Opera [7/?]

Opera Cover

Part 7

Nama : i-Leetha
Judul Cerita : Opera
Tag (tokoh/cast) : Park Jung Soo, Song Joong Ki, Shin Seung Ri, Kim Seu Hwa, Ji Sung

Other Cast : Super Junior Member yang mungkin muncul dalam setiap part

Genre : Romance, Comfort
Rating : PG-13
Length : Chapter

***

 

Part 7

 

Jung Soo membuka amplop yang baru saja dia terima dari seseorang yang dia minta untuk menyelidiki tentang gadis itu. Setelah memberikan bayaran yang pantas, pria itu pergi. Dengan perlahan Jung Soo membukanya. Tapi niat tersebut dia urungkan. Dia masih belum siap untuk melihat bagaimana sosok wanita itu. Bagaimana jika dia wanita yang sudah tua? Atau bagaimana jika dia wanita yang sangat menakutkan? Dia hanya bisa mengepalkan tangannya.

Tidak.

Ini tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun juga, dia harus memberanikan diri untuk melihat isi amplop tersebut. Setelah mengumpulkan kepercayaan diri dan keberaniannya, Jung Soo membuka amplop dan mulai melihat isi amplop tersebut. Terdapat beberapa foto yang terselip disana. Dengan sengaja dia membalik foto tersebut. Menurut pria tersebut, itu adalah foto wanita yang dia nikahi dan bukti kalau mereka benar-benar menikah di kapel tersebut.

Untuk sesaat, dia merutuki kebodohannya selama ini. Jika dalam waktu seminggu saja dia bisa menemukan informasi ini, mengapa dia tidak melakukannya dari dulu? Tapi tidak. Bagaimanapun juga dia seorang publik figure. Dia harus menutup rahasia ini dari siapapun. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Itu sebabnya dia meminta detektif untuk mencari tahu.

Jung Soo membalik foto tersebut secara perlahan. Dia terdiam setelah melihat seluruh foto tersebut. Tidak ada satu katapun yang dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Tangannya bergetar. Secara perlahan meremas foto tersebut hingga berbentuk gumpalan tidak berguna. Wanita yang ada di dalam foto itu adalah Shin Seung Ri. Wajahnya memerah menahan amarahnya. Dia harus mengontrol emosinya mengingat dia saat ini berada di tempat umum.

Dia mencoba meyakinkan dirinya kalau detektif tersebut melakukan kesalahan. Tapi foto pernikahan yang di dapat dari kamera CCTV yang berada di sekitar kapel menjadi bukti kuat. Jung Soo teringat kalau Seung Ri memiliki kesamaan dengan wanita yang selalu mengiriminya pesan selama ini. Kesukaan mereka sama. Dan juga, Jung Soo pernah melihat cincin yang tidak asing buatnya saat dia sedang makan malam bersama Seung Ri dan ibunya. Tapi dia tidak memperdulikannya dan menganggap kalau benda itu sangat gampang ditemukan dimana saja.

Jung Soo meninggalkan tempat tersebut setelah meninggalkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar minuman yang dia pesan. Dengan langkah gontai menuju mobilnya. Dia berharap kalau kejadian hari ini adalah sebuah mimpi. Dia benar-benar sudah dibohongi selama ini. Apa yang dikatakan teman-temannya benar. Saat ini dia sedang dimanfaatkan oleh wanita itu.

Jung Soo tiba dirumah dimana dia dan Seung Ri tinggal bersama setelah menikah. Apartemennya saat ini ditinggali oleh ayah dan ibunya yang diminta Seung Ri agar pindah. Dia membuka pintu dengan kasar hingga membuat Seung Ri berlari menuju ruang tamu.

Oppa, ada apa?” tanya Seung Ri. Dia manahan lengan Jung Soo. Namun Jung Soo menepis tangan Seung Ri dan terus berjalan menuju kamar.

Seung Ri yang tidak paham ada apa mengikuti Jung Soo menuju kamar. Jung Soo terlihat menyusuni pakaiannya kedalam koper. Seung Ri yang tidak mengerti apa yang terjadi berusaha menghentikan Jung Soo.

“Ada apa ini?” tanya Seung Ri.

“Lepaskan aku sebelum aku memaksa Seung Ri-ssi,” sahut Jung Soo. Tapi Seung Ri tidak menuruti apa yang dikatakan Jung Soo. Dia menghempaskan tangan Seung Ri dan membuat Seung Ri jatuh terduduk diatas tempat tidur.

“Jelaskan padaku. Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai seperti ini oppa?” tanya Seung Ri.

“Kenapa kau tidak berpikir sendiri apa yang menjadi kesalahanmu? Seharusnya kau tahu apa yang menjadi kesalahanmu saat aku menjadi seperti ini.” Jung Soo meninggalkan kamar dengan kopernya setelah mengatakan hal itu.

“Jangan pernah mencariku lagi. Setelah ini aku akan mengirimkan surat perceraian padamu.”

Oppa.”

Jung Soo meninggalkan Seung Ri tanpa berniat mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Seung Ri. Dia melempar amplop coklat yang dia pegang sedari tadi keatas tempat tidur sebelum meninggalkan kamar. Dia bahkan tidak menoleh kearah Seung Ri walau istrinya itu memanggil namanya.

 

x-x-x

 

Seung Ri membuka pintu saat bel rumahnya berbunyi. In Sung sudah tiba bersama dengan Jong Suk. Setelah Jung Soo pergi, Seung Ri menghubungi In Sung dan mengatakan kalau Jung Soo sudah mengetahui semuanya dan memintanya datang. Tapi dia tidak mengatakan akan membawa Jong Suk.

“Apa kau bingung kenapa Jong Suk berada disini?” tanya In Sung.

“Aku adalah orang pertama yang mengetahui pernikahan kalian itu,” jawab Jong Suk.

“Tentu saja. Kau orang pertama yang kuberitahu,” sahut Seung Ri.

“Bahkan pernikahan disaat Jung Soo mabuk. Aku adalah orang pertama yang mengetahuinya. Aku melihat kejadian itu secara langsung,” ucap Jong Suk lagi.

“Apa? Kau mengetahui hal itu juga?”

“Hm. Dan aku yang memberitahukannya pada In Sung hyung.”

“Tunggu. Kau sudah tahu dari awal tentang hal ini. Jadi itu alasan mengapa kau mengajakku untuk bergabung dengan proyekmu kali ini? Awalnya aku menganggap ini sebuah kebetulan. Ternyata kau menganggkatnya kedalam drama dan menjadikan kami pemeran utamanya? Apa dari awal kalian berniat mempermainkan aku?” Nada suara Seung Ri mulai meninggi. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Dua orang yang selama ini dia percaya ternyata mempermainkannya juga.

“Kalian lihat apa hasil dari perbuatan kalian? Jika saja aku tidak bersama dengan Jung Soo oppa selama ini, dia tidak akan membenciku seperti ini. Dia tidak akan menganggapku sebagai seorang penipu yang memanfaatkan hal itu untuk mendapatkannya. Dia sangat membenciku sekarang dan akan berpisah denganku. Apa kalian tidak berpikir sampai kesana?” teriak Seung Ri histeris.

“Dia tidak akan meninggalkanmu Seung Ri-ya. Percaya padaku,” jawab In Sung berusaha menghibur.

“Kalian berdua keluar dari rumahku sekarang. Aku tidak butuh kalian sekarang,” ujar Seung Ri.

“Baiklah. Aku akan meminta Hanna menemanimu,” sahut Jong Suk.

“Tidak perlu. Aku tidak akan berhubungan dengan orang-orang yang dekat dengan kalian berdua lagi. Tidak perlu menemuiku lagi.”

“Hanna tidak pernah tahu hal ini Seung Ri-ya. Hal ini hanya kami berdua mengetahuinya. Jadi jangan menolak bertemu dengannya. Bagaimanapun juga kau butuh seorang teman. Kau terlihat tidak sehat,” ucap In Sung.

“Apa kalian tidak mendengar perkataanku? Keluar sekarang juga dari rumahku!!!”

Seung Ri membanting pintu rumahnya setelah Jong Suk dan In Sung keluar. Dia menghidupkan DVD playernya dengan volume full. Berharap bisa menenangkannya sedikit. Tapi ternyata tidak. Dia semakin menangis.

Dia merasa kalau badannya sangat lemas sekarang. Tentu saja. Sejak tadi dia belum memakan apapun. Jika tidak mengingat akan janinnya, dia tidak akan menyentuh makanan apapun saat ini. Selera makannya benar-benar hilang.

 

x-x-x

 

Hanna menghampiri Jung Soo yang terlihat mulai mabuk. Beberapa gelas minuman sudah berderet didepannya. Hanna menarik gelas yang dipegang Jung Soo saat dia akan meminumnya.

“Apa yang kau lakukan disini Hanna-ssi? Pergi. Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.

“Aku diberitahu In Sung oppa kalau kau dan Seung Ri bertengkar. Ada apa sebenarnya?” tanya Hanna.

“Jo In Sung? Dimana dia sekarang? Aku harus bertemu dengannya. Katakan dimana dia sekarang,” teriak Jung Soo.

“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu. Kau tidak akan bisa mengendarai mobil jika seperti ini.” Hanna mengambil kunci mobil Jung Soo. Tapi pria itu kembali mengambil kunci dan berjalan meninggalkan Hanna.

“Park Jung Soo!!! Kau akan celaka jika seperti itu,” teriak Hanna.

Seakan tidak mendengar, Jung Soo terus berjalan meninggalkan Hanna. Mau tidak mau, Hanna harus mengejar Jung Soo. Dia berhasil menghentikan Jung Soo saat mereka tiba di basement dimana mobil Jung Soo diparkir.

“Apa kau mau mati?” teriak Hanna.

“Jika itu yang terbaik, aku akan melakukannya,” jawab Jung Soo. Matanya terlihat kosong. Walau demikian, Hanna dapat menangkap kesedihan dan kecewa dari sorot matanya.

“Bodoh!!!” Hanna menampar pipi Jung Soo saat pria itu berusaha masuk kedalam mobilnya.

“Apa yang kau lakukan sekarang?” teriak Jung Soo.

“Jika kau mau mati, terserah. Asal itu tidak merugikan orang lain. Apa kau mau anakmu tidak memiliki ayah bahkan sebelum kelahirannya?”

Jung Soo menghentikan niatnya untuk memasuki mobil. “Apa maksudmu?” tanya Jung Soo.

“Seung Ri hamil.”

“Tidak usah mengatakan hal seperti itu. Aku tidak akan mempercayaimu. Dia tidak pernah mengatakan hal itu. Jadi jangan membohongiku lagi. Aku sudah muak dengan semua kebohongan yang ada,” ucap Jung Soo. Nada suaranya sudah merendah. Dia memang tidak pernah tahu hal itu.

“Kau benar. Dia berencana akan mengatakannya pada ulang tahunmu. Ini adalah hari ulang tahunmu bukan? Jadi aku memberitahumu. Sekarang, apa kau akan melakukan hal gila seperti itu?”

Jung Soo tidak menjawab. Dia tetap memasuki mobilnya tanpa menghiraukan perkataan Hanna barusan. Dia meninggalkan Hanna yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Jung Soo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dimana dia dan Seung Ri tinggal. Tapi dia tidak berniat masuk walau hati kecilnya sendiri menyuruhnya masuk. Jika benar Seung Ri sedang mengandung, bagaimana mungkin dia meninggalkan mereka berdua?

Tapi rasa kecewa karena dibohongi lebih mendominasi. Dia memutuskan meninggalkan tempat itu sebelum Seung Ri melihatnya disana. Dia harus bertemu dengan Jo In Sung. Alkohol yang dia minum sudah tidak mempengaruhinya lagi. Mereka berjanji akan bertemu di Hotel Dibs.

Jung Soo yang pertama kali tiba disana. Setelah memesan minuman penyegar untuk menghilangkan alkohol, dia menghubungi In Sung untuk menanyakan dimana dia saat ini. Tidak lama, In Sung tiba dan mengambil tempat di depan Jung Soo.

“Ada apa?” tanya In Sung.

“Tidakkah kau ingin jujur padaku hyung? Kau sudah tahu semua hal itu bukan?” Jung Soo tidak ingin berbasa-basi lagi. Dia harus mendengarkan semua kebenaran yang selalu ditutupi darinya.

“Apa? Aku tidak paham,” jawab In Sung.

“Naskah. Kau mengangkatnya dari kisah yang terjadi padaku. Kau menutupinya dariku. Kau juga tahu siapa wanita itu bukan?”

“Wanita apa? Aku bahkan tidak mengerti. Apa kau mabuk? Bau alkohol masih tercium sampai kemari. Sebaiknya kau pulang dan istirahat. Ah, tadi aku dan Jong Suk bertemu dengan Seung Ri. Dia terlihat tidak sehat. Dia bahkan tidak mendengarkan kami untuk segera ke rumah sakit. Jika kau menyuruhnya, mungkin dia akan mendengarkanmu,” sahut In Sung.

“Tidak usah mengalihkan pembicaraan sekarang Jo In Sung-ssi. Apa kau berniat melakukan hal ini sejak awal?” Jung Soo tidak bergerak walau In Sung mengatakan Seung Ri tidak sehat.

“Baiklah. Aku akan mengatakannya. Aku memang sudah tahu sejak awal. Jong Suk yang melihat hal itu memberitahuku. Tapi aku meminta dia untuk tidak mengatakan apapun. Dengan demikian aku memiliki alasan untuk kembali ke Korea. Orang tua angkatku tidak pernah membiarkanku kembali ke Korea jika tidak memiliki hal yang penting. Karena itu aku mengirimkan naskah ke rumah produksi Korea yang tidak lain adalah kisahmu. Tentu saja aku hanya memberikan gambaran. Mereka setuju dan menyuruhku untuk bergabung. Dengan demikian aku bisa kembali ke Korea dan menemui adikku dan untuk mencari ibuku. Aku mencari tahu segala hal tentang kalian berdua. Maaf jika memanfaatkan keadaan kalian berdua. Sekarang aku mohon, katakan pada Seung Ri untuk segera ke rumah sakit Jung Soo-ya. Aku takut kondisinya semakin memburuk,” ujar In Sung.

Jung Soo tertawa sinis. Bagaimana mungkin pria ini mengatakan maaf dengan begitu mudahnya? Setelah memanfaatkan keadaannya? Itu tidak mungkin. Ini membuat Jung Soo semakin jauh membenci dan merasa kecewa pada mereka semua. Dia bahkan tidak memperdulikan perkataan In Sung untuk menyuruh Seung Ri pergi ke rumah sakit.

Ponsel In Sung yang sedari tadi terletak diatas meja berdering. Nama Hanna tertera. Jung Soo sempat melihat ponsel itu. Tapi dia terkesan tidak perduli.

“Apa???” ucap In Sung setelah dia mengangkat ponselnya.

“Aku akan segera kesana,” sahut In Sung lagi.

“Kau benar-benar keterlaluan Jung Soo-ssi. Apa kau tahu akibat perbuatanmu? Sekarang Seung Ri berada di rumah sakit dan kondisinya kritis. Apa kau akan tetap membuat keras kepalamu itu?” ucap In Sung setelah dia menutup panggilannya.

“Aku sudah tidak perduli lagi,” jawab Jung Soo.

In Sung hanya bisa menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Jung Soo menuju rumah sakit yang diberitahu oleh Hanna.

 

x-x-x

 

In Sung tiba di Rumah sakit Seoul dan mendapati Hanna berdiri di depan pintu gawat darurat. “Hanna-ya,” tegur In Sung.

Oppa. Dokter belum keluar. Aku belum tahu bagaimana keadaannya,” sahut Hanna.

“Apa kau sudah menghubungi ibunya?” tanya In Sung.

“Sudah. Mereka dalam perjalanan. Aku berusaha menghubungi Jung Soo oppa. Tapi ponselnya tidak aktif. Jong Suk akan segera tiba disini,” sahut Hanna.

“Tidak perlu. Jung Soo tidak akan datang. Dia sudah dibutakan dengan sakit hatinya.” In Sung menepuk pundak Hanna.

“Benarkah? Kasihan Seung Ri. Bagaimana nasib janinnya nanti? Aku harap mereka berdua dalam kondisi yang baik-baik saja.”

“Apa? Seung Ri hamil? Apa Jung Soo tahu hal ini?”

“Tentu saja. Aku memberitahu padanya tadi.”

“Pria itu. Apa dia tidak punya pikiran dan hati lagi?” teriak In Sung.

Oppa, ibu Seung Ri tiba,” ucap Hanna. Dia menepuk lengan In Sung untuk berbalik dan memberikan salam.

“Bagaimana kondisi Seung Ri Hanna-ya?” tanya Min Ja pada Hanna.

“Kami belum tahu. Dokter belum keluar dari dalam,” jawab Hanna. Dia mengajak Min Ja untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia disana. Dia memberikan sebotol air mineral yang dimilikinya pada Min Ja.

“Seung Ri akan baik-baik saja eomma,” ucap Hanna berusaha menghibur Min Ja.

“Apa anda ibu Seung Ri, ahjumma?” tanya In Sung setelah Min Ja jauh lebih tenang. Wanita paruh baya itu menoleh kearah In Sung.

In Sung menatap wanita itu. Dia wanita yang selama ini dicarinya. Dia tidak salah. Wajahnya benar-benar diingat dengan baik oleh In Sung.

Eomma?” ucap In Sung lirih.

Min Ja hanya menatap In Sung dengan tatapan bingung. Tapi beberapa menit kemudian, dia mulai mengenali In Sung. Bagaimanapun juga, dia tidak akan melupakan wajah putra pertamanya.

Oppa,” ucap Hanna saat mendengar apa yang dikatakan In Sung pada Min Ja.

“Ra Won-ie?” sahut Min Ja. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah In Sung. Tapi In Sung menahan tangan Min Ja agar tidak menyentuh wajahnya.

“Ra Won-ah. Itu benar kau?” tanya Min Ja.

“Apa kau masih mengingatku? Putra yang dulu kau buang?” sahut In Sung.

“Ra Won-ah, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Eomma punya alasan yang kuat kenapa harus melakukan itu,” jawab Min Ja. Tapi In Sung tetap menepis tangan Min Ja saat wanita itu berusaha menyentuh wajahnya. Hanna yang melihat itu hanya bisa bertanya dalam hati.

“Siapa wali dari Shin Seung Ri?” tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat dimana Seung Ri berada. Min Ja menghentikan usahanya dan menghampiri dokter tersebut.

“Aku ibunya,” jawab Min Ja. “Bagaimana keadaan putriku dokter?” tanya Min Ja.

“Mereka berdua baik-baik saja dan kondisinya stabil. Hanya saja dia perlu dirawat beberapa hari disini. Kami akan memindahkannya ke ruangan biasa agar keluarga bisa menjenguknya,” ucap dokter.

Min Ja menghampiri Seung Ri yang berbaring di atas tempat tidur yang dibawa oleh beberapa orang perawat. Mereka akan membawa Seung Ri keruang perawatan. Hanna dan Jong Suk mengikuti dari belakang. Sementara In Sung masih terdiam di tempatnya.

Tidak lama, Hanna kembali menghampiri In Sung. Dia berhutang penjelasan padanya. Mengapa dia melakukan hal itu? Apakah Min Ja memang ibu kandung mereka? Pertanyaan itu muncul di kepala Hanna sedari tadi. Namun karena kondisi belum memungkinkan, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dan sekarang, dia akan meminta penjelasan.

“Hanna-ya, kau disini?” ujar In Sung saat Hanna duduk disampingnya. Gadis itu tidak mengatakan apapun.

“Bagaimana keadaan Seung Ri?” tanya In Sung lagi.

“Apakah pertanyaan itu lebih penting daripada menjawab apa yang menjadi pertanyaanku sedari tadi?” sahut Hanna. “Apakah dia ibu yang selama ini kau cari itu?” tanya Hanna lagi.

Oppa akan menceritakannya nanti,” ucap In Sung.

Oppa!!!”

“Baiklah. Dia memang eomma yang aku cari selama ini. Itu berarti dia ibu kandungmu juga Hanna-ya.”

“Tidak. Itu tidak mungkin. Dia wanita yang sangat baik. Sementara ibu yang kau maksud adalah orang yang sangat kejam. Bagaimana mungkin dia membuang kita ke panti asuhan?”

Min Ja menghampiri mereka. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Hanna memalingkan wajahnya. Sementara In Sung hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dinding yang ada di belakangnya. Min Ja meraih tangan In Sung. Dia berusaha menepis tangan ibunya itu. Tapi Min Ja terlebih dahulu menggenggam tangannya. Dia tidak menghindar saat Min Ja menyentuh wajahnya.

Mianhae Ra Won-ah,” ucap Min Ja. Saat ini, hanya permintaan maaf yang bisa diucapkannya pada putra tertuanya itu walau dia tahu dia tidak akan bisa dimaafkan. Dia sadar betul kalau perbuatannya itu sangat kejam. Bagaimana mungkin dia membuat kedua anak yang dia lahirkan ke panti asuhan?

Min Ja kembali beralih pada Hanna yang sama sekali tidak menatapnya. Gadis itu sudah membelakanginya. Tidak berniat memandangnya. Min Ja memegang pundak Hanna dan mengatakan maaf. Dia berusaha agar kedua anaknya memaafkannya. Apapun dia lakukan termasuk berlutut jika itu yang diinginkan oleh mereka berdua.

“Apakah kami begitu kejam hingga harus berlutut seperti itu?” teriak Hanna saat Min Ja akan berlutut. Min Ja sama sekali tidak memperdulikan perkataan Hanna. Yang dia perlukan saat ini hanya mereka berdua bersedia memaafkannya sekalipun mereka tidak akan mau menemuinya lagi.

“Apakah permintaan maaf lebih penting dibandingkan adikku sekarang? Kenapa tidak ada yang menjaganya? Bagaimana jika dia sadar dan tidak ada yang dia temui disana?” ucap In Sung. Dia berdiri dari tempatnya dan menarik Min Ja agar berdiri meninggalkan tempat itu.

“Hanna-ya, pastikan Jung Soo tidak memijak ruangan Seung Ri atau aku akan menghajarnya,” perintah In Sung. Hanna hanya mengangguk.

Sekarang, mereka bertiga berada di ruangan dimana Seung Ri dirawat. Hanna duduk di sofa tanpa menoleh sedikitpun pada Min Ja. Sementara In Sung berdiri di samping sofa sambil memandang keluar jendela. Dia memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

Min Ja mengambil tempat di bangku tepat didepan Hanna.

“Saat itu, usaha ayah kalian sangat kacau. Seseorang menipunya sehingga dia harus membayar hutang pada seorang kepala mafia. Jika dia tidak bisa membayar, mereka mengancam akan mengambil kalian untuk dijual sebagai budak. Saat ibu, eomma sudah berhenti dari dunia entertainment.” Min Ja memulai ceritanya pada In Sung dan Hanna.

“Apakah hanya karena itu, eomma meninggalkan kami di panti asuhan?” sahut Hanna.

“Itu adalah pilihan yang tepat saat itu Hanna-ya. Jika kalian diambil oleh mereka, apa kita bisa bertemu kembali seperti ini? Mereka bisa saja membunuh kalian saat itu dan kita tidak akan bertemu,” sahut Min Ja.

“Kenapa tidak melapor pada polisi?” tanya In Sung.

“Kami bahkan tidak memiliki bukti untuk melaporkannya. Saat itu polisipun berada di pihak mereka. Mereka tidak akan mendengarkan kami jika kami melaporkannya. Karena itu, kami sepakat untuk menitipkan kalian ke panti asuhan. Jika keadaan sudah aman, eomma akan menjemput kalian. Tapi saat kondisi sudah lebih baik, kalian sudah diadopsi oleh orang tua kalian yang sekarang,” jawab Min Ja.

Min Ja hanya bisa menangis. Mengingat apa yang terjadi di masa lalu membuat dia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia memang sangat bersalah karena tidak bisa bersama mereka berdua sedari mereka kecil. Bahkan tidak bisa menemukan mereka. Bahkan dia menghentikan pencarian saat dia sudah putus asa.

Appa, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya In Sung.

“Dia sudah sangat berubah. Dia sangat pendiam sekarang. Sekarang dia dalam perjalanan menuju kemari. Kalian bisa menemuinya nanti.”

 

x-x-x

 

Jung Soo melangkahkan kakinya menuju rumah sakit dimana Seung Ri dirawat. Saat dia mendengar kalau Seung Ri pingsan, dia berusaha untuk tidak perduli. Tapi egonya tidak bisa menang melawan hatinya. Bagaimanapun juga, dia masih istrinya yang sekarang sedang mengandung.

Dengan topi berwarna hitam dan masker berwarna putih, dia mendekati ruangan Seung Ri. Dia melihat In Sung duduk di bangku yang berada di depan pintu kamar Seung Ri. Dia menghampiri In Sung dan membuka maskernya.

Hyung,” tegur Jung Soo.

In Sung melihat siapa yang menegurnya. Melihat kalau Jung Soo yang datang, dia menarik kerah baju Jung Soo meninggalkan tempat tersebut. Jung Soo yang tidak mengerti berusaha melepaskan diri. Tapi In Sung tidak menyerah. Dia semakin kencang menggenggam baju Jung Soo. Dia menarik Jung Soo menuju tangga darurat dimana seorangpun tidak ada yang bisa melihat mereka.

“Ada apa ini hyung?” tanya Jung Soo.

“Kuberitahu padamu. Jangan pernah temui Seung Ri lagi. Aku tidak sudi jika adikku bersama denganmu lagi. Jika kau tetap menemuinya, aku yang akan menghajarmu saat itu juga,” sahut In Sung.

Wae? Kenapa kau harus peduli hyung? Apa kau lupa kalau aku adalah suaminya? Bagaimana mungkin aku tidak bisa menemui istriku disaat dia sakit seperti ini?”

“Apa pria seperti kau bisa dianggap sebagai suami? Bahkan saat tahu dia hamil, apa kau peduli saat kukatakan untuk menemuinya? Kau bahkan tidak mendengarkanku. Jadi kuperingatkan untuk terakhir kalinya. Jauhi Seung Ri atau aku akan menghajarmu.”

“Apa pedulimu hyung? Kau bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya selain rekan kerja.” Jung Soo masih tidak terima dengan ucapan In Sung. Dia meninggalkan In Sung. Tapi In Sung menarik tangannya .

In Sung yang sudah habis kesabaran akhirnya melayangkan tinjunya ke wajah Jung Soo. Menerima pukulan seperti itu, Jung Soo terjatuh. In Sung menarik napas panjang agar tidak menghajar pria itu lebih parah lagi.

“Hubunganku dengan Seung Ri jauh lebih dalam dibandinglkan hubunganmu dengannya. Aku… Aku adalah saudara kandung Seung Ri. Sekarang kau paham? Jangan pernah dekati Seung Ri!!!”

Jung Soo yang terduduk di lantai segera bangun dan menarik In Sung. Dia harus mendapat penjelasan apa maksud perkataan In Sung barusan. Dia menarik In Sung untuk kembali ke tangga.

“Sandiwara apa lagi yang akan kau buat sekarang? Apa tidak cukup kau mempermainkanku dengan membawa kehidupanku kedalam drama murahanmu itu?” tanya Jung Soo. Dia menarik kerah baju In Sung.

In Sung menghardik tangan Jung Soo dengan kasar. Dia hanya merapikan kerah bajunya tanpa mengucapkan apapun pada Jung Soo. Dia tertawa sinis dan kembali meninggalkan Jung Soo.

“JO IN SUNG!!!” teriak Jung Soo. Tapi tetap tidak diperdulikan oleh In Sung.

 

x-x-x

 

Hanna berteriak memanggil ibunya saat Seung Ri mulai sadar. Dia membuka matanya perlahan. Min Ja segera menghampiri putrinya itu dan menggenggam tangannya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Eomma?” sahut Seung Ri. Suaranya masih sangat lemah. Dia mengumpulkan semua tenaganya untuk mengucapkan satu kata itu. Min Ja membelai kepala Seung Ri dan menciumi tangan Seung Ri. Seakan mengatakan kalau semua baik-baik saja.

“Seung Ri-ya, gwencana?” tanya Hanna yang sedari tadi hanya berdiri saja. Seung Ri hanya mengangguk. Dia kembali memejamkan matanya.

“Semua akan baik-baik saja. Oppa dan eonnie-mu akan selalu disampingmu,” ucap Min Ja.

“Apakah Jung Soo oppa disini?” tanya Seung Ri.

“Sebaiknya kau istirahat saja dahulu. Tidak usah memikirkannya. Eomma akan memintanya datang kemari,” sahut Min Ja.

“Jangan pernah menyuruhnya kemari atau aku yang akan menyeretnya keluar,” ucap In Sung.

Oppa, Bisakah kau tidak mengatakannya di depan Seung Ri. Dia baru saja sadar. Kenapa tidak membuatnya senang walau sebentar saja?” sanggah Hanna. Apa yang dikatakan In Sung barusan menurutnya sangat keterlaluan.

“Kenapa dengan mereka berdua eomma?” tanya Seung Ri. Dia tidak mengerti mengapa Hanna dan In Sung terlihat sangat mencampuri hubungannya dengan Jung Soo. Apa In Sung benar-benar akan memisahkannya dengan Jung Soo demi menyatukannya dengan Hanna? Pertanyaan itu yang pertama kali muncul saat In Sung mengatakan akan menyeret Jung Soo keluar jika dia berani menginjakkan kaki di ruangannya.

“Seung Ri-ya, apa kau ingat apa yang eomma katakan saat kau berumur lima tahun? Tentang oppa dan eonnie-mu?” tanya Min Ja. Seung Ri mengangguk.

“Mereka adalah oppa dan eonnie-mu yang eomma ceritakan padamu. Eomma masih tidak percaya kalau kalian selama ini berdekatan. Eomma juga bersyukur akhirnya kalian bisa mengenal satu sama lain dan selalu berhubungan baik,” ucap Min Ja.

Seung Ri mencoba untuk duduk setelah mendengar keterangan ibunya. Dia sama sekali tidak percaya. Dia mencabut infus yang berada di tangannya dan mencoba turun dari tempat tidurnya. Namun kondisi tubuh yang belum stabil membuatnya nyaris terjatuh jika In Sung tidak menangkapnya.

“Apa kau ingin mencelakakan dirimu? Tidak. Jika kau mencelakakan dirimu, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi tidak dengan janinmu. Apa kau mau membunuhnya juga? Jangan hanya mendengarkan egomu saja Seung Ri-ya. Ingat. Ada kehidupan lain di dalam rahimmu,” ucap In Sung. Dia memaksa Seung Ri untuk kembali ke tempat tidurnya.

“Lepaskan aku,” ucap Seung Ri dengan nada memerintah. Tapi In Sung tidak mendengarkannya sama sekali. Dia tetap saja memaksa Seung Ri untuk kembali ke tempatnya.

“Seung Ri-ya, dengarkan apa yang dikatakan oppa. Itu untuk dirimu dan juga bayimu. Apa kau ingin kehilangannya juga?” Hanna berusaha meyakinkan Seung Ri.

“Apakah Jung Soo oppa akan kembali padaku jika bayi ini lahir? Dia bahkan tidak mau melihatku muncul di depannya eonnie. Jadi untuk apa aku mempertahankannya?” Seung Ri mulai histeris. Min Ja menampar Seung Ri saat dia mengatakan hal seperti itu.

Eomma,” ujar Hanna. Dia menahan tangan Min Ja sebelum tangannya kembali menampar pipi Seung Ri yang satu lagi. Seung Ri memegangi wajahnya yang dipukul oleh ibunya. Dia bahkan tidak mengatakan apapun lagi selain menangis. Dia memegangi perutnya. Ada perasaan menyesal.

“Sebaiknya kau istirahat sekarang Seung Ri-ya. Aku akan meminta dokter untuk memberikan obat penenang agar kau bisa tertidur. Saat ini itu yang paling kau butuhkan agar pikiranmu bisa beristirahat. Itu juga untuk kebaikan janinmu,” sahut Hanna.

Seorang perawat memasuki ruangan bersama Hanna dengan membawa sebuah alat suntik dimana isinya adalah obat penenang. Setelah menerima suntikan itu, Seung Ri terlihat mulai tenang dan mulai memejamkan matanya.

 

x-x-x

 

Jung Soo masih menunggu di dalam mobilnya di depan rumah sakit. Berulang kali dia menghubungi Seung Ri, tapi tidak aktif. Dia yakin kalau In Sung yang mematikan ponselnya. Tidak lama, In Sung terlihat meninggalkan rumah sakit bersama dengan ibu Seung Ri. Ini adalah kesempatannya untuk masuk.

Tidak ada seorang pun yang berada disana. Hanya Seung Ri yang sedang tertidur. Wajahnya terlihat pucat. Jung Soo hanya bisa memandangi wajah istrinya itu dengan perasaan menyesal.

“Apa yang kau lakukan disana oppa?” ucap Hanna yang memasuki ruangan tersebut. Dia menarik tangan Jung Soo keluar dari sana sebelum In Sung melihatnya.

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian menghalangiku untuk bertemu dengannya? Apa yang membuat In Sung hyung melakukan hal ini? Bahkan dia menyuruhmu untuk melarangku menemui Seung Ri?” tanya Jung Soo.

“Apa yang kau lakukan jika seseorang melakukan sesuatu pada adik perempuanmu seperti yang kau lakukan sekarang? Bukankah kami berdua sudah memperingatkanmu tentang kondisi Seung Ri? Tapi kau selalu mengabaikannya bukan? Jadi untuk apa kau menemuinya lagi?” sahut Hanna.

“Apa maksudmu? Adik perempuan?”

“Ya. Seung Ri adalah adik kandung kami. In Sung adalah saudara tertua Seung Ri. Dan sekarang kau tidak akan bisa bertemu dengan Seung Ri lagi. Maaf oppa. Aku tidak ingin membuatmu terluka. Jadi sebaiknya tinggalkan tempat ini sebelum In Sung oppa datang.”

“Aku tidak akan pergi sebelum Seung Ri sadar dan bertemu denganku. Bagaimanapun juga, dia istriku. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini.” Jung Soo berusaha masuk ke dalam ruangan Seung Ri. Beruntung Jong Suk tiba. Dia menghentikan Jung Soo dalam usahanya untuk masuk ke dalam.

Hyung, kau akan melukai Hanna jika memaksa masuk seperti itu,” ucap Jong Suk.

“Apa kau juga akan menghalangiku masuk kedalam? Apa kalian semua berniat menjauhkan aku dari Seung Ri?” sahut Jung Soo.

“Sebelum seperti ini, bukankah sudah berulang kali kau diperingatkan mengenai kondisi Seung Ri? Tapi kau bertahan dengan egomu. Kau tidak mendengarkan kami sama sekali. Dan sekarang kau ingin menemuinya disaat semua pintu kesempatan sudah tertutup?”

Jung Soo tidak mengatakan apapun lagi. Dia bahkan tidak melanjutkan perlawanannya tadi. Jong Suk menarik Jung Soo untuk meninggalkan tempat itu agar dapat berbicara berdua dengan Jung Soo.

“Mungkin kau tahu kalau In Sung hyung adalah saudara kandung Seung Ri. Itu akan semakin mempersulitmu bertemu dengannya. Aku akan mencoba membantumu hyung. Aku dengar kalau Seung Ri tidak terima kalau In Sung dan Hanna ternyata saudara kandungnya. Kemungkinan besar dia akan meminta diadakannya test. Kau hanya bisa menunggu hyung. Aku akan selalu memberi kabar terbaru. Setelah itu kita akan tahu jalan seperti apa yang harus kita lakukan agar kau bisa kembali bersama dengan Seung Ri,” hibur Jong Suk. Dia menepuk bahu Jung Soo dan meninggalkannya untuk menenangkan pikirannya.

 

x-x-x

 

Seung Ri yang baru saja sadar kembali tidak ingin bertemu dengan In Sung dan Hanna. Bagaimanapun juga, dia belum bisa menerima kebenaran tersebut. Jika itu benar, bagaimana mungkin dia menikahi pria yang pernah menjalin hubungan dengan kakak kandungnya sendiri? Bagaimana mungkin dia menatap wajah In Sung yang dia marahi beberapa hari yang lalu hanya karena salah paham? Dia bahkan tidak ingin melihat wajah itu lagi. Tapi dia adalah saudara kandungnya.

“Seung Ri­-ya,” tegur In Sung. Dia menyentuh bahu Seung Ri yang tidur membelakanginya. Tapi gadis itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Dia hanya menarik selimutnya hingga kepala.

“Ini mungkin berat untukmu. Oppa juga demikian Seung Ri-ya. Tapi bagaimanapun juga itu adalah kenyataannya. Oppa sudah mengatakan untuk dilakukan test DNA. Jika kau menyetujuinya, kita akan melakukannya sekarang,” ujar In Sung lagi.

Seung Ri masih tidak bergerak dari tempatnya. Dia hanya diam saat seorang perawat mengambil sampel darah miliknya. Dia juga tahu kalau In Sung memberikan sampel darah miliknya. Demikian juga dengan Hanna.

Oppa tidak akan menemuimu sebelum hasilnya keluar. Jika hasilnya mengatakan tidak sama, oppa tidak akan menemuimu lagi dan akan kembali ke Amerika. Tapi jika hasilnya sama, maka kau harus menuruti apapun yang oppa katakan padamu.” In Sung hanya bisa menarik napas melihat Seung Ri tetap tidak memberikan reaksi apapun.

“Apa Jung Soo oppa masih tidak menemuiku?” Seung Ri akhirnya berbicara. Tapi dia tetap tidak melihat mereka yang diajaknya berbicara.

“Dia tidak ada datang Seung Ri-ya,” sahut In Sung. Dia menutup mulut Hanna sebelum adiknya itu mengatakan kalau Jung Soo sempat menemuinya tadi. Dia melihat kalau Jung Soo datang menemui Seung Ri. Tapi dihalangi oleh gadis itu. Dia melihat kearah Jong Suk seolah meminta penjelasan bagaimana dia bisa membuat Jung Soo tidak muncul hingga saat ini lagi.

Seolah tidak mengerti, Jong Suk hanya bisa menatap prihatain kearah Seung Ri. Kenapa kehidupan gadis itu sangat menyedihkan seperti in? Disaat dia sudah mendapat kebahagiannya, semuanya harus diambil darinya.

Hasil test yang diminta oleh In Sung sudah keluar. Dia memang meminta pihak rumah sakit agar melakukannya dengan cepat. Tidak sampai tiga jam, hasilnya sudah keluar dan sudah berada ditangan In Sung. Dia membuka amplop putih tersebut dengan perlahan. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya pertanda kalau dia membaca hal yang dia inginkan disana.

Hanna merebut kertas tersebut. Berbeda dengan In Sung, Hanna hanya bisa menatap prihatin kearah Seung Ri. Dia berjalan mendekati Seung Ri dan memeluk gadis itu.

“Kau benar-benar adikku,” ujarnya sambil mengelus kepala Seung Ri dengan lembut.

“Sekarang kau harus mendengarkan apa yang oppa katakan. Hanna-ya, segera siapkan barang-barang Seung Ri. Oppa akan membawanya ke Amerika. Kita bertemu di bandara satu jam lagi,” ujar In Sung.

Hanna tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain menuruti apa yang dikatakan In Sung. Dia cukup tahu kalau In Sung adalah tipe seseorang yang tidak bisa dibantah. Karena itu dia meninggalkan ruangan itu untuk segera mengemasi barang-barang Seung Ri. Sementara In Sung akan mengurus semua administrasi dan meminta surat rekomendasi agar Seung Ri melanjutkan pengobatannya di Amerika jika dibutuhkan.

 

x-x-x

 

Jung Soo segera menuju bandara saat Jong Suk memberitahu kalau In Sung akan membawa Seung Ri ke Amerika bersamanya. Dia tidak perduli lagi saat para penggemar berteriak menyebut namanya saat dia akan keluar dari gedung agensinya. Hanya dengan kaus dengan lengan sepanjang dua jari dan celana pendek, dia memasuki mobilnya yang terparkir di depan gedung agensi.

Tekadnya sudah bulat. Dia harus bisa membawa Seung Ri kembali bagaimanapun caranya. Sekalipun dia harus memohon pada In Sung, dia akan melakukannya. Beruntung pesawat yang akan dinaiki oleh Seung Ri dan In Sung tertunda. Itu tertulis jelas di papan pengumuman yang ada di bandara.

Dia berkeliling untuk menemukan Seung Ri. Usahanya tidak sia-sia. Dia melihat Seung Ri yang duduk bersama dengan In Sung. Dia hanya mengenakan pakaian tidur dengan jaket berwarna coklat. Dengan cepat dia menghampiri mereka.

“Seung Ri-ya, apa kau akan benar-benar meninggalkanku?” ucap Jung Soo saat dia sudah berada di depan Seung Ri. Dia memegang tangan Seung Ri dengan posisi berada di depan gadis itu. Terlihat seperti berlutut.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemui Seung Ri lagi? Dimana kau saat dia benar-benar membutuhkanmu?” In Sung menarik Jung Soo untuk menjauhi Seung Ri.

Hyung, ijinkan aku untuk bertemu dengan Seung Ri. Aku harus meminta maaf padanya. Kumohon hyung,” ucap Jung Soo.

“Dia tidak akan memaafkanmu. Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya dia? Terlebih kau sudah mengetahui kalau dia sedang mengandung. Tapi kau tetap mengabaikannya? Apa kau tidak memiliki pikiran lagi?” balas In Sung.

“Kalau begitu biarkan aku bicara dengan Seung Ri. Tapi jika dia tetap akan pergi, aku tidak akan melarangnya lagi. Kumohon hyung.”

In Sung akhirnya melepaskan Jung Soo dan meninggalkan mereka berdua untuk berbicara. Dia mengambil tempat tidak jauh dari mereka berdua.

“Seung Ri-ya. Maafkan aku. Aku tahu kalau semua yang kulakukan itu sangat tidak wajar. Terlebih aku adalah ayah dari bayi kita. Aku benar-benar pria tidak bertanggung jawab. Karena itu biarkan aku menebus semua kesalahanku. Jangan pergi Seung Ri-ya. Tetaplah disini sehingga aku bisa menebus kesalahanku,” ucap Jung Soo.

Oppa, apa kau pernah mencintaiku?” Dengan cepat Jung Soo mengangguk menjawab pertanyaan Seung Ri.

“Jika itu benar, kau tidak akan pernah meninggalkan hanya karena hal itu. Kau akan mendengarkan penjelasanku saat aku mengatakan akan menjelaskannya padamu. Bukannya mendengar apa yang akan aku katakan, kau memilih pergi meninggalkanku. Bahkan disaat kau mengetahui kalau aku hamil, kau bahkan tidak datang menemuiku. Apakah itu yang dinamakan cinta?” tanya Seung Ri.

“Aku tahu semua itu kesalahanku Seung Ri-ya. Karena itu ijinkan aku memperbaikinya. Aku akan menebus semua kesalahnku,” jawab Jung Soo.

“Dan setelah kau berhasil menebusnya, kau akan meninggalkanku lagi? Maaf oppa. Aku harus pergi. Jika kau ingin menebusnya, lakukan saat aku tidak lagi disampingmu. Setelah itu kau akan tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku.”

Seung Ri melepaskan genggaman tangan Jung Soo dan berjalan menuju pintu keberangkatan. Pesawat mereka akan segera berangkat dalam beberapa menit lagi. In Sung mengikuti Seung Ri dan menepuk bahu Jung Soo sebelum dia meninggalkan tempat tersebut.

Seung Ri mengambil tempat di dekat jendela. Tidak lama In Sung duduk di sebelahnya. “Apa kau yakin dengan keputusanmu? Jika tidak, kita bisa membatalkan penerbangan ini,” tanya In Sung.

“Tidak oppa. Kita tetap pergi,” jawab Seung Ri.

In Sung memasangkan sabuk pengaman untuk adiknya itu saat pilot meminta mereka untuk memasang sabuk pengaman.

“Saat aku bertanya apakah Jung Soo oppa datang, kenapa kau berbohong padaku oppa?” tanya Seung Ri saat pesawat sudah lepas landas.

“Itu, apakah kau mengetahuinya?” sahut In Sung.

“Suaranya sangat keras dan menganggu tidurku. Bagaimana aku tidak mendengarnya. Tapi kenapa kau berbohong padaku? Apakah kau benar-benar ingin agar aku berpisah darinya?”

“Tidak seperti itu Seung Ri-ya.”

“Sudah lupakan. Aku lelah dan ingin tidur. Jangan bangunkan aku sebelum tiba.”

 

-TBC-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: