Jong Ki mengikutinya sambil memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah. Sangat tidak pantas disebut seorang wanita. Rambut yang tidak teratur, dan pakaian yang sedikit kebesaran di tubuhnya.

“Kau darimana saja? Kenapa baru datang? Cepat bersihkan meja di ujung,” teriak Hyun Ji, teman Seung Ri yang bertubuh tambun tersebut.

Mian eonnie. Akan segera kukerjakan,” jawab Seung Ri.

Jong Ki melihat gadis itu berlari dengan terburu-buru ketempat yang dimaksud oleh temannya itu. Mungkin merasa kasihan, dia tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya. Bahkan dia tidak sadar kalau dia belum mengganti pakaiannya.

“Kau! Jangan diam disana saja. Cepat kemari dan angkat semua kedalam trolley,” teriak Hyun Ji pada Jong Ki.

Jong Ki menoleh kebelakangnya. Tapi Hyun Jin lebih cepat daripadanya. Gadis itu menariknya menuju tempat dimana semua piring kotor dikumpulkan.

“Angkat ini keatas dan bawa ke belakang. Palli!!!”

“Maaf, anda salah orang. Aku salah satu tamu disini,” jawab Jong Ki.

“Tamu? Kalau begitu aku pengantinnya. Penampilan pelayan seperti ini, beraninya kau menyebut kau tamu? Sudah kerjakan. Atau aku tidak akan memberikan gajimu,” jawab Hyun Jin dan berlalu.

Jong Ki melihat penampilannya. Dia memukul dahinya saat menyadari kalau dia belum berganti pakaian. Dia harus membuka pakaian itu dan masuk ke area pesta. Namun hal itu diurungkannya saat melihat gadis yang menolongnya tadi tidak berhenti membersihkan meja yang dipakai tamu untuk menikmati makan malam. Senyuman tidak memudar. Walau terlihat lelah, dia tetap terus tersenyum. Sepertinya itu adalah tuntutan pekerjaannya. Dan mungkin tanpa sadar juga dia melakukan apa yang diperintahkan wanita tadi padanya. Bahkan dia tidak perduli lagi pada tamu yang mayoritas mengenalnya. Para tamu yang menghadiri pesta tersebut adalah para artis dan juga teman-teman Cho Ahra

“Kau, apa yang kau lakukan disini?” tanya Seung Ri saat menyadari kalau Jong Ki tidak bergabung dengan para tamu undangan lain seperti yang dia katakan tadi. Dia bahkan tidak mengganti pakaiannya. Dia hanya tersenyum.

“Aku hanya ingin mencoba hal baru. Anggap saja latihan trainning. Mungkin nanti aku bisa mendapat peran seperti ini,” jawab Jong Ki seenaknya.

“Apa? Apa kau sudah gila? Kau mau membuat department kami kacau jika para penggemarmu tahu kau berada disini? Sekarang pergi,” ucap Seung Ri. Nada memerintah namun dengan volume suara yang rendah.

Shireo. Aku akan tetap disini nona, Shin Seung Ri,” jawab Jong Ki. Dia akhirnya mengetahui nama gadis itu saat melihat papan namanya di baju yang dia kenakan.

“Aku tidak akan membiarkanmu tetap berada disini. Sekarang pergi.” Seung Ri menarik lengan pria itu agar meninggalkan tempatnya. Tapi sepertinya tenaga Jong Ki lebih kuat. Dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Tidakkah kau lihat tamu disebelah sana memanggilmu?” seru Hyun Jin. Seung Ri melihat kearah yang dimaksud oleh temannya itu. Dan sepertinya, kali ini Jong Ki akan lolos.Dia mengarahkan jari telunjuknya kearah Jong Ki selagi dia berjalan menuju pria yang sedari tadi memanggilnya. Itu sebagai peringatan agar pria itu meninggalkan tempat tersebut.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya Seung Ri dengan penuh sopan santun. Tidak lupa dengan senyuman di wajahnya.

“Bisakah kau ambilkan makanan untukku ahgassi? Aku sedang malas berjalan kesana,” suruh pria tersebut tanpa melihat kearah Seung Ri. Dia hanya mengacak-acak rambutnya dan kemudian merebahkan kepalanya diatas meja. Seung Ri tersenyum dan mengiyakan perintah pria tersebut. Dengan cekatan dia menghidangkan makanan di atas sebuah piring dan mengantarkannya ke meja pria itu.

“Wah, pelayanan disini benar-benar sangat memuaskan. Ahgassi, bisa ambilkan untukku juga?” ucap temannya yang ada disebelahnya.

“Baiklah tuan. Kepuasan ada, prioritas kami,” jawab Seung Ri. Walau sedikit merutuk karena pria itu menjadikannya bekerja dua kali, Seung Ri tetap memberikan pelayanan terbaik untuk mereka.

Dari kejauhan, dia memperhatikan kedua pria yang menyuruhnya tadi. Dia mengenali mereka berdua. Leader dan maknae Super Fiction. Ya, mereka adalah Park Jung Soo dan Kyuhyun. Harapannya terwujud. Walau dia ingin berteriak dan memeluk Park Jung Soo, tapi dia harus menahan keinginannya itu. Profesional kerja harus lebih diutamakan.

Jong Ki yang sedari tadi memperhatikannya, menghampiri Seung Ri. “Kau penggemar Super Fiction bukan?” ucap Jong Ki sambil menyenggol bahunya pada bahu Seung Ri. Hampir saja piring yang dia pegang terjatuh.

“Ya, kau hampir membuat piring ini terjatuh bodoh,” umpat Seung Ri.

“Apa perlu aku meminta mereka menemuimu di belakang?” sahut Jong Ki.

“Apa kau gila? Sekarang lepaskan seragam itu dan pergi dari tempat ini. Setelah aku mengantarkan ini, kau harus sudah pergi dari sini.”

“Jika tidak?”

“Apa kau mau mati?”

“Panggil aku oppa dan keluar denganku besok malam. Aku akan pergi sekarang juga,” ujar Jong Ki. Seung Ri menghentikan langkahnya. Namun panggilan Kyuhyun membuatnya harus meninggalkan pria menyebalkan itu lagi.

Gomawo ahgassi,” ucap Kyuhyun setelah Seung Ri mengantarkan makanan itu. Seung Ri hanya tersenyum dan membungkuk kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Jong Ki menyodorkan ponselnya pada Seung Ri.

“Masukkan nomor ponselmu,” ucap Jong Ki.

Shireo.”

“Aku tidak akan pergi. Atau aku pergi mengupdate SNS kalau aku sedang bekerja di hotel ini. Aku yakin department mu ini akan sangat kacau.”

“Baiklah. Baiklah. Apa kau hanya akan mengancam untuk mendapatkan keinginanmu?” Seung Ri menarik ponsel itu dan memasukkan nomornya kemudian mengembalikannya pada Jong Ki. Sepertinya pria itu meneleponya. Saat dia mendekatkan ponsel itu pada telinga kanannya, ponsel Seung Ri berdering.

“Baiklah. Itu nomor ponselku. Besok aku akan memberitahu dimana harus bertemu dan jam berapa. Jadi bersiap-siap saja,” ucap Jong Ki. Seperti janjinya, dia meninggalkan tempat tersebut. Dan beberapa saat kemudian dia kembali dengan pakaian formal yang dia gunakan pertama kali.

“Manusia seperti apa dia sebenarnya?” gumam Seung Ri. Jong Ki menoleh kearahnya dan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya bergabung dengan teman-temannya.

 

x-x-x

 

                  Jung Seu Hwa, seorang model yang namanya sedang naik daun belakangan ini tampak asik dengan ponselnya. Sesekali dia tertawa seorang diri.

“Ada apa Seu Hwa-ya?” tanya manajernya.

Gwencana eonnie,” jawab Seu Hwa tanpa menghentikan senyumannya.

“Tapi kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu? Apakah penampilanku sangat lucu hari ini?” tanya manajernya sambil memperhatikan keseluruhan pakaian yang dikenakannya. Tidak lupa dia juga melihat kearah cermin yang ada di depannya untuk melihat wajahnya. “Tidak ada yang lucu sama sekali. Tapi kenapa kau hanya tertawa saja Fany-ah?” tanya manajernya lagi.

“Tidak eonnie. Tidak ada yang lucu sama sekali. Ah… apa kau tahu kalau Song Jong Ki itu sangat manis? Ah, aku benar-benar menyukai pria seperti itu,” ucap Seu Hwa tanpa sadar.

“Ah, Song Jong Ki. Apa kau sedang men-stalker tentang dia lagi?” ucap sang manajer.

Ania. Hanya melihat sebentar saja,” sahut Seu Hwa sambil menyembunyikan ponsel miliknya. Wajahnya terlihat mulai memerah.

“Itu sama saja Seu Hwa-ya. Apa kau memutuskan berpisah dari Park Jung Soo yang benar-benar akan serius denganmu hanya karena pria yang bahkan tidak tahu siapa kau?”

“Sebentar lagi dia kan tahu aku eonnie. Kau lihat saja nanti. Dia akan jatuh cinta padaku nantinya.” Seu Hwa terlihat sangat percaya diri mengucapkan kata-katanya itu. Sang manajer hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Seu Hwa memang seseorang yang memiliki percaya diri yang sangat tinggi. Jika diingat sebelumnya, dialah yang mengejar Jung Soo agar mau berkencan dengannya. Bahkan disaat dia hanya seorang penggemar biasa saja. Park Jung Soo mencoba membantunya dan inilah dia sekarang. Jung Seu Hwa, seorang model yang sebentar lagi akan menjadi top super model. Disaat dia mendapatkan hal itu, dia memilih meninggalkan Jung Soo. Saat dimana Jung Soo benar-benar jatuh cinta padanya. Sekarang, sang manajer hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Seu Hwa. Dia hanya bisa melihat dan menunggu bagaimana Seu Hwa kedepannya.

“Sejam lagi kau ada pemotretan dengan majalah style. Jadi bersiap-siaplah sekarang,” seru Nam Hyun, sang manajer.

“Malam seperti ini eonnie?” tanya Seu Hwa.

“Tentu saja. Tidakkah kau lupa kalau konsep yang digunakan beautiful women in night?”

“Haissh. Arraseo. Aku akan bersiap-siap.”

Seu Hwa melemparkan ponselnya dan memasuki kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara Nam Hyun mempersiapkan keperluannya untuk pemotretan tersebut. Otaknya sedang bergumul saat ini. Apa dia harus mengatakannya? Dia masih memiliki kontrak dengan majalah inside dimana dia harus berpasangan dengan Park Jung Soo.

Kajja eonnie,” ajak Seu Hwa yang sudah siap.

Kajja.”

Konsep Beautiful Women In Night adalah konsep dengan gaun pesta. Konsep ini adalah konsep yang diajukan Jung Soo saat mengetahui Seu Hwa akan menjadi model mereka. Bahkan Seu Hwa tidak mengetahui hal itu. Seu Hwa yang tidak terlalu suka mengenakan gaun malam setiap kali diadakan pesta adalah salah satu alasan Jung Soo memintanya. Dia ingin sekali melihat gadis itu mengenakan pakaian seperti itu.

 

x-x-x

 

Park Jung Soo berjalan sempoyongan setelah dia menghabiskan dua botol soju. Sungmin mencoba membantunya untuk berjalan keluar. Tapi Park Jung Soo menolak bantuan Sungmin dan terus berjalan. Sungmin sama sekali tidak yakin kalau Park Jung Soo dapat mengendari mobilnya dan tiba dengan selamat. Bagaimanapun juga dia harus bersama seseorang. Sungmin memutuskan untuk memanggil Shindong dikarenakan dia harus mengatar sang istri pulang ke rumah.

Hyung, gwencana?” tegur Shindong saat melihat Park Jung Soo terduduk disalah satu bantalan jalan yang sepi.

Gwencana. Aku hanya ingin mencari angin segar saja. Kalian lanjutkan saja pestanya,” jawab Jung Soo. Dia terus berjalan keluar ruangan tersebut dengan jalan yang tidak terarah. Bahkan, jika wartawan melihatnya, bisa-bisa akan menjadi pembicaraan buruk dikalangan mereka. Park Jung Soo Super Fiction mabuk berat.

Ahjussi, gwencana?” tanya seorang wanita yang menopang tubuhnya saat dia akan terjatuh. Park Jung Soo meletakkan tangannya di bahu wanita itu yang membantunya duduk di bangku yang ada didekat situ.

“Seu Hwa-ssi, apa kau pikir kau bisa melakukan hal itu padaku? Aku akan membuat kau menyesal dan meminta untuk kembali padaku,” ucap Jung Soo tidak sadar. Dia memegang kedua bahu gadis itu dan mengguncangnya kasar. Bahkan tidak peduli kalau gadis itu meringis kesakitan. Dia semakin mengeratkan pegangannya pada bahu gadis itu.

Ahjussi, bisakah kau lepaskan? Itu sangat menyakitkan,” ucap gadis itu.

“Sakit? Apa kau tidak berpikir apa yang kau lakukan jauh lebih menyakitkan?” jawab Park Jung Soo.

Ahjussi, aku bukan Seu Hwa. Aku pekerja hotel ini. Bisakah anda lepaskan aku?” Gadis itu masih berusaha melepaskan tangan Jung Soo yang memegang erat kedua bahunya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Jung Soo menciumnya dan memeluknya.

“Melepaskanmu? Aku tidak akan melepaskanmu,” ucapnya setelah dia melepaskan pelukannya.

Park Jung Soo mengenggam pergelangan tangan gadis itu dan menariknya menuju mobil. Dan dengan kecepatan penuh dia membawanya ke sebuah kapel kecil. Dia memaksa gadis itu keluar dari dalam mobilnya dan menariknya masuk kedalam. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka.

“Ada apa ini anak muda?” tanya pria itu dengan lembut.

“Pendeta, tolong. Nikahkan kami sekarang juga. Aku tidak ingin kehilangan wanita ini,” ucap Park Jung Soo. Dia terlihat sangat emosi. Pria tersebut berusaha menahannya dan mencoba menyadarkannya.

“Kau bau minuman. Kau sedang tidak sadar anak muda. Lagipula wanita ini tidak mau,” jawab pria itu.

“Tentu saja dia tidak mau. Dia berniat meninggalkanku. Dan aku tidak ingin terjadi. Karena itu segera nikahkan kami. Sekarang juga,” ucap Jung Soo dengan nada memerintah. Gadis yang disebelahnya hanya bisa diam dan menatap Jung Soo yang terlihat frustasi. Melihat hal itu, gadis itu menyetujui keinginan Jung Soo untuk menikah. Masalah dikemudian hari, itu bisa dia pikirkan nanti.

Pria dengan pakaian putih itu sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Jung Soo. Terlebih saat wanita itu menyetujuinya walau dalam keadaan terpaksa. Dia meminta nama lengkap mereka berdua. Gadis itu mengambil kertas dan bolpoint dari tangan pendeta tersebut dan menulis nama mereka berdua. Dia terhenti saat akan menulis nama mempelai wanita. Apa dia harus menuliskan nama lengkapnya, atau menuliskan nama gadis yang dimaksud oleh Jung Soo.

Dengan perasaan bersalah, gadis itu menuliskan namanya dikarenakan dia tidak tahu siapa nama gadis yang dimaksud oleh Jung Soo. Terlebih saat Jung Soo mulai hilang kesadarannya. Dia yakin esok hari Jung Soo tidak akan mengingat apa yang terjadi hari ini.

“Sekarang kalian resmi menjadi suami istri. Aku harap kalian saling mencintai dan menjaga satu sama lain seumur hidup kalian,” ucap pria itu. Setelah mengatakan hal itu, Jung Soo benar-benar kehilangan kesadarannya.

Matahari pagi yang tepat mengenai matanya membuat Jung Soo terbangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya berada di dalam kamar yang dia tidak tahu milik siapa. Tapi jika melihat dari perabotan yang ada disana, dia sangat yakin kalau itu adalah kamar hotel. Dia memeriksa pakaiannya. Masih sama. Dia dapat mengelus dada. Itu artinya dia tidak berbuat onar saat dia mabuk semalam.

Hyung, buka pintunya. Palliwa!!!” Suara Siwon terdengar dari luar kamar. Dia datang dengan yang lainnya. Mereka terdengar tidak sabar. Terlihat dari cara mereka yang menekan bel berulang kali.

Park Jung Soo memegangi kepalanya dan berusaha berjalan menuju pintu. Dengan bersusah payah, dia berhasil membuka pintu kamar. Benar saja. Mereka semua menyerbu masuk kedalam kamar.

“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa bisa sampai berada disini?” tanya Kyuhyun.

“Aku sendiri tidak tahu. Kalian, bagaimana kalian tahu kalau aku berada disini?” Jung Soo balik bertanya. Dia yakin tidak memberitahu siapapun dimana dia berada.

“Seseorang mengirimi kami pesan singkat. Dia mengatakan kalau kau berada disini. Tapi tidak tahu siapa. Begitu kami menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif. Apa kau terluka hyung? Atau kau kehilangan sesuatu?” tanya Donghae.

“Aku rasa tidak. Aku baik-baik saja. Manusia seperti apa yang melakukan hal seperti ini? Dia menolongku dan tidak mengambil apapun milikku?” tanya Jung Soo.

“Dan juga, dia membayar biaya penginapan hotel ini,” ucap Heechul yang baru saja tiba. Ya. Sebelum kekamar, dia terlebih dahulu memeriksa identitas yang bertanggung jawab atas kamar itu. Nama yang tertera adalah Park Jung Soo. Tapi dia membayar dengan uang cash. Dan yang Heechul tahu, Jung Soo tidak pernah melakukan pembayaran hotel dengan uang cash. Dia pasti membayar dengan credit card miliknya.

“Apa dia menggunakan uangmu untuk membayar hotel hyung?” tanya Hyuk Jae.

Jung Soo memeriksa isi dompetnya. Tapi tidak satupun yang hilang. Bahkan jumlah uangnya tidak berkurang sama sekali.

“Apa kau bertanya siapa yang membawa Jung Soo hyung kemari hyung?” tanya Ryeowook.

“Tentu saja. Menurut receptionist, yang membawanya kemari adalah seorang wanita. Dan jika dilihat dari seragamnya, dia adalah pekerja di hotel ini,” jawab Heechul.

Daebak. Apa dia menjebakmu hyung? Dia melakukan seperti yang biasanya terjadi dalam drama. Dengan demikian dia akan mengancammu dikemudian hari,” ucap Hyuk Jae.

“Bodoh. Apakah otakmu hanya terus berjalan kearas sana?” tanya Heechul sambil memukul kepala Hyuk Jae. Hyuk Jae memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.

“Pekerja hotel ini? Kenapa aku tidak ingat apa yang terjadi?” ucap Jung Soo yang mulai merasa frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya. Dia memejamkan matanya dan berusaha mengumpulkan ingatannya. Dan sepertinya usahanya tidak sia-sia. Dia mengingat sebagian kecil.

“Kapel. Ya, aku menarik seseorang ke sebuah kapel semalam. Kita harus kesana. Aku yakin seseorang disana tahu siapa yang aku tarik kesana,” ucap Jung Soo.

“Kapel? Apa mungkin Seu Hwa?” sahut Kyuhyun.

“Seu Hwa? Dia meninggalkan Jung Soo hyung. Bagaimana mungkin dia muncul dan melakukan hal bodoh seperti itu?” sahut Donghae.

“Sudah. Lebih baik kalian diam. Kalian mau ikut atau tidak?”

“Kami ikut.”

Berbekal dengan sedikit ingatan yang didapat Jung Soo, mereka tiba disebuah kapel. Benar saja, pendeta yang berjaga disana menyambunya dengan senyum di wajahnya.

“Kau datang lagi anak muda? Apa ada yang bisa kubantu kali ini? Dan, mana istrimu?” tanya pria itu.

“Istri?” Mereka menjawab bersamaan. Termasuk Jung Soo. Dia tidak tahu kalau dia melakukan hal itu.

“Apakah ini orangnya?” tanya Donghae sambil menunjukkan foto Seu Hwa yang kebetulan ada di ponselnya. Pria itu memperhatikan wanita yang ada di ponsel tersebut.

“Bukan dia orangnya. Jika aku boleh jujur, wanita itu terlalu cantik dibandingkan wanita yang dia bawa untuk dinikahinya semalam. Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?” tanya pria itu.

“Tidak pak pendeta. Kami hanya memastikan saja kalau teman kami ini benar-benar menikah gadis lain, bukan wanita yang ada di foto itu,” jawab Heechul.

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. “

“Kalau begitu kami permisi pak pendeta. Maaf kalau menganggu anda pagi-pagi seperti ini.”

“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu.”

Setibanya di dorm, Jung Soo hanya bisa terdiam. Dia memang tidak melakukan keonaran. Tapi sangat onar. Bagaimana mungkin dia menikahi seorang yang dia tidak tahu? Dan sekarang dia teringat dengan seorang yang bahkan dia tidak tahu bagaimana orangnya. Dia berusaha memungkiri apa yang terjadi. Tapi, cincin di jari manis yang sejak pagi sudah melingkar tidak dapat dibohongi. Itu adalah cincin yang dia beli untuk melamar Seu Hwa. Dan sekarang salah satunya melingkar di jari manisnya.

“Apa kau sudah gila?” teriak Jung Hoon, manajer mereka. Setelah mendengar penjelasan Heechul, dia segera menuju dorm untuk meminta keterangan dari Park Jung Soo.

“Aku juga tidak tahu hyung. Aku benar-benar tidak sadar semalam,” jawab Jung Soo.

“Apa kau tidak ingat sedikitpun wajahnya?”

“Tidak.”

“Apakah ada teror hingga saat ini?”

“Tidak ada hyung.”

“Baguslah. Setidaknya untuk saat ini kita berada dalam posisi aman. Kita akan mencari tahu siapa wanita itu dan memintanya agar tidak mengatakan pada media. Dan juga tentang pernikahanmu, anggap saja tidak ada. Karena kau melakukannya secara tidak sadar.”

“Hukum bisa mengatakan hal itu, tapi bagaimana dengan agama? Apa itu mau dipungkiri hyung? Secara agama dan hukum, Jung Soo hyung sudah menikah. Bagaimanapun juga, dia harus menafkahi dan melindungi istrinya dalam kondisi apapun itu,” jawab Siwon.

“Sekarang bukan saatnya Siwon-ah,” sahut Young Woon.

“Kenapa? Kalian juga tidak mengakuinya? Aku sangat tidak terima jika Jung Hoon mengatakan hal itu. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Kenapa kalian menganggapnya itu main-main?” jawab Siwon.

“Bisakah kalian tidak bertengkar sekarang? Aku yang akan memutuskan apa yang akan kulakukan. Sekarang kalian bubar saja. Aku lelah,” jawab Jung Soo.

“Baiklah. Beristirahatlah. Tapi jangan sampai lupa kalau kau ada pemotretan dengan majalah Inside siang ini. Dan itu bersama Jung Seu Hwa,” jawab Jung Hoon.

“Apa? Sejak kapan aku memiliki kontrak seperti itu hyung?” tanya Jung Soo.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan pada pimpinan kalau kau akan melakukannya jika bersama Seu Hwa?” sahut Heechul.

“Apa aku mengatakan hal seperti itu hyung?” tanya Jung Soo. Yang lain hanya menggelengkan kepala melihat Jung Soo. Kentara kalau pria itu berpura-pura lupa tentang hal itu. Siapapun tahu bagaimana kerasnya Jung Soo meminta pada agensi agar melibatkan Seu Hwa di dalamnya. Bahkan dia berani mempertaruhkan penghasilannya demi kesuksesan produk tersebut. Hal seperti itu tidak akan mudah dilupakan.

“Baiklah. Sepertinya kau menolak. Aku akan mengatakan agar tidak melibatkan Seu Hwa,” ucap Jung Hoon.

“Tidak hyung. Biarkan dia melakukannya. Aku tidak akan melakukan pemotretan itu,” jawab Jung Soo.

“Apa kau serius?” tanya Jung Hoon.

“Apa kau gila hyung? Kenapa kau selalu saja mengalah dengan Seu Hwa. Apa kau masih mengharapkannya? Jujur, aku lebih suka jika kau bersama gadis yang tidak kau ketahui itu. Setidaknya dia tidak merepotkan dan memanfaatkanmu seperti Seu Hwa,” sahut Donghae. Yang lain tampak setuju dengan ucapan Donghae. Bahkan gadis itu mengunakan uang pribadinya untuk biaya kamar Jung Soo.

“Aku tidak ingin melakukan apapun untuk beberapa saat ini. Saat ini aku hanya berkonsentrasi mengingat siapa wanita yang aku nikahi semalam.” Jung Soo mulai terlihat tenang walau kekhawatiran masih terlihat jelas dari wajahnya.

“Baiklah kalau itu maumu. Lakukan seperti yang kau inginkan,” ucap Jung Hoon sambil menepuk bahu Jung Soo.

 

x-x-x

 

Seung Ri berlari dengan kecepatan penuh saat melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jam masuknya adalah jam 7, dan sekarang sudah jam 8? Sepertinya dia benar-benar akan mendapat masalah kali ini.

“Apa kau baru tiba Seung Ri-ya?” tanya supervisior tempat dia bekerja.

Mianhae eonnie,” ucap Seung Ri.

“Selalu seperti ini. Sekarang pergi keatas. Hyun Jin sudah menunggumu,” seru wanita itu.

Seung Ri membungkuk dan segera berlari menuju lift. Dia bisa menarik napas lega. Setidaknya hal tersebut tidak menganggu kedalam pendidikannya nanti. Terlebih untuk hasil akhir nanti.

Seung Ri menekan tombol lift yang hari itu sedikit sepi. Dia menepuk-nepuk lantai dengan sepatunya. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Dia memalingkan wajahnya pada sumber suara tersebut dan melihat seseorang berjalan kearahnya. Song Jong Ki. Dia tersenyum saat melihat Seung Ri berusaha bersembunyi darinya.

“Kau bahkan tidak dapat bersembunyi dengan baik,” ucap Jong Ki. Dia memang menggunakan penyamaran. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk Seung Ri. Dia dapat mengenalinya dengan cepat.

“Bahkan kau tidak dapat menyamar dengan baik,” jawab Seung Ri cuek.

“Baiklah. Aku kalah. Aku hanya ingin mengingatkan kalau malam ini kau ada makan malam denganku,” ucap Jong Ki. Dia meninggalkan lift sesaat setelah pintu lift terbuka. Bahkan sebelum Seung Ri mengatakan apapun padanya.

“Dasar aneh,” umpat Seung Ri dan memasuki lift yang baru saja terbuka.

Jong Ki masih melihat kearah Seung Ri sebelum gadis itu memasuki lift. Panggilan dari managernya membuat Jong Ki harus meninggalkan tempat itu. Dia harus menghadiri rapat dengan pimpinan majalah Inside yang memintanya sebagai model untuk pakaian couple. Dan menurut informasi dari manajer, dia akan berpasangan dengan seorang model yang sedang naik daun.

Jong Ki tiba di kantor agensinya dan mendapati manajernya dengan pimpinan majalah Inside dan dua orang wanita. Dia melihat penampilan mereka berdua dan meyakini kalau salah satu dari mereka yang akan menjadi pasangannya dalam pemotretan. Dia bisa menebak siapa wanita itu.

“Maaf sedikit menunggu,” ucap Jong Ki sambil mengulurkan tangannya. Mereka menyambut uluran tangan Jong Ki dan kembali duduk.

“Ini adalah Jung Seu Hwa. Dia yang akan menjadi pasanganmu dalam pemotretan kali ini,” ucap pria tersebut.

Annyeong oppa. Jung Seu Hwa imnida,” tegur Seu Hwa dengan senyuman di wajahnya.

Annyeong Seu Hwa-ssi, Song Jong Ki imnida.”

Senyuman Seu Hwa tidak memudar sedari tadi. Selagi direktur menjelaskan konsep, sesekali Seu Hwa mencuri pandang pada Jong Ki. Tapi pria itu memilih fokus pada kertas konsep yang ada ditangannya walau dia tahu kalau wanita yang ada didepannya saat ini sedang berusaha mencari perhatiannya.

“Apa kalian setuju dengan konsepnya?” tanya tuan Kim, pimpinan majalah Inside.

“Baiklah. Kapan kita mulai?” tanya Jong Ki.

“Kita akan mengadakan tekhnikal meeting nanti malam. Kau harus hadir.”

“Nanti malam? Sepertinya aku tidak bisa Presdir Kim. Aku sudah ada janji sebelumnya. Bisakah diundur besok hari?” sahut Jong Ki. Dia memberikan senyuman seolah mengatakan permintaan maafnya

“Benarkah? Sepertinya janji penting. Kau bukanlah tipe orang yang akan mengundur rapat pekerjaan jika bukan sesuatu yang sangat penting,” ucap pria paruh baya itu.

“Anda mengenal saya dengan cukup baik Presdir,” jawab Jong Ki.

“Beberapa kali melakukan kerjasama, bagaimana mungkin aku tidak tahu dirimu Song Jong Ki-ssi. Baiklah, kita adakan besok saja.” Jong Ki menyambut uluran tangan pria yang dipanggil tuan Kim tersebut dan menandakan kalau mereka sepakat dengan hal tersebut.

Seu Hwa terlihat tersenyum puas saat mendengar keputusan Jong Ki. Dia akan melakukan pemotretan baju couple dengan Jong Ki. Seperti mimpi. Tapi tunggu, dia ada janji nanti malam? Dengan siapa? Apakah dia memiliki kekasih? Pertanyaan itu berputar dikepala Seu Hwa hingga dia tidak sadar kalau Jong Ki berulang kali memanggil namanya. Dia tersadar saat Nam Hyun menyenggol bahunya. Dengan cepat dia membalas uluran tangan Jong Ki dan tersenyum kecil.

Jong Ki hanya tersenyum kecil. Tidak terlihat kalau senyuman itu karena dia menyukai Seu Hwa, tapi terkesan sinis dan dingin. Jong Ki permisi untuk meninggalkan tempat tersebut saat melihat Seu Hwa yang berniat bertanya lebih jauh tentangnya. Dia tidak menyukai gadis itu. Dan sampai kapanpun dia tetap tidak akan menyukainya. Itu prinsip yang dia ucapkan dalam hatinya.

Seu Hwa bukanlah gadis yang jelek menurutnya. Bisa dikatakan dia idaman setiap pria. Dengan rambut panjang sebahu, kulit putih susu. Mata sedikit bulat dan lesung pipi di pipi kirinya. Benar-benar seperti seorang top model.

Tapi, seiring dengan kepopulerannya, semua hal tentang dirinya akan semakin dicari tahu oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya. Dan para penggemar sudah mengetahui bagaimana Seu Hwa memperlakukan Jung Soo setelah apa yang dilakukan pria itu padanya. Hal itu yang membuat Jong Ki tidak menaruh respek lagi terhadapnya. Dia tidak akan tertipu oleh wanita itu.

 

x-x-x

 

Seung Ri yang baru saja tiba di atas, langsung mendapat tugas dari atasannya untuk menjemput tamu penting mereka. Walau merasa malas, dia harus tetap melakukannya. Bagaimanapun juga itu adalah perintah yang harus dia lakukan. Dia membawa sebuah karton dengan bertuliskan ‘Ji Sung’. Ya, nama orang yang akan dia jemput adalah Ji Sung. Dia adalah seorang artis dan sutradara. Setidaknya itu yang mereka katakan pada Seung Ri.

Alasan kenapa dia harus di jemput oleh salah satu pegawai restorant bukannya petugas lobby, Seung Ri sama sekali tidak tahu. Dia tidak berniat menanyakannya. Karena jika dia berani bertanya, maka yang ada dia akan kena omelan dari atasannya yang cukup cerewet itu.

“Apa kau dari Hotel Dibs?” tanya seorang pria dengan kaca mata hitam dan kemeja biru yang ada di depan Seung Ri. Ya, dia sudah berada di pintu kedatangan setengah jam yang lalu.

“Apakah anda yang bernama Tuan Ji Sung?” tanya Seung Ri. Dia memperhatikan keseluruhan penampilan pria itu. Sangat pantas disebut sebagai artis yang merangkap sutradara. Kemeja biru dengan bleazer hitam dengan panjang hingga betisnya. Sengaja tidak dikancing dibagian depan olehnya. Selain itu, rambut tersisir rapi. Selain itu, kulitnya terlihat sangat terawat. Seung Ri membandingkan dengan dirinya yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana kepler hitam saja. Rambutnya dia ikat asal. Hal itu membuatnya sedikit malu. Entah kenapa dia merasa seperti itu.

Saat bertemu dengan Jong Ki ataupun artis yang lainnya saat pesta kemarin, dia tidak merasa seperti ini. Dan di depan Ji Sung, dia merasa gagal menjadi seorang wanita. Tapi tunggu. Kenapa tidak ada yang mengenalinya? Bukankah biasanya para penggemar akan berteriak histeris jika melihat idola atau artis manapun muncul di depan mereka?

“Bisa kita pergi sekarang?” tanya Ji Sung membuyarkan lamunan Seung Ri.

“Ah, eum, baiklah. Silahkan lewat sini tuan,” jawab Seung Ri.

“Kau terlalu canggung. Panggil saja oppa,” sahut Ji Sung. Dia memperhatikan gadis itu dari kepala hingga kaki dan kemudian tersenyum geli. Mungkin ini pertama kalinya dia menemukan gadis berpenampilan seperti Seung Ri. Terlihat sangat berantakan.

“Baiklah oppa.”

Sepanjang perjalanan, Seung Ri lebih banyak diam. Terlebih saat Ji Sung meminta agar dia yang membawa mobil yang seharusnya dia yang melakukannya. Pria itu benar-benar memperlakukannya sebagai seorang wanita yang sesungguhnya.

“Apa kau tau siapa aku sebenarnya?” tanya Ji Sung membuka pembicaraan.

“Sebenarnya aku tidak tahu. Tapi atasanku memberitahu kalau oppa adalah seorang artis dan juga sutradara,” jawab Seung Ri.

“Lantas, apa kau tidak bertanya kenapa para penggemarku tidak menyambutku?”

Seung Ri menggeleng. Sepertinya pria itu tahu apa yang menjadi pertanyaannya sepanjang perjalanan. Seperti seorang peramal

“Aku menjalani profesi artis saat aku berusia 25 tahun dan itu 10 tahun yang lalu. Sekarang usiaku 35 tahun. Setelah itu aku beralih menjadi sutradara. Dan juga, aku sudah lama tinggal di Amerika. Mungkin saja mereka tidak mengingatku,” jawab Ji Sung.

“Ah, begitu rupanya. Jadi kenapa oppa kembali? Apakah ada film yang harus dibuat? Atau oppa sendiri yang akan kembali kedunia artis?”

“Eum, mungkin keduanya. Dan juga alasan pribadi.”

“Benarkah? Aku pasti sangat menantikan hasilnya oppa.”

“Benarkah? Bagaimana kalau kau ikut serta dalam proyek film itu? Sepertinya kau memiliki hal yang akan sangat disukai banyak orang. Jika kau ikut, film itu akan sangat disukai banyak orang. Kau akan mendapat peran utama wanita.”

Mwo? Tidak usah bercanda oppa.” Seung Ri memalingkan pandangannya. Seperti merutuk. Tadi dia melihat Seung Ri dan tersenyum geli. Dan sekarang mengajaknya bermain film? Apa dia mengejek? Atau ingin mempermalukannya?

“Aku tidak akan mempermalukanmu. Aku akan mengajarimu jika kau menerima tawaranku. Jika aku mengumumkan hal ini, akan ada banyak yang meminta sebagai pemeran utama. Sebelum itu terjadi, aku menawarimu terlebih dahulu. Bagaimana? Apa kau ingin berpikir dahulu?”

Seung Ri hanya bisa diam. Dia masih ragu dengan perkataan Ji Sung barusan. Mereka bahkan baru saja saling kenal. Tapi dia dengan mudahnya memberikan pemeran utama padanya? Sesaat Seung Ri berpikir apakah pria yang didepannya saat ini adalah Ji Sung yang dimaksud oleh manajer mereka atau tidak.

“Baiklah. Aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Jika kau setuju, kau tahu dimana harus mencariku bukan? Kita sudah sampai. Kau tidak ingin turun duluan?”

A..araseo.”

Seung Ri keluar dari mobil tanpa memberikan salam pada Ji Sung. Dia terus berjalan tanpa memperhatikan langkahnya. Otaknya masih bertanya-tanya tentang tawaran Ji Sung barusan. Apa maksud dan tujuan pria itu padanya?

“Nona, apa kau akan memberikan kunci mobilmu ini padaku?” teriak Ji Sung saat Seung Ri sama sekali tidak berbalik.

Seung Ri menghentikan langkahnya dan memukul kepalanya sendiri setelah mendengar perkataan Ji Sung barusan. Dia kembali ketempat sebelumnya dan memberi hormat. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk meminta kunci mobil tersebut dari Ji Sung. Dengan cepat dia meninggalkan tempat tersebut setelah memperoleh kunci tersebut. Dia bahkan tidak memperhatikan jalannya lagi.

‘Braaak…’ Seung Ri yang sama sekali tidak memperhatikan langkahnya menabrak seseorang dan terjatuh dengan posisi terduduk. “Awwhh…” erangnya sambil memegangi pinggulnya yang terasa sakit.

Gwencana?” tanya orang yang bertabrakan dengannya tersebut. Suaranya sangat tidak asing untuknya. Seung Ri mendongak dan mendapati wajah Park Jung Soo berada di depannya. Dia bertabrakan dengan Park Jung Soo Super Fiction dan pria itu bertanya apa dia baik-baik saja? Bukankah dia yang menabraknya?

Gwencanayo,” jawab Seung Ri sedikit gugup.

Jung Soo mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Dengan sedikit keraguan, gadis itu menyambut uluran tangan Park Jung Soo.

“Sekali lagi maafkan aku nona, Shin Seung Ri,” ucap Jung Soo sambil menunduk. Dia melihat raut wajah bingung dari gadis itu.

“Bagaimana anda…”

“Ah, namamu ada di nametag bajumu,” ucap Jung Soo sebelum Seung Ri menyelesaikan ucapannya.

Gwencanayo,” jawab Seung Ri agak sungkan.

“Bukankah kau pelayan yang waktu itu mengambilkan makanan untukku?” tanya Jung Soo saat dia memperhatikan wajah gadis itu yang tidak asing baginya.

“Benar tuan,” ucap Seung Ri.

“Bisakah kita bertemu nanti malam? Ada yang harus kutanyakan padamu. Kau ada waktu bukan?”

“Aku bisa tuan. Aku akan menemuimu,” jawab Seung Ri bersemangat.

Jung Soo hanya bisa tersenyum saat mendengar jawab Seung Ri. Walau sedikit terganggu dengan ekspresi Seung Ri yang tersenyum padanya.

“Aku penggemar Super Fiction oppa. Dan aku sangat menyukaimu dari grupmu. Bisakah kau berfoto sekali saja denganku?” ucap Seung Ri. Dia bahkan tidak merasa malu dengan penampilannya. Dia bahkan tidak memperdulikan lagi statusnya sebagai mahasiswa magang. Yang dia inginkan hanyalah bisa berfoto dengan idolanya itu walau sekali.

Seung Ri menunjukkan telunjuknya dengan penuh harap pada Jung Soo. Pada akhirnya pria itu menyetujui keinginan Seung Ri untuk berfoto bersama. Seung Ri mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar mereka berdua.

Gomawo oppa,” ucap Seung Ri setelah dia mengambil foto.

“Kalau begitu berikan nomor ponselmu. Jadi kita dapat dengan mudah berkomunikasi.” Jung Soo menyerahkan ponselnya agar gadis itu memberikan nomor ponselnya. Tanpa ragu, Seung Ri mengambil ponsel itu dan memasukkan nomor ponselnya dan segera mengembalikan ponsel tersebut pada Jung Soo.

“Baiklah, aku akan mengabarimu nanti malam. Maaf, aku terburu-buru. Aku harus bertemu seseorang,” ucap Jung Soo. Dia kemudian berlalu meninggalkan Seung Ri dan masuk kedalam restorant dimana Seung Ri biasa bekerja. Gadis itu mulai tersenyum riang.

Seung Ri melanjutkan langkahnya untuk memberikan laporan pada atasannya kalau tugasnya sudah selesai. Tamu yang dia suruh untuk di jemput sudah berada di restorant sekarang. Dia melanjukkan pekerjaannya di restorant. Dia melihat Jung Soo sedang duduk bersama dengan Ji Sung di salah satu meja yang ada disana.

Seung Ri mendekati mereka dengan berpura-pura membersihkan meja yang berada di dekat mereka. Dia berhasil mendengar sedikit pembicaraan mereka. Ji Sung menawari Jung Soo agar bermain dalam drama yang akan dia kerjakan. Jung Soo terlihat berpikir. Tawaran yang diajukan padanya adalah pemeran utama pria

Muncul ide gila di kepala Seung Ri. Jika Jung Soo diajak bergabung, bukankah pria itu akan berada dilokasi setiap harinya? Jika dia menerima tawaran Ji Sung, bukankah akan lebih mudah untuknya bisa berada di dekat Jung Soo? Untuk masalah mampu atau tidak, dia bisa mempelajarinya nanti saat mereka sudah mulai. Ji Sung yang menawarinya. Jadi pria itu harus bertanggung jawab mengajarinya dalam berakting.

 

 

TO BE CONTINUE…

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: