Someday

Someday

Author: Kang Soeun

Genre: Guardian Angel, Family

Cast: Leeteuk, Yesung, Soeun (OC), Jongdae (OC)

Recommended song: Super Junior – Someday

***

 

Langit biru mulai menyemburatkan warna kuning matahari yang hampir tenggelam di sisi baratnya, tanda hari Minggu ini akan segera berakhir. Lampu lampu taman di ujung komplek itu mulai dinyalakan. Waktu seperti inilah yang dimiliki Soeun untuk bermain.

“Kalau kau berhasil menemukanku, aku akan membelikanmu coklat dan es krim, bagaimana?” kata seorang pemuda di hadapan Soeun. Pemuda itu berlutut untuk dapat mensejajarkan tingginya dengan Soeun. Gadis kecil dengan rambut terkuncir dua itu tersenyum bahagia dan mengangguk mantap. “Baiklah, sekarang tutup matamu lalu kau harus menghitung sampai 10.” Kata pemuda itu melanjutkan. Dan lagi lagi Soeun mengangguk mantap lalu segera menutup matanya dan mulai menghitung.

“Hana… dul… set….” Suara lemah keluar dari mulut mungil Soeun.

Seketika, pemuda yang mengajak Soeun main petak umpet itu segera tergesa gesa mencari tempat persembunyian yang aman. Pertama ia mencoba untuk bersembunyi di balik kursi taman, lalu sesaat kemudian ia merasa tempat itu tidak aman. Ia berlari lagi menuju pohon besar tak jauh dari gerbang taman, pemuda itu bersembunyi di sana dalam diam sambil mengintip Soeun yang masih menghitung.

“Baiklah oppa, aku akan menemukanmu, bersiaplah.” Teriak Soeun setelah selesai menghitung. Rambutnya bergoyang kesana kemari mengikuti langkah kakinya yang cepat. Ia menghampiri semua pohon di dekatnya namun tak juga menemukan teman bermainnya. Kini gadis itu berputar putar kebingungan mencari pemuda yang dipanggilnya oppa itu.

Sementara itu di balik pohon besar, pemuda itu tertawa dalam diam melihat Soeun kebingungan. Jika bayarannya adalah es krim dan coklat, maka Soeun harus berusaha sedikit lebih keras untuk menemukannya.

“Leeteuk-ah” pemuda itu segera menoleh ketika sebuah suara menyebutkan namanya. Suara itu berasal dari luar pagar, suara seorang pria yang amat dicintainya, yang amat dirindukannya.

“Appa…” ucap pemuda bernama Leeteuk itu melihat ayahnya diluar pagar taman.

“Kemarilah, ada yang ingin Appa katakana padamu.” kata pria itu dalam nada yang datar. Leeteuk berjalan mendekat pada Appanya,

“Sebentar lagi Appa…” katanya sambil sedikit menoleh ke arah gadis kecil yang masih kebingungan mencarinya.

“Ayolah, Appa tak punya banyak waktu. Appa harus mengatakan ini segera padamu.” Kata pria itu lagi. Leeteuk kembali menoleh pada Soeun yang masih melakukan hal yang sama, mencarinya. Ia menimbang sejenak dan pada akhirnya mengangguk mantap atas permintaan Appanya. Pemuda itu berjalan menuju gerbang taman yang tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Untuk terakhir kali ia menoleh demi melihat Soeun, lalu berjalan keluar gerbang.

Leeteuk berjalan di belakang Appanya, ia dapat melihat punggung Appanya yang seakan membawa beban berat. Ia teringat ketika bahu itu menggendongnya saat pertama kali pergi ke kebun binatang, memeluknya sebelum ia masuk ke kelas di hari pertamanya masuk sekolah dasar.

Ia lupa kapan terakhir kali Appa menasihatinya untuk belajar dengan baik karena ini adalah kemunculan pertama Appa sejak 6 bulan lalu. Ya, pekerjaan membuat Appa jarang pulang ke rumah. Appa lebih sering meninggalkannya dan eomma berdua di rumah. Karena itu ia bahkan rela meninggalkan Soeun untuk dapat berbincang dengan Appanya.

***

Soeun berjalan dengan riang keluar dari rumahnya. Sesekali ia meloncat gembira sambil menikmati hembusan angin pagi yang memainkan poninya. Ia pegang erat ransel di punggungnya lalu berjalan lebih cepat untuk sampai di sekolah. Namun tiba- tiba langkahnya terhenti ketika seorang pemuda berdiri tepat di hadapannya.

“Maafkan oppa soal kemarin.” Kata pemuda itu dengan penuh penyesalan. Soeun berjalan mendekat pada pemuda itu.

“Tidak apa..” gadis kecil itu menggeleng gelengkan kepalanya sehingga rambut lembutnya ikut bergoyang kesana kemari “aku tau oppa sibuk kan? Pasti banyak tugas sekolah ya, kan?” jawabnya ceria. Leeteuk hanya mengangguk masih dengan wajah yang merasa bersalah.

Pemuda itu duduk berlutut di hadapan Soeun untuk mensejajarkan tingginya dengan Soeun.

“Oppa tidak berangkat ke sekolah? Kenapa tidak pakai seragan sekolah?” Tanya Soeun polos.

“Oppa tidak sekolah hari ini.” kata Leeteuk sambil menarik tangan Soeun untuk lebih mendekat padanya.

“Libur? Kenapa libur?” mata Soeun membulat terkejut dan itu sangat menggemaskan.

“Oppa pindah sekolah, tidak di sekolah itu lagi.” Kata Leeteuk berusaha setenang mungkin agar Soeun tidak lebih terkejut.

“Oppa pindah kemana?” Soeun sedikit memiringkan kepala, bingung.

“Oppa akan pindah ke China. Kau tau? Kungfu panda. Oppa ingin bertemu dengan kungfu panda, oppa harus mencarinya. Jika oppa sudah bertemu dengannya oppa akan seegera kembali menemuimu.” Leeteuk tersenyum lebar menyadari kebodohannya dalam berbohong.

“Oppa…” Soeun menggantungkan kalimatnya, matanya tampak sedih sekarang, “kenapa berbohong padaku? Walaupun aku jauh lebih muda dari pada oppa, tapi umurku 10 tahun.” Soeun membelai lembut pipi Leeteuk, saat ini Leeteuk tau gadis di hadapannya ini sedang tergores hatinya.

Leeteuk menarik tangan gadis di hadapannya itu lalu memeluknya erat. Pemuda itu menyadari bahu yang sedang ia peluk mulai bergetar karena tangis. Ia membelai lembut rambut wangi gadis dalam pelukannya itu. “Oppa berjanji kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Oppa berjanji dan oppa tidak akan melanggar janji itu.” Leeteuk melepas pelukannya, sekarang ia dapat melihat air mata yang mengalir di kedua pipi Soeun “kau percaya pada oppa?” Tanyanya dan Soeun mengangguk mantap menjawabnya.

***

Soeun turun dari bis dengan tergesa. Gadis itu merapatkan mantelnya ketika hembusan angin menerpa tubuhnya. Ia berjalan dengan langkah lebar lebar, ingin segera sampai di rumahnya yang hangat. Hari menjelang malam saat itu, lampu lampu jalan mulai dinyalakan. Lampu lampu toko di sisi kanannya pun mulai dinyalakan.

Gadis 19 tahun itu membetulkan letak tas ranselnya ketika ia sampai di ujung gang menuju rumahnya. Ia hendak melangkah lebar- lebar namun ia urung saat melihat lampu taman di sisi kirinya menyala. Soeun berhenti tepat di depan gerbang taman itu, taman tempat ia biasa bermain dengan seorang pemuda di masa kecilnya.

“Leeteuk oppa…” ucapnya lirih. Ia melangkah memasuki taman itu. Melihat lihat jajaran pohon yang makin tua lalu duduk di sebuah bangku putih. Matanya beredar menatap sekeliling.

Ia tidak merindukan taman ini karena setiap pagi ia melewati taman ini, ia hanya merindukan pemuda yang membuat banyak kenangan di taman ini. Pemuda itu berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti. Entah kapan, yang pasti Soeun sangat mempercayainya. Soeun percaya bahwa suatu hari nanti pemuda itu akan muncul di hadapannya seperti janji yang diucapkan pemuda itu. Soeun tidak tahu mengapa ia sangat percaya pada pemuda itu, percaya pada setiap ucapannya.

Pemuda yang hadir pada hari pemakaman kedua orang tuanya. Leeteuk oppa, begitu ia memanggilnya, dia berdiri di belakang Soeun seolah siap menangkapnya kapan pun jika ia terjatuh. Leeteuk oppa memandangnya dengan amat bersahabat saat ia menangis karena peti kedua orang tuanya masuk kedalam liang persemayaman.

Leeteuk oppa selalu berdiri di depan pagar rumahnya setiap pagi menunggu Soeun lewat di hadapannya lalu ia akan berjalan di belakang Soeun sampai ke sekolah Soeun. Setelah memastikan Soeun bertemu dengan temannya, ia pergi meninggalkan sekolah Soeun menuju sekolahnya. Sebelum Soeun keluar dari sekolahnya, Leeteuk sudah lebih dulu berdiri di luar pagar untuk menjemputnya. Lalu mereka berjalan menuju rumah beriringan atau terkadang mampir untuk bermain di taman komplek rumah mereka.

Awalnya Soeun merasa aneh dengan perilaku Leeteuk yang sebelum kematian orang tuanya tidak pernah sekalipun begitu. Leeteuk yang seorang siswa High School sedang dia masih duduk di sekolah dasar selalu berada di dekatnya. Namun semakin lama ia tahu bahwa ia selalu memilki Leeteuk. Ketika mereka duduk di bangku putih taman, Soeun sesekali menangis teringat akan orang tuanya dan saat itu ia sadar bahwa hanya Leeteuk yang sedang bersamanya. Sesekali Leeteuk bercerita tentang appa dan eommanya dan itu membuat Soeun iri sekaligus bahagia karena ia dapat membayangkan bahwa ia yang ada dalam cerita itu bersama appa dan eommanya. Sejak saat itu Soeun memutuskan untuk selalu percaya pada seorang Leeteuk.

Soeun teringat kembali kenangannya bersama Leeteuk, ia menengadah untuk melihat langit yang mulai gelap.

“Oppa, tidakkah kau sadar bahwa ini sudah berjalan selama 9 tahun? Lihat aku sekarang, aku bukan lagi gadis berumur 10 tahun. Sekarang aku 19 tahun, oppa. Aku tidak lagi pergi ke sekolah dasar setiap pagi, sekarang aku pergi ke universitas setiap pagi. Oppa aku tidak tahu bagaimana untuk tidak mempercayai ucapanmu karena itu aku memutuskan untuk percaya padamu, percaya bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu kembali.”

***

“Ayo keluarlah, Appa akan membelikanmu coklat dan es krim.”

Mendengar itu, bocah laki- laki dalam pelukan Soeun bereaksi. Bocah itu berusaha terlepas dari pelukan Soeun namun Soeun dengan susah payah menahannya.

“SSssstt…” Soeun menempelkan telunjuknya dimulut meminta bocah itu tetap tenang.

“Eomma, appa akan memebelikanku coklat dan es krim.” Kata bocah itu merengek minta dilepaskan.

“Eomma akan membelikanmu lebih banyak nanti.” Soeun mempererat dekapannya pada bocah laki- laki itu namun bocah itu masih berusaha untuk melepaskan diri.

Gerakan Soeun dan bocah laki- laki itu menimbulkan suara yang sedikit berisik. Dan itu segera saja menarik perhatian Yesung, suami Soeun yang kali ini harus menghitung dalam permainan petak umpet mereka. Yesung berjalan mengendap endap, mendekati suara berisik di balik sebuah pohon besar.

“Aha! di sini kalian rupanya” Soeun dan bocah itu terlonjak kaget menyadari Yesung sudah berada di belakang mereka.

“Appa….” Jongdae, bocah laki laki itu berlari bahagia untuk memeluk appanya. Yesung menangkap anak lelakinya lalu menggendongnya di bahu. Berbeda dengan Jongdae yang tampak bahagia berhasil ditemukan oleh Yesung, Soeun merasa kesal karena persembunyiannya gagal.

“Kenapa oppa berhasil menemukan kami?” Tanya Soeun kesal. Yesung menatap istrinya gemas,

“Menurutmu?” Yesung diam sejenak, “ Kalian sangat berisik saat bersembunyi.” Lanjutnya sambil mencubit kecil pipi chubby istrinya. “Kajja kita beli coklat dan es krim.” Seru Yesung bersemangat diiringi teriakan gembira Jongdae dalam gendongannya.

Yesung dan Jongdae berjalan menuju gerbang taman hendak keluar dari taman itu. Soeun tersenyum melihat tingkah suami dan anaknya. Ia tak pernah ingin anaknya mengalami rasa kesepian seperti yang ia rasakan saat kedua orang tuanya meninggal walau sebenarnya ia tak pernah benar benar kesepian karena selalu ada Leeteuk di sisinya. Ah Leeteuk, bahkan sampai saat ini ia masih percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan bertemu kembali. Suatu hari nanti….

 

END

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: