Because It’s You

PicsArt_03-22-02.52.14

Author : Kim DF

Title :Because It’s You

Main cast :

Park Jungsoo/ Leeteuk

Kim Raejae

Other Cast : Kim Heechul, Hankyung, Halmoni, Song Eunhye, Yoo Hyejin

Genre : Romance, Comedy

Rated : PG 15

Length : OneShot

Disclaimer : Karya ini adalah ASLI hasil pemikiran author selama sebulan. Cast sepenuhnya milik Tuhan, dan jalan cerita milik Author sepenuhnya

NB :

Jika terdapat kemiripan jalan cerita, tokoh atau latar belakang, itu terjadi tanpa unsur kesengajaan. Hargai karya orang lain, jangan lupa tinggalkan jejak. Selamat membaca! Saran dan kritik sangat dibutuhkan.

***

Raejae masih memandang lurus pada warna orange di ufuk barat. Indah! Langit, awan, angin, burung seolah menghantarkan matahari pulang ke peraduannya. Rasa bosan yang menyerang Raejae membawanya ke sini, ke atap gedung, menikmati pemandangan langit sore ini. Raejae mengedarkan pandangannya menyusuri tiap senti atap gedung. Sepi! Hanya ada dia, tiang-tiang besi dan hembusan angin yang membawa debu yang menyapa tiap helai rambutnya, menghirup dalam-dalam udara di sekitar, walau berdebu Raejae masih tetap saja berusaha menghisap habis seluruh udara yang ada.

Raejae kembali menyeruput kopi yang sejak tadi menemaninya, melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Seharusnya dia sudah kembali ke pekerjaannya sekarang. Raejae melangkahkan kakinya gontai. Merasa enggan meninggalkan kesunyian yang kini sedang dirasakannya. Ditolehnya sekali lagi sinar orange yang kian habis ditelan bumi, seirama dengan langkahnya yang perlahan mundur kembali ke kantornya.

Krusrak!! Sebuah suara menghentikan langkah Raejae. Matanya berputar mencari sumber suara. Sunyi, tidak ada siapapun. Raejae mengernyitkan dahi dan mempertajam telinganya. Krusrak! Sekali lagi bunyi itu jelas terdengar dari sebelah kanannya. Rasa penasaran yang memenuhi otaknya menuntun kakinya mendekati sumber suara itu. Sesosok lelaki bersetelan jas abu-abu sedang menatap kosong ke arah habisnya matahari. Raejae menyipitkan matanya, memastikan siapa yang berada di ujung atap gedung itu.

“Park Jungsoo?” Raejae membelalakan mata ketika mengetahui yang ada di ujung atap gedung itu adalah atasannya, Park Jungsoo. Raejae mendekat, khawatir Jungsoo akan lompat. Tapi langkahnya berhenti ketika tangan Jungsoo mengulurkan sesuatu ke udara, sebuah cincin sepertinya.

“Sudah tiga tahun, Eunhye-ya. Akan kukubur dalam-dalam rasa cintaku padamu. Aku menyerah! Tidak akan ada lagi dirimu dalam hidupku! Kau sudah mati bagiku! Ku harap kau tidak akan pernah muncul di hadapanku lagi.” lirihnya, siap melepaskan cincin itu ke bawah. Jungsoo menarik tangannya kembali, mengurungkan niatnya, mengambil nafas dalam.

“Huhh!!” hembusnya seolah membuang semua rasa ragu dalam hatinya. Jungsoo kembali mengangkat tangannya siap melempar cincin itu ke udara.

“Hiahh!!” jeritnya memuaskan rasa kesalnya. Hup! Sebuah tangan menangkap tangan Jungsoo, mencegah Jungsoo membuang cincin itu.

“Aiisshh!!” Jungsoo menghempaskan tangannya agar tangan itu terlepas, hingga cincin yang digenggamnya juga ikut terlepas. Jungsoo menatap tajam wajah takut di depannya.

“Ya neo!! Apa yang kau lakukan!” bentaknya.

“Jeosonghaeyeo Jungsoo-ssi.” Wanita itu, Raejae, menundukkan kepala. Jungsoo berkacak pinggang.

“Ah sudahlah, yang penting cincin itu sudah hilang.” Tegasnya lalu meninggalkan Raejae. Tapi Raejae tetap tinggal dan berusaha mencari cincin Jungsoo yang dia yakin terjatuh tak jauh darinya. Langit sudah gelap, dan Raejae tetap mencari cincin itu. Tapi akhirnya setelah bersusah payah dia menemukannya. Raejae bergegas berlari menuruni tangga menuju ruangan Jungsoo.

“Jae-ah kau dari mana? Kajja kita pulang!” Hyejin menghentikan langkah Raejae. Raejae mengusap dahinya yang berkeringat dan menarik nafas, mencoba menetralisir nafasnya yang agak memburu.

“Nanti aku jelaskan, apa Jungsoo-ssi ada di ruangannya?” Hyejin mengangguk.

“Gomawo!” Raejae tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Hyejin hanya menatap aneh pada punggung Raejae yang semakin mendekati pintu ruangan Jungsoo.

Tok! Tok! Tok! Suara dingin Jungsoo terdengar samar oleh telinga Raejae. Raejae membuka pintu, melangkah masuk dengan hati-hati. Detak jantung yang terpacu cepat karena habis berlari seirama dengan nafasnya yang masih memburu. Jungsoo tidak melihat Raejae sedikitpun dan masih saja fokus dengan tumpukan kertas yang ada di hadapannya.

“Jeosonghaeyeo Jungsoo-ssi!” Raejae menaruh cincin milik Jungsoo di meja kerja. Jungsoo melirik cincin itu sekilas lalu naik menatap Raejae dan menghela nafas kesal.

“Bukankah aku sudah membuangnya?” ucap Jungsoo dingin. Raejae mengatur nafasnya. Matanya menatap tajam Jungsoo. Apa sebenarnya yang dipikirkan lelaki sombong ini? Benda ini terlalu mahal untuk dibuang percuma.

“Kau mencarinya?” Jungsoo baru menyadari keringat dan nafas Raejae yang memburu.

“Ne, aku mencarinya!” jawab Raejae singkat. Jungsoo menutup map yang ada di mejanya, lalu terkekeh.

“Bodoh!” dengusnya. “Kalau begitu kau boleh mengambilnya sekarang. Itu menjadi milikmu.” Jungsoo mengancingkan jasnya dan berjalan keluar dari ruangannya. Raejae terpaku, lelaki ini benar-benar sombong. Raejae berlari mengejar Jungsoo yang berjalan dengan angkuhnya di hadapan para staf sekretarisnya.

“Jamkamanyeo Jungsoo-ssi!” Raejae menghadang jalan Jungsoo.

“Apalagi?” Jungsoo menghentikan langkahnya dan menatap sangat kesal pada Raejae. Wanita ini sungguh menyebalkan. Raejae menyeret Jungsoo kembali ke ruangannya. Raejae melepas kalung putih yang melingkar di lehernya, memasukkan cincin itu ke dalam kalungnnya. Lalu menyerahkannya ke tangan Jungsoo.

“Maaf aku sama sekali tidak menginginkannya. Ini akan jauh lebih baik jika kau menyimpannya. Cincin ini terlalu mahal untuk kau buang.” Raejae mencoba tersenyum.

“Mahal? Ya tentu saja ini berlian!” Jungsoo mendengus kesal tapi tetap menyombongkan dirinya.

“Jika cincin itu memang benar-benar mahal, jual dan berikan uangnya kepada orang yang membutuhkan! Aish jinjja!” jawab Raejae sedikit menaikkan nada suaranya. Jungsoo membulatkan matanya, wanita di depannya ini benar-benar berani.

“Apa kau yakin dengan membuang cincin itu kau bisa melupakan semua kenangan yang kau miliki bersama orang yang pernah memakainya?” Raejae menurunkan nada suaranya. Jungsoo terdiam, sepertinya memikirkan ucapan Raejae. “Tidak kan? Seharusnya kau membuka lembaran baru dan membiarkan kenangan itu menjadi catatan masa lalu yang mungkin suatu saat bisa kau lihat dan pelajari kembali.” Sambungnya. Jungsoo mencibir.

“Kau bisa berbicara seperti itu karena kau tidak mengerti artinya kehilangan!” kata-kata dingin itu meluncur bebas dari mulut Jungsoo. Senyuman Raejae menghilang dan bibirnya tampak bergetar, wajah gugupnya terpancar jelas.

“Jeosonghaeyeo!” Raejae menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Jungsoo yang masih merasa heran dengan perubahan sikap Raejae.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku?” Jungsoo menatap punggung Raejae yang perlahan menghilang terhalang pintu. Matanya beralih pada cincin yang ada di tangannya. Mungkin benar apa yang dikatakan Raejae tadi.

Plash! Bayangan itu kembali muncul, Raejae menggelengkan kepalanya kuat berusaha mengusir bayangan itu. Untung Hyejin segera datang dan mengajak Raejae pulang.

 

Cit!! Braak!! Sebuah mobil menghantap keras dinding pembatas jalan tepat di depan Raejae. Raejae terdiam menatap mobil yang sudah remuk itu. Pintu kemudi terbuka sesosok lelaki bersimbah darah menghiasi bingkai pintu mobil, kaki Raejae lemas, tubuhnya limbung, mengenali sosok yang ada di dalam mobil itu. Semua orang berkerumun, mencoba mengeluarkan tubuh lelaki itu dan seorang perempuan paruh baya yang di sebelahnya.

Raejae berlari menuju mobil itu, air matanya sudah keluar dari tadi, tanpa permisi.

“Kibum-ah! Eomma!” Raejae histeris. Itu benar-benar mereka, oppanya, Kim Kibum dan Eommanya.

“Kibum-ah! Eomma-ya!” Raejae berteriak kencang dalam tidurnya. Matanya terbuka sempurna, keringat sudah membasahi wajahnya. Raejae bangun dan meremas rambutnya.

“Oppa, Eomma, Appa! Waeyeo? Kenapa kalian meninggalkanku sendirian seperti ini!” isaknya.

 

Jungsoo masih berkutat dengan cincin yang sudah berubah menjadi kalung di tangannya. Matanya belum terpejam sedikitpun. Wajah gugup Raejae tadi terus menghantuinya. Ada rasa penasaran yang menggelitik dirinya untuk segera mengetahui mengapa sikap Raejae berubah begitu aneh dan apa penyebabnya.

 

Heechul melangkah pasti memasuki ruangan Jungsoo. Heechul adalah sekertaris kepercayaan Jungsoo sekaligus sahabatnya dari kecil. Plak! Heechul menghempaskan sebuah map tipis di meja kerja Jungsoo.

“Leeteuk-ah, lain kali kalau bukan urusan penting tidak usah menelponku tengah malam, mengerti? Kau mengganggu tidurku.” Omel Heechul. Yang diomeli hanya tertawa.

“Ada apa dengan yeoja itu? Kau menyukainya?” tembak Heechul langsung.

“Aniya, hanya saja ada sesuatu yang membuatku penasaran.” Jungsoo mulai menceritakan kejadian kemarin. Heechul hanya mengangguk sesekali menanggapi cerita Jungsoo.

Jungsoo membuka map yang diberikan Heechul tadi setelah Heechul pergi, yang isinya adalah semua info tentang Raejae.

“Hmm… Kim Raejae, asisten kedua Kim Heechul. Jadi dia baru saja bekerja tiga bulan di sini?” Jungsoo bergumam, berbicara pada dirinya sendiri. “Ayahnya, Kim Jong-un sudah meninggal sejak dia berusia tujuh tahun. Ibu, Im Minyeong dan kakaknya, Kim Kibum tewas dalam kecelakaan dua tahun lalu, tepat di depan matanya.” Jungsoo terdiam sejenak. Dibacanya sekali lagi. Ini pasti berat, menyaksikan orang-orang yang di cintainya tewas di depan matanya. Seharusnya dia tidak mengungkit masalah kehilangan kemarin. Ini pasti jauh lebih sakit dibandingkan rasa sakitnya di tinggal Eunhye.

Jungsoo berdiri, melangkahkan kakinya keluar ruangan. Berpura-pura mengawasi kinerja staf sekertaris, tapi sebenarnya dia sedang memperhatikan Raejae. Semua staf sekretaris jadi tampak gugup dan salah tingkah mengetahui CEO mereka, yang terkenal perfeksionis, mengawasi kinerja mereka.

Heechul keluar dari ruangannya. Agak heran dengan Jungsoo yang berada di kantor sekertaris mengawasi bawahannya.

“Leeteuk-ssi apa ada masalah?” Heechul membuyarkan konsentrasi Jungsoo. Jungsoo jadi salah tingkah.

“Aniyeo Heechul-ssi, tenang saja aku hanya kebetulan lewat dan tertarik melihat kerja para staf sekertaris.” Jungsoo menjawab sekenanya. Heechul terkekeh, pasti ada yang salah dengan sahabatnya satu ini.

“Silahkan melanjutkan pekerjaan, Heechul-ssi!” Jungsoo mencoba mengusir Heechul dengan sopan.

“Baiklah!” Heechul mengangguk.

“Raejae-ssi, bisa keruanganku sekarang?” Panggil Heechul yang sepertinya sengaja, lalu masuk ke ruangannya. Raejae berjalan dengan membawa sebuah map tebal menuju ruangan Heechul. Raejae membungkukkan badannya memberi hormat pada Jungsoo yang berdiri tepat di depan pintu ruangan Heechul, mencibirnya, lalu masuk tanpa menoleh lagi pada Jungsoo.

“Aissh jinjja! Dia bahkan tidak berbicara sedikitpun.” Gerutunya. Semua mata memandang aneh pada Jungsoo.

“Wae? Lanjutkan kerja kalian!” kesalnya lalu pergi entah kemana.

 

Sinar sore ini masih tetap sama, orange dan cerah! Angin pembawa debu pun masih tetap sama, menyapu lembut wajah dan rambut Raejae. Raejae berdiri merentangkan kedua tangannya, bahkan memejamkan matanya menikmati hembusan angin dan sinar orange di langit yang kian tenggelam.

“Kau kelihatan sangat menyukainya?” sebuah suara mengalihkan pandangan Raejae. Jungsoo sudah berada di sebelahnya.

“Bukan urusanmu! Aish jinjja, mengganggu saja!” Raejae mencibir Jungsoo. “Jeosonghaeyeo!” Raejae memutar tubuhnya hendak pergi.

“Jamkamanyeo Raejae-ssi!” cegah Jungsoo.

“Waeyo?” Raejae menghadap Jungsoo lagi agak kesal. Jungsoo tersenyum.

“Kamsahamnida!”

“Untuk?” Raejae terlihat heran. Jungsoo mengeluarkan kalung dari saku celananya.

“Terimakasih untuk ini dan ucapanmu kemarin, kau benar seharusnya aku menyimpannya. Orang itu bahkan belum pernah melihat cincin ini.” Jungsoo tertawa kecil. “Suatu hari nanti, aku akan memberikan ini pada seseorang yang benar-benar aku sukai.” Sambungnya dan tersenyum penuh arti pada cincin yang terpasang di kalung Raejae. Raejae tersenyum dan mengangguk kecil.

“Dan mian!” Jungsoo menatap Raejae penuh penyesalan. Raejae hanya mengernyitkan dahi. “Karena menyinggung masalah kehilangan. Aku sungguh tidak pantas berkata seperti itu kepadamu.”

Raejae kembali terlihat gugup.

“Jeosonghaeyeo Jungsoo-ssi! Ak-aku harus kembali ke… ah jeosonghaeyeo!” Raejae membungkukkan badan dan bergegas pergi. Lagi, wajah itu kembali gugup, bibirnya bergetar, dia pasti sangat ketakutan. Jungsoo langsung mengejar Raejae, setidaknya dia harus melihat keadaan gadis itu.

“Kim Raejae-ssi jamkamanyeo!” teriaknya. Tapi Raejae tetap berlari menjauhi Jungsoo. Jungsoo tidak peduli lagi dengan tatapan-tatapan aneh karyawan yang di lewatinya, dia terus saja mengejar Raejae.

“Ya Kim Raejae-ssi!” bentaknya sekali lagi. Langkah Raejae berhenti, dia hampir saja menabrak seseorang.

“Ya Kim Raejae-ssi!” Jungsoo berhasil mencekal tangan Raejae, tapi tidak melihat suasana di sekitarnya, orang-orang yang menontoni mereka dan seseorang yang ada dihadapan Raejae. Menarik tangan Raejae agar berhadapan dengannya.

“Apa kau tidak mendengarku?” Jungsoo menatap tajam mata Raejae. Nafas terengahnya berhembus hangat di wajah Raejae. Raejae balik menatap Jungsoo. Situasi ini membuatnya sangat tak enak hati.

“Oppa!” suara wanita yang terdengar lembut mengalihkan pandangan Jungsoo dari Raejae. Wanita itu tersenyum. Raejae menatap Jungsoo dan wanita itu bergantian. Wanita itu melirik sekilas tangan Jungsoo yang masih mencekal tangan Raejae.

“Raejae-ssi, kembalilah ke meja kerjamu!” Heechul yang sepertinya mengerti situasi ini memberi kode pada Raejae untuk melepas tangan Jungsoo dan pergi.

“Ah ye!” Raejae mengangguk dan berusaha melepaskan tangan Jungsoo.

“Jungsoo-ssi, lepaskan ini!”

Jungsoo melepaskan cekalan tangannya.

“Jeosonghaeyeo!” Raejae menundukkan kepalanya pamit pergi.

“Jamkamanyeo Raejae-ssi!” Jungsoo menggenggam tangan Raejae dan menariknya keluar dari ruang staf sekertaris. Tak memperdulikan wanita itu dan Heechul yang beberapa kali memanggilnya.

Jungsoo mengeluarkan handphone dari saku celananya, lalu menekan beberapa nomor.

“Ne, Heechul-ah. Bawakan tas Raejae dan siapkan mobil, aku menunggu di lobby!” perintahnya.

“Jungsoo-ssi, aku…”

“Diam dan ikut saja!” ucapnya tegas. Raejae yang berniat bertanya mengurungkan niatnya melihat wajah Jungsoo yang terlihat begitu kesal. Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.

“Kajja!” perintah Jungsoo menyuruh Raejae mendekat ke mobilnya. Raejae hanya menurut dengan perasaan kesal. Heechul berlari menghampiri Jungsoo yang sedang berbicara pada supirnya.

“Kau pulanglah, bukankah istrimu sering mengeluh karena beberapa hari ini kau pulang malam. Biarkan aku membawa mobilnya.”

“Tapi Jungsoo-ssi…” supirnya tampak ragu. Jungsoo tersenyum.

“Tidak perlu khawatir. Pulanglah!” perintahnya.

“Kamsahamnida Jungsoo-ssi!” Supirnya mengangguk lalu pergi.

Heechul memberikan tas dan mantel Raejae. Raejae berterimakasih.

“Masuklah!” perintah Jungsoo pada Raejae.

“Aiishh! Aku tidak mau dan aku harus pulang Jungsoo-ssi!” tolak Raejae dengan kesal. Jungsoo membulatkan matanya.

“Ya Jeongmal! Neo, tidak bisa menolak!” tegasnya berkacak pinggang.

“Jam kerja sudah habis, jadi sekarang kau bukan bosku. Kau tak berhak memerintahku sekarang!” jawab Raejae tak kalah kencang.

“Masuk ku bilang!” perintah Jungsoo sekali lagi

“Tidak akan!” Raejae berusaha pergi dan memasang mantelnya. Jungsoo menarik bahu mantel Raejae dan memerintahkan Heechul untuk membuka pintu mobilnya.

“Omo , Omo! Aish jinjja! Ya neo, Park Jungsoo lepaskan aku! Tolong!” teriak Raejae. Membuat orang-orang seisi lobby dan yang berada di luar kantor menontoni mereka.

“Ya Hyejin-ah tolong! Tolong aku!” teriaknya pada Hyejin yang kebetulan melewarinya. Hyejin hanya meminta maaf karena tidak bisa membantunya.

“Ya jinjja! Hyejin-ah hhmmpphh…” Jungsoo membekap mulut Raejae dan kembali menyeretnya ke mobil. Krak! Raejae menggigit jari Jungsoo.

“Auu..” Jungsoo menjerit dan melepaskan bekapan tangannya. “Ya Neo!”

Pletak! Sebuah tendangan Raejae mendarat di kaki Jungsoo.

“Auu.. ya Jinjja!” Jungsoo melepaskan tangannya dari mantel Raejae dan memegangi kakinya.

“Rasakan itu!” dengus Raejae kesal dan mencoba lari.

“Ya Neo, aku tidak akan melepaskanmu!” teriak Jungsoo mengejar Raejae. Heechul tertawa puas melihat adegan di depannya. Lucu! Selama ini tidak ada yang berani melakukan hal ini pada Jungsoo. Sejak kecil Jungsoo di kelilingi pengawal, jadi siapa yang berani. Jangankan berkelahi dengannya, mendekati saja sudah tidak berani.

Raejae terus berlari menghindari Jungsoo.

“Ya berhenti mengejarku, pergilah sendiri!” teriaknya. Dan hup! Jungsoo berhasil menggenggam rambut Raejae.

“Auu!! Ya, Jungsoo-ssi sakit! Ya sakit!” Raejae berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Jungsoo.

“Hahaha, kau bilang sakit? Rasakan itu!” Jungsoo tertawa puas mendapatkan buruannya dan menarik Raejae masuk ke mobilnya.

“Neo michyeoseo? Ini benar-benar sakit!” Raejae memukul beberapa kali tangan Jungsoo. Jungsoo malah semakin menguatkan pegangannya.

“Baiklah-baiklah lepaskan rambutku, aku akan masuk ke mobilmu!” akhirnya Raejae menyerah. Jungsoo tersenyum penuh kemenangan.

“Aiissh jinjja, dasar kekanak-kanakan!” gerutu Raejae dan masuk ke mobil Jungsoo.

 

Jungsoo melangkahkan kakinya dengan gontai. Membiarkan deburan ombak menyapu kakinya. Menikmati hembusan angin pantai yang terkadang membuat matanya perih. Raejae hanya mengikutinya dari belakang dan beberapa kali menggerutu. Jungsoo berhenti dan duduk memandang laut dengan tatapan kosong. Raejae ikut berhenti dan mengambil tempat d samping Jungsoo.

“Leeteuk, panggil saja Leeteuk mulai sekarang!” Jungsoo memulai pembicaraannya.

“Mwo?” Raejae memandang Jungsoo, wajahnya terlihat begitu murung. “Hmm… apa wanita yang di kantor tadi adalah dia?” Raejae memberanikan dirinya untuk bertanya. Jungsoo mengangguk lalu tersenyum kecut.

“Dia adalah Eunhye, orang yang selama tiga tahun ini ku tunggu kabarnya. Aku mencintai dengan seluruh hatiku, mengingat sangat sulit mendapatkannya waktu itu. Tapi setelah dia menerimaku, dia mendapatkan tawaran kerja di Amerika. Dia menerimanya, dan memilih meninggalkanku.” Jelas Jungsoo. Mereka terdiam. Hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Mianhae!” Jungsoo kembali membuka pembicaraan dan mengalihkan pandangannya ke Raejae.

“Untuk?”

“Memaksamu ikut denganku.”

Raejae terkekeh. “Gwaenchana! Tapi lain kali kalau kau ingin meminta sesuatu pada seseorang gunakanlah cara yang sopan. Cobalah untuk berkata ‘tolong’.” Raejae menoleh pada Jungsoo, melepas mantel, dan memberikannya pada Jungsoo.

“Ige pakailah, kau kelihatannya kedinginan!”

“Ani, gwaenchana! Mana mungkin aku memakainya. Kau juga akan kedinginan.” Tolak Jungsoo.

“Pakailah, Kau bisa demam nanti. Kau orang penting, banyak karyawan yang bergantung padamu. Jika kau sakit, berapa banyak tanggung jawabmu yang akan terbengkalai. Lagipula, dua minggu lagi ada rapat penting dengan investor China, kan?” Raejae memasangkan mantelnya di bahu Jungsoo lalu berdiri dan berjalan menuju laut, membiarkan air laut membasahi kakinya.

“Appa! Eomma! Kibum oppa! Neomu bogoshippo!” suara Raejae menggema, hanyut bersama ombak. “Saranghae!” teriaknya penuh perasaan.

“Michyeoseo!” cibir Jungsoo. Jungsoo menyusul Raejae dan memasangkan kembali mantelnya.

“Aku ini laki-laki, jadi tenang saja. Aku tidak akan sakit hanya karena angin pantai ini.” Raejae mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, jangan menyesal!”

# # #

“Ne, Leeteuk-ah berita ini sudah menyebar! Ne, banyak sekali wartawan di sini ingin meminta penjelasanmu tentang foto itu. Kau tidak perlu datang ke kantor, aku akan membawakan semua pekerjaan ke rumahmu nanti. Jangan Leeteuk-ah, ku mohon jangan datang. Leeteuk-ah, yeoboseyeo… yeoboseyeo. Ahh!!” Heechul mematikan handphonenya dengan kesal. Brak! Dia menghempaskan majalah skandal yang sejak tadi di pegangnya.

“Kenapa Leeteuk bisa ceroboh seperti ini, apa tanggapan para investor nanti!” gerutunya.

“Hyejin-ssi, ke ruanganku sekarang, ahh… Panggilkan Kim Raejae juga!” perintahnya setelah menekan angka tiga di telpon kantornya.

“Lihatlah!” Heechul melemparkan majalah itu ke hadapan Raejae dan Hyejin. Terpampang jelas foto Leeteuk yang terlihat seperti mencium seorang wanita di sebuah pantai pada halaman pertama. Di sebelahnya terdapat foto Eunhye.

“Aku tahu itu kau, Raejae-ssi!”

Raejae diam, hanya menatap pada gambar yang ada di majalah. Tidak tahu harus berkata apa.

“Apa yang akan investor China katakan jika mereka mendengar berita ini? Seorang pengusaha Coklat Korea terlibat skandal dengan model cantik, Song Eunhye. Aiisshh!” Heechul menghela nafasnya berat.

“Aniyeo Heechul-ssi, ini tidak seperti yang ada di majalah ini. Kami tidak berciuman. Aiishh jinjja, kenapa aku harus terseret seperti ini. Ini, Leeteuk hanya memasangkan mantel. Itu saja!” jelas Raejae. Heechul mengernyitkan dahinya.

“Leeteuk? Kau memanggilnya Leeteuk?” Raejae mengangguk. “Dia bahkan sudah mengizinkanmu memanggilnya Leeteuk. Ayolah jelaskan apa hubungan kalian?” desak Heechul.

“Ani, aku…” ucapan Raejae terputus, handphone Heechul berbunyi.

“Yeoboseyeo! Ne, aku ke sana sekarang.” Heechul menutup telponnya. “Keluarlah. Aku harus ke ruangan Leeteuk sekarang.” Heechul berjalan mendahului, Raejae dan Hyejin mengikutinya dari belakang.

Leeteuk menatap kesal pada dua orang wanita yang ada di depannya, terlebih pada wanita tua yang duduk di kursi kerjanya.

“Jadi, bisa kau jelaskan wanita ini siapa? Apa ini benar-benar bukan kau Eunhye-ah?” wanita tua itu memandang Eunhye dan Leeteuk bergantian. Eunhye menanggapi pertanyaan Nenek Leeteuk dengan senyuman.

Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu menghentikan sejenak percakapan mereka. Heechul masuk ke ruangan Leeteuk.

“Jeosonghaeyeo, halmoni!” Heechul menundukkan kepalanya. “Sekertaris investor China sudah menelpon, meminta penjelasan. Mereka tidak ingin berita ini menjadi penghalang kerja sama kita. Mereka meminta untuk segera menyelesaikan masalah ini.” Jelas Heechul.

“Kau dengar? Jadi umumkan saja pernikahan kalian untuk menyelesaikan masalah ini. Lagipula Halmoni sudah sangat berharap untuk menimang cicit secepatnya. Ini namanya sekali dayung dua pulau terlampaui. Hahaha!” Halmoni tampak begitu senang dengan rencananya.

“Halmoni?” Jungsoo dan Heechul berbarengan.

“Waeyeo? Aku sudah tua, sudah sepantasnya menimang cicit. Kau juga sudah sangat terlambat untuk menikah Leeteuk-ah, jadi apa salahnya?”

“Halmoni, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Halmoni katakan!” jawab Leeteuk cepat. Dia melirik Eunhye yang tampak sangat setuju dengan usulan Halmoni.

“Jadi kau akan melakukan apa? Halmoni tidak akan mentolerir lagi, menikah atau menyingkir dari perusahaan ini, dan biarkan Halmoni mati karena harus mengurus perusahaan ini sendirian.” Ancam Halmoni dengan gayanya yang dibuat-buat sedih dan hancur. Semua mata memandang Halmoni dengan kaget.

“Ya jinjja! Baiklah aku akan memikirkannya.” Teriak Leeteuk menyerah.

“Sekarang!” Seru Halmoni lagi.

“Nanti!” balas Leeteuk.

“Sekarang!” Kali ini Halmoni sangat memaksa. Leeteuk maju menatap tajam mata Halmoninya.

“Dengarkan aku Halmoni, dalam hidupku sudah tidak ada lagi Eunhye. Eunhye sudah tidak berarti lagi! Jika aku harus menikah, maka itu bukan dengan Eunhye!” geramnya. Halmoni membulatkan matanya.

“Oppa!” Eunhye memandang tak percaya pada Leeteuk. Leeteuk beralih kepada Eunhye.

“Tiga tahun aku menunggumu, Eunhye-ah. Aku mengirimi email, menelpon, mengirim sms, bahkan menulis surat. Tapi kau sama sekali tidak memperdulikannya. Kau tidak pernah menganggapku ada. Aku sadar, mungkin hanya aku yang menganggap hubungan kita serius. Keadaan sudah berubah Eunhye-ah. Kau sudah tidak ada lagi dalam kamusku, sejak kau mengirim foto itu padaku.”

“Foto? Foto apa maksudmu?” Eunhye tampak bingung dengan perkataan Leeteuk.

“Heh!” Leeteuk mencibir Eunhye, mengambil handphonenye di dalam saku dan memperlihatkan layar handphonenya pada Eunhye. Sebuah foto Eunhye yang berciuman dengan lelaki bule.

“Aniyeo Oppa, aku bisa menjelaskan itu.”

“Gwaenchanayeo Eunhye-ah, tidak perlu kau jelaskan. Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Wanita yang ada di foto itu jauh lebih mengerti aku dibanding kau!” Leeteuk berputar meninggalkan Eunhye dan Halmoninya.

“Halmoni tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini dan menikah secepatnya.” Ucap Leeteuk sebelum keluar ruangannya dengan emosi. Heechul menyusulnya dengan rasa khawatir.

“Kim Raejae!” panggilnya dengan kesal.

“Ne!” Raejae berdiri menatap bingung pada Leeteuk yang berjalan cepat ke arahnya. Leeteuk menggenggam tangan Raejae, menyeretnya keluar, kehadapan para wartawan.

“Mianhae membuat kalian menunggu!” ucap Leeteuk tegas. Semua wartawan mengarahkan kamera mereka, ke arah Leeteuk dan Raejae. Raejae menutupi wajahnya, terutama matanya yang silau karena blits kamera yang menghantam matanya.

“Ya, Leeteuk-ssi! Ada apa ini sebenarnya?” bisiknya pada Leeteuk dan berusaha bersembunyi di belakang Leeteuk. Leeteuk melirik Raejae sekilas lalu mengeratkan genggamannya.

“Leeteuk-ssi!” cegah Heechul yang baru saja tiba. Leeteuk sama sekali tak memperdulikan Heechul dan Eunhye yang berusaha mencegahnya.

“Dia adalah Kim Raejae, wanita yang ada di foto itu.” Semua wartawan memfokuskan kamera mereka pada Raejae.

“Ya Leeteuk-ssi!” Raejae sudah mulai gerah dengan kamera-kamera yang sedang memfotonya.

“Wanita yang sedang menjalin hubungan denganku dan aku akan segera menikahinya!” Leeteuk memandang mata Raejae.

“Mwo?” Raejae membelalakan matanya. “Apa kau bercanda? Apa kau sudah gila?”

“Ani, aku tidak bercanda!” tegasnya. Menarik leher Raejae mendekat padanya mendaratkan bibir merahnya ke bibir Raejae. Melumatnya dengan seksama. Rasa manis menjalar ke setiap sudut bibir Raejae. Leeteuk melepas ciumannya. Memandang lekat wajah Raejae dan mengusap lembut pipi Raejae.

“Menikahlah denganku.” Leeteuk mengeluarkan cincin yang terpasang di kalung Raejae waktu itu. Membuka pengait kalung itu dan memasangkannya pada leher Raejae. Semua wartawan bersorak menyaksikan adegan romantis si depan mereka. Heechul tersenyum memikirkan sahabatnya ini benar-benar susah gila. Halmoni tersenyum senang membayangkan akan segera menimang cicit. Tapi Eunhye tampak begitu menyesal, melepaskan Leeteuk demi mimpinya tiga tahun lalu.

 

Raejae terus menunduk sesekali memegangi bibirnya yang tadi di cium paksa oleh Leeteuk.

“Aiish jinjja!” Plak! Raejae memukul kepala Leeteuk yang duduk di sebelahnya dan menaruh kepalanya di meja.

“Ya!” Leeteuk mengangkat kepalanya dan memandang geram pada Raejae. “Apa yang kau lakukan?”

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sebenarnya kau lakukan. Mencium tanpa izin dan tiba-tiba meminta untuk menikah, kau pikir aku ini apa?”

Leeteuk tertawa. “Wahh, jangan-jangan ini adalah ciuman pertama ya?” tebaknya. Raejae gelagapan.

“A-ani, siapa yang bilang seperti itu!” Pipi Raejae menjadi merah.

“Whuahh jadi benar ini ciuman pertama? Lihat saja pipimu jadi memerah. Ckckck!” Leeteuk menggeleng heran.

“Ya jinjja!” Raejae hendak memukul kepala Leeteuk, tapi tangannya di tangkap Leeteuk dengan cepat. Leeteuk menarik Raejae mendekat kepadanya.

“Jangan khawatir, Raejae-ssi, setelah ini akan ada ciuman-ciuman selanjutnya!” Leeteuk mendekatkan wajahnya ke wajah Raejae. Raejae menelan liurnya melihat bibir Leeteuk. Otaknya memutar kembali adegan ciumannya dengan Leeteuk di depan wartawan tadi. Leeteuk tersenyum melihat wajah bibir Raejae yang mulai merekah.

“Jadi kau menginginkannya?” bisik Leeteuk lembut. Raejae tersadar, memajukan mukanya.

“Heenggg!!! Rasakan itu!”

Krakss! Raejae menggigit lengan Leeteuk.

“Aauuu!! Ya Raejae-ssi lepaskan!” Leeteuk mendorong kepala Raejae agar terlepas. Raejae menggeleng kuat dan terus menggigit lengan Leeteuk. Leeteuk menjewer telinga Raejae.

“Lepas, lepaskan Raejae! Lepaskan!” Leeteuk menarik-narik ujung telinga Raejae. Walau telinganya terasa sakit, Raejae tetap saja mengeratkan gigitannya.

“Hahahaha!!” suara serak terdengar menggelegar di ruang rapat ini. Raejae melepaskan gigitannya dan duduk dengan sikap sempurna.

“Aku tidak menyangka Leeteuk akan kalah dengan wanita, hahaha! Aku menyukainya Leeteuk-ah! Sangat menyukainya!” ujar Halmoni duduk di hadapan Leeteuk dan Raejae. Raejae melirik kesal pada Leeteuk, Leeteuk memajukan bibirnya mencibir Raejae. Heechul ikut tertawa.

“Ne Halmoni, aku juga sependapat. Kau tahu, ini bukan pertama kalinya Raejae menggigit Leeteuk.” Timbal Heechul yang sejak tadi mengiringi Halmoni.

“Apa maksudnya, Heechul-ah?” Halmoni tampak penasaran.

“Beberapa hari lalu, Leeteuk memaksa Raejae ikut dengannya. Tapi Raejae menolak.”

“Mwoya? Kau serius? Bukankah baru kali ini ada orang yang berani menolak Leeteuk.” Halmoni kembali tertawa.

“Ne Halmoni. Dan lebih parahnya lagi, Raejae menggigit jari Leeteuk dan menendang kakinya dengan sangat keras. Ahh, seandainya kejadian itu ku rekam Halmoni pasti akan tertawa berbahak-bahak!” Heechul menjelaskan pada Halmoni dengan sangat seru.

“Wah hahaha.. ini akan menjadi pernikahan yang terbaik Leeteuk-ah. Jadi segeralah menikah setelah penandatanganan kontrak dengan investor China.”

“Mwo?” Raejae terkejut. Apa ini benar-benar bukan mimpi, ini kenyataan? Raejae mencubit pipinya dan itu terasa sakit. Artinya ini benar-benar kenyataan.

# # #

Setelah kejadian waktu itu hidup Raejae benar-benar berubah. Berita pernikahannya dengan Leeteuk menjadi topik pembicaraan semua orang. Dia harus beberapa kali mengikuti konferensi pers tentang rencana pernikahannya. Kemanapun Raejae pergi, orang-orang selalu bertanya tentang hubungannya dengan Leeteuk, kapan pertama kali bertemu, kapan pertama kali mereka saling suka, dan lain-lain. Ini benar-benar membuatnya lelah.

Raejae menghenyakan pantatnya ke sofa di ruang kerja Leeteuk. Leeteuk kembali ke pekerjaannya. Mereka baru saja menyelesaikan wawancara dengan salah satu majalah bisnis. Raejae manatap Leeteuk yang sudah serius dengan pekerjaannya.

“Leeteuk-ssi, aku keluar sebentar!” Raejae mengambil tasnya dan beranjak pergi. Leeteuk hanya mengangguk, tapi tak mengalihkan pandangannya kepada Raejae. Raejae sudah tidak menjadi salah satu asisten Heechul, Halmoni tidak mengizinkannya. Dia hanya harus menemani Leeteuk kemanapun Leeteuk pergi. Bukankah itu menyebalkan.

“Hyejin-ah!” Raejae menyapa Hyejin yang menatap fokus laptop yang ada di depannya.

“Ne Agassi!” Hyejin berdiri dan menundukkan kepalanya memberi hormat.

“Tidak perlu seperti itu, Hyejin-ah! Kau sahabatku, tidak akan berubah. Bicaralah seperti biasa jika tidak ada Halmoni dan Leeteuk, ne?” Raejae merangkul bahu Hyejin. Hyejin tersenyum.

“Arra! Apa kau lelah? Duduklah!” Hyejin menarik kursi untuk Raejae.

“Ani, gwaenchana! Gomawo.” Raejae duduk dan tak berhenti memegang tangan Hyejin.

“Apa keputusanku ini benar, Hyejin-ah? Kita bahkan menjulukinya monster, apa aku bisa hidup dengan orang seperti itu?” Raejae menghela nafas berat.

“Pasti bisa, dia sangat mencintaimu Jae-ah. Jungsoo-ssi pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Hyejin mencoba menenangkan. Raejae mencibirnya.

Memang benar jika di lihat dari luar, Leeteuk sangat memperlakukan Raejae sangat baik. Benar-benar seperti orang yang jatuh cinta. Tapi jika tinggal mereka berdua saja, sikap Leeteuk akan berubah. Leeteuk selalu saja mengajaknya bertengkar.

“Agassi, ini pesanan anda!” supir Leeteuk menyerahkan beberapa cangkir kopi, makanan kecil, satu piring sandwich.

“Kamsahamnida, ahjussi! Tinggalkan di sini saja.”

“Ne, saya permisi!”

“Hyejin-ah, minumlah ini bersama teman-teman. Aku harus kembali ke uri monster!” bisik Raejae. Hyejin tersenyum.

Leeteuk masih saja berkutat dengan tumpukan-tumpukan kertas di depannya. Padahal wajahnya sudah terlihat pucat karena kelelahan.

“Leeteuk-ah kemarilah.” Raejae membawa piring sandwich dan menaruhnya di meja.

“Aku sedang tidak ingin bertengkar Raejae-ah. Jadi diamlah!”

“Oppa kajja!” panggilnya manja lalu berekspresi seperti mau muntah. Leeteuk menghentikan aktivitasnya. Dan tersenyum simpul mendengar Raejae memanggilnya ‘oppa’. Tapi kemudian berpura-pura tak mendengarnya.

“Aiish jinjja!” Raejae membuka plastik yang membungkus piringnya, lalu berjalan mendekati Leeteuk.

“Berhentilah dulu sebentar.” Raejae menutup paksa map yang sedang di baca Leeteuk.

“Ya…” Leeteuk baru saja ingin berteriak tapi Raejae langsung menyuapkan potongan sandwich ke dalam mulutnya.

“Makanlah! Kau seharian ini belum makan. Bukankah sudah ku bilang, kesehatanmu itu penting untuk semua orang.” Raejae kembali memotong sandwichnya, kali ini menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.

“Hmm… ini enak!” gumamnya. “Buka mulutmu. Hmm…” Raejae kembali menyuapkan satu potong besar ke mulut Leeteuk. Leeteuk tersenyum memandangi wajah Raejae yang sangat serius menyuapinya.

“Gomawo Jae-ah!” lirihnya. Raejae hanya mengangguk.

“Hmm, cincin itu bukankah kau bilang akan memberikannya pada orang yang sangat kau sukai? Jadi kenapa akhirnya kau berikan padaku?” Raejae memberikan satu botol air mineral pada Leeteuk.

“Apa aku pernah bilang seperti itu?” Leeteuk meneguk air minumnya dengan cepat.

“Tidak ya? Apa aku salah dengar waktu itu. Ya sudahlah kalau begitu.” Raejae jadi menyangsikan ingatannya sendiri. “Kembalilah bekerja, aku tidak akan mengganggumu lagi!” Raejae kembali ke sofa dan sibuk memainkan handphonenya. Leeteuk terkekeh. Wanita di depannya ini benar-benar polos.

Leeteuk menandatangani map terakhir yang di berikan Heechul tadi sore. Jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan. Lusa adalah hari penandatanganan kontrak dengan investor China, jadi banyak laporan yang harus dipelajarinya. Diliriknya Raejae sudah tertidur pulas di sofa. Seharusnya dia menyuruhnya pulang tadi.

“Raejae-ah, Kim Raejae!” Leeteuk menepuk pelan pipi Raejae. Raejae membuka matanya.

“Hmm sudah selesai?” Raejae mencoba duduk. “Auu, Jamkamanyeo!” Raejae memegangi kepalanya, menetralisir keadaannya.

“Gwaenchanayeo?”

Raejae mengangguk, merasa sedikit pusing karena tiba-tiba terbangun.

“Kajja kita pulang, kau pasti capek dan harus istirahat!” Raejae mengambil tasnya mengajak Leeteuk pulang. Leeteuk merangkulnya, khawatir jika Rejae tiba-tiba terjatuh. Tapi Raejae menolaknya dan berkata dia baik-baik saja.

Di mobil Raejae beberapa kali memegangi kepalanya, seperti menahan sesuatu.

“Kemarilah!” Leeteuk menarik kepala Raejae agar bersandar di bahunya. “Tidurlah! Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.”

“Gomawo!” Raejae menuruti Leeteuk dan memejamkan matanya. Benar saja Raejae benar-benar tertidur. Leeteuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Raejae. Dipandangnya lekat wajah Raejae.

“Kau selalu mengkhawatirkan orang lain, tapi kau tidak pernah mengatakan apa kau butuh sesuatu atau apa yang kau rasakan. Setidaknya mulai sekarang, berbagilah denganku!” Leeteuk mengusap lembut wajah Raejae, lalu menarik dagunya. Menyatukan bibirnya dengan bibir Raejae. Supir yang dari tadi memperhatikan Leeteuk dari kaca jadi agak salah tingkah melihat Leeteuk yang tiba-tiba mencium Raejae. Dia mengigit bibirnya menahan agar suaranya tak mengganggu atasannya itu.

Leeteuk melepaskan ciumannya. Tersadar dengan apa yang dia lakukan. Lalu tersenyum.

“Aku pasti sudah benar-benar gila!” Leeteuk mengusap wajah dan sekilas menjilat bibirnya. “Manis!” bisiknya senang, lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan menahan rasa senangnya.

 

Raejae membuka matanya, suara burung-burung liar membangunkannya. Seorang perawat sudah berdiri di pinggir tempat tidurnya

”Selamat pagi, Agassi!” Perawat itu membungkukkan badannya. Raejae bangun dan duduk.

“Nyonya besar meminta saya memeriksa keadaan, Agassi. Semalam Jungsoo-nim bilang kepala anda agak sakit.”

“Gwaenchana. Ahh, pasti karena itu dia membawaku pulang ke rumahnya.” Raejae membuka selimutnya. “Leeteuk oppa ada dimana?” Raejae agak kaku mengucapkan kata ‘Oppa’.

“Di kamarnya, sedang menerima perawatan dari Hankyung Eiusa. Dia agak demam.” Jelas Perawat itu.

“Mwo?” Raejae langsung berlari ke kamar Leeteuk.

“Hankyung-ah, aku baik-baik saja. Jadi tidak perlu minum obat itu.” Leeteuk mengancingkan jasnya, sudah siap berangkat kerja.

“Hyung! Dengarkan aku, istirahatlah hari ini. Minta saja Heechul menghantarkan berkas-berkasmu ke sini. Besok kau harus berangkat ke China, setidaknya kumpulkan tenagamu untuk besok.” Hankyung mencoba mencegah Leeteuk yang terus berjalan.

“Tidak bisa, Hankyung-ah. Aku harus ke kantor.” Leeteuk menuruni tangga menuju lantai satu rumahnya. Tapi baru tiga anak tangga, Leeteuk sudah merasa agak pusing.

“Hyung!” Hankyung menahan tubuh Leeteuk agar tak terjatuh. Raejae yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari melihat Leeteuk yang hampir terjatuh tadi.

“Leeteuk-ah! Gwaenchana?” Raejae berdiri di depan Leeteuk dan memeriksa suhu badan Leeteuk dengan telapak tangannya. “Istirahatlah hari ini, ne?” bujuknya.

“Aniyeo Jae-ah, aku harus ke kantor. Kau yang seharusnya istirahat, bukankah kepalamu pusing.” Leeteuk menepis tangan Raejae dan melanjutkan perjalanannya.

“Aiishh jinjja!” Raejae menghentakkan kakinya, lalu mengejar Leeteuk. Tapi saat tangga terakhir pijakan kaki Raejae tidak stabil.

“Aahhh!!” Raejae terpeleset, untung saja tangannya cepat meraih tiang pegangan tangga.

“Jae-ah!” Leeteuk, Hankyung dan beberapa pelayan rumah Leeteuk langsung berlari menghampiri Raejae.

“Gwaenchanayeo?” Leeteuk meraih tangan Raejae dan membawanya ke sofa. Raejae masih terlihat shock.

“Apa kau terluka?”

Raejae menggeleng.

“Pabboya, apa kau tidak bisa berhati-hati? Bagaimana jika kau terluka.” Bentak Leeteuk. Raejae hanya menunduk, menoleh pada Hankyung Euisa memberi kode.

“Tidak usah berpura-pura mengkhawatirkanku, menjaga kesehatan diri sendiri saja kau tidak mau. Jadi pergilah ke kantor, bukankah kantor jauh lebih penting?” balas Raejae dengan nada tinggi lalu berlari naik ke kamarnya.

“Raejae-ah!” panggil Leeteuk, tapi Raejae tak menolehnya sama sekali.

“Kejarlah Hyung! Raejae pasti masih shock. Kau seharusnya tak membentaknya tadi.” Hankyung menepuk bahu Leeteuk. Leeteuk berpikir sejenak lalu menyusul Raejae ke kamarnya. Hankyung mengekornya.

“Mianhae, Jae-ah! Seharusnya aku tidak membentakmu tadi.” Leeteuk mengambil tempat di sebelah Raejae. Raejae meliriknya kesal lalu berdiri maju satu langkah. Leeteuk ikut berdiri.

“Mianhae!” Leeteuk menggenggam lengan Raejae. Raejae berputar menghadap Leeteuk. Maju satu langkah, menyisakan jarak satu kepalan tangan antara kepala mereka. Leeteuk jadi salah tingkah dengan posisi mereka. Raejae menggenggam kedua bahu Leeteuk dan mendorongnya dengan kuat. Leeteuk terguling dan Raejae naik di atasnya melepaskan jas Leeteuk, melemparnya entah kemana. Lalu perlahan membuka satu persatu kancing kemeja Leeteuk dan Leeteuk hanya menelan ludah mendapat perlakuan seperti ini dari Raejae. Otaknya sudah berpikir macam-macam. Whuaah! Dia tidak menyangka akan secepat ini. Satu hentakan dari Raejae membuat dada Leeteuk kini hanya tertutup kaos tanpa lengan. Raejae menyeringai, menahan kedua tangan Leeteuk dengan tangannya.

“Jae-ah?” lirih Leeteuk.

“Hmmm… Hari ini, kau akan bekerja dari rumah, ne?” Bisik Raejae. Leeteuk mengangguk patuh, dadanya sudah bergemuruh memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

“Bagus!” Raejae tersenyum. “Ya Hankyung-ssi, kemarilah!” teriak Raejae. Hankyung dan seorang perawat masuk membawa nampan yang berisi obat dan segelas air putih.

“Ppali, tanganku sudah tidak kuat!”

“Mwo?” Leeteuk terperangah, apa yang dia pikir sama sekali tidak terjadi. Tepat saat itu perawat dengan cepat menyuapkan tiga butir obat ke dalam mulut Leeteuk. Raejae bangkit dari atas tubuh Leeteuk. Mengatur nafasnya yang sedikit memburu.

Leeteuk mengambil air dari tangan perawat itu dan meminumnya hingga habis dalam satu nafas. Hankyung tersenyum puas. Raejae benar-benar gila, ani cerdik, banyak cara untuk membuat Leeteuk mengikuti perkataannya.

“Aku sudah menelpon Heechul-ssi, dia sedang dalam perjalanan ke sini membawa berkas-berkas yang harus kau pelajari. Jadi kau tidak perlu ke kantor, mengerti?” Raejae berdiri hendak pergi meninggalkan Leeteuk. Tapi Leeteuk mencekal tangannya, menariknya kembali duduk di sampingnya.

“Bisa tinggalkan kami berdua?” pinta Leeteuk agar Hankyung dan Perawatnya pergi.

“Ya jangan tinggalkan aku?” Teriak Raejae pada Hankyung dan Perawatnya yang berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Raejae menatap Leeteuk dengan ngeri, dalam otak Leeteuk pasti sudah tersusun rencana jahat.

“Kau pikir kau bisa lepas eoh? Kau pikir bisa mengakhirinya begitu saja? Huahahahaha!” Leeteuk mengeluarkan suara seperti monster. Raejae bergidik dan mencoba lari.

“Shireo!” teriaknya. Leeteuk mendorong tubuhnya jatuh ke ranjang, lalu menggelitiki pinggang Raejae.

“Ampun! Ampun Leeteuk-ah. Geli, neo michyeoseo? Ya, jinjja. Hahaha! Leeteuk-ah!” Tapi Leeteuk tetap saja melakukannya. Tawa mereka memenuhi ruangan itu.

“Mianhae, jeongmal mianhae! Huh! Aku menyerah!” Raejae mengangkat tangannya. Keringat sudah memenuhi wajah dan lehernya. Leeteuk berhenti. Tatapan mereka bertemu, sendu. Leeteuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Raejae. Lalu perlahan kepalanya turun, dan mencoba menyatukan bibirnya dengan bibir Raejae. Tapi Raejae mengalihkan pandangannya, menolak.

“Waeyeo?” bisik Leeteuk. “Apa ciuman ketiga ini membuatmu gugup?”

“Keti-ga?” Raejae kembali menatap Leeteuk penuh tanya. Leeteuk tersenyum.

“Mian! Aku mencuri yang kedua!” Leeteuk menunduk dan terkekeh. Raejae membulatkan matanya. “Jadi aku benar-benar yang pertama?” Leeteuk kembali menggoda Raejae.

“Aish! Bukankah sudah ku bilang, aku… sudahlah!” Raejae ingin mencoba menjelaskan tapi dia mengurungkan niatnya dan malah menarik leher Leeteuk mendekat padanya. Menempelkan bibirnya ke bibir Leeteuk sebentar lalu melepaskannya.

“Mianhae!” Raejae menggigit bibirnya. Leeteuk tersenyum, menarik dagu Raejae dan kembali menyatukan bibir mereka, melumatnya dengan lembut dan hangat. Kali ini Raejae membalasnya.

“Joahaeyeo Jae-ah!” bisik Leeteuk setelah melepaskan ciumannya. Raejae tersenyum malu, mengusap bibir Leeteuk, dan menarik tubuh Leeteuk ke dalam pelukannya. Hah! Ini terasa menyenangkan, memiliki seseorang yang mengasyikkan. Leeteuk memang terkadang menyebalkan, tapi Raejae tahu kalau sebenarnya Leeteuk memiliki hati malaikat. Yang tanpa disadari mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya.

“Menyingkirlah, kau mulai terasa berat!” Raejae mendorong tubuh Leeteuk. “Keluarlah dari sini, Heechul mungkin sudah datang.” Raejae berlari ke kamar mandi menghindari tatapan Leeteuk yang mungkin akan membuatnya makin menggila.

# # #

Leeteuk sudah kembali dari China, acara penandatanganan berjalan dengan lancar. Rekan-rekan kerjanya ikut bahagia mendengar berita Leeteuk akan menikah secepatnya. Leeteuk merasa hal ini sangat baik. Bisnis dan kehidupannya akan terasa lebih sempurna nanti.

 

Raejae masih memandang wajahnya di cermin, tak percaya yang ada di pantulan cermin adalah dirinya. Gaun berwarna cream yang membalut tubuhnya sangat pas dengan warna kulitnya. Membuatnya makin terlihat bersinar.

“Jae-ah, sudah waktunya!” Hyejin membuyarkan lamunannya. Raejae menghela nafas dan mengenggam tangan Hyejin erat. Hyejin menuntun Raejae dengan hati-hati. Senyum tidak pernah terlepas dari bibir keduanya, rasa bahagia sedang menyerang ke hati mereka.

Ayah Hyejin menggandeng Raejae melalui karpet merah menuju altar pernikahan tempat Leeteuk sudah menunggu. Raejae tidak mempunyai keluarga lagi, jadi sebagai sahabat ayah Raejae, ayah Hyejin yang mengemban tugas itu.

Prosesi pernikahan berjalan dengan bahagia. Halmoni sampai tak berhenti menangis terharu, melihat cucunya menikah. Apalagi saat Leeteuk dan Raejae mengucapkan janji suci yang terdengar begitu tulus. Ahh… Rasanya hidupnya sudah lengkap. Walaupun harus mati sekarang, Halmoni sudah merasa ikhlas. Dia tak pernah memberi tahu Leeteuk bahwa penyakitnya sudah sangat kronis, hatinya sudah sangat mundur fungsinya. Itulah sebabnya dia memaksa agar Leeteuk segera menikah, jadi dia akan tenang jika harus meninggalkan Leeteuk kapanpun ajal menjemputnya.

“Hankyung-ah, tolong bawa aku kembali ke kamarku. Aku sudah sangat lelah.” Bisik Halmoni pada Hankyung yang sejak tadi menemaninya. Hankyung menuntunnya dengan sangat hati-hati. Wanita tua ini pasti benar-benar kelelahan mempersiapkan pernikahan dan seharian ini menyambut para tamu. Raejae meninggalkan para tamu karena melihat Hankyung dan Halmoni sepertinya akan pergi.

“Hankyung-ssi, apa ada masalah? Halmoni, apa kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Halmoni menggeleng.

“Aniyeo Jae-ah, Halmoni hanya lelah dan ingin kembali ke kamar. Lagipula di luar sini dingin, aku tidak suka. Kembalilah ke para tamu!” Halmoni membelai lembut wajah Raejae. Raejae melambaikan tangan pada Leeteuk dan Leeteuk mendekat.

“Ada apa? Halmoni kau sakit” Leeteuk langsung menggandeng tangan Halmoni. Halmoni menggeleng sekali lagi, kali ini matanya berkaca.

“Halmoni? Waeyeo? Hmm… aku akan menemanimu, ne? Biarkan Leeteuk oppa dan Heechul yang menemani para tamu.” Raejae benar-benar khawatir melihat Halmoni yang meneteskan airmatanya. Halmoni terkekeh, melepaskan gendengan Leeteuk dan menyatukannya dengan tangan Raejae.

“Ini pernikahan Kau dan Leeteuk, mana mungkin Leeteuk harus berpasangan dengan Heechul menemani para tamu. Jadi jangan khawatir, temanilah Leeteuk di sini, arrachi? Hankyung yang akan menjaga Halmoni nanti. Kajja Hankyung-ah!” Halmoni mulai melangkah dan meninggalkan Raejae yang masih memohon pada Leeteuk untuk menemani Halmoni, tapi Leeteuk memastikan Halmoni tidak baik-baik saja. Jadi tenanglah.

“Menapa kau tidak memberitahukan ini pada Leeteuk?” Hankyung menarik selimut hingga ke dada Halmoni.

“Aku tidak ingin membebani Leeteuk dan membuatnya sedih. Nanti, suatu hari nanti aku akan memberitahukannya. Saat Halmoni benar-benar sudah siap.” Halmoni memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.

Para tamu sudah bubar, tinggal para pelayan yang sedang membereskan perlengkapan jamuan makan malam tadi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Raejae bergegas naik ke kamar Halmoni, dia benar-benar sangat khawatir. Raejae membuka pintu kamar Halmoni dengan hati-hati. Gelap, hanya cahaya yang masuk dari pintu dan sebuah lampu kecil di sudut ruangan. Raejae berjalan pelan mendekati Halmoni dan merapikan selimutnya. Raejae mencium pipi Halmoni sekilas lalu pergi takut mengganggunya. Halmoni membuka matanya setelah Raejae pergi, berusaha berjalan ke meja kerjanya yang ada di seberang tempat tidurnya. Mengambil sebuah buku kecil dari laci mejanya dan menulis sesuatu disana.

Raejae masuk ke kamar Leeteuk. Leeteuk sudah tergeletak di tempat tidur. Dia pasti kelelahan juga. Raejae maju dan duduk di tepian ranjang. Menatap lekat wajah lelaki yang kini jadi suaminya. Rambut, alis, mata, hidung, dan bibirnya, bukankah itu benar-benar sempurna? Raejae tersenyum simpul, mungkin benar kata orang, dirinya benar-benar jadi Cinderella sekarang. Raejae bangkit dan melepaskan sepatu dan kaos kaki Leeteuk, lalu naik melepaskan ikat pinggangnya.

“Seharusnya kau ganti baju dulu sebelum tidur, eoh?” gerutunya lalu melepaskan jas dan dasi Leeteuk.

“Huh! Sudah dua kali aku harus melakukan ini. Aku jadi seperti menggerayangi tubuhmu!” Raejae mengusap dahinya, menghapus keringat. “Hehh! Kau juga pasti lelah kan? Tidurlah yang nyenyak, aku tidak akan menganggumu.” Raejae memberanikan diri membelai wajah Leeteuk dan berdiri hendak pergi. Tapi tangan Leeteuk mencekal, menariknya ke tempat tidur.

“Ya!” Raejae terguling tepat di samping Leeteuk. Leeteuk memeluk Raejae dengan erat, menyisakan jarak satu jengkal diantara wajah mereka. Leeteuk melengkungkan senyuman dibibirnya. “Jadi dari tadi kau belum tidur?” Raejae memukul bahu Leeteuk pelan. Leeteuk terkekeh dan membuka matanya.

“Ani! Kau membangunkanku.” Ucap Leeteuk dengan suara serak.

“Aish jinjja, kalau tahu aku tidak akan membantumu membuka pakaianmu tadi.” Raejae bersungut.

“Jadi kau menggerayangi tubuhku?” goda Leeteuk.

“Aish jinjja! Aniyeo aissh, mollayeo!” Raejae menarik selimut menutupi wajahnya yang malu. Leeteuk tertawa puas, berhasil membuat wanita yang kini sudah jadi istrinya itu malu. Raejae membuka selimutnya dan menatap Leeteuk.

“Berhentilah menggodaku!” dengusnya kesal. Leeteuk tersenyum dan berkata baiklah. “Tidurlah, kau pasti sangat lelah!”

“Hmm…” Leeteuk mengangguk dan menyusupkan kepalanya ke leher Raejae. Menghirup dalam-dalam aroma lembut dari tubuh Raejae yang membuatnya begitu tenang. “Saranghae!” bisiknya pelan tapi cukup jelas terdengar di telinga Raejae. Raejae memeluk kepala Leeteuk. Dan mencium puncaknya.

Takdir benar-benar ajaib, cinta juga sangat ajaib. Pertemuan mereka yang singkat, kejadian yang tak terduga yang mengharuskan mereka menikah yang juga menyebabkan mereka tertarik dan terjebak dalam cinta. Tapi bukankah tidak ada hidup yang sebegitu mudahnya? Apa mungkin ini hanya fatamorgana? Yang secepatnya akan menghilang seiring dengan langkah yang semakin menjauh.

# # #

Leeteuk membuka matanya berharap orang yang pertama kali di lihatnya adalah Raejae. Tapi ranjangnya sudah kosong, Raejae pasti sudah bangun pikirnya. Ini hari minggu, lagian ini adalah pagi pertama mereka setelah resmi jadi suami istri, kenapa Raejae harus bangun pagi-pagi sekali? Mereka kan bisa bangun sedikit siang, orang-orang pasti memakluminya. Aiishh!!

Leeteuk bangun, menjingkau sweater dari lemarinya dan berjalan dengan malas keluar kamar.

“Huh! Akhirnya selesai!” Raejae meletakkan piring terakhir di atas meja. Matanya memandang puas hasil masakannya. Semoga saja Leeteuk dan Halmoni akan menyukainya.

“Kau sudah bangun Raejae-ah?” Suara serak Halmoni mengalihkan konsentrasi Raejae.

“Halmoni, kemarilah!” Raejae menarik sebuah kursi agar Halmoni segera duduk. “Aku membuatkan sup, semoga Halmoni menyukainya.”

“Kau yang memasak ini semua?” Halmoni terlihat kaget menatapi hidangan yang ada di meja.

“Aniyeo Halmoni, aku hanya memasak sup ini. Yang lain Pelayan Jung yang melakukannya.” Bisik Raejae. Halmoni terkekeh dan menoleh pada Pelayan Jung berdiri di sebelah kirinya. Raejae kembali ke dapur mengembalikan celemek yang masih melekat di badannya.

“Animnida Nyonya! Semua ini Raejae-ssi yang memasak. Saya bahkan tidak diperbolehkan memasuki dapur tadi.” Jelas Pelayan Jung setelah Raejae pergi. Halmoni tertawa.

“Jinjja?” Leeteuk yang baru datang juga ikut terkejut.

“Ne!” Pelayan Jung tersenyum menundukkan kepalanya memberi hormat. Halmoni tersenyum puas. Raejae memang orang yang tepat untuk menjaga Leeteuknya yang selalu kesepian.

“Oppa, kau sudah di sini? Aku baru mau membangunkanmu.” Seru Raejae. Leeteuk mencibir.

“Ne, kenapa kau bangun pagi sekali? Aku tadi berharap saat membuka mata yang pertama aku lihat adalah kau di sebelahku dan setidaknya akan ada morning kiss darimu!” Gerutu Leeteuk.

“Ya, kenapa kau membahas hal seperti itu di depan Halmoni. Bukankah tak sopan?” Raejae menaikkan nada bicaranya. Leeteuk jadi cemberut. Halmoni terkekeh melihat tingkah Leeteuk.

“Jadi apa kalian sudah melakukannya?” Halmoni menatap Raejae dan Leeteuk bergantian.

“Ye?” Raejae mengernyitkan dahinya.

“Melakukan itu!” seru Halmoni. Leeteuk tersenyum geli mengerti arah pembicaraan Halmoni. Tapi Raejae hanya melongo penuh kebingungan. “Membuatkan aku cicit!” Halmoni dengan mata berbinar. Raejae membelalakkan matanya.

“Aissh!” Raejae menutup mukanya malu. Kenapa pembicaraannya harus mengarah ke sana. Sumpah kedua orang ini membuatnya ingin lari saja rasanya.

# # #

Suhu badan Halmoni tiba-tiba naik sore ini. Raejae jelas saja khawatir. Dari tadi dia sudah menunggui Halmoni dan mengompresnya. Sampai akhirnya Hankyung Euisa datang dan memeriksa Halmoni. Raejae dan Hankyung sudah berulang kali membujuk Halmoni untuk ke rumah sakit tapi Halmoni terus saja menolak.

Raejae sudah mencoba menghubungi Leeteuk, tapi telponnya tidak di angkat. Raejae lalu teringat kalau Leeteuk bilang dia ada rapat dengan rekan kerjanya sore ini.

“Oppa, jika rapatnya sudah selesai segeralah pulang. Halmoni sedang sakit, aku sudah memaksanya untuk ke rumah sakit tapi dia terus saja menolak. Pulanglah dan bujuk Halmoni!” Raejae meninggalkan pesan suara.

Leeteuk menghempaskan pantatnya ke kursi kerjanya. Dia baru saja kembali ke ruangannya setelah hampir tiga jam rapat dengan rekan kerjanya tadi. Leeteuk melirik jam yang melekat di tangan kananya, jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Leeteuk menghela nafas dan mulai membereskan file-file yang berhamburan di mejanya lalu melangkah pergi bergegas pulang. Leeteuk hendak menutup pintu ruangannya dan teringat sesuatu.

“Ahh aku meninggalkan handphoneku!” Leeteuk kembali dan mengambil handphonenya. Klik! Leeteuk menggeser layar handphonenya. Lima belas panggilan tak terjawab dari Raejae. Leeteuk tersenyum bahagia. “Dia pasti khawatir dan sangat merindukanku. Eoh, ada pesan suara juga!” seru Leeteuk. Tapi ketika hendak membukanya, sebuah panggilan masuk. Tertera nama Eunhye di layar handphone. Leeteuk terlihat ragu lalu mengangkat telponnya.

“Yeoboseyeo? Oh ne, aku segera ke sana!” Leeteuk mematikan telponnya dengan wajah khawatir dan langsung pergi menemui Eunhye.

 

“Mianhae, karena memaksamu datang Oppa! Aku pikir aku tidak akan bisa membawa mobilku. Dan gomawo sudah mengantaku sampai rumah.” Ucap Eunhye setengah sadar. Leeteuk membantu Eunhye duduk di sofa ruang tamunya.

“Gwaenchana, Eunhye-ah. Masuklah ke kamarmu, aku harus segera pulang. Raejae pasti sudah menungguku.” Ucap Leeteuk dengan tersenyum. Ekspresi Eunhye langsung berubah tak senang. Eunhye sangat marah mendengar Leeteuk mengucapkan nama Raejae di depannya.

“Oppa, bisakah kau menemaniku sebentar saja.” Pintanya dengan sangat memelas. Leeteuk menggeleng.

“Mianhae aku tidak bisa. Aku sudah menikah jadi situasinya tidak akan sama seperti dulu.” Leeteuk mencoba menjelaskan.

“Tolonglah Op.. hhmmphh!” Eunhye membekap mulutnya sendiri. Dan hoekk!! Dia muntah dan mengenai jas Leeteuk. Leeteuk membelalakkan matanya.

“Ohh mianhae Oppa, aku benar-benar tidak sengaja!” Eunhye mengambil tisu dan mencoba membersihkan muntahannya.

“Sudahlah, aku bersihkan di kamar mandi saja.” Leeteuk menaruh handphonenya di atas meja dan pergi ke kamar mandi. Eunhye tersenyum puas, setidaknya dia bisa menahan Leeteuk sedikit lebih lama.

Handphone Leeteuk berbunyi, tertera nama Raejae di layar handphone. Eunhye mendengus kesal, lalu dengan cepat mematikannya. Handphone Leeteuk kembali berbunyi.

“Yeoboseyeo! Oppa kau dimana? Apa rapatnya sudah selesai? Cepatlah pulang, Halmoni…” ucapan Raejae terhenti karena yang terdengar di seberang sana bukan suara Leeteuk tapi suara perempuan.

“Yeoboseyeo, Raejae-ssi. Mian aku yang menjawab, oppa sedang di kamar mandi. Rapatnya sudah selesai, sekarang dia sedang di rumaku. Ada yang perlu aku sampaikan padanya?” Eunhye menyambut telpon Raejae dengan rasa bangga.

Raejae terdiam, seperti di sambar petir. Tubuhnya menjadi kaku, perasaannya campur aduk, marah, curiga, sedih hancur, terluka dan yang pasti sangat kecewa.

“Apa Oppa tidak bilang padamu kalau setelah rapat dia akan menemuiku?”

Raejae masih terdiam tapi bodohnya telinga terus saja mendengarkan ocehan-ocehan Eunhye.

“Mianhae, Raejae-ssi. Seharusnya aku bilang ini dari dulu, Oppa masih mencintaiku. Dia tidak bisa hidup tanpaku, aku juga begitu. Walau terus bersamamu, tapi Oppa selalu memikirkanku. Aku sangat merasa bersalah padamu. Oppa menikahimu karena Halmoni dan terjadi kesalahpahaman antara kami. Jadi bisakah kau kembalikan Oppa padaku? Demi kebahagiaan Oppa. Tolonglah!”

Pertahanan Raejae jebol, airmatanya menyeruak kasar. Deras dan sangat menyakitkan. Dadanya terasa sesak, kepalanya terasa berat. Benarkah demikian? Benarkah apa yang dibicarakan Eunhye tadi? Benarkah Leeteuk masih mencintai Eunhye? Lalu kata-kata cintanya kepada Raejae apa itu benar-benar cuma karena Halmoni? Handphone Raejae terlepas, pecah, jatuh berserakan di lantai. Tepat di saat Pelayan Jung datang menghampirinya.

“Raejae-ssi, Nyonya besar…” Pelayan Jung menggantung ucapannya. Raejae tersadar dan langsung berlari ke kamar Halmoni. Dilihatnya Hankyung, perawat dan beberapa pelayan sudah tertunduk lesu.

“Waeyeo Hankyung-ssi?” Ucap Raejae bergetar.

“Mianhae Raejae-ssi!” hanya itu yang bisa Hankyung ucapkan. Raejae limbung, tubuhnya terasa disambar petir untuk yang kedua kalinya.

“Halmoni,” lirih Raejae yang berjalan dengan terhunyung. Raejae menggenggam tangan Halmoni erat lalu menangis sejadi-jadinya. “Khajima, khajima Halmoni. Halmoni!!” jeritnya sesegukkan. Raejae jatuh tersungkur di samping ranjang Halmoni. Hankyung, para perawat dan para pelayan tak bisa lagi menahan airmata mereka. Semuanya menangis mencoba merelakan kepergian Halmoni yang bijaksana.

“Apa handphoneku tadi berbunyi?” ujar Leeteuk yang baru saja keluar dari kamar mandi di rumah Eunhye. Eunhye diam terlihat ragu mau menjawab apa.

“Ne, Raejae yang menelpon.” Jawab Eunhye dengan nada tak senang.

“Astaga, aku lupa!” Leeteuk membuka handphonenya dan terdengar suara Raejae.

“Oppa, jika rapatnya sudah selesai segeralah pulang. Halmoni sedang sakit, aku sudah memaksanya untuk ke rumah sakit tapi dia terus saja menolak. Pulanglah dan bujuk Halmoni!”

Wajah Leeteuk menegang. Halmoni sakit? Astaga kenapa dia sampai lalai begini. Seharusnya dia langsung pulang tadi.

“Aku harus pulang sekarang!” Leeteuk langsung berlari.

Leeteuk berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam rumah, naik tangga menuju kamar Halmoni. Matanya langsung memerah melihat pemandangan di depannya. Halmoni sudah terbujur kaku. Bahkan semua orang sudah berpakaian serba hitam. Itu artinya dia sudah sangat terlambat. Hankyung dan Heechul mencoba menenangkan Leeteuk.

“Sabarlah hyung!” Hankyung menepuk pundak Leeteuk.

“Raejae? Dia dimana?” lirihnya.

“Dikamar, pergilah! Dia terlihat sangat hancur.” Kali ini Heechul yang menjawab. Leeteuk melangkahkan kakinya pelan dan terlihat agak ragu saat ingin membuka pintu kamarnya. Tapi akhirnya memutuskan membukanya.

Hati Leeteuk benar-benar tersayat melihat Raejae yang meringkuk di sudut kamar mereka. Bahunya berguncang hebat. Tangis Leeteuk pecah, tapi dia cepat-cepat menggigit bibirnya. Jika dia juga ambruk lalu siapa yang akan menjadi tempat Raejae bersandar. Leeteuk memilih berpura-pura tegar.

“Jae-ah!” lirihnya mendekati istrinya yang sudah terlihat begitu kacau. Raejae mengangkat kepalanya. Gila, ini benar-benar membuat Leeteuk gila. Matanya Raejae membengkak, bibirnya bergetar, wajah itu, wajah takut dan gugupnya benar-benar membuat Leeteuk frustasi.

“Pergilah!” lirih Raejae. Tapi Leeteuk semakin mendekatinya dan duduk di lantai berhadapan dengan Raejae. Raejae menatap Leeteuk tajam penuh dengan kebencian. Leeteuk benar-benar merasa menyesal.

“Pergilah kubilang!” lirih Raejae kembali mengusir Leeteuk.

“Jae-ah!” kali ini Leeteuk menggenggam tangan Raejae. Raejae menghempaskan tangan Leeteuk.

“Baiklah kalau begitu aku yang pergi!” tegasnya lalu berdiri dan pergi. Leeteuk menatap lantai dengan kosong. Dirinya pantas dihukum seperti itu, sangat pantas.

“Aaa…” Leeteuk menjerit sekuat tenaga. Brak! Leeteuk memukul meja kecil di sampingnya dan kembali menangis, meluapkan semua emosi yang ada dalam hatinya.

 

Selama prosesi penghormatan untuk Halmoni, Raejae tak berbicara apapun. Hanya menatap kosong para pelayat yang datang. Leeteuk benar-benar tersiksa. Matanya terus saja menatap Raejae, dia sangat kacau dan hancur.

“Oppa, aku turut berduka!” suara lembut Eunhye mengalihkan pandangan Leeteuk. Raejae langsung menegakkan kepalanya mengenali itu suara Eunhye. Leeteuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

“Mianhae, seharusnya waktu itu aku tidak menahanmu.” Ucapnya antara sengaja atau tidak. Seketika Raejae merasa begitu marah dan mengingat semua perkataan Eunhye. Rasanya muak sekali melihat dua manusia tak punya hati ini. Raejae memilih pergi tanpa berkata apapun. Leeteuk menatap kepergian Raejae dengan hampa.

 

Leeteuk masuk ke kamarnya dengan lesu. Raejae sudah berbaring di tengah ranjang, memunggungi pintu. Mengisyaratkan dia tidak ingin Leeteuk tidur di sini malam ini. Leeteuk tersenyum kecut.

“Aku akan tidur di kamar Halmoni malam ini. Kau tidak apa-apa kan?”

Raejae menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Tidak ingin mendengar apapun dari Leeteuk. Leeteuk melangkah keluar. Tapi Raejae malah kembali menangis mengutuk dirinya sendiri.

Kembali teringat ucapan Halmoni ketika Raejae menungguinya tadi.

“Jae-ah, Halmoni mengerti jika Leeteuk benar-benar egois dan sulit diatur. Kau pasti kewalahan kan menuruti kehendaknya?” Halmoni mengusap tangan Raejae lembut. Raejae tersenyum.

“Itu semua salah Halmoni karena terlalu memanjakannya. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, jadi dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya. Sejak Seokyeong meninggal, ayah Leeteuk berubah menjadi sangat murung dan akhirnya jatuh sakit. Saat Leeteuk berumur lima tahun, ayahnya juga meninggal. Huh, jadi dia adalah keluarga satu-satunya yang Halmoni punya. Semua yang Leeteuk ingini, Halmoni selalu memenuhinya. Dan itu menjadikan dia semakin egois.” Raejae mengangguk sesekali menanggapi cerita Halmoni.

“Halmoni berharap, kau jadilah pengganti Halmoni, yang akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Leeteuk.”

Leeteuk berkeliling memperhatikan satu persatu barang-barang milik Halmoni. Ahh… semuanya seperti jarum, setiap barang yang disentuhnya seolah menghujamkan jarum di hatinya. Leeteuk benar-benar merasa bersalah. Seharusnya waktu itu dia langsung membuka pesan suara dari Raejae dan tidak usah memperdulikan telpon dari Eunhye. Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Halmoni tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Leeteuk berakhir di meja kerja Halmoni. Memainkan bolpoint kesayangan Halmoni sebentar lalu tertarik pada secarik kertas yang tertimpa vas bunga.

Leeteuk-ah, jika kau membaca surat ini, mungkin Halmoni sudah tidak ada lagi. Halmoni benar-benar minta maaf karena tidak pernah memberitahumu tentang penyakit Halmoni. Halmoni hanya tak ingin kau khawatir.

Awalnya Halmoni sangat berat meninggalkanmu sendiri, tapi setelah ada Raejae Halmoni menjadi tenang. Dia kesepian sama sepertimu. Jadi ku pikir, dia adalah orang yang tepat. Dia pasti akan mengerti dan memahami dirimu.

Halmoni tahu kau sangat mencintainya, jadi apapun yang terjadi jangan pernah biarkan dia lepas darimu.

Halmoni.

Leeteuk mengusap airmatanya. Menghisap udara memenuhi rongga dadanya. Seolah mengambil energi positif dari udara di kamar Halmoni.

# # #

Sudah tiga hari Raejae hanya mengurung diri di kamar. Sudah tiga hari Leeteuk mengerjakan pekerjaannya di rumah. Sudah tiga hari juga Heechul harus bolak-balik kantor dan rumah Leeteuk untuk mengantarkan pekerjaan. Berarti sudah tiga hari Hankyung dan seorang perawat harus tinggal di rumah Leeteuk. Alasannya karena Leeteuk terlalu khawatir, sejak Halmoni meninggal Raejae belum makan nasi sedikitpun. Jadi ketika terjadi sesuatu pada Raejae, Hankyung sudah ada di rumahnya.

Leeteuk, Hankyung dan Heechul sedang duduk di sofa ruang tamu. Leeteuk dan Heechul fokus pada file yang sedang mereka bahas. Hankyung hanya sesekali menyeruput kopinya sambil memperhatikan Leeteuk dan Hankyung.

“Jeosonghaeyeo, Leeteuk-ssi!” Pelayan Jung mendekat dan menundukkan kepalanya memberi hormat. Leeteuk menghentikan aktivitasnya. “Kali ini Raejae-ssi hanya meminum separuh jusnya.” Pelayan Jung memberi laporan. Leeteuk menghela nafas berat.

“Arraseo, kembalilah ke pekerjaanmu!” Leeteuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

Srek! Srek! Suara langkah terseok dan suara roda sepertinya mendekati mereka. Hankyung menoleh ke arah sumber suara.

“Oh, Raejae-ssi!” Hankyung menegakkan badannya. “Kau membawa koper? Untuk apa?” sambungnya. Heechul menoleh pada Raejae. Wajahnya pucat dan lesu sekali, rambut sebahunya di kuncirnya seadanya. Wah! Benar-benar menyedihkan. Leeteuk tetap fokus pada file yang ada di depannya, tapi sebenarnya hatinya bertanya-tanya dan sangat cemas. Kenapa tiba-tiba membawa kopernya.

“Oppa, ani Leeteuk-ssi bisa kita bicara sebentar?” Suara lemah Raejae menyapa telinga Leeteuk.

Ya Tuhan, betapa rindunya Leeteuk mendengar suara itu. Betapa inginnya dia berlari dan memeluk wanita ini. Leeteuk menarik nafas, memejamkan mata mengusir semua keinginannya. “Tidak bisa, aku sedang bekerja. Kembalilah ke kamarmu!” jawab Leeteuk dingin. Leeteuk memegang penanya dengan erat, mencoba menahan agar matanya tak menatap Raejae. Raejae mendengus kesal.

“Baiklah kalau begitu aku bilang di sini saja.” Suara Raejae tiba-tiba bergetar. Pertahanan Leeteuk roboh, dia mengangkat kepalanya dan menatap istrinya dengan tatapan sedih, lalu kembali menunduk. Raejae menggigit bibirnya yang sedikit bergetar.

“Kita… kita cerai saja!” lirihnya mencoba mengucapkan dengan penuh keyakinan. Heechul dan Hankyung membelalakan mata tak percaya. Rahang Leeteuk mengeras, menahan amarahnya. Raejae manatap Leeteuk yang masih menunduk dan tak bicara sedikitpun. Seolah tak mendengarnya.

“Ceraikan aku! Apa kau tidak mendengarnya!” kali ini Raejae berteriak.

Leeteuk tak tahan lagi. Brak!! Leeteuk mengeprak meja dengan keras. Raejae terkejut sampai mundur satu langkah. Tepat saat itu Eunhye tiba di tengah-tengah mereka.

“Tidak akan pernah!” bentak Leeteuk. Raejae memejamkan matamya menahan air matanya. Aish! Ini membuatnya gila, wanita ini bahkan sudah mulai datang ke rumah ini. Raejae melirik Eunhye tajam.

“Jadi kau mau aku bagaimana?” Raejae ikut berteriak. Leeteuk maju mendekati Raejae, mengambil koper Raejae dan membantingnya kasar.

“Pelayan Jung, cepat bawa koper Raejae ke kamarnya.” Teriak Leeteuk tepat di depan muka Raejae. Pelayan Jung berlari tergopoh mendengar panggilan Leeteuk. Raejae jongkok dan berniat mengambil kopernya tapi Leeteuk menendang koper itu dengan kesal. Lalu berjalan, membuka koper itu dengan kasar dan menghamburkan semua isi dalam koper itu.

“Aku tidak akan pernah menceraikanmu, tidak akan pernah! Mengerti!” teriaknya penuh emosi. Raejae naik pitam.

“Egois sekali! Jadi kau ingin tinggal dengan dua wanita di rumahmu, eoh?” Jerit Raejae dengan sangat kesal, matanya sudah berair. Leeteuk membelalakan matanya.

“Mwo? Apa yang kau bicarakan?” Leeteuk menurunkan nada bicaranya. Raejae melirik Eunhye dengan kesal.

“Bukankah kau tersiksa denganku? Bukankah kau tidak bahagia denganku? Bukankah kau tidak mencintaiku? Jadi untuk apa kau mempertahankanku? Untuk menjadi pajangan di kamarmu? Maaf, tapi aku bukan boneka! Jadi tolong ceraikan aku!” Raejae kembali berteriak, kali ini brutal, urat-urat lehernya menegang, pipinya sudah banjir airmata.

Leeteuk meremas rambutnya frustasi. “Kapan aku bilang aku tersiksa? Kapan aku bilang tidak bahagia? Bukankah aku sudah terlalu sering mengucapkan kalau aku mencintaimu? Jadi untuk apa aku menceraikanmu? Justru itu akan membuatku tersiksa, Jae-ah!” Leeteuk mendekat dan mencoba menyentuh Raejae.

“Jangan sentuh aku!” teriak Raejae menepis tangan Leeteuk. “Bukankah kau menikah denganku hanya karena kesalahpahaman antara kau dan Eunhye? Bukankah kau menikah denganku hanya karena Halmoni? Sekarang Halmoni sudah tidak ada, untuk apa aku di sini? Alasan aku tetap di sini sudah tidak ada lagi. Jadi aku harus angkat kaki dari sini? Benarkan Eunhye-ssi?” Raejae menatap tajam Leeteuk tapi menujukan pertanyaannya pada Eunhye. Leeteuk menatap Eunhye, merasa bingung dengan situasi ini. Eunhye hanya menangis sesegukan, bingung harus berkata apa.

“Eunhye-ah?” Leeteuk mengharap penjelasan dari Eunhye.

“Mianhae…” Lirih Eunhye tak berani menatap Leeteuk. Raejae meremas rambutnya frustasi.

“Aahhh… ada apa ini sebenarnya?” teriak Leeteuk kesal.

“Aish! Ini membuatku gila. Aku benar-benar sudah gila. Selesaikan masalah kalian sendiri. Kirimkan surat cerainya ke rumah Hyejin nanti.” Raejae mengusap airmatanya lalu pergi. Leeteuk mencekal tangannya, menahan agar Raejae tidak pergi.

“Bukankah sudah ku bilang aku tidak akan menceraikanmu? Sampai kapanpun tidak akan pernah!” Leeteuk kembali berteriak, airmata yang sejak tadi di tahannya tertumpah sudah. Pikirannya kacau, semuanya terasa menimpa, begiru beratnya.

“Mianhae, kita harus bercerai. Aku sudah janji pada Halmoni bahwa akan melakukan apapun demi kebahagianmu. Kau hanya akan bahagia jika bersama Eunhye, Oppa-ya. Bukan bersamaku!” Raejae melepas cincin pernikahannya dan menaruhnya di telapak tangan Leeteuk.

“Dari awal, cincin ini bahkan kau beli untuk melamar Eunhye.” Lirihnya lalu perlahan pergi meninggalkan Leeteuk.

“Jae-ah, khajjima!” lirihnya. Tapi Raejae tak memperdulikannya. “Khajjima!” teriaknya penuh permohonan.

Kali ini Raejae berhenti, bahunya terlihat berguncang. Tentu saja Raejae sedang menangis di sana. Leeteuk tersenyum dan berjalan mendekati Raejae, bujukannya berhasil. Tapi sedetik kemudian Raejae memegang kepalanya. Ahh… pusing sekali rasanya. Bumi terasa berputar begitu cepat. Raejae terhuyung, untung saja Leeteuk cepat menangkap tubuhnya.

“Waeyeo? Apa kau merasa sakit?” Leeteuk memegangi tubuh Raejae.

Bug! Sesuatu seolah menghantam perutnya dari dalam. “Ough! Sshhh! Aauu, aahh sakit sekali!” Raejae tiba-tiba memegangi perutnya. Rasanya sakit sekali, melilit, seperti diremas-remas.

“Op-pa, Aahh!! Sakit sekali rasanya. Hmmphh!” perutnya terasa diaduk-aduk, mual sekali rasanya. Raejae tiba-tiba lemas dan jatuh ke pelukan Leeteuk. Semua orang tampak khawatir.

“Hyung, cepat bawa Raejae ke kamar.” Hankyung berlari masuk ke kamarnya. Leeteuk dengan cepat membopong tubuh Raejae masuk ke kamar mereka. Heechul dan Eunhye mengekor Leeteuk.

“Tahan sebentar Jae-ah!” bisik Leeteuk mencoba menguatkannya dan membaringkan tubuh Raejae dengan hati-hati di tempat tidur. Leeteuk menggenggam tangan Raejae erat, seolah menyalurkan tenaga pada Raejae. Raejae terlihat begitu lemah.

Hankyung datang bersama seorang perawat dan membawa tas yang berisi peralatan dokternya. Setelah memeriksa Raejae beberapa menit, Hankyung memberi kode pada perawat untuk segera memasangkan infus di tangan Raejae.

“Sejak kapan kau terlambat menstruasi, Jae-ah?” Tiba-tiba Hankyung membuat semua yang ada di kamar menjadi terkejut. Leeteuk sampai melototkan matanya. Untuk apa tanya-tanya yang begituan.

“Sshh! Mungkin hampir satu bulan.” Jawab Raejae dengan lemah dan menahan rasa aneh di perutnya. Hankyung menepuk dahinya.

“Astaga, kenapa kau ceroboh sekali? Kalau sudah tahu telat menstruasi seharusnya kau periksa! Kau akan menyesal jika terjadi sesuatu padanya.” Hankyung benar-benar terlihat sangat kesal.

“Apa yang kau maksud, Hankyung-ah?” tanya Leeteuk polos. Heechul menggeleng dan terkekeh.

“Inilah sebabnya aku tidak pernah memanggilmu Hyung. Umurmu saja yang tua, tapi itu saja kau tidak mengerti.” Sindir Heechul. Leeteuk tampak berpikir.

“Ya Park Jungsoo, kau bodoh sekali! Istrimu itu sedang hamil! Aish jinjja!” teriak Heechul dengan kesalnya. Leeteuk membulatkan matanya tak percaya. Whuaahh hatinya senang sekali mendengar berita ini.

“Jangan senang dulu. Raejae mengalami stress berat dan itu bisa berdampak buruk pada janinnya” potong Hankyung. Wajah Leeteuk langsung berubah muram. Hankyung memberi kode pada Leeteuk dan Heechul agar keluar kamar.

“Ku mohon cepat selesaikan masalahmu dengan Eunhye, Hyung. Kalian harus membuat keadaan Raejae tenang. Jika tidak, kalian akan kehilangan janin di kandungan Raejae. Perhatikan dia mulai sekarang. Mulai dari makanannya, moodnya, semuanya. Jangan membuatnya stress lagi.” Jelas Hankyung. Tanpa mereka sadari Eunhye mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu. Eunhye merasa sangat bersalah lalu berjalan mendekati Raejae.

“Raejae-ssi, mianhae!” Eunhye membuka pembicaraan dan duduk di tepian ranjang. Mau tak mau Raejae menatapnya.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Waktu itu aku berbohong, Leeteuk sebenarnya sudah mau pulang tapi aku malah sengaja muntah di bajunya agar dia tetap tinggal bersamaku…” Eunhye mulai menjelaskan semua kebohongannya dan alasannya agar Leeteuk kembali padanya. Namun dia sadar itu tidak akan mungkin. Leeteuk terlalu mencintai Raejae. Leeteuk bahkan selalu mengkhawatirkan perasaan Raejae dan selalu berbinar setiap membicarakan Raejae. Dan itu membuatnya sangat cemburu.

Leeteuk tersenyum dari balik pintu mendengar Eunhye sudah terlebih dulu menjelaskannya pada Raejae. Hatinya sekarang lega, semoga tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.

“Ternyata jika wanita sedang merasa cemburu, mereka bisa berubah menjadi monster.” Bisik Heechul. Hankyung terkekeh mendengar ucapan Heechul.

# # #

Hari sudah larut, tapi Leeteuk tidak hentinya memandang wajah Raejae yang sudah tertidur pulas. Lalu memberanikan diri mengelus pelan perut Raejae. Bibirnya tersenyum bahagia.

“Tidak akan pernah ku lepaskan, kita akan bersama selamanya. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita nanti.” Lirihnya penuh perasaan. Raejae membuka matanya, memandang Leeteuk yang mencium tangannya.

“Op-pa!” lirih Raejae agak ragu.

Leeteuk mengangkat kepalanya. “Ahh, aku membangunkanmu?” ucapnya lalu membelai lembut wajah Raejae. Mereka terdiam sejenak, seolah melepas rindu lewat tatapan mereka.

“Jangan pernah berkata cerai lagi, mengerti?” Leeteuk membuka pembicaraan. Raejae mengangguk pelan, satu tetes air mata jatuh di sudut matanya. Leeteuk buru-buru menghapusnya.

“Uljima! Kita baikan sekarang?” Raejae kembali mengangguk. Leeteuk mengambil cincin Raejae yang disimpannya di dalam saku celana dan memasangkan kembali ke jari manis Raejae.

“Jangan pernah melepasnya lagi apalagi membuangnya. Jangan pernah lagi mengatakan cincin ini milik Eunhye. Aku bisa membelikanmu semua cincin yang ada di dunia ini, tapi cincin ini beda. Kau dan aku bertemu karena cincin ini, kau dan aku menjadi dekat karena cincin ini, jatuh cinta karena cincin ini dan menikah karena cincin ini. Jadi, mana mungkin aku menggantinya dengan cincin lain. Cincin ini terlalu berharga untuk kita, jadi jangan pernah melepasnya lagi.” Leeteuk memandang lembut wajah Raejae. Raejae tak bisa menahan rasa harunya, airmatanya kembali menetes tapi kali ini airmata bahagia.

Leeteuk mengecup pelan cincin yang terpasang di jari manis Raejae.

“Oppa!” panggil Raejae lemah. Leeteuk menegakkan kepalanya. “Bogoshippo!” ucap Raejae dalam tangisnya. Leeteuk bangkit dan memeluk Raejae erat. Mencium puncak kepala Raejae. Leeteuk melepas pelukannya dan berbaring di samping Raejae. Raejae memiringkan badannya agar berhadapan dengan Leeteuk.

“Mulai sekarang katakan apa yang rasakan, apa yang kau inginkan, apa yang kau butuhkan, katakan semuanya apapun itu. Berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri!” Leeteuk membelai wajah Raejae lembut. Raejae mengangguk. Leeteuk menyusupkan tangan kanannya di bawah kepala Raejae. Lalu menarik kepala Raejae agar menempel pada tubuhnya. Raejae tersenyum bahagia dan melingkarkan tangannya ke pinggang Leeteuk.

“Oppa, Saranghae!” Raejae berbisik sangat pelan. Tapi cukup jelas terdengar di telinga Leeteuk. Leeteuk sangat bahagia, ini pertama kali dia mendengar Raejae mengucapkan ‘Saranghae’ padanya. Ahh… bunga di hati Leeteuk bermekaran, dia jatuh cinta lagi dan lagi pada wanita ini. Wanita yang mampu membuatnya menjadi konyol dan berbeda dari biasanya.

 

Takdir memang ajaib kan? Seperti apapun kau mencoba lari atau mengubahnya. Jika takdir berkata harus tetap bersama, maka apapun jalannya kalian akan tetap bersama. Dan sebaliknya, jika takdir berkata kau harus berpisah, maka seperti apapun kau memaksa, berpisah tetaplah berpisah!

 

-END-

3 Comments (+add yours?)

  1. Deesungie
    May 24, 2016 @ 16:27:30

    Ugh.. Leeteuk sama raejae awalnya bar bar ya..
    😂😂😂
    Raejae bnar2 kyk cinderella… 😊😊
    Endinngny brkhir dgn manis.. 😁😁

    Reply

  2. Monika sbr
    May 24, 2016 @ 19:16:53

    Ahhh… So sweet!!!
    Akhirnya mereka bisa melewati kesalapahaman yang terjadi dirumah tanggah mereka, dan berakhir bahagia.

    Reply

  3. sophie
    May 25, 2016 @ 20:18:56

    Iteuk galak yak,,,tp so sweettt

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: